[FF-Oneshoot] Call You Mine

Tittle: Call You Mine.

Author: Clora Darlene.

Length: Oneshoot.

Genre: Romance.

Rating: PG-13.

Main Cast: EXO-M’s Kris Wu & GG’s Im Yoon Ah.

Backsound: Kris ft. Lay – Call You Mine (Original by Jeff Bernat)

Disclaimer: Pure from my brain.

Author Note: Ini FF requestan seorang reader, yang minta FF KrisYoon. And this is for you! :) Sorry for the bad words, sentences, typos, and story T^T Atau mungkin alur yang terlalu cepat, maaf T^T Hope you like it, guys! :D         

Posted/Published on YoongEXO too.

***

 Aku menerima perjodohan ini– dan menikahinya– hanya semata-mata agar pagleran busanaku tetap berjalan sesuai rencana. Tanpa adanya rasa cinta.

Sudah pukul dua malam tapi sepasang suami-istri itu masih terlihat belum tertidur. Sang suami masih terduduk di sofa pojok kamar, sedangkan sang istri masih berguling-guling di atas ranjangnya.

Kau salah jika mengira mereka tidur sekamar. Tidak. Salah.

Kamar yang berada di lantai dua itu adalah kamar sang perempuan– perempuan yang tidak terbiasa tidur bersama-sama. Dan sang laki-laki tertidur di kamar bawah, di kamar mereka yang sebenarnya.

“Ini sudah jam dua malam, Yoona-ya” Laki-laki itu membuka suaranya. Hari ini tepat dua bulan setelah mereka menikah dan tidak ada yang istimewa– seperti biasa.

Perempuan bernama Yoona itu membalikkan badannya. Tubuhnya dibalut bed-cover dan menatap polos suaminya. “Aku tidak mengantuk”

Ya, perempuan bernama Yoona itu terkena insomnia. Awalnya, Yoona hanya menganggap ‘tidur-larut-malam’-nya adalah sebuah kebiasaan– karena pekerjaan yang memaksanya untuk tidur larut malam. Oh, tidak. Salah. Pekerjaannya tidak memaksanya. Ia seorang yang gila kerja dan akan melakukan apa saja untuk pekerjaannya yang tercinta, tepatnya. Sebagai seorang designer terkenal.

“Aku ingin ke Feast” Gumam Yoona lalu mengerucutkan bibir pink-nya.

“Baiklah. Setelah pulang dari Feast, kau harus tidur” Kris Wu– bangkit dari sofanya. “Bagaimana?”

“Akan kucoba” Yoona mengembungkan pipinya. Baru saja Kris beranjak, Yoona kembali memanggil laki-laki itu.

Kris berbalik. “Apa?”

“Gendong aku ke bawah” Ucap Yoona dengan nada manjanya.

“Apa?” Suara Kris meninggi, alis kirinya terangkat. Oh, Tuhan. Sungguh. Ia belum pernahmelakukannya dengan Yoona. Dan saat ini kenapa Yoona berlagak seakan-akan ia sedang hamil dan bermanja-manja pada Kris? Mengidam? Sungguh, ia belum pernahmelakukannya dengan Yoona. Kris berpikir keras.

“Ayolah” Yoona merengek manja lalu memasang puppy-eyes-nya. Honey puppy-eyes.

Yoona selalu tahu kelemahan Kris. Puppy-eyes­-nya selalu bisa melelehkan seorang Kris Wu.

Kris menghela nafas beratnya. “Baiklah” Kris kembali ke tepi ranjang Yoona, berdiri membelakangi perempuan shikshin itu dan membiarkan Yoona naik ke punggungnya.

“Kau berat sekali, sungguh” Ucap Kris dengan susah payah lalu mulai melangkahkan kakinya, membuka pintu putih kamar Yoona.

“Setidaknya kau lebih berat dari diriku” Yoona terkekeh pelan lalu memainkan daun telinga Kris.

Kris menuruni anak tangga jauh lebih berhati-hati kali ini. Tidak seperti biasanya, ia bahkan sering melompati beberapa anak tangga, memanfaatkan kaki jenjangnya. Kris menghembuskan nafasnya kasar. “Turunlah, kau berat sekali”

Yoona melompat dari gendongan punggung Kris dengan senyuman puas. “Gomawo, Mr. Petroleum” Yoona tertawa lalu mengambil jaketnya.

Mr. Petroleum.

Itu hanya karena pekerjaan Kris yang memegang kendali atas perminyakan bumi negara. Petinggi negara? Bukan. Kris tidak pernah menganggap dirinya seorang petinggi negara.Tapi, Kris menyukai bagaimana cara perempuan itu memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Kris meraih kunci mobilnya lalu membukakan pintu hitam mobilnya untuk Yoona. Membiarkan perempuan itu masuk terlebih dahulu dari dirinya.

Feast Private Dining Room.

Kris masih ingat pertemuan pertama mereka di restauran bernama Feast itu. Restauran yang menjadi satu dengan Sheraton Seoul D Cube City Hotel. Makan malam mereka saat tengah malam. Kris masih ingat sekali sosok Yoona yang saat itu mengenakan celana jeans yang dipadu-padakan dengan kemeja hitam yang kebesaran.

Kris mulai melajukan mobilnya. Butuh dua detik untuk tetesan hujan menghantam mobil hitam Kris.

“Masuklah dulu. Aku harus memakirkan mobil. Akan kususul nanti” Ucap Kris saat mobil hitamnya telah berhenti tepat di depan pintu lobby Sheraton Seoul D Cube City Hotel.

Yoona mengangguk ringan. “Baiklah” Dengan sekali sentakan, pintu hitam mobil itu terbuka. Membiarkan diri mungil Yoona keluar lalu masuk ke dalam hotel dan hilang di balik pintu kaca.

Kris memutar setirnya, memutar balik mobilnya dan memakirkan mobilnya di parkir-spothotel. Keluar dari mobil dan membiarkan tetesan air hujan menghujaninya, membasahi kausnya dan celana pendek selutut putihnya. Rambut spikey-nya sudah terlihat basah, tentu saja dengan dirinya juga. Basah kuyup.

Yoona terlihat berdiri berhadapan dengan kaca. Matanya menelusuri Kota Seoul yang masih hidup tanpa batas. Lampu jalanan, mobil yang berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi, gedung pencakar langit, dan dentuman piano yang dimainkan oleh seorang staffrestauran.

“Kau sudah memesan makanann?” Yoona membalikkan dirinya, tersadar bahwa suara Kris berbicara padanya.

“Ak– Kau basah kuyup” Ucapan Yoona berganti topik saat ia menatap Kris.

“Aku baik-baik saja” Kris menaikkan kedua bahunya, meremehkan kondisinya saat ini yang telah basah kuyup.

“Tunggu di sini. Aku akan mencarikanmu baju” Yoona segera berlari kecil, masuk ke dalam elevator dan hilang entah kemana. Kris membolak-balikkan buku menu-nya, hingga iris pearl gray-nya menatap  kursi makan kosong di hadapannya.

Pertemuan pertamanya dengan Yoona terjadi delapan puluh tujuh hari lalu– ya, Kris menghitungnya.

Sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan sosok Yoona.

Semua ini hanya terjadi karena sebuah perjodohan semata. Perjodohan belaka.

Tidak ada rasa cinta, sayang, suka, atau apapun dunia menyebut dan memanggilnya.

Hingga iris pearl gray-nya bertemu dengan iris madu Yoona dan semuanya berubah saat itu juga. Love at first sight? Mungkin.

Ia menyayangi Yoona sebagai istrinya.

Ia mencintai Yoona sebagaimana suami yang mencintai istrinya.

Tapi perempuan itu seakan-akan tidak memerlihatkan perasaannya. Oh, bukan. Yoona tidak mencintainya dan Kris dapat melihatnya dengan jelas. Merasakannya dengan kepekaannya. Yoona masih tidak mencintainya. Hidup perempuan itu seakan-akan hanya untuk pekerjaannya saja. Tidak ada yang lain. Seorang workaholic? Ya, Yoona seorangworkaholic.

“Aku menemukan ini” Suara Yoona berhasil memecahkan lamunan Kris.

“Gomawo” Kris tersenyum kecil lalu meraih sekantung plastik putih dan segera melangkahkan kakinya menuju toilet. Mengganti kauh hitamnya menjadi kaus putih. Badan tegapnya kembali menuju meja makannya bersama Yoona.

Yoona mengetukkan jemarinya di atas meja bersampul putih, pipinya ia kembungkan dan telinganya tetap menangkap alunan piano yang masih dimainkan oleh seseorang staffrestauran.

Lamunannya pecah saat sosok Kris kembali duduk di hadapannya. “Aku sudah memesankanmu makanan” Yoona memecahkan keheningan di antara mereka.

“Ah, baiklah” Kris mengangguk ringan. “Jadi kapan pagelaran busanamu akan digelar?”

“Tiga bulan lagi” Jawab Yoona santai. “Kau harus datang” Lalu tertawa kecil.

“Biar kulihat, apa aku sibuk atau tidak” Kris ikut tertawa renyah.

“Astaga, kau sok sibuk sekali” Yoona tersenyum mengejek lalu memutar iris madunya.

Sejenak sepasang suami-istri itu membiarkan sang pelayan menata makanan mereka lalu memulai obrolan mereka lagi. Tentang kehidupan Kris sebelumnya, bagaimana ia bisa diterima negara untuk mengatur perminyakan bumi dan kebalikkan. Kisah kehidupan Yoona, pekerjaannya, dan mengapa perempuan itu menjadi seorang workaholic.

“Menjadi workaholic itu sama saja melupakan masalah tentang kehidupan. Aku tidak suka masalah tentang kehidupan. Masalah pekerjaan terdengan lebih baik” Tanggap Yoona.

Mulut Kris kembali tertutup saat melihat Yoona menolehkan kepalanya melihat piano hitam di ujung restauran sana. “Pemainnya pergi” Gumam Yoona tanpa melihat Kris.

Kris menelan makanannya lalu bangkit. Yoona yang menyadarinya, menatap Kris. “Kau mau kemana?”

“Kau harus terpaku oleh permainanku” Kris tersenyum.

“Harus?” Yoona mendengus pelan lalu tertawa. “Itu pemaksaan”

Kris menyodorkan tangannya. “Kau akan mengakuinya nanti” Lalu tertawa. Yoona meraih tangan kekar Kris lalu laki-laki itu menariknya menuju piano.

“Kau bisa memainkannya?” Mata Yoona sedikit membulat.

“Aku hanya bisa memainkan satu lagu” Kris tertawa lalu menaruh jemarinya di atas tuts-tuts putih piano.

Yoona terdiam. Ia terfokus untuk mendengarkan permainan Kris.

“Kau tahu lagu ini?” Tanya Kris melirik Yoona setelah ia mulai memainkan pianonya.

Yoona terlihat menimbang-nimbang.

Call me now, call me later or call me whenever. Call me friend, call me lover or call me whatever. I call you mine, no ownership implied whatsoever. I got it what it is a natural blend-together. Them other brothers like to holla forever, I holla now, how it sound to you. When I’m in town, you can get it. If not, you can imagine. Enough with the rap, time for some action…

Yoona sedikit menganga. Kris tersenyum mengejek– menggoda, sebenarnya– pada Yoona yang terlihat terpukau dengan permainannya kali ini.

Can I call you my own, and can I call you my lover. Call you my one and only girl. Can I call you my everything, call you my baby. You’re the only one who runs my world…

Kris masih menarikan jemarinya di atas tuts pianonya lalu terhenti dengan sebuah nada ringan. Sebuah senyum puas tersungging di wajahnya bak model itu. “Bagaimana?”
Yoona masih belum bisa berkata-kata. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Wow. Aku tidak tahu bahwa kau bisa rapping. Kau belajar dari mana?”

So, can I call you mine, Im Yoon Ah-ssi?

“Akan kuceritakan, tapi aku ingin makan dulu” Kris bangkit dari duduknya lalu tertawa kecil, merangkul pinggang kecil Yoona dan berjalan menuju meja makan mereka.

***

            Yoona meregangkan badannya. Ia baru bisa tertidur saat jam menunjukkan pukul empat pagi, sedangkan saat ini jam telah menunjukkan tepat tujuh pagi. Diri mungilnya membalik, manatap sofa yang semalam diduduki Kris.

Tidak ada Kris di sana.

Mungkin laki-laki itu telah kembali ke kamarnya, pikir Yoona.

Hingga matanya menangkap sesosok Kris yang tertidur di bawah, di atas karpet merah beludrunya. Laki-laki itu masih mengenakan baju putih yang ia belikan semalam tadi.

Yoona mencoba meraih Kris, membangunkan laki-laki itu. Tapi apa daya tangannya tak sampai. Yoona menggeser posisinya, lebih mendekati tepi ranjang dan menyentuh badan bidang Kris.

BRUK!

Tepat saat itu juga mata Kris terbuka. Mendapati Yoona yang terjatuh di atasnya. Wajah polos Yoona tepat berada di hadapannya saat ini. Iris madu itu terlihat masih sayu. “Selamat pagi” Ucap Kris pelan.

Morning, Kris-ssi” Balas Yoona.

“Aku tidak mendapatkan morning kiss-ku?” Alis kiri Kris terangkat, menatap Yoona dengan tatapan menggodanya.

Yoona mendengus pelan lalu tertawa. “Yang benar saja” Yoona segera bangkit, tidak membiarkan dirinya lama-lama menindih badan bidang Kris. “Aku harus segera pergi ke butik” Yoona menatap jam dinding di kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Yoona telah masuk ke kamar mandinya, sedangkan Kris baru saja bangkit. Badannya terasa sakit karena tertidur di lantai kamar Yoona. Yang benar saja, ia bahkan sampai lupa untuk pindah ke kamarnya semalam.

***

            8:31 PM Korea Standard Time.

“Kris?”

Kris yang sedang membereskan barangnya, membalikkan badannya. Menangkap sesosok Jongdae yang baru saja memanggil. “Ya?”
“Kau harus pergi ke Ukraina sekarang. Gulfstream-mu sudah siap” Beritahu Jongdae.

Kening Kris mengerut. “Apa?”

“Pemerintah Ukraina memanggilmu untuk mengurus perminyakan bumi mereka. Dan juga pemerintah Korea telah mengeluarkan izinmu untuk terbang ke sana”

“Aku tidak bisa” Ucap Kris. “Aku tidak bisa pergi malam ini”

Kini kening Jongdae yang berlipat. “Kenapa? Ayolah, pemerintah Ukraina membayarmu dengan sangat mahal kali ini”

Kris tersenyum simpul. “Yoona terkena insomnia dan aku harus menemaninya. Kurasa Tao bisa menggantikanku”

“Kau menolak US$ 100.000? Sungguh?”

Yoona berharga lebih dari 100.000 dolar itu.

“Kurasa” Kris tersenyum mengejek lalu meninju lengan Jongdae. “Aku pulang dulu”

***

            2:01 AM Korea Standard Time.

“Aku bosan sekali” Yoona mengembungkan pipinya.

“Kau ingin ke Feast lagi, hm?” Tanya Kris.

Yoona menggeleng. “Aku bosan makan di sana” Kris terdiam sejenak, lalu bangkit. “Kau mau kemana?”

“Ada taman di dekat sini” Beritahu Kris.

“Taman?” Yoona berpikir sejenak. “Ah, taman itu. Ayolah, itu taman anak-anak”

“Dan ada apa jika itu taman anak-anak?” Kris menahan tawanya lalu membuka lemari Yoona, meraih jaket abu milik perempuan itu dan memberikannya pada Yoona. “Kau ikut atau mati bosan di sini?”

Yoona mendengus. “Aku ikut” Yoona segera mengenakan jaket abunya. “Kris” Panggil Yoona saat Kris baru menyentuh gagang pintu. Laki-laki itu berbalik, menatap Yoona. “Gendong aku”

Kris mendengus tidak percaya lalu tertawa kecil. “Baiklah, baiklah”

Yoona tersenyum lebar. Sama seperti sebelumnya, Yoona melompat masuk ke dalam gendongan punggung Kris. Melingkarkan tangannya pada leher Kris dan sesekali memainkan daun telinga Kris.

“Kita tidak menggunakan mobil?” Tanya Yoona, menyadari Kris menggendongnya hingga luar rumah. Melewati garasi mereka.

“Udara malam sangat bagus” Kris tertawa kecil.

Yoona mendengus. “Berapa nilai Ilmu Pengetahuan Alam-mu? Udara malam sangat dingin dan aku tidak suka dingin”

“Nilaiku? Setengah sempurna” Jawab Kris enteng.

“50?!”

“Hey, itu tidak jelek” Kris tertawa. Ia bahkan dapat merasakah terpaan nafas Yoona yang mengenai leher jenjangnya dan telinganya.

Dan di sinilah mereka berakhir. Sebuah taman anak-anak yang dipenuhi permainan untuk anak-anak, tentunya. Ayunan dan segala hal lainnya.

“Dorong aku” Yoona tersenyum manja pada Kris, terduduk di atas sebuah ayunan.

Kris hanya ikut tersenyum lalu mulai mendorong ayunan Yoona. Sesekali perempuan itu berteriak kecil dan tertawa lepas. Dan rasa cintanya untuk Yoona seakan-akan ikut membesar. Semakin besar dan tidak pernah berhenti membesar.

Tik…

“Hujan” Yoona adalah orang pertama yang menyadarinya. Butuh lima setengah detik untuk hujan tersebut membesar. “Kajja, kita pulang!” Yoona segera menarik tangan Kris, berlari secepat mungkin menuju rumah.

Kris menarik tangan Yoona, membuat langkah perempuan itu terhenti dan membalikkan dirinya. “Ada apa?” Tanya Yoona dengan tangan yang berada di keningnya, mencoba menepis air hujan agar tidak masuk ke matanya.

“Kau baik-baik saja? Ini dingin” Gumam Kris, mengerti bahwa istrinya lemah terhadap dingin. Bibir Yoona dengan cepat terlihat membiru dan menggigil.

“Maka dari itu kita harus segera pulang” Yoona setengah berteriak, tidak membiarkan suaranya tertelan oleh derasnya air hujan.

Kris menarik Yoona, mendekatkan tubuh perempuan itu pada dirinya lalu mencium bibir perempuan itu dengan panas. Mengeksplor mulut Yoona dan melumat bibir Yoona dengan ganas dan panas.

Sedangkan Yoona masih terdiam kaku atas tindakan Kris saat ini. Kris yang sedang…menciumnya. Kris menciumnya. Bibirnya.

Otak Yoona bahkan berhenti bekerja. Panas lumatan bibir Kris pada bibirnya menjalar keseluruh sarafnya.

Mata Kris terbuka, memamerkan iris pearl gray-nya. Menatap iris madu milik Yoona. Bibir Kris masih asik melumat bibir bawah Yoona, sesekali laki-laki itu menggigit kecil bibir Yoona. Seakan-akan bibir Yoona adalah hal termanis yang pernah ia rasakan.

Yoona yang berjinjit masih tetap tidak merespon apa-apa. Ia masih kaku. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang dan ini pertama kalinya ia tidak dapat mengendalikan degupan jantungnya.

Iris pearl gray Kris seakan-akan mengatakan sesuatu padanya.

Mengatakan bahwa ia mencintai Yoona.

***

            Yoona baru selesai membaca pesan yang Kris kirimkan untuknya beberapa menit lalu. Laki-laki itu pergi. Ke Cina, tepatnya. Menyelesaikan pekerjaannya di negara asalnya tersebut.

“Lay sudah datang” Suara Sooyoung berhasil membangunkan Yoona dari lamunannya.

Yoona tersenyum tipis. “Aku akan segera keluar” Lalu membiarkan Sooyoung keluar dari kantornya. Sejenak, Yoona baru bangkit dari kursi putar hitamnya. Melangkahkan kakinya untuk bertemu dengan Lay– model laki-laki yang akan ia gunakan untuk pagelaran busananya nanti.

“Hey” Sapa Yoona lalu tersenyum lebar.

“Lama tidak bertemu denganmu” Lay merentangkan tangannya lalu memeluk hangat Yoona.

“Lama tidak bertemu denganmu juga, Lay. Aku merindukanmu” Tawa Yoona menggelegar, melepaskan dirinya dari pelukan hangat Lay.

“Jadi, mana baju yang harus kukenakan?” Tanya Lay sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeans-nya.

Yoona tersenyum penuh arti. “Tuksedo pengantin”

***

            Yoona tertawa lepas setelah mendengar suara imitasi Lay. Perempuan itu tidak dapat mengandalikan alligator laugh-nya.

“Berhentilah tertawa, Yoona-ya” Lay menahan tawanya lalu memakan makan siangnya.

Yoona mencoba mengatur nafasnya. Wajahnya memerah tomat. “Baiklah, baiklah”

Kini, designer dan modelnya itu berakhir di Feast. Yoona menangkap suara dentuman piano mengalun. Ia melirik piano hitam itu. Dan sedetik kemudian pandangannya menoleh pada jendela, melihat Kota Seoul yang baru saja diguyuri hujan.

“Kau masih membenci hujan?” Pertanyaan Lay berhasil mengalihkan fokus Yoona.

Yoona mengetukkan kakinya. Ingatan saat Kris menciumnya terputar jelas di otaknya. Tanpa sadar sebuah senyum simpul mengembang di paras cantiknya. “Kurasa hujan tidak terlalu buruk”

“Wajahmu memerah” Lay menatap Yoona dengan tatapan menggodanya lalu tertawa.

“Ji-Jinjja?!” Suara Yoona meninggi lalu ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Oh, astaga.

“Bagaimana kabar suamimu? Maafkan aku karena aku tidak datang ke pernikahanmu waktu itu”

***

            Aku seperti orang terbodoh. Menanyakan kabar pasangan orang yang kaucintai.

            Sudah sejak lama aku mencintai Yoona.

            Sejak lama.

            Dan segalanya terasa semu saat ia menikah dengan laki-laki itu.

***

            Sudah pukul dua malam dan Yoona belum tertidur, seperti biasa. Ia menoleh ke sofa putih yang biasa Kris duduki di kamarnya. Tidak ada Kris di sana. Tidak ada sosok Kris yang sedang membaca buku di sana.

Ia sendirian.

Dan ia mulai membenci kesendirian.

Bukan.

Ia tidak membenci kesendirian.

Ia mulai membenci fakta bahwa Kris tidak ada di sisinya.

Yoona menatap langit-langit kamarnya.

Apa ia merindukan Kris?

Yoona mendengus pelan saat pertanyaan itu melintas. Yang benar saja. Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa cinta itu nyata adanya.

***

            Hari kelima setelah Kris pergi ke Cina.

Dan dua hari lagi pagelaran besar busana Yoona diselenggarakan.

Yoona terlihat mondar-mandiri di dalam Grand Ballroom Sheraton Seoul D Cube City Hotel. Ia mulai menata ruangan berkapasitas besar tersebut.

“Kau harus beristirahat, Yoona-ya” Yoona berbalik, mendapati Lay berdiri di sebelahnya saat ini.

“Sedikit lagi dan semuanya akan selesai” Yoona tersenyum simpul.

“Kau sudah mencoba gaun pengantinnya?” Tanya Lay.

“Tentu saja. Kita akan mulai berlatih sore nanti” Yoona melirik jam tangan yang melingkar sempurna di pergelengan tangannya.

“Kau seperti designer yang terjun ke dunia modelnya” Lay menahan tawanya.

“Jangan remehkan aku. Aku bisa berjalan di atas catwalk lebih baik dari dirimu” Yoona memeletkan lidahnya.

Rasa ingin memilik Yoona kembali laki-laki itu rasakan.

Ia ingin memiliki Yoona seutuhnya. Keseluruhannya. Hanya dirinya.

***

            Ada rasa aneh yang Yoona rasakan. Ia merasa gusar.

Ia sudah tahu dengan jelas apa perasaan aneh itu. Terutama setiap ia melihat sofa putih yang berada di pojok kamarnya.

Perasaan aneh ini berkaitan dengan Kris.

Sudah lima hari dan laki-laki itu tidak menelponnya atau sekedar mengirimkan pesan pada Yoona. Mungkin ia terlalu sibuk, pikir Yoona.

Jam telah menunjukkan pukul tiga malam dan di luar sana hujan.

Yoona membuka pintu kamarnya lalu menuruni anak tangga. Awalnya ia berencana untuk duduk di sofa ruang keluarga, tapi rencananya beralih saat melihat pintu kamar Kris.

Ia tidak pernah masuk ke dalam kamar laki-laki itu. Sama sekali tidak pernah.

Yoona memutar knop pintu kamar Kris lalu melangkah masuk.

Didominasi putih. Sama seperti kamar Yoona. Itu adalah hal pertama yang Yoona pikirkan. Hingga matanya menangkap sebuah bingkai foto yang berdiri di atas nakas dekat ranjang Kris.

Foto pernikahannya bersama Kris.

Sebuah senyum bekembang di wajah Yoona. Dirinya telah terduduk di tepi ranjang Kris sembari terus melihati foto pernikahannya tersebut.

Mungkin ia memang me–

Yoona beralih pada ponsel touchscreen-nya.

Nama Kris terterah di layarnya.

“Yoboseyo?” Oh, yang benar saja. Yoona bahkan tidak dapat menyebunyikan senyumannya.

Kau belum tidur?” Suara berat itu mulai bertanya di ujung sana.

“Apa kau lupa jika aku insomnia dan hanya bisa tertidur saat jam empat pagi?” Iris madu Yoona terputar. Ia kesal. Tapi kebahagiaan saat mengetahui ia sedang berbicara dengan Kris saat ini jauh lebih besar.

Kurasa aku lupa” Kris tertawa renyah di ujung sana.

“Kapan kau pulang?”

Kau merindukanku?
“Aku hanya bertanya kapan kau pulang”
Aku juga hanya bertanya apa kau merindukanku

“Jangan balik bertanya”

Aku tidak balik bertanya, sungguh” Yoona dapat mendengar tawa ejekkan Kris dari ujung sana. Dan berhasil membuat Yoona ikut tersenyum kecil.

“Jadi kapan kau pulang?”

Aku sudah di bandara sekarang

“Sungguh?!” Yoona setengah berteriak.

Kaukira aku berbohong?” Yoona sendiri dapat membayangkan tampang kesal Kris saat ini. “Aku harus pergi. Sampai jumpa nanti

Yoona tersenyum simpul. “Bye” Dengan salam singkat, Yoona memutuskan hubungan komunikasinya dengan Kris.

Ting…

Yoona melihat Line-nya. Kris mengiriminya sesuatu.

Sebuah foto.

Senyum Yoona mengembang manis.

Foto telapak tangan Kris yang bertuliskan ‘I miss you my Wu’ di landasan pesawat.

Dan kali ini Yoona tidak berniat berbohong.

Ia juga merindukan Kris.

***

            Yoona berusaha membuka kelopak matanya yang masih berat. Cahaya matahari mencoba masuk melalui tirai putih yang menutupi jendela.

Oh, astaga. Ia tertidur di kamar Kris.

Yoona mengusap pelan matanya lalu meregangkan badannya. Baru saja ia membalikkan dirinya, ia sudah menangkap sosok Kris tertidur di bawah sana. Tertidur dengan pulas.

Yoona terdiam sejenak.

Itu jelas Kris. Ia menatap Kris saat ini.

Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan Kris? Kenapa terasa lama sekali?

Yoona mencoba menyentuh Kris, membangun laki-laki itu.

BRUK!

Yoona terjatuh, tepat menindih Kris dan berhasil membuka kelopak mata pearl gray itu. Yoona tersenyum polos menatap Kris. “Morning. Welcome home

Kris tertawa ringan. “Morning

“Jangan membicarakan morning kiss” Sergah Yoona, seakan-akan dapat membaca pikiran suaminya tersebut.

“Kenapa kau tertidur di kamarku?” Alis kiri Kris terangkat, memang tampang menggodanya. Oh, astaga. Tampang itu. Berhasil membuat Yoona lupa bagaimana cara bernafas.

“Seseorang pasti memindahkanku” Elak Yoona lalu tertawa.

***

            Dia tertawa tepat di hadapanku.

            Aku merindukan segala hal tentang dirinya.

            Sejak aku mulai mencintainya, sedikit susah untuk tidak melihatnya setiap hari.

            Dan perasaan lega bahwa dia adalah millikku keseluruhannya. Seutuhnya.

***

            “Bagaimana dengan fashion show-mu?” Tanya Kris, masih dengan posisi Yoona yang menindihnya.

“Oh, astaga! Aku harus ke Grand Ballroom!” Yoona sontak bangkit dan keluar dari kamar Kris.

Bagaimana bisa ia melupakan pagelaran busananya yang akan digelar besok?! Yoona merutuk dirinya sekian kali.

Dan seorang Kris Wu adalah orang pertama yang berhasil membuat seorang Im Yoon Ah melupakan pekerjaannya.

***

            Yoona melihat sekeliling Grand Ballroom yang akan menjadi tempat bersejarahnya. Ya, walaupun ini adalah pagelaran busananya yang kesekian kali.

Ting…Ting…

Yoona segera merogoh ponselnya. Skype?

Kris menghubunginya melewati Skype.

Hey” Kini wajah Kris berhasil memenuhi layar ponsel Yoona.

“Biar kutebak, kau baru menginstall Skype dan aku menjadi sasaran utamamu?” Yoona menahan tawanya.

Kau bisa membuka usaha menjadi peramal, Yoona-ya” Kris tertawa mengejek.

“Yang benar saja” Yoona mendengus dan iris madu terputar.

Kau sudah makan siang? Aku berencana mengajakmu makan siang” Terlihat Kris menatap jam tangan hitamnya.

“Nyanyikan aku satu lagu dan aku akan ikut kau makan siang” Yoona tersenyum lebar.

Lagu apa?” Alis kiri Kris terangkat.

“Lagu yang kau nyanyikan saat kita di Feast” Yoona mengembungkan pipinya.

Kris terdiam sejenak, terlihat berpikir. “Ah, lagu itu. Kau harus membayarku mahal untuk menyanyikan lagu itu” Kris menaikkan kedua pundaknya.

“Aku akan menemanimu makan siang” Yoona tetap tersenyum lebar.

Hanya itu?

“Kau ingin apa lagi?” Yoona menyipitkan matanya.

Jatah morning kiss-ku setiap pagi” Kris tersenyum menggoda.

Tawa Yoona meledak. “Yang benar saja kau, Kris Wu-ssi. Ayolah, kumohon” Yoona memasang puppy-eyes-nya.

***

            Lay terdiam lumayan jauh dari Yoona. Laki-laki itu tersadar bahwa Yoona saat ini sedang berhubungan komunikasi dengan suaminya. Dan sedetik kemudian, perempuan itu tertawa. Karena laki-laki itu. Bukan karenanya.

Sakit? Tentu saja. Apalagi selain sakit?

***

            Tepat malam ini adalah pagelaran busana Yoona. Perempuan itu telah bersiap-siap sejak pagi. Bahkan saat Kris membuka matanya, Yoona telah menghilang. Kris yang mengenakan tuksedo hitamnya mulai mengelilingi Grand Ballroom. Berharap menemukan Yoona. Hingga langkahnya membawanya menuju belakang panggung.

Ada Yoona di sana.

Tapi matanya menangkap sosok yang lain, bukan Yoona.

Jessica Jung berdiri di sana juga, mengobrol bersama Yoona.

Mantan kekasihnya.

“Hey” Kris menyapa kedua perempuan itu.

“Kris?!” Jessica adalah orang pertama yang menyadarinya.

“Suaramu masih sama seperti dolphin, Jessie” Kris tertawa renyah. “Long time no see you. How’s life?

Everythings in my life, all okay” Jessica tertawa.

“Kalian sudah saling mengenal?” Yoona membuka suaranya.

“Dia adalah Jessica yang pernah kuceritakan padamu” Jawab Kris tetap tersenyum dan melirik Jessica.

“Yoona-ya!”

Tiga orang tersebut mengalihkan pandangannya. Menatap Sooyoung yang melambaikan tangannya pada Yoona. “Aku harus pergi dulu. Selamat menikmati acaranya” Yoona tersenyum manis lalu menghilang dari hadapan Kris dan Jessica.

***

            Bahkan dari jawaban Kris tadi, aku sudah tahu siapa Jessica Jung itu.

            Seseorang yang pernah singgah di masa lalu Kris.

            Ya, Kris pernah menyeritakan tentang Jessica pada Yoona. Tapi Yoona bahkan tidak dapat menebak, bahwa Jessica itu adalah Jessica Jung Sooyeon yang ia kenal. Yoona menatap cermin di hadapannya dengan tatapan kosong. Membiarkan Sooyoung merapihkan baju pengantinya.

Ada sesuatu yang kuat dari tatapan Kris terhadap Jessica. Dan aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya.

            Sesuatu yang kuat. Hal lama yang masih hidup.

***

            Kris terduduk di sebelah Jessica. Mereka mengobrol ringan, bahkan sesekali tertawa. Memberikan pendapat masing-masing atas baju-baju rancangan Yoona. Hingga lampu ballroom besar itu redup.

“Kurasa ini adalah pakaian utamanya” Beritahu Jessica pelan.

Kris hanya mengangguk. Matanya terfokus pada panggung putih di hadapannya saat ini. Iris pearl gray Kris dapat menangkap sosok Yoona yang melangkah bersama seorang laki-laki, dengan tangan Yoona yang melingkar sempurna di lengan laki-laki tersebut.

Cantik. Dan sempurna.

Itu cukup menggambarkan pendapat Kris atas Yoona saat ini.

***

            Yoona tidak pernah membayangkan akan segugup ini. Bahkan Lay sendiri dapat merasakan tangan Yoona yang bergetar di lengannya. Tapi laki-laki itu tetap tersenyum pada Yoona. Seakan-akan menuntun perempuannya sendiri.

Iris madu Yoona menangkap sosok Kris yang duduk di bangku terdepan– duduk tepat di sebelah Jessica. Tapi saat ini yang Yoona pentingkan hanyalah seorang Kris Wu– suaminya– yang menatapnya dengan sebuah senyuman terpukau.

Ingin rasanya Yoona menangis– dengan alasan yang tidak jelas.

Oh, bukan.

Jelas sekali alasannya saat ini.

Bahwa Yoona telah jatuh cinta pada suaminya. Ia telah mencintai Kris dengan yakin.

Saat iris madu dan pearl gray itu bertemu, banyak hal yang tidak dapat diungkapkan masing-masing iris. Hingga Kris bangkit dan pergi begitu saja.

Sorot mata Yoona menjadi membeku.

Kris baru saja…pergi?!

Dia…pergi…? Pergi…

Call me now, call me later or call me whenever. Call me friend, call me lover or call me whatever. I call you mine, no ownership implied whatsoever. I got it what it is a natural blend-together. Them other brothers like to holla forever, I holla now, how it sound to you. When I’m in town, you can get it. If not, you can imagine. Enough with the rap, time for some action…

Langkah Yoona hampir terhenti.

Ia mengenal suara berat itu. Tuts-tuts piano. Alunan piano. Sosok…Kris.

Can I call you my own, and can I call you my lover. Call you my one and only girl. Can I call you my everything, call you my baby. You’re the only one who runs my world…

***

            Kris muncul begitu saja di atas panggung, mengambil tempatnya di sebuah kursi piano dan memberikan sedikit kejutan untuk Yoona.

I could be the kid and you can be karate. You could be my Angie and I could be your Brad Pitt. Fill me up like a cup poured in the coffee, I don’t really mind just know that you got me

Can I call you my own, and can I call you my lover. Call you my one and only girl. Can I call you my everything, call you my baby. You’re the only one who runs my world…

Karena Kris tahu. Kris tahu seorang Im Yoon Ah– bahwa Yoona menyukai lagu tersebut. Kris tetap memainkan pianonya, hingga Yoona dan Lay menghilang dari panggung. Tanpa memberikan hormat atau apapun, Kris kembali ke belakang panggung. Selesai dengan atraksi kejutannya.

Dan yang ia dapatkan adalah Yoona yang tiba-tiba langsung berlari ke arahnya, melingkarkan tangannya pada leher jenjang Kris dan mencium bibir Kris.

You can call me your own, and your lover. Your one and only girl. Your everything, your baby. And you’re the only one who runs my world” Ucap Yoona disela ciumannya. “Yes, you can

“Aku mencintaimu”

Kris tersenyum kecil. Membalas ciuman Yoona. “Aku juga mencintaimu”

END

Advertisements

45 thoughts on “[FF-Oneshoot] Call You Mine

  1. Jd ini ff requestsanku… Wah…kereeen bgt,,dan YoonKris so sweet bgt,,,aduh thor aku jd malu,,author udah mau susah” buat ff requestsanku… Pokoknya ini daebak…dan makasih bgt ^.^
    Ditunggu ffmu yg laen ya author clora….fighting!!^^

    Like

  2. Kyaaaa…..
    Apa ini… Kenapa bisa ad ff yg begitu kerennya… Sbnerx titik permasalahannya ga rumit and biasa.. Konfliknya juga .. Tapi kok bisa jadi sebagus in.. Penulisan kata2, penempatan scenex juga pas.. Jd enak bacanya.. Feel…??
    Ga ush d tanya.. Setiap ff buatn chingu selalu dpet feelx klo baca… Sukaaa.. Bgt mlah..
    Q tunggu ff lain chingu.. YoonHun Couple yea???

    Like

  3. author sequel dongs ceritain sebelum perjodohan sama masa depan kris dan yoona .. hehehehhee
    aku suka ceritanya 🙂
    Author DAEBAk !!!
    belum menemukan ff yang beginian nih ceritanya ..
    masalahnya juga ga ribet cuma masalah bimbang … heehehe

    Like

  4. Kerenn… Sukaaaa… Sekuel dong, marriage life yoonkris stlah slg cinta. Tetep dgn kris yg cool n prhatian dan yoona yg manja

    Like

      1. Aku baru kali ini baca ff romance yg romantis nya bgt.
        Aku req ff KaiStal dong. Aku tunggu ff nya
        Kalo udah ada yg lebih seru hub aku ne… 😉
        at twitter @rahmah_resti
        Soalnya, trkadang susah nyari link ff nya

        Gomawo

        Like

  5. Kereen thor asli kereeen banget!! Trus konfliknyaa jugaa ga berat dan aah ga tau mau komen apa lag,, asli keren !
    Jarang” ada ff yoona kris..
    Boleh dong thor kapan” buat lagii ff yoonkris lagii hahahha

    Like

  6. Kereeenn..
    Roamnatis bangetttt..
    Gak nyangka Kris dari awal yg ngeliat yoona berantakan langsung jatuh cinta..
    hahahhaha
    mau bernatkan kayak apa tetep cantik si..
    heheheh

    Like

  7. keren asli ^^
    feelnya dapet banget, asli deh aku sampe melted gini, apa lagi sambil denger lagunya, aaa keren deh pokonya 😀

    Like

  8. Annyeong chingu aq bru nemu wp inii and bner” daebbak..
    Sukaa bgt dh ma ff inii..
    Buat ff yg kyk ginii lg dong chingu..
    Hehehee

    Like

  9. Ada sequel kaah?? Waaah suka bgt sm ceritanyaa,,no konflik and sweet abiiiiss,,dri awal kris memang sdh suka sm yoona..
    Suka bgt sm pairing inii ada lagikaaah?? Yg married life juga??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s