[FF-Oneshoot] 2nd Note

Tittle: 2nd Note

Author: Clora Darlene

Main Casts: GG’s Im Yoon Ah & One of EXO-K’s member.

Genre: Romance

Rating: PG-13

Length: Oneshoot

Disclaimer: Mine.

Author Note: Ini bukan lanjutan dari A Note. Bukan ya. Dan, selamat bertemu lagi, readers! Uda lama banget gak nulis, jadinya kaku. Idenya juga pada kaku, bingung gimana cara menceritakannya. Maaf kalau masih banyak typo, alurnya simple banget, alur pasaranlah. But I’ll try my best ❤ Happy reading!

***

            Semuanya berjalan dengan lancar. Itulah yang ada dipikiranku.

            Dan cerita ini berawal di suatu siang yang terik di sebuah kota roman.

“Tidak!” Perempuan melepaskan tawanya. Iya menutupi mulutnya, menutupi tawa manisnya. Iris madunya tampak bersinar terang. Ada sebuah MacBook Pro di hadapannya kini, terbuka dan menampilkan sosok yang ia cintai.

Ayolah, katakan iya” Sosok yang ada di layar itu berbicara sambil tersenyum lebar–Skype.

“Tidak akan” Iris madu itu menggeleng sembari menahan tawanya.

Sosok yang berada di layar itu melirik jam tangannya, lalu kembali melihat si iris madu. “Aku harus pergi. Sudah jam 8 malam, Kai mengundangku ke acaranya”

“Oh, ayolah, ini baru jam 12 siang” Bantah iris madu itu dengan manja.

“Kita berada di benua yang berbeda, sayang”

“Sampaikan salamku ke Kai” Gumam si iris madu.

“Baiklah. Aku mencintaimu”

Perempuan itu tersenyum kecil. “Aku juga mencintaimu”

Dan hubungan face-to-face itu terputus.

Perempuan iris madu itu, atau yang lebih sering disapa dengan nama Yoona, mematikan laptopnya lalu menaruh benda itu di atas meja belajarnya. Ia melangkah keluar lalu berdiri di tepi balkon apartemennya. Menikmati udara l’automne atau biasa dipanggil dengan musim gugur. Yoona menutup matanya, lalu menghirup dalam-dalam udara musim gugur yang sebentar lagi berubah menjadi udara musim dingin musim kesukaannya. Yoona kembali merubah pikirannya. Hari libur ini tidak akan ia sia-siakan hanya untuk beristirahat di dalam apartemennya yang terletak di lantai 27.

            Ia akan melangkahi jalanan Paris.

            Ya, ia akan melakukan itu.

***

            Yoona melangkahkan kakinya keluar dari bangunan universitasnya. Ia melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas terkenal di kota roman tersebut, masuk ke dalam jurusan fashion designwell, karena ia suka sekali menggambar dan seorang fashion-holic dengan beasiswa. Ia akan belajar di Paris hingga 3 tahun 5 bulan ke depan telah menghabiskan 7 bulannya di Paris.

           

            Restaurant L’Affineur Affiné, 4:31PM Paris Standard Time

            “Kau sudah menyelesaikan sketsamu?” Jessica Jung seorang teman Yoona yang berada di satu jurusan dengannya, seorang Korea-Amerika membuka mulutnya lalu menyeruput minuman hangatnya.

            “Sketsa busana musim dingin?” Tanya Yoona membenarkan. Jessica mengangguk pelan, sembari tetap meminum minumannya. “Tinggal sedikit. Bagaimana denganmu?” Yoona membiarkan seorang pelayan menaruh dua piringan putih di atas meja mereka mengantar dua Tiramisu pesanan kedua perempuan berdarah Korea tersebut.

            “Otakku tidak bisa jalan” Jawab Jessica, menaruh cangkir hijaunya. “Seakan-akan buntu untuk menggambar busana. Tidak ada ide sama sekali” Jessica menggeleng pasrah. “Tidak ada sama sekali” Ucap Jessica lagi, menegaskan kondisinya.

            Yoona terkekeh pelan sambil memotong kecil Tiramisu-nya. “Mrs. Léa sangat penuh imajinasi” Yoona kembali melanjutkan tawanya setelah membayangkan mentor fashion design-nya itu.

“Tentu saja” Jessica menghela nafasnya. “Dia memberikan tugas untuk menggambar macam-macam busana musim dingin dan seakan-akan kita akan membuat sebuah pegelaran busana besar”

“Itu menakjubkan, kau tahu”

“Oh, ayolah, jangan mulai memuji mentor yang satu itu di hadapanku” Jessica memutarkan kedua bola matanya.

“Sebentar” Yoona meraih ponselnya, ada sebuah pesan yang menghampirinya– Line.

Mudah sekali untuk membuat si iris madu ini tersenyum. Hanya dengan mendapatkan pesan Line dari orang yang ia cintai, seakan-akan sudah melengkapi hari-harinya.

“Pasti dia” Tebak Jessica lalu melanjutkan kunyahannya.

Yoona tersenyum kecil. “Begitulah”

***

            8:41PM Paris Standard Time

            Jari-jari lentik itu menggenggam sebuah pensil biru, menggesekkan ujung kasar pensil dengan halusnya putih kertas sketsa. Ia hanya di temani oleh secangkir kopi hangat dan lampu kamarnya. Hanya ada suara bising mobil yang sedang berlalu-lalang di bawah sana, menembus kepadatan kota roman yang tidak pernah tertidur.

Semakin lama, tangan itu semakin bergerak cepat. Seakan-akan otak perempuan itu diserang beribu-beribu ide untuk cepat ia tuangkan di atas selembar kertas putih.

“Aku akan kesana. Kau akan menungguku, bukan?”

            “Tentu saja. Aku akan menunggumu” Ada seulas senyum di wajah putih itu.

            “Berjanjilah padaku kau akan tetap baik-baik saja”

            Tersenyum. “Aku berjanji. Kau juga”

            Kedua bibir tipis itu bertemu. “Ya, aku berjanji”

            “Berjanjilah kau akan tetap mencintaiku”

            Ada suara tawa kecil disela ciuman hangat itu. “Aku akan tetap mencintaimu”

Yoona tidak bisa menghentikan senyumannya. Ada rasa bahagia di dalam benaknya kali ini, mengingat kejadian-kerjadian terakhirnya di Korea sekitar delapan bulan lalu– saat ia akan bersiap-siap untuk melanjutkan studi-nya di Paris.

Di setiap garis yang Yoona gambar kali ini seakan-akan merupakan jalan cerita hidupnya bersama laki-laki itu

Butuh sekitar empat jam untuk Yoona menyelesaikan pekerjaannya yang sekaligus merangkup menjadi hobinya. Sebuah gambar sempurna sudah tertera pada kertas yang siap ia kumpulkan besok itu.

Sebuah gaun putih indah. Sebuah gaun yang ia impikan.

***

            “Udara sudah mulai mendingin di sini” Gumam Yoona.

“Jadi, harus seberapa banyak aku membawa baju hangat?”

            Kening Yoona mengerut. “Maksudmu?”

Suara terkekeh itu masuk ke dalam telinga Yoona dan betapa Yoona menyukainya. “Aku mendapatkan beasiswaku. Paris, bukan? Kau masih menungguku?”

“BENARKAH?! SUNGGUH?!!” Suara Yoona naik satu oktaf. Oh, dia di ambang batas tidak percaya atau ia percaya.

“Apa kejutanku berhasil?” Kembali sosok itu tertawa.

“Oh, ayolah. Kau serius?!”

“Aku telah menerima beasiswa itu beberapa minggu lalu. Hanya saja aku sengaja memberitahumu lima minggu sebelum keberangkatanku ke sana” Jelas laki-laki itu.

“Lima minggu? Lima minggu lagi kau akan ada di Paris?!” Dream comes true?

“Ya. Jadi siapkan makanan kesukaanku” Tawa khas itu kembali menggema di telinga Yoona. “Kenapa? Oh, ayolah, jangan menangis seperti itu. Aku tidak melakukan apa-apa terhadapmu”

            Yoona mengusap matanya lalu terkekeh pelan. “Selamat datang di Paris lima minggu lagi”

“Dan selamat menjemput Natal enam minggu lagi” Laki-laki itu tersenyum.

Skype selalu membantu mereka yang long distance relationship, bukan?

***

            Yoona mendorong pintu kamarnya dengan seulas senyum puas. Ia memegang sebuah bingkai yang siap ia gantung di dinding kamarnya– menjadi hal terakhir yang akan ia lihat sebelum ia terlelap dan hal pertama yang ia lihat saat matanya terbuka sadar.

Yoona menggantungkan bingkai tersebut pada sebuah paku yang telah tertancap kokoh di dinding kamar apartemennya– paku yang telah ia siapkan dari lama.

Sejenak, ia memandangi hasil gambarannya. Selain puas karena Mrs. Léa memberikan poin terbaik di kelas hari ini pada gambarannya tersebut, ia juga puas karena hasil gambarannya persis sama dengan apa yang ia impikan. Sama dengan yang ada di dalam bayangannya.

***

            Yoona menatap meja makannya. Tiga minggu ke depan akan ada orang yang akan duduk di kursi itu. Tatapan iris madu itu seakan-akan menunjuk sebuah kursi hitam di hadapannya.

Seorang yang merangkup sebagai bagian terbaik dalam hidup Yoona– sampai saat ini, dan berharap menjadi bagian terbaik dalam hidupnya hingga batas yang tidak akan pernah ditentukan.

Yoona sudah mulai menimbang-nimbang untuk membeli beberapa makanan ringan, wine, hingga menyiapkan bahan-bahan masakan untuk memasak makanan kesukaannya laki-laki itu.

Oh, dan menikmati waktu saat salju pertama kali turun nanti. Tambah Yoona.

Daftar kebahagiaan itu sudah tersusun sempurna. Makan malam bersama, menikmati musim kesukaan Yoona bersama, meminum kopi bersama, berjalan bersama dan semuanya yang akan mereka lakukan bersama selama enam bulan– well, beasiswa Sehun hanya empat bulan. Sayang sekali, bukan?

Yoona melirik jam dindingnya. Hanya ada suara bising TV yang menampilkan sebuah variety show.

Sudah tiga hari ini tidak ada kabar.

Mungkin sedang sibuk. Pikir Yoona. Atau karena perbedaan waktu yang cukup menyusahkan. Pikir Yoona lagi.

***

            Sudah beberapa hari ini percakapan Yoona dan laki-laki itu…terlalu singkat. Hanya menanyakan kabar dan pertanyaan selevel lainnya. Tidak ada percakapan yang panjang seperti biasanya.

Mungkin itu hanya perasaannya. Pikir Yoona, dengan mata yang terfokus pada layar ponselnya. Melihati percakapan Line-nya bersama laki-laki itu.

***

            Dan, semuanya semakin terasa janggal.

Dia tidak pernah menolak ajakan untuk face-to-face walaupun hanya melalui skype, atau telpon Line sebelumnya. Walaupun dengan durasi yang sangat pendek, tapi ia tetap menyempatkan untuk saling berhubung. Dan, kini, janggal. Ia menolaknya. Dengan alasan sedang sibuk mengurus beasiswanya. Pikir Yoona panjang.

Yoona mengerti.

Ia mengingat betapa sibuknya ia dulu saat mengurus beasiswa dan perpindahannya ke Paris.

Pasti sangat sibuk sekali. Pikir Yoona kesekian kalinya.

***

            Dua belas hari sebelum kedatangannya.

Tangan kaku itu seakan-akan siap mematahkan ponsel tipis putih itu kapan saja. Genggamannya terlalu kuat.

Katakan ini hanya sebuah candaan.

Katakan ini hanya sebuah kejutan.

Katakan ini hanya sebuah lelucon biasa.

Tidak, ini bukan itu semua.

Banyak rasa sakit yang ia rasakan. Seakan-akan menyebar di dalam tubuhnya. Ia bahkan sudah tidak dapat merasakan gravitasi bumi, ia siap jatuh kapan saja. Mulutnya terasa kaku untuk berteriak kencang, nafasnya mulai tercekat dan tidak beraturan.

Yoona memegangi dadanya, terasa sesak sekali. Air matanya mulai berjatuhan membasahi wajah. Tidak, ia tidak bisa mengelak.

Ini terlalu sakit.

***

            “Yoboseyo?”

            “Hai” Ia menghela nafas. “Kai”

            “Yoona nuna?”
“Ya, ini aku”

            “Sudah lama sekali aku tidak mendengar suaramu. Apa kabar, nuna?”

            “Menyedihkan” Suara itu serak sekali.

            “Gwenchanayo, nuna?”

            “Tidak” Ia menggeleng. “Tidak. Aku tidak baik-baik saja” Oh, untuk bernafas saja rasanya sudah sangat sakit.

            “Ada apa? Nuna sakit?”

            “Aku hanya ingin bertanya” Suara itu terdengar lemah dan saru.

            “Bertanya tentang apa?”

            Sejenak ia terdiam. Mencoba mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan. Matanya sembab. “Bagaimana kabar Sehun?”

            Kai terdiam sejenak di ujung sana. “Dia baik-baik saja, nuna. Dia berhasil mendapatkan beasiswanya”

            “Ya, aku tahu” Jari lentik itu menyeka air mata yang baru saja jatuh dari pelupuk matanya. “Dia telah memberitahuku. Lusa dia akan berangkat, bukan? Aku menghitungnya”

            “Ya, lusa dia akan berangkat lusa” Kai terdiam. “Ada apa?”

            “Sehun mengakhiri hubungan kami” Kalimat itu akhirnya menyeruak dari mulut mungil Yoona. Yoona mencoba mengatur nafasnya lagi, sudah tidak ada lagi air matanya kali ini. Seakan-akan air matanya telah habis terkuras.

            “Sehun telah menceritakan hal itu. Bukankah kejadian itu sudah lama?”

            “Sepuluh hari lalu”

            “Sepuluh hari lalu? Nuna yakin?”

            “Aku menghitungnya”

            “Sehun menceritakanku sekitar tiga minggu lalu”

            Yoona terdiam.

            “Dan bukankah saat ini ia telah bersama Hyojin?”

            Di dalam sana ada terjadi kesakitan. Paling sakit. Yoona seakan-akan siap jatuh dari tempat ia berdiri sekarang. Matanya menatap kosong jendela di ruang tengah, sebuah jendela besar yang menampilkan maraknya si kota roman.

            Ada yang hilang.

            Oksigen.

            Yoona seakan-akan lupa bagaimana cara mengontrol pernafasannya. Tidak, gravitasi tidak bisa lagi menahannya. “Nuna?”

            “Kau…bercanda….bukan….Kai?”

            “Kukira nuna telah tahu. Sehun menceritakan padaku bahwa ia telah mengakhiri hubungannya dengan nuna lalu ia meminta Hyojin untuk menjadi kekasihnya”

            Tangan Yoona yang menggenggam ponsel sudah bergetar sejak tadi. “Go…Gomawo atas ceritamu…Kai. Selamat…malam”

            Tanpa menyentuh layarnya yang berwarna merah, ponsel putih itu telah terlepas begitu saja. Yoona melangkah pelan menuju sofanya. Ia masih tidak bisa merasakan sekitarnya.

            Kelima inderanya mati. Seketika.

            Ada yang mati di dalam sana. Dibunuh dengan kejam, dan menghujam.

***

            “Hey, selamat datang di Paris” Yoona tersenyum manis dan lebar.

Oh Sehun, membalas senyuman manis itu. “Jadi, ini adalah kota-mu?”

“Kau bisa menyebutnya seperti itu” Yoona terkekeh pelan. “Dimana apartemenmu? Aku akan mengantarmu ke sana”

“Kau sangat tahu bahwa aku butuh sekali tumpangan. Aku belum menukar uang-uangku” Sehun tersenyum kecil, mulai melangkahkan kaki bersamaan dengan perempuan beriris madu itu menuju parkiran bandara.

“Kau seakan-akan mengatakan bahwa kau memintaku untuk membayar makan siang kali ini” Tidak, Tuhan, Yoona tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

Ia….hanya terlalu bahagia kali ini. Hanya dengan melihat Sehun.

“Kau sangat mengenalku dengan baik, nuna” Sehun tersenyum kecil, tanpa melihat iris madu itu. Iris pure hazel-nya hanya menatap langkahnya.

Ya, tentu saja. Aku sangat mengenalmu dengan baik. Bukankah kita telah menghabiskan 1136 hari bersama-sama? Dengan perasaan hebat itu? Dengan perasaan yang selalu kujaga keberadaannya? Dengan perasaan terbaik yang pernah ada di dalam hidupku? Dengan perasaan…yang baru saja kau lupakan? Perasaan yang baru saja kau hapuskan dari cerita hidupmu ke depannya, perasaan yang baru saja tergantikan dengan sebentuk perasaan yang berbeda.

            Perasaan yang berubah menjadi sebuah ‘hal’ kosong, tidak berpenghuni– atau hanya aku yang masih menghuninya, sendirian.

“Jadi, dimana Restaurant L’Affineur Affiné itu?”

            Yoona mendongak, melihat Sehun dengan iris madunya. “Kau ingin ke sana?”
Sehun menghentikan langkahnya, menatap Yoona dengan tatapan polosnya.

            Tatapan itu. Ya. Aku ingat sekali.

            “Tidak bolehkah aku pergi ke sana? Aku hanya ingin tahu restaurant kesukaanmu itu, Yoong

            Adakah seseorang yang bersedia menancapkan sebilah pisau di raga ini?

***

            Hamparan kesakitan.

Aku menyebutnya seperti itu.

Yoona menjatuhkan tas hitamnya asal-asalan di lantai, melepaskan flat shoe-nya dan membuka pintu yang menuju ke arah balkon. Ia duduk di sudut balkon yang tidak terlalu luas itu, menyandarkan dirinya pada besi pembatas. Yoona memeluk kedua lututnya yang ia lipat.

Rentetan kejadian panjang ini tidak pernah ia bayangkan.

Ia masih ingat bayangannya beberapa waktu lalu.

Ia dan Sehun akan makan malam manis berdua, menikmati waktu saat salju pertama kali turun nanti, mengelilingi Kota Paris, meminum kopi bersama.

Dan, semua bayangannya musnah begitu saja.

Yoona memejamkan matanya, nafasnya kembali tercekat, bibir bawahnya ia gigit. Angin pergantian musim menerpanya pelan.

Aku membenci waktu.

***

            Sehun berada di satu universitas dengannya, dengan jurusan yang berbeda. Mereka selalu pulang bersama, karena Sehun sendiri belum menghafal jalan kota roman yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk empat bulan ke depan.

Cuaca sudah mulai tidak bersahabat, perubahan drastis terus-menerus terjadi.

“Aku harus ke kamar mandi, sebentar saja” Beritahu Sehun singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi apartemen Yoona.

Tidak ada yang berubah pada keduanya. Mereka masih menikmati segalanya seakan-akan ikatan itu masih terjalin sempurna. Yoona berniat melangkahkan kakinya menuju dapur, membuat segelas minuman untuk Sehun– seorang laki-laki yang masih menjadi bagian terbaik dalam hidupnya sampai saat ini.

Tetapi niat itu terhenti seiring langkahnya yang juga terhenti. Terhenti di depan kamar mandi apartemennya.

“Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku mencintaimu”

Ia berharap Tuhan mencabut indera pendengarannya saat ini, sungguh!

Itu….pasti perempuan bernama Hyojin itu. Park Hyojin. Seorang ulzzang. Tentu saja, ia pasti cantik. Itu adalah daya tariknya, wajar saja Sehun menyukai dan jatuh cinta kepadanya.

            Aku tidak secantik Hyojin, bukan? Bahkan di mata Sehun, sudah lama sekali aku tergeser.

Yoona menggigit jarinya, mencoba menahan teriakannya. Dengan refleks, langkahnya memutar balik dan berjalan cepat, keluar dari gedung apartemen besar itu. Ia tidak sadar kemana ia pergi, hanya bermodal langkah pelan dengan tidak adanya harapan.

***

            “Mianhae, karena aku meninggalkanmu. Mrs. Léa tiba-tiba menelponku untuk bertemu dengannya. Maafkan aku juga karena aku tidak bisa menemanimu makan malam hari ini. Minta saja resepsionis untuk mengunci pintu apartemenku. Gamsahamnida”

Alis kiri Sehun terangkat setelah mendengar voice-box dari Yoona.

Sejak kapan perempuan ini menjadi sangat formal?

Dari sudut matanya, ia dapat menangkap botol putih kecil di atas meja dapur Yoona. Sehun melangkahkan kakinya, meraih botol putih tersebut. Keningnya mengerut. Jadi, dia selelah itu hingga membutuhkan ini? Dia tidak pernah seperti ini.

***

            Yoona berada di jalan pulangnya, dengan mengeratkan jaketnya. Udara sudah mulai mendingin dan langit sudah mulai menggelap. Kepulan uap itu keluar seiring dengan deru nafasnya. Tatapannya masih berupa tatapan kosong belaka, masih mencoba mencerna kenyataan. Bayangan kehidupan bahagianya dulu bersama Sehun, semuanya terasa….sempurna.

Jadi, apa yang harus kulakukan saat dia selalu menjadi bagian terbaik dalam hidupku?

Tap…Tap…Tap

Suara langkah di dalam kota roman.

Yoona menyadari beberapa pejalan kaki di sekitarnya menghentikan langkah mereka, begitu pula dengan Yoona.

Yoona mendongak.

Salju turun.

Untuk pertama kalinya.

Iris madu itu menatap langit luas dengan butiran putih turun.

“Jika kau memikirkan seseorang saat salju pertama kali turun, berarti orang itu adalah takdirmu” Kalimat itu masih menempel dengan jelas di otak Yoona. Jessica Jung mengatakan hal tersebut.

Tatapannya masih menatap langit.

Memikirkan Sehun tepat saat salju turun untuk pertama kalinya? Dia? Takdirku?

Yoona seketika menunduk dalam, dan tersenyum miris. Ia kembali melanjutkan langkahnya, menerobos pejalan kaki yang lain.

Bahkan aku menganggap seseorang yang telah terlepas dari rengkuhan diriku adalah takdirku. Bodoh. Pemimpi.

***

            Bau ruang apartemen Yoona.

Bau parfum Sehun, melekat tajam di hidung Yoona. Dia tidak akan pernah lupa dengan bau ini. Setiap ia memeluk laki-laki itu, hanya bau ini saja yang ia cium. Bau aroma tubuh laki-laki beriris pure hazel itu.

Sudah lama sekali semenjak pelukan terakhir mereka.

Yoona melangkah gontai, mendorong pintu kamarnya. Ia melangkah menuju tepi ranjangnya, hingga ia menangkap suatu bayangan dari sudut matanya. Iris madu itu menghadap dinding.

Itu, mimpinya. Tergantung di dinding. Merupakan hal terakhir yang akan ia lihat sebelum ia terlelap dan hal pertama yang ia lihat saat matanya terbuka sadar.

Hasil gambarannya. Sebuah busana musim dingin yang menakjubkan.

Sebuah sketsa gaun pengantin saat  musim dingin.

Garis-garis pembentuk sketsa itu merupakan kisah impiannya. Bagaimana keinginannya untuk mengenakan gaun itu, berjalan di altar dengan mengenakan gaun itu, gaun yang akan ia kenakan saat menikah dengan Seh–

Bukankah mimpi itu tidak selalu menjadi kenyataan?

            Bukankah aku bodoh sekali?

***

            “Jurusan Sejarah Seni mengadakan pementasan” Gumam Sehun, membuka percakapannya di antara dirinya dan Yoona.

Yoona mengangguk pelan. “Ya, saat malam Natal nanti”

“Kau ingin menonton?”

“Jessica tidak bisa menontonnya, jadi aku juga tidak akan pergi” Jawab Yoona ringan.

“Temani aku menontonnya. Kau tidak ingin aku tersesat, bukan?”

Yoona melirik Sehun lalu tertawa kecil. “Kau tidak akan tersesat.

“Karena aku punya kau” Tidak, kau salah. Aku bukan punyamu lagi. Tidak lagi. “Kau penunjuk jalan terbaik yang kumiliki saat ini”

“Kau yang bayar kali ini”

Sehun merogoh isi tasnya dengan tetap melangkah. Menyodorkan selembar kertas cokelat muda. “Tiketmu”

“Kau menjebakku” Sungguh, Yoona tidak dapat menahan senyumnya.

***

            December 24th, 7:48PM Paris Standard Time.

Yoona dan Sehun sudah duduk di kursi merah nyaman mereka. Siap menonton pementasan Natal yang diadakan oleh salah satu jurusan di universitasnya. Lampu di dalam gedung besar itu dimatikan, hanya ada lampu sorot yang menyorot tirai merah yang masih menutupi panggung.

Pementasan dimulai.

Tirai merah tersebut terbuka, dua orang di panggung– Master of Ceremony.

Walaupun dalam pencahayaan kurang seperti ini, mata Yoona masih dapat menangkap sosok Sehun yang duduk di sebelahnya. Sosok yang sedang menatap serius ke arah panggung. Yoona kembali mengalihkan pandangannya. Ia hanya menatap kosong panggung.

***

            “Pementasan yang menarik” Sehun mengeluarkan komentarnya dengan seulas senyum dan tangan yang ia masukkan ke dalam sakunya.

Yoona tersenyum kecil. “Ya, kau benar” Well, padahal Yoona sama sekali tidak mengerti ceritanya. Ia hanya menatap kosong panggung, jika matanya bergerak, itupun karena ia melihati Sehun dari sudut matanya.

Sehun terus mengoceh tentang pementasan tersebut, setidaknya percakapan mereka kali ini terselamatkan karena adanya pementasan menjelang Natal itu. Pikir Yoona.

“Kau bisa mengantarku sampai sini saja” Yoona membuka suaranya saat mereka sampai di persimpangan. “Kau harus ke kiri, dan aku harus ke kanan. Sudah malam dan udara mendingin, kau harus segera kembali ke apartemenmu dan menyalakan penghangat”

“Aku akan mengantarmu sampai apartemenmu. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja” Sehun tetap melangkahkan kakinya, berbelok ke kanan. Yoona masih terdiam di tempatnya ia berdiri.

Seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.

            Dan akhirnya ia melangkahkan kakinya, berjalan di belakang bayangan Sehun.

“Sejak kapan kau meminum penambah energi tubuh?” Sehun membuka suaranya.

Yoona terdiam– kaget, sebenarnya. “Itu hanya vitamin biasa”

“Kau yakin itu vitamin?”

“Tentu saja. Aku yang membelinya”

“Dengan dosis setinggi itu?”
“Memang ada apa?”

“Kau meminum berapa butir dalam sekali minum?”

“Wae?”

“Berapa?”

“Terkadang dua, tiga, paling banyak empat”

“Tidakkah kau sadar bahwa kau telah melewati ambang batas pemakaian?”

Tidakkah kau tahu alasanku kenapa aku meminumnya? Aku lelah, sangat lelah. Aku melewati masa-masa kelamku dengan susah payah. Aku terjerumus dalam sekali, sangat susah untuk keluar. Aku kehilangan banyak energi karena tidur larut malam, terkadang aku tidak tidur seharian. Aku tidak makan banyak, berat badanku turun drastis, aku stress karena pekerjaan sketsaku tidak jadi. Hanya karena saat kau memutuskan untuk tidak bersamaku lagi. Keluar dari hidupku begitu saja.

            Hanya karena itu.

***

            Sebulan kemudian.

Yoona melangkahkan kakinya memutari sebuah supermarket besar. Ia ingin membeli beberapa benda yang dapat memenuhi isi kulkasnya yang telah kering kini. Kereta belanjanya telah setengah penuh. Ia mengambil beberapa coke dan makanan ringan.

Yoona melihat sekeliling, sekiranya mungkin ia melupakan sesuatu. Ia membelokkan kereta belanjanya, dan langkahnya terhenti.

Saat iris madu itu bertemu dengan iris pure hazel yang datang bersama–

“Hai” Sapa Yoona.

Sehun terdiam sedetik. “Hai”

Mata Yoona teralihkan pada sosok yang berada di sebelah Sehun. Yoona tersenyum lebar. Oh, Tuhan, dia benar-benar berharap perasaan sakit itu tidak terpancar dari wajahnya.

“Kenalkan, ini Hyojin” Sehun memecahkan keheningan.

“Hyojin-ah, ini Yoona”

Kedua tangan itu saling bersentuhan, menjabat satu sama lain.

“Im Yoon Ah”

“Park Hyojin”

“Dia adalah kekasihku” Gumam Sehun.

Yoona masih tersenyum, senyumannya– terlalu manis. “Dia sangat cantik. Kudengar, kau adalah seorang ulzzang

“Ya, kau bisa mengatakannya seperti itu” Tanggap Hyojin ringan sambil terkekeh pelan.

Laki-laki ini, ia telah menjadi milik orang lain.

            Bukan milikku lagi. Bukan lagi, tidak lagi.

            Rasanya, seperti Yoona adalah sebuah gelas. Ia telah jatuh dan pecah. Percuma pecahan tersebut dikumpulkan, tidak akan pernah bisa membentuk gelas yang sempurna seperti sebelumnya.

Ia tidak pernah sempurna seperti dulu.

Tanpa Sehun.

***

            Ini tidak selancar yang kupikirkan. Kenyataan sangat kejam, bukan?

            Terkadang, sosok yang kaucintai saat ini, sebenarnya dia sudah dituliskan oleh Tuhan bersama orang lain.

            Kota roman ini hanya sebagai saksi bisu, bahwa cinta adalah bentuk takdir yang siap mempermainkanmu dan kau rela dipermainkan olehnya.

END

Advertisements

16 thoughts on “[FF-Oneshoot] 2nd Note

  1. Yeaayy !! Akhirnya Clora comeback lagii #TebarBunga..
    Setiap baca ffmu, selalu aja.. Dapet banget emosinya..
    Ini Sehun bener2 kejem..
    Tdak peka banget sama perasaannya Yoona…
    Bagaimana mungkin memperkenalkan pacar barunya, setelah mencampakkan Yoona.. Rasa2nya pengen aj.. Nggeplak kepalanye si Thehun, Babo Thehun.. !! Kkkk
    aku harap ada sequel untuk ff ini..
    Ya semoga aja di kabulin…

    Like

  2. hadeuuh author…dateng” kenapa langsung bawa ff sad…
    ya ampun sehun bener” ga ngerti bgt perasaan yoona,,harusnya sehun punya rasa ga enak kek,,udah mutusin yoona eh pake ditambah ngenalin pacar barunya lagi…hufft bikin sequelnya ya thor…bikin yoona juga punya pacar…
    ikut nyesek rasanya ~_~
    ditunggu dan selamat datang kembali^^

    Like

  3. anyeong Clora eonnie, aku sidersmu. V.. Sorry sering buka wpmu tanpa jejak(?)

    seperti biasa, aku selalu suka fanfic yg eonnie buat^^
    a mask, simple thing, call you mine, 7 years of love, dll. Semua sukaa

    pokoknya aku ngefans banget sama eonnie 🙂
    ffmu keren2

    Like

  4. Astagaaaaaa.. Sehun minta di gaplok bolak balik ato apa ????

    Kenapa selalu sad ending sih author ?? Klo FF YoonHun pasti berakhir tragis dehh.. Aku keseeeelll.. Kebawa banget emosinya..
    Hiksss hiksssss

    Buat lg ff YoonHun yang happy end donkk.. Pleaseeeuuuuu jebaaalll

    Like

  5. Tidaaaakkk..
    Ini cerita nyesek banget thor….
    hanya beberapa minggu sebelum ke Paris, sehun kecantol cewek lain??
    Secepet itukah?? padahal sebelum-sebelumnya sehun masih berhubungan baik..
    Gilaaaaa…
    Sehun jahatnyaaaaa

    Like

  6. Ughh.. sesek nih dada bacanya
    Pengen nabok sehun jadinya, jahat banget lu hun
    Maaf ya, bru komen, pdahal bcanya dah dri dulu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s