[FF-Vignette] Save You

Author: Clora Darlene

Tittle: Save You

Rating: PG-13

Genre: Romance

Main Cast: EXO-K’s Byun Baekhyun & GG’s Im Yoon Ah

Backsound: Simple Plan – Save You

Disclaimer: Pure mine. Okay.

Author Note: Ta-Da! FF kebut semalem jadinya begini-_- Hoho maaf lagi ini gak ada posternya-_- Dan ini dia juga FF pertama yang saya buat selain YoonHun… Happy reading, guys! :D

Already published/posted on YoongEXO

***

“Baekhyun-ah, ayo kita makan malam bersama”

Laki-laki yang dipanggil dengan nama ‘Baekhyun’ itu menolehkan kepalanya.Menatap iris madu yang sedang terduduk di atas ranjang rumah sakitnya. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya kurus serta kantung mata yang mulai menghitam. “Aku akan makan malam di kamar inapmu, seperti biasa”

Perempuan yang terduduk di atas ranjang kamar inapnya itu mendengus. “Maksudku, makan malam di luar, Baekkie”

“Apa?” Alis kiri Baekhyun terangkat. “Kau ingin makan malam di luar?”

Perempuan itu mengangguk semangat.

“Dengan keadaan seperti ini?”
“Ayolah, aku baik-baik saja. Dan juga, aku pergi bersamamu. Kau temanku dan sekaligus dokterku” Perempuan itu mengerucutkan bibirnya.

Baekhyun terdiam sejenak lalu melangkahkan kakinya mendekat, mengusap kantung mata hitam perempuan tersebut. “Lihat, bahkan kantung matamu melebar. Kau harus banyak istirahat”

“Aku bosan di sini” Bantah perempuan tersebut– Im Yoon Ah.

Baekhyun hanya dapat menghelas nafasnya. “Hanya kali ini saja, janji?”

***

            7:59 PM KST

Byun Baekhyun, membantu perempuan yang mengenakan sweater pink itu– Im Yoon Ah– untuk berjalan. Ada rasa sakit yang tertera di hati Baekhyun. Irisautumn-nya melirik Yoona. Wajah perempuan itu tetap pucat seperti biasa.

Dimana Im Yoon Ah yang dulu?

Baekhyun menarik sebuah kursi lalu mempersilakan Yoona duduk terlebih dahulu. Yoona hanya dapat tersenyum kecil. Bahkan terkadang untuk berbicara saja, perempuan itu sudah kesusahan.

“Kau mau makan apa?” Baekhyun memecahkan keheningan di antara dirinya dan Yoona.

Yoona masih menarikan bola matanya, mengitari buku menu. “Boeuf Bourguignon

“Baiklah” Baekhyun melambaikan tangannya, memanggil seorang pelayan lalu memesan makanan malam mereka. Setelah pelayan tersebut menghilang, irisautumn Baekhyun menatap Yoona. Perempuan itu sedang tersenyum kepadanya. “Ada apa?”

“Gomawo” Yoona tetap tersenyum. “Sudah lama aku tidak makan malam di luar seperti ini. Empat bulan di rumah sakit sangat membosankan”

“Itu mengapa kau harus sembuh” Baekhyun tersenyum kecil– sebuah senyum miris, sebenarnya.

“Dan itu mengapa kau harus mengoperasiku, Baekkie” Senyum Yoona melebar, menambahkan serbuk manis pada senyumannya.

Baekhyun menghelas nafasnya kasar. “Aku sudah mengatakannya bahwa yang akan mengoperasimu adalah Suho, bukan aku”

Senyum Yoona hilang. Hilang begitu saja. Sorot matanya melemah. “Waeyo? Kenapa kau tidak ingin mengoperasiku?”

Karena operasimu hanya berkemungkinan kecil untuk berhasil. Dan jika aku mengoperasimu dan ternyata gagal… Apa aku bisa memaafkan diriku sendiri?

“Suho lebih profesional, kau tahu” Baekhyun tersenyum kecil lalu meminum minumannya.

“Ak–”

“Kau membawa obatmu?” Tanya Baekhyun, berhasil motong ucapan Yoona.

“Apa aku harus membawa obat-obat itu kemana saja?” Yoona memutarkan kedua bola matanya.

Baekhyun tertawa kecil lalu mengangguk. “Ya, kemana saja. Tunggu di sini, aku akan mengambilnya” Gumam Baekhyun lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran.

Tentu banyak hal yang dipikirkan Baekhyun saat ini.

Permintaan Yoona untuk dirinya sendiri yang mengoperasi perempuan itu.

Ia, tidak bisa. Tidak sanggup lebih tepatnya.

Ia juga ingin menyelamatkan Yoona. Ia ingin.

Baekhyun menekan tombol unlcok pada kunci mobilnya lalu membuka bagasi mobil sedan hitamnya. Bagasi tersebut terlihat penuh. Penuh dengan perlengkapan Yoona. Obat, selimut, baju ganti, handuk, air mineral, vitamin dan segala hal lainnya. Bahkan terlihat sebuah tabung oksigen kecil beserta selang-selangnya. Tangan putihnya meraih sebotol obat putih, menutup pintu bagasinya lalu kembali masuk ke dalam restauran.

Penyakit saraf itu berhasil melumpuhkan kehidupan Yoona.

Berhasil memakan hidup-hidup semangat Yoona, tanpa tersisa.

“Kau tidak boleh telat meminum obatmu, Yoona-ya”

Yoona mengerang kesal. “Baiklah, Dokter Byun Baekhyun–”

Ucapan Yoona berhasil terpotong lagi saat Baekhyun menempelkan sapu tangannya pada hidung Yoona. “Akhir-akhir ini kau mudah sekali mimisan”

“Gwe-Gwenchana” Bantah Yoona, dengan posisi Baekhyun masih menempelkan sapu tangannya pada hidung kecil Yoona. “Makan malammu nanti dingin– AAAH!” Tiba-tiba teriakan Yoona keluar begitu saja, berhasil menarik perhatian pengunjung restauran yang lain.

“AAAAAAAH!!” Lagi, perempuan itu mengerang kesakitan. Sesuatu seperti menusuk leher belakangnya. Menjalar panjang hingga sepanjang punggung belakangnya.

“Yoo-Yoona-ya, gwenchanayo? Apa yang kau rasakan?” Baekhyun kini terlihat lebih gelagapan. Yoona yang saat ini sudah berada di lengannya masih belum bisa berkata-kata. Matanya berair dan seketika itu juga cairan bening air matanya terjun bebas. Mengalir di pipinya seakan-akan berteriak bahwa ia kesakitan.

***

            Baekhyun, menghelas nafas beratnya.

Kini ia hanya dapat melihat Yoona dari luar ruangan isolasi. Ya, Yoona diisolasi. Semakin berat saja tarikan nafas laki-laki yang bekerja sebagai seorang dokter bedah saraf di sebuah rumah sakit besar di Seoul. Iris autumn-nya terlihat semakin sayu, terlalu lama melihat Yoona dalam keadaan seperti ini.

Terlalu lama melihat orang yang ia cintai menderita karena penyakit yang mejadi pekerjaan utamanya. Penyakit saraf dan dia sendiri adalah dokter bedah saraf.

“Bagaimana keadaannya?” Kim Joon Myun as known as Suho– seorang dokter bedah saraf, sama seperti halnya Baekhyun– menepuk bahu Baekhyun dan berhasil membangunkan laki-laki itu dari lamunannya.

“Semakin parah, kau tahu itu” Jawab Bakehyun sekenanya. “Apa hasil laboraturiumnya telah keluar?”

Suho menggeleng. “Kurasa belum”

“Aku akan memeriksanya dulu” Baekhyun pergi melewati Suho tanpa ekspresi. Ia terlalu dalam terlarut bersama kesedihannya dan pikirannya sendiri. Terbawa dengan arus-arus besar pikirannya akan keadaan Yoona.

“Apa hasil laboraturium Yoona telah keluar?” Tanya Baekhyun pelan kepada seorang staff laboraturium di rumah sakit ia bekerja.

Kim Taeyeon– mendongakkan kepalanya lalu memeriksa kertas-kertas yang berserakan di depannya. “Belum. Kupastikan sebentar lagi”

“Aku membutuhkan hasilnya secepat mungkin, Taeyeon-ah”

***

            Taeyeon’s P.O.V

            Tentu saja sakit itu kembali melanda hatiku.

Ada rasa sakit itu, lagi.

Saat dirinya sangat mementingkan pasien perempuan itu.

“Aku akan segera memberikannya kepadamu jika sudah keluar nanti. Akan kuberikan di kantormu” Jawabku.

“Aku ada di ruangan Yoona”

Aku menghelas nafasku pelan. Mencoba mengendalikan keperihan itu saat mendengar jawaban Baekhyun. “Kau juga harus istirahat. Tidak mungkin kau memantaunya selama 24 jam penuh, Baekhyun-ah”

“Itu mungkin” Gumam Baekhyun singkat. “Jangan lupa, aku ada di ruangan Yoona. Gomawo” Baekhyun hanya tersenyum kecil lalu menghilang– mungkin kembali ke ruangan pasien perempuan itu.

Aku melakukan ini hanya semata-mata hanya karenamu. Hanya karena dirimu. Karena aku merasakan apa yang kau rasakan untuk perempuan itu. Aku mencintaimu.

***

            Author’s P.O.V

            Baekhyun memijat pelipisnya. Matanya masih bergerak mondar-mandir sembari membaca kertas hasil laboraturium Yoona.

Apapun bacaannya, keadaan Yoona semakin memburuk. Itu adalah inti dari kertas tersebut.

Baekhyun mendongak saat pintu kantornya terketuk. Ah, Suho.

“Yoona telah sadar”

Seketika itu juga Baekhyun melepaskan kertas putih tersebut dan melangkah cepat menuju ruangan Yoona. Dirinya hanya tetap terdiam. Yang ia pentingkan saat ini hanya Yoona. Cuma Yoona.

Keadaan Yoona terlihat berantakan. Dirinya jauh terlihat lebih pucat, badannya semakin kurus. Kantung matunya menghitam dan terus-menerus melebar. Bibirnya mengelupas dan memutih.

“H-Hey..” Baekhyun memberanikan menyuarakan dirinya. “Bagaimana keadaanmu, hm?”

Yoona masih belum menjawab. Ia masih mencoba beradaptasi dengan lampu ruangan isolasinya, masih mencoba beradaptasi dengan ruangan barunya. “Kau ada di ruangan isolasi, Yoona-ya”

“Baek-Baekhyun…ah”

Baekhyun maju selangkah. Tangannya tergerak, menyentuh kening Yoona lalu mengelus pelan. “Aku di sini”

Dan air mata itu kembali meluncur bebas pada pipi Yoona.

“A-Aku…tidak..k-kuat…” Isak Yoona, hampir seperti berbisik.

“Kau harus kuat. Aku ada di sini untukmu. Kau harus kuat. Kau telah janji kepadaku” Bisk Baekhyun tepat di telinga Yoona.

Yoona menggeleng pelan. “Kumohon…operasi aku…kumohon…Kau..bukan Suho…Kumohon”

Baekhyun terdiam. Membeku.

“Ku-Kumohon…Baekhyun-ah…Aku tidak k-kuat…” Wajah Yoona seketika basah dengan air matanya. Air matanya terus-menerus berjatuhan membasahi pipi pucatnya.

Melihat Yoona dalam keadaan seperti ini sama saja menyiksa Baekhyun. Baekhyun juga tersiksa saat ini, bukan Yoona saja. Ikut merasakan kesakitan yang menyakiti Yoona. Rasa yang juga sama sakitnya menusuk Baekhyun.

“Baiklah” Baekhyun mengehela nafasnya pelan– sangat pelan. Jantungnya berdegup tidak karuan, tangannya mulai kaku digerakkan dan nafasnya bahkan sedikit terengah-engah. “Aku akan mengoperasimu”

***

            “Ini tidak akan terasa sakit. Kau akan dibius, tertidur sebentar dan bangun dalam keadaan sehat. Jangan takut”

“Aku tidak takut. Hanya sedikit gugup”

“Gugup?”

“Ne. Bukankah normal jika aku gugup?”

“Itu normal. Kau harus rileks”

“Aku merindukan menjadi sehat”

Aku juga merindukan dirimu yang sehat.

***

            Tit…Tit…Tit…

Garis lurus itu.

Garis yang Baekhyun takuti.

Garis yang berhasil merenggut kehidupan Baekyun, juga.

Garis yang menandakan…perempuan itu pergi. Telah menghilang.

“Ayolah, kumohon!” Baekhyun terus-menerus menggosokkan kedua alat pacu jantungnya lalu menempelkannya pada dada Yoona.

Tiga kali berturut-turut dan tidak ada respon.

Nafas Yoona masih berhenti.

Baekhyun menaruh alat pacu jantungnya lalu segera menekan dada Yoona, memberikan hentakan pada jantung Yoona secara ‘manual’. Tidak, jangan. Kumohon!

“Ayolah!” Baekhyun masih terus-menerus menekan dada Yoona. Keringat telah bercucuran hebat membasahi tubuh Baekhyun.

Ia tidak ingin kehilangan perempuan ini.

Tidak ingin. Dan tidak akan pernah menginginkannya.

Baekhyun beralih pada selang oksigen Yoona. Melepaskan selang tersebut lalu memberikan nafas buatan mouth-to-mouth.

Ayolah, jangan sekarang. Kumohon. Bukalah matamu, Yoona-ya. Bukalah. Untukku.

Dan setetes air mata Baekhyun membasahi pipi pucat Yoona. Sebuah tetesan air mata yang meneriakkan kepedihan dalam. Jantung Baekhyun terasa juga ikut berhenti– tidak, bukan berhenti. Jantungnya kini berdetak dengan sisa tenaga yang ada. Kakinya bahkan sudah tidak kuat untuk menompang dirinya sendiri.

Ada banyak hal yang aku ingin kau ketahui. Aku mencintaimu, sangat.

Im Yoon Ah– orang yang ia cintai itu. Bahkan Tuhan lebih menginginkannya ketimbang dirinya sendiri– diri Baekhyun sendiri.

Tuhan lebih menginginkan Yoona.

“Dokter, dia sudah tiada”

Semua indera Baekhyun terasa tertutup. Hanya terfokus pada sosok yang memejamkan matanya itu. Tidak menampilkan iris madunya. Tidak lagi.

“Ayolah, sekali ini saja!” Baekhyun kembali menggosokkan alat pacu jantungnya dan menempelkannya pada dada Yoona.

Tit…Tit… Tit… Tit…

Dan garis kehidupan itu nyata adanya.

END

Advertisements

22 thoughts on “[FF-Vignette] Save You

  1. Maksudnya yoong eonni kembali kan thor….bikin sequelnya thor ditunggu dan buat yoong eonni sembuh…..

    Ditunggu sequelnya…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s