[FF-Twoshoots] The Simple Thing (1/2) (Sequel of Save You)

Tittle: The Simple Thing

Genre: Romance.

Rating: PG-13.

Main Cast: EXO-K’s Byun Baekhyun, GG’s Im Yoon Ah.

Disclaimer: Just pure mine. Okay

Author Note: Astaga, mian banget kalau feelnya gak dapet dan atas kesalahan lainnya, mian banget :( Hope you like it, readers! ;)

Sequel of Save You

Already published/posted on YoongEXO

***

Aku mencintainya.

            Sesederhana itu.

Enam tahun kemudian.

“Baiklah, ayo berangkat. Kajja!” Perempuan beriris madu itu telah siap. Pakaian biru mudanya telah rapih dipakainya dan seorang anak perempuan yang berada di dalam pelukan hangatnya.

“Appa mana?” Iris sunrise itu melirik si perempuan beriris madu.

“Appa sudah menunggu di mobil” Perempuan beriris madu itu tersenyum manis lalu membuka pintu mobil hitamnya. Membiarkan sang iris sunrise tersebut turun dari gendongannya dan masuk ke dalam mobil.

“Appa, pulang nanti ayo kita beli cokelat!” Seru perempuan kecil beriris sunrise itu.

Laki-laki yang duduk di kursi pengemudi itu baru saja memutar setir mobilnya. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya. “Baiklah”

“Ya! Kau ini” Perempuan beriris madu– yang duduk di kursi penumpang– segera memukul lengan si laki-laki. “Cristina tidak boleh makan cokelat terlalu banyak”

“Umma, aku ingin cokelat!” Seru si perempuan beriris sunrise– Cristina Fernandez.

“Cristina-ya, cokelat tidak baik” Gumam umma-nya– Im Yoon Ah, oh tidak. Byun Yoon Ah.

“Umma, ayolah” Rengek Cristina.

“Tidak boleh” Bantah Yoona lagi.

“Umma jahat. Appa, umma jahat kepadaku” Cristina mengerucutkan bibirnya.

“Baekhyun-ah, apa aku jahat?”

Byun Baekhyun– menoleh sesaat. Melirik Yoona, tepatnya. “Kurasa…iya” Baekhyun tertawa pelan dan berhasil dilirik tajam oleh iris madu itu.

***

            “Ini daftar pasien hari ini” Kim Taeyeon menyodorkan sebuah papan beserta beberapa lembar kertas kepada Baekhyun. “Pasien kamar 507 VIP ingin dioperasi malam nanti”

Baekhyun melirik Taeyeon. “Ia ingin dioperasi saat tengah malam?” Baekhyun menunjukkan selembar kertas pada Taeyeon.

Taeyeon menaikkan kedua pundaknya. “Begitulah”

Baekhyun melirik jam tangan hitamnya. “Baiklah. Siapkan saja alat-alatnya. Aku keluar dulu” Baekhyun melangkahkan kakinya, keluar dari ruang kantornya. Langkahnya terhenti di depan ruang kantor Yoona.

Ya, perempuan itu saat ini telah menjadi dokter. Seorang dokter bedah saraf sama seperti dirinya.

“Kau sudah makan siang? Aku ada jadwal operasi tengah malam nanti” Gumam Baekhyun, melangkah masuk ke dalam kantor Yoona.

“Tengah malam?” Alis kiri Yoona terangkat.

“Ya. Permintaan pasien” Jawab Baekhyun singkat.

Yoona melirik jam tangan silver yang melingkar sempurna pada pergelengan tangan kanannya. “Kau harus menjemput Cristina”

“Dan membelikannya cokelat?” Baekhyun menahan tawanya.

Yoona melirik Baekhyun tajam. “Belikan Cristina cokelat atau kau tidur di luar”

Iris autumn Baekhyun terputar. “Selalu ancama itu. Aku membencinya”

***

            4:32 AM Korea Standard Time.

Baekhyun melepaskan masker hijaunya. Bahkan ia masih mengenakan baju operasi hijaunya juga. Matanya terlihat sayu setelah keluar dari ruangan operasi.

Ia mengantuk, tentu saja.

“Yoona-ya?” Mata Baekhyun melebar saat mendapatkan Yoona telah terduduk manis di kantornya.

Oh, tidak. Ia bahkan mulai berhalusinasi. Pikir Baekhyun.

“Ayo, kita pulang” Halusinasi itu berbicara, bahkan tersenyum manis kepadanya.

Baekhyun terdiam di tempatnya ia berdiri saat ini. “Apa aku berhalusinasi?”

Iris madu Yoona terputar. “Yang benar saja, Byun Baekhyun-ssi. Aku bukan fatamorgana”

Baekhyun menghela nafasnya lalu melepaskan baju hijau operasinya. “Kau membawa mobilmu?”

Yoona menggeleng. “Aku menggunakan taksi”

Kini, giliran Baekhyun yang melirik Yoona tajam. “Taksi? Kau menggunakan taksi sepagi ini? Bagaimana jika kau–”

“Kau terlalu lelah. Aku yang akan menyetir” Potong Yoona sambil melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun. “Dimana kunci mobilmu?”

“Di tas” Jawab Baekhyun singkat.

Yoona meraih tas Baekhyun lalu mengeluarkan kunci mobil Baekhyun. “Aku tunggu di depan”

Baekhyun hanya mengangguk singkat dan membiarkan istrinya tersebut keluar dari kantornya. Ia mendudukkan dirinya di kursi putar hitam lalu memenjamkan matanya sejenak.

Yoona benar. Ia lelah.

“Baekhyun-ah?”

“Baekhyun-ah?”

“Baekhyun-ah”

Yoona mengguncangkan badan Baekhyun pelan– hingga laki-laki itu terbangun. “Ada apa?”

“Kau ketiduran. Ayo pulang”

***

            Baekhyun membuka matanya pelan, mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang menarangi kamarnya. Ia berbalik dan tidak menemukan Yoona tertidur di sebelahnya.

“Sialan” Umpatnya pelan lalu meregangkan badannya dan bangkit. Baekhyun melirik jam dindingnya. Tepat pukul 12:12 PM.

“Yoboseyo?”

Yoboseyo, Baekhyun-ah? Wae?” Tanya Yoona di ujung sana.

“Aku yang akan menjemput Cristina” Beritahu Baekhyun sembari masuk ke dalam kamar mandi dan meraih sikat giginya.

Ah, baiklah

“Aku mencintaimu”

Yoona terdiam sejenak di ujung sana. “Aku juga mencintaimu

***

            Sehun’s P.O.V

            Aku tidak tuli. Aku mendengarnya. Percakapan di antara sepasang suami-istri itu. Baekhyun dan Yoona, tepatnya.

Aku mencintai Yoona.

Dan aku salah. Ya, aku tahu itu salah.

“Aku juga mencintaimu” Yoona tersenyum kecil lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam blazer putih dokternya.

“Baekhyun?” Tanyaku, memecahkan kecanggungan.

Yoona mengangguk ringan. “Ya. Dia akan menjemput Cristina” Yoona menaikkan kedua pundaknya santai. “Jadi, aku harus memeriksa pasien yang mana saja?”

Perasaanku kepadanya saat ini, tentu saja sebuah perasaan yang tidak akan pernah terbalas.

***

            “Appa!” Cristina berlari ke arah Baekhyun lalu melompat masuk ke dalam pelukan hangat ayahnya.

“Kau sudah makan siang, hm?” Tanya Baekhyun.

Cristina menggeleng cepat. “Aku mau makan siang”

“Baiklah, kajja”

“Aku juga mau cokelat”

Baekhyun tersenyum. “Appa akan membelikannya, jangan beritahu umma. Arasseo?”

Cristina ikut tersenyum lebar. “Arasseo, appa!”

***

            Dan di sinilah Baekhyun beserta anak sematawayangnya berakhir. Di sebuah restauran yang menghidangkan masakan khas Prancis.

“Appa, aku ingin makan bubur” Cristina mengerucutkan bibir kecilnya.

“Bubur?” Alis kiri Baekhyun terangkat.

Cristina mengangguk. “Ne, aku ingin bubu–” Baekhyun segera menutup hidung Cristina dengan tangannya. Baekhyun berpikir sejenak lalu meraih sehelai tisu dan membersihkan darah yang keluar dari hidung Cristina. “Ada apa, appa?”

Baekhyun tersenyum kecil. “Kita pulang”

“Ak– AAAAH!!! APPPAAAA!!!” Teriak Cristina nyaring.

***

            Baekhyun berlari secepat mungkin ke ruang Intensive Care Unit, membopong Cristina yang sudah pingsan.

“Dok-Dokter?”

“Berikan aku tabung oksigen” Ucap Baekhyun tanpa melirik suster yang berdiri di sebelahnya. Sedikitpun, tidak. “Dan panggilkan Yoona. Cepat”

Baekhyun tetap membersihkan darah yang keluar dari hidung kecil anak perempuannya. Baju merahnya telah basah dengan keringat, mencoba keras menghindari sebuah pemikiran yang melekat erat di otaknya.

“Baekhyun-ah? Cristina-ya!!” Teriakan Yoona berhasil mengalihkan iris autumn Baekhyun.

“Ini dokter” Seorang suster menyerahkan sebuah selang oksigen kepada Baekhyun.

“Ada apa dengannya?! Baekhyun-ah!” Teriak Yoona.

Mulut Baekhyun terasa terkunci rapat. Nafasnya saja bahkan tercekat. Tangannya masih sibuk memasangkan selang oksigen pada Cristina lalu pergi begitu saja. Berlari sekencang mungkin ke kantornya, mengambil peralatan kedokterannya dan kembali ke ruangan Intensive Care Unit.

“BAEKHYUN-AH!!” Teriak Yoona kencang.

“DIAMLAH!!!” Balas Baekhyun tidak kalah keras.

Yoona membeku.

Selama ini Baekhyun tidak pernah membentaknya dan baru saja…baru saja, laki-laki itu membentaknya dengan sangat keras.

“A-Ada…apa dengan..Cristina?” Setetes air mata meluncur bebas jatuh dari mata indah Yoona.

Baekhyun mendongak. Matanya menangkap figur Yoona yang telah menangis. Ia menyadari kesalahannya, bahwa ia tadi meneriaki Yoona dengan keras. Ia meraih tangan Yoona lalu menarik istrinya keluar. “A-Ada..apa..?” Isak Yoona kecil.

“Aku juga tidak tahu Cristina kenapa. Tenanglah” Jawab Baekhyun pelan, mencoba menyetabilkan emosi Yoona. “Tenanglah” Baekhyun menarik Yoona ke dalam pelukannya, memeluk perempuan itu dengan hangat dan mengelus punggung Yoona dengan halus.

“Cristina akan baik-baik saja”

***

            Baekhyun dan Yoona saling menutup mulut mereka. Terdiam di ruang kantor Baekhyun. Yoona sendiri bahkan tidak bisa menghentikan isak tangisnya sembari menunggu hasil laboraturium Cristina.

Baekhyun yang terduduk di kursi putar hitamnya menghela nafas, menghampiri Yoona dan bersimpuh di depan perempuan tersebut.

“Yoona-ya,” Panggil Baekhyun pelan lalu meraih tangan Yoona, mengenggam tangan putih tersebut. “Cristina akan baik-baik saja”

Yoona menggeleng pelan. “Aku…takut”

Aku juga takut.

Baekhyun mencium tangan Yoona cukup lama. Terdiam dalam posisi mereka saat ini. “Kita akan menangani penyakitnya” Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap iris madu Yoona yang tergenang.

“Aku akan ke laboraturium. Kau tetaplah di sini” Baekhyun mengusap pelan mata Yoona, menghapus titik-titik air mata itu.

“Aku ikut…” Yoona menggenggam balik tangan Baekhyun.

“Aku akan segera kembali” Baekhyun bangkit lalu mengecup kening Yoona singkat dan melangkahkan kakinya ke laboraturium rumah sakit. Baekhyun memijat pelipisnya sembari berjalan, ada rasa pusing yang ia rasakan saat ini.

Bagaimana jika tebakannya tepat?

Itu adalah pertanyaan yang Baekhyun takuti.

Ia takut jika perkiraannya tepat, tidak meleset.

“Apa hasil laboraturium Cristina telah keluar?” Tanya Baekhyun pelan kepada Taeyeon.

“Sebentar, aku periksa dulu”

Baekhyun hanya tersenyum kecil dan membiarkan Taeyeon memeriksa berkas-berkasnya. Matanya terasa berat padahal hari baru beranjak sore.

“Ini” Taeyeon menyodorkan sebuah amplop cokelat muda kepada Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas beratnya lalu meraih amplop tersebut. Sebuah senyum hambar masih ia sunggingkan. “Gomawo”

“Sudah menjadi pekerjaanku” Respon Taeyeon pelan, mengerti perasaan Baekhyun saat ini.

Baekhyun membalikkan badannya, melangkah ke sebuah tempat duduk yang tidak jauh dari kantornya. Ia ingin membuka amplop tersebut lebih dahulu, mengetahui keadaan anak perempuannya terlebih dahulu…sebelum Yoona mengetahuinya.

Bola mata Baekhyun terlihat mondar-mandir, membaca kata per kata yang tertera pada lembaran kertas.

Dan bola matanya berhenti. Nafasnya tercekat dan detak jantung mulai berdetak lebih cepat.

Tebakannya kali ini benar. Perkiraannya benar.

***

            Delapan hari kemudian.

“Biarkan aku yang mengoperasinya”

“Yoona-ya, biarkan aku. Aku yang akan mengoperasinya”

“Aku ibunya, Baekhyun-ah. Aku yang melahirkannya, kumohon biarkan aku yang mengoperasinya”

“Aku ayahnya”

“Baekhyun-ah, kumohon. Kumohon, biar aku yang mengoperasinya”

Baekhyun terdiam sejenak. Iris autumn-nya terfokus pada Yoona yang tengah menangis keras di hadapannya saat ini. Hatinya terasa sakit melihat Yoona dalam keadaan seperti ini. Ia juga ikut tersiksa. “Yoona-ya–”

“Kumohon…”

Baekhyun melayangkan tangannya, mengusap pelan pipi Yoona. “Aku yang akan melakukannya untuk saat ini”

Yoona tertunduk dalam, air matanya masih mengalir deras. Ia juga ingin menyelamatkan anaknya, ia ingin! Cristina adalah hidupnya, bagian terpenting dari hidupnya kini. Dan hidupnya saat ini sedang diambang…kematian.

“Biarkan aku ada..di dalam ruang…operasi…aku bisa membantumu, sungguh”

Baekhyun menatap sayu Yoona. Adegan seperti ini tidak pernah terlintas di otaknya. Ia tidak pernah berpikir jika keadaan seperti ini akan terjadi. Ia sudah merasa sangat lelah– sebenarnya. Yoona terus menangis dan tidak bisa tenang, sedangkan kondisi Cristina terus-menerus drop. Tapi, tidak seharusnya ia merasa lelah. Ini demi keluarga kecilnya. Pikir Baekhyun.

Baekhyun sendiri telah kehabisan kata-kata. Ia sudah tidak tahu lagi cara untuk membuat Yoona tenang.

Baekhyun menghela nafasnya pelan. “Kau hanya akan menunggunya”

***

            Baekhyun terdiam sejenak. Ia memasang sarung tangan putihnya dengan tatapan kosong. Pikirannya terlalu berkecamuk saat ini. Pasiennya saat ini adalah hidupnya. Anak perempuannya. Anak sematawayangnya…yang terkena kegagalan fungsi saraf.

Sama seperti Yoona. Dulu.

Operasi kali ini seakan-akan seperti mempertaruhkan hidupnya. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, hidupnya akan lenyap. Gelapnya asap kematian akan memakan segalanya. Ia sendiri bahkan tidak dapat merasakan detak jantungnya. Entahlah, mungkin detak jantungnya saat ini mulai melemah.

“Kau siap?”

Baekhyun membalikkan badannya. Ah, Sehun. Asisten Yoona.

“Ya, tentu saja”

***

            Yoona menegang. Dari delapan jam lalu. Ia tidak bisa rileks. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin, menyikiti pita suaranya sendiri.

Di bawah tumpukan tanah itu saat ini terdapat anak sematawayangnya yang telah di panggil Tuhan. Tuhan lebih menginginkan Cristina.

Setiap detakan jantung Yoona seakan-akan menggandakan sakit yang ia rasakan.

Anak sematawayangnya meninggal begitu saja. Hanya karena penyakit yang ia tangani sendiri. Ia merasa bodoh. Sangat bodoh. Tolol.

“Ayo, kita pulang” Ucap Baekhyun pelan, menyentuh halus pundak istrinya.

Yoona menggeleng. Air matanya tersibak kemana-mana. Terus-menerus jatuh tanpa henti. “An-Andwe…Jika aku pulang…Cristina akan…sendirian…kau tahu ia tidak suka…sendirian…”

Baekhyun menekukkan lututnya, ikut duduk di sebelah istrinya. “Dia tidak sendirian. Dia bahkan bersama Tuhan. Tuhan menjaganya”

Yoona menolehkan kepalanya, menatap Baekhyun dengan mata sembabnya.

“A-Aku…tidak…bisa”

“Yoona-ya, Cris–”

“Kau…membunuhnya. Kau membunuh Cristina. Kau membunuh anakku!”

Saat itu juga jantung Baekhyun terasa tertohok. Tersentak dengan sangat keras. Yoona menatapnya dengan mata yang diselimuti api hitam kemarahan. “Kau membunuhnya, kau tahu! Jika kau membiarkan aku yang mengoperasinya, dia tidak akan mati! Kau membunuhnya! Kau pembunuh, Byun Baekhyun!”

Baekhyun bahkan tidak bernafas. Nafasnya tercekat. Paru-parunya bahkan tidak mengempis.

“Kau…pembunuh…” Saat itu juga Yoona terjatuh dan masuk ke dalam dekapan Baekhyun.

Pingsan.

Sejenak Baekhyun hanya menatap Yoona. Pucat pasi. “Kita harus pulang, sayang. Kau tahu itu” Bisik Baekhyun pelan.

Hatinya terasa teriris tajam. Ucapan Yoona yang mengatakannya ia adalah seorang pembunuh–

Baekhyun segera menghapus air matanya dan menggendong Yoona, masuk ke dalam mobil dan segera pulang.

***

            Baekhyun menyesap pelan kopinya. Ia masih berdiam diri di ruang makannya sedangkan Yoona masih tertidur tenang di kamarnya. Kopi tanpa gula yang ia minum saat ini bahkan tidak terasa pahit atau hambar. Kenyataan jauh lebih pahit. Kenyataan yang baru saja menamparnya.

Tidak ada Cristina lagi.

Hanya ada seorang pembunuh bernama Baekhyun.

Bukan hanya Yoona saja yang merasa kehilangan. Baekhyun juga. Ia juga merasa telah membunuh anaknya sendiri. Tapi saat Yoona mengatakan ia seorang pembunuh…terasa jauh lebih sakit.

“AAAAAAAAAAHH!!!!!!!!”

PRANG.

Fokus Baekhyun terpecah dan ia segera berlari menaiki anak tangga rumahnya, melompati beberapa anak tangga dan menemukan kamar Yoona berantakan dengan pecahan lampu tidurnya. “KAU!! KAU PEMBUNUH! KAU MEMBUNUH ANAKKU, BYUN BAEKHYUN!!! SEHARUSNYA KAU JUGA IKUT MATI! KAU SEHARUSNYA JUGA TERKUBUR DI DALAM NERAKA SANA!!!”

“Yoona-ya, tenanglah. Tenang” Ucap Baekhyun pelan.

“JANGAN PERNAH LAGI KAU MEMANGGILKU!! AKU MEMBENCIMU!!” Teriak Yoona keras. Semburan air mata kembali meluncur dari matanya.

“Yoona-ya–”

“SUDAH KUKATAKAN PADAMU JANGAN PERNAH MEMANGGIL NAMAKU LAGI, PEMBUNUH!! KAU PEMBUNUH TAK LAYAK HIDUP!!”

Badan Baekhyun menegang. Ia membeku di tempatnya.

“Aku suamimu–”

“AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMPUNYAI SUAMI SEORANG PEMBUNUH SEPERTIMU!!”

Dan kini Baekhyun sadar. Setiap hembusan nafas yang ia hembuskan saat ini…percuma. Ia telah menjadi seorang pembunuh di mata Yoona. Yoona membencinya. Yoona tidak menginginkannya.

***

            “Yoboseyo?

“Kau dimana? Datanglah ke rumahku”

***

            Baekhyun hanya menyatu pada keheningan ruang makannya. Matanya menyayu dan kantung matanya mulai menghitam.

Tap…Tap…Tap

Baekhyun mendongakkan kepalanya saat mendengar suara langkah kaki. Ia hanya dapat terdiam, ia tidak boleh bergerak. Apalagi terlintas di hadapan Yoona, tidak boleh.

Laki-laki beriris pure hazel itu baru saja turun dari lantai dua rumah si laki-laki beriris autumn– bersama si perempuan iris madu. Tangan porselen laki-laki itu melingkar hangat di pundak si perempuan. Tampaknya si perempuan sudah tenang. Jauh lebih tenang ketimbang saat bersama si laki-laki beriris autumn.

Cklek.

Pintu tertutup.

Baekhyun menghela nafasnya kasar. Ia berjalan gontai menuju ruang keluarga, iris autumn-nya melirik foto pernikahannya bersama Yoona yang terpampang jelas dan besar di dinding rumahnya.

Baekhyun tersenyum. Yoona tersenyum. Dalam foto itu.

Hal terbaik untuk saat ini adalah Baekhyun harus menyembunyikan dirinya dari tatapan Yoona. Ia tidak boleh menampakkan dirinya di hadapan Yoona. Pikir Baekhyun.

Dan jadilah keputusan bahwa ia menitipkan Yoona pada Sehun. Membiarkan Yoona tinggal kembali di rumah orang tuanya.

Fokus Baekhyun teralihkan pada suara ponselnya.

“Yoboseyo?”

Baekhyun-ah? Kau dimana? Kau harus ke rumah sakit. Ada pasien yang membutuhkanmu

***

            “Coret nama Yoona dari daftar dokter yang aktif” Gumam Baekhyun pelan pada seorang staff rumah sakit.

“Waeyo?” Mata staff perempuan itu membulat.

“Dia tidak akan aktif bekerja untuk beberapa pekan ke depan” Jawab Baekhyun, tidak ingin membuka keperihannya. “Ada masalah kecil”

Staff perempuan itu terdiam sejenak. “Baiklah, dokter”

“Gamsahamnida” Baekhyun tersenyum kecil lalu membalikkan badannya. Dan saat ini, Sehun berdiri tepat di hadapannya. “Hey. Bagaimana keadaannya? Kau menemukan rumah orang tuanya? Apa aku memberikan alamat orang tuanya dengan jelas?”

Sehun menghembuskan nafasnya. Ia melangkahkan kakinya, disusul Baekhyun. “Kau menuliskan alamatnya terlalu jelas” Gumam Sehun. “Dia baik-baik saja. Ibu Yoona ingin menemuimu. Mungkin ingin membicarakan hal ini”

Baekhyun mencoba mengolah setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Sehun. “Baiklah” Respon Baekhyun singkat.

“Aku hanya ingin meminta tolong padamu,” Baekhyun terdiam sejenak. Iris pure hazel itu menatap Baekhyun serius. “Jaga dia. Aku akan memberitahumu hal-hal yang ia suka dan ia benci. Makanan yang ia suka, beberapa alerginya, dan yang lainnya. Kau hanya perlu menjaganya”

“Ak–”

“Tenang saja, aku juga akan mengirim uang ke rekeningmu. Berikan saja nomor rekeningmu, kurasa kau tahu nomor ponselku. Aku harus pergi dulu, masih ada pasien yang harus kutangani” Baekhyun sama sekali tidak memberikan kesempatan Sehun untuk mengucapkan sepatah katapun. “Aku percaya padamu”

Baekhyun melangkah gontai. Sepanjang jalan ia hanya menunduk dalam. Ia telah kehabisan akal untuk menghadapi Yoona ke depannya nanti– atau bahkan ia sendiri kehilangan keberaniannya untuk menemui Yoona.

***

            Baekhyun sendiri bahkan lupa hari ini adalah hari apa. Rabu atau Sabtu, ia lupa. Sudah dua hari ini ia tidak bisa tertidur nyenyak. Hanya tertidur selama tiga jam dan terjaga hampir selama dua puluh jam.

Baekhyun sadar hari telah berganti. Tepat empat jam setelah tengah malam dan ia masih terjaga. Laki-laki beriris autumn itu meraih hoodie hitamnya lalu segera mengenakannya. Ia tidak gila tapi ia berniat berjalan-jalan sejenak di sekitaran rumahnya. Mencari kesibukan aneh untuk– setidaknya– dapat melupakan masalah Yoona. Sedikit dan sebentar saja.

Laki-laki itu butuh ruang untuk bernafas.

Dadanya terasa sesak. Masalah ini terlalu menghimpit dirinya.

Baekhyun mulai melangkahkan kakinya. Kepulan uap itu terus keluar seiring deru nafasnya. Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya. Matanya menyapu sekeliling.

Mata Baekhyun terhenti saat melihat seorang laki-laki menggendong seorang anak perempuan kecil. Anak perempuan itu tertidur lelap dalam dekapan sang ayahnya.

Baekhyun tersenyum kecil.

Sosok kasih Cristina terlintas di pikirannya.

Betapa ia merindukan anak perempuannya. Istrinya. Keluarganya.

Dan semuanya hancur karena tangannya.

Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya. Kini lebih pelan. Perempuan yang biasanya selalu berjalan di sebelahnya, kini menghilang. Seakan-akan lenyap. Hidupnya kini terlalu rumit, pikir Baekhyun. Bahkan ia lelah berpikir.

***

            “Bagaimana keadannya?”

“Kau tahu, dia baik-baik saja. Kau menanyakan keadaannya setiap dua jam sekali, Baekhyun-ah”

“Apa dia pernah mengungkit tentang Cristina? Atau aku?”

“Tidak. Aku bahkan bingung, dia seakan-akan amnesia”

Itu…Kurasa lebih baik seperti itu. Jika melupakanku dapat membuat dirinya baik-baik saja, maka itu baik-baik saja.

***

Baekhyun membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali dan mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya.

Ia sendiri.

Sudah lama sekali semenjak insiden itu.

Sebulan lalu.

Ia bangun dan menemukan ia hanya tidur sendirian. Tidak ada Yoona. Tidak ada iris madu. Tidak ada sosok shikshin. Tidak ada paras cantik. Tidak ada, lagi.

***

Baekhyun tidak akan pernah bisa fokus pada film yang saat ini sedang diputar di sebuah bioskop. Fokusnya hanya tertuju pada Yoona. Yoona yang sedang duduk di depannya.

TBC

Advertisements

15 thoughts on “[FF-Twoshoots] The Simple Thing (1/2) (Sequel of Save You)

  1. Aduh,,,kasian baekhyun oppa….
    Knp sifat yoong eonni jadi sgt berubah….??? Moga aja baekyoon bisa kembali bersama…

    Ditunggu part selanjutnya thor

    Like

  2. What ?
    Kasian sekali baekhyun ini !
    Yoona tidak bisa kah memaafkan?
    Toh klo sama yoona juga belum tentu berhasil..
    Last chap aku tunggu ya?
    Endnya Oh Yoona or BaekYoon.

    Like

  3. Waaa.. Ternyata Jadi Rumit..
    Pengen Nangis Pas Baca d Scene Yoona teriak ke Baekhyun d Pemakaman iTu..
    Emosinya nyampe Banget…
    Salut Buat Uri Author Dah..
    Q tunggu Kelanjutannya Yea?? Semoga BaekYoon bisa bersama Lgi… Tp ga mnghrap bgt juga sh..
    Soalx Author suka Bkin kejutan Tak trduga… Hehehe..
    Yg penting Happy Ending… Ok

    Like

  4. wah…
    wahh…
    ini nyambung sama cerita yang yoona punya anak sama sehun ya thor??
    haduh,, pusing bacanya kee balik-balik. maklm thor baru nemu web ini jadinya baru kebaca satu-satu..
    heheheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s