[FF-Oneshoot] Begin Again [Sequel of Dumbest-Point]

Author: Clora Darlene.

Length: Oneshoot

Genre: Romance

Main Casts: GG’s Im Yoon Ah, EXO-M’s Xi Luhan

Supporting Casts: GG’s Kwon Yuri, EXO-K’s Oh Sehun, GG’s Tiffany Hwang, Lauren Lunde, Daniel Hyunoo L.

Backsound: Taylor Swift – Begin Again.

Disclaimer: This FF obviously pure belong to me. The storyline is mine. Don’t dare to copy-paste this FF without my knowing.

Sequel of Dumbest-Point

***

Empat tahun kemudian- Rabu- Roma, Italia.

Kedua perempuan Korea itu memutuskan untuk melangkahkan kaki mereka berdua bersama ke sebuah café terkenal di Italia setelah bertemu dengan seorang Sophie Summer. Salah satu dari mereka mulai angkat bicara. “Aku akan bertemu dengan client-mu”

Lawan bicara perempuan itu melihatnya. “Client?” Supermodel itu mengerutkan keningnya. “Yang mana?”

“Tentu saja orang-yang-akan-mengotrakmu” Manager supermodel itu terlihat jengkel, mengapa artisnya sepolos ini.

Calista Im, hanya mengangguk pelan. “Baiklah. Kita akan bertemu di hotel”

Yuri melirik jam silver yang melingkari tangannya dengan sempurna. “Jam 4”

Calista Im ikut melirik jam tangannya. “Arasseo” Setelah supermodel itu membiarkan managernya pergi begitu saja, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah café. Sebuah café yang tidak jauh dari Piazza Navona, Sant’Eustachio Il Caffè adalah sebuah café yang menyajikan berbagi kopi dari seluruh daerah di dunia tidak terkecuali. Beberapa meja berderet rapih di luar café yang menggunakan konsep outdoor itu.

“Calista Im?” Seorang laki-laki berambut bright brown yang sudah berdiri di sebelahnya dan tersenyum cerah kepadanya.

Im Yoona as known as Calista Im saat ini, tersenyum balik kepada laki-laki itu saat dirinya sedang menunggu giliran untuk memesan segelas kopi. “Yes, I am

“Tenang saja, aku bisa berbahasa Korea” Laki-laki itu tertawa kecil.

“Kau Korea?” Tanya Yoona polos.

“Tidak, aku hanya pernah pertukaran pelajar beberapa tahun” Laki-laki itu tersenyum kecil lalu mengambil dua cup kopi dan memberikannya satu ke Yoona. “Silakan”

Yoona terdiam setengah detik lalu mengambil cup kopi itu dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya. “Gamsahamnida”

“Jangan terlalu formal bersamaku” Laki-laki itu tersenyum kecil. “Kau ingin minum di sini atahu kau ingin melanjutkan perjalananmu?”

Yoona menyusuri setiap sudut ruangan. “Kurasa diam di sini sebentar tidak terlalu buruk”

Laki-laki itu mengangguk pelan. “Boleh aku menemani?”

“Tentu saja” Yoona tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar bersama laki-laki itu dan duduk di deretan kursi di luar café. “Jadi,” Yoona menggantungkan kalimatnya. “Boleh aku tahu siapa kau?”

“Ah, apa aku lupa memperkenalkan diriku?” Lagi, laki-laki itu tersenyum. “Kau pasti telah bertemu dengan Sophie Summer” Laki-laki itu menyesap kopinya dengan pelan.

“Bagaimana kau tahu?” Yoona mengerutkan keningnya.

“Aku photographer-mu untuk besok” Laki-laki itu tertawa setelah membuka identitasnya. “Aku Xi Luhan”

Yoona melihati setiap titik wajah laki-laki bernama Xi Luhan itu, tidak terpikirkan olehnya laki-laki ini adalah photographer-nya untuk majalah Vogue Italy bersama Sophie Summer esok. “Be..narkah?” Yoona tidak bisa mengendalikan wajah penasarannya dan ketidakpercayaannya.

“Kurasa setiap photographer dan modelnya harus mempunyai ikatan kerja sama yang bagus” Luhan menyeruput kopinya pelan dengan kedua ujung bibirnya yang tertarik ke atas.

Butuh beberapa waktu dan beberapa pertanyaan yang Yoona lontarkan untuk membuat dirinya percaya. Sedikit aneh rasanya jika dengan ketidaksengajaan bertemu dengan seseorang yang akan memotretmu untuk majalah terkenal dunia.

Tapi, ini juga tidak terlalu buruk. Pikir Yoona selanjutnya. Apa yang laki-laki ini katakan benar, setiap photographer harus memiliki kerja sama yang baik dengan model-modelnya. Dan sekarang, Yoona dan Luhan, sedang memulai awal pembangunan ikatan kerja sama baik itu di tempat pertama kali ia bertemu.

“Kau sudah lama di Italia?” Kini giliran Yoona yang menyeruput kopinya.

“Setahun terakhir ini aku menghabiskan hidupku di Italia. Kau baru pertama kali ke Italia?” Tanya Luhan balik.

Yoona mengangguk. “Ne, ini pertama kali aku datang ke sini, dan rasanya menakjubkan” Yoona terkekeh pelan.

“Kurasa akan lebih menakjubkan jika kau tahu sejarahnya”

“Sejarah?” Yoona memasang tampang polosnya dengan mata yang sedikit membulat.

“Italia adalah negara yang penuh dengan sejarah” Luhan tersenyum. “Seperti kau menjelajahi masa lalu”

“Menjelajahi masa la-” Seketika mulut perempuan itu terkunci erat dan matanya terfokus dengan satu titik yang sedang berjalan melewatinya. Dan kembali lagi, saat itu juga, di setiap hembusan nafasnya yang terlalu pelan membawa seribu Pedang Damascus yang kembali munusuk jantungnya dari segala arah…seperti empat tahun lalu. Luka yang ia sudah coba untuk menutupnya kini kembali menganga lebar. Menyebabkan perih itu menyembur dan menguasai dirinya yang mungil.

Perempuan itu sudah mencoba untuk mengendalikan dirinya, tapi kekuatan perih yang sudah menyembur hebat dari luka itu tidak bisa dikendalikan. Tidak. Perih itu tidak akan pernah bisa ia kendalikan adalah perbaikan kata yang tepat.

Oh Sehun, baru saja melewatinya sambil menggendong seorang anak perempuan bersama Tiffany Hwang yang berjalan di sebelahnya. Ya, mereka telah menikah adalah kesimpulan yang singkat.

Yoona menarik nafasnya terlalu cepet seperti oksigen yang berada di sekitarnya tidak cukup untuk dirinya sendiri. Ia butuh lebih banyak oksigen!

“Ka…kau kenapa?” Luhan terlihat kelabakan saat Yoona bertingkah laku aneh.

Yoona masih belum menjawab pertanyaan Luhan, ia masih mencoba untuk mengendalikan dirinya. Kesimpulannya kali ini adalah bahwa setiap hembusan nafasnya membuat setiap pedang itu menancap lebih dalam, menusuk setiap inti lapisan jantungnya dan mencoba menusuk inti terdalam.

Jadi, dirinya masih serapuh ini? Yoona bertanya kepada dirinya sendiri.

Yoona tersenyum lebar. “Aniyo, wae?”

“Kau terlihat seperti penderita asma” Luhan menatap polos Yoona.

Yoona menunjuk dirinya sendiri dengan mamsang tampang jengkelnya. “Aku?”

“Tidak, perempuan itu” Luhan menunjuk perempuan yang duduk di belakang Yoona. “Tentu saja kau, ayolah”

“Aku bukan penderita asma dan jangan membicarakan ini lagi. Sebesar apa Roma?” Tanya Yoona mengalihkan pembicaraan, dan juga mencoba mengalihkan pikirannya terhadap hal yang tidak ingin ia pikirkan lagi.

“Kau sudah pernah ke Piazza Navona?”

“Aku baru saja dari sana” Yoona terkekeh pelan.”Ayolah, aku tahu Roma memiliki banyak tempat-tempat menakjubkan. Beritahu aku”

“Colosseum?”

“Kemarin aku telah ke sana”

“Spanish Steps?”

Yoona mengerutkan keningnya. “Apa? Span… apa?”

“Spanish Steps, atau mungkin kau bisa menyebutnya Scalinata della Trinità dei Monti” Ucap Luhan.

“Ah, Spanish” Yoona menggantungkan kalimatnya, mengingat kata Spanish itu. Feo? Ciervo? “Ada rekomendasi yang lain?”

“Pantheon” Luhan tersenyum lebar dan yakin. “Itu adalah kuil kuno”

“Pantheon” Yoona menggumamkan kata itu. “Jadi, kau tidak keberatan menemaniku ke kuil kuno itu?”

***

            Im Yoona dan Xi Luhan kini telah menginjakkan kaki mereka di dalam Pantheon, sebuah kuil kuno yang memiliki arti Rumah Semua Dewa. Yoona melihati setiap sudut kuil itu, terpengaruh dengan keindahan setiap marmer yang menutupi kuil itu.

“Akan lebih–” Luhan menghentikan kalimatnya dan senyum lebar terlukis di wajahnya. “Ini yang kumaksud”

Yoona menatap sebuah lubang yang berada di atap berbentuk setengah bola itu. Seketika hujan turun dan membuat titik-titik hujan itu masuk melewati lubang itu. “Apa yang kaumaksud itu adalah kehujanan?” Tanya Yoona sedikit berteriak, situasi di dalam Pantheon sedikit lebih ribut.

“Puncaknya selalu seperti ini” Balas Luhan dengan tangannya yang berada di keningnya, tidak membiarkan tetesan-tetesan hujan itu mengenai matanya. “Hujan turun dan akan membasahi lantai marmernya. Kau harus berterimakasih kepadaku karena aku membawamu tepat saat hujan” Luhan tertawa bak anak kecil.

Yoona menatap Luhan dan dengan pelan Yoona mengikuti bagaimana cara laki-laki itu tersenyum.

***

            “KAU KENAPA?!” Yuri berteriak keras saat dirinya baru masuk ke dalam kamar hotelnya dan menemukan modelnya basah kuyup.

“Ah, kau sudah kembali?” Tanya Yoona balik. “Aku baru saja mau mandi. Ini dingin, kau tahu” Jawab Yoona sedikit menggigil kecil.

“Kau benar-benar kehujanan?” Yuri dengan cepat menghampiri Yoona dan melihati perempuan itu dari ujung kuku jari kakinya hingga ujung rambut Yoona teratas. “Kau kemana saja?”

“Kau mungkin tidak akan percaya tapi aku bertemu dengan photographer-ku besok” Beritahu Yoona. “Aku baru saja dari Pantheon. Kau harus datang ke sana saat sedang hujan” Yoona tertawa kecil.

“Kau bertemu dengan juru potretmu?” Yuri mengrutkan keningnya. “Jangan katakan jika kau ke Pantheon bersamanya”

“Tapi, aku memang bersamanya” Yoona tersenyum lebar. “Dan, aku tadi juga melihat Sehun dan Tiffany dan… juga anak mereka. Miss little Oh” Yoona terkekeh hambar.

“Sehun? Di…Roma?”

Yoona menaikkan kedua bahunya. “Siapa yang tahu, tapi dia memang sedang berada di kota yang sama dengan kita. Aku mau mandi dulu”

***

            Sembilan jam pasca jam berdenting dua belas kali.

Calista Im kini sedang memegangi pundak Sophie Summer. Hari yang cukup cerah untuk melakukan pemotretan di tengah jalan Roma yang padat-lancar. “Kulihat kau sudah dekat dengan Sophie. Pemenang America’s Next Top Model Cycle 18 itu” Luhan tertawa mengejek.

“Dia baik” Yoona mengangguk lalu meminum air mineralnya.

Luhan menyodorkan kamera Digital SLR-nya. “Tidak terlalu buruk”

Yoona meraih kamera hitam itu. “Katakan saja jika aku melakukannya dengan sangat baik” Yoona memeletkan lidahnya.

Luhan memutar bola matanya. “Baiklah jika kau ingin aku mengatakannya seperti itu”

“Omong-omong,” Yoona menggantungkan kalimatnya. “Jika kau tidak berasal dari Korea, apa mungkin kau orang Jepang?” Yoona menyipitkan matanya lalu menyentuh wajah Luhan dengan aneh.

“Ada apa?” Luhan sedikit kaget. “Aku China, Im Yoona-ssi”

“Kau tahu dari mana nama Korea-ku?” Yoona sedikit terkesiap kaget.

“Aku selalu tahu segalanya” Luhan tertawa. “Tidak ada yang tidak tahu kau, dan kurasa Google juga mengetahui banyak tentang dirimu” Lagi, Luhan memamerkan deretan gigi putihnya yang diikuti tawa renyahnya.

“Ah, jadi kau mencari tahu tentang diriku?” Yoona mengangguk mengejek. “Apa perlu aku menandatangi kausmu?” Yoona tertawa.

“Yoona-ssi, Yoona-ssi! Aku fans beratmu, ini kausku. Kumohon, tandatanganilah” Ucap Luhan yang mengikuti cara fans Yoona as known as YoonAddict setiap kali mereka bertemu dengan perempuan berparas cantik ini.

Yoona tertawa. “Kau cocok sekali, sungguh”

“Katakan saja jika aku ini multitalenta” Luhan terkekeh pelan. “Kudengar juga, kau akan kembali ke Korea malam nanti?”

Yoona mengangguk. “Tidak mungkin untukku jika aku tinggal di sini terlalu lama”

“Jadi,” Kali ini Luhan yang menggantungkan kalimatnya. “Bagaimana dengan Sant’Eustachio Il Caffè sebelum kau pulang nanti?”

***

            Seoul, Korea Selatan- Tujuh belas jam pasca jam berdenting dua belas kali.

Yuri menyodorkan agenda hitamnya kepada supermodel-nya yang tengah duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka. “Pemotretan musim semi Majalah InStyle”

“Baiklah” Supermodel itu melihat-lihat agendanya managernya. “Aku ingin pergi ke supermarket. Kau ingin ikut?”

“Apa?” Yuri langsung melayangkan pandangan tajamnya. “Kau? Pergi? Ke supermarket? Kau yakin? Sungguh?”

“Aku juga ingin menikmati hidupku seperti manusia normal” Yoona segera meraih tas dan mantel hitamnya. “Dan mungkin akan pergi ke beberapa tempat lainnya. Jadi…annyeong”

***

            Yoona melihat-lihat buah-buahan segar yang dipajang oleh supermarket dan sesekali memasukkan beberapa buah ke dalam keranjangnya. “Calista Im?”

Yoona mengangkat wajahnya dan seketika dunianya terhenti pada titik terendah. “Tiffany Hwang, hai”

“Hai” Tiffany tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka aku bisa bertemu denganmu di sini. Aku kira kau tidak pergi ke supermarket” Canda Tiffany lalu diikuti tawa manisnya.

Yoona tertawa kecil. “Aku manusia normal yang juga-”

“Eomma!” Seorang perempuan kecil tiba-tiba datang dan memeluk kaki Tiffany.

Yoona sedikit terbelalak. “Jadi ini dia Tiffany kecil?” Yoona dengan cepat mengganti tampang kagetnya menjadi senyum kecil ringan.

“Beri salam kepada Yoona onnie, Lauren” Tiffany tersenyum kecil.

“Annyeo…ng” Perempuan kecil itu, Lauren, memberi salam dengan caranya yang lucu.

Yoona membungkukkan dirinya. “Annyeong, Lauren Oh”

“Nama Amerikanya adalah Lauren Lunde” Tiffany tersenyum kecil.

Yoona tetap tersenyum. “Nama yang bagus” Yoona kembali memposisikan tubuhnya dengan benar, tegap. “Aku harus pergi dulu, kurasa manager-ku sudah menungguku”

“Baiklah. Kuharap kita akan mempunyai waktu untuk lebih mengenal satu sama lain” Tiffany tersenyum dan memamerkan kemanisan eye-smile-nya.

“Aku akan menunggu waktu itu” Yoona melihat Lauren. “Annyeong, Lauren” Yoona melambaikan tangannya pelan. Lauren hanya membalas melambaikan tangannya tanpa menggumamkan sepatah katapun.

Dengan cepat, Yoona segera menuju kasir dan membayar semua belanjaannya.

Bagaimana bisa ia tetap bertahan hidup di sana tadi?! Bagaimana bisa paru-paru dan jantungnya dan segala organ yang ada di dalam tubuhnya tetap berfungsi?! Yoona berpikir dengan keras. Otaknya tidak bisa berhenti memikirkan anak kecil itu. Keturunan Sehun dan Tiffany, mewarisi darah Sehun, bahkan tatapan mata perempuan itu sedalam tatapan mata Sehun! Oh, ayolah, perempuan ini harus berhenti memikirkan ini semuanya!

Yoona segera melangkahkan kakinya keluar supermarket.

“Hai” Yoona segera membalikkan badannya saat seseorang yang baru saja melewatinya menyapanya dengan pelan, terlalu pelan. Hampir seperti membisiknya. Yoona menangkap sosok laki-laki berperawakan tinggi itu. Mengenakan topi hitam dan masuk ke dalam supermarket.

Yoona menutup mulutnya dan menahan teriakannya dengan air mata yang sudah siap keluar dari mata sayunya. Tangan dan tubuh putihnya sudah mulai bergetar hebat.

Itu… Itu dia! Hati seorang Im Yoona akhirnya berteriak lantang. Melepaskan kembali keperihan empat tahun lalu dan membiarkan Pedang Damascus itu menusuk jantungnya dari segala arah.

Yoona tetap menutup mulutnya dan akhirnya melepaskan kantung plastik putih itu dari genggamannya lalu berlari ke apartemennya yang tidak jauh dari supermarket. Yoona memacu kakinya lebih cepat dan terus lebih cepat, tidak mempedulikan tarikan nafasnya yang semakin memendek.

Yoona segera memebanting pintu apartemennya dengan mata yang sudah basah. “Ad- KAU KENAPA?!”

Yoona terduduk dan bersandar pada pintu apartemennya. “Aku… Aku melihatnya. Dirinya, istrinya dan keturunannya. Aku melihatnya!!”

Yuri segera berlari dan berjongkok di depan Yoona. “Siapa?!”
“OH SEHUN! OH SEHUN! JANGAN BERTINDAK SEPERTI KAU TIDAK TAHU APA-APA!!” Yoona meneriaki Yuri dengan keras tepat di hadapan perempuan itu.

“Bedebah itu-”

“JANGAN PERNAH MENYATUKAN KATA ITU LAGI DENGAN DIRINYA! JANGAN PERNAH DAN CATAT ITU!” Yoona menunjuk Yuri dengan tajam lalu berdiri, tidak rela jika nama itu digabungnya dengan kata kotor itu. Mereka..berbeda.

“Wow, wow. Kau kenapa?” Tanya Yuri yang masih bisa mengendalikan emosinya.

“APA KAU TIDAK MENGERTI AKU BERTEMU DENGAN DIRINYA, BAHKAN ANAKNYA MENYAPAKU!” Teriak Yoona, melepaskan semua emosi yang ia tahan selama empat tahun ini. Semua emosi yang sudah ia tutup dengan rapih dan menguburnya, tidak menyangka akan keluar tiba-tiba seperti ini. “A..ku… Aku…melihat…nya”

“Yang bisa kukatakan hanyalah lupakan dia” Ucap Yuri. “Yang kau hasilkan dari melakukan hal-hal yang berhubungan dirinya hanya kesakitan. Kau tidak mendapat lebih, dan air mata itu adalah pembuktiannya”

“Kau sudah memiliki kehidupan yang berbeda dengan dirinya. Dia ada di sini bukan berarti dia kembali ke dalam hidupmu” Yuri menghembuskan nafasnya. “Masa lalu bukan tempat yang tepat untuk mengurung dirimu di dalam sana. Sudah tidak ada yang bisa kaulakukan untuk mengubahnya”

***

            Tiga jam pasca jam berdenting dua belas kali.

Im Yoona, masih belum berkeliaran di alam mimpinya. Matanya masih terpaku kosong melihati atap kamar apartemennya. Matanya menjadi lebih besar ketimbang sebelumnya.

Untuk apa kau menangisi seorang laki-laki yang bahkan negara sudah mengakui mereka dengan sah menjadi suatu rumah tangga? Bukan bodoh, hanya tidak berarti apa-apa. Hanya membiarkan lubang hitam kelam itu kembali memakan kebahagianmu yang telah kauciptakan sebelumnya. Ya, bodoh.

Kembali ke empat tahun lalu, perempuan ini menerima setiap kesakitan, luka dan penyiksaan yang diberikan oleh titik terbodohnya. Dan ia memang harus merelakan jantungnya tercabik-cabik hebat oleh Pedang Damascus itu, lagi dan untuk kesekian kalinya.

Yoona akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan terhenti di depan pintu kamar Yuri. Tangannya yang ia genggam sudah siap untuk mengetuk pintu cokelat itu, tapi ia kembali mengurungkan niatnya.

Mungkin, dirinya butuh waktu sendiri. Pikir Yoona. Dengan tekad yang penuh dengan kenekatan, perempuan itu meraih masker, mantel hitam dan tas kecilnya lalu berjalan keluar apartemen, masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengeksplor Kota Seoul yang tidak pernah tertidur dengan pulas.

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah sebuah apotek, membeli sebuah obat tetes mata dan kembali menjelajahi tengah malamnya ibukota Korea Selatan itu. Kaki jenjang itu menginjak pedal gas di depan sebuah restauran Jepang yang terletak tepat di jantung ibukota. Restauran Jepang milik Bibi Yukino dan Paman Rogue. Banyak hal yang telah menjadi kenangan terjadi di tempat itu. Kejutan ulang tahunnya, perayaan kelulusan, menghabiskan waktu bersama-sama. Well, intinya saat ini adalah semuanya telah menjadi sebuah kenangan yang disimpan rapih di dalam otak dan hatinya yang selalu berbeda pendapat.

Yoona tidak menginjak pedal gasnya lagi. Hanya bersandar pada kursi pengemudi dan menutup matanya.

Pura-pura tidak memikirkan seseorang hanya akan membuat otakmu lebih fokus untuk memikirkannya. Pepatah-pepatah khas Kwon Yuri itu kembali terngiang di telinganya. Yoona hanya tersenyum kecil dan terkekeh pelan.

…Still I sit all alone, wishing all my feelings was gone… One last cry, before I leave it all behind. I gotta put you out of my mind this time…” Dengan tenang Yoona mendengarkan musik yang diputarkan di radio. Di kondisi yang sama, lagu ini kembali terputar. Tidak ada sedetik pun yang perempuan ini tidak ingin saat kejadian hari itu.

***

            Sembilan jam pasca jam berdenting dua belas kali.

Im Yoona yang setiap kali ia bekerja bertransformasi menjadi seorang Calista Im, berpose memamerkan kecantikan seorang gadis musim semi untuk Majalah InStyle Korea. Mata, hidung, alis, mulut dan pipinya membentuk sebuah karya seni Tuhan yang luar biasa.

Di sisi lain, Xi Luhan, seorang juru potret terkenal dan handal melihati Yoona yang sedang sibuk dengan penata riasnya.

“Luhan?” Mata Yoona menangkap sosok Luhan yang berdiri di belakang seorang juru potret majalah. “Kau di Korea?”

“Aku ada kontrak bersama majalah Korea” Luhan menjelaskan alasannya dengan singkat. “Mianhae, aku tidak bisa memotretmu hari ini” Luhan tertawa renyah. Yoona yang sekarang ini sudah berdiri di hadapan Luhan tidak mengerti. “Maksudku, seharusnya aku yang memotretmu sekarang”

Yoona mengangguk mengerti. “Kapan kau sampai di Korea?”

“Kemarin” Jawab Luhan singkat. “Kau tahu tempat makan enak di Seoul?”

***

            “Aku tidak tahu kau suka masakan Jepang atau tidak, tapi aku yakin restauran ini akan masuk ke dalam daftar restauran kesukaanmu nantinya” Yoona tersenyum yakin lalu masuk ke dalam restaurant Jepang itu bersama Luhan.

“Yoongie!” Bibi Yukino adalah orang pertama yang menangkap sosok Yoona.

Yoona memeluk Bibi Yukino dengan hangat. “Seperti sudah lama sekali tidak bertemu dengan bibi. Mana Paman?”

“Pamanmu sedang berada di dapur. Duduklah” Bibi Yukino dengan senyuman hangatnya mempersilakan kedua orang itu untuk duduk. “Bagaimana kabar model dan managernya ini? Mana Yuri?”

“Yuri sepertinya lebih sibuk ketimbang diriku” Jawab Yoona sambil tertawa.

“Ah, rasanya memang seperti sudah lama sekali semenjak terakhir kau ke sini bersama Yuri dan Sehun”

Yoona terdiam membeku setelah mendengar nama terakhir yang keluar dari mulut Bibi Yukino. “Bibi, ini temanku, Luhan. Luhan, ini Bibi Yukino pemilik restaurant”

Luhan tersenyum. “Annyeonghaseyo, Bibi”

“Annyeonghaseyo” Sapa Bibi Yukino ramah. “Baiklah, kurasa kalian sudah benar-benar lapar. Aku akan membawakan masakan terenak yang akan membuat lidah kalian mabuk kepayang dibuatnya” Bibi Yukino tertawa lalu kembali ke dapur.

“Ramah sekali” Komentar Luhan dengan senyum simpul di bibirnya.

“Ya, selalu ramah. Bibi Yukino dan Paman Rogue sudah seperti orang tuaku sendiri. Menganggapku seperti anak mereka sendiri, setelah anak perempuan semata wayang mereka tiada” Ucap Yoona pelan.

“Kehilangan” Luhan mengangguk, seperti sudah biasa dengan perasaan itu. “Kuyakin semua orang juga akan merasakannya”

“Ya” Yoona tersenyum kecil, kecil sekali. “Dan kurasa aku telah masuk ke daftar mereka-yang-telah-merasakannya”

“Kau…telah kehilangan orang tuamu?” Luhan memberanikan pertanyaan itu keluar dari mulutnya dengan nada ragunya.

“Aku telah kehilangan banyak orang di hidupku sampai saat ini. Ya, termasuk orang tuaku”

“Aku tahu rasanya”

“Kau juga?” Kini, Yoona memberanikan dirinya bertanya.

“Orang tua dan anakku”

Yoona terbelalak. “Anak..mu? Kau…telah me..nikah?”

Luhan menggeleng pelan. “Maksudku, bukan anak kandungku. Adopsi”

“Adopsi?” Yoona memasang tampang bingungnya. “Kau pernah mengadopsi seorang anak?”

“Seorang bayi dengan percampuran darah Amerika dan Korea, Daniel Hyunoo Lachapelle” Beritahu Luhan pelan. “Dia sangat lucu, kau tahu” Luhan terkekeh hambar.

“Mianhae” Ucap Yoona pelan. “Aku tahu bagaimana rasanya saat keperihan itu lepas tanpa bisa dikendalikan”

Luhan mengalihkan pandangan tajamnya dan mengurung kalimat yang baru saja diucapkan Yoona di dalam otaknya.

“Aku juga pernah merasakannya” Yoona tersenyum kecil.

***

            Sudah lama sekali perempuan itu tidak menginjakkan kakinya di gedung suci itu. Bersama laki-laki juru potret itu, kini Yoona telah duduk di bangku sebuah gereja. Selagi laki-laki itu membaca Alkitab-nya dengan serius, Yoona memikirkan segala hal yang terjadi.

Aku tahu jika setiap manusia tidak akan pernah puas. Tapi, saat ini yang kubutuhkan hanya sebuah jalan lurus yang bisa kulalui dan menjadi penuntun kehidupanku.

            Dan buatlah mereka yang berada di sekitarku bahagia, hidup dengan penuh senyuman dan jauh dari tangisan kesengsaraan. Termasuk, dirinya. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang munafik yang akan mengatakan aku bahagia jika melihat seseorang yang kucintai bahagia juga, walaupun bersama orang lain. Bukankah kalimat itu mengajarkan diri kita menjadi munafik? Kumohon, Tuhan.

“Serius sekali” Luhan kembali membuka pembicaraan.

“Aku ingin tahu bagaimana rupa Daniel-mu itu” Yoona tersenyum kecil.

“Dia menawan, sama halnya seperti diriku” Luhan tertawa.

“Oh, ayolah. Yang benar saja” Tanggap Yoona yang diikuti tawanya. “Tapi, jika boleh kutahu, kapan Daniel meninggal?”

“Tepat 19 bulan lalu. Tepat hari ini” Jawab Luhan tanpa menghembuskan nafasnya. “Itu alasan mengapa aku mengosongkan semua jadwal untuk hari ini, dan alasan kenapa aku tidak memoretmu”

“Daniel pasti sangat beruntung” Gumam Yoona.

“Tidak cukup beruntung untuk tetap bertahan hidup sebagai seorang anak pengidap Pneumonia” Luhan membenarkan. “Baiklah, sebaiknya kau pulang”

***

            Sepuluh kali pergantian hari- Pesta dansa Elle Girl Korean Magazine.

Perempuan itu tidak tahu apa yang ia rasakan ini. Semuanya terasa aneh saat…ia kembali merasakan perasaan ini. Ia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

“Kenapa?” Xi Luhan yang telah menaruh kedua tangannya di pinggang perempuan itu, merangkul pinggang ramping itu sedari tadi tersenyum mengejek. “Terpana dengan ketampananku?”

Calista Im yang juga telah meletakkan kedua tangannya di bahu laki-laki itu tertawa ringan. “Kau adalah fans beratku, ingat?”

“Yoona-ssi, Yoona-ssi. Gomawo karena telah berdansa bersamaku” Luhan tertawa.

“Ne, cheonmaneyo” Balas Yoona yang juga diikuti tawanya.

“Jadi, menurutmu, bagaimana pesta ini?” Tanya Luhan. “Memberikan waktu untuk berdansa tidak terlalu buruk”

“Sama seperti pesta-pesta yang lainnya” Komentar Yoona. Yoona menelusuri setiap sudut ballroom hotel megah itu. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika ia bisa sampai sejauh ini bersama laki-laki ini. Mungkin publik hanya melihatnya sebagai dekat, tapi tidak dengan dirinya. Dirinya mempunyai definisi yang berbeda akan hal itu.

Yoona menangkap sesosok anak kecil yang dibalut dengan gaun berwarna pink. Dan lagi, dunia perempuan itu terhenti di titik terendah. Luhan yang menyadari perubahan raut wajah Yoona ikut terdiam. “Waeyo?”

Yoona tidak bisa menggerakkan bibir tipisnya, suaranya tidak dapat keluar dan matanya menatap sesuatu dengan pandangan kosong. Nafasnya kembali memendek.

Yoona berpikir singkat. Jika kuturunannya ada di sini, maka orang tuanya juga berdiri tidak jauh dari keturunannya.

Kenapa? Apa alasannya? Mengapa? Jadi, karena?

“Aku ingin pulang” Yoona mengucapkan kalimat itu dengan pelan hampir seperti berbisik sambil menunduk.

“Wae? Kau sakit?”

“Kau tidak akan mengerti” Bantah Yoona lalu mengambil tindakan untuk keluar dari lantai dansa dan segera keluar dari ballroom. Luhan yang tidak mengerti apa-apa ikut keluar dari ballroom dan segera mengikuti Yoona. Perempuan bergaun biru laut panjang itu menyeret kakinya dengan susah payah menuju mobil. Ada apa dengan dirinya? Kenapa seperti ini? Apa dunia ini terlalu kecil untuk dirinya dan keluarga bahagia itu? Apa Tuhan tidak bisa membagi dunia kecil ini menjadi daerah-dirinya dan daerah-keluarga-bahagia-itu?

“Yoongie” Untuk pertama kalinya, Luhan memanggil Yoona menggunakan panggilan itu. “Aku tidak tahu kau kenapa, tapi kurasa tidak apa-apa untuk menjadi tidak baik-baik saja” Luhan melangkahkan kakinya dan berdiri di hadapan perempuan itu. “Mari pulang bersama”

Laki-laki itu membukakan pintu untuk perempuan yang belum membalas perkataannya. “Mianhae” Akhirnya perempuan itu menunjukkan suaranya. “Mianhae karena telah bersikap aneh”

Luhan belum menyalakan mesin mobilnya, menginginkan suasana di dalam mobil tetap hening. Luhan segera tersenyum. “Bukankah kau memang selalu aneh?”

Yoona terkekeh miris. “Ya, mungkin aku memang aneh”

***

Aku, ya, diriku. Aku akan menunggunya, entah apa yang telah terjadi di masa lalunya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, keperihan yang keluar dan tidak bisa dikendalikan. Dia juga merasakannya, dan aku akan menjadi orang yang akan membantunya untuk memulihkan dirinya dari kesakitannya. Ya, aku akan menjadi orang itu. Tidak peduli jika itu menghabiskan waktu yang lama, tapi siapa yang peduli? Aku telah mencintainya.

***

            Dua bulan kemudian.

Aku tidak mengerti. Ini seperti terulang kembali. Adegan saat aku kembali jatuh cinta dan sebelum aku menghujat jika cinta itu hanya mematahkan hatimu, membakarnya dan mempertemukan hatimu dengan sebuah keakhiran.

            What’s past is past. Aku harus merelakan semuanya, meninggalkan semuanya di belakangku. Terima atau tidak, aku harus tetap menerimanya. Dirimu hanya satu, dan kau harus memilih antara kau hidup di masa lalu atau di masa depan.

            Saat semua kejadian menyenangkan hanya menjadi seberkas kenangan yang bisa kau ingat, apa yang bisa kaulakukan lagi? Mungkin, kau akan mengatakan, waktu adalah musuh terbesarmu.

            Hari itu, Rabu di Sant’Eustachio Il Caffè, kurasa aku telah mengulanginya lagi. Aku telah mencintai seseorang.

END

Advertisements

17 thoughts on “[FF-Oneshoot] Begin Again [Sequel of Dumbest-Point]

  1. Kereeeen pake bangeet dah ni ff.. Q suka … Daebak deh.. Penggambaran emosi Yoona yg bener2 dpt bgt Feel’x… Aaah bingung mau Comment apa nii… Pokoknya 100 jempol deh buat Author… Ditunggu karyamu yg lain yaaaa….

    Like

  2. sequel-nya Dumbest Point..
    ga ngira klo d sequelnya bkal ada cast baru -luhan- .
    keren!

    o, anyeong..
    saya pengunjung baru d blog kamu.
    2 ff kmu yg sbelumnya aku baca d blog exoshidaefanfic.wordpress.com jd coment-nya pun dsana. tp skrg lg pngen baca dan coment dsini. kkk~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s