[FF-Oneshoot] Wipe Your Eyes (Sequel of 7 Years of Love)

Author: Clora Darlene.

Length: Oneshoot.

Songfic: Maroon 5 – Wipe Your Eyes.

Rating: PG-..16,5?

Genre: Romance.

Main Cast: EXO-K’s Oh Sehun, GG’s Im Yoon Ah.

Supporting Cast: EXO-M’s Zhang Yixing, GG’s Kim Taeyeon, GG’s Choi Sooyoung.

Disclaimer: This FF is belong to me, the storyline is mine and don’t dare to copy-paste this stuff without my knowing. FF ini terbuat tidak untuk menjatuhkan martabat atau menjelek-jelekkan tokoh di dalamnya.

Sequel before and after: 7 Years of Love (Ch. 1), Pay The Price (Ch. 3), Beginning A New Life (Ch. 4)

***

Sebelas bulan kemudian– Seoul, Korea Selatan.

“Sehunaaaaaaaa” Perempuan itu merengek manja kepada suaminya dengan mengerucutkan bibir pink-nya dan duduk di sofa di sebelah suaminya yang sedang fokus dengan lembaran-lembaran putih yang ia pegang. “Kenapa kita tidak pindah ke rumah kita?” Perempuan itu menatap suaminya.

Rumah besar dengan gaya Eropa, yang telah selesai dibangun lima bulan lalu adalah bukti keberhasilan laki-laki itu selama ini.

“Sehunaaaaaa” Lagi, perempuan itu merengek manja.

Oh Sehun, melepaskan kacamata bacanya dan menatap istrinya. “Kau mengantuk, tidurlah”

Yoona memasang tampang kesal dan jengkelnya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan kaki yang ia sentakan dengan keras. Yoona membenamkan seluruh dirinya di dalam selimut yang ia pakai. Ia menghembuskan nafasnya dengan terlalu kesal. Suaminya…bodoh atau tolol? Pikirnya.

“Sudah mempunyai rumah tapi tidak mau pindah” Gumam Yoona tidak jelas. Oh Sehun, dengan kepuasan atas mewah dan Im Yoon Ah dengan kepuasan atas kesederhanaan, berhasil membangun istana mereka dengan sukses. Sebuah rumah di pusat kota dengan konsep percampuran luxury dan minimalist bergaya Eropa.

***

            Butuh sekitar dua jam untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sekarang ini sedang memuncak. Sehun melepaskan kacamatanya lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan badannya di sebelah istrinya.

Beberapa detik laki-laki ini lalui dengan menatap istrinya yang sedang tertidur pulas. Ibu jari laki-laki itu menyusuri setiap garis wajah istrinya, menyentuh wajah istrinya dengan pelan dan lembut tanpa suara. Melihati karya terbaik yang diciptakan Tuhan untuk dirinya. Ibu jari laki-laki itu terhenti di bibir pink perempuan itu dan senyum kecil mengembang di wajah laki-laki itu.

Alasan kenapa dirinya tidak ingin pindah? Pikir Sehun dengan hati yang sedang terkekeh pelan.

Sehun mencium pelan mata perempuan itu, hidung dan diakhiri dengan kecupan singkat di bibir pink perempuan itu.

***

            Oh Sehun, keluar dari ruang rapatnya dan segera kembali ke ruangannya. “Maafkan aku tapi dia–”

“Hai” Ucapan Kim Taeyeon terhenti saat seseorang yang telah duduk di ruangan Sehun menyapa laki-laki itu.

Sehun melirik Taeyeon, sekretaris pribadinya. “Tidak apa-apa. Kau bisa pergi sekarang”

“Baiklah” Kim Taeyeon melangkahkan kakinya mundur dan menutup pintu ruangan atasannya dengan pelan.

“Ada apa?” Pertanyaan dingin yang terlontar dari mulut Sehun untuk pertama kalinya.

Perempuan tinggi itu tersenyum. “Tidakkah kau merindukanku?”

“Untuk apa aku merindukanmu?” Tanya balik Sehun dingin.

“Karena memang takdirmu untuk merindukanku” Bantah perempuan itu dengan senyum yang tetap berkembang.

Sehun memutar bola matanya. “Bagaimana bisa kau tahu aku di sini?”

***

            Perempuan berparas cantik itu membeku mendengar sederetan penjelasan yang dikatakan perempuan yang telah berumur setengah abad yang duduk di hadapannya. Setiap kata-kata yang diucapkannya seperti mengirimkan dan memberikannya berjuta jarum yang menusuk setiap titik dirinya.

Perempuan berparas cantik itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dan menerima keadaannya saat ini. Beribu kesakitan melayang-layang di otaknya, memeras otaknya untuk lebih bekerja. Apa yang bisa ia lakukan?

Keputusannya kini hanya pulang. Kembali ke tempat terhangatnya. Ia melangkahkan kakinya berjalan di pinggir jalanan besar, menatap setiap benda dengan pandangan polos dan pesimisnya. Ia hanya memiliki…dua pilihan, tentu saja. Hidup selalu penuh dengan pilihan dan kau tidak bisa memilih semuanya.

Perempuan itu mengedarkan pandangannya, melihat Kota Seoul di siang hari. Bola mata perempuan itu terhenti sejenak. Menatap dengan serius seorang laki-laki yang tangannya digandeng seorang perempuan dan masuk ke dalam sebuah restauran.

Ah, suami bedebah ini.

***

            Im Yoon Ah hanya melihati TV-nya yang menyala dengan pandangan polos. Tidak menatap TV itu dengan serius dan menutup semua inderanya, hanya terfokus pada pikiran otaknya.

“Hey” Seorang laki-laki menyapanya.

Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ah, kau sudah pulang?”

Sehun memutar bola matanya lalu duduk di sebelah Yoona. “Sepuluh menit lalu” Alis kiri Sehun terangkat.

Yoona hanya mengangguk pelan. “Kau sudah makan malam?”

“Ya. Kau?”

“Bersama perempuan tinggi itu?” Yoona melirik Sehun.

Sehun menyandarkan dirinya pada sandaran sofa. “Ya. Dia memaksaku, Choi Sooyoung”

“Aku tidur dulu” Gumam Yoona pelan lalu beranjak pergi ke kamarnya. Dan seperti biasa, perempuan itu menenggelamkan dirinya dalam balutan selimut.

***

            Senyum seorang Choi Sooyoung masih terkembang. “Apa kau selalu sesibuk ini?” Tanya Sooyoung pada laki-laki yang duduk di hadapannya.

“Kau menggangguku” Tukas Sehun yang fokus dengan laptop dan kertas-kertasnya.

“Kau sama sekali tidak berubah” Ucap Sooyoung lagi dengan tangan kanannya yang menompang dagunya.

“Tidak ada yang mengatakan aku berubah”

See? Kau memang tidak berubah” Sooyoung tetap tersenyum. “Seharusnya aku tidak meninggalkanmu waktu itu”

“Ada atau tidak adanya dirimu tidak berpengaruh pada hidupku”

Sooyoung memutar bola matanya. “Aku beruntung karena berhenti menjadi pelacurmu sebelum polisi-polisi itu merazia club-mu”

“Dan,” Sehun menatap Sooyoung tajam. “Ada apa jika kau memang berhenti?”

“Selalu pertanyaan ‘ada apa’” Sooyoung kembali memutar bola matanya. “Aku sudah mengetahui dirimu dengan baik selama bertahun-tahun ini”

“Lalu?”

“Tidakkah kau melihatku?” Tanya Sooyoung dan berhasil membuat ruang kerja Sehun sengap.

Sehun menghentikan gerakan bola matanya dan mengerti arti dibalik sebuah kata melihat. Sehun mendongakkan kepalanya. “Aku telah melihat orang lain”

“Kebohongan besar” Tukas Sooyoung.

“Kau tidak mengetahui diriku dengan baik, Sooyoung-ssi” Gumam Sehun. “Kau tidak mencintaiku, kau hanya menginginkanku”

“Kau salah!” Sooyoung setengah berteriak, membentak Sehun tepat di hadapannya. “Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu!”

Sehun menghembuskan nafasnya tanpa suara. “Apa yang harus kulakukan? Menikahimu? Tidak akan. Tidak bisa”

“Wa..Wae?” Mata Sooyoung telah sedikit berkaca-kaca.

“Karena aku memang tidak akan pernah melihatmu”

“Ayolah, kau jangan bertindak konyol!”

Sehun mengerutkan keningnya. “Kau yang seharusnya berhenti bertindak bodoh” Sehun menghembuskan nafasnya. “Dengarlah. Aku lelah berbicara jadi dengarlah yang satu ini dengan baik-baik. Aku tidak akan pernah mencintaimu, sungguh”

“Dan jangan bertindak bodoh di hadapanku. Aku lelah dan membencinya” Tukas Sehun dingin.

***

            “Makan siang bersama perempuan baru?” Tanya Yoona saat Sehun baru saja satu langkah masuk ke dalam apartemennya.

“Aku lelah” Bantah Sehun yang berjalan menunju kamarnya.

“Kau tidak pernah menyelesaikan masalah hingga selesai” Ucap Yoona.

Langkah Sehun terhenti dan laki-laki itu membalikkan badannya. “Ada apa?”

“Perempuan baru?”

“Tidak”

“Perempuan lama?”

“Mungkin”

“Berapa kali kau menidurinya?”

“Tidak pernah”

“Pembohong”

“Apa aku peduli?” Tanya Sehun dingin lalu masuk ke dalam kamarnya.

Yoona terdiam sayu. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia menjadi seperti ini? Ada yang salah dengan dirinya dan ia sudah tahu itu! Pikir Yoona keras. Ia menjadi lebih sensitif setelah kertas itu mendatanginya.

Yoona mengambil keputusan untuk masuk ke dalam kamarnya dan tidur di sebelah Sehun. “Mianhae”

“Tidak apa-apa” Gumam Sehun yang tidur menghadapnya tanpa membuka mata.

“Kau tidak pernah serius” Yoona balik bergumam.

Sehun membuka matanya dengan pelan, menatap iris mata istrinya lekat-lekat. Beberapa menit mereka habiskan hanya saling pandang tanpa suara. Akhirnya Sehun membuka mulutnya. “Ada apa?”

“Selamat malam” Yoona mengecup pelan mata Sehun lalu membalikkan badannya dan mencoba tertidur. Tiba-tiba Yoona merasakan tangan hangat Sehun melingkar sempurna di pinggangnya.

“Aku akan pergi ke Jepang beberapa hari” Beritahu Sehun pelan, terlalu pelan hampir seperti berbisik tepat di telinga Yoona.

Yoona membalikkan dirinya, membuat kedua hidung mereka bersentuhan. “Kapan?”

“Besok” Jawab Sehun singkat.

“Berapa hari?” Tanya Yoona pelan.

“Beberapa hari” Sehun memutar bola matanya.

“Berapa hari?” Yoona kembali mengulangi pertanyaannya.

“Dua hari” Jawab Sehun lalu menghembuskan nafasnya. Yoona terdiam. “Aku tidak akan melakukan apa-apa”

“48 jam?” Tanya Yoona berbasa-basi.

“60 jam” Sehun membenarkan.

“Itu lebh dari dua hari”

“Setidaknya aku tidak mengatakan akan pergi selama tiga hari” Sehun memutar bola matanya.

“Itu dua setengah hari” Kini giliran Yoona yang memutar bola matanya.

“Aku akan segera kembali, sungguh” Sehun mendaratkan kecupan kilatnya pada bibir pink Yoona

“Kau memang akan kembali, bodoh” Yoona memeletkan lidahnya.

***

            Incheon International Airport– 08:00 KST.

Yoona berdiri di hadapan Sehun, merapihkan blazer hitam yang Sehun kenakan. “Tidak mengatakan apa-apa?” Sehun membuka mulutnya.

Yoona tetap memfokuskan titik fokus matanya pada blazer hitam Sehun. “Aku tidak tahu”

“Kau baik-baik saja?”

Yoona mengangkat wajahnya. “A..Aku…tidak..tahu”

Sehun melepaskan blazer hitamnya. “Aku tidak akan berangkat”

“Andweeeeee!” Yoona setengah berteriak. “Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, aku baik-baik saja” Sehun terdiam, menatap Yoona lekat. “Aku baik-baik saja, sungguh. Berhentilah mengkhawatirkanku” Yoona meraih blazer hitam Sehun dan kembali memberikannya pada laki-laki itu.

“Ak–”

“Sehun-ah!” Kedua orang itu mengunci mulut masing-masing, mengalihkan pandangannya ke sumber suara. “Kajja!”

Kening Sehun dan Yoona mengerut pada waktu yang sama. Sehun mengalihkan pandangannya, melihat Yoona. “Dia bukan siapa-siapa” Sehun berbisik pelan pada Yoona.

Yoona memutar bola matanya. “Aku mengerti”

“Kajja!” Tanpa basa-basi, Choi Sooyoung, langsung menarik tangan Sehun dan menggandengnya lalu berjalan masuk ke dalam ruang tunggu bandara.

***

            “Bagaimana bisa kau di sini?”

“Mengikutimu? Mungkin”

“Sudah kukatakan jangan bertindak bodoh”

“Kau tidak menyukainya?”

“Aku membencinya”

“Jadi, aku salah?”

“Ya”

“Kau marah padaku?”

“Aku muak”

“Aku akan membuatmu berhenti muak padaku”

“Lakukan saja”

***

            Seperempat hari kemudian.

Badan kecil Im Yoon Ah sudah basah dengan keringat dingin dan wajahnya sudah basah akibat cairan bening yang keluar dari matanya.

***

            Aronia de Takazawa– Tokyo, Jepang.

“Aku bersemangat” Perempuan itu tersenyum lebar dan terus bersenandung beberapa lagu kesukaannya.

Sehun hanya menghembuskan nafasnya dan melepaskan blazer.

“Aku bawakan” Sooyoung segera meraih blazer hitam yang baru dilepaskan Sehun. Sehun kembali menghembuskan nafasnya, muak.

Seorang pelayan perempuan berwajah Jepang oriental tersenyum dan membawa pesanan mereka berdua. Choi Sooyoung, memaksa Sehun untuk satu meja dengan dirinya dan berpisah dengan beberapa kru kerjanya.

“Apa kalian sedang berbulan madu?” Tanya pelayan perempuan itu dengan senyum yang lebar.

Sooyoung adalah orang pertama yang excited setelah mendengar ucapan pelayan itu. “Terlihat seperti itu?” Tanya Sooyoung balik dengan Bahasa Jepang yang fasih.

“Ya” Pelayan perempuan itu tetap tersenyum. “Selamat menikmati makanan anda”

Sehun hanya memutar bola matanya, dan rasa muak itu semakin menjadi-jadi di dalam dirinya. “Lihat? Bahkan ada yang–”

“Habiskan makananmu” Tukas Sehun dingin.

***

            Kim Taeyeon, membersihkan meja kerjanya dan segera pulang. Langkahnya terhenti di lobby gedung perusahaannya. Ia ingat alasan mengapa ia tidak ikut ke Jepang bersama atasannya.

Untuk menjaga istri atasannya.

Taeyeon menghembuskan nafasnya dan mengambil keputusan untuk datang ke apartemen yang ia kira sebelumnya ia-bisa-tinggal-di-sana.

Butuh sekitar dua puluh enam menit untuk Taeyeon sampai di depan pintu apartemen atasannya lalu mengetuk pintu itu. Tidak ada suara. Tujuh puluh dua detik telah berlalu dan tidak ada yang membukakannya pintu. Taeyeon melirk jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kanannya.

Tiga jam menuju tengah malam. Tidak mungkin Yoona pergi semalam ini sementara suaminya tidak ada. Entah kenapa, firasat perempuan Taeyeon mulai tidak enak memikirkan keadaan Yoona. Ia tidak mengerti. Dengan keputusan yang sedetik lalu ia ambil, perempuan itu mengeluarkan kunci cadangan apartemen yang diberikan Sehun lalu memasukkan ke lubang kunci dan memutar knop pintu apartemen.

***

            Zhang Yixing, menyusuri jalanan Kota Seoul dengan bersenandung ringan. Ia baru saja melangkahkan kakinya dari sebuah minimarket untuk membeli beberapa soda yang akan menemani malamnya. Langkahnya terhenti seketika setelah seorang perempuan berbadan kecil menghampirinya dengan hembusan nafas yang tidak teratur dan mimik wajah panik.

***

            09:00 Japan Standard Time.

Oh Sehun, membuka matanya dengan susah payah. Sinar matahari langsung menyerang bola matanya dan berhasil membuat laki-laki berkulit porselen itu silau. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar hotelnya dan menemukan seorang perempuan masih tertidur di sebelahnya.

Sehun melihat keadannya saat ini. Half-naked.

“Sialan” Umpat Sehun lalu mencari ponsel hitamnya. Sehun melirik perempuan yang sedang tertidur di ranjang hotelnya lalu melihat ponselnya yang telah mati.

***

            Im Yoon Ah, hanya menghela nafas setelah melihat foto yang dikirimkan seseorang dengan nomor yang tidak bisa dibaca ponselnya.

Ini drama. Tukas Yoona dalam pikirannya.

Sebuah foto yang menyatakan Sehun-menghabiskan-malamnya-dengan-perempuan-lain.

Yoona sadar dan tahu jelas akan perempuan yang tidur di sebelah Sehun. Perempuan yang bersama Sehun saat di bandara kemarin hari. Sebuah kebohongan belaka jika ia mengatakan ia dadanya-tidak-sesak.

“Merasa lebih baik, Nyonya?” Kim Taeyeon, tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah ranjang inap Yoona.

“Nyonya?” Alis kiri Yoona terangkat. “Jangan terlalu formal bersamaku. Kurasa lebih baik dari kemarin malam. Gamsahamnida”

“Sehun yang menyuruhku untuk menjagamu selama ia di Jepang” Taeyeon tersenyum kecil. “Dia seseorang yang waspada”

“Ya, kau benar” Yoona tersenyum kecil dan kembali foto Sehun-bersama-mainan-barunya keluar di dalam pikirannya.

“Kau sudah bangun? Aku membawakan sarapan untuk kita semua” Zhang Yixing as known as Lay tiba-tiba datang dan berbicara sesuka hatinya tentang masakan dengan resep terbarunya.

“Gamsahamnida” Yoona akhirnya membuka mulutnya.

Gerakan Lay terhenti. “Untuk apa?”

Yoona melihat Taeyeon dan Lay bergantian. “Ayolah, kalian tahu. Menyelamatkanku?”

“Suamimu sendiri yang menyelamatkanmu” Taeyeon tersenyum kecil.

Lay ikut tersenyum. “Taeyeon mengingatku karena aksi brutal suamimu di Sungai Han adalah sebuah ketidaksengajaan” Lay tertawa kecil.

***

            22:00 KST– Johnson & Johnson Medical Korea– Seoul, Korea Selatan

Oh Sehun, baru saja menginjakkan kakinya di dalam kamar inap Yoona. Keadaannya benar-benar kacau. Hanya mengenakan celana jeans biru dan kaus putih polos dengan rambut yang sudah acak-acakan.

“Hey” Sehun menyapa pelan Taeyeon dan Lay yang masih berada di ruang inap. “Terimakasih telah menjaganya”

“Aku hanya mengerjakan pekerjaanku” Taeyeon menaikkan bahunya. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Dia masih tertidur, jangan membangunkannya. Annyeong” Taeyeon membungkuk lalu melangkahkan kakinya pulang.

“Aku juga akan pulang” Lay akhirnya mengambil keputusan.

Cukup hening beberapa detik sampai akhirnya Sehun mengembangkan senyum kecilnya. “Terimakasih”

“Aku tidak melakukan apa-apa” Lay menepuk pundak Sehun. “Selamat malam”

Sehun hanya tersenyum sambil melihati kepergian Lay dan beranjak duduk di bangku sebelah ranjang inap Yoona. Beberapa menit laki-laki itu habiskan untuk melihati wajah cantik istrinya, dan menyusuri garis wajah istrinya dengan ibu jarinya.

Kembali, Sehun melepaskan karbon dioksidanya yang penuh dengan kebodohan.

Sehun mengecup pelan mata dan hidung istrinya, dan berakhir di bibir pink seorang Im Yoon Ah.

***

            Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa sedikit asing dengan seorang laki-laki yang sedang tertidur di sofa kamar inapnya. “Kau sudah bangun?” Tiba-tiba laki-laki itu bersuara tanpa membuka matanya.

Yoona terdiam membeku, tidak mengerti bagaimana bisa suaminya sudah berada di satu ruangan yang sama dengan dirinya. “Ada apa? Banyak hal yang harus kau jelaskan denganku”

Yoona tidak menjawab, mengunci mulutnya dengan rapat.

“Masalah foto itu,” Sehun menggantungkan kalimatnya dengan mata yang tetap tertutup. “Perempuan itu memasukkan obat perangsang dan obat tidur ke dalam makananku”

Yoona tetap terdiam, detak jantungnya menjadi tiga kali lebih cepat dari sebelumnya.

“Tidak ada yang terjadi” Sehun membuka matanya dan melihat mata Yoona dalam.

“Karena kau memang tidak bisa terpengaruh dengan obat perangsang” Lanjut Yoona, seakan-akan perempuan itu tahu jelas akan sisi seorang Oh Sehun. “Tapi kau tidak bisa melawan obat tidur”

Sehun bangkit lalu melangkahkan kakinya menuju pinggir ranjang Yoona. “Tidak ada yang bisa melawan obat tidur” Sehun mencium kening Yoona beberapa detik, membiarkan posisi mereka berdua seperti ini. Tidak ingin mengubah apapun. “Selamat pagi” Sehun menjauhkan bibirnya dari kening Yoona dan duduk di pinggir ranjang inap istrinya.

“Ini belum…60 jam” Gumam Yoona pelan, terlalu pelan dan lemah.

“Taeyeon memberitahuku” Jawab Sehun seakan-akan ucapan Yoona barusan adalah sebuah pertanyaan bagi dirinya. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Apa?”

“Kau berhutang penjelasan padaku”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan”

“Jangan berlagak bodoh”

“Aku tidak berlagak bodoh”

“Kau berlagak bodoh” Yoona menelan ludahnya dengan susah payah. Sehun kembali menghembuskan nafasnya dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya. “Ada sesuatu yang tidak benar,” Sehun menggantungkan kalimatnya. “Dan aku tidak ingin bertengkar denganmu”

“Aku tahu jika aku juga menyakitimu” Lanjut Sehun, dan pikiran Yoona langsung melayang kepada foto kau-tahu-sendiri. “Tapi ingat, jika kau ingin menangis, aku di sini untuk menyeka matamu”

Sehun kembali mendekatkan kepalanya, menempelkan keningnya dengan kening Yoona, menyentuhkan ujung hidungnya dengan hidung Yoona dan menutup matanya. “Tentang rahimmu yang melemah, selama kau bernafas kita akan baik-baik saja” Cairan air mata itu meluncur bebas dari mata Yoona. “Aku ada untuk menjagamu. Sungguh”

Tangis Yoona pecah saat itu juga dan langsung memeluk suaminya, Sehun. Sehun hanya terdiam, merasakan air mata Yoona membasahi kaus putihnya.

***

            “Rahimnya melemah akibat keguguran yang ia alami sebelumnya. Ini bukan seperti kanker rahim, tapi hanya pelemahan terhadap rahimnya. Tidak masalah untuk Yoona jika ia hamil. Masalah timbul saat waktu untuk dirinya melahirkan. Hanya ada kemungkinan delapan persen keduanya selamat. Dan sembilan puluh dua persen lainnya tergantung padamu, penyelamatan nyawa ibunya atau anaknya”

***

            “Selamat datang” Sehun membuka penutup mata Yoona, memperlihatkan rumah bergaya Eropa itu. “Aku kabulkan permintaanmu untuk pindah” Sehun memutar bola matanya.

“Kita pindah?!” Yoona berteriak nyaring tepat di telinga Sehun.

“Ya, ya, ya” Kembali Sehun memutar bola matanya

“Tunggu,” Yoona menggantungkan ucapannya. “Apa yang membuatmu tidak ingin pindah sebelumnya? Kau tidak pernah memberitahuku”

“Ah, itu” Kini giliran Sehun yang menggantungkan ucapannya. “Aku tidak ingin jika kau marah padaku kau akan tidur di kamar lain. Apartemen kita hanya memiliki satu kamar dan kau juga benci tidur di sofa. Memaksamu untuk tetap tidur bersamaku”

Yoona terdiam, mengolah otaknya atas alasan Sehun yang tidak rasional. “Kau tidak romantis” Tiba-tiba Yoona memeluknya dengan erat, terlalu erat. “Tapi, aku mencintaimu” Yoona tertawa.

“Kau akan lebih mencintaiku jika kau melihat yang satu ini” Sehun tersenyum simpul dan membalikkan badan ramping Yoona.

Yoona terdiam.

“Cristina Fernandez Lee” Beritahu Sehun. “Cristina Fernandez Oh, maksudku”

Yoona tidak bergerak. Seorang anak kecil perempuan berdiri beberapa kaki dari dirinya, menggunakan gaun berwarna ungu muda dan tersenyum kepada dirinya. “Eomma” Cristina, melambaikan tangannya penuh dengan senyum dan berhasil membuat mata Yoona sekali lagi berkaca-kaca.

END

Advertisements

28 thoughts on “[FF-Oneshoot] Wipe Your Eyes (Sequel of 7 Years of Love)

  1. Oke, nggak dapet anak sendiri ngadopsi anak orang ya thor? Pilihan yang bagus!
    Tapi nggak ngerti apa hubungannya sama Sooyoung.-.
    Waits, Christina salah satu ulzzang baby favorit aku! XD
    Bagus thor! Lanjut bikin FF lain ya thor! Fighting!’-‘)9

    Like

  2. Tetap aja ada yang membuat sedih di setiap ff-mu, thor
    sayang ya, yoonhun gag bisa punya anak sendiri..
    tapi gapapa karena ada Cristina 🙂
    ff-mu keren banget thor 🙂
    aku kasih 4 jempol#pinjem jempolnya Sehun
    ditunggu karya2 daebak-mu yg lain 😀
    Fighting!!! (^_^)9

    Like

      1. Dua sequel lagi??
        Kyaaa!! gag sabar nunggunya ><
        Oh ya thor, kalo bisa Taeyeon sama Lay dipasangin aja..aku kasian liat mereka single..hehe ^^V

        Like

  3. wwwwwwahhhh Keren Thor ….
    Yoong Unnie sma Sehun Oppa ngadopsi anak yha … 🙂
    Ditnggu yha sequelnya and jngan Lma” …!!! 🙂

    Like

  4. Wah keren bgt thor….
    Untuk sequelnya jgn ada soo lagi ya thor….?? Bikin yoonhun jd keluarga bahagia….jgn ada sedih lagi…..!

    Ditunggu sequelnya…
    Fightiing

    Like

  5. aku suka bgtt ma karya2 mu,, sungguh^^
    pggunaan katakatanya krenn bgtt,,
    pgen bisa mnulis sptrimu..:))

    eum,, thor. buat mrka pnya anak kandung ya, tp tetap tidak mrubah rasa syangg mrka dgn anak angkatnya..:D

    Like

  6. YoonHun Ngadopsi anak Ya Thor…?? Semoga Aj.. Sequel selanjutnya YoonA bisa Hamil.. N ap sh hbungan Sehun-Sooyoung di msa lalu.. Semoga bs keungkap jg… Pokoknya d tunggu sequelnya.. Semangat Ya?? Author-Nim…

    Like

  7. Kyaaaaa..
    Rahim yoona lemah?? gak bakal bisa ngandung dong..
    wahhh.. harusnya nyewa rahin aja thor…
    kan uda ada tu sekarang teknologinya
    hahahaha
    tp udah keganti sama Cristina Lee, Cristina Oh deh…
    hehehehe
    semoga hidup mereka bahagia
    suka karakter sehun disini..
    Cool bangetttt

    Like

  8. Banyak kata yang ingin kukatakan, tp lidah ini rasanya terlalu kelu 😀 *cieeeh. Good, great, romantic! Yeah. Tapi percaya atau ga ya author, tiap aku baca ffmu, tanganku itu rasanya gemeter kalo mbaca kata” di ffmu yg singkat tp dalem bgt maknanya 🙂

    Like

  9. Coment di ff ini sih, aku cuma pengen nonjok Sooyoung aja *digamparJKH-.- Terus, aku suka sama karakter Sehun di sini, tipe cowo idaman aku 😀 Dan, setiap scenenya YoonHun itu rasanya hatiku dag dig dug jeduarr! *lebay. Btw, Yuri lenyap tanpa kabar ni? :v Hwaiting 😉

    Like

  10. jadi mereka ngangkat anak? yeay!
    ternyata taeyeon disini baik juga, oya ada pas bagian taeyeon yg kayak gini : “Taeyeon menghembuskan nafasnya dan mengambil keputusan untuk datang ke apartemen yang ia kira sebelumnya ia-bisa-tinggal-di-sana.” itu taeyeon pernah suka juga sama sehun apa gimana?
    terus terus yoonhun nya juga sweet banget, aaaaa

    Like

  11. D-d-daebbak!!!!! Itu christina kata x ulzzang ya?? Jujur aq gtw XD /plakk\ cocokkan jeong won hee author.. Karena muka x mirip ama yoona eonnie!!

    Like

  12. mereka ngadopsi anak ya.. bagus juga ide sehun..
    aku takut nanti ada masalah diantara mereka karna rahim yoona lemah..
    tapi jgn sampe deh..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s