4th Note

Tittle: 4th Note

Author: Clora Darlene

Rating: PG-13

Length: Vignette

Genre: Romance

Main Cast(s): GG’s Im Yoon Ah & EXO-K’s Park Chanyeol

Disclaimer: Simply Mine.

Author’s Note: Hai! Maaf uda lama gak update FF. Semoga suka ya sama yang satu ini<3 Maaf kalau jelek, hasil tiga puluh menit soalnya 😦 Happy reading!

ABP on YoongEXO

***

            Aku mencintaimu.

            Tentu saja.

            Jika aku tidak mencintaimu sebesar ini, aku tidak akan melakukan hal ini.

            Aku hanya terlalu menginginkanmu. Lebih dari orang lain menginginkanmu, bahkan kekasihmu sendiri―saudariku.

            Aku lebih dulu menyukaimu daripada saudaraku. Aku lebih dulu melihatmu daripada saudariku. Aku lebih dulu ada di dekatmu daripada saudariku.

            Tapi aku membenci hubunganmu dengannya. Oh, bukan. Aku tidak membencinya. Hanya saja keinginanku untuk memilikimu jauh lebih kuat daripada hubungan percintaan kau dengannya.

            Hingga aku memasukkan obat itu. Ke dalam minumanmu. Dan kita, ‘melakukannya’.

            Aku tidak suka menggunakan cara seperti ini. Tapi, hanya inilah cara yang bisa membuatmu menjadi miliku. Seutuhnya. Bukan milik orang lain.

            Dan, ta-da.

            Aku hamil. Anakmu. Darah dagingmu.

            Awalnya kau tidak percaya. Dan persetan dengan segala makian saudariku. Ucapan kasarmu. Ataupun orangtuaku yang mencoba menghalalkan segala cara untuk membiarkanmu tetap bersama saudariku.

            Tapi, apa yang kaulakukan? Apapun itu, percuma. Maafkan aku, tapi kau sudah tidak dapat melakukan apa-apa. Tidak akan ada hal yang dapat merubah ini.

            Tidak akan ada. Percayalah, sayang.

            Aku suka saat perempuan itu―saudariku―memelas kepadaku untuk membatalkan acara pernikahan kita hingga memelas untuk membunuh janin ini. Dia menangis, meraung, meronta, berlutut di hadapanku. Aku menyukai hal itu.

            Tapi, aku sudah mengatakannya.

            Tidak akan ada hal yang dapat merubah ini semua.

            Minggu, 30 Maret 2014. Oh, aku menyukai hari itu.

            Kita menikah.

            Aku yang bergaun putih sebagai calon istrimu, dan kau berdiri di ujung altar sana dengan tuksedo putih sebagai calon suamiku

            Dan, lihatlah. Saudariku, yang notabene adalah mantan kekasihmu. Masih menangis di sana. Mata sembab, hati yang hancur berserakan tidak berdaya―maafkan aku, saudariku tersayang. Aku hanya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku dari awal cerita ini.

            Awal pernikahan kita mungkin terlihat buruk. Kau masih sering menemui saudariku. Masih mengelus rambut hitam suteranya, memeluknya, mencium keningnya di rumah kita.

            Di rumah kita, sayang.

            Di tempat yang seharusnya kau lakukan itu semua kepadaku. Tetapi kau tidak melakukannya.

            Menyedihkan, bukan?

            Aku tidak bisa kembali ke awal cerita. Mengawali semua dengan perasaan yang berbeda dengan saat ini. Tidak melihatmu, tidak menyukaimu, tidak mencintaimu, tidak menginginkanmu.

            Aku tidak bisa.

            Jiwaku hanya berbisik lirih kepadaku. Meronta menginginkan dirimu.

            Hingga kau membawa surat putih itu. Surat perceraian saat bayi kita lahir. Apa kau tahu rasanya? Robek, menganga lebar, berlubang kosong hampa. Itu hatiku.

            Aku tidak pernah menandatanganinya. Tidak pernah menerima gugatan ceraimu dan kau tidak memiliki bukti apapun―tidak ada hitam di atas putih itu.

            Saudariku masih berdiri di sebelahmu. Bersamamu.

            Hingga kita semua tahu, dia mengalami kegagalan fungsi ginjal. Sangat menyedihkan, yang benar saja.

            Kau memelas kepadaku agar aku menyelamatkan. Di saat tidak ada pendonor ginjal dan ginjalmu, ayah, beserta ibuku tidak cocok untuk dirinya.

            Kau memelas kepadaku.

            Menangis di hadapanku.

            Berlutut di hadapanku.

            Dan aku tidak menyukai itu.

            Berhentilah menangis seperti itu, kumohon.

            Berhentilah menyiksa dirimu seperti itu, kumohon. Kau juga menyiksaku.

            Kau berjanji kepadaku, jika aku memberikan ginjalku, kau akan bersedia hidup denganku hingga waktu berakhir nanti.

            Dan, kau tahu? Aku tersadar akan sesuatu yang lebih berharga dari perasaanku kepadamu.

            Sabtu, 30 Maret 2015. Oh, aku ingat hari itu. Aku menerima semuanya.

            Hari yang tidak akan pernah kulupakan.

            Aku duduk di sana. Di atas ranjang rumah sakit, mengenakan baju operasi putih dan sedang bermain bersama anak kita―Dennis Kane Park. Kami bermain dengan miniature pesawatnya, hingga kau datang. Bergabung bersama kami. Duduk memangku Dennis, bermain bersama―percayalah, kita adalah sebuah keluarga sederhana sempurna.

            Aku ingat saat kau berterimakasih kepadaku karena aku mendonorkan ginjalku untuknya. Aku lihat mata itu. Matamu bersinar bahagia, tersenyum layaknya anak kecil. Dan itu karena aku. Senang bisa menjadi alasanmu bahagia selamanya.

            Ruangan itu penuh dengan peralatan medis. Apa kau tahu aku takut dengan dokter dan peralatannya? Kini aku lebih takut jika kau tidak bahagia.

            Semuanya terjadi sangat cepat. Seperti kau mengedipkan mata.

            Aku berbaring, dan menutup mataku.

            Ada sebuah film terakhir yang kulihat saat itu. Bagaimana bahagianya diriku saat aku bersamamu, bagaimana cintaku yang menggebu-gebu mendesak meluap, bagaimana hari-hari kita bersama.

            Bagaimana matamu tersenyum dua belas menit lalu. Hanya karena aku.

            Aku mungkin mencintaimu―sangat―tetapi kebersamaan itu bukan untuk kita, sayang.

            Aku―Im Yoon Ah―mencintaimu―Park Chanyeol―hingga nafas terakhirku.

            Dan, benar.

            Aku benar-benar mencintaimu hingga nafas terakhirku hari itu.

END

Advertisements

18 thoughts on “4th Note

  1. knpa hrus yoona sih yg terus tersakiti..
    huwaaaa gx rela..
    nangis keterlaluan..
    bisa diulang gx kemasa lalu jdi happy ending gtu..*berkhayal..

    Like

  2. Oke.. FFnya sukses bikin saya nyesek siang2 gini..
    Kasihan Yoona, dia begitu mencintai Chanyeol sampe melakukan segala cara untuk mendapatkan chanyeol..
    Sebenernya hal yang menyakitkan itu ketika kita mencintai seseorang tapi seseorang mencintai orang lain.. Apalagi orang lain itu saudaramu.
    Dan yg scene terakhir itu apa Yoona meninggal??
    Haduh; maap maap saya kurang meneliti secara jelas, hehehe
    ff daebak seperti biasanya.. Ditunggu karya selanjutnya..
    Aa iya blog YoongEXO apa di protect ya.? Haduh q jadi ga bisa baca ff yoongexo lg deh.. Kasi tau caranya buat buka blognya dong saeng..

    Like

  3. maaf baru komen dipart ini ..
    tpi knpa smua ff note nya sad ending smua uda gtu yoona nya jga yg selalu merana .. 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s