[FF-Twoshoots] Sweet Nothings (Ch. 2/2)

Author: Clora Darlene.

Genre: Romance.

Length: Twoshoots.

Rating: PG-15.

Maincast: EXO-K’s Oh Sehun, GG’s Im Yoon Ah.

Disclaimer: FF ini adaptasian dari FF Anime Fairy Tail karya Clora Darlene (saya) & Flavia Dragneel dengan judul yang sama (Sweet Nothings, http://www.fanfiction.net/s/8980762/1/Sweet-Nothings). FF ini memiliki alur utama yang sama, tapi dengan alur penjelas yang berbeda. Don’t dare to copy-paste this FF w/o our permission.

Author Note: Hoho, I’m back with the final of twoshoots. Mian banget kalau alurnya keceptan ): Happy reading, readers! :B

Artworker (Poster): Nathaniathena (Thanks for the sweet poster chingu, smooch :B)

***

Yoona mengerutkan keningnya. “Bukankah hari ini adalah hari pernikahan kita?”

Tawa Sehun meledak seketika. Mukanya memerah, air matanya keluar dan tangannya memegangi perutnya. “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA yang benar saja, kau percaya dengan lelucon itu?”

Yoona membeku. Tidak, ia tidak mengerti. “Apa…ma..k..sudmu?”

Sehun mengelap air matanya, mencoba menahan tawanya untuk tidak meledak. “Ayolah, aku tidak akan menikahimu dengan sungguh-sungguh. Tidak ada hubungan apapun di antara kita sebelum kau amnesia. Dan aku bersyukur cincin tunangan bohongan itu cukup di jarimu” Tawa Sehun kembali meledak.

“Sehun-ah” Sehun menghentikan tawanya dan melihat seorang perempuan yang berdiri di belakang Yoona sekitar dua meter dari si iris madu. “Ada surat dariCalifornia’s Breakdance” Perempuan itu melempar benda berbentuk silinder itu dan Sehun menangkapnya dengan satu tangannya.

Setelah memastikan perempuan tadi–  Bianca Lin, seorang staff SMTown– pergi, Sehun hanya menggenggam surat silinder itu dan menatap Yoona.

Iris madu itu, tergenang.

“Ada yang perlu kujelaskan lagi?” Sehun menatap Yoona santai. Beberapa detik mereka lewati dengan keheningan– dengan Sehun yang hanya menatap Yoona, dan Yoona yang juga menatap Sehun. “Inti dari percakapan kali ini adalah kita tidak punya hubungan apapun. Sebelumnya, sekarang ataupun setelahnya nanti. Aku harus latihan. See you next time

Sehun kembali masuk ke dalam ruang latihannya, sedangkan Yoona masih terdiam tidak percaya. Kakinya mulai terasa nyeri untuk menompang tubuh mungilnya. Paru-parunya seperti sudah tidak bisa diajak kerja sama untuk bernafas. Jantungnya seperti sudah enggan berdetak lagi. Nadi-nadinya seperti sudah tidak ingin mengaliri berlitter-litter darahnya lagi.

Organnya terasa mati.

Atau mungkin telah mati.

Karena fakta yang kembali menghantam tubuh mungil itu.

Iris madu itu.

Yoona membalikkan badannya, masuk ke dalam elevator dan turun di lobi gedung. Beberapa staff melihat Yoona aneh, kening mereka mengerut dan bertanya-tanya‘ada apa dengan perempuan tercantik di perserikatan ini?’

Yoona yang hanya mengenakan jeans merah, high heels silver rendah dan tank-top silver dengan hiasan manik-manik merah metalik itu enggan mengambil mantelnya. Ia melangkahkan kakinya keluar, bersatu dengan udara dingin dan membiarkan butiran-butiran salju itu menabraknya.

Air matanya tidak bisa keluar, seakan-akan telah membeku akibat udara dingin. Wajahnya mulai memutih dan badannya semakin bergetar hebat. Beberapa pejalan kaki melihatinya dengan pikiran ‘dia cukup hebat berjalan di udara dingin seperti ini tanpa baju hangat’.

Jalan yang sering ia lewati bersama Sehun.

Seakan-akan ada bayangan mereka tertawa, Sehun merangkul pinggangnya, tersenyum kepadanya, masih jelas sekali di ingatannya.

Dan tepat di depan rumahnya dulu.

Yoona menghentikan langkahnya. Pandangannya melihat rumahnya lalu menatap kosong jalanan. Kurang dari delapan puluh jam lalu, laki-laki itu masih memeluknya di sini. Masih menenangkannya. Masih mengelus rambutnya.

Pelukan hangat laki-laki itu, masih Yoona ingat. Masih kental di badan dan otaknya.

Kembali perempuan itu melangkahkan kakinya dengan tatapan kosong. Ia bersyukur dapat sampai di flat-nya.

Salah, ia tidak bersyukur. Tidak.

Seharusnya udara dingin itu melemahkan jantungnya dan membuatnya tidak bernyawa. Ya, seharusnya. Pikir Yoona.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAHH!!!!!!!” Yoona berteriak keras– frustasi– di atas ranjang kremnya. Air matanya meledak seketika, matanya sudah tidak bisa menampung volume besar air matanya. Yoona memukul keras ranjangnya dan menjambak rambutnya dengan keras. Menyebabkan beberapa helai rambut sehalus sutra itu rontok.

Yoona tertidur lemah di atas ranjangnya, kedua tangannya berada di depan dadanya. Seakan-akan memberitahu letak kesakitan paling sakit yang ia rasakan. Wajahnya telah basah dengan air matanya yang terus mengalir. Iris madunya terus bergetar dan basah.

“Jangan katakan pada siapapun tentang pernikahan ini. Aku ingin mengejutkan semuanya

Kalimat itu terngiang jelas di otak Yoona. Kalimat yang pernah diucapkan si iris pure hazel itu.

Alasan kenapa laki-laki itu mengatakannya, tentu saja agar Yoona tidak ‘membicarakan’ pernikahannya dengan yang orang lain. Menyuruh Yoona untuk tidakmembeberkan kebohongannya.

Kepala Yoona semaki sakit, mengingat semua alasan dan segala hal tentang Sehun.

Tunggu.

Nama itu, kembali lewat di otak Yoona. Di pikiran Yoona. Di ingatan Yoona.

Membuat kepala perempuan itu semakin sakit– benar-benar dan terlalu sakit– menyebabkan setetes darah itu keluar dari hidungnya. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan iris madunya, hanya dapat menutup matanya dan sesekali berteriak keras. Teriakan kesakitan. Remasan di kepalanya semakin keras, berbanding lurus dengan sakit yang terus-menerus bertambah di kepalanya.

Yoona mencoba meraih ponselnya, menghubungi seseorang yang paling tepat untuk menanganinya saat ini.

***

            Semua orang akan shock jika melihat seorang Im Yoon Ah dalam keadaan saat ini. Termasuk Park Jira– seorang dokter muda yang telah lama menangani seluruh anggota SMTown.

Jira berhasil menemukan Yoona di ranjangnya, dengan keadaan yang bahkan Jira sendiri tidak akan memprediksikannya.

Perempuan beriris madu itu pingsan dengan mata yang tertutup sayu, wajah yang lembab dan darah yang mengalir keluar dari hidung. Menyebabkan sprei kremnya ternodai warna merah.

Hal terakhir yang Jira syukuri adalah Yoona berhasil tertidur– sudah tidak pingsan.

Sesekali Jira memeriksa keadaan Yoona. Perempuan itu masih tertidur, dan kembali ke ruang tengah untuk menyantaikan dirinya dengan menonton TV.

“Jira-ya?”

Jira langsung berbalik, matanya membulat. Iris madu itu telah berdiri tidak jauh dari dirinya dengan tatapan aneh. “Ada apa kau ke sini?”

“Tunggu. Kau telah sadar?” Jira segera menghampiri Yoona dan melayangkan tangannya di depan mata Yoona. “Kau tidak merasa pusing? Mual? Atau sebagainya?”

Kening Yoona semakin mengerut. “Tidak. Memang ada apa?”

“Kau lupa dengan kejadian sebelumnya?”

***

            Yoona mengerutkan keningnya, setelah mendengar penjelasan pendek dari Jira. Sesekali kedua orang itu menyesap cokelat panas mereka, duduk santai dengan menyilangkan kedua kaki mereka di sofa ruang tengah flat Yoona.

“Kau kehilangan ingatanmu. Hanya karena terpeleset botol whiskey milik Tiffany–well, botol itu tidak sengaja jatuh dan kau menginjaknya” Kini, giliran Jira yang menyesap cokelat panasnya.

“Benarkah? Aku sebodoh itu untuk terpeleset botol whiskey Tiffany dan hilang ingatan?”

“Hm, kau bisa mengatakannya seperti itu” Jira mengangguk pelan. “Jadi, sekarang kau benar-benar tidak mengingat sedikitpun saat kau–”

“Tidak. Aku tidak mengingat apapun dan berhentilah membicarakan hal ini. Aku sudah mulai jijik mendengarnya”

Jira memutar bola matanya dan ini dia. Im Yoon Ah telah kembali, Im Yoon Ah yangasli.

“Tunggu. Bagaimana diriku saat aku lupa ingatan?”

“Bukankah kau merasa jijik dengan perbincangan itu?” Jira terlihat kesal.

“Ayolah, hanya satu pertanyaan ini”

“Hm, well. Kau terlihat…sangat berbeda. Kau terlihat senang, ceria, bahagia, ramah, cerewet–”

Yoona mengangkat tangannya, seakan-akan memberi tanda untuk Jira menghentikan jawabannya. “Okay, kau benar. Aku jijik dengan perbincangan ini” Yoona bangkit lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

Asli. Seorang Im Yoon Ah yang angkuh. Ya, dia benar-benar telah kembali.

***

            Setelah dokter muda itu pulang, Yoona mulai bingung harus melakukan apa. Ia merasa bosan. Dan dia berakhir di depan lemarinya. Ia menyilangkan kakinya lalu meraih kotak tosca yang ada di dalam lemarinya.

Sebuah kotak tosca yang bertugas untuk menyimpan segala benda yang sangat penting untuk diri perempuan ini. Well, ‘sangat penting’ dalam arti yang akan selalu terkenang.

Tangan perempuan itu berhenti bergerak saat iris madunya menangkap sebuah benda asing yang berada di dalam kotak tersebut. Sesaat keningnya mengerut dan memiringkan keningnya lalu alis kirinya terangkat.

VCD ‘The Vow’ tiba-tiba ada di sana dan ia sama sekali tidak ingat bahwa ia pernah memasukkan benda ini ke dalam kotaknya.

Haruskah ia menonton film ini? Untuk mengetahui kenapa ia bisa memasukkan benda ini ke dalam kotak tosca-nya? Untuk mengetahui seberapa penting arti dari benda itu? Tanya Yoona pada dirinya sendiri.

Tidak. Ia bukan pencinta film roman seperti ini. Ini terlalu menjijikkan.

Yoona kembali memasukkan VCD itu lalu menutup pintu lemarinya.

***

            Matahari memang kembali terbit, tapi cahayanya tidak cukup kuat untuk menembus awan bersalju. Dan itu adalah penyebab kemalasan Yoona untuk bangun dari ranjangnya. Hingga perutnya berbunyi dan mengharuskannya untuk memakan sarapannya.

Dan di sini Yoona berakhir, ruang makannya. Ia hanya menemukan beberapa lapis roti tawar serta selai strawberry dan blueberry. Kening Yoona mengerut setelah melihat selai berwarna ungu kebiruan itu.

Apa saat ia amnesia ia menjadi pecinta blueberry? Apa amnesianya membuatnya mengubah selera rasanya? Ia memang menyukai strawberry, tapi rasa suka itu tidak berlaku pada si blueberry.

Yoona mengambil selapis roti tawarnya lalu mengolesinya dengan selai strawberrylalu mulai mencicipi kenikmatan lumuran strawberry di mulutnya. Iris madu itu melirik kursi di hadapannya. Well, kursi itu memang kosong dan…Yoona juga merasakan kekosongan itu.

Ia melambatkan makannya, kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai. Ada yang aneh.

Kosong. Pikir Yoona. Ini sudah bukan pasti perutnya yang kosong, sudah bukan. Ini…perasannya. Yoona menatap kosong kursi di hadapannya. Mulai terbentuk bayangan aneh di matanya, tapi sekejap menghilang. Susah untuk Yoona mengingat ‘sesuatu’ itu.

***

            Hari berikutnya juga sama. Begitu dengan berikut, berikut, dan seterusnya.

Yoona mulai membuat kesimpulan bahwa yang ia butuhkan saat sarapan hanyalah selapis roti tawar dan selai strawberry. Tapi ia bingung untuk menyentuh botol selaiblueberry yang masih ada di dalam lemari makanannya. Fokus perempuan itu terpecah saat bel berbunyi. Yoona segera melangkahkan kakinya dan membuka pintu flat-nya.

Tim dance terkuat SMTown, kini berdiri di hadapannya dengan mantel-mantel tebal mereka. “Bolehkah kita masuk? Sungguh, di sini sangat dingin” Kim Jongin adalah orang pertama yang membuka suaranya.

“Oh, ya. Silakan” Yoona mempersilakan keempat orang itu masuk, memenuhi ruang tengahnya.

“Aku sungguh mencintaimu, Yoona-ya. Di luar sana sangat dingin dan terus bertambah dingin” Hyoyeon memutar bola matanya lalu duduk di sofa Yoona.

“Kalian habis jalan-jalan?” Tanya Yoona.

“Penginapan kami ada di sekitar flat-mu” Jawab Luhan.

Yoona mengerutkan keningnya. “Penginapan?”

California’s Breakdance saat ini menerapkan sistem baru. Kami harus menginap di wisma mereka sebelum kami pergi ke California. Kau tahu, semacam sistem gila” Jawab Luhan. “Dan aneh”

“Kudengar ingatanmu telah kembali. Benarkah?” Tanya Hyoyeon.

“Ya. Tiba-tiba kembali begitu saja”

***

            Iris pure hazel itu adalah orang pertama yang membeku.

“Bagaimana ingatanmu bisa kembali?”

“Aku tidak tahu. Kata Jira, kemungkinan besar saat itu aku sedang berpikir terlalu keras dan pikiran itu menekan otakku juga terlalu keras. Sangat keras, kata Jira”

“Kapan ingatanmu kembali?”

“Lima hari lalu”

Hari dimana tepat saat iris pure hazel itu membuka seluruh kebohongannya kepada perempuan itu. Pikir seorang Oh Sehun.

***

            “Kau punya sesuatu untuk dijadikan sarapan, Yoona-ssi?” Luhan sedari tadi memutari dapur Yoona terus-menerus, mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya pagi ini.

“Aku hanya punya roti tawar dan selai. Mungkin saat aku amnesia, aku tidak sempat pergi ke minimarket” Yoona mengangkat pundaknya.

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah. Itu dia, hal yang paling dibutuhkan Sehun saat ini. Selapis roti tawar dan selai blueberry. Wisma sialan itu hanya memberikan makanan kucing sebagai sarapannya– setidaknya itu adalah kalimat mengejek yang sering Sehun ucapkan saat waktu sarapan tiba di wisma.

“Boleh aku memakan rotimu?” Tanya Sehun, membuka mulutnya untuk pertama kali.

“Silakan” Jawab Yoona ringan dengan tatapan…yang tidak bisa Sehun jelaskan, bahkan pada dirinya sendiri tidak.

Sehun segera melangkahkan kakinya cepat. Mengambil selapis roti tawar dan melumurinya dengan selai blueberry. Laki-laki itu mendudukkan dirinya di kursi meja makan Yoona lalu mulai menyantap rotinya.

Tepat saat Yoona datang, langkah perempuan itu terhenti. Melihat Sehun– yang tidak melihatnya– memakan roti sarapannya di kursi yang tadi ia lihati saat sarapan.

Figur itu tepat.

Jantung Yoona berpacu sedikit lebih cepat.

Roti tawar itu, selai blueberry, cahaya musim dingin, salju putih dan…Oh Sehun. Terasa tepat untuk…sarapannya.

Tidak. Yoona sadarlah. Yoona menyadarkan dirinya sendiri, menghilangkan pikiran anehnya dari otaknya lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.

***

Jira yang mengenakan White Black Ruffle Peplum Dress menghela nafasnya lalu segera melangkahkan kaki jenjangnya itu menuju ruang latihan Yoona.

Im Yoon Ah, seorang perempuan yang kini mengenakan tank top abu setengah badan dan blus hitam transparan– well, dengan tidak sengaja memamerkan abs sempurnanya– dan hotpants putih, masih terlihat melatih gerakan dance-nya.

Jira berdehem sengaja, ingin mengalihkan fokus Yoona. Dan, berhasil. Perempuan beriris madu itu mengalihkan pandanganya. Iris madu itu kini melihat Jira yang mengenakan baju-layak-nya-dokter. “Ada apa?”

“Kau masih hafal gerakan tarimu?” Tanya Jira yang tidak memedulikan pertanyaan Yoona sebelumnya.

“Haruskah aku lupa?”

“Aku menganggap pertanyaanmu itu sebagai tanda kau masih mengingatnya” Jira melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di atas sebuah meja kayu. “Seohyun memanggilmu di bawah”

“Ada apa?” Pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulut Yoona.

“Seohyun mengajakmu untuk mengantar Sehun ke bandara. Maksudku, Sehun, Luhan, Kai dan Hyoyeon, tentu saja”

Yoona terdiam sejenak. “California’s Breakdance?”

“Pertandingan itu diadakan setiap tahun. Dan kurasa aku mulai bosan mendengar tim Sehun yang terus memenangkannya” Jira memutar bola matanya. “Aku akan turun. Kutunggu kau di bawah”

Yoona masih tetap terdiam selagi dokter muda itu menghilang. Ia terpaksamematikan musiknya lalu masuk ke dalam elevator dan turun di lobi. Lobi terlihat lumayan penuh.

Kenapa harus mendoakan tim yang sudah jelas akan memenangkan perlombaan itu? Yoona memutarkan kedua iris madunya. Ayolah, bahkan mereka telah memenangkan perlombaan breakdance itu tiga kali berturut-turut.

Sudah bukan hal asing lagi jika seorang Im Yoon Ah kebal terhadap dinginnya musim dingin. Ia hanya menggunakan hotpants dan blus hitam transparan serta tank topabu setengah badan dan itu semua tidak membuatnya kedinginan.

“Eonnie, kau akan ikut aku mengantar mereka ke bandara, bukan?” Seohyun mendatangi Yoona yang baru saja bergabung dengan kerumunan.

“Aku?”

“Kau tidak ikut mengantar mereka tahun lalu”

“Haruskah?”

“Ayolah, eonnie. Temani aku” Seohyun tersenyum lebar.

***

            Yoona semakin bingung dengan keadaannya. Setelah mengantar keempatdancer terbaik itu, detak jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal. Ini bukan karena Jongin, Luhan ataupun…tidak ini bukan Hyoyeon pastinya.

Jelas sekali. Oh Sehun.

Semenjak sarapan kemarin pagi dan…ia bahkan tidak bisa menatap iris pure hazel itu dengan normal! Ayolah, ada apa dengan dirinya?!

Yoona membuka pintu lemarinya, meraih kotak tosca-nya dan mengambil satu-satunya VCD yang ada di dalam sana.

The Vow.

***

            “Congrats, dudes!” Kris Wu adalah orang pertama yang ber-high-fivebersama keempat dancer juara bertahan California’s Breakdance: Dance Break the Rules itu.

“Harus ada pesta, kau tahu” Sehun meledakkan tawanya.

“Tenang saja. Seperti biasa aku sudah mengaturnya. Club Answer” Jawab Kris.

“Sepertinya kita kedatangan tamu” Chanyeol memecahkan keributan itu dengan suara beratnya. “Kekasih baru?” Pandangan Chanyeol menggoda Sehun. Ah, tidak. Dia bukan gay.

Sehun menarik tangan seorang perempuan berambut platinum blonde lurus bakspaghetti dengan iris Eden itu. Seorang perempuan berdarah Amerika-Korea.

“Ini Jill Chloe. JC, ini perserikatanku” Sehun memperkenalkan perempuan itu dengan senyum merekah.

“Hai, aku Jill Chloe. Senang bertemu kalian semua” Perempuan itu tersenyum manis lalu membungkuk, memberi hormat dengan cara Korea.

“Dia akan belajar dance di sini untuk beberapa waktu ke depan” Beritahu Sehun.

***

            “…I might drink a little more than I should tonight and I might take you home with me, if I could tonight. And, baby, Ima make you feel so good, tonight. Cause we might not get tomorrow…

Im Yoon Ah, sedari tadi tidak menghentikkan kaki dan badannya untuk bergerak. Butiran-butiran keringat telah membasahi tubuh dan bajunya. Seakan-akan ia baru saja selesai mandi.

“Ini ruang latihan kami” Fokus Yoona terpecah saat ia mendengar suara laki-laki– yang ia kenal. Yoona tidak mengalihkan pandangannya, hanya menatap bayangan sosok laki-laki itu di kaca.

“Kalian mempunyai ruang latihan yang luas” Terdengar suara tawa kecil perempuan.

“Ini– Yoona?” Laki-laki itu memanggil Yoona.

Yoona membalikkan badannya, menatap si laki-laki dan si perempuan pirang. “Kau sudah kembali? Oh, ya. Selamat atas kemenanganmu untuk ke empat kalinya”

Sehun menatap iris madu itu. “Ah, gamsahamnida”

“Aku tidak melakukan apa-apa” Yoona menaikkan kedua badannya.

“Ini Jill Chloe. Dia akan belajar dance di sini untuk beberapa waktu ke depan” Lagi, Sehun memperkenalkan si perempuan pirang itu.

Yoona hanya tersenyum kecil. “Selamat datang”

“Gamsahamnida. Kau, Im Yoon Ah?”

“Ne. Kau telah mengenalku?” Yoona terkekeh pelan– sebenarnya hambar.

“Kau adalah orang yang dilarang untuk mengikuti California’s Breakdance” Jawab Jill dengan senyum yang masih berkembang.

Ah, Yoona mengingatnya. Alasan yang dikeluarkan langsung dari pihak California’s Breakdance untuk dirinya. Melarang dirinya untuk mengikuti lomba itu karena dirinya telah masuk ke dalam daftar penari terbaik California– walaupun ia sendiri adalah orang Korea.

“Sebuah kehormatan untuk bertemu penari terbaik California” Jill tersenyum lebar.

“Kau terlalu formal bersamaku dan kau membuatku tersanjung akan diriku sendiri” Tawa Yoona meledak. “Senang bertemu denganmu juga”

“Jill Chloe Im” Perempuan berambut pirang itu menyodorkan tangannya.

Yoona terdiam sejenak, tangannya menjadi kaku tanpa alasan. “Im Yoon Ah” Yoona tersenyum menyambut tangan si pirang.

***

            “Awalnya aku berniat belajar Tango” Jill memulai pembicaraan bersama Sehun dan Yoona. “Kau bisa?” Jill menjatuhkan pandangan iris Eden-nya pada Sehun.

“Jika ada partner

Jill mengetuk-ngetukkan jarinya pada lantai ruang latihan. “Yoona-ssi! Kau bisa melakukannya dengan Yoona eonnie” Jill melihat Sehun dengan tatapan penuh harapnya.

Oh, ini membuat perut mulas. Pikir Yoona.

Tango is not a dance. Tango puts two bodies in one soul” Jill kembali membuka mulutnya. “Ayolah” Jill tersenyum lebar menatap Sehun.

Jadi perempuan ini menyuruhnya untuk menjadikan satu jiwanya dengan jiwa Sehun? Terdengar tolol. Pikir Yoona lagi.

“Baiklah” Sehun menghela nafasnya, bangkit lalu menyodorkan tangan porselennya pada Yoona. Mengisyaratkan perempuan itu untuk menari Tango bersamanya.

***

            Iris pure hazel itu seakan-akan menatap tegas iris madu yang berada di hadapannya kurang dari dua senti itu. Saling menempelkan pipinya dengan pipi perempuan itu, memberikan kesan seperti mereka berdua berciuman lips-to-lips. Badan perempuan yang menempel di badannya seakan-akan melekat erat dan membuat darahnya berdesir panas.

Detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat saat hembusan nafas perempuan itu menerpa leher jenjangnya. Bibir tipis pink itu tertutup rapat seakan-akan juga membalas ketegasan tatapan iris pure hazel.

Tangan porselen itu merangkul pinggang kecil perempuan yang berada di dekapannya saat ini, lalu memutar badan perempuan itu mengikuti ritme lagu.

Hal yang baru di sadari iris pure hazel itu adalah di dalam skenario kebohongan besarnya sebelumnya, ia telah jatuh cinta pada seorang Im Yoon Ah dalam nyata.

***

            Yoona balik menatap tegas tatapan Sehun. Kedua iris itu beradu tatapan. Wajah Sehun yang terlihat tenang dan santai membuat jantung Yoona berdetak kencang. Ia bahkan takut jika Sehun juga dapat merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat.

Badannya terputar di dalam dekapan Sehun, membuat dirinya menatap kaca. Ia terdiam sejenak melihat tangannya yang berada di pundak Sehun.

Sebuah cincin yang terbentuk dari dua cincin melingkar sempurna di jari manisnya. Dan ia tidak pernah menyadarinya selama ini.

***

            “Jangan lupa, Club Answer jam delapan nanti. Pesta untuk merayakan kemenangan Tim Luhan” Beritahu Kris.

“Baiklah” Yoona meraih mantelnya, mengenakannya lalu segera pergi tanpa basa-basi. Ia ingin kembali ke flat-nya yang nyaman dengan cepat. Secepat otaknya tidak mengerti ‘ada apa dengamu saat bersama Sehun?’. Pertanyaan itu saja yang terus dilontarkan Yoona pada dirinya.

Roti selai strawberry, VCD The Vow, cincin. Semuanya benar-benar terasa lengkap jika Sehun ada dan Yoona tidak bisa mengelak kesimpulannya saat ini.

Langkahnya terhenti di depan rumah lamanya. Rumah orang tuanya saat ini. Kembali, ia menatapi jalanan beraspal. Terasa familiar untuknya. Ia kembali merasakan hangatnya dekapan…Sehun. Perempuan itu menggigit bibir pink-nya tidak mengerti.

***

            Club Answer Seoul– 8:01 PM KST.

Yoona memasuki kerumunan dengan mengenakan Grey Sleeveless High Low Hem Dresswedges hitam yang dipadu-padakan dengan topi fedora hitam. Ia tidak inginclubbing dengan dress sesak yang meribetkan dirinya sendiri.

Seisi klub itu seakan-akan melupakan musim dingin yang sedang melanda mereka. Terhangatkan dengan bir-bir yang menyenangkan tenggorokan.

Iris madu Yoona menangkap Jill Chloe Im– yang ternyata mempunyai marga yang sama dengannya– mengenakan White Black Cutout Midsection Dress. Jill seakan-akan memamerkan keseksian akan tubuhnya malam ini. Memamerkan perut mulusnya yang rata dan dadanya yang sempurna.

Sesekali Yoona menghembuskan nafasnya, mencium bau aroma minuman keras yang sudah biasa untuk dirinya– dan juga biasa untuk anggota SMTown yang lain, sebenarnya. Hampir seluruh anggota SMTown meminum minuman keras. Well, kecuali Seohyun dan beberapa orang lainnya yang memiliki komplikasi kesehatan.

Kembali iris madunya menangkap Jill dan Sehun sedang… apa yang kaulakukan di klub selain clubbing? Hanya clubbing. Sorot lambu klub terus-menerus menyorot kedua orang itu. Entahlah, tapi ada rasa kesal di hati Yoona. Tidak, ini bukan hanya sekedar kesal. Cemburu, mungkin.

Yoona mencoba mencari teman-temannya yang lain dan berhasil menemukan sesosok staff– Bianca Lin. “Ada yang harus kutanyakan padamu”

Kening Bianca mengerut dan alisnya terangkat. “Apa? Kau terkesan tiba-tiba”

“Apa yang terjadi padaku saat aku amnesia?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana tingkah lakuku saat aku amnesia?” Yoona memutar bola matanya, kesal karena ia harus mengulang pertanyaan.

“Kau sangat berbeda” Bianca menaikkan kedua pundaknya.

“Jelaskan padaku”

“Kau terlihat lebih ramah, cerewet. Well, seperti perempuan kebanyakan”

“Kau mengatakan aku bukan perempuan sekarang?” Nada Yoona terlihat lebih kesal.

“Kau yang bertanya sendiri padaku” Lagi, Bianca menaikkan kedua pundaknya.

Yoona menghembuskan nafasnya kasar. “Baiklah. Lanjutkan”

“Terakhir aku bertemu denganmu– sebelum ingatanmu kembali maksudku– kau sedang bersama Sehun. Aku tidak tahu, tapi menurut pandanganku kalian sangat dekat. Aku bahkan mendengar rumor kalian memiliki suatu hubungan–”

“Informasimu terlalu banyak. Terimakasih” Yoona segera menghilang dari pandangan Bianca Lin, tidak ingin mendengar penjelasan menjijikkan yang keluar dari mulut staff perempuan itu.

Kesimpulannya iris madu itu saat ini adalah, ada sesuatu di antara dirinya dan Sehun.

Yoona duduk di sebuah kursi bar, mengetuk-ngetukkan jarinya pelan. Pandangannya kosong tapi otaknya terus bekerja, mengolah setiap hal untuk dijadikan sebuah penjelasan rasional. Yoona mengelus cincin yang melingkar sempurna di jarinya. Setelah sadar bahwa ia menggunakan cincin itu selama ini, tidak ada secuil niatan untuk melepaskannya. Dan terkadang saat ia melepaskan cincin itu, ia menyadari cincin itu membentuk angka delapan atau lambang ‘ketidakhinggaan’.

Sesuatu yang tidak terhingga.

Jantungnya berdegup kencang setelah menyadari Oh Sehun duduk di sebelah, meneguk segelas whiskey. “Mencoba mengingat sesuatu yang kau lupakan?” Tanya Sehun tiba-tiba.

“Mungkin”

“Jira memberitahuku ingatanmu kembali dengan cara yang tidak bisa diterima otak” Gumam Sehun.

“Mungkin kau bisa mengatakannya seperti itu” Tanggap Yoona tanpa melirik Sehun dan tetap terfokus pada cincinnya.

“Apa yang kaupikirkan saat itu?”

“Entahlah” Yoona mengalihkan pandangannya, menatap dalam iris pure hazel milik Sehun. “Mungkin sesuatu yang kuat dan…menyakitkan. Aku lupa”

Jantungnya Yoona terus berdegup dengan cepat. Ia kembali takut bahwa Sehun dapat mendengarnya– well, walaupun itu konyol itu karena keadaan klub ini benar-benar ribut.

“Ak–”

“Sehun-ah!” Jill Chloe Im, berhasil memotong ucapan Sehun dan melingkarkan tangannya di leher Sehun dari belakang. “Kau tidak ingin meminum whiskey lebih banyak, hm?”

“Kau mabuk, JC” Bantah Sehun.

“Ayolah, hanya beberapa botol terakhir” Pandangan Jill menjadi sayu, mungkin dia memang benar mabuk. “Baiklah, beberapa botol lagi” Jill duduk di sebelah Sehun– dengan posisi Sehun di tengah, di antara Yoona dan Jill saat ini. Jill memberikan sebuah botol bir pada Sehun dan Sehun hanya menerimanya.

Jadi, sebenarnya kisah masa lalu kala amnesianya itu manis…atau sama sekali tidak ada artinya?

Yoona merebut botol bir itu pada Sehun begitu saja, sebelum otaknya berpikir. Irispure hazel itu sebenarnya kaget dan iris madu itu terdiam membeku, melihati tangannya yang saat ini menggenggam botol bir Sehun.

Iris pure hazel itu seakan-akan mengerti. Gerakan Yoona mengambil botol birnya tadi seperti menandakan ‘aku ingat. Kau mempunyai komplikasi ginjal dan berhentilah meminum minuman keras itu’

            Iris madu itu tetap terdiam. Jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal, aliran darahnya semakin cepat dan otaknya terasa sangat berat. Ia sama sekali tidak tahu apa alasan di balik ia-merampas-botol-bir-Sehun, tapi ia yakin. Ia harus merampas botol itu, tidak membiarkan Sehun meminum minuman keras itu.

“Ak–Aku akan keluar mencari udara segar” Yoona segara membalikkan dirinya dan hilang di telan kerumunan.

Sehun juga ikut melangkahkan kakinya dengan cepat, mencoba mengejar perempuan Im itu dan berhasil menemukannya di luar klub yang telah dibanjiri putihan salju. “Kau kenapa?” Suara ringan Sehun memecahkan keheningan.

“Aku tidak tahu”

“Kau baik-baik saja?”

“Mungkin” Jawab Yoona ringan.

Aku mencintaimu. Ingin sekali kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Yoona tanpa alasan yang jelas.

Aku sangat mencintaimu. Berbaliklah. Ingin sekali kata-kata itu keluar dari mulut Sehun, dengan alasan yang sangat jelas bahwa ia mencintai perempuan ini setelah ia membohongi Yoona dengan kebohongan besar.

“Mencoba mengingat suatu hubungan saat kau amnesia?” Tanya Sehun dan berhasil membuat Yoona membalikkan dirinya.

Yoona terdiam. Sungguh, ia sama sekali tidak mengerti. Ada apa dengan dirinya selama ini!?! Dan perasaan sialan apa ini?!! Teriak Yoona pada dirinya.

Sehun melangkahkan kakinya, menatap iris madu hangat itu.

“Mungkin kau bingung,” Sehun menggantungkan kalimatnya. Laki-laki itu merengkuh paras cantik itu, mendekatkan bibirnya dengan bibir pink itu lalu menciumnya lembut di tengah turunnya salju. “But, I love you to infinity and beyond

END

Advertisements

20 thoughts on “[FF-Twoshoots] Sweet Nothings (Ch. 2/2)

  1. Aduh,jd yoong eonie ga inget sm kajadian waktu dia amnesia…..
    Terus gimana kejelasan hubungan yoonhun thor…..????

    Apakah nanti ada sequelnya??
    Klo ada ditunggu!!

    Like

  2. Eonni ko endingnyaa gantung sih? Akuu aja bacanyaa deg degan.. Buat sequelnyaa yahh plisss.. Dan jangan gantung.. Jebaaaalll
    Rasanya kalo gantung tuhh kayaa msh ada yg janggal.. Buat sehun yoona bahagiaaa dongs.. Hehhe
    Oh iya mian di part pertama ga komen saking penasaran pengen cepet” baca part selanjutnyaa kkk~ *V sign*

    Like

    1. Aku juga lagi mikir-mikir buat lanjutannya, tapi masih belum ada waktu buat nulisnya. kegiatan di sekolah bener-bener gak bisa dikontrol, terlalu banyak kegiatan. But I’ll try my best ❤ Thankies ya 😀

      Like

  3. Apaaaa??
    sehun bohong???
    Gilaaaa???
    Orang gila memmang sehun..
    Kirain dia org ter so sweet..
    eh taunya cuma bualan??
    huhhhh..
    untung endingnya happy..
    jadi gak nyesek thor…
    ntar kalu yoona inget sama kejadian waktu sehun bohongin yoona gimana yaaa??
    ckckckc

    Like

  4. Eonni…ini gantung, sedikit. Menurutku, Sehun rada rese’ deh. Udah ngebohongin, eh malah seenak jidatnya nyium Yoona. :3 Eh, ini kok malah emosi-.- Well, aku harap ada sequel eon. Hwaiting! 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s