[FF-Twoshoots] Can’t Fight This Feeling (1/2)

Tittle: Can’t Fight This Feeling (1/2)

Author: Clora Darlene.

Length: Twoshoots.

Genre: Romance.

Rating: PG-13.

Backsound: Enrique Iglesias – Finally Found You.

Main Cast: EXO-K’s Oh Sehun & GG’s Im Yoon Ah.

Disclaimer: Pure mine.

Author Note: Ta-Da! I’m back with my favorite couple ever– SeYoon– Yihii where’s another SeYoon/YoonHun’s shippers? :B Maaf kalau ini gak ada psoternya lagi, kata-katanya amburadul, FFnya jelek, atau kesalahan lainnya. Mian T^T Hope you like it, readers! :D

ABP on YoongEXO

***

“Cita-citaku?” Sejenak perempuan tersebut terdiam, terlihat berpikir dan menimbang-nimbang masa depannya. “Aku hanya ingin menjadi orang biasa. Dan aku ingin menikah dengan seseorang yang biasa, bukan seorang konglomerat” Perempuan itu tertawa.

 

            “Cita-cita?” Wajah laki-laki itu terlihat tenang, tidak terlihat sorot excited dari pandangan matanya. “Tanpa memiliki cita-cita sampai mati pun, aku akan tetap menjadi laki-laki dari bangsa konglomerat tertinggi”

Pintu putih besar itu terbuka begitu saja. Seorang perempuan berparas cantik setengah berlari dan melompat duduk ke atas sofa hitam. Ada seorang laki-laki yang tengah duduk di sana, memainkan x-box kesayangannya. Bahkan iris pure hazel-nya tidak melirik perempuan yang baru datang itu.

“Sehun-ah!”

“Berhentilah berteriak” Tukas laki-laki bernama Oh Sehun itu. Tetap, iris pure hazel-nya masih terfokus pada permainannya, tidak tertarik untuk melirik sedikit saja perempuan yang duduk di sebelahnya saat ini.

“Aku akan pindah sekolah!” Perempuan itu berteriak girang. Ia menepukkan kedua tangannya dan berhasil mengalihkan pandangan Sehun.

Kening Sehun mengerut, membentuk beberapa lapisan kulit di keningnya. “Pindah sekolah?”

“Ne” Perempuan beriris madu itu mengangguk bersemangat, sorot matanya menatap laki-laki berambut pirang itu dengan penuh senyuman.

“Kau akan keluar dari APIS?” Lagi, laki-laki itu bertanya. Ingin memastikan jawaban Yoona, menegaskan pilihan perempuan tersebut.

(APIS: Asia Pacific International School)

“Kau bisa mengatakannya seperti itu” Yoona menaikkan kedua pundaknya santai lalu bangkit, melangkahkan kakinya menuju dapur rumah besar laki-laki tersebut. “Aku ingin menjadi orang biasa” Yoona membuka mulutnya.

Sehun masih terdiam. Matanya hanya menatap kosong.

“Aku tidak suka perbedaan kasta. Hanya karena kita dari bangsa konglomerat tertinggi, kita tidak boleh berbaur dengan mereka yang biasa. Aku membenci hal itu” Gumam Yoona lalu menghembuskan nafasnya. Jelas sekali bahwa Yoona dan laki-laki pirang itu berasal dari bangsa konglomerat tertinggi. Konglomerat Im dari konglomerat tertinggi mewakili kaum perempuan, dan Konglomerat Oh dari konglomerat tertinggi mewakili kaum laki-laki.

“Itu hanya karena mereka tidak sepadan dengan kita” Laki-laki pirang itu membuka suaranya. “Kita adalah kaum konglomerat dan mereka hanya kaum melarat”

Yoona yang sedang mengolesi roti dengan fruit curd, menghentikan gerakan tangannya. “Sudah kukatakan berapa kali untuk tidak berkata seperti itu?” Nada Yoona mendingin.

“Kau mengelak kenyataan?” Laki-laki itu kembali memainkan permainannya.

Yoona menghembuskan nafasnya lalu membawa dua potong roti kembali ke ruang keluarga, duduk kembali di sebelah laki-laki tersebut dan menyodorkan satu rotinya. “Kau membuat seakan-akan batas kasta itu ada”

“Ayolah, batas kasta itu sudah ada dan bukan aku yang membuatnya” Oh Sehun– meraih roti yang disodorkan Yoona lalu mulai mengunyahnya.

“Aku tidak sabar untuk masuk ke sekolah baruku” Yoona tertawa kecil sembari memakan rotinya.

“Hanya APIS sekolah konglomerat”

“Aku akan pindah ke sekolah biasa” Yoona membenarkan dengan enteng.

Sehun melirik Yoona dalam. “Sekolah biasa?”

Yoona mengangguk. “Sekolah biasa. Ayolah, kau berlagak pikun. Kau tahu bahwa aku ingin sekali sekolah di sekolah biasa dan segala hal yang tidak menyangkut kekastaan. Ingin ikut pindah bersamaku?” Goda Yoona lalu tertawa.

“Tidak akan pernah” Sehun kembali fokus pada permainannya. Sedangkan Yoona, perempuan itu kembali ke dapur. Mengoceh hal-hal yang baru saja terjadi, menceritakan tentang beberapa temannya hingga mulutnya kembali tertutup karena suatu benda.

Benda berwarna merah yang tak sengaja ia lihat.

Yoona kembali meloncat, duduk di sebelah Sehun hingga lengan kedua anak konglomerat itu bersentuhan. “Aku menemukan ini. Astaga” Yoona tertawa lalu membuka benda merah tersebut.

Album foto merah sederhana. Yang menceritakan kisah masa kecil Sehun dan Yoona beserta keluarga mereka. Pertemuan awal Sehun dan Yoona saat mereka berumur lima tahun untuk menjalani home schooling bersama-sama.

“Ini trampoline di rumahku” Yoona menunjuk sebuah foto. Saat ia dan Sehun bermain trampoline biru di rumahnya. Sudah lama sekali, pikir Yoona.

Tanpa sadar, Sehun ikut kembali memutar masa-masa kecil mereka. Sudah banyak belas tahun sejak mereka pertama kali bertemu dan sudah banyak belas tahun mereka bersama. Terlalu dekat. Bahkan beberapa mengira mereka adalah saudara kembar.

“Oh, astaga. Ini saat kita pertama kali mengenakan baju seragam sekolah” Tawa Yoona meledak– mengingat betapa gembiranya ia dulu saat orang tuanya memasukkannya ke sebuah sekolah bersama Sehun. Gembira karena tidak ada lagi kebosanan home schooling.

Sehun tersenyum simpul. “Pertama kali kita ke Jerman, bertemu dengan Bibi Flourencia” Sehun menunjuk sebuah foto, menggambarkan Sehun dan Yoona yang berdiri di antara seorang perempuan Jerman berambut cokelat terang.

***

            Sudah dua bulan semenjak Sehun tidak pernah melihat Yoona mengenakan seragam Asia Pacific International School dan tidak pernah datang lagi ke sekolah tersebut. Sehun menginjak rem mobilnya. Memakirkan mobil hitamnya di halaman rumah Yoona yang luas. Rumah Yoona terlihat ramai dan sedikit berisik. Langkah Sehun terhenti di pintu masuk rumah Yoona yang telah terbuka, ada sedikit lebih banyak orang di dalam sana– seumuran dengan dirinya.

“Sehun-ah!” Fokus Sehun teralihkan pada teriakan Yoona, perempuan itu sedang melambaikan tangannya pada Sehun. Dan setiap orang yang ada di dalam sana seketika langsung mengunci mulutnya, menatap Sehun dengan tatapan…memukau.

Siapa yang tidak mengenal seorang Oh Sehun?

Seorang laki-laki dari bangsa konglomerat tertinggi dan memiliki wajah tampan menawan?

Beserta sedikit kesombongannya.

Yoona menghampiri Sehun, menarik tangan laki-laki itu. “Masuklah” Sehun tetap terdiam, membiarkan Yoona menariknya masuk. “Perkenalkan ini teman-teman baruku” Yoona tersenyum manis. Menatap Sehun lalu menatap sekumpulan teman-temannya.

“A-Annyeong..haseyo” Sekumpulan orang itu menunduk kaku– memberikan salam formal mereka kepada Sehun.

“Aku hanya ingin bertemu dengan ibumu” Gumam Sehun, hampir seperti berbisik di telinga Yoona.

“Umma ada di kamarnya” Jawab Yoona enteng dan hanya terbalaskan Sehun-yang-langsung-pergi. Tanpa menghiraukan siapapun. Sehun tahu jelas letak-letak ruangan di rumah Yoona. Rumah Yoona seakan-akan sudah seperti rumahnya sendiri. Bahkan ada satu kamar khusus di rumah Yoona yang bisa disebut sebagai kamar tidur Sehun. Dan begitu pula sebaliknya, di rumah Sehun ada kamar khusus yang disebut sebagai kamar tidur Yoona.

Sehun mengetuk pelan pintu putih di hadapannya, hingga terdengar izin masuk dari dalam sana. “Annyeonghaseyo, ahjumma”

“Ah, Sehun-ah. Masuklah” Wanita cantik yang menjabat sebagai ibu biologis Yoona itu tersenyum saat melihat Sehun masuk.

Mereka berbincang sejenak, santai. Hingga Sehun terdiam dingin setelah mendengar permohonan ibu Yoona. Sehun tersenyum simpul– tidak rela mengelak permohonan ibu Yoona yang telah menganggap Sehun sebagai anak mereka. “Baiklah, ahjumma. Aku sendiri nanti yang akan mengurus berkas-berkasnya”

Setelah mengucapkan salam, Sehun melangkah keluar. Ia terdiam di tepi lantai dua rumah Yoona. Melipat kedua tangannya pada pinggiran besi pembatas dan melihat kerumunan menusia di bawah sana– termasuk Yoona.

Ia akan menjadi salah satu dari kerumunan itu– secepatnya.

***

            “Sehun-ah? Kenapa kau ke sini– Oh, astaga. Kau mengenakan seragam sekolahku!” Yoona berteriak saat Sehun keluar dari mobilnya. “Kau pindah?!” Yoona benar-benar tidak bisa mengendalikan kegembiraannya kali ini.

“Segera masuk ke dalam mobil, kita bisa terlambat. Tidak ada anak konglomerat yang terlambat di sekolah biasa” Ucap Sehun dingin lalu membukakan pintu mobilnya untuk Yoona–memasang tampang cueknya.

“Astaga, kau sungguh akan pindah sekolah!” Yoona kembali berteriak histeris– masih belum bisa percaya– lalu masuk ke dalam mobil Sehun dan duduk di kursi penumpang.

Sehun bahkan tidak bisa menghentikan teriakan histeris Yoona. Perempuan itu terus-menerus berteriak senang lalu tertawa. “Dimana tempat parkirnya?”

“Parkir mobil?” Yoona balik bertanya.

Sehun memutar iris pure hazel-nya. “Jika aku membawa motor, aku akan menanyakan parkir motor bukan parkir mobil”

“Ah, kurasa,” Yoona menggantungkan ucapannya. “Sekolah tidak mempunyai lahan untuk parkir mobil”

Sehun menoleh dengan beberapa lapis kerutan di keningnya. “Tidak ada?”

“Kurasa kau harus memakirkan mobilmu di luar sekolah” Yoona mengangguk pelan. “Kajja! Kita bisa terlambat”

***

            “Kau tidak ingin memakan makan siangmu?” Tanya Yoona.

Sehun memerhatikan sekelilingnya. Saat ini ia dan Yoona terdampar di kafetaria sekolah barunya. Kafetaria biasa, sekolah biasa. Dan Sehun membenci sesuatu yang biasa. “Aku akan makan nanti” Gumam Sehun.

Yoona menghembuskan nafas beratnya– mengerti sekali tentang sifat Sehun. “Ini tidak seburuk yang kau pikirkan”

“Ini jauh lebih buruk dari yang kupikirkan” Sehun melirik iris madu Yoona.

“Ak–”

“Yoona-ya!”

Iris madu itu dan iris pure hazel itu menoleh menuju sumber suara.

“Aku harus pergi” Yoona menepuk punggung Sehun dengan sebuah senyuman manis lalu mengikuti laki-laki yang baru saja memanggilnya– pergi begitu saja, meninggalkan Sehun di tengah-tengah hal yang paling ia benci.

Sehun akhirnya mengambil langkahnya, kembali ke kelasnya yang biasa. Sejenak langkahnya terhenti di balkon depan kelasnya. Ia kembali melipat tangannya di atas dinding pembatas dan menerawang ke bawah.

Dan di bawah sana ada Yoona bersama laki-laki yang tidak Sehun kenal.

Alasannya pindah?

Tentu karena permintaan ibu Yoona. Untuk menjaga Yoona di sekolah barunya.

Tapi alasan itu tidak cukup kuat.

***

            “Aku akan pulang menggunakan bis bersama Kyungsoo” Beritahu Yoona– tepat saat bel pulang berbunyi.

“Kyungsoo?” Alis kiri Sehun terangkat.

“Laki-laki yang memanggilku tadi” Beritahu Yoona lagi.

“Kau mengatakan padaku akan menemaniku makan di Paris Baguette Cafe” Bantah Sehun.

“Ah,” Yoona menggigit bibirnya. “Mi–Mianhae. Kyungsoo mengajakku pergi”

Sehun meraih tasnya. “Baiklah” Lalu berlalu begitu saja. Tidak peduli lagi, tidak kali ini. “Hati-hati” Ucap Sehun singkat namun terlalu dingin untuk telinga Yoona dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Yoona yang masih berdiri di dalam kelas. Kekesalan Sehun memuncak– mendapatkan mobil hitamnya tergores panjang, entah oleh benda apa. Ini pasti karena ia memakirkan mobilnya di pinggir jalanan raya, pikir Sehun.

“Sialan” Umpat Sehun lalu membanting pintu mobilnya dan langsung menginjak pedal gasnya.

***

            Yoona menatap jalanan dari kaca jendela bis. Kini di sebelahnya telah terduduk seorang Do Kyungsoo– laki-laki yang menurut Yoona menarik. Dari Kyungsoo-lah Yoona banyak belajar tentang masakan, tentu saja cita-cita asli seorang Im Yoon Ah adalah menjadi chef dan Kyungsoo terlalu pintar memasak.

“Jadi kita akan memasak apa hari ini?” Kyungsoo mulai membuka suaranya.

Pandangan Yoona tidak teralihkan saat iris madunya menangkap mobil hitam Sehun melaju kencang di sebelah bis yang ia tumpangi, dan telah melesat jauh.

Terlalu cepat.

“Yoona?” Kyungsoo menjentikkan jarinya tepat di depan iris madu Yoona.

“Ah?” Yoona mengalihkan pandangannya.

“Kita akan memasak apa hari ini?”

Yoona terdiam sejenak, ia melirik jendela kaca bis. “Kurasa Tiramisu tidak terlalu buruk”

***

            Sehun masih sibuk dengan x-box-nya. Jari-jarinya bergerak cepat menekan tombol-tombol stick x-box. Gerakan matanya mengikuti arah permainannya, hingga ia sedikit tersentak saat suara Yoona tiba-tiba menampar indera pendengarannya.

“Sehun-ah!” Yoona berlari ke arah Sehun lalu melompat dan duduk di sofa, duduk bersebelahan dengan Sehun. “Aku bawakan kau sesuatu” Yoona tersenyum lebar dan berhasil dilirik oleh Sehun. “Tiramisu kesukaanmu”

Sehun terdiam, sembari Yoona mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna ungu muda. “Ta-da!” Yoona membuka tutup kotak makannya dengan penuh kebanggan. “Ini sebagai permintaan maafku karena tidak menemanimu makan siang tadi” Yoona mengerucutkan bibir pink-nya.

“Kau menjamin ini enak?” Sehun menahan tawanya.

“Tentu saja” Yoona memutar kedua iris madunya. “Bahkan ini lebih enak dari Tiramisu di Paris Baguette Cafe

“Kau percaya diri sekali” Sehun terkekeh pelan lalu meraih sendok yang diberikan Yoona.

Satu hal yang diyakini oleh Sehun– apapun kesalahan yang telah diperbuat Yoona, diakhir nanti Yoona tetap menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Sulit untuk tidak memaafkan gadis ini, pikir Sehun singkat.

***

            Sudah sebulan ini Sehun menetap di sekolah barunya dan ia masih membenci keadaannya saat ini– ia benci sekolah di sekolah biasa. Dan ia hampir gagal beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Kedua pasang kaki bak model itu melangkah ke kafetaria. Sehun masih setia mengikuti Yoona kemana saja– kafetaria, perpustakaan, well kecuali kamar mandi.

Baru saja Yoona mendorong pintu merah kafetaria dan telah ada Kyungsoo di depan sana– berjarak sekitar tiga meter dari tempat Yoona dan Sehun berdiri– membawa sebuah buket mawar merah. Siswa yang lainnya telah mengerumuni Kyungsoo dan Yoona– beserta Sehun.

3-6-5 neoui apeseo ojik neoreul iyuro geomeul hwidulleo, 3-6-5 machi neol wihae taeeonan geot gateun maeireul salge. 3-6-5 neoui dwieseo jeoldae neoreul wihan maeireul salge, 3-6-5 machi neol wihae taeeonan geot gateun harul chaeumyeo. 3-6-5 neoreul jikilge…” Kyungsoo tersenyum manis– tampan.

Sedangkan Yoona masih terdiam, bingung. Tidak mengerti.

“Yoona-ya” Kyungsoo membuka suaranya, melangkah mendekat dengan senyum masih merekah. “Maukah–”

“Kukatakan sesuatu sebelum kau mengatakannya” Sehun maju, memotong ucapan Kyungsoo dan berdiri di hadapan Kyungsoo– memunggungi Yoona. “Jangan pernah berani kau menyatakan perasaanmu pada Yoona. Kau dan dia sangat berbeda. Dan kurasa aku tidak perlu menjelaskan perbedaan itu” Sorot mata Sehun terlihat sangat tajam, seakan-akan membelah pengelihatan iris Kyungsoo.

“Ikut aku” Yoona segera menarik tangan Sehun kasar, membawa laki-laki itu menjauhi kafetaria. “KAU SANGAT KETERLALUAN, SUNGGUH!! TIDAK BISAKAH KAU MENEKAN KESOMBONGANMU?!!” Suara Yoona meninggi, hampir seakan-akan Yoona membentak Sehun– atau sebenarnya Yoona telah membentak Sehun.

“Dan?”

“Kau terlalu sombong” Ucap Yoona tajam, suaranya kini sedikit lebih rendah tapi cukup kuat untuk menusuk Sehun. “Kyungsoo bahkan tidak seburuk dirimu”

“Aku pantas sombong, tidakkah kau tahu dan ingat itu?” Sehun membalas tatapan Yoona. “Dan laki-laki itu. Sombong sedikit saja, tidak pantas”

Yoona terdiam membeku. Tidak percaya dengan perkataan Sehun. “Kukira kau tidak sekasar itu, tapi aku salah” Dan detik itu juga Yoona berlalu, pergi. Meninggalkan Sehun yang masih berdiri di balkon tepat depan kelasnya.

Hingga sampai bel bunyi masuk meradang memecah keheningan sekolah, Sehun tidak dapat menemukan Yoona. Perempuan itu tidak kembali ke kelas, meninggalkan tas pink-nya dan buku-bukunya.

Kyungsoo bahkan tidak seburuk dirimu.

Hanya kalimat itu yang terngiang-ngiang keras di telinga Sehun saat ini. Setiap kali ia mencari Yoona dan tidak dapat menemukan perempuan itu, hingga bel pulang sekolah berbunyi. Sehun bersandar pada mobil hitamnya, sesekali ia melirik jam tangannya. Berharap ia akan melihat Yoona berjalan keluar dari gedung sekolah dan akan pulang bersama dirinya.

Empat jam menunggu dan hasilnya nihil.

Saat ini hanya ada dirinya yang terduduk di dalam mobilnya. Sekolah sudah sepi, bahkan gerbang sudah terkunci.

Yoboseyo?

“Bibi Kagura?” Tebak Sehun.

Ne, apa ini Tuan Sehun?

“Ya, ini aku. Apa Yoona sudah pulang?” Tanya Sehun pada pembantu rumah Yoona.

Nona Yoona sudah pulang dari siang tadi tuan” Jawab Bibi Kagura.

“Apa dia membawa tasnya?”

Tidak tuan. Nona Yoona tidak membawa apa-apa saat pulang dan sampai saat ini mengurung dirinya di kamar” Jelas Bibi Kagura.

Sehun terdiam. “Baiklah. Gomawo, bibi” Setelah mengucapkan salam, Sehun melempar ponsel touchscreen hitamnya dan segera menginjak pedal gasnya.

***

            Sehun mengetuk pintu putih kamar Yoona. Jam telah menunjuk pukul delapan malam dan Yoona belum keluar dari kamarnya– menyentuh makan siang dan malamnya saja belum.

“Yoona-ya, bukalah” Sehun terus-menerus mengetuk pintu kamar Yoona. Tetapi Yoona tidak mengatakan apa– tidak bersuara sekecil apapun.

Tidur? Yoona tidak tertidur dan Sehun yakin akan hal itu.

Sudah sejam Sehun berdiri dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Yoona, tetapi pintu putih itu belum terbuka.

“Im Yoon Ah-ssi, ayolah”

“Yoona-ya”

“Bukalah”

“Yoona”

“Im Yoon Ah”

“Nona Im”

“Nona Yoona, bukalah pintunya”

“Oh, astaga” Sehun mendesah kecil, sedikit berputus asa. Sehun membungkuk, memasukkan selembar kertas putih terlipat ke kamar Yoona dari bawah pintu dan pergi– kembali ke rumahnya.

***

            Sejak sejam tadi, Yoona berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tangannya tidak menyentuh knop pintunya.

Sehun ada di luar sana, mengetuk pintu kamarnya sedari tadi.

Hingga tidak ada lagi suara ketukan dan hanya ada sebuah kertas yang diselipkan dari bawah pintu. Yoona membungkuk, meraih kertas putih tersebut lalu membukanya.

Hanya ada satu kata di sana.

Dan mungkin cukup membuat Yoona merasa…lebih baik.

Mianhae.

***

Sehun terduduk sendiri di bangkunya. Kursi di sebelahnya kosong, hanya ada tas pinkYoona. Tidak ada Yoona.

Dan detik saat Sehun melirik pintu, sosok berbadan kecil cantik itu melangkah masuk dan mendekati bangkunya.

Sehun tersenyum lebar. “Kau kembali”

“Aku hanya ingin mengambil tasku” Tukas Yoona dingin.

“Lihat, bahkan sekarang kau berusaha berlagak tidak peduli” Goda Sehun.

“Apa aku peduli, Tuan Sehun?” Iris madu Yoona menatap Sehun tajam.

Sehun menghembuskan nafasnya pelan. “Kau tahu aku tidak suka mengatakan maaf

“Apa aku peduli?”

“Berhentilah mengatakan kalimat itu” Sehun memutar kedua iris pure hazel-nya, terlihat sedikit kesal.

“Kau harus membayar makan siangku nanti di Paris Baguette Cafe” Ucap Yoona, tanpa melirik Sehun.

Sehun menahan tawanya. “Baiklah, Nona Yoona”

***

            3:05 PM Korea Stadard Time– Paris Baguette Cafe.

“Kau mau yang mana lagi?” Tanya Yoona dengan mata yang masih menatapi satu-satucake yang tersedia di cafe bergaya Paris itu.

“Aku tidak banyak makan sepertimu” Sehun melirik Yoona mengejek.

Yoona menatap Sehun sinis. “Kau akan mati”

“Kau tidak bisa membunuhku” Sehun tertawa kecil. “Akan kutunggu di meja” Sehun melangkahkan kakinya– tanpa persetujuan Yoona– dan duduk di bangku meja makannya. Beberapa saat, dirinya hanya disibukkan dengan dua buku yang berada di hadapannya dengan sebuah pensil yang gigit. Hingga Yoona telah duduk di hadapannya dan ia tak menyadarinya.

“Sehun-ah” Panggil Yoona.

Sehun mendongak, menatap iris madu Yoona. “Ada apa? Kau sudah selesai makan?”
“Yang benar saja, aku telah memanggilmu banyak kali dan aku belum memulai acara makan-memakanku” Iris madu Yoona terputar.

“Makanlah” Gumam Sehun enteng lalu kembali terfokus pada buku-bukunya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoona, memulai memakan cake-nya.

“Sehun-ah”

“Sehun-ah”

“Oh Sehun”

“Apa yang kau lakukan?”
“Sehun-ah”

Sehun mendongak. “Bisakah kau diam sebentar saja, Nona Besar? Aku sedang belajar, dan tidakkah kau lihat itu? Perlukah aku mengantarmu ke dokter mata, hm?”

“Aku tidak buta” Yoona mengecurutkan bibir pink-nya, tapi yang didapatkannya hanyalah Sehun-yang-kembali-menghiraukannya.

“Sehun-ah”

Sehun mendesah pelah, menghembuskan nafasnya sedikit kasar lalu mendongak. Tepat di depannya saat ini ada sebuah sendok yang telah terisi penuh dengan potongan Tiramisu kesukaannya dan Yoona yang menyodorkannya. “Buka mulutmu. Apa perlu aku membawamu ke dokter mulut, hm?”

Sehun menatap polos Yoona. Tidak habis pikir dengan tingkah Yoona yang sedikitkekanak-kanakan. Dan yang bisa Sehun lakukan hanyalah membuka mulutnya, membiarkan Yoona menyuapinya dan ia kembali terfokus pada bukunya.

“Lihat, kau bahkan tidak lulus Eating manners” Oceh Yoona lalu membersihkan pinggiran bibir Sehun dengan selembar tisu putih tipis.

“Sejak kapan kau bertambah cerewet, Yoona-ya?” Sehun melirik Yoona.

“Aku ingin pulang” Ucap Yoona, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Makananmu sudah habis?” Tanya Sehun, kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas hitamnya.

Yoona mengangguk enteng.

“Baiklah, kita pulan–”

“Chanyeol menginap di rumahku” Yoona tersenyum lebar dan berhasil menghentikan gerakan Sehun. “Aku lupa memberitahumu”

“Anak ribut itu telah kembali dari Kanada? Bersama Kris?” Alis kiri Sehun terangkat.

“Kris akan menyusul” Beritahu Yoona singkat. “Kajja, kita pulang”

***

            Siswi SMA dan masih kekanak-kanakan. Itu cukup mendeskripsikan seorang Im Yoon Ah, menurut seorang Oh Sehun.

Keduanya terduduk lelah di atas trampoline biru milik Yoona di halaman luas rumah perempuan itu. Nafas mereka sama-sama terengah-engahnya, sesekali tawa kecil itu menemani keturunan konglomerat tertinggi tersebut.

“Sudah lama sekali semenjak kita tidak pernah bermain trampoline bersama-sama lagi” Tawa Yoona meledak saat seselip kenangan masa lalunya dulu bersama Sehun terlintas.

Yoona mendongakkan kepalanya, menutup matanya dan membiarkan cahaya matahari hangat menerpanya. “Sinar matahari selalu hal terbaik”

Sehun menatap Yoona. Perempuan itu masih memejamkan matanya, mencoba menyerap cahaya matahari sebanyak mungkin untuk menghangatkan diri mungilnya.

Sehun tahu dengan jelas dan sangat pasti.

Bahwa Yoona mencintai sinar matahari.

Bahwa Yoona mencintai langit biru dan gumpalan putihnya juga.

Dan itu adalah saksi bisu masa kecil mereka.

Saksi bisu bahwa Sehun–

“Sehun-ah, nyanyikan aku sebuah lagu” Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali saat Yoona benar-benar berbicara padanya.

“Lagu?”

Yoona mengangguk. “Dengan gitar”

“Tidak ada gitar di–”

“Chanyeol!” Sehun sedikit tersontak saat suara Yoona mengeras di gendang telinganya. Perempuan itu melambaikan tangannya dan berhasil membuat Sehun memalingkan pandangannya.

“Noona-ya!” Sosok jangkung itu– Park Chanyeol– yang mengenakan celana hitam, jaket kulit hitam dan membawa sebuah tas gitar hitam menghampiri Sehun dan Yoona dengan berlari kecil. “Sudah lama tidak bertemu denganmu, Sehun-ah”

Sehun membalas high-five Chanyeol dengan seringainnya. “Hyung kapan kau kembali?”

“Kemarin. Kris menunggumu di Kanada” Chanyeol tertawa renyah.

“Aku akan ke sana secepat mungkin” Tanggap Sehun.

“Chanyeol-a! Kau membawa gitar, bukan?” Yoona menatap Chanyeol dengan tatapan penuh arti.

“Ne. Waeyo?” Tanya Chanyeol polos.

“Jangan pinjamkan, sungguh” Bisik Sehun.

“YA!” Yoona langsung meninju lengan Sehun. “Aku pinjam gitarmu. Ne? Bolehkah?” Yoona mengerlingkan matanya. “Kumohon. Bbuing~ Bbuing~”

Chanyeol menatap pasrah Sehun. “Dia selalu tahu kelemahanku, Sehun-ah” Chanyeol mengangkat gitarnya lalu memberikannya pada Sehun. “Belikan aku drum jika itu rusak. Belikan aku gitar jika itu tidak rusak. Kita sepakat” Dan saat itu juga Chanyeol langsung berlari, masuk ke dalam rumah Yoona.

Sedangkan Yoona dan Sehun masih menatapi kepergian Chanyeol.

Belikan drum jika gitar ini rusak, dan belikan gitar jika benda ini tidak rusak. Kesepakatan macam apa itu?! Pikir Yoona dan Sehun.

“Sehun-ah”

Sehun menghembuskan nafasnya lalu mengeluarkan gitar cokelat milik Chanyeol dari tas gitarnya. “Kau mau lagu apa?”

Yoona tersenyum. “Kau selalu yang terbaik” Yoona tertawa kecil. “Lagu apa yang bagus?”

Sehun yang sudah siap dengan gitarnya– Gitar Chanyeol, sebenarnya– terdiam sejenak. “Kurasa aku tahu”

“Mainkanlah” Yoona menatap Sehun polos.

“Baiklah, baiklah” Sehun memulai memetik senar gitarnya.

In this crazy world of choices I’ve only got a few. Either you’re coming with me, or I’m coming with you, cause I finally found, I finally found you. You never have to worry if what I say is true, Girl I’ve been looking for you and when I saw you I knew. That I finally found, I finally found you

 Girl I’ve been looking for you and when I saw you I knew. That I finally found, I finally found you…

Sehun memetik senar terakhirnya. Melirik Yoona dengan kelembutan tatapan pure hazel-nya. “Kau puas?”

“Kau belajar dari mana?” Tanya Yoona polos– terpukau, sebenarnya.

“Katakan saja jika kau terpesona dengan permainanku” Goda Sehun.

“Yang benar saja, percaya diri sekali kau, Oh Sehun” Yoona tertawa lalu turun dari trampolinenya dan masuk ke dalam rumahnya bersama dengan Sehun.

Sehun memperlambat langkahnya, membiarkan Yoona yang mengenakan hotpantshitam dengan t-shirt pink mendahuluinya. Sehun menatap sosok punggung mungil yang mulai menjauh itu, menaiki anak tangga satu per satu.

Sudah lama sekali semenjak,

seorang Oh Sehun jatuh cinta kepada seorang Im Yoon Ah.

***

            Persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya cinta itu…mustahil. Dan itulah yang dirasakan oleh Sehun.

Ia mencintai Yoona. Sudah lama sekali.

Saat ia berada di kafetaria, saat Kyungsoo dengan berani ingin menyatakan cintanya pada Yoona, Sehun bersumpah ingin sekali ia menghajar laki-laki bernama Do Kyungsoo itu. Membunuh laki-laki itu hingga cintanya untuk Yoona juga itu terbunuh– mati dan tidak hidup, tidak tersisa sedikit pun.

Karena tidak boleh ada yang berani menyentuh Yoona. Siapapun itu.

Dan saat ini Sehun membeku di ruang keluarga rumah Yoona.

“Yoona-ya? Perkenalkan, ini Kim Joon Myun. Calon suamimu” Ibu Yoona tersenyum manis menatap anak sematawayangnya. “Yang appa dan umma jodohkan denganmu”

TBC

Advertisements

27 thoughts on “[FF-Twoshoots] Can’t Fight This Feeling (1/2)

  1. Yiipppiiiii… Ada FF bru. YoonHun lgi.. Horeee#tebar bunga.
    Suka… Seprti biasanya.. FFmu selalu bagus,
    mmm in settinganx Ank sklahan ya… Ya wlupn Q lbih suka genrex yg Romance Family g2.
    Tp tetp ska kok coz Castx YoonHun.hehee
    disini Sehun yg suka sma Yoonax. Trs Gimana sma YoonA? Suka jg ga Sih.. Nah in Mlah Ada acra perjodohan segala lgi. Trs gmana Nasibx Tehun? Q dh pnsaraan sma Kelanjutannya.. Author-Nim part selnjut Pleasee jngan lma2 yaa.. Ok. Ditunggu lho Ya.. Inget DiTunggu lhoo…#plaaak. LoL

    Like

  2. walahh…..
    Ntu trus nasibnya D.O ama Sehun gmna..??
    Yoona sukanya ama siapa??
    Lanjutlahh….d tunggu….jngan lma” oke….

    Like

  3. Duh,,,Gimana nanti sm sehun,klo yoong eonni dijodohin?? Keren thor,,moga aja perjodohannya batal… Ditunggu lanjutnya…

    Like

  4. Ayok d lanjut, kereh, thehun na cool bgt, kesannya cuek tp pduli.. Gmana reaksi yoona wkt d jodhoin ama suho? Yoona pasti sbnarnya cintanya ama thehun, cuman blum nyadar aja, makanya ayo lanjutkan,fighting.

    Like

  5. Iy pasti tak tunggu, q sering intip, syapa tau dh update:) udh baca 2x tp g bsan, mlah mkin g sabar tunggu next chap, fighting.

    Like

  6. annyeong ^^ akhirnya ada ff baru lagi, happy ending juseyoo, gak sanggup kalo sad ending thorr, aku suka bgt thor, cepet lanjutin ya hehe 😀

    Like

  7. Kyaaaa..
    Keren banget thor..
    Nggak nyangka sosok arogan selangit kayaak sehun cinta mati sama cewek..
    hahhaa
    Dia diam-diam selalu menjaga yoona, mungkin tanpa diminta omma yoona sehun pasti juga pidah..
    mungkin gak tahan kali ya kalau gak ngeliat yoona sehari aja
    yoona juga kayakya diem2 merhatiin sehun..
    semoga mereka berdua bersama

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s