The Mask

Author: Clora Darlene.

Tittle: The Mask.

Genre: Romance.

Rating: PG-13.

Main Casts: EXO-K’s Oh Sehun, GG’s Im Yoon Ah, EXO-M’s Kris Wu.

Songfic: “Now I can feel you. The only person that I love is that someone is you. I wanna be with you. Not until now have I realized. That no matter who it is, they can’t replace you” After School – Someone is You.

Author Note: Thanks Jiell for the poster, smooch! :B Mian kalo kepanjangan buat jadi oneshoot._. Ini FF yang aku ikutsertakan di sebuah lomba dan karna gagal masuk ya dipostlah disini. Happy reading! :B

Alrdy published/posted in YoongEXO

***

Hi Seoul Festival Seoul, Korea Selatan– 12:01 AM Korea Standard Time.

Iris pure hazel itu telah terlihat bosan sedari tadi. Ia meyangga dagunya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada sebuah meja. Ia terperangkap di sebuah butik terkenal di pusat kota– tentu saja ini semua karena perempuannya, pikirnya. Iris pure hazel terputar setelah menyadari seberapa bosannya ia saat ini.

Yang benar saja.

Kembali, iris pure hazel itu menghela nafasnya. Tidak ada di dunia ini yang ingin terperangkap di sebuah butik menjijikkan– well, setidaknya itu adalah pemikirannya tentang ‘sebuah-butik’.

“Bagaimana?” Perempuan berambut panjang lurus itu keluar dari kamar ganti dan berputar dengan senyuman manis, seakan-akan ia ingin laki-laki beriris pure hazel itu melihat dress panjangnya dari segala arah.

“Itu gaun keberapa, hm?” Oh Sehun– laki-laki beriris pure hazel itu mendongak malas. “Lima? Enam? Delapan?”

“Ini yang pertama, yang benar saja” Terlihat iris madu perempuan itu berputar kesal. “Jadi, bagaimana?”

Iris pure hazel itu memerhatikan dengan saksama. Gaun merah menyala dari kain satin panjang hingga menutupi kaki jenjang perempuan beriris madu itu, dengan hiasan emas di depannya dan bagian punggung yang terlalu terbuka– seakan-akan memamerkan setiap titik kemulusan punggung perempuannya. “Bagus. Aku sudah memberikan tanggapanku, apa kau sudah selesai dengan acara belanjamu? Aku lapar”

“Baiklah, baiklah, kapten” Im Yoon Ah– perempuan si pemilik iris madu– kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar ganti. Ia segera mengganti pakaiannya– sebenarnya ia juga menggerutu kesal karena sikap laki-lakinya– lalu menuju kasir.

Sepasang kekasih itu melangkahkan kaki mereka keluar dari butik. Iris pure hazel itu dengan senyum dan hembusan nafas lega, sedangkan iris madu dengan gerutu dan tatapan yang masih terlihat kesal.

“Kau mau makan di mana?” Tanya Yoona, menyadari hari ini adalah hari hidupbagi Kota Seoul– kota yang sedang mengadakan sebuah festival musim semi.

“Le Sain–” Jawaban Sehun terputus saat perhatiannya dan seluruh masyarakat yang berada di jalanan teralihkan pada benda besar berkecepatan tinggi dan berturbo yang baru saja melintas di atas mereka– seakan-akan melintasi langit siang biru itu– atraksi pesawat tempur dari Angkata Udara Korea Selatan.

“Aku kembali kerja mulai minggu depan” Beritahu Sehun, kembali mengalihkan fokusnya pada iris madu yang berdiri di sebelahnya. “Kurasa aku lupa memberitahumu”

“Kau mengungkit tentang pekerjaanmu saat pesawat tempurmu datang” Yoona menyipitkan matanya.

“Aku sudah menuruti kemauanmu, ingat”

Yoona tersenyum lebar. “Aku tahu. Jadi, kau mau makan siang di mana?”

“Apartemen” Jawab Sehun singkat. “Aku ingin memakan masakanmu dan kau harus menuruti yang satu ini”

***

            Apartemen– Seoul, Korea Selatan– 1:01 PM Korea Standard Time.

Butuh satu jam tepat untuk iris pure hazel itu dapat memakan santapan siangnya. Setelah menemani Yoona berbelanja kebutuhan masak-memasaknya, kembali ke apartemen dan harus menunggu perempuan itu memasak. Cukup panjang dan melelahkan, pikir Sehun.

Yoona yang duduk di hadapan Sehun– yang sebenarnya juga sedikit menghadap arah TV layar datar mereka– terdiam dengan fokus yang tertuju pada sebuah berita internasional dari Spanyol yang ditayangkan sebuah stasiun TV.

“Tidakkah kau takut dengan hal itu?” Yoona menunjuk TV dengan sumpitnya dan berhasil membuat Sehun juga ikut mengalihkan pandangannya, tertuju pada TV yang Yoona tunjuk. “Kurasa aku yang takut” Gumam Yoona seakan-akan ia berbicara pada dirinya sendiri.

Sebuah pesawat tempur terjatuh dan meledak di sebuah festival di Spanyol saat sedang melakukan atraksi.

Sehun kembali mengalihkan pandangannya dan menatap Yoona santai– sebenarnya, sebuah tatapan dalam penuh arti. “Aku sekarang pilot pesawat komersil, sudah bukan pesawat tempur. Dan aku bukan jendral dengan bintang lima lagi, tapi hanya pilot yang menerbangkan pesawat komersil. Ayolah, kau harus tebalkan, garis bawahi dan meng-italic kalimat-kalimat itu”

Yoona menggigit sumpitnya selama Sehun memakan santapan siangnya dengan santai.

Tentu saja, siapa yang tidak bersyukur jika kekasihmu dapat mundur dari sebuah pekerjaan yang dapat merenggut nyawanya? Well, walaupun itu adalah sebuah kebanggan besar saat kekasihmu menjabat sebagi jendral bintang lima di usia muda dan walaupun juga jika pekerjaan kali ini juga sama beresikonya– tapi setidaknya resiko pilot pesawat komersil lebih kecil ketimbang pesawat tempur, bukan?

Dan Yoona salah satunya. Salah satu dari mereka yang bersyukur itu– jika ada orang lain yang merasa bersyukur juga. Ia bersyukur karena Sehun ingin menuruti keinginannya yang terdengar egois. Keluar dari pangkalan angkata udara negara ini.

Pintu itu terketuk. Menyebabkan fokus Sehun dan Yoona pecah dan teralih pada pintu cokelat apartemen.

“Biar aku saja” Beritahu Yoona yang mengenakan baju putih lengan panjang danhotpants merah menyala. Kaki jenjang bak kaki model itu telah berdiri di depan pintu apartemennya dan jemari lentiknya menggenggam gagangan pintu.

“Annyeonghaseyo, Yoona-ssi. Sudah lama tidak bertemu denganmu. Sangat lama” Suara berat itu.

Ia tahu persis siapa laki-laki tinggi di hadapannya saat ini. Laki-laki berambut hitam berpotongan spikey yang bersetelan pakaian hitam resmi dengan kemeja putih dan dasi berformal.

“Aku mencari Sehun”

“Ada apa?”

“Masalah keamanan negara. Seperti biasa” Wajah laki-laki itu menjadi lebih serius.

“Siapa?” Sehun berjalan santai dari arah belakang Yoona, mengintip siapa tamu siangnya kali ini.

“Sehun-ssi” Laki-laki jangkung itu memanggil nama iris pure hazel itu dengan lantang.

Sehun terhenti di setengah perjalanannya menuju pintu apartemen. Ia sangat kenal dengan suara berat yang baru saja memanggilnya. “Chanyeol-ssi” Sehun membuka mulutnya dan melihat tamunya dari kejauhan.

“Boleh aku masuk?” Tatapan iris hitam Chanyeol itu menatap serius pada iris madunya. Yoona hanya bisa menyingkir dari pintu dan mempersilakan Chanyeol seorang diri masuk ke dalam apartemennya.

“Ada apa?” Tanya Sehun ringan.

Yoona masih berpikir keras, mengapa dan kenapa seorang Park Chanyeol yang berjabatan tinggi di pangkalan angkatan udara tiba-tiba datang ke apartemennya? Well, ini sebenarnya bukan sebuah prasangka buruk. Hanya saja, seorang Park Chanyeol tidak akan membuang waktunya untuk hal yang sia-sia. Bertamu hanya karena sebuah perasaan rindu? Yang benar saja.

Sembari Yoona masih bergelut dengan pikirannya, Chanyeol kembali membuka suara beratnya. “Ini tentang keamanan negara dan angkatan udaranya”

“Kita bicarakan hal ini di luar” Gumam Sehun santai.

“Wae? Kau tidak ingin Yoona mendengar hal ini?” Iris hitam Chanyeol melirik Yoona yang berdiri tidak jauh dari dirinya yang jangkung. “Dia berhak tahu hal ini”

Fokus Yoona semakin tajam saat namanya baru saja disebut. Ia masih mencoba bernafas dengan tenang, berharap Sehun tidak ditarik balik ke angkatan udara–

“Pemerintah Korea Selatan telah mencabut surat pengunduran dirimu. Mereka menarikmu kembali ke angkatan udara dengan paksa. Kau kembali ditugaskan menggunakan F-15 Strike Eagle kesayanganmu, tanpa penolakkan” Beritahu Chanyeol, nada suaranya semakin serius. “Maafkan aku, tapi pemerintah benar-benar memaksa dan mendesakmu. Korea Utara siap melemparkan nuklir mereka, kau tahu itu”

Sehun terdiam. Tatapan iris pure hazel-nya terlihat tenang dan santai, seperti air tanpa getaran. “Semua orang telah tahu itu” Bantah Sehun dengan nada santai-serius-tajamnya.

Fokus ketiga pasang mata di ruang tengah apartemen itu teralih pada sebuah berita lokal yang tertayang di TV layar datar.

Diberitakan bahwa Korea Utara siap untuk menguji nuklir mereka. Kerja sama Korea Utara dengan Rusia–” Seketika layar TV menjadi hitam. Tangan porselen itu memegangi remote TV, tidak ingin mendengar berita tersebut lebih jelas.

“Negara akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan Yoona” Sehun mengalihkan pandangannya, menatap tajam iris hitam Chanyeol setelah nama perempuannya disebut-sebut. “Kai dan Suho kembali ke pesawat mereka. Yuri dan Tiffany akan aman. Aku juga memberlakukan kesepakatan itu kepadamu. Jika kau kembali, Yoona akan aman”

Tunggu. Jadi dirinya kini sebagai barang…kesepakatan?! Yoona menahan amarahnya yang meluap dan siap meledak kapan saja. Keningnya terus mengerut dan mulutnya sedikit membulat.

“Atau perang ini akan benar-benar memakanmu” Gumam Chanyeol dengan suara beratnya. Kaki jenjang itu melangkah mendekati Sehun, lalu tangannya terayun dan menepuk pundak Sehun. “Pemerintah menunggumu besok di markas, kapten. Selamat siang dan selamat datang kembali”

Chanyeol membalikkan dirinya dan kembali melangkahkan kakinya ke pintu apartemen. “Selamat siang, Yoona-ssi” Chanyeol keluar dari apartemen itu tanpa memberikan ruang untuk Sehun– maupun Yoona– mengatakan sesuatu. Berhasil membungkamkan kedua mulut itu.

Yoona mengetuk-ngetukkan kakinya dengan mata yang sedari tadi telah memanas. Baru saja ia melihat atraksi pesawat tempur, dan saat ini ia haruskembali melihat kekasihnya di dalam benda besar berturbo… itu?! Dan itu adalah hal yang paling ia jauhi. Mungkin terdengar egois, tapi apa kau siap dengan kata ‘ditinggalkan’ itu?

Sehun mendudukkan dirinya pada sofa apartemen. Deru nafasnya masih terlihat teratur. Tidak terlihat sorot tegang dalam tatapannya. Hanya sebuah sorot keyakinan.

Hening. Senyap. Sengap.

***

            Seoul, Korea Selatan– 6:01 PM Korea Standard Time.

Laki-laki itu telah terduduk di bangku panjang gereja yang berada di pusat kota. Deru nafasnya teratur dan sesekali ia menarik nafas panjang. Kepalanya masih tertunduk dalam dengan perasaan yang juga dalam. Matanya terbuka, memamerkan iris pure hazel-nya. Tangannya terlihat menggenggam. Ia masih bergelut dengan pikirannya, detak jantungnya terasa berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Salivanya susah ditelannya untuk saat ini, setelah ia kembali teringat bahawa ia memang harus pergi.

Aku bersumpah. Aku akan kembali.

            Aku berjanji.

***

            Apartemen– 7:01 PM Korea Standard Time.

Sehun membawa sepiring Sushi hasil masakannya sendiri. Dua buah pasang sumpit telah siap di atas piring putih dengan santapan khas Jepang– makanan kesukaannya. “Mungkin rasanya aneh, tapi akan tetap terasa lezat” Sehun mendengus pelan lalu terkekeh– terkekeh hambar.

Yoona terdiam memucat bak mayat hidup. Tatapannya kosong, bibir serta wajahnya memutih. Sehun mendudukkan dirinya di sofa, di sebelah Yoona yang terdiam.

“Kau mau?” Tanya Sehun dan Yoona tidak memberikan respon. “Baiklah, aku akan menyuapimu” Sehun menjepit makanan kesukaannya itu dengan sepasang sumpit lalu mengarahkannya ke mulut Yoona.

Dan Yoona, tetap tidak memberikan respon.

Sehun menghembuskan nafasnya. “Beritahu aku, siapa yang pergi? Aku atau dirimu? Kenapa kau seperti ini? Ayolah” Deretan pertanyaan itu berhasil mengalihkan fokus Yoona. Mata sayunya menatap Sehun yang duduk di sebelahnya.

“Siapa yang per…gi?” Ulang Yoona.

Jiwaku, kau tahu. Aku hanya raga dan kau jiwanya. Bukankah kau tahu? Tidakkah kau tahu?Apakah kau tahu?

“Makanlah” Sehun tersenyum kecil. “Kumohon”

Kumohon juga, jangan pergi, sungguh. Kumohon, kumohon. Kumohon.

***

            Laki-laki itu menggenggam erat tangan perempuan yang saat ini masih belum terpejam tidur dan berada di dalam pelukannya. Berbagi tempat pada sebuah sofa merah yang cukup besar di apartemen hangat mereka.

“Kau tidak tidur?” Tanya Sehun pelan.

Yoona menggeleng pelan. Ia hanya menatap tangannya yang digenggam tangan besar Sehun dengan tatapan kosong. “Tidak akan”

Sehun memeluk perempuan beriris madu itu dari belakang, terus mengeratkan pelukannya. Ia tahu, langit sudah mulai terang dan bintang-bintang sudah mulai hilang. Menandakan tak lama lagi ia harus benar-benar pergi.

“Kau akan baik-baik saja’kan?”

Yoona kembali menggeleng dan air matanya kembali terjun bebas dari mata sayunya. “Tidak. Tidak”

“Berjanji padaku bahwa kau akan tetap baik-baik saja” Ucap Sehun lembut, tepat di telinga Yoona.

Yoona menggenggam tangan porselen Sehun dengan erat. Seakan-akan ucapan Sehun tadi berhasil mencabuk hati dan perasannya. Yoona masih menggeleng, tidak berminat berjanji kepada laki-laki itu jika ia tidak ada.

“Berjanjilah padaku”

Wajah Yoona kembali basah dengan lumuran air mata beningnya. Air mata kesakitannya. Air mata keperihannya. “Kumohon” Hati Yoona benar-benar terasa sakit saat mendengar suara lirih Sehun. Suara lembut Sehun. Matanya sudah tidak kuat untuk membendung volume besar air matanya yang ingin meledak begitu saja.

Beberapa jam dan saat ini tepat matahari telah bersinar tegas. Menandakan Sehun harus benar-benar melangkah pergi dari apartemen kecil nan hangatnya.

Laki-laki itu telah siap membawa tas hitamnya. Mengenakan kauh putih lengan pendek polos dan celana jeans. “Aku mencintaimu, kau tahu”

Yoona masih menggenggam erat tangan porselen Sehun, tangan laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini. Ia hanya dapat menundukkan kepalanya dan melihati tangan mereka yang saling menggenggam.

Sehun melangkah selangkah lalu mengecup pelan kening Yoona cukup lama. Sesaat hanya ada hening di antara mereka. Tidak ada yang menimbulkan suara dan tidak ada suara yang ditimbulkan. Mereka hanya ingin dalam posisi seperti ini untuk sebentar saja.

“Aku juga berharap untuk dapat menyelamatkanmu,” Sehun menggantungkan ucapannya, menempelkan keningnya pada kening Yoona. Membuat kedua ujung hidung mereka bersentuhan. “Dan aku akan melakukannya, kau akan selamat”

“Ayo, cepat! Tim penyelamat telah menunggu di bawah!” Terdengar suara wanita di luar apartemen berteriak pada keluarganya dan sedetik kemudian gemuruh langkah lari itu terdengar melewati apartemen mereka. Membuat hening itu kembali di antara mereka.

“Jika Chanyeol datang, ikuti dia. Dia akan membawamu ke tempat teraman di negara ini. Mengerti?”

Yoona memberanikan mendongakkan kepalanya, menatap iris pure hazel itu dengan sorot sayu dan pesimis. Bibir pink-nya masih susah ia gerakan, suaranya terasa tercekat. “A..ku mencintaimu”

Sehun tersenyum kecil, ada sebuah rasa lega yang timbul dalam hatinya. “Aku tahu dan aku juga mencintaimu” Bibir mungil Sehun mencium lembut bibir tipispink Yoona lembut. Iris pure hazel itu juga terlihat ikut berkaca-kaca. “I love you to the moon and back, Im Yoon Ah-ssi”

***

            “Kai!” Teriakan Yuri itu mengalihkan pandangan Yoona. Dua insan itu telah berpelukan, melepaskan rasa kerinduan penyiksa di antara mereka. Kai, berhasil selamat.

            Yoona tersenyum tipis saat Suho bersama Tiffany– tunangan Suho– melewati mereka dengan tangan Suho melingkar hangat di pinggang Tiffany. Suho, berhasil selamat.

            “Yoona-ya” Yoona tersenyum tipis saat sebuah suara memanggilnya.

            Chanyeol. Bukan Sehun.

            “Maafkan aku. Pesawat Sehun terjatuh dan,” Chanyeol menggantungkan kalimatnya, nafasnya tertahan. “Aku turut berduka cita, Yoona-ya”

***

            Halekulani Hotel– Honolulu, Oahu, Hawaii– 8:01 PM Hawaii Standard Time.

Perempuan beriris madu itu menaruh garpu dan pisau makannya dengan senyum manis yang menghiasi paras cantiknya– tentu saja dengan perut kenyang yang baru saja dimanjakan dengan santapan malam khas Hawaii yaitu Poke.

“Tidakkah Poke ini mirip Sashimi?” Tanya iris madu itu memecahkan keheningan di antara dirinya dan laki-laki yang duduk di hadapannya– seorang laki-laki berkebangsaan Cina yang kini tengah menjadi rekan kerjanya.

“Sashimi?” Kening laki-laki beriris pearl gray itu mengerut.

Im Yoon Ah, mengangguk antusias. “Jangan katakan kau tidak pernah memakan Sashimi” Yoona menahan tawa ejekannya.

“Ayolah, restauran Jepang banyak berderet di Cina” Iris pearl gray itu terlihat terputar dan tersenyum kecil.

“Apa kau pernah datang ke Somerset lagi?” Tanya Yoona– seakan-akan mengganti arah topik pembicaraan mereka.

“Sesekali” Jawab Kris Wu– si arsitek muda Cina. “Bangunan itu tampak hebat”

“Mereka memilih arsitek yang tepat” Terlihat mata Yoona menggerling lalu perempuan itu tertawa.

“Kau membanggakan dirimu sendiri” Kris tertawa kecil lalu meminum cocktail-nya.

“Ayolah, kita membuat bangunan itu menjadi hebat” Ucap Yoona.

Pertemuan pertama itu terjadi dengan sederhana. Kerja sama pekerjaan untuk menjadi ahli perancangan Somerset Zhong Guan Cun di Haidian– sebuah gedung apartemen kelas atas. Dan kali ini, pertemuan kedua kali, mereka terdampar di surga dunia– dengan alasan yang sama yaitu kerja sama pekerjaan.

Kris yang mengenakan kemeja putih melirik pantai yang saat ini tepat berada di sebelah kanannya. Kurang beberapa meter dari dirinya, kumpulan air biru itu tengah memamerkan deburan ombaknya. Beberapa wisawatan lainnya juga terlihat masih bermain-main di pinggiran pantai.

“Mau ke pantai?” Kris mengalihkan pandangan dan menatap iris madu di hadapannya.

Yoona terlihat terdiam sejenak dengan senyuman kecil. “Baiklah” Senyuman itu terbentuk sempurna menjadi sebuah senyuman manis. Kris melepaskan kemeja putihnya dan hanya membiarkan kaus putih polos membalut dirinya yang sempurna. Tangan laki-laki itu meraih pergelangan Yoona, menarik perempuan itu untuk mengikutinya ke pantai.

“Kau takut?” Alis kiri Kris terangkat– hampir seperti menggoda perempuan itu.

“Ini sudah malam. Tidak baik untuk tubuhm– YAAA!!!” Ucapan Yoona tergantikan dengan teriakan histerisnya saat laki-laki berambut pirang itu membopongnya menuju tengah laut.

Kris tertawa keras dengan ‘keadaan’ Yoona masih ia gendong tepat di depan dadanya. Laki-laki itu telah menggendong Yoona hingga air sebatas dadanya lalu membiarkan Yoona berdiri di hadapannya. “Kau menyentuh tanah?”

“Tidak. Ayolah, kembalikan aku. Kakiku sama sekali tidak menyentuh tanah. Bagaimana bisa kau setinggi itu?!” Yoona seakan-akan ribut dengan dirinya sendiri, wajahnya masih terlihat gugup dengan kaki yang tidak menyentuh permukaan tanah di dalam air laut. Tumpuannya hanya pada kedua tangannya yang melingkar sempurna di leher Kris. “Kakimu menyentuh tanah?”

“Tentu saja” Sebuah seringai mengejek terpampang jelas di wajah Kris.

BUR!

Sebuah ombak cukup besar menghantam kedua arsitek muda itu. Membuat keduanya hampir tenggelam. Yoona terlihat masih menutup matanya dan bernafas lewat mulutnya setelah ombak tadi menghantam dirinya dan Kris. Kris menyeka wajahnya dengan tangan putihnya dan melihat Yoona masih menutup matanya– seakan-akan enggan untuk menyeka wajahnya dari air asin laut.

“Kau tidak membuka matamu?”

“Bagaimana bisa aku membukanya jika tanganku berada di lehermu, bodoh. Jika aku melepaskannya aku akan tenggelam. Yang benar saja, Kris Wu!!!” Perempuan itu menggerutu kesal tepat di hadapan wajah Kris.

“Lepaskan” Gumam Kris.

“APA?! KAU INGIN AKU MATI TENGGELAM?!!” Suara Yoona meninggi satu oktaf.

“Lepaskan saja. Kau tidak akan tenggelam, sungguh” Kris memutar kedua bola matanya.

Yoona terdiam sejenak. Kedua tangannya seperti mati rasa akibat dinginnya air laut dan terlihat sedikit bergetar. Sedetik, dua detik, tiga detik, perempuan itu mencoba melepaskan rangkulan tangannya pada leher Kris. Ia segera menyeka wajahnya dan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah iris pearl gray di hadapannya sedang tersenyum.

“Sudah kukatakan kau tidak akan tenggelem” Kris tertawa mengejek.

Yoona menggerakkan kakinya, masih belum menyentuh tanah dan ia telah melepaskan rangkulan tangannya dari leher Kris.

Apa dia mengapung?

Tentu saja, laki-laki itu melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang Yoona.

“Mau kembali?” Tanya Kris memecahkan lamunan Yoona.

“Ya, aku ingin kembali. Tubuhku sudah mati rasa” Kris dapat mendengar dengan jelas gigi perempuan itu bergemelatuk. Tubuh yang seakan-akan ia peluk itu mulai bergetar kedinginan. Yoona menggigil.

“Baiklah” Sampai bibir pantai, tangan Kris masih merangkul pinggang sempurna Yoona.

Perempuan itu tampak tertawa saat kakinya benar-benar telah menginjak pasir bibir pantai. “Itu tadi menyenangkan. Tapi kau harus membawaku ke tempat yang lebih…lan..dai” Yoona menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, mencoba menghambat dingin itu merasuki tubuhnya yang telah basah kuyup. Baju putih berlengan panjang itu telah basah kuyup– mengakibatnya kain bajunya itu mengikuti lekukan tubuh sempurna Yoona– beserta hotpants hitam itu juga telah basah.

“Tunggu sebentar” Yoona masih terdiam di bibir pantai dengan tubuh yang kedinginan sedangkan Kris berlari secepat mungkin untuk mengambil kemeja putihnya. Laki-laki beriris pearl gray itu kembali dengan kemejanya lalu segera melilitkan kemeja itu ke badan Yoona.

“Lebih baik?” Mata Kris melirik Yoona yang lebih pendek dari dirinya.

Yoona yang mengenakan kemeja putih Kris– yang sebenarnya terlihat kebesaran di dirinya– masih tampak menggigil dan sekejap kemeja putih Kris juga ikut basah. “Ku..r..a..sa.. Gwen..ch..a..na”

Entah apa yang menerpanya kali ini, laki-laki itu menarik Yoona ke dalam pelukannya dan memeluk perempuan itu hangat. “Kau benar, laut malam tidak bagus”

Yoona tertawa keras di dalam pelukan hangat Kris. Tubuhnya hanya sampai sedada bidang laki-laki Cina itu. “Tapi laut malam bagus untuk bersenang-senang. Ini adalah kali pertamaku dan terasa sangat menakjubkan” Yoona mencoba mengatur nafasnya. Bibirnya terlihat telah membiru.

“Kita kembali ke hotel sekarang” Ucap Kris lalu melonggarkan pelukannya.

“Aniya!” Yoona langsung melepaskan pelukan Kris, membuat laki-laki itu terkejut. “Kita harus datang ke Luau

Kening Kris seketika mengerut. “Apa?”

Luau. Pesta tradisional masyarakat Hawaii. Lihat” Yoona menunjuk sebuah kerumunan yang tidak jauh dari mereka. Beberapa penari hula-hula berdiri di atas sebuah panggung yang tidak terlalu besar. “Ayolah, kita ke..sa–”

HATCHIM!

“Aku tidak apa-apa” Yoona segera membuat V-sign dengan kedua tangannya, mencoba meyakinkan Kris bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak kedinginan– walaupun itu adalah sebuah kebohongan bodoh.

“Setidaknya ganti bajumu, Yoona-ya” Gumam Kris. Raut wajahnya menjadi serius dan…khawatir.

Yoona tertawa kecil. “Bagaimana kalau kau yang mengganti bajumu dan aku tetap memakai baju ini?”

Kris mendengus sedikit kesal. “Baiklah, baiklah” Kedua pasang kaki bak kaki model itu melangkah menuju kerumunan. Dua orang berpakaian ala penari hula-hula– atau mungkin mereka memang penari hula-hula– mengalungkan kalungan bunga khas Hawaii pada leher Yoona dan Kris.

Kedua arsitek itu tersenyum manis dan ramah lalu mulai melangkahkan kaki mereka lagi di dalam Luau– pesta tradisional masyarakat Hawaii.

Dedaunan pohon-pohon palem itu masih terlihat meliuk-liuk mengikuti desiran angin malam. Masyarakat Hawaii dan para pengunjung masih terlihat bersenang-senang dan sesekali menggelegarkan tawa bahagia mereka di udara malam surga dunia ini.

“Kau mau Shave Ice?” Tanya Yoona yang mendongak, mencoba menatap matapearl gray itu.

Shave ice? Dalam keadaan dingin seperti ini?” Kris menatap Yoona dengan tatapan tidak percayanya. “Ayolah, yang benar saja”

“Baiklah. Tenang saja, aku akan membagi es-ku kepadamu” Yoona menepuk pundak Kris pelan dengan mimik mengejek lalu mengunjungi sebuah kedai Shave Ice– Es serut khas Hawaii yang dilumuri sirup berbagai rasa dan warna.

Hanya butuh hitungan detik dan perempuan itu telah kembali berdiri di sebelah Kris dengan Shave Ice-nya. “Kau mau?” Yoona menyodorkan sendok es-nya. “Dijamin enak dan kau tidak akan menyesal” Yoona tersenyum lebar.

Kris menghembuskan nafas berat lalu membuka mulutnya, membiarkan Yoona menyuapinya ‘Shave-Ice-yang-perempuan-itu-banggakan’. Sesaat Kris menutup mulutnya, merasakan dingin es itu mencengkram dan bergulat dengan lidahnya. “Dingin,” Kris menggantungkan tanggapannya terhadap es serut yang baru saja ia telan. “Dan enak”

Yoona menepukkan kedua tangannya. “Sudah kukatakan, kau tidak akan menyesal, Kris-ssi”

BRUK!

Baru saja perempuan itu menyebut nama rekan kerjanya, seorang laki-laki menabraknya hingga terjatuh. “Yíhàn (Maaf)”

Kris terdiam, tersadar bahwa laki-laki yang menabrak Yoona itu baru saja berbicara menggunakan bahasa negaranya.

I’m so sorry. I really don’t mean it. I’m so sorry” Ucap laki-laki itu dengan Bahasa Inggris yang fasih dan membantu Yoona berdiri.

“Kau orang Cina?” Tanya Kris dengan aksen Cina-nya.

Fokus laki-laki teralihkan pada sesosok Kris.”Ya, kau juga?”

“Ya” Jawab Kris singkat.

“Woah, ini kali pertamaku bertemu dengan orang Cina di Hawaii” Laki-laki itu tersenyum ramah. Matanya teralihkan pada sesosok Yoona yang berdiri di sebelah Kris, masih mengenakan baju putih serta kemeja dan celana pendek hitam yang basah– sebenarnya mulai mengering. “Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja”

Yoona terdiam, keningnya mengerut.

“Kau bukan orang Cina?” Tanya laki-laki itu.

“Dia Korea” Jawab Kris dengan sebuah senyuman ramah.

“Ah, Korea. Mianhaeyo, aku sungguh tidak sengaja” Lagi, laki-laki itu mengubah bahasanya.

Yoona tersenyum kecil. “Gwenchanayo. Kau bisa Bahasa Korea?”

Laki-laki itu masih tersenyum. “Ya. Aku pernah tinggal di Korea beberapa tahun”

“Dan kau kembali ke Cina?” Tanya Yoona lagi– Ah, perempuan ini selalu bisa berbaur dengan siapa saja, pikir Kris.

“Ya. Aku kembali ke Cina semenjak Korea Selatan dan Korea Utara memulai perang mereka”

Yoona terdiam membeku. Bukan, ini bukan karena angin malam yang membuatnya lebih kedinginan. Tapi ini jauh lebih dingin dari air laut malam.

Ingatannya akan perang negaranya dengan Korea Utara. Ingatan akan jiwanya mati di medan perang sana. Ingatannya akan sesosok…Sehun.

“Hotelku akan mengadakan pesta besok malam. Siapa saja boleh datang. Aku ingin kalian juga datang, well walaupun kita baru kenal. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah menabrakmu” Laki-laki itu tersenyum pada Yoona. “Dan bukankah kita juga saudara sedarah negara?” Laki-laki itu melirik Kris lalu tersenyum. “Jam 8 dan namaku Xi Luhan”

“Im Yoon Ah” Yoona ikut tersenyum, mengikuti jejak senyuman laki-laki bernama Xi Luhan itu.

“Kris Wu” Kris hanya tersenyum kecil.

“Yoona-ssi dan Kris-ssi. Aku tunggu jam 8 di Trump International Hotel Waikiki Beach Walk” Laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya lalu melambaikan tangannya dan pergi.

“Apa nama hotelnya? Wakakiki? Apa?” Yoona mendongak menatap Kris dengan kerutan di keningnya.

Kris menghembuskan nafasnya. “Waikiki, Yoona-ya”

“Waikiki” Yoona mengangguk kepalanya dengan tatapan aneh. Waikiki? Terdengar..aneh. Pikir Yoona.

***

            Semenjak matahari terbit di surga dunia itu hingga hampir terbenam, kedua arsitek itu masih bergelut dengan tugas mereka. Menyelesaikan dekorasi-dekorasi terakhir sebuah hotel yang mengontrak mereka berdua.

“Kau tetap ingin pergi ke pesta Luhan?” Tanya Kris memecahkan keheningan.

Yoona mengangguk antusias. “Tentu saja. Kita harus datang. Hawaii adalah kenikmatan bersenang-senang, maka kita juga harus menikmati kesenangan itu” Yoona tersenyum lebar, meraih tas hitam metaliknya lalu bangkit dari kursi. “Aku akan bersiap-siap. Kita akan bertemu–”

“Di kamarmu” Potong Kris lalu meneguk air mineralnya.

“Baiklah”

***

Halekulani Hotel– Honolulu, Oahu, Hawaii– 8:01 PM Hawaii Standard Time.

Kris mengetuk pintu cokelat kamar hotel Yoona. Laki-laki pirang itu telah siap dengan celana hitam, kemeja hitam dengan kancing teratasnya terbuka dan blazer hitam. Kaki jenjangnya masih setia berdiri setelah Yoona berteriak. “Tunggu sebentar, tunggu! Beri aku tujuh detik untuk memasang anting-antingku! Seben– Selesai” Pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok Yoona yang sempurna.

Perempuan yang mengenakan gaun satin panjang– hingga menutupi kakinya– merah menyala yang senantiasa mengikuti lekukan sempurna tubuh sexy-nya dengan hiasan emas di depannya, tersenyum lebar menatap Kris.

“Apa ini berlebihan?” Tanya Yoona yang menyadari Kris masih menatapnya– seperti melamun melihat sosok sempurnanya. “Aku bisa menggan–”

“Itu sempurna” Gumam Kris berhasil memotong ucapan Yoona. “Sungguh” Lanjutnya saat menyadari tatapan Yoona yang meminta kepastian yang sebenarnya.

“Okay, jadi kita ke Wakakiki?”

“Waikiki, Yoona” Ucap Kris membenarkan.

“Ah,” Yoona mengerjapkan matanya. “Maksudku itu, Waikiki”

Kris baru menyadari bagian belakang gaun merah menyala itu. Gaun yang mengekspos punggung Yoona secara berlebihan. Punggung putih mulus itu terpamerkan bak keramik marmer yang sempurna.

Gaun ini. Gaun pertama.

***

            Trump International Hotel Waikiki Beach Walk Ballrom

Kedua arsitek itu datang saat pesta itu baru saja di mulai. Yoona menghembuskan nafas lega, tersadar bahwa ia tidak melewatkan acara kesenangan itu terlalu lama.

“Hey, orang Korea dan Cina” Sesosok Luhan yang mengenakan setelan sama dengan Kris– hanya saja Luhan mengenakan kemeja putih– tiba-tiba telah muncul di hadapan kedua arsitek itu. “Selamat datang”

“Terimakasih” Yoona tersenyum manis, membalas senyuman ramah Luhan.

“Aku akan kembali. Nikmatilah acaranya. Ruang untuk sepasang kekasih di–”

“Kita bukan sepasang kekasih” Ucap Kris dan Yoona bersamaan, membuat iris madu dan pearl gray itu bertemu dan mengunci mulut Luhan.

“Hm,” Luhan mengetuk-ngetukkan kakinya. “Baiklah. Selagi mengisi waktu kalian, lantai dansa ada di sana” Luhan menunjuk sebuah tempat yang disinari lampu-lampu terang yang di bawahnya terdapat beberapa pasang kekasihberdansa. “Aku akan mengambil cocktail. Kau mau?”

“Aku akan mengambilnya sendiri nanti” Jawab Kris dengan senyum kecil, menyadari bahwa pertanyaan itu tertuju untuk dirinya.

“Baiklah. Silakan menikmati pestanya. Aku akan kembali” Luhan tersenyum lebar lalu pergi, hilang ditelan kerumunan.

“Mau berdansa?” Kris melirik Yoona yang berdiri di sebelahnya lalu menyodorkan tangannya.

Yoona melirik tangan putih Kris, lalu meraihnya. “Baiklah” Sebuah senyum kecil menemani paras cantik itu. Tangan kekar Kris menarik perempuan itu masuk ke dalam lantai dansa.

“Kita bukan sepasang kekasih, ingat” Gumam Yoona menahan tawanya.

“Aku ingat itu” Timpal Kris lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona. Sejenak, hanya badan mereka berdua yang bergerak. Kedua tangan Kris yang melingkar di pinggang ramping Yoona dan kedua tangan Yoona yang merangkul leher jenjang Kris. Iris madu itu menatap dalam iris pearl gray di hadapannya.

Ada sebuah kenyamanan yang ia rindukan. Itulah yang Yoona rasakan setiap ia bersama Kris.

“Aku baru tahu jika kau memiliki tato di belakang bahu kananmu” Gumam Kris memecahkan keheningan di antara mereka.

Yoona tersenyum kecil. “Tato Yin” Timpal Yoona, mendiskripsikan tato hitam setengah lingkaran yang tergambar jelas di bahu putihnya. “Yin dan Yang mengajarkan bahwa kehidupan itu selalu terikat dan–”

“Imbang” Potong Kris. Sebuah seringian manis terbentuk di wajahnya bak model itu. “Kepercayaan Cina”

Yoona tertawa kecil. “Aku bahkan hampir lupa bahwa Yin dan Yang adalah kepercayaan Cina”

“Kau tidak menyertakan ‘Yang’-nya juga? Hanya Yin?” Tanya Kris lagi.

Yoona terdiam sejenak, terlihat berpikir dengan senyum kecil masih menemani paras cantiknya malam ini. “Tato Yang itu ada di bahu kiri Sehun”

Ah, Sehun. Kris ingat tentang cerita Yoona akan kekasihnya yang meninggal di medan perang.

“Jangan minta maaf” Gumam Yoona, seakan-akan tahu bahwa laki-laki Cina itu akan minta maaf karena tidak sengaja mengungkit kenangan masa lalunya. Sejenak, mereka kembali terdiam. Hanya ada alunan musik klasik yang mengiri mereka. “Kurasa aku tahu lagi ini. Apa kau tahu lagu ini?” Kening Yoona mengerut.

Kris masih terdiam, melihati perempuan yang sedang berpikir keras di hadapannya saat ini– di rangkulannya saat ini.

Now I can feel you, the only person that I love is that someone is you. I wanna be with you. Not until now have I realized,” Ucapan Yoona tergantung– sebenarnya itu terdengar hampir seperti ucapan puitis berbahasa Inggris ketimbang nyanyian yang keluar dari mulut Yoona– lalu tersenyum kecil karena berhasil mengingat lagu yang sedang mengalun.

That no matter who it is, they can’t replace you” Sebuah senyuman manis tampak di wajah Kris yang baru saja malanjutkan lirik lagu klasik yang mengiringi mereka malam ini.

“Bisa kita gantian, Kris-ssi?” Suara ringan itu mengalihkan pandangan kedua pasang iris beda warna.

Seakan-akan baru sadar dari lamunanya, Kris langsung melepaskan rangkulannya pada pinggang Yoona dan tersenyum. “Tentu saja, Luhan-ssi. Silakan”

“Aku akan mengambil minuman” Beritahu Kris yang sadar bahwa Yoona meliriknya. Laki-laki Cina itu bersyukur bahwa ia dapat menggerakkan kakinya menjauh dari lantai dansa. Tangan kekarnya meraih sebuah gelas cocktail. Hanya dengan sekali tegukan, gelas kaca bertiang itu kosong. Hanya menyisakan seiris lemon kuning di pinggiran gelas.

Iris pearl gray itu menangkap sosok Yoona dan Luhan yang sedang berdansa di bawah sinar lampu ballroom hotel.

Dan perempuan itu tertawa.

Titik terdalam hati laki-laki itu terasa sakit, sangat. Nafasnya tercekat.

***

Halekulani Hotel– May, 30th –7:01 AM Hawaii Standard Time.

“Kau mau kemana?” Tanya Kris saat menangkap sosok Yoona berjalan keluar hotel, tepatnya menuju pantai.

Perempuan yang mengenakan baju berwarna tosca yang dipadu-padakan dengan hotpants hitam itu berbalik, iris madunya bertemu dengan iris pearl grayitu. Lalu tersenyum. “Luhan mengajakku ke pantai. See you soon” Perempuan itu melambaikan tangannya lalu berlari kecil menuju pantai.

Dan di sini Kris berakhir. Dari kejauhan Yoona dan Luhan, yang sedang berada di tengah laut.

Ingatannya akan dirinya dan Yoona saat malam di tengah laut itu terlintas cepat di otaknya. Bagaimana kedua tangan perempuan itu terangkul sempurna di lehernya, bagaimana sepasang tangannya menggendong tubuh Yoona, merangkul pinggang Yoona di bawah air asin itu. Memeluk perempuan itu di bibir pantai saat badan iris madu itu bergetar karena kedinginan.

Nafasnya kembali tercekat dan salivanya terasa enggan untuk ditelan saat mata pearl gray-nya menangkap tawa Yoona– tawa karena seorang Xi Luhan.

***

Halekulani Hotel– May, 30th –5:01 AM Hawaii Standard Time.

“Kau ingat saat kau membawaku ke tengah laut?” Tanya Yoona dengan mimik antusias.

“Ya” Jawab Kris singkat lalu memakan makanannya.

“Aku dan Luhan tadi melakukan hal yang sama. Tapi kau benar-benar harus mencobanya saat pagi hari. Sangat menyenangkan” Oceh Yoona.

“Biar kutebak. Air laut menjadi lebih hangat?” Alis kiri kris terangkat– seakan-akan ia juga merasa excited dengan cerita Yoona.

Bingo!” Yoona setengah berteriak dan menunjuk Kris dengan kedua telunjuknya. “Jangan lupa untuk melakukannya di pagi hari, Kris-ssi” Yoona tertawa renyah lalu memakan kentang gorengnya.

“Kau tahu tentang acara perayaan tahunan di Oahu? Lattern Floating Hawaii?” Tanya Kris dengan bola mata yang melirik Yoona. “Seperti Toro Nagashi yang biasanya di adakan di Jepang”

Lattern Floating Hawaii?” Kini alis Yoona terangkat. “Apa itu seperti melepaskan lentera di laut lepas?”

Kris mengangguk. “Tepat”

“Aku tidak pernah melakukannya” Yoona mengembungkan kedua pipinya. “Apa acara itu telah dilaksanakan?”

“Tidak. Acaranya hari ini saat sunset nanti. Kau mau datang?”

Yoona langsung mengangguk cepat dan tersenyum. “Kita harus datang. Acara perayaan tahunan Oahu,” Yoona menggantungkan ucapannya, matanya menatap mata Kris dengan pandangan bertanya-tanya. “Apa yang dirayakan?”

***

Ala Moana Beach Park– 6:01 Hawaii Standard Time.

Yoona semakin excited setelah mengetahui ‘apa-yang-di-rayakan’– walaupun itu membuka kenangan perih masa lalunya.

Lattern Floating Hawaii dirayakan tepat tanggal 30 Mei di Oahu untuk menghormati mereka yang telah kehilangan nyawa mereka dalam perang, orang-orang terkasih yang telah meninggal, dan berdoa bersama untuk masa depan yang damai dan harmonis. Disebut juga dengan Memorial Day.

Yoona terduduk di sebuah kursi dan tangannya sibuk menggoreskan ujung kasar pulpen dengan permukaan halus kertas putih.

Tiga puluh tujuh bulan setelah kau benar-benar meninggalkanku.

Bagaimana keadaanmu? Aku telah memenuhi janjiku padamu, bahwa aku akan baik-baik saja.

Yoona menahan nafasnya. Setetes air mata itu terjatuh membasahi ujung kertas. Tangannya sedikit bergetar. Detak jantung terasa dipercepat dan aliran darahnya terasa semakin deras.

Walaupun waktu berlalu dan kau tidak ada di sampingku. Tidak bersamaku. Tidak menemaniku.

Nafas Yoona tercekat. Matanya memanas dan air mata itu siap keluar kapan saja dari matanya yang menyayu.

Kau selalu ada di dalam diriku. Senyummu, deru nafasmu, baumu, detak jantungmu. Kau selalu hidup di dalam diriku. Aku yakin, aku akan bertemu dengamu setelah kehidupan ini dan keyakinan itu membuatku senang.

Aku mencintaimu. I love you to the moon and back, Oh Sehun-ssi.

“Kau sudah selesai?” Suara berat Kris berhasil membangunkan Yoona dari lamunan masa lalunya. Jari lentiknya segera menghapus cairan bening yang sedari tadi keluar mata madunya.

“Ya, baru saja” Yoona tersenyum kecil lalu meraih kertasnya dan bangkit dari kursi. “Setelah ini, apa yang kita lakukan?”

“Menempelkan kertas ini di sisi lentera” Jawab Kris. “Mana lenteramu?”

“Ah,” Yoona segera mengambil lentera putihnya. “Ini”

Kris meraih kertas milik Yoona lalu menempelkan kertas itu pada sisi lentera berbentuk kubus itu. “Hanya satu lembar?” Kris melirik Yoona.

“Waeyo?” Tanya Yoona balik.

“Aniya, maksudku, kau bisa menulis empat lembar surat. Lentera ini mempunyai empat sisi” Jelas Kris.

Yoona tersenyum kecil. “Satu sudah cukup untukku”

Beberapa menit dan kedua arsitek muda itu telah berdiri di bibir Ala MoanaBeach Park. Pantai itu semakin malam semakin ramai. Setiap orang yang berdiri menunggu-nunggu waktu sunset. Kris menyodorkan lentera milik Yoona– lentera kubus putih dengan lilin yang telah menyala di dalamnya.

“Kau bisa melepaskannya sendiri,” Kris tersenyum kecil. “Untuk Sehun-mu”

Yoona meraih lenteranya dengan senyum getar. “Go..mawo”

“Sudah sunset” Beritahu Kris. Iris pearl gray itu menatap langsung keindahan oranye itu. Matahari yang siap bertugas di belahan bumi lainnya dan meninggalkan surga dunia ini dengan kegelapan malam bersama si bulan putih.

Yoona melangkahkan kakinya, masuk ke dalam air laut asin. Setengah tubuhnya telah basah, tangannya masih mencengkram kuat lenteranya. Salivanya susah ditelannya dan tangannya mulai mendingin. Jari-jemari lentiknya mulai merenggangkan cengkramannya dan akhirnya membiarkan lentera itu mengapung di atas laut malam. Membiarkan harapannya juga ikut mengapung di laut lepas.

Setetes air mata terjun bebas dari matanya. Tarikan nafasnya memanjang sembari melihati lenteranya menjauh. Lentera yang membawa surat putih kecil kepada Sehunnya. Laut hitam itu terasa bersinar dengan ribuan lentera telah mengapung di atasnya.

Cahaya-cahaya dan harapan-harapan yang tersebar di tengah laut.

Yoona melangkahkan kakinya yang terasa berat keluar dari perairan. Setengah bajunya dan celananya telah basah. Angin dan akhirnya dingin itu menerpa dirinya saat kaki jenjangnya menginjak pasir pantai. Tidak, ia tidak menggubris dingin dan angin yang membuat daun pohon palem itu melambai. Sorot mata dan fokusnya hanya tertuju pada lenteranya yang telah menjauh.

“Merasa lebih baik?” Tanya Kris yang mengikatkan sebuah kain Hawaii pada pinggang Yoona– tidak membiarkan tubuh gadis itu kedinginan lagi karenanya. Lengan putihnya seakan-akan melingkar sempurna di pinggang perempuan beriris madu itu dan membuatnya seperti memeluk Yoona dari belakang.

Yoona tersenyum kecil lalu membalikkan dirinya. “Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik” Yoona menghembuskan nafas panjangnya.

***

            “Kau puas dengan hanya menulis satu surat? Pengunjung yang lain bahkan merasa empat surat sangat kurang”

“Apapun yang akan kukatan, Sehun sudah tahu” Iris madu itu tersenyum kecil. Duduk di pinggir pantai bersama laki-laki beriris pearl gray itu. “Karena dia adalah bagian dari diriku”

Laki-laki itu terdiam.

“Kau benar” Iris madu itu menghembuskan nafasnya. “That no matter who it is, they can’t replace you. Dari tujuh miliar penduduk dunia, tidak ada satupun yang dapat menggantikan Sehun” Iris madu itu menatap tenang iris pearl grayyang duduk di sebelahnya. “Siapapun, tidak ada yang bisa”

“Kau pasti bangga terhadap dirinya”

“Y..a” Yoona mendengus pelan. “Aku belum sempat mengatakan padanya. Tapi aku harap dia mendengar dan… dia mengetahuinya. Bahwa aku sangat bangga terhadap dirinya”

Laki-laki Cina itu menyodorkan sapu tangan cokelatnya. “Dan dia pasti sangat beruntung menjadi milikmu” Sebuah senyum kecil tulus tergambar jelas di wajah sempurna Kris Wu.

***

            Sebelas bulan kemudian– Haidian District, China– 9:01 AM China Standard Time.

Laki-laki beriris pearl gray itu merapihkan tuksedo hitamnya lalu dilanjutkan dengan merapihkan dasi hitam metaliknya. Rambut pirangnya telah tersisir dengan rapih juga. Ia siap berangkat.

Kaki jenjangnya telah menginjak pedal gas Mercedes SLK350 hitam miliknya. Pikirannya saat ini tidak lurus selurus tatapannya melihat jalanan raya yang ia lintasi. Pikirannya telah melayang jauh dari raganya. Hatinya terasa terkoyak dengan deretan gigi tajam binatang buas itu. Dan akhirnya, mobil hitamnya terhenti di depan sebuah gereja. Sepasang kaki jenjang itu keluar dari mobil dan melangkah masuk.

Semua orang di dalam sana tersenyum.

Semua orang di dalam sana tertawa.

Apa jika ia ikut tersenyum dan tertawa, dunia akan mengecapnya sebagai seorang munafik?

Kaki jenjangnya melangkah ke ruangan sang pengantin perempuan, membuka pintu cokelat di hadapannya dan seorang perempuan bergaun putih panjang menoleh menatapnya. Sebuah senyum tersungging di bibir pink tipis itu. “Kris!”

“Hai” Sapa Kris lalu melangkah masuk dengan senyum kecil.

Im Yoon Ah– segera bangkit dari kursi merahnya dengan senyum manis– terlalu manis, dapat dipastika lebih manis dari gula. Yoona melebarkan ekor gaun putihnya. “Bagaimana?”

Kris memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia melihati perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung rambut yang disanggul ke belakang, serta sebuah tiara permata yang ikut meramaikan kesempurnaan itu.

“Kau terlihat sangat cantik” Kris menyunggingkan senyum kecil.

“Ayolah, jangan bercanda” Yoona mengembungkan kedua pipinya.

“Sungguh” Kris membuat V-sign dengan tangan kanannya lalu tertawa kecil.

“Aku hampir stres saat kau mengatakan tidak bisa datang ke acara pernikahanku” Gumam Yoona. Sebuah senyuman manis kembali tersungging, melengkapi paras cantiknya. “Terimakasih karena telah datang”

“Sudah seharusnya aku datang” Timpal Kris santai.

Yoona merentangkan kedua tangannya. “Tidak ingin memelukku? Ayolah, sebentar lagi aku akan menikah”

Kris tertawa kecil lalu meraih pelukan Yoona. Ia mendekap perempuan mungil di itu dalam pelukan hangatnya. Tangannya merangkul erat pinggang perempuan beriris madu itu– seakan-akan tidak ingin melepaskan pelukannya kali ini. “Aku bahagia atas dirimu” Gumam Kris, tepat di telinga Yoona.

Yoona yang merangkulkan tangannya di leher jenjang Kris, terdiam sejenak. Ia memendamkan wajahnya di dada bidang kiri laki-laki itu, mencium dalam bau khas laki-laki itu. “Gomawo” Yoona dapat merasakan deru nafas laki-laki beririspearl gray itu menerpa lehernya.

Ia nyaman berada di pelukan Kris Wu. Walaupun terdengar aneh, tapi ia merindukan pelukan itu. Entah kenapa, yang penting ia merindukan kehangatan serta kenyamanan pelukan itu– atau dia merindukan seorang Kris Wu.

Kris segera melepaskan pelukannya pelan– sebenarnya ia tidak rela melepaskannya– dan menatap iris madu di hadapannya dalam. “Acara pernikahanmu akan segera dimulai. Bersiaplah. Aku tunggu kau di luar, bride” Kris tertawa mengejek lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Yoona…dengan kesakitan hati itu.

***

            Para tamu diminta duduk– begitu juga dengan Kris. Dirinya terduduk di sebuah bangku panjang, bersebelahan dengan seorang perempuan berambut pirang. Iris pearl gray-nya terfokus pada altar.

Dan pintu itu terbuka.

Iris pearl gray itu mengikuti setiap langkah perempuan itu– perempuan beriris madu itu. Dan langkah iris madu itu terhenti di atas altar. Di sebelah laki-laki Cina itu– Xi Luhan.

***

            “Selamat untuk pernikahanmu” Kris tersenyum lebar saat menghampiri Luhan dan Yoona yang baru saja– ya, baru saja– sah sebagai sepasang suami-istri sehidup-semati.

Xièxiè” Luhan adalah orang pertama yang membalas ucapan Kris, dengan senyuman sumeringah. Kedua orang Cina itu saling berbicara ramah dengan bahasa negara mereka. Berhasil membuat Yoona yang mengenakan gaun putih panjang itu mengerucutkan bibir tipis pink-nya.

“Lihat. Bahkan kalian berdua sibuk dengan obrolan Cina kalian” Gumam Yoona.

Kedua pasang iris beda warna itu teralihkan pada Yoona. Kris adalah orang pertama yang tertawa kecil. “Baiklah. Chukkae untuk pernikahanmu, Yoona-ya”

Apa ada yang aneh? Panggilan itu? Kenapa aku merindukannya? Yoona terdiam sejenak lalu tersenyum manis. “Gomawo, Kris-ssi. Ah, sebentar”

“Apa?” Tanya Kris ringan.

“Ada barang yang kau tinggalkan di Hawaii. Sebentar. Sooyoung eonnie?” Yoona menoleh kebelakang, memanggil sahabat karibnya. Seorang perempuang jangkung menghampiri Yoona dengan membawa sesuatu. Jemari lentik itu segera meraihnya lalu menyodorkannya ke Kris dengan senyum kecil. “Sapu tanganmu”

Dan binatang buas itu meninggalkan hatinya yang telah terkoyak dengan sakit yang teramat dalam.

***

            Laki-laki beriris pearl gray itu melangkah masuk ke dalam rumah Cina-nya. Seorang Park Chanyeol telah terduduk di ruang tengahnya. Wajah Chanyeol terlihat tenang– terkadang tersirat sorot kasihan melihat temannya yang baru saja pulang dari acara pernikahan.

            Kris Wu– si laki-laki beriris pearl gray– melepaskan blazernya lalu membuka semua kancing kemeja putihnya.

            “Kau tidak memberitahunya?” Suara berat Chanyeol memecahkan keheningan di antara mereka berdua. “Padahal pemerintah telah memberikan kelonggaran padamu, bahwa Yoona sekarang berhak mengetahui identitas aslimu”

            Kris berdiri di depan cermin di ruang tengah rumahnya. Ia membalikkan dirinya lalu mengusap pelan bahu kirinya. Lebih tepatnya, ia mengusap tato Yang-nya.

            Ingatan empat puluh delapan bulan lalu itu masih kental di otaknya. Lewat di otaknya seperti sebuah film kecil tentang kehidupan. Saat pesawat yang ia kendalikan– F-15 Strike Eagle– jatuh karena serangan rudal lawan. Saat pesawatnya meledak dan…ia selamat. Saat Chanyeol menemukannya dan dirinya terbangun dengan wajah yang berbeda. Wajah baru.

            Mengingat wajahnya rusak parah akibat ledakan pesawatnya dan negaranya dengan sigap melakukan operasi plastik terhadap wajahnya– tanpa ada persetujuan dari dirinya sendiri. Terbangun dengan identitas baru– Kris Wu, seorang laki-laki Cina– dan dipindahkan ke divisi intel– dengan hak ‘semua orang tidak boleh tahu identitas aslinya, termasuk perempuannya sendiri’

            Melanjutkan kehidupan sebagai intel Korea Selatan yang memata-matai Korea Utara. Berharap kembali dan dapat bertemu dengan…perempuannya. Dan ia kembali– menjadi seorang rekan kerja arsitek Im Yoon Ah yang berbeda perusahaan dengan perempuan itu.

            Nafasnya tercekat. Tangan kekarnya mencengram bahunya sendiri, menyebabkan semburan darah sedikit keluar dari kulit bahunya. Tidak, hatinya jauh lebih sakit dari ini.

            Sangat susah hidup di dalam raga orang lain dan itu membuat orang yang kaucintai tidak mengenalmu sama sekali. Itu adalah tanggapanya– ia tidak menyukai hidup di dalam raga seorang Kris Wu.

            Kris mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melepaskan lensa kontak pearl gray-nya. Membiarkan sepasang lapisan tipis pearl gray itu menghantam lantai marmer rumahnya. Dan iris pure hazel itu kembali bersinar, di bawah terik matahari yang masuk melewati jendela besar rumahnya. Iris pure hazel itu terlihat bergetar, dadanya terasa semakin sesak.

            “Kenapa kau ingin sekali kembali, hm?” Pertanyaan Chanyeol kembali memecahkan keheningan.

            Iris pure hazel itu menghembuskan nafasnya pelan– terlalu dan sangat pelan. “Karena aku telah berjanji kepada Tuhan bahwa aku akan kembali”

            Sejenak, kedua lelaki itu terdiam. Hanya ada deru nafas yang menemani mereka.

            “Yoona benar,” Lanjut Oh Sehun– ya, itu adalah nama aslinya. Dirinya yang asli. “That no matter who it is, they can’t replace you” Sehun mengeluarkan sapu tangannya, kain cokelat kecil yang baru saja Yoona kembalikan kepada dirinya.

            “Bahkan dari tujuh miliar manusia di dunia ini, tidak ada satupun yang dapat menggantikannya. Walaupun dia milikku atau milik orang lain” Sehun menahan nafasnya. Hatinya kini benar-benar terasa sudah tidak berfungsi. Titik terdalam hatinya terasa mati– saat melihat perempuannya bersanding dengan laki-laki lain. Seakan-akan Pedang Damascus itu telah tertancap sempurna di dalam dirinya. Menyebabkan luka dimana-mana, di dalam tubuhnya. Keperihan itu menjalar menyelimuti diri porselennya.

“Dan aku beruntung menjadi miliknya” Because the person that I love is that someone is you. Im Yoon Ah-ssi.

END

Advertisements

25 thoughts on “The Mask

  1. As always..
    FF SeYoonmu selalu berakhir tragis T^T

    Aku suka Yoona. Amat sangat suka malah. Dan aku suka Yoona di pairing sama siapapun asalkan dia “tampan” :p
    Dan dsinilah aku sekarang.. Suka pairing Yoona-Sehun (。∩_∩。)

    Like

  2. Huweeeeeee (╥﹏╥)

    Sad ending lagi (╥﹏╥)
    Tapi bagus kok thor, jadi suka yoona sama sehun (っˆヮˆ)っ

    Like

  3. baru baca ini ff. udah ada sequelnya

    oke, ini ff bener-bener Daebak!!!
    aku kira luhan itu sehun. eh ternyata si kris..
    nyesek jadi sehun.

    oke, sekarang mau baca yg sequelnya

    keep writing ya eonn…

    Like

  4. Jadi kris itu sehun:|?
    Ceritanya ngena eon;””” banget malah;”””
    Suka sama kris yang romantis;”” gakuat tapi liat adegan yoonhun nya:”” gatega ngebayangin yoona nangis;”””

    Like

  5. arrgh keseluruhan ff ini bikin galau, dari mulai cerita sampe couple ff nya bener” bikin galau, yoona-sehun yoona-kris chemistry nya dapet banget. agak susah bayangin sehun-kris jadi satu sosok ._. chemistry nya beda tapi tetep dapet banget *apaini* inget pesawat tempur keren ^^
    dan bakal lebih keren kalo dibikin sekuelnya *modus ._.v hehe
    penasaran sama kehidupan yoona, kris, sehun, luhan selanjutnya.
    keep writing author, ditunggu sekuel da ff lainnya hehe 😀 jadi inget film pearl harbour duh, tapi overall ni ff keren banget ^^ diksinya pas, feel dapet banget, meskipun main cast tidak bersatu huhu :”
    keep writing author, ditunggu ff keren lainnya, hehe ^^

    Like

  6. OMG..
    gk nyangka banget seorang kris wu itu oh sehun??
    pnates aja ok yoona cepet amat move on nya…
    soalnya selama ini dia deket sama oh sehunnya..
    Come on sehun..
    kenapa gak bilang aja??
    kenapa kamu membiarkan yoona menikah dengan orang lain..
    Haduehhhhh

    Like

  7. Kris adalah sehun??
    Ku kira sehun.nya udah mati bneran, eh ternyata…
    Mengejutkan sekaleeehh..
    Tpi knapa sehun ga bilang ma yoonanya, kan jdi sad ending

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s