Love you to death (Sequel of The Simple Thing)

Author: Clora Darlene.

Tittle: Love you to death (Sequel of The Simple Thing)

Rating: PG-13.

Genre: Romance.

Length: Vignette.

Main Cast: EXO-K’s Byun Baekhyun & GG’s Im Yoon Ah.

Disclaimer: Mine.

Author Note: Ta-Da! Ini sequel terakhirnya :B Semoga suka, dan mian banget kalo feelnya gak dapet & kata-katanya amburadul. Atau alurnya kecepetan ;A; Hope you like it guys! 😉

***

“Ayolah, aku sudah lama tidak aktif di rumah sakit. Aku harus kembali ke sana” Yoona mulai membuka mulutnya, sembari memakan sarapannya. “Aku juga merindukan peralatan kedokteranku” Yoona mengerucutkan bibir pink-nya.

Baekhyun masih terdiam. Tatapannya kosong.

“Baekhyun-ah”

Baekhyun mendongakkan kepalanya. “Bukankah kau harus segera membeli susu ibu hamil?” Baekhyun mulai menyantap rotinya.

“Hm,” Yoona terlihat mulai menimbang-nimbang. “Kurasa. Aku penasaran, apa bayi kita akan lahir perempuan lagi atau laki-laki?”

“Aku ingin laki-laki. Biar aku bisa mengajaknya bermain airsoft” Baekhyun tertawa ringan.

“Hey, kau bahkan belum mengajakku bermain airsoft” Celetuk Yoona, hampir setengah berteriak. “Kau berjanji padaku”

Baekhyun mengerutkan keningnya. “Apa aku pernah berjanji?”

“Kau berjanji padaku” Yoona mengangguk dengan yakin.

“Ah, kau sedang hamil dan tidak mungkin aku mengajakmu” Baekhyun tersenyum lebar. “Aku harus pergi ke rumah sakit. Jangan melakukan hal-hal yang berbahaya” Baekhyun bangkit dari kursi makannya lalu melangkah mendekati Yoona.

“Aku tidak akan melakukan hal bodoh” Yoona kembali mengerucutkan bibir pink-nya.

“Kau yakin?” Alis kiri Baekhyun terangkat.

“Ten–” Ucapan Yoona berhasil terpotong saat bibir tipis Baekhyun mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman panas. Bibir tipis Baekhyun masih asik melumat dan mengeksplor isi mulut Yoona hingga perempuan beriris madu itu kehabisan nafasnya.

“Kau belajar dari mana, hm?” Tanya Yoona, menyudahi ciuman pagi mereka. Yoona terlihat terengah-engah dan mencoba menyembunyikan semburat merah tomat di pipinya. Sedangkan Baekhyun hanya terlihat membersihkan bibirnya.

“Sudah berapa lama aku tidak menciummu? Bahkan kau lupa?” Baekhyun tertawa mengejek.

Oh, tidak.

Muka Yoona berubah menjadi merah padam. Astaga. Ia pasti malu sekali.

“Aku pergi dulu” Baekhyun masih tetap tersenyum, menyadari wajah Yoona yang berubah menjadi merah padam karenanya.

“Baiklah. Hati-hati”

“Arasseo” Baekhyun meraih tas hitamnya lalu hilang di balik pintu rumahnya.

***

            “Apa kau yakin?”

“Tentu saja. Kami berpisah selama tiga bulan. Dan ia kembali dengan-”

“Aku tahu. Kau sudah menjelaskannya padaku”

“Ayolah, aku tidak mengerti hal seperti ini”

“Baekhyun-ah, bahkan kau juga seorang dokter”

“Aku menangani saraf, bukan kehamilan. Sedangkan kau dokter kandungan, kau pakarnya, Sooyoung-ssi”

“Yang kutakutkan jika-”

“Aku juga takut pada hal itu”

“Kau benar-benar tidak pernah melakukannya sebelumnya? Maksudku, mungkin sebelum insiden kau berpisah dengannya”

“Aku yakin, tidak. Aku tidak melakukannya. Sungguh”

***

            Taeyeon masuk ke kantor Baekhyun dengan sebuah mangkuk penuh raspberry. Diri kecilnya ia dudukkan di hadapan Baekhyun. “Raspberry-mu”

Baekhyun tersenyum kecil. “Gomawo, Taeyeon-ah”

“Berhentilah berterimakasih kepadaku, aku hanya melakukan pekerjaanku” Taeyeon menaikkan kedua pundaknya ringan. “Jadi bagaimana keadaan Yoona? Apa dia akan kembali aktif di rumah sakit?”

Baekhyun mengunyah raspberry-nya pelan, menikmati kenikmatan yang saat ini sedang bergulat dengan lidahnya. “Dia hamil”

“Hamil?” Mata Taeyeon membulat. “Woah, chukkaeyo” Taeyeon tersenyum lebar lalu menepukkan tangannya pelan. “Kau akan segera menjadi appa, lagi”

Baekhyun tersenyum kecil. “Seperti itulah” Baekhyun menelan raspberry-nya. “Kau melihat Sehun?”

“Dia mengambil cuti beberapa hari, sepupunya sedang sakit dan dia harus merawatnya” Jawab Taeyeon. “Waeyo?”

Baekhyun mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai marmer kantornya. “Tidak ada. Aku hanya ingin menemuinya”

***

            7:29 PM Korea Standard Time.

“Ayolah, Baekhyun-ah. Biarkan aku kembali ke rumah sakit. Jebal” Yoona kembali mengerucutkan bibirnya dan memasang puppy-eyes-nya. Honey puppy-eyes.

“Kau hamil, Yoona-ya” Gumam Baekhyun pelan. “Kau menutupi televisi, Yoona-ya. Duduklah, kau tidak perlu berdiri di depanku seperti itu” Baekhyun memutarkan kedua bola mata autumn-nya.

Yoona meloncat dan duduk di sebelah Baekhyun. Menyandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun dengan manja dan menarik-narik tangan Baekhyun. “Aku ingin kembali ke rumah sakit. Aku akan berhenti saat kandunganku menginjak tujuh bulan” Yoona membuat V­-sign dengan tangannya. “Sungguh”

Baekhyun melirik Yoona.

“Ayolah. Sekali ini saja” Yoona tersenyum lebar dan masih mencoba menyerang Baekhyun dengan honey puppy-eyes-nya.

Baekhyun menghela nafasnya.

“Kau masih mengingat asistenmu?” Tanya Baekhyun.

“Hm,” Yoona memasang tampang berpikirnya. “Ne”

“Siapa namanya?” Baekhyun menatap Yoona.

“Sehun. Oh Sehun” Jawab Yoona tenang.

“Kau mengingat apa saja yang–”

Sialan. Baekhyun melangkahkan kakinya, meraih ponselnya lalu segera menempelkan ponselnya pada telinganya. “Yoboseyo?”

Baekhyun-ah, kau harus segera ke rumah sakit. Pasien kamar VIP 354 tidak sadarkan diri

“Baiklah. Aku akan segera ke sana”

***

            11:49 PM Korea Standard Time.

Baekhyun mendorong pintu kantornya, masuk ke dalam ruangannya masih dengan mengenakan baju hijau operasinya. Tentu saja, semua orang akan memilih operasi malam karena akan lebih tenang. Baekhyun memutarkan kedua bola matanya.

Lelah? Tentu saja ia lelah.

Tapi ia juga bahagia. Seperti ada sengatan listrik yang mengalir di balik pembuluh darahnya.

Yang ia butuhkan saat ini hanya beristirahat sebentar. Sebentar saja, sebelum ia kembali ke rumahnya. Baekhyun melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di atasnya.

“Baekhyun-ah?”
“Baekhyun-ah?”

“Baekhyun-ah”

Baekhyun mengangkat kepalanya lalu mendongak.

“Yoona-ya?” Kening Baekhyun mengerut. “Jangan katakan kau datang menggunakan taksi”

Yoona mengetuk-ngetukkan kakinya lalu tersenyum. “Begitulah”

“Sudah kukatakan–”

“Kajja, kita pulang” Yoona tersenyum lebar, well sebenarnya ia sedang tidak ingin mendengar ocehan panjang suaminya.

“Aku lapar. Aku ingin makan” Ucap Baekhyun polos lalu melepaskan baju hijau operasinya dan membereskan barang-barangnya.

“Aku ingin makan sushi” Gumam Yoona.

“Kau bukan ingin, tapi kau mengidam, sayang” Baekhyun memutarkan bola matanya lagi.

Yoona hanya bisa tersenyum polos. “Kau bisa menyebutnya seperti itu”

***

            Dan di sinilah sepasang suami-istri itu berakhir. Di sebuah restauran Jepang yang buka 24 jam.

“Jika anak kita perempuan, kau akan memberikan nama apa?” Yoona mulai menyantap sushi-nya.

“Hm,” Baekhyun menggumam tidak jelas. “Mungkin Lauren atau Ilayda”

“Jika laki-laki?”

“Dennis Kane Byun” Baekhyun tertawa kecil lalu memasukkan makan malamnya ke dalam mulutnya. Makan tengah malamnya, tepatnya.

“Jika kembar?” Yoona memiringkan sedikit kepalanya, menatap Baekhyun dengan tatapan polosnya.

“Kita tidak mempunyai gen anak kembar, Yoona-ya”

“Kau menghancurkan imajinasiku, Baekhyun-ah” Yoona mendengus pelan.

Baekhyun tertawa ringan. “Aku hanya bercanda. Kau sudah membeli perlengkapan hamilmu? Susu ibu hamil dan sebagainya?”

“Ne. Aku sudah beli beberapa. Aku benar-benar tidak sabar menunggu Little Byun ini lahir” Yoona tertawa kecil dan seakan-akan tersenyum pada dirinya sendiri.

Little Byun?

“Aku akan kembali ke rumah sakit besok” Beritahu Yoona, masih tersenyum.

“Besok?” Baekhyun mengerutkan keningnya.

“Aku telah menelpon pimpinan dan dia menginjinkanku” Senyum Yoona bertambah lebar.

“Jadi kau tidak mengikuti kata-kataku?” Alis kiri Baekhyun terangkat.

“Jangan marah, Baekhyun-ah” Yoona mengembungkan pipinya, sorot matanya tampak menyayu. “Aku akan mati bosan di rumah. Kumohon, ayolah Baekhyun-ah”

Baekhyun menghela nafasnya. “Baiklah. Tapi kau hanya aktif sampai setengah hari. Bagaimana?”

Yoona terlihat menimbang-nimbang. “Baiklah, tidak masalah”

Baekhyun tersenyum tipis. “Kau menjadi pintar akhir-akhir ini”

Yoona menyipitkan matanya. “Jadi sebelumnya aku bodoh?”

Baekhyun menahan tawanya lalu mulai memakan makanannya. “Mungkin”

“Kau akan tidur di luar, sungguh”

Mata Baekhyun membulat. “A-Apa? Di luar? Itu tidak bisa”

“Tentu saja itu bisa” Tukas Yoona tak peduli dan tetap terfokus pada makanan yang sedang ia kunyah. “Kau akan tidur di luar”

“Aku kira kau sudah lupa dengan ancaman itu” Baekhyun mendengus pelan.

“Aku tidak akan melupakannya. Ingat, malam ini kau tidur di luar”

“Yoona-ya…” Rengek Baekhyun manja.

***

            Ini aneh, tentu saja.

            Aneh dan aku mulai takut.

            Takut jika pikiran rasionalku benar.

            Walaupun sebenarnya tidak mungkin, tapi bukankah zaman sekarang ini segala hal dapat terjadi? Selalu ada kemungkinan.

            Dan ketakutan itu mulai menjadi-jadi.

            Little Byun?

***

            “Sehun sudah kembali?” Tanya Baekhyun pada seorang staff rumah sakit.

“Dia akan kembali besok, dokter” Jawab staff perempuan tersebut.

“Ah, besok” Baekhyun mengangguk pelan. “Baiklah. Gamshamnida” Baekhyun tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya menuju kantor Yoona yang tidak jauh dari kantornya. “Selamat siang, Nyonya Byun” Baekhyun menahan tawanya.

Yoona yang mengenakan kacamatanya mendongakkan kepalanya. “Ah, Tuan Byun. Selamat siang” Yoona tertawa kecil.

“Kau tidak merindukan asistenmu?” Tanya Baekhyun berbasa-basi lalu duduk di hadapan Yoona. “Sehun akan kembali besok”

“Aku tiga bulan bersamanya” Yoona mulai menatap kosong. Aku tidak melupakan ingatanku bersamanya, hanya saja terlihat samar. “Kau sudah makan siang?”

“Aku masih ada pasien dan harus bertemu dengan Suho” Jawab Baekhyun ringan lalu melirik jam tangannya.

“Pergilah” Gumam Yoona pelan.

“Kau mengusirku?”

“Aku tidak mengusirmu”

“Kau mengusirku”

“Kau menganggap aku mengusirmu?”
“Tentu saja”

Iris madu Yoona terputar. “Aku tidak mengusirmu, sungguh”

Baekhyun tertawa kecil lalu bangkit dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Yoona. “Aku akan kembali secepat mungkin. Kau, segaralah pulang”

“Lihat, siapa yang mengusir sekarang” Yoona mengembungkan kedua pipinya.

“Aku tidak mengusirmu, sungguh” Baekhyun membuat V-sign dengan tangan kirinya dan memasang tampang polosnya. “Aku pergi dulu” Baekhyun melambaikan tangannya lalu keluar dari kantor Yoona.

Dan hanya tinggal Yoona. Yoona yang sedang melepaskan blazer putih dokternya dan membereskan barang-barangnya. Kaki jenjangnya ia langkahkan keluar kantornya, hingga langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. Yoona membalikkan badannya dan matanya bertemu dengan sepasang bola mata pure hazel.

“Sehun-ah?” Senyum Yoona mengembang. “Bukankah kau akan kembali besok?”

“Ya, aku akan kembali aktif besok. Aku hanya ingin memeriksa berkas-berkasku” Sehun tersenyum kecil, menghampiri Yoona. “Bagaimana keadaanmu?”

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” Senyum Yoona melebar. “Dan aku hamil” Bisik Yoona pelan lalu tertawa kecil.

“Ha-Hamil?” Mata Sehun membulat sedikit. “Chukkaeyo” Senyum Sehun ikut melebar.

“Gomawo” Yoona membalas senyum Sehun dengan senyum termanisnya. “Kau sudah makan siang?”

***

            Keesokan harinya.

Baekhyun memakai blazer putih dokternya sembari berjalan, hingga langkahnya terhenti saat iris autumn-nya menangkap sosok Oh Sehun.

Ia tidak dapat menahan dirinya.

Baekhyun melangkahkan kakinya, menghampiri Sehun.

“Kau sudah kembali?” Tanya Baekhyun berbasa-basi.

Sehun menolehkan kepalanya, tersadar bahwa seseorang berbicara kepadanya. “Ah, ne” Jawab Sehun seadanya.

“Ada yang ingin kutanyakan” Ucap Baekhyun santai namun serius.

“Apa?”

“Kurasa tidak di sini. Ikutlah ke kantorku” Ucap Baekhyun lalu melangkahkan kakinya menuju kantornya, diikuti Sehun di belakangnya.

“Seberapa penting?” Tanya Sehun berbasa-basi lalu menutup pintu kantor Baekhyun.

Dan pintu itu tidak tertutup sepenuhnya.

Baekhyun membalikkan badannya lalu bersandar pada meja kerjanya, membiarkan kedua tangannya menompang berat badannya. “Ini tentang Yoona”

Kening Sehun mengerut. “Yoona? Ada apa dengannya?”

“Aku hanya akan menanyakan satu pertanyaan” Baekhyun tersenyum kecil. “Jangan gugup dan jangan berbohong. Oke?”

“Langsung saja” Bantah Sehun.

“Kau melakukan seks bersama Yoona sebelum dia kembali kepadaku?”

***

            Yoona melangkahkan kakinya dengan bosan. Ia sudah menangani semua pasiennya. Hingga langkah kakinya membawanya menuju kantor suaminya.

Pintunya tidak tertutup rapat. Gumam Yoona pada dirinya sendiri.

Yoona mengintip dari celah pintu.

Ada Sehun dan Baekhyun.

Yoona tersenyum kecil. Tapi niatnya untuk masuk dan bergabung mengobrol bersama dua pria itu tidak terlaksa, hingga suara Baekhyun seakan-akan menampar keras dirinya.

“Kau melakukan seks bersama Yoona sebelum dia kembali kepadaku?”

***

            Sehun masih terlihat terdiam. Ia masih berdiri sekitar satu meter dari Baekhyun.

“Jadi?” Baekhyun kembali bertanya, wajahnya terlihat santai. “Kau melakukannya bersama Yoona? Jawablah. Dan, jangan berbohong” Baekhyun tersenyum kecil.

Sehun masih terdiam.

“Aku membutuhkan jawabanmu,” Baekhyun menggantungkan ucapannya. “Sehun-ssi”

“Ya” Sehun membuka suaranya dengan pelan, menunduk dalam. Bahkan suaranya hampir seperti sebuah bisikan. “Aku melakukannya

Kini giliran Baekhyun yang terdiam membeku.

Ah. Batinnya.

Lagi, perkiraannya saat ini benar. Tidak meleset.

Anak yang dikandung Yoona saat ini–

            “Janin Yoona saat ini adalah anakmu” Ucap Baekhyun.

“Ma-Maafkan aku, sungguh. Aku tidak berniat melakukannya, sungguh. Maafkan aku” Nafas Sehun mulai terengah-engah, suaranya bahkan tercekat. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya lebih keras.

Mengingat kesalahan besar yang telah ia lakukan.

Menghamili Yoona.

Baekhyun masih terdiam. Mencoba berpikir jernih.

“Ak–”

Saat itu juga Baekhyun melayangkan tonjokannya, memberikan sebuah hadiah kecil pada wajah mulus Sehun. “AKU PERCAYA PADAMU DAN KAU MENGHAMILINYA?!!!”

“Ak-Aku sungguh minta maaf” Sehun yang sudah tergeletak di lantai marmer kantor Baekhyun memegangi rahang kanannya.

“Yang benar saja” Baekhyun mendengus kasar. “Persetan dengan minta maafmu”

“Aku dan dia saat itu kehilangan kendali–”

Lost control?” Baekhyun kembali mendengus. Iris autumn-nya terlihat membara, menjadi satu dengan panas emosinya.

“Tapi saat kami melakukannya, sungguh dia memanggil namamu!” Bentak Sehun keras. “Dia memanggil namamu, bukan namaku”

Baekhyun membeku di tempatnya berdiri kini.

“Dia memanggil Baekhyun bukan Sehun. Namamu, bukan namaku. Yoona mengira aku adalah dirimu” Tukas Sehun lalu mencoba bangkit.

“BEDEBAH KAU SIALAN!!!” Lagi, Baekhyun melayangkan pukulannya, membuat Sehun yang baru saja bangkit kembali terjatuh keras.

Cklek.

Pintu kantor Baekhyun terbuka.

Iris autumn dan pure hazel itu sama-sama menolehkan pandangannya.

Yoona.

Dirinya terdiam membeku di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca. Kakinya terlihat bergetar hebat. Dadanya naik-turun dengan cepat, mengartikan nafasnya terengah-engah. Bibirnya terasa kelu. Ingin sekali ia berbicara, ingin sekali!

Tapi tidak bisa.

Terasa bisu. Atau suaranya habis.

Tidak. Ia bahkan kehabisan tenaganya untuk berbicara. Tenaganya telah terkuras habis untuk menghadapi fakta yang baru saja menyerangnya.

“Mi-Mian…hae” Air mata Yoona terjatuh, meluncur tanpa halangan di pipi putihnya. “Baek…Baekhyun-ah…Mi-Mian…hae..Bunuh aku…”

Baekhyun sendiri tidak dapat mengerakkan badannya. Ingin sekali ia memeluk Yoona tapi…janin yang ada di dalam tubuh Yoona saat ini adalah anak Sehun. Anak yang memiliki DNA yang sama dengan Sehun.

“Bu…nuh…aku” Yoona melangkahkan kakinya sempoyangan, menghampiri Baekhyun lalu terjatuh tepat di depan laki-laki dokter saraf itu.

“Ma-Maafkan aku…aku…aku tidak…menyadarinya…Baekhyun-ah!” Yoona berteriak keras, memeluk kaki Baekhyun lalu menangis kencang.

“Maaf…Maafkan…aku…Jeongmal…Jeongmal mian-mianhaeyo….” Yoona memejamkan matanya dan air matanya tetap mengalir.

Ia merasa kotor.

Membiarkan air matanya membasahi wajahnya.

Baekhyun masih tidak bergerak. Ia benar-benar dapat merasakan Yoona yang memeluk kakinya dengan erat.

“Ba…Baekhyun-ah….Kumohon…Bunuh aku…mi-mianhae….”

“BAEKHYUN-AH BUNUH AKU SUNGGUH!!!” Teriak Yoona keras. Iris madunya terlihat sayu. Hatinya kini terasa sangat sakit, terlalu sakit. Perih. Ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya ke sebuah jurang terdalam.

Baekhyun berjongkok, menatap iris madu Yoona lalu merengkuh wajah istrinya, menghapus air mata yang tetap mengalir dari mata istrinya. “Gwenchana”

“B-Bu…nuh…aku…” Isak Yoona pelan, hampir seperti bisikkan.

“Kau tidak ingat janji pernikahan kita? Sehidup-semati? Jika kau mati, maka aku mati juga, sayang. Uljimarayo” Baekhyun tersenyum kecil, mengelus pelan pipi istrinya. “Gwenchana”

Yoona menggeleng pelan. “Aku..ko…tor…”

Baekhyun mengusap kening Yoona. “Kajja, kita pulang”

***

            Yoona terduduk di atas ranjangnya. Kedua kakinya ia lipat. Tatapannya hanya sebuah tatapan kosong. Fakta kehidupan benar-benar menamparnya sangat keras.

Ingatan saat ia melakukannya bersama Sehun terus terputar di dalam otaknya.

Ia juga tidak tahu, bagaimana ia bisa lupa dan…mengapa ia melakukannya bersama Sehun.

Hidupnya seakan-akan sudah lenyap. Tidak ada jiwa di dalam tubuhnya. Tidak ada jiwa di dalam raga seorang Im Yoon Ah.

“Hey, makanlah” Suara lembut Baekhyun berhasil membangunkan Yoona dari lamunannya.

“Ba-Baekhyun…ah” Mata Yoona berkaca-kaca menatap Baekhyun. Seakan-akan setiap ia melihat Baekhyun, ia menatap kesalahan bodohnya sendiri. Ia…mengkhianati Baekhyun. Itulah yang ia rasakan.

“Kita akan memikirkan jalan keluarnya. Makanlah dulu” Baekhyun sudah siap dengan buburnya. Menyuapi Yoona dengan pelan.

Yoona menelan buburnya, lalu menatap Baekhyun sejenak.

“Apa?”
Yoona masih terdiam. Tatapannya menjadi sebuah tatapan kosong. “Gugurkan kandungan ini..”

“A-Apa?!” Suara Baekhyun naik satu oktaf.

“Y-Ya..Kita gugurkan kandungan ini…Kita gugurkan….” Yoona tersenyum hambar.

Baekhyun menaruh mangkuknya di meja sebelah ranjang Yoona. “Kau harus istirahat. Aku akan memikirkan jalan yang lainnya” Baekhyun tersenyum kecil lalu membantu istrinya untuk tidur.

***

            Menggugurkan kandungan Yoona?

Baekhyun menatap foto pernikahannya dengan Yoona dengan mata sayunya.

Setelah insiden pembunuh, kini hamil?

Baekhyun tetap terdiam. Ia seakan-akan berbicara pada otaknya sendiri.

Ia menghembuskan nafasnya pelan.

Janin yang dikandung Yoona adalah anak Sehun. Sehun adalah ayah biologisnya. Apapun yang akan terjadi, Sehun akan tetap menginginkan anak itu.

Jadi inilah keputusan Baekhyun.

Ia akan membiarkan Yoona melahirkan anak Sehun.

***

            “Yoona-ya” Panggil Baekhyun pelan.

“Ne?”

“Jangan gugurkan kandunganmu” Baekhyun tersenyum hambar. “Kumohon. Demi aku”

“W-Wa..e?” Mata Yoona mulai berkaca-kaca lagi.

“Demi aku” Baekhyun tersenyum tipis. “Demi aku, Yoona-ya. Lahirkan anak itu”

Hati Yoona terasa tercabik-cabik. Terlalu sakit. Ia harus melahirkan anak yang tidak memiliki aliran darah yang sama dengan…Baekhyun?

Yoona merasa sangat bodoh.

Kotor.

Tolol.

Ingin rasanya ia menusuk-nusuk dirinya sendiri. Oh, tidak. Bahkan luka-luka itu tidak akan sekakit hatinya kini. Hatinya sudah terpuruk karena fakta satu ini.

Ia tidak pantas lagi untuk Baekhyun.

Ia tidak pantas lagi.

“A-Apa kau akan…menceraikan…ku?” Yoona memberanikan dirinya untuk bertanya, bibirnya terlihat bergetar.

Baekhyun tersenyum memamerkan deretan gigi sempurnanya. “Aku tidak akan pernah menceraikanmu”

***

            “Aku membiarkannya melahirkan anakmu”

“Kenapa? Kenapa kau membiarkannya?”

“Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan anak. Jadi kubiarkan kau mendapatkan anakmu. Rawat dia sebaik mungkin, bodoh”

***

            Periode kehamilan tujuh bulan.

“Dia perempuan” Yoona tersenyum lebar, memamerkan hasil foto USG-nya pada Baekhyun.

Baekhyun hanya bisa tersenyum. Apa lagi yang bisa ia lakukan? “Dia akan secantik dirimu” Baekhyun tertawa ringan.

Sakit yang diberikan fakta kehidupan itu akan terus tertera di hatinya. Di dirinya.

Anak Sehun akan lahir dari rahim Yoona langsung.

Bahkan Baekhyun terus-menerus merawat Yoona yang hamil anak Sehun. Ia yang merawat perempuan beriris madu itu.

Hanya karena Baekhyun terlalu mencintai Yoona. Mencintai Yoona hingga batas kehidupannya berakhir.

***

            Yang kutakutkan adalah jika Yoona menginginkan anak itu. Jika Yoona juga ingin merawat anak perempuan Sehun. Aku takut.

            Setolol inikah dunia ini?

            Atau seperti ini kejamnya fakta kehidupan?

            Yoona ada di dalam sana. Merenggangkan nyawanya hanya untuk anak perempuan Sehun.

            Baekhyun memijat pelipisnya, hingga Sooyoung– seorang dokter kandungan dan kerabat Baekhyun– datang dan ia langsung bangkit dari kursinya.

“Bagaimana?”

“Yoona dan anaknya selamat” Sooyoung tersenyum simpul.

Tanpa disadari, senyum Baekhyun juga ikut mengembang. Seorang suster berbaju hijau datang dengan menggendong sesosok bayi lalu memberikannya pada Sooyoung. “Perempuan” Ucap Sooyoung lalu menyerahkan bayi itu pada Baekhyun.

Ia bukan ayahnya.

Pikiran itu telat datangnya saat anak perempuan mungil itu telah berada di dalam gendongan hangatnya.

Sosok kasih Cristina kembali membawanya ke masa lalu.

Saat sosok cantik itu baru terlahir ke dunia dan menjadi anak perempuannya. Merawatnya dengan penuh kasih sayang, bahagia bersama, tertawa, tersenyum, segalanya. Cristina adalah dunianya juga.

“Aku akan kembali” Ucap Baekhyun tetap tersenyum lalu pergi.

Iris autumn-nya tetap menatap anak perempuan yang berada di gendongannya saat ini.

Sehun.

Duduk di sebuah bangku merah, jauh dari ruang operasi Yoona.

“Anakmu” Ucap Baekhyun pelan, tersenyum kecil lalu menyerahkan bayi mungil itu.

Senyun Sehun berkembang besar, sorot matanya sangat bahagia. Perasaannya kini tidak dapat dilukiskan di atas kanvas halus atau dirangkai kata-kata di sebuah lembaran kertas putih. Sehun menggendong anaknya dengan penuh kebahagiaan. Walaupun ia tidak bisa mendapatkan perempuan yang telah melahirkan anaknya.

Baekhyun hanya terdiam. Mata sayunya hanya menatap Sehun yang tersenyum lebar sembari menggendong bayi mungilnya.

“Chukkaeyo” Baekhyun akhirnya membuka suaranya.

Sehun mendongak. Membalas senyuman Baekhyun. “Gamshamnida. Terimakasih karena kau telah memberikan kesempatan untuk Yoona melahirkan anak ini”

“Rawat dia” Baekhyun tersenyum kecil lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang operasi Yoona.

“Dia telah dipindahkan ke kamar rawat inap” Beritahu Sooyoung.

“Ah, baiklah. Gomawo” Baekhyun tersenyum simpul.

Saat ini Yoona telah melahirkan seorang anak yang tidak memiliki DNA yang sama dengan Baekhyun. Tapi laki-laki itu tetap tersenyum, entahlah ia juga ikut merasa bahagia.

Cristina akan tetap menjadi anaknya. Pikir Baekhyun lalu membuka kamar inap Yoona. Perempuan itu masih tertidur. Mungkin masih dipengaruhi obat bius. Baekhyun berdiri di sebelah ranjang Yoona, mengelus pelan kening perempuan berbibir pink itu

Baekhyun menarik nafas panjangnya, setetes air mata meluncur dari matanya. Jatuh membasahi pipi mulusnya.

***

            Baekhyun hanya dapat melihat dari kejauhan. Melihat Yoona yang sedang menggendong Aleyna Oh. Ini adalah kali pertama Yoona menggendong anak perempuan Sehun.

Yoona terus-menerus tersenyum, sesekali perempuan beriris madu itu mengelus lembut kening Aleyna yang baru berumur satu minggu hingga dua minggu.

Dia bahagia.

Awal pemikiranku adalah hal-hal ini akan terasa sangat menyakitkan. Ya, ini menyakitkan.

            Tapi saat melihat dirinya tersenyum

Baekhyun ikut tersenyum lalu memperbaiki letak snapback-nya. Yoona sedang malambaikan tangannya. Ya, saat ini mereka sedang di Seoul Forest bagian Ecological Forest. Yoona melambaikan tangannya, memberikan instruksi kepada Baekhyun untuk menhampirinya. Dan Baekhyun menghampirinya, ikut bergabung dalam keluarga kecilnya.

“Dia sangat lucu” Baekhyun memberikan komentar. Bibir Aleyna mirip bibir Cristina. Ingin sekali Baekhyun mengatakan hal itu tapi takut jika hal itu akan membuka lembaran masa lalu Yoona.

“Dan sangat cantik” Lanjut Yoona lalu terkekeh pelan.

“Yoona-ya” Panggil Baekhyun serius.

Yoona menolehkan kepalanya, menatap Baekhyun. “Apa?”

Baekhyun menatap Yoona dengan wajahnya innocent-nya dan tatapan polosnya. “Aku juga mau satu”

“Satu apa?” Alis kiri Yoona terangkat.
“Aku juga mau anak. Ayo, buat”

END

 

Advertisements

18 thoughts on “Love you to death (Sequel of The Simple Thing)

  1. Waaa… Ternyata udah di post..
    Hehehe… Ga nyadar Q..
    Keren.. Keren.. Feelx juga dpet kok.. Baekhyun bner2 cinta mti sma Yoona .. Smpe’2 dy rela ngurusin bayi yg ad d kndunganx YoonA…
    Tak ku sangka trxta itu bner2 ankx Sehun…
    Oh Sehun..Kau telah menghamili Istri orng#ketok kpla sehun..hehehe
    endingx lucu.. Bacon.. Bacon..
    Ehh..Ditunggu karyamu yg lain ya Chingu…

    Like

  2. Ya ampun ga nyangka klo itu anaknya sehun….
    Tapi endingnya lucu bgt…

    Ditunggu cerita yg lain,,,
    thor boleh request ff YoonKris ga?? yg happy end,tp klo author mau sich??

    Like

  3. Wow feelx dapet bngt Ώ̶̲ϑă g y cwo yg kyk gtu,sampek segtux mncintai seseorng,
    Padahal Ǘϑäђ disakiti berkali”,
    Wow baekhyun daebak. . .
    Keren thor. . .

    Like

  4. Gila ini negri banget..
    Sehun kamu keterlaluan banget,,, tapi sebenernya rela si thor…
    #ditamparauthor
    orang dihamilin orang lain kok setuju #asalitusehun
    hahahaha
    akhirnya anak itu gimana thor?? dibawa yoona apa sehun??
    waaaaa..kurang

    Like

  5. Baekhyun..
    Salut ma kmuuu, dia bner bner cinta mati ma yoong.
    Dlam kadaan sperti itupun dia masih bisa senyum? Wow
    Btw tuh ending lcu bnget haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s