Can’t Fight This Feeling (2/2)

Tittle: Can’t Fight This Feeling (2/2)

Author: Clora Darlene.

Genre: Romance.

Length: Twooshoots (Can’t Fight This Feeling (1/2))

Main Cast: EXO-K’s Oh Sehun, GG’s Im Yoon Ah.

Rating: PG-13.

Backsound: Cory Monteith – Can’t Fight This Feeling (May Cory rest in peace, amen)

Author Note: Maaf kalo ini bener-bener berantakan, alurnya biasa banget, kata-katanya apa banget -_- Maaf banget kalo FF ini berantakan T^T Dan maaf FF saya terus-terusan gak ada posternya -_- Hope you like it, readers! ūüėÄ

Disclaimer: Mine.

ABP on YoongEXO.

***

            Sehun tertegun, ia menahan nafasnya. Jantungnya terasa tertohok keras. Menghilangkan segala harapannya dan menghancurkannya begitu saja. Seakan-akan seseorang menendangnya jatuh ke dalam Palung Mariana sana. Dalam dan tidak ada ruang untuk bernafas.

Laki-laki dengan senyuman manis menenangkan itu bangkit lalu membungkuk‚Äď memberikan salam formal kepada Yoona dan Sehun yang baru saja pulang dari aktifitas bermain golf mereka. “Kim Joon Myun imnida. Senang bertemu denganmu, Yoona-ssi, Sehun-ssi”

Yoona tersenyum manis. “Senang bertemu denganmu juga, Joonmyun-ssi. Umma telah banyak bercerita tentangmu. Bagaimana dengan¬†study-mu di Belanda?”

Sehun hanya membalas sapaan Suho dengan senyum setengah hati.

“Berjalan lancar” Jawab Joonmyun singkat.

“Aku pulang dulu” Sehun membuka suaranya, berbisik tepat di telinga Yoona. “Kurasa tamumu yang satu ini sangat penting. Hingga kau sama sekali tidak menceritakan apapun kepadaku”

Yoona terdiam.

Mengerti arti di balik ucapan tajam Sehun.

Yoona segera meraih tangan Sehun. “Jangan pulang” Ucap Yoona pelan. “Diamlah di sini. Temani aku, sebentar saja”

Sehun melirik Joonmyun. Laki-laki itu masih melihati Sehun dan Yoona. Ada seberkas kesakitan kasat mata.

Laki-laki yang baru saja dilirik Sehun tadi.

Adalah calon suami Yoona.

Sehun mendengar dengan baik ucapan umma Yoona dan tidak mungkin ia salah dengar. Laki-laki bernama Kim Joon Myun itu adalah calon suami Yoona.

“Aku akan menunggu di kamar‚Äď”

“Temani aku di sini” Iris madu Yoona tampak memohon dengan dalam.

Sehun menghela nafasnya. “Baiklah ”

Keluarga hangat itu memulai perbincangan mereka. Joonmyun¬†as known as¬†Suho memulai memperkenalkan dirinya, keluarganya, dan bagaimana kisah hidupnya. Orang tuanya saat ini masih berada di Maladewa‚Äď mengurus sebuah hotel yang baru saja di bangun di surga dunia sana.

“Aku bisa saja mengantar dan menjemput Yoona saat sepulang sekolah. Bagaimana?” Suho tersenyum ramah.

Yoona tersenyum enteng. “Kurasa itu juga tidak terlalu buruk. Bagaimana umma, appa?” Yoona melirik ibu dan ayahnya.

“Tidak apa-apa” Ibu Yoona tersenyum cantik.

Dan Sehun masih terperangkap di dalam penjara tergelapnya. Seakan-akan hanya ada dia sendiri di sana. Hanya ada sisa dirinya dan harapan untuk membunuh Suho saat ini juga.

Ia benci hal ini. Demi apapun.

Ia membenci seorang laki-laki bernama Kim Joon Myun, Suho, laki-laki yang akan menyelesaikan study-nya di Belanda, atau apapun itu.

Persetan dengan segalanya, pikir Sehun.

Yoona.

Perempuan yang ia cintai sejak lama sekali‚Äď lama sekali.

Haruskah ia melihat perempuan itu berjalan di atas altar bersama laki-laki lain? Haruskah?

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sehun terduduk di kursinya. Matanya menerawang ke luar jendela ruang kelasnya. Ruang kelasnya tepat langsung menghadap ke gerbang masuk sekolah. Dengan kata lain‚Äď secara otomatis Sehun dapat melihat jika Yoona sudah datang dan memasuki area sekolah.

Dan yang benar saja.

Saat itu juga, Yoona sudah melewati gerbang sekolah. Bersama seorang laki-laki lain. Bukan, tidak bersama seorang siswa atau seorang Do Kyungsoo.

Laki-laki yang mengenakan kemeja hitam.

Kim Joon Myun.

Laki-laki itu benar-benar mengantar Yoona sampai sekolahan.

Fakta kenyataan kembali menampar Sehun dengan keras.

“Sehun-ah!” Suara nyaring Yoona cukup membuat Sehun bangun dari lamunannya. Sehun melepaskan¬†headset-nya, menggenggam iPod hitamnya lalu tersenyum kecil.

“Hey, selamat pagi”

Yoona menaruh tasnya lalu duduk di kursinya‚Äď tepat di sebelah Sehun. “Selamat pagi. Ada apa dengan dirimu? Apa kau sakit, hm?” Yoona menempelkan telapak tangannya pada kening Sehun.

“Aku baik-baik saja” Sehun tetap tersenyum kecil, berharap tidak mengkhawatirkan Yoona. “Bagaimana kau dengan Suho? Sudah merasa cocok?”

Yoona mengangguk enteng. “Dia laki-laki yang baik. Seorang konglomerat juga. Dewasa dan menawan” Yoona menahan tawanya.

“Yang benar saja, sebentar lagi kau akan menikah?” Sehun memaksakan tawanya.

“Aku tidak akan menikah semuda ini” Iris madu Yoona terputar.

“Berniat ke Paris Baguette¬†Cafe¬†untuk makan siang?” Tawar Sehun.

“Mianhae, tapi aku tidak bisa. Suho mengajakku makan di¬†Feast. Ah, dan juga makan malam. Kurasa tadi Suho mengajakku makan malam juga” Oceh Yoona‚Äď cukup membuat Sehun tersenyum kecut.

Sehun tersenyum kecil. “Hati-hatilah”

“Arasseo, Tuan Sehun” Yoona tertawa renyah‚Äď hal yang akan Sehun rindukan.

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† 3:05 PM Korea Standard Time‚Äď Paris Baguette¬†Cafe.

Sudah berapa hari yang lalu saat dirinya dan Yoona makan di cafe ini?

Satu bulan lalu?
Satu tahun lalu?

Kenapa waktu berlalu sangat lambat dan menyakitkan?

Sehun menyendok Tiramisu kesukaannya, memasukkan ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan pelan. Merasakan sensasi saat lidahnya bergelut dengan lapisan cokelat tersebut.

Dan seakan-akan ada Yoona yang ia rasakan.

Saat Yoona membawakannya sebentuk Tiramisu ke rumahnya.

Saat Yoona menyuapinya.

Saat Yoona membersihkan bibirnya.

Saat setiap hal di dalam hidupnya yang berhubungan dengan Yoona.

Sehun menghembuskan nafasnya lalu menaruh sendok Tiramisu-nya. Melangkahkan kakinya keluar dari cafe dan kembali menginjak pedal gas. Tatapannya kosong, hanya melihati jalanan beraspal lurus hitam di depannya.

Kemarin Yoona masih duduk di sebelahnya. Masih memanggil namanya terus-menerus, masih merengek-rengek manja kepadanya.

Kakinya refleks menginjak rem. Menyadari kenapa ia melakukannya.

Ada Yoona di depan sana. Di rangkul Suho. Masuk ke dalam sebuah gedung, untuk makan siang‚Äď di¬†Feast. Ya, baru saja Sehun melihat dengan mata kepalanya sendiri, Yoona dan Suho. Calon suami-istri tersebut.

Sebodoh inikah rasanya sakit saat kau melihat orang yang kaucintai bersama orang lain? Calon suaminya?

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Sehun-ah!”

Sehun menolehkan pandangannya‚Äď dari¬†x-box¬†tercintanya menuju pintu masuk rumahnya. Ada sesosok Yoona yang ia rindukan sedang berlari ke arahnya lalu melompat dan duduk di sebelahnya. “Tebak, apa yang kubuat saat ini?”

“Tiramisu?”

Schwarzw√§lder Kirschtorte” Yoona membenarkan dengan senyum lebar.

Sehun memutar kedua iris¬†pure hazel-nya. “Kau bisa mengatakannya¬†black forest¬†ala Jerman, Yoona-ya”

“Ayolah,¬†Schwarzw√§lder Kirschtorte¬†terdengar keren” Yoona melepaskan tawanya. “Aku ingin kau mencobanya”

“Kau tidak berniat meracuniku, bukan?” Sehun melirik Yoona.

“Bunuh aku jika aku membunuhmu” Kini giliran Yoona yang memutar kedua iris madunya.

“Bodoh, bagaimana aku akan membunuhmu jika kau telah membunuhku?” Sehun meraih sendoknya, menyendok sepotong¬†Schwarzw√§lder Kirschtorte¬†buatan Yoona lalu mulai mengunyahnya dengan pelan. “Tidak terlalu buruk. Setidaknya tidak ada racun di dalamnya”

“Aku akan berikan ini untuk Suho” Yoona tertawa kecil.

Gigi Sehun berhenti mengunyah.

Makan bercokelat itu seketika menjadi sebuah racun terampuh untuk membunuh jiwa Sehun. Membiaskan kesakitan-kesakitan di dalam diri Sehun. Memantulkan setiap keperihan, melipat gandakan keputus asaannya.

“Bagaimana menurutmu? Apa dia akan suka?” Yoona memasang tampang was-wasnya.

Sehun tersenyum kecil, menatap wajah perempuan mungilnya. “Dia akan menyukainya, tenang saja”

Apa aku bisa membunuhmu jika sekalipun kau telah membunuhmu?

            Tidak. Aku tidak bisa.

            Dan tidak akan pernah bisa.

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sudah sekitar enam minggu ini hubungan Sehun dan Yoona merenggang‚Äď itulah tanggapan Sehun.

Laki-laki pirang itu saat ini terduduk di atas trampoline biru Yoona, baru saja selesai melakukan aktifitasnya yang dulu sering ia lakukan bersama Yoona.

Sehun mendongak, menatap langit. Matanya menyipit, mencoba menepis sinar matahari yang bertubi-tubi menyerang iris pure hazel-nya.

Apa yang Yoona sukai dari sinar matahari?

Apa yang Yoona sukai dari langit dan gumpalan putihnya?

Apa yang Yoona sukai dari benda-benda langit saat siang hari?

Sehun menghembuskan nafasnya, matanya refleks teralihkan saat mendengar suara pintu mobil tertutup. Iris¬†pure hazel¬†itu menangkap sosok Yoona‚Äď seakan-akan pandangan Sehun terkunci pada Yoona. Hingga datang laki-laki¬†itu.

Keduanya tertawa lalu masuk ke dalam rumah Yoona.

Bahkan Yoona tidak melihatnya.

Setembuspandang itukah seorang Oh Sehun kini untuk seorang Im Yoon Ah?

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Sehun-ah?” Suara ketukan pintu itu menggema.

Sehun melirik pintu kamarnya. Ia kenal dengan jelas suara lembut itu‚Äď suara ibunya. “Ada apa, umma?”

Knop pintu itu terputar, terbuka dan memerlihatkan sosok ibu Sehun yang cantik jelita. “Keluarga Yoona mengundang kita untuk makan malam bersama dengan keluarga Kim Joon Myun. Dan ada pengumuman penting”

“Aku tidak bisa ikut” Jawab Sehun pelan. “Katakan aja aku tidak enak badan”

“Kau yakin? Ini adalah malam penting untuk Yoona, Sehun-ah” Ucap ibunya lembut.

Sehun tersenyum kecil. “Sampaikan saja salamku untuknya. Aku ingin tidur dulu, umma. Selamat malam” Sehun masuk ke dalam selimutnya, menutupi tubuh panjangnya dengan¬†bedcover¬†cokelatnya.

Masih ada rasa sakit yang ia rasakan sampai sekarang. Ia masih belum bisa menerima kenyataan, dan ia rasa tidak akan pernah bisa.

Yang ia inginkan hanya Yoona. Hanya sosok Yoona, itu saja. Tidak lebih ataupun tidak kurang.

Bahkan saat ini Yoona telah berada di ujung genggamannya. Siap pergi meninggalkannya‚Äď untuk laki-laki lain. Dan saat genggamannya terlepas dari tangan Yoona, Sehun berani bersumpah bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi menggenggam perempuan itu.

Dan itu adalah ketakutan terbesarnya.

Kelopak mata Sehun memberat, dan tidak butuh waktu lama untuk iris pure hazel itu meredup sejenak.

 

“Kurasa dia baik-baik saja. Badannya tidak demam”

Sehun membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali dan mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu kamarnya sendiri.

“Kau terbangun? Mianhae, aku tidak berniat mengganggu tidurmu. Aku hanya¬†sedikit¬†khawatir saat umma-mu mengatakan kau tidak enak badan dan aku langsung datang ke sini, memeriksamu”

Sehun mengucek matanya sejenak, mencoba menjernihkan pengelihatannya‚Äď memberikan kepercayaan pada dirinya bahwa saat ini depannya adalah Yoona. Bukan perempuan lain atau siapapun.

“Hey”

Yoona menghembuskan nafasnya pelan‚Äď lega. “Hey”

“Kurasa aku ketiduran” Gumam Sehun tidak jelas lalu mencoba duduk. “Aku baik-baik saja”

Yoona tersenyum tipis. “Baiklah, aku pulang dulu. Istirahatlah”

“Ada pengumuman penting apa?” Tanya Sehun, mengalihkan topik pembicaraan. Tatapan matanya menatap Yoona serius. “Maaf karena aku tidak bisa datang”

Yoona terdiam tiga detik lalu tersenyum kecil. “Hanya pengumuman kapan pernikahanku bersama Suho akan diselenggarakan”

Waktu membunuh Sehun saat ini.

Menancapkan berbagai bilah pisau pada dirinya, mengiris, membelahnya dengan tajam dan sadis. Menyeruakkan darah dengan kesakitan dalam.

“Rupanya setelah ujian nasional nanti kau akan langsung menikah” Sehun tertawa hambar.

“Oh, astaga. Aku tidak akan menikah secepat itu” Yoona memutar kedua iris madunya.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Senang, tentu saja” Yoona tersenyum manis, bibir¬†pink-nya berlekuk indah. “Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung. Suho terlalu baik”

Menjadi perempuan paling beruntung karena kau mendapatkan Suho?

Hey, aku masih di sini.

“Kau¬†harus¬†bahagia. Ingat itu” Sehun tersenyum kecil, menatap gadis mungilnya.

Aku merelakan Yoona.

Yoona terdiam dan tundukannya. Sebuah senyum tipis terkembang. “Gomawo, Sehun-ah”

Sehun meraih dagu Yoona lalu mengangkat pelan wajah Yoona. “Kau akan menjadi istri seorang Kim Joon Myun, berbahagialah, Yoona-ya”

Rasa sakit itu ada. Menjalar, membesar, lebih menyakitkan.

Yoona masih belum berbicara‚Äď tapi air matanya terjun bebas. Menggerakkan jemari lentik porselen Sehun untuk menghapusnya. “Kenapa harus menangis? Terdengar konyol jika kau menangisi kebahagiaanmu” Sehun terkekeh hambar.

“Aku,” Yoona menarik nafasnya pelan. “Tidak pernah menginginkan hal ini, tidak…” Yoona menggeleng pelan, menyebabkan tetesan air matanya yang lain terjun bebas juga.

Sehun¬†hanya¬†membeku. Jemarinya terasa kaku, tidak bisa meraih tetesan air mata Yoona untuk dihapusnya‚Äď seakan-akan sudah menjadi tugasnya untuk menghapus setiap tetesan air mata Yoona.

Yoona menunduk dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menyembunyikan dirinya yang telah rapuh dari hadapan iris pure hazel Sehun.

Sejenak hanya ada isakan tangis kecil Yoona. Membiarkan perempuan itu melampiaskan segala perasaannya.

“Aku terlihat sangat bodoh” Yoona terkekeh hambar lalu mengusap pipinya. “Maafkan a‚Äď”

“Kau bisa menangis sepuasmu” Yoona mendongak, menatap Sehun yang menatapnya. Sehun melayangkan tangannya, menyelipkan helaian rambut cokelat Yoona di belakang telinga perempuan itu. “It’s okay

Iris madu Yoona bergetar dan tangisannya kembali meledak. Kini lebih keras. Perempuan itu membiarkan segalanya keluar begitu saja‚Äď teriakannya, kesakitannya, keperihannya, luka-lukanya. Ada kesakitan yang masih enggan meninggalkan Yoona. Kesakitan itu masih ingin manyakiti Yoona lagi, menyakitinya lebih dalam. Teriakannya mengecil, suaranya sudah tidak kuat lagi ikut untuk mengimbangi besarnya kesakitan yang ia rasakan saat ini. Tangannya mengepal dan badannya melemah, terasa bergetar di dalam…pelukan Sehun.

Sehun sejanak mencium ubun-ubun kepala Yoona.

Merengkuh tubuh Yoona yang hampir hancur pada rengkuhan tubuh hangatnya, menghangatkan sentuhan kulit Yoona pada kulit Sehun.

“AAAAAAAAAAAHHH!!!”

Sehun terdiam. Mengunci erat mulutnya. Membiarkan Yoona berteriak keras dan membasahi t-shirt-nya dengan air mata.

“Sehun-ah…kumohon…aku tidak ingin menikah dengannya…sungguh…” Yoona menggeleng cepat, tangannya masih mengepal menarik¬†t-shirt¬†Sehun.

“Tenanglah, Yoona-ya” Ucap Sehun lembut, tepat di telinga Yoona.

“Aku tidak mencintainya…”

Sehun terhenyak. Terdiam. Membeku di tempatnya kali ini.

Aku juga mencintaimu.

Sehun melepaskan pelukannya, menidurkan Yoona di atas ranjangnya. “Aku akan mengambilkanmu minum. Tunggulah” Sehun tersenyum kecil lalu memakaikan Yoona selimutnya dan hilang di balik pintu putih kamarnya.

Butuh seratus dua belas detik untuk Sehun kembali ke kamarnya, membawa segelas air putih lalu memberikannya pada Yoona.

“Lihat, kau pucat sekali” Sehun menelusuri garis wajah Yoona. “Kau harus banyak istirahat”

Yoona menggeleng. “Aku…tidak ingin menikah dengannya…”

Sehun mengelus pelan kening Yoona. “Aku tahu”

Yoona menutup kelopak matanya yang sudah terasa berat. Tertidur akibat obat tidur yang dilarutkan Sehun pada segelas air putih miliknya.

Sehun melirik gelas bening Yoona.

Kejadian saat dirinya berbicara dengan ibu Yoona, saat wanita yang telah melahirkan Yoona ke dunia ini memintanya untuk menjaga Yoona di sekolah barunya, bagaimana ia bisa dengan mudah melepaskan sekolah konglomeratnya‚Äď terputar di ingatannya sebagai film tanpa suara.

Hanya semata-mata ia ingin menjaga Yoona karena ia mencintai Yoona.

Sehun kembali menelusuri garis wajah sempurna Yoona. Ia bahagia, mendengar Yoona mengatakan bahwa perempuan ini tidak mencintai seorang Kim Joon Myun. Dan ia merasa sakit, melihat Yoona seperti ini. Merasa bodoh, karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Yoona.

***

            Yoona terbangun dalam keadaan berantakan. Matanya membengkak dan kantung matanya menghitam. Lebih buruknya lagi, ia menemukan dirinya tertidur di kamar Sehun. Yoona sedikit mengerang lalu bangkit dari ranjang Sehun, masuk ke dalam kamar mandi dan merapihkan dirinya.

Akan banyak pertanyaan tidak penting jika ia keluar dengan mata bengkak seperti ini, pikir Yoona.

“Bibi, mana Sehun?” Tanya Yoona saat Bibi Yukino melewatinya.

“Tuan Sehun pergi sejak pagi tadi, nona”

“Pergi?” Yoona mengerutkan keningnya. “Kemana?”

“Tidak ada yang tahu, nona”

“Tidak ada? Ahjumma? Ahjussi? Mereka tidak tahu?” Alis kiri Yoona terangkat.

“Tuan Sehun pergi begitu saja, nona. Tidak memberitahu kemana dan siapapun”

“Baiklah, terimakasih bibi” Yoona tersenyum kecil lalu berjalan menuruni anak tangga, ingin berbicara sejenak dengan Ibu Sehun.

“Sehun tidak memberitahu apa-apa, Yoona-ya. Bahkan Sehun tidak mengaktifkan ponselnya sejak pergi tadi pagi sekali” Jelas Ibu Yoona. “Apa kau dan dia ada masalah sebelumnya?”

“Hm?” Yoona mendongak, menatap sosok wanita cantik paruh baya di hadapannya. “Aniyo, ahjumma. Tidak ada” Yoona tersenyum kecil. “Aku keluar dulu” Yoona berjalan keluar dengan tatapan kosong dan berpikiran yang berkecamuk. Hanya dua pertanyaan yang Yoona inginkan jawabannya.

Dimana dan mengapa ia pergi?

“Nona Yoona, ada Tuan Suho di depan” Bibi Yukino tiba-tiba telah berdiri di depan Yoona.

“Suho? Ah, baiklah” Yoona kembali melangkahkan kakinya dengan tidak¬†excited. Senyuman manis Suho menyapanya, memberikan ketenangan sejenak untuk dirinya.

“Hey, selamat pagi”

“Selamat pagi” Sapa Yoona balik, tetap tersenyum manis. “Ada apa?”

“Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama. Berminat?”

“Baiklah. Berikan aku dua puluh menit dan aku akan kembali” Yoona tertawa kecil.

Suho tersenyum manis. “Baiklah, Nona Yoona”

27 menit kemudian

            Sepasang calon suami-istri itu telah berada di dalam mobil mewah yang terarahkan ke Feast. Mengobrol ringan dan sesekali tertawa.

“Kau siap menikah denganku?”

Wajah Yooan terlihat sedikit menegang dan menatap Suho yang sedang memutar setir mobilnya. Sebuah senyum manis terulas. “Tentu saja”

Suho melirik Yoona dengan senyuman manis. “Aku mencintaimu”

Yoona terdiam membeku. Hatinya terasa tertohok keras.

Suho mencintainya dan seharusnya ia senang.

Tapi ada yang berbeda.

Yoona melirik jendelanya.

Paris Baguette Cafe.

I’ve been looking for you forever baby we go. Together baby we go, we go…”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†In this crazy world of choices I’ve only got a few. Either you’re coming with me or I’m coming with you. Cause I finally found, I finally found you. You never have to worry if what I say is true. Girl I’ve been looking for you and when I saw you I knew, that I finally found, I finally found you…

Yoona melirik stereo tape mobil Suho.

“Oh, astaga. Aku lupa. Aku ada janji dengan Yuri” Ucap Yoona tiba-tiba. “Mianhae, bisa kau turunkan aku di sini?”

“Apa?” Suho terlihat kaget dan sedikit tersontak. “Aku bisa mengantarmu”

“Aku bisa pergi sendiri. Kau tahu, masalah-masalah perempuan” Yoona tersenyum tipis dan segera membuka pintu mobil Suho dengan sekali hentakan keras. “Aku akan menelponmu nanti. Sampai jumpa” Yoona segera menutup pintu mobil Suho dan menyebrang jalanan.

Paris Baguette Cafe ada di seberang jalanan raya sana.

Maafkan aku, Suho.

Yoona mendorong pintu kaca Paris Baguette¬†Cafe. Menghirup dengan dalam aroma khas¬†cafe¬†tersebut. Lelehan cokelat,¬†hazelnut, vanila, kopi, dan segala bau yang ia rindukan atas tempat ini. Yoona mengambil sepotong Tiramisu‚Äď Tiramisu kesukaan…Sehun.

Yoona mendudukkan dirinya di kursi yang sering ia duduki bersama Sehun. Menyantap Tiramisu-nya di tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu-waktunya dengan Sehun. Di dekat jendela, dimana ia suka melihati air hujan menetes saat langit gelap itu mulai menangis.

Yoona mendongak, menatap kursi kosong yang tidak berpenghuni di hadapannya.

Biasanya ada sosok Sehun di hadapannya, membaca buku atau hanya sekedar memakan Tiramisu-nya dalam diam.

Biasanya.

Dan kini tidak ada.

Tangan Yoona berhenti bergerak, kini mengepal lemah.

Dimana Sehun?

Yoona mengambil ponsel putihnya, menyentuh layarnya sejenak lalu menempelkan benda putih itu di telinganya. Mengecewakan baginya, Sehun masih mematikan ponselnya. Hanya ada customer service yang menjawab teleponnya.

Bahkan home screen dan lock screen-nya saja foto dirinya bersama Sehun. Home screen dengan foto mereka beberapa waktu lalu saat berlibur musim panas dan lock screen dengan foto masa kecil mereka.

Sebuah senyum kecil mengembang.

Ingatan akan Kyungsoo menyerangnya. Ah, laki-laki itu. Pikir Yoona.

Yoona tersenyum kecil.

Kyungsoo adalah laki-laki yang baik dan menarik. Pikir Yoona lagi.

Tapi ia sama sekali tidak pernah jatuh cinta dengan laki-laki itu.

Yoona terdiam sejenak, iris madunya masih menatap home screen-nya.

Atau seorang Im Yoon Ah tidak pernah jatuh cinta selama hidupnya saat ini.

***

            Dua minggu kemudian.

Yoona sudah cukup stress sampai saat ini. Tidak ada kabar tentang Sehun. Tidak ada yang tahu, tidak ada.

Mata Yoona terlihat sedikit sembab. Ia memakirkan mobilnya di depan rumah seorang sahabat Sehun.

“Yoona-ya? Masuklah” Luhan mempersilakan keturunan konglomerat perempuan itu masuk ke dalam rumahnya yang bergaya Cina. “Ada apa?”

“Apa kau tahu dimana Sehun?”

“Kau sudah menanyakan hal itu banyak kali, Yoona-ya. Sungguh, aku tidak tahu. Kami semua juga mencarinya” Jelas Luhan pelan.

Yoona terduduk di sofa hijau Luhan, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Dia akan kembali”

“Ka…pan?” Yoona mengusap pelan air matanya.

Luhan terdiam sejenak. “Secepatnya”

Yoona mengatur nafasnya. Sejenak, ia melirik model pesawat-pesawatan milik Luhan. “Apa Sehun masih di sekitar Korea Selatan?”

“Aku tidak dapat memastikan itu”

Yoona bangkit dari duduknya. “Kurasa bandara tahu dimana Sehun”

***

            Laki-laki itu terduduk di atas sebuah ayunan. Ia hanya mengayun pelan. Kakinya menginjak rerumputan hijau pekarangan rumah.

            Sudah dua minggu ini dia menghilang.

            Orang tuanya bahkan tidak tahu ia dimana.

            Ponselnya?

            Ia bahkan menyimpan ponselnya di dalam sebuah brankas.

            Hanya ada angin sore yang menerpa rambut pirangnya. Badan porselennya terutupi jaket kulit cokelat.

            Ada sebuah alasan yang membawanya ke sini. Korea Selatan bahkan tidak bisa menjadi tempat teramannya.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Kau tidak berniat untuk pulang? Setidaknya kabari orang tuamu”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Laki-laki itu tersenyum kecil lalu mendongak. Ada sosok wanita cantik berambut cokelat terang menghampirinya dan mengelus pelan punggung. Seakan-akan laki-laki beriris pure hazel ini adalah anak wanita tersebut. “Aku akan pulang, tapi tidak sekarang, Bibi Flour”

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Anda pasti memiliki daftar penerbangan tujuh belas hari lalu, Tuan Choi. Dan anda aku berani bersumpah bahwa kau masih menyimpannya” Ucap Yoona tajam di hadapan pimpinan bandara. “Aku meminta berkas-berkas itu”

“Maafkan saya, Nona Yoona. Tapi anda tidak dapat melihat berkas-berkas tersebut” Tukas Tuan Choi.

“Aku bisa menjaga kerahasiaan penerbangan”

“Maafkan saya, Nona Yoona. Tapi Tuan Sehun sendiri yang mengatakan untuk tidak memperlihatkan berkas-berkas tersebut pada anda atau siapapun”

Yoona terdiam membeku. “KAU… TAHU DIMANA SEHUN?!! KAU BERBICARA DENGANNYA?! BERITAHU AKU SEKARANG DIMANA DIA!!” Teriak Yoona frustasi. “BERIKAN AKU BERKAS-BERKASNYA SEKARANG JUGA!! DIMANA DIA?!!”

“Maafkan‚Äď”

“AKU IM YOON AH KONGLOMERAT TERTINGGI, KUPERINTAHKAN KAU SEKARANG MEMBERIKAN BERKAS PENERBANGAN TUJUH BELAS HARI LALU PADAKU!!!”

“Kami terikat dengan Konglomerat Oh‚Äď”

“KONGLOMERAT IM ADALAH KONGLOMERAT TERTINGGI!” Kembali, setetes air mata terjun bebeas dari mata Yoona.

Dimana Sehun yang biasanya menghapus tetesan bening itu?

“Yoona-ya, tenanglah” Suara Luhan ada, mencoba untuk menenangkan Yoona.

“AYOLAH BAGAIMANA BISA KAU TENANG?!! SEHUN MENGHILANG! SELURUH PENJURU KOREA SELATAN MENCARINYA DAN HANYA ORANG SIALAN INI SAJA YANG MENGETAHUI DIMANA SEHUN!! DAN BR*NGS*KNYA DIA TIDAK MAU MEMBERITAHU KITA!!” Teriak Yoona pada Luhan.

Iris madu tajam Yoona kembali menatap pimpinan Bandara‚Äď Tuan Choi. “ATAS NAMA KONGLOMERAT IM, KUPERINTAHKAN KAU SEKALI LAGI. BERITAHU-AKU-DIMANA-SEHUN!!”

Tuan Choi masih tertunduk. “Tuan Sehun di Jerman, nona”

Tangan Yoona yang bergetar hebat teralihkan pada ponselnya yang berdering.

Nama Sehun tertera di layarnya.

“Sehun-ah!” Suara Yoona masih meninggi, ia melangkah menjauh dari kerumunan. “Ke-Kenapa kau…pergi? Dan tidak…memberitahu…ku? Wae?!” Air mata Yoona kembali meledak.

Hey, tenanglah

Oh, astaga. Suara itu.

Yoona kembali mendengarnya.

Suara Sehun, menenangkannya, deru nafas Sehun yang dapat Yoona tangkap dengan indera pendengarannya. “Aku akan pulang

Dan hubungan kontak itu mati begitu saja. Yoona terdiam membeku. Tangannya tidak bisa digerakkannya. “Se-Sehun…ah? SEHUN-AH!!” Yoona kembali menekan layarnya, mencoba menelpon Sehun kembali, tapi hasilnya nihil.

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Jarum pendek jam sudah melewati angka dua belas. Sudah lewat tengah malam, tepatnya. Dan Yoona masih terduduk di atas ranjangnya‚Äď ranjang di kamar Sehun, sebenarnya. Ia tidak bisa menangkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Tiket ke Jerman sudah ia pesan, dalam waktu secepat mungkin.

Yoona melirik gitar cokelat Sehun yang dipajang di dekat jendela kamar.

Yoona tidak mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya.

Sehun hanya pergi sejenak ke Jerman, dan ia tahu bahwa Sehun akan kembali ke Seoul. Akan kembali, dalam kurung waktu yang tidak pasti.

Yoona membenamkan wajahnya pada kedua lututnya yang ia tekuk. Ia terisak pelan dalam keheningan tengah malam kamarnya. Membiarkan ia larut dalam kesedihannya.

Sehun hanya menghilang untuk sementara, dan Yoona membenci hal itu.

Ada apa dengan seorang Im Yoon Ah sebenarnya?

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†“Aku benci melihatnya dalam keadaan tertekan seperti ini. Yoona hanya tidak ingin menikah dengan Suho”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Tapi waktu pernikahan mereka telah ditetapkan”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Aku tahu” Sebuah senyum kecil terulas di bibir laki-laki tersebut. “Yoona suka sekali dengan laki-laki biasa. Cita-citanya hanyalah menikah dengan seorang laki-laki yang tidak berasal dari kaum konglomerat. Dia ingin mempunyai hidup yang biasa saja”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Jika kau sudah tahu itu, tapi kau tetap berharap dapat menikahinya?”

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Oh Sehun‚Äď mendongakkan kepalanya. Menatap Bibi Flourencia. “Kurasa aku telah mendapatkan jawabanku”

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Oh Sehun‚Äď keluar dari VIP¬†gate¬†bandara. Mencoba menghindari para¬†netizen¬†yang telah menunggunya di luar bandara. Tapi, apa daya.¬†Netizen¬†ada dimana-mana.

“Tuan Sehun, apa benar anda pergi ke Jerman untuk melakukan rehab? Apa anda menggunakan narkoba?”

“Tuan Sehun, apa benar anda menemui kekasih anda di Jerman sana?”

“Tuan Sehun, apa benar anda telah merencakan pernikahan anda di Jerman?”

“Tuan Sehun, apa anda merencanakan untuk pindah¬†study¬†ke Jerman?”

Sehun membanti pintu mobilnya. Pertanyaan konyol dan tolol, pikir Sehun.

Aku? Menggunakan narkoba? Rehab?

Yang benar saja.

Sehun mendesah pelan lalu menyandarkan kepalanya pada sandara kursi mobil. Iris pure hazel-nya melirik jalanan raya.

Seoul.

Lirikan teralihkan pada jam tangan hitamnya.

Ia sudah memantapkan rencananya. Walaupun terkesan mendadak, tapi besok adalah waktu tercepat. Dan ia tidak ingin membuang waktunya.

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Sehun sudah di Seoul?!” Suara Yoona meninggi.

“Ya. Dia ada di¬†Sheraton Seoul D Cube City Hotel” Jawab Luhan.

Yoona segera meraih kunci mobilnya‚Äď tidak peduli dengan tampilannya kini yang hanya mengenakan¬†hotpants¬†hitam dan kaus putih polos yang berantakan‚Äď lalu segera pergi ke tempat dimana Sehun kini berada.

Luhan mengikutinya, takut jika Yoona akan kehilangan kendalinya saat seperti di bandara. Berteriak keras dan menekankan kesombongannya atas konglomerat tertingginya.

Seperti dugaan Yoona. Di depan Sharaton Seoul D Cube City Hotel penuh dengan mobil-mobil TV lokal. Mereport keadaan Sehun yang baru pulang dari Jerman.

“Lewat sini, Nona Yoona dan Tuan Luhan” Seorang¬†bodyguard¬†menghampiri Yoona dan Luhan, memberikan mereka akses khusus untuk masuk ke dalam hotel.

Kamar Sehun ada di lantai teratas. Dijaga ketat oleh empat bodyguard berbadan besar.

“Aku ingin masuk” Ucap Yoona tajam.

“Maafkan kami, Nona Yoona. Anda tidak bisa masuk” Bantah salah satu dari keempat¬†bodyguard¬†tersebut.

“Biarkan aku masuk”

“Biarkan dia masuk” Lanjut Luhan.

“Maafka‚Äď”

“AKU IM YOON AH KONGLOMERAT TERTINGGI, BIARKAN AKU MASUK!!” Teriak Yoona. “SEHUN-AH!!”

“Maafkan kami, Nona Yoona dan Tuan Luhan. Anda tetap tidak bisa masuk. Tidak ada yang boleh masuk menemui Tuan Sehun”

Di balik pintu putih itu. Ada Sehun di dalamnya. Ya, di balik pintu putih itu dan hanya berjarak beberapa kaki dari Yoona.

Ada Sehun yang ia rindukan di dalam sana.

Seorang¬†bodyguard¬†menekan tombol¬†earpiece-nya, lalu berucap pelan. “Baiklah”

Bodyguard¬†tersebut beralih pada Yoona. “Hanya Nona Yoona yang dipersilakan masuk”

Yoona menatap Luhan. “Masuklah” Luhan tersenyum kecil.

Bodyguard tersebut membuka pintu putih kamar Sehun dan Yoona langsung masuk tanpa berbasa-basi.

Sosok Sehun kini sedang menatapnya.

Suara Yoona seakan-akan tercekat. Ia tidak dapat memanggil Sehun, langkahnya menjadi berlari dan berhambur memeluk Sehun erat.

“Hey” Sehun tertawa kecil, tepat di telinga Yoona.

Hal yang Yoona rindukan.

Yoona membenamkan wajahnya pada sweater biru tua Sehun. Membiarkan sweater tersebut basah dengan air matanya.

“Bagaimana keadaanmu, hm? Maafkan aku karena tidak memberitahumu” Sehun tersenyum kecil.

Yoona masih tidak berbicara. Ia masih ingin memeluk Sehun lebih erat, tanpa suara. Masih ingin meyakinkan dirinya bahwa sosok laki-laki ini adalah Sehun.

“Kau terdengar sombong sekali tadi. Mengatakan kau adalah konglomerat tertinggi” Sehun tertawa mengejek.

“Aku merindukanmu”

Dua kata itu cukup membungkamkan Sehun.

Yoona tidak pernah jatuh ke dalam titik terbawah jurang percintaan. Seumur hidupnya, hingga kini. Tidak pernah.

Karena sejak awal ia sudah berada di dalam titik terbawah. Semenjak ia bertemu dengan Sehun. Semenjak Sehun selalu ada untuk dirinya, dan ia baru tersadar saat ini.

“Aku juga merindukanmu” Sehun tersenyum kecil lalu mengelus puncak kepala Yoona.

“Pulanglah, kumohon” Yoona memejamkan matanya, mengeratkan pelukannya.

“Aku sudah pulang, Yoona-ya”

Laki-laki itu baru saja memanggilnya. Memanggil Yoona, seperti biasa.

“Ke rumah”

Sehun terdiam.

Ya, dia juga merindukan rumahnya. “Aku tidak bisa pulang sekarang”

Yoona terdiam, mendongakkan kepalanya. Dan untuk pertama kalinya lagi, iris madu Yoona menatap iris¬†pure hazel¬†milik Sehun. Tenang, nyaman dan hangat. “W..Wae?”

Sehun terkekeh kecil lalu mengusap pelan pipi Yoona‚Äď menghilangkan kelembaban akibat air mata Yoona. “Aku ada sebuah kejutan untukmu”

Yoona tertegun.

Sudah berapa lama ia tidak melihat senyum Sehun?

Dan aku mencintainya.

***

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† “Appa, kenapa kita ke sini?” Yoona melirik ayahnya yang memakirkan mobil mereka di depan¬†Auditorium Palace¬≠‚Äď Auditorium besar untuk para konglomerat. Tempat dimana biasanya diadakan acara-acara resmi konglomerat.

“Umma, ada apa di sini?” Yoona melirik ibunya yang duduk di kursi penumpang belakang. “Apa ada acara resmi tahunan? Kurasa, jamuan¬†afternoon tea¬†akan diadakan dua bulan lagi”

Yoona terus mengoceh, bertanya-tanya pada orang tuanya lalu masuk ke dalam auditorium. Auditorium terlihat telah penuh dan hening. Ayah dan ibunya meninggalkannya sendiri sejenak, memisahkan diri dari anak sematawayangnya tersebut.

“Dan kini marga kekonglomeratan telah sah tercabut dengan hormat”

Yoona terdiam.

Suara di speaker tersebut menggema keras.

Yoona menyipitkan matanya. Mencoba melihat dengan jelas siapa laki-laki yang mengenakan baju kehormatan konglomerat di depan sana, di atas panggung sana.

Laki-laki itu menyerahkan sebuah tongkat‚Äď tongkat kehormatan berwarna hitam metalik dengan bola emas di atasnya‚Äď kepada sosok laki-laki tua.

Baju kehormatan berwarna hitam dengan garis merah beserta topi putih seperti topi angkatan laut.

Baju kehormatan Konglomerat Oh.

“Dengan ini, Oh Sehun telah sah mencabut dan keluar dari keluarga konglomerat Oh dengan terhormat”

Jantung Yoona terasa tertohok.¬†Si…apa? Oh…Sehun?

Laki-laki di depan sana berbalik, lalu membungkuk dan melangkah turun dari panggung. Seisi auditorium bertepuk tangan.

Sehun melepaskan kekonglomeratannya?!

Yoona dapat menangkap sosok Sehun yang sedang bersalaman dengan beberapa petinggi konglomerat yang lainnya, hingga dua pasang iris beda warna itu bertemu. Saling menatap dalam.

Sehun melangkahkan kakinya pelan, menghampiri Yoona yang masih berdiri di pintu auditorium.

“A…Apa maksudmu…? Apa maksudmu membuang margamu?!” Suara Yoona meninggi, meneteskan setetes air mata lagi di pipinya.

“Ayolah, jangan menangis” Iris¬†pure hazel¬†Sehun terputar dan tangan Sehun melayang untuk kembali menghapus air mata Yoona. “Kau terlalu sering menangis dan aku bosan melihatmu menangis, Yoona-ya”

“A-Apa maksudmu keluar…dari keluargamu…sendiri?! Ini yang kau sebut sebagai kejutan?! Ini tidak lucu, sungguh!”

Ego Sehun‚Äď hal terkuat dalam dirinya‚Äď kalah begitu saja. Kalah dengan perasaannya untuk Yoona. Perasaannya untuk Yoona terlalu besar untuk dikendalikannya, dan ia menyerah saat ini.

“Aku tahu bahwa kau menyukai laki-laki yang¬†biasa¬†saja, dan aku mencoba menjadi laki-laki yang kau sukai itu. Suho? Ayolah, dia adalah pria konglomerat. Dia bukan tipemu” Sehun tertawa kecil. “I can’t fight this feeling anymore, Yoona-ya. Aku mencintaimu” Sehun tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putih sempurnanya. “Dan aku tidak peduli dengan kekonglomeratan”

” Im Yoon Ah-ssi,¬†would you be my wife? Spent your rest of lifetime with me?

Yoona masih membungkamkan mulutnya lalu tertawa dengan air mata yang tetap menjatuhi pipinya. “Kau bodoh”

“Ya, aku mencintai orang bodoh” Ejek Sehun.

“Kau mengataiku bodoh?” Yoona melirik Sehun tajam.

“Menikah denganku dan aku akan mengatakanmu pintar”

“Ini pemaksaan”

“Kau merusak¬†moment¬†ini, sungguh”

“Kau cerewet sekali”

“Kau yang cerewet”

“Suho tidak secerewet dirimu”

“Setidaknya aku bukan konglomerat dan aku tipemu saat ini”

“Aku merubah tipeku. Aku menyukai laki-laki konglomerat sekarang”

“Yang benar saja, kau harus tanggung jawab”

“Aku tidak menghamilimu”

“Maka aku yang akan menghamilimu” Sehun mencium lembut bibir Yoona, memberitahu Yoona seberapa besar perasaan yang ada di dalam diri Sehun untuk Yoona, memberitahu Yoona arti penting dirinya untuk seorang Sehun.

“Siap menikah denganku?” Tanya Sehun enteng, menatap iris madu Yoona dan masih merengkul wajah mungil Yoona.

Yoona tertawa kecil. “Aku siap”

            END

Advertisements

28 thoughts on “Can’t Fight This Feeling (2/2)

  1. sweet..walopun aku rada bngung knp sehun prgi ke jerman..tp aku suka bgd sma dialog2 di ending..lucu,,menggemaskan..hihi

    Like

  2. wuaa……!!
    Eon ato thor…?? *gubrakk
    Pokoknya ini keren…!!
    Akhirnya…seyoon bersatu….!! *gojet gaje
    Adakah sequel…?? Ada aja yaa… *maksa
    Buat ff seyoon lagi yaa…. *maksalagi-_-

    Like

  3. Aigoo…
    Suka pas Scene akhrnya itu…
    Sehun ga bisa ngomong romantis bgt. Masa’ mksa sh… Wkwk.. Tp salut deh.. Pengorbananx dy ngelepas margax demi Yoona.. Oouh itu dah So Sweet bgt deh..
    Pas awal2 q kira Yoona Suka sama Suho.. Sempet kasian sma Sehun di cuekin mulu.. Tapi akhirx tw juga yg Yoona ngomong smbil nangis2 ga mw dinikahin sma Suho. Itu tu yg di ranjangx Sehun..
    Uwaaaa.. Itu scene yg saya sukaa.. Feelx dpet bgt soalx…
    Mian y Thor.. Commentx kpnjangan..ehehee…
    Q tunggu ff YoonHun Selanjutnya..
    Hwaitingg!! Chu~ #lempar cipok ūüėÄ

    Like

  4. So sweet bgt sehun rela lepasin gelar bangsawan a dmi yoona, sikap sehun yg care ama yoona bikin melting aja, tp nasib suho gmana? Mau sekuel dong , apalagi yg married life, pokok sayang bgt klo crita a end ampe sini aja,, huh.. Bingung mw ngomong palagi, yg pnting kueren…
    Keep writing#jgn lupa sekuel# bukan maksud teror lho, tp beneran pgen sekuel,#ampe guling2

    Like

  5. Aku new reader, sengaja nyari ff dengan pairing yoona exo, eh ketemu blog ini. Aku suka banget gaya penulisan kamu. Btw, aku juga suka ff ini. Demi Yoona, Sehun rela melepas ke-konglomerat-annya. Alurnya keren banget. ditunggu sekuelnya. Fighting!

    Like

  6. “Menikah denganku dan aku akan mengatakanmu pintar” .. ūüėÄ ‚ô° kkkkkk
    diawal baca ngga kbayang kl bakal happy ending, tapi syukurlah ( narik nafas lega ) !
    endingny sweet, keren thor ..

    Like

  7. Keyen author ūüôā feelnya dapat.
    Uuh. sehun romantis. Tapi bukannya aku ya pacarnya sehun sekarang? #plak #ditimpafanssehun
    mian kelamaan comment. ninggalin jejak thor. nae suka ff author. :* smua ff authorbdapat feelnya.ini nih kerjaan aku karna denger si lesungigi sama yoona pacaran
    . ga puas, kok gak sehun/luhan

    keep writing

    sorry banyak comennt haha

    Like

  8. kyaaaaa..
    keren banget endingnya?
    Seorag sehun yang arogan selangit melepaskan jubah konglomeratnya demi cinta??
    hal yang tidka mungkin dilakukan orang awam thor…
    Yoona baru sadar ya dia cinta sama sehun.
    hahahhaa
    itu emang umum terjadi…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s