[FF-Twoshoots] The Simple Thing (2/2) (Sequel of Save You)

Author: Clora Darlene

Tittle: The Simple Thing Part 2/2

Genre: Romance, Marriage Life.

Main Cast: EXO-K’s Byun Baekhyun & GG’s Im Yoon Ah.

Rating: PG-13.

Disclaimer: Mine.

Author note: Jreng! Ta-Da! Here we go 2/2! Maaf banget kalo ngecewain dan kata-katanya amburadul. Scene-nya pada pendek-pendek dan gak jelas :( Dan maaf karena FF saya terus-menerus gak ada posternya-_- Hope you like it, readers! :B *smooch

Sequel before: Save You & [Twoshoots] The Simple Thing (1/2) (Sequel of Save You)

Posted/Published on YoongEXO too.

***

Baekhyun tidak akan pernah bisa fokus pada film yang saat ini sedang diputar di sebuah bioskop. Fokusnya hanya tertuju pada Yoona. Yoona yang sedang duduk di depannya. Yoona yang sedang memunggunginya, atau dengan kata lain- saat ini Baekhyun sedang duduk tepat di belakang Yoona.

“Filmnya sudah selesai. Kajja, kita pulang” Sehun adalah orang pertama yang membuka suaranya.

“Andwe!” Seru Yoona imut.

Oh, tidak.

Betapa Baekhyun merindukan suara itu.

“Ayo kita makan dulu. Aku lapar” Yoona mengerucutkan bibir pink-nya.

Yoona yang sedang mengerucutkan bibirnya….adalah hal terimut dalam hidup Baekhyun.

“Arasseo. Kajja” Sehun dan Yoona bersamaan bangkit, dengan tangan Yoona yang sudah melingkar sempurna di lengan Sehun. Baekhyun menurunkan sedikit snapback-nya, menyembunyikan wajahnya dan menghindari lirikan iris madu Yoona. Setelah yakin bahwa ia bisa keluar, Baekhyun berjalan keluar. Mengikuti Yoona dan Sehun, sebenarnya. Masuk ke dalam sebuah restauran dan duduk lumayan jauh dari sepasang dokter dan asisten itu.

Hal-hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan Byun Baekhyun selama tiga bulan terakhir. Mengikuti Yoona kemana pun ia pergi- secara diam-diam. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk melihat Yoona. Setidaknya walaupun tanpa interaksi atau kontak mata sekalipun.

“Kau tahu adegan saat mereka…”

Yoona tertawa.

Baekhyun tersenyum kecil- dalam tundukan dalamnya.

Ia bosan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia sangat merindukan Yoona. Tapi ia benar-benar merindukan Yoona.

“KAU PEMBUNUH!!!

Baekhyun tersenyum miris lalu menyeruput minumannya. Penekanan keras pada teriakan Yoona saat itu masih terekam jelas di otaknya. Sangat jelas dan jernih. Sesaat percakapan antara ia dan ibu Yoona terbesit cepat di otak Baekhyun bak kereta express.

“Biarkan dia dulu bersama Sehun. Ada akan kalanya saat ia kembali kepadamu”

Dan Baekhyun benar-benar menunggu waktu itu. Waktu saat Yoona kembali ke dalam pelukannya. Tidak melihatnya sebagai pembunuh. Tetapi sebagai Byun Baekhyun, suami seorang Im Yoon Ah.

Ia hanya perlu bertahan untuk Yoona. Itu saja.

***

            Minggu, 7:29 AM Korea Standard Time- Ecological Forest, Seoul Forest.

Baekhyun telah terduduk di salah satu bangku di zona Seoul Forest, yaitu Ecological Forest. Zona yang memanjakan para pengunjung dengan tanaman dan pepohonan serta udara segar. Ia sendiri bahkan sudah siap dengan pakaian olahraga abu beserta snapback-nya. Ia hanya terduduk dengan bola mata yang terus bergerak. Mencari sesosok perempuan beriris madu- beserta sang laki-laki beriris pure hazel.

Tidak ada yang berubah dari seorang Yoona. Perempuan itu tetap menyukai pergi ke Seoul Forest setiap minggu pagi. Setidaknya hanya untuk berlari-lari pagi.

Ya, tidak ada yang berubah dari Yoona.

Mata Baekhyun terus bergerak hingga matanya menangkap sosok seorang perempuan yang mengenakan jaket pink beserta seorang laki-laki yang mengenakan jaket biru. Keduanya tertawa, oh tentu saja.

“Ayo kita ke Hangang Riverside Park” Celetuk Yoona.

“Untuk apa? Kau ingin main ski air?” Alis kiri Sehun terangkat.

Yoona tersenyum lalu mengangguk semangat. “Kau mengetahui diriku dengan baik, Sehun-ah” Yoona terkekeh pelan.

“Kita tidak bawa baju ganti, ingat”

“Ah, masalah itu” Yoona mengangguk pelan. “Kita bisa membeli baju atau aku tidak keberatan pulang dalam keadaan basah kuyup”

Iris pure hazel Sehun terputar. “Yang benar saja, aku tidak bisa membiarkanmu basah kuyup”

“Ayolah, Sehun-ah” Yoona merengek bak anak kecil. Bahkan ia sampai menarik-narik tangan Sehun.

Sehun menghela nafasnya. “Baiklah. Tapi aku tidak akan main”

“Hm,” Yoona menggumam tidak jelas. “Baiklah. Kajja!”

Tentu saja iris autumn Baekhyun dapat menangkap kedua sosok itu menjauh. Pergi menuju Hangang Riverside Park. Baekhyun menurunkan snapback-nya lalu mulai mengikuti Yoona dan Sehun.

Sehun adalah orang pertama yang tahu jika ia diikuti. Ia tahu bahwa ia diikuti Baekhyun, tepatnya. Hal seperti ini sudah biasa untuk Sehun sendiri dan Baekhyun juga telah menjelaskannya pada Sehun. Dan Sehun mulai mengerti.

Besarnya cinta seorang Byun Baekhyun untuk seorang Im Yoon Ah.

Seorang Im Yoon Ah yang ia sendiri juga mencintainya.

“Aku tunggu di sini” Gumam Sehun.

Yoona mengencangkan pelampungnya. “Kau yakin? Ini akan sangat seru, kau tahu” Goda Yoona.

Sehun tersenyum kecil. “Aku sedang tidak ingin basah. Hati-hati”

“Baiklah. Bye!” Yoona melambaikan tangannya lalu pergi bersama seorang instruktut ski air.

Baekhyun hanya dapat memandangi Yoona yang telah menjauh dan Sehun yang masih berdiri di tempatnya. Kedua tangan porselen Sehun dimasukkan kedalam saku celananya. Baekhyun sendiri juga ikut terdiam.

Ini terlalu rumit.

Ia hanya ingin istrinya kembali kepadanya. Itu saja. Tidak ada hal lain.

Butuh sekitar tiga puluh empat menit sampai Yoona kembali dari aktifitas ski air-nya. Badannya tentu saja sudah basah kuyup. Bahkan rambutnya juga telah basah.

“Ini seru, kau harus mencobanya. Sungguh” Yoona tertawa sembari melepaskan pelampungnya.

“Aku sudah sering melakukannya” Sehun tersenyum kecil lalu memakaikan jaket birunya pada Yoona. “Kajja, kita pulang” Sehun melingkarkan tangannya pada bahu Yoona lalu menuntun perempuan itu ke mobil.

Baekhyun?

Ia hanya dapat terdiam. Menyembunyikan wajahnya di balik snapback yang ia pakai. Bahkan ia iri kepada Sehun. Laki-laki beriris pure hazel itu bisa merangkulkan tangannya pada Yoona. Sedangkan ia sendiri yang menjabat sebagai suami sah Yoona…tidak bisa. Ia iri kepada Sehun.

Melihat wajah bahagia Yoona, senyum dan tawa perempuan itu, membuat Baekhyun lega. Ia bersyukur karena perempuan itu bisa kembali ke kehidupannya dulu- walaupun tidak adanya dirinya di dalam bagian hidup Yoona saat ini.

Aku tetap mencintainya. Dan akan selalu seperti itu.

***

            “Ini raspberry-mu, Baekhyun-ah” Taeyeon menaruh sebuah mangkuk putih berisi raspberry merah segar di meja kantor Baekhyun.

“Gomawo” Baekhyun tersenyum kecil. “Aku akan keluar sebentar” Baekhyun bangkit dari duduknya, keluar dari kantornya lalu melangkah menghampiri seorang staff. Sejenak mereka berbicara- tampak serius.

“Rumah sakit ingin kepastian tentang Yoona”

“Aku akan menemui pemimpin” Ucap Baekhyun. “Gamsahamnida” Baekhyun tersenyum lalu kembali ke kantornya. Taeyeon telah pergi. Dan hanya ada mangkuk putih berisi raspberry merah segar.

“Baekhyun?”

Baekhyun mendongakkan kepalanya- sembari memakan raspberry-nya. Ah, Sehun. “Masuklah”

Sehun melangkahkan kaki jenjangnya, duduk tepat di hadapan Baekhyun yang sedang mencomot satu per satu raspberry-nya. Sejenak Sehun terfokus pada tangan Baekhyun yang mengambil raspberry satu per satu. “Kau memakan raspberry?”

“Ya. Waeyo?” Kening Bakehyun mengerut.

“Setiap pagi seperti ini?”

Baekhyun mengangguk. “Ya. Kenapa?”

Sehun memencet tombol bel rumah orang tua Yoona, berencana akan pergi berjalan-jalan bersama Yoona. Pintu putih itu terbuka, menampilkan sosok Yoona yang sedang membawa sebuah mangkuk. “Sehun-ah!”

            Sehun tersenyum. “Ne? Waeyo? Kau sudah siap?”

            “Ne. Tunggulah. Kau mau raspberry? Aku sudah menyiapkannya untukmu” Yoona tertawa kecil lalu menyodorkan semangkuk raspberry kepadanya.

“Ada apa?”

“Yoona-ya? Kau di sini?” Sehun melirik jam tangan yang masih melingkar di tangannya. “Ini masih jam tujuh pagi”

            Yoona tersenyum lebar lalu menunjukkan kantung keresek putih. “Aku bawakan kau raspberry”

“Sehun?” Baekhyun menjentikkan tangannya tepat di depan wajah Sehun, membuat laki-laki beriris pure hazel itu sedikit tersontak.

“Apa?”

“Ada apa?”

Sehun bingung. Ia tidak mengerti harus menjelaskan hal ini dari mana. Entahlah, ini sebuah kebetulan atau-

“Ada pasien yang harus kautangani”

***

            “Baekhyun-ah, kau ada pertemuan bersama Dokter Park Chanyeol” Beritahu Taeyeon.

Baekhyun mendongakkan kepalanya sedikit. “Baiklah. Aku akan ke sana. Gomawo” Baekhyun tersenyum kecil lalu membiarkan Taeyeon keluar dari ruangannya. Baekhyun segera membereskan barangnya dan segera menancap gas ke sebuah rumah sakit- bertemu dengan seorang dokter bernama Park Chanyeol- dokter spesialis bedah otak.

“Sehun-ah?”

Sehun membalikkan dirinya. Iris pure hazel-nya menangkap sesosok Yoona tengah berdiri di hadapannya saat ini, di rumah sakit tempat ia bekerja.

“Yoona-ya? Ada apa? Kenapa kau ke sini?” Tanya Sehun, menghampiri Yoona.

“Aku bawakan raspberry” Yoona tersenyum lebar lalu memperlihatkan sebuah kotak berwarna tosca pada Sehun.

“Kau baik sekali” Sehun tersenyum.

***

            Seharusnya aku telah jatuh cinta kepadanya. Seharusnya aku telah mencintainya. Kami melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama. Menghabiskan waktu-waktu kami bersama. Ya, bersama. Dan seharusnya aku telah jatuh cinta kepadanya. Kepada seorang Oh Sehun.

            Tapi faktanya, perasaan itu tidak pernah ada sampai sekarang.

            Ada perasaan lain yang kurasakan, pada orang lain. Entahlah, tapi terasa kosong. Seakan-akan ada yang hilang dan aku tidak mampu menemukan potongan yang hilang itu.

            Ya, pasti ada yang hilang.

            Aku hanya merasa tidak lengkap saat ini.

***

            Apa aku semakin salah?

            Aku semakin mencintainya.

            Tapi aku benar-benar mencintainya. Aku juga ingin ia tetap berada di sisiku seperti ini. Aku juga ingin ia tetap bersamaku.

            Egois? Apa aku peduli? Ayolah, tidak.

            Di saat ia milik orang lain dan aku semakin ingin merengkuhnya. Tidak ingin melepaskannya.

***

            Awal saat semua ini terjadi, aku masih belum bisa beradaptasi. Bagaimana aku bisa bertahan atau semacamnya. Di saat milikku sendiri ada di tangan orang lain.

            Dan saat ia tertawa, tersenyum, bahkan itu semua bukan karena aku. Tapi karena orang lain. Adanya orang lain.

            Pembunuh?

            Apa benar aku seorang pembunuh?

            Melemparku ke penjara terdengar lebih baik dari pada perempuan itu hilang lenyap dari hidupku.

            Di saat salah tulang rusukmu sendiri hilang lenyap, apakah kau masih bisa hidup? Hilang satu saja sudah tidak lengkap. Begitulah, aku. Dirinya hilang maka aku tidak lengkap. Selalu sesederhana itu.

***

            Hanya dengan sekali sentakan, pintu mobil hitam Baekhyun terbuka dan dokter bedah saraf itu turun dari mobilnya. Membawa tas hitamnya dan melipat kedua sisi lengan kemejanya.

BRUK!

Baru saja ia sampai di depan pintu rumah sakitnya, seseorang menabraknya.

“Mianhaeyo”

Ia tahu suara itu.

Baekhyun mendongakkan kepalanya.

Iris madu itu menatap iris autumn-nya.

Yoona.

Dirinya saat ini berhadapan dengan Yoona, saling membalas tatapan dan Baekhyun sendiri tidak dapat mempercayainya. Suaranya saja sampai tercekat.

Kening Yoona mengerut.

“Cristina telah tiada. Aku tidak dapat menyelamatkannya. Maafkan aku. Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo”

            “Pem…bunuh” Iris madu Yoona menatap kosong iris autumn Baekhyun . Iris madu itu terlihat telah tergenang.

Ada rasa sakit tajam menusuk jantung Yoona saat itu juga. Ia tidak dapat bernafas dengan normal. Nafasnya terhenti sementara.

“Kau…pem..bunuh…”

Baekhyun menahan suaranya. Ia hanya tersenyum kecil lalu masuk ke dalam rumah sakit.

“Yoona masih di depan. Pergilah, jemput dia dan antarkan dia pulang” Ucap Baekhyun pelan pada Sehun lalu masuk ke dalam kantornya. Baekhyun memijat pelipisnya sembari ia mendudukkan dirinya pada kursi putar hitamnya.

Ia bertemu Yoona. Bertatap mata dengan Yoona. Baru saja.

“Pembunuh?” Baekhyun mendengus pelan lalu tersenyum miris.

***

            Baekhyun melewatkan tengah malamnya hanya memandangi foto pernikahannya bersama Yoona. Sampai saat ini Yoona bahkan masih mengatakannya seorang pembunuh. Ia sadar, bahwa kesalahan terbesarnya adalah tidak membiarkan Yoona yang mengoperasi Cristina saat itu.

Ingatan akan saat ia mengoperasi Yoona dulu terlintas di otaknya seperti sebuah film kecil tentang kehidupan. Ia juga dulu hampir kehilangan Yoona, hampir. Dengan penyakit yang sama. Ia dapat merasakaan kegelisahannya dulu saat mengoperasi Yoona. Ia dapat merasakannya saat ini. Ia masih mengingat perasaan jantungnya yang melemah saat melihat garis lurus itu nyata. Ada seberkas kesakitkan yang diliputi kelegaan yang ia rasakan.

Ketidakadaannya dia saat ini di dalam hidup Yoona-

Aku mencintainya. Sesederhana itu. Ada atau tidak adanya diriku, perasaan itu akan dan tetap selalu ada.

***

            Byun Baekhyun menaruh sebuket bunga di atas makam anak perempuannya. Ia hanya terdiam. Ia bergelut dengan hati beserta pikirannya. Rasa bersalah itu selalu saja ada. Menghantui dirinya sebagai sosok bayangan tergelap yang mengerjarnya kemana saja.

“Kenapa kau ke sini? Kau berani datang ke sini?”

Baekhyun membalikkan tubuhnya.

“Pembunuh”

Yoona.

“Annyeonghaseyo, Im Yoon Ah-ssi” Baekhyun tersenyum kecil.

“Kau tidak layak memanggil namaku” Mata Yoona menatap Baekhyun tegas, tapi genangan air itu menutupi iris madunya.

Baekhyun terdiam, nafasnya masih terasa ringan. “Jadi apa yang harus kulakukan untuk layak memanggil namamu?”

“Mati. Kau mati dan kau baru layak memanggil namaku-”

“Jadi bunuhlah aku” Potong Bakehyun, membalas tatapan tegas Yoona. “Bunuh aku”

Aku juga ingin memanggil namamu.

“Kau membunuhku pelan-pelan. Bunuh saja aku langsung” Baekhyun tersenyum miris.

Tidak tahukah kau betapa sakitnya merindukanmu?

“Ya, kau membunuhku pelan-pelan” Baekhyun mendengus kasar lalu tertawa hambar. Ia sedikit menunduk lalu mengusap air matanya.

Yoona’s P.O.V

            Laki-laki itu…menangis…?

Jebal, ujimarayo…Jebal

“Waeyo? Kenapa kau tidak membunuhku secara langsung?” Iris autumn-nya menatapku lekat-lekat. Terlihat mengkilap karena cairan air matanya.

“Membunuhmu tidak akan mengembalikan Cristina-ku” Tukasku.

“Cristina” Baekhyun tersenyum kecil, tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan kosong. “Cristina Byun” Senyum Baekhyun mengembang.

Oh, tidak.

Sudah berapa lama aku tidak melihat senyuman itu? Satu tahun? Dua tahu? Tiga tahun? Kenapa terasa lama sekali?

“Kau tahu itu nama yang bagus” Baekhyun terkekeh hambar. “Cristina Fernandez Byun”

“Pembunuh sepertimu-”

“Aku ayahnya. Tidakkah kau ingat?” Baekhyun menatapku kembali. “Aku ayahnya. Aku adalah laki-laki yang pernah Cristina panggil dengan sebutan appa. Aku adalah laki-laki yang pernah Cristina mintai cokelat di saat kau melarangnya memakan cokelat”

“Umma jahat. Appa, umma jahat kepadaku”

            “Baekhyun-ah, apa aku jahat?”

***

            Author’s P.O.V

            Yoona menggigit bibirnya saat film kecil tentang keluarganya terlintas di otaknya. Saat perempuan kecil itu memanggil ‘appa‘ dan saat dirinya sendiri memanggil nama laki-laki itu. Yoona menutup mulutnya, menahan teriakannya sekuat tenaganya. Air matanya menyembur begitu saja dari mata sayunya. Iris madunya telah basah kuyup dengan cairan beningnya. Setiap detak jantungnya seakan-akan memberi hentakan keras pada dirinya. Bahkan kaki jenjangnya sudah tidak kuat untuk menompang dirinya sendiri.

Tidak. Dia adalah seorang pembunuh. Iya, dia adalah seorang pembunuh. Dia sudah membunuh Cristina. Dia adalah orang yang mengirimkan Cristina ke bawah tanah sana.

Perasaan apa ini…

Jantung Yoona terus berdegup lebih cepat. Ingatannya bersama sosok laki-laki di hadapannya saat ini terlintas cepat. Perasaan yang sudah lama terkubur dan tidak pernah ia rasakan lagi. Perasaan yang hampir mati. Perasaan…bahwa ia lengkap saat ini.

“Ba..Baek-Baekhyun-ah…” Isak Yoona.

Baekhyun tersenyum manis lalu menyodorkan tangannya. “Kajja, kita pulang”

***

            Baekhyun mengelus pelan kening hingga pipi Yoona. Perempuan itu telah tertidur lelap. Telah berpindah alam ke alam mimpinya.

Yoonanya kembali. Miliknya telah kembali kepadanya.

Baekhyun mengecup kening Yoona cukup lama. Ia sendiri bahkan bingung dengan perasaannya saat ini. Bahagia, lega, cinta, segalanya. Yoona seakan-akan bentuk dari rangkuman kehidupannya. Singkat tapi cukup merangkup keseluruh hidup Baekhyun.

Baekhyun menjauhkan wajahnya dari wajah Yoona.

Entahlah, ia belum bosan memandangi wajah Yoona yang tertidur.

“Aku merindukanmu, kau tahu” Bisik Baekhyun pelan.

***

            Yoona adalah orang pertama yang membuka matanya. Iris madunya dengan sigap langsung mendapati sosok seorang laki-laki tertidur di sebelahnya- tertidur menghadapnya.

Seorang Byun Baekhyun.

Yoona tersenyum getir. Saat dirinya meneriaki Baekhyun seorang pembunuh, Yoona sadar. Bahwa ia kehilangan kendali atas dirinya. Ia terlalu tertekan. Kematian Cristina sangat tiba-tiba untuk dirinya dan ia sama sekali tidak siap.

Tapi Byun Baekhyun, di sini. Menunggunya.

Yoona mengelus pelan pipi Baekhyun. Ayolah, sudah berapa lama ia tidak melihat wajah ini? Terasa sudah sangat lama sekali.

Air mata yang tergenang itu akhirnya jatuh. Membasahi kulit pipi mulus Yoona. Sekejap Yoona langsung memeluk Baekhyun erat, hingga berhasil membangunkan Baekhyun dari tidur pulasnya.

“Yo-Yoon-ya?”

Yoona tidak merespon perkataan Baekhyun. Yang ada, ia malah lebih mengeratkan pelukannya.

Baekhyun dapat merasakan detak jantung Yoona. Detak jantung yang ia rindukan.

“Ma-Maafkan aku…” Yoona memulai perkataannya. “Ya, aku bodoh”

“Kau memang bodoh” Baekhyun mendengus pelan lalu terkekeh.

“Ak-” Ucapan Yoona terhenti saat sesuatu tidak enak terasa di mulutnya. Yoona segera pergi ke kamar mandi dan Baekhyun hanya dapat melihat istrinya dengan tatapan aneh.

“Ada apa?”

Yoona belum keluar dari kamar mandi.

Apa perempuan selalu seperti ini? Alis kiri Baekhyun terangkat.

“Aku harus pergi ke minimarket sebentar” Yoona segera meraih jaketnya beserta dompetnya dan hilang begitu saja di balik pintu kamar. Meninggalkan Baekhyun yang masih bingung.

***

            Oh, tidak.

            Tunggu.

Seharusnya ia bahagia. Seharusnya.

“Baekhyun-ah” Panggil Yoona.

Baekhyun yang masih terduduk di ranjang, mendongakkan kepalanya. “Wae?” Yoona mengerjapkan matanya polos. “Ada apa?”

Yoona menyodorkan sesuatu yang aneh. Sesuatu berbentuk panjang berwarna putih.

Test-pack.

“Aku hamil”

END

Advertisements

22 thoughts on “[FF-Twoshoots] The Simple Thing (2/2) (Sequel of Save You)

  1. Kyaaaa..
    Author-Niiiiimm…..
    Tuh kan.. Apa Q bilang…
    Pasti endingnya tak terduga..penuh kejutan….
    Mmm.. YoonA Hamil itu Ankx Sehun kh??
    Knpa pas BaekYeon bersatu mlah ad kejadian itu,…
    Aaa.. Q butuh sequel lagi niiihh….
    Ga rela kalo Kisah Baekhyun-YoonA berakhir seperti ini..
    Jeball… Bikin sequel ya Yaa..ya.. *pasang puppy eyes*…

    Like

  2. Sll deh..endingnya pasti gantung… Tp ini twoshoot kan thor? Masih ada 1part lagi kan? Terus itu yoong eonni hamil anaknya baekhyun kan,,,ga mungkin anaknya sehun kan??

    Ditunggu part selanjutnya…jgn lama” ya thor…

    Like

    1. Aduh aku lupa,,aku kira ini tadi part 1 ternyata ini part end….jadinya aku butuh sequel thor…tentang kejelasan anak siapa yg yoong eonni kandung,,tapi aku yakin pasti anaknya baekhyun….ya pasti

      ditunggu sequelnya…

      Like

  3. Akhirnya ya happy end , nggak tega sama baekhyun nya 😦
    Tp akhirnya luluh juga yoona nya dan Yye mau punya aegie yoona sama baekhyun :))
    Ditunggu ff lanjutnya thor ,

    Like

  4. iyaaaa..
    ini ada sekuelnya..
    kalau tau cinta baekhyun sebesar itu sama yoona yg di cerita sequelya aku gak akan bilang rela kalau itu sehun..
    mian thor
    ternyata aslinya gini..
    ckckckckc
    miris banget..
    dia rela dibilang pembunuh dan dia merelakan yoona melahirkan anak sehun??
    Gilaaa

    Like

  5. omg aku ampe nngis baca part yg di pemakan anknya gak nyangka air mataku jatuh sndiri bru kli ini nangis gara” ff:””)
    btw
    annyeong aku reader bru tpi udah bnyak baca ff kmu thor jjanv deh pokoknya(y) maaf bru bsa koment

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s