Her Darkest Vision [1/4]

Tittle: HerDarket Vision [1/4]

Author: Clora Darlene

Genre: Romance

Rating: PG-13

Main Cast(s): GG’s Im Yoon Ah & EXO-K’s Kim Joonmyeon

Another Cast: GG’s Kim Hyoyeon

Diclaimer: Simply mine.

Author’s Note: Semoga suka….gitu aja ❤ Happy reading, guys!

Poster: Big thanks to Rindra ❤ (icesehun.wordpress.c0m)

***

            Seorang perempuan yang baru menikmati umur 25 tahunnya sedang melangkah memecah keramaian Bandara Internasional Korea Selatan itu. Kacamata hitamnya bertengger tetap menghalau sinar matahari untuk menyentuh langsung iris madu indahnya.

“Selamat pagi, Kim” Yoona―ya, nama perempuan cantik itu―tersenyum ramah―pintar menyembunyikan raut lelahnya―menyapa sang supir setianya.

“Selamat pagi, Nona Yoona” Kim membukakan Yoona pintu mobil hitam mewah itu lalu kembali menutupnya saat Yoona telah terduduk di dalam mobil.

Mobil hitam itu berkendara menuju sebuah gedung perusahaan besar, tinggi memecah langit. “Apa Mr. Smith menerima penawarannya?”

“Hm,” Yoona bergumam tidak jelas dengan mata tertutup lalu menghela nafas panjang. “Dia menerimanya. Pembangunan di Maladewa dan Bora-Bora akan dilakukan sekitar enam bulan lagi. Mr. Smith akan datang pada Bulan April nanti. Mimpiku akan benar-benar menjadi nyata”

“Kudengar Raja Ampat di Indonesia juga sangat bagus” Gumam Kim.

“Hyoyeon juga bilang seperti itu” Tetapi, Yoona cepat-cepat memperbaiki ucapannya. “Oh, tidak. Hyoyeon tidak berucap seperti itu. Dia tidak mengatakan hanya sekedar sangat bagus, tetapi sangat menakjubkan. Suatu hari nanti aku akan mengajukan pembangunan di daerah sana” Tidak butuh lama untuk perempuan yang kelelahan itu bergelut dengan serentetan mimpinya.

***

“Kau sudah sampai? Ingin Sup Asparagus?” Hyoyeon menawarkan.

Yoona yang baru saja sampai di dalam kantornya, telah disambut dengan bau semerbak hangatnya Sup Asparagus―sup yang dulu pernah menjadi kesukaannya.

“Kau tahu aku sudah tidak memakan sup itu” Gumam Yoona lalu duduk. Mengistirahatkan sejenak punggungnya yang terasa kaku.

“Aku sudah menyiapkan pakaianmu. Kau bisa langsung membersihkan dirimu untuk rapat hari ini” Hyoyeon lalu menyesap sesendok Sup Asparagus di hadapannya.

Yoona mengerang. “Aku lelah sekali. Apakah rapat kali ini bisa diundur?” Yoona menggeliat di sofa hitamnya. “Dan jangan pernah memakan makanan itu di ruanganku, Hyo”

***

Tidak lama dari kepulangannya ke Seoul―tepatnya dua jam setelah ia sampai di gedung perusahaannya―ia telah kembali terperangkap di sebuah perangkap besar.

Apalagi kalau bukan meeting room?

Udara dingin AC menerpa Yoona yang sedang sibuk mengurutkan berbagai berkas yang akan dibahas pada rapat kali ini. Tidak, rapat belum dimulai. Pimpinan―yang notabene adalah ayah biologis Yoona―belum membuka rapat kali ini. Ada seseorang yang masih ditunggu-tunggu tetapi tak kunjung datang. Seseorang yang katanya sangat berpengaruh dalam rapat ini.

Oh, ayolah. Siapa lagi makhluk itu? Erang Yoona dalam hati.

Cklek.

Semua mata tertuju pada pintu putih yang berdecit dengan lantai marmer, terdorong ke dalam dan menampilkan sosok laki-laki dengan kemeja marun berdasi hitam. Semua tampak berbahagia―menandakan kedatangan laki-laki ini sebagai agenda rapat hari ini akan segera dimulai.

Tapi, tidak dengan Im Yoon Ah.

Iris madunya tampak menegang seketika, kaku, tidak dapat bergerak. Matanya masih terpaku pada sosok laki-laki yang sedang membungkuk mengucapkan salam dan meminta maaf karena keterlambatannya. Indera pendengaran Yoona seakan tersumbat.

Perutanya terasa keram dan ditambah dengan kepalanya yang pening. Oh, ayolah, reaksi macam apa ini?!

“Yoong, kau baik-baik saja?” Hyoyeon mulai tampak menyadari tingkah kaku sahabatnya.

Yoona menelan salivanya dengan susah payah.

Hanya sebentar seperti menjentikkan jari, Yoona seperti melesat di dalam ruang waktu. Dirinya terbawa arus kejadian masa lalu, dan tersentak di masa depan. Ia dapat merasakan kentalan kesedihannya kematian, kerasnya tangisan air mata, dan kegelapannya hitam.

Perempuan tujuh tahun, tabrakan” Kalimat itu keluar dari mulut Yoona tanpa ia sadari dan tidak dapat ditahan.

Mata Yoona memerah dan tampak berair. Hyoyeon―sahabat sekaligus manager kesayangan Yoona―mengetahui jelas apa yang sedang terjadi pada sahabat perempuannya ini. Hal yang tidak pernah terjadi lagi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Semua perhatian tersorot pada Yoona yang tiba-tiba melesat berjalan menuju kaca besar ruang rapat. Matanya menatap jalan raya di bawah sana. Ada sebuah kerumunan di tengah hujan di bawah sana, dan sebuah mobil hitam.

Dan ada sosok perempuan. Anak kecil perempuan. Berumur sekitar tujuh tahun. Terkapar berdarah di lapisan aspal hitam kelam.

“Yoona, kau baik-baik saja?” Suara berat ayahnya bahkan tidak dapat meredakan ketegangan Yoona. Ia memijat pelipisnya, berharap kejadian ini tidak benar-benar terjadi.

“Yoona?” Ayahnya kembali memanggil, setelah tidak mendapatkan respon apapun dari anaknya.

Yoona berbalik. Wajahnya terlihat pucat pasi. “Maafkan ak..aku. Aku harus…aku harus pergi. Mianhamida” Yoona berbungkuk beberapa kali lalu segera pergi. Meninggalkan berbagai barangnya. Nafasnya tampak terengah-engah, tidak beraturan, dan terasa berat untuk menghirup udara kali ini.

Ia berjalan sepoyongan. Bahkan untuk menyeimbangkan keseimbangan tubuhnya saja ia tidak bisa.

Bruk! Bruk!

“AAAAH!!” Yoona mengerang keras saat hak sepatunya tergelincir oleh air AC lalu terjatuh seketika saat ingin menuruni anak tangga dan berguling dengan keras. Kepalanya sempat terbentur kerasnya putih dinding kantor. Ada setitik darah yang keluar dari hidungnya.

“Yoona! Oh, astaga!” Suara nyaring itu―Hyoyeon, tentu saja. Perempuan pirang itu segera menghampiri Yoona dengan begitu cepat, terkaget karena melihat Yoona yang baru saja terguling di tangga dan mimisan. Hyoyeon segera mengeluarkan selembar tisu lalu menutupi hidung Yoona. “Kita harus ke rumah sakit”

“Aku hanya ingin pulang” Ucap Yoona pelan, hampir terdengar lirih. “Kumoh…”

Tidak butuh lama untuk perempuan berambut hitam itu kehilangan kesadarannya.

***

“Kau membiarkannya mati”

***

Yoona terbangun dengan pusing yang terasa berat. Dirinya kini telah berada di dalam kamar tidurnya. Terbaring hampir tidak berdaya. Memorinya kembali membawanya kepada hal terakhir yang terjadi pada dirinya.

Oh, laki-laki itu.

Laki-laki yang menggali kenyataan yang telah dikubur dalam-dalam oleh Yoona dengan susah payah.

Kenyataan yang…percayalah padanya. Tidak ada seorangpun yang ingin terlahir dengan kenyataan seperti ini―walaupun orang awam menyebutnya dengan ‘kelebihan’.

Yoona melangkah keluar dari kamarnya, ingin menyegarkan kembali tubuhnya yang seakan terasa layu. “Kapan kau kembali ke Seoul?”

“Sekitar empat atau lima hari lalu”

“Kau tidak memberitahuku”

“Aku hanya ingin memberi kejutan” Lalu ada suara tawa kecil.

Langkah Yoona semakin pelan menuruni anak tangga, tidak ingin menimbulkan sebising suara apapun setelah menangkap pembicaraan singkat seorang perempuan dan seorang laki-laki.

“Aku masih menyesalkan sikapmu kepada Yoona yang berkelanjutan hingga beberapa tahun terakhir” Perempuan itu kembali berbicara. Yoona tahu suara itu.

Hening sejenak. Yoona yang berhenti melangkah tidak menangkap kelanjutan pembicaraan itu saat namanya mulai dilibatkan. Tetapi, tidak butuh waktu lama rupanya untuk menunggu. “Dia pantas mendapatkannya” Suara itu terdengar pelan, tetapi terdapat penekanan di setiap katanya. Tidak terdengar kasar, tetapi cukup menyayat. Tampak singkat dan sederhana, tetapi menyimpan banyak arti di dalamnya. Deretan masa lalu.

Pembicaraan itu terus belanjut, tetapi Yoona merasa sudah cukup untuk mendengarnya. Ia kembali ke dalam kamarnya, tidak bersuara, dan akan membuat kedua orang di ruang keluarga itu masih beranggapan ia masih terbujur tidak sadar di ranjang hangatnya.

***

Ini adalah hari keduanya beroperasi di kantor mitranya. Tidak banyak yang ia lakukan untuk hari awal-awal ini, hanya mengelilingi gedung dan beberapa kali berakhir di atap.

“Guk!”

Laki-laki itu―Kim Joonmyeon as known as Suho―menghentikan langkahnya.

Well, ia berada di sebuah perusahaan besar dan mendengar suara gonggongan anjing? Alisnya mengerut. Tidak boleh ada peliharan atau binatang apapun dibawa masuk dengan sengaja ataupun tidak sengaja ke dalam gedung―kecuali anjing pelacak jika terjadi sesuatu mencurigakan. Itu bunyi peraturan kantor ini, dan Suho hafal sekali.

Ia mendapatkan sebuah dog crate yang tidak teralu besar di pojok koridor yang tengah ia langkahi. Ia yakin sekali suara gonggongan itu berasa dari dog crate hijau tua itu. Suho melangkah, mendekat dan sesekali mendengar kembali suara gonggongan. Ia membuka pintu crate itu lalu meraih anak anjing di dalamnya―sebuah anak anjing Siberian Husky dengan bulu berwarna putih dan abu. Ada kalung yang melilit lehernya.

“Kyna” Suho mengucapkan sepatah kata yang tertulis pada liontin panjang pada kalung anjing mungil itu. “Ini pasti kalung ibumu, bukan?” Suho seakan berbicara pada anjing itu lalu tersenyum manis.

“Guk!”

***

Yoona cepat-cepat mengambil beberapa barangnya di kantor dan harus segera kembali ke tempat dimana ia menaruh Malca―anak anjing Siberian Husky peliharannya. Jika seseorang menyadari ada binatang di dalam kantor ini―well, karena Malca sangat ribut sekali―ia harus bersiap-siap mendapatkan sanksi karena telah membawa hewan peliharaan masuk ke dalam kantor.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia segera melangkah. Secepat mungkin memacu kakinya untuk mencapai koridor lantai dasar.

Tuhan, jangan sampai ada yang menemukan Malc―

Oh, rupanya doa Yoona itu tidak terjawab seperti keinginannya. Mampuslah. Pikir Yoona. Perutnya terasa melilit dan bertambah keram saat mendapatkan siapa yang menemukan anjing peliharannya itu.

Suho sepertinya menyadari kedatangan Yoona yang dibalut dengan blazer hitam.

Sesaat tatapan itu saling bertemu. Dengan tidak sengaja, tetapi berkelanjutan. Saling beradu pandang menceritakan kisah masa lalu yang indah tetapi pupus tidak tersisa terbakar oleh kenyataan yang ada.

“Kurasa ini anjingmu” Suho membuka percakapan kali ini. Percakapan pertama kali semenjak beberapa tahun ini―setelah mereka dengan sesama egois untuk saling menutup mulut masing-masing.

“Ya” Hanya sepatah kata itu yang dapat Yoona ucapkan―well, dapat bernafas kali ini saja sudah membuat Yoona cukup bersyukur.

“Kau tahu peraturannya bahwa tidak boleh membawa binatang peliharaan ke dalam kantor” Gumam Suho lalu memasukkan anjing mungil itu kembali ke dalam crate-nya.

“Ya” Kini suara Yoona menciut bersamaan dengan keberaniannya yang juga menciut.

Suho bangkit lalu menarik nafas. “Tidak berminat untuk minta maaf?”

Chwesonghaeyo” Ucap Yoona cepat-cepat.

“Terlambat” Suho berlalu begitu saja. Meninggalkan Yoona dengan mulut yang menganga. Yoona segera meraih dog crate-nya, keluar dari pintu terbelakang gedung dan segera mendatangi sebuah penitipan anjing.

“Guk! Guk!” Seekor anjing berlari ke arah Yoona saat perempuan itu baru saja datang.

“Maaf karena membuatmu menunggu lama, Kyna” Yoona memeluk anjing Siberian Husky dengan badan cukup besar itu dan membiarkan anjingnya menjilat pipi putihnya. “Malca ada di mobil. Kita pulang” Yoona tertawa kecil saat anjingnya itu seakan bersikap manja padanya.

“Guk!”

“Indera penciumanmu bagus sekali. Well, atau dia yang terlalu berlebihan dalam memakai pewangi badan?” Canda Yoona.”Ya, aku bertemu dengannya tadi” Suara Yoona menciut lagi.

“Guk!”

“Kau merindukannya, hm?” Yoona mengelus kepala Kyna.

“Guk! Guk!”

Yoona tersenyum kecil. “Kurasa aku juga. Baiklah, ayo, kita pulang”

***

Yoona memasangkan sebuah kalung bertuliskan ‘Malca’ pada anak anjingnya. Mengganti kalung yang bertuliskan ‘Kyna’. Lalu kembali memasangkan kalung tertuliskan ‘Kyna’ pada Kyna. Malam itu terasa sepi. Saat terbangun dari pingsan beberapa hari lalu, ia tidak dapat menemukan sosok ayahnya, yang ternyata kini telah berada di Kanada menemui oppa-nya―Kris Im. Seorang saudara laki-laki yang merasa ditakdirkan menjadi penakluk perempuan karena kegantengannya yang maksimal. Oh, yang benar saja.

Yoona terbaring di atas ranjangnya bersama Kyna. Sesekali ia mengelus kepala Kyna lalu menjulur ke badan Kyna. Memanjakan anjing kesayangannya itu dan merasakan bulu halusnya.

“Dia datang beberapa hari lalu ke rumah ini” Gumam Yoona. “Kau pasti saat ingin bertemu dengannya. Aku telah meminta maaf kepadanya karena membawa Malca ke kantor. Tapi, kurasa dia tidak menerima permintaan maafku”

Oh, cerita macam apa ini? Tanya Yoona pada dirinya sendiri.

“Dia menggendong Malca tadi pagi saat di kantor” Oh, lihat, Yoona sudah mulai linglung rupanya.

“Besok pagi kita akan berjalan-jalan, ok?” Yoona tersenyum tipis. Mengingat setiap Minggu pagi dia akan mengajak Malca beserta Kyna jalan-jalan menyusuri segarnya pagi Seoul.

***

Hyoyeon tengah asik meminum segelas susu putih saat Yoona yang mengenakan setelan olahraga bercelana pendek berwarrna neon turun dengan memegangi dua buah tali yang terikat pada leher Kyna dan Malca.

“Malca, kemarilah” Hyoyeon membungkuk lalu menjulurkan tangannya. Meraih Malca yang dengan pintar berlari ke arahnya. “Aku pegang Malca, kau Kyna”

“Baiklah” Yoona mengangguk pelan. Keluar dari rumah dan memulai acara Minggu pagi mereka. Rute pertama adalah sebuah taman yang cukup besar tetapi tidak jauh dari rumah Yoona. Taman yang biasanya akan ramai dengan keluarga, teman, dan―ehm―pasangan kekasih.

Yoona dan sahabat karibnya itu sejenak meluangkan waktu mereka untuk membeli segelas minuman dingin, lalu duduk di bawah pohon. Merasakan udara pagi menerpa mereka yang sudah penat dengan kesibukan perusahaan.

“Guk! Guk!” Kyna mulai menggonggong dengan keras. Yoona yang memegangi tali Kyna terpaksa mengikuti kemana anjing peliharaannya itu membawanya.

“Ky!” Yoona sedikit membentak saat anjingnya itu mengendus kaki seorang. “Maafkan anj―” Yoona tidak lagi berminat melanjutkan ucapannya, saat laki-laki itu berbalik dan ternyata adalah seorang yang ia kenal.

Laki-laki itu tampak melihat Yoona terlebih dahulu, lalu tatapannya turun. Melihat Kyna yang masih ‘menempel’ pada dirinya. “Hey, Kyna. Sudah lama tidak bertemu” Laki-laki itu berjongkok, mengelus puncak kepala Kyna.

Suho―ya, laki-laki itu―tertawa kecil saat Kyna terus menggonggong. “Ya,aku juga merindukanmu. Aku senang kau masih mengenaliku”

Oh, Tuhan. Apa yang Yoona lihat saat ini?

Bukan hanya sekedar Suho dan Kyna. Bukan.

Tapi, beribu arti dari masa lalunya.

“Kau bertambah besar dari ingatan terakhirku” Suho terkekeh pelan.

“Kurasa, Kyna ingin berjalan-jalan denganmu” Gumam Yoona pelan, memberanikan dirinya untuk mengucapkan serangkaian kata.

Suho mendongak lalu menatap Kyna lagi. “Kau ingin berjalan-jalan denganku? Baiklah” Ucap Suho, bangkit lalu meraih tali Kyna yang Yoona sodorkan. “Aku akan mengantarnya pulang siang nanti”

“Dia sudah pulang sekarang” Ucap Yoona pelan. Mencurahkan segalanya hanya pada tatapannya yang menatap Suho.

***

Suho duduk di sebuah bangku kayu. Ada Kyna di sebelahnya. Oh, Kyna terlihat lebih setia dari siapapun yang ada di sekitarnya saat ini.

“Bagaimana keadaannya selama ini? Kau menjaganya dengan baik, bukan, Ky?” Tanya Suho dengan tatapan kosong. “Kuharap kau menjaganya dengan baik” Suaranya mengecil.

“Apa dia masih sering mendapatkan pengelihatan tentang kematian? Terakhir kali aku melihatnya saat rapat bersamanya beberapa hari lalu. Dia masih mendapatkannya” Gumam Suho.

Kyna kembali menggonggong.

“Ya, kau benar” Suho tersenyum kecil. “Aku memang merindukannya. Sangat merindukannya”

***

Yoona dan Hyoyeon kembali ke dalam rumah hanya bersama dengan Malca. “Aku tidak mengira kau akan bertemu dengan Suho di taman tadi”

“Ya, aku juga” Timpal Yoona pelan. “Dia bukanlah orang yang suka pergi ke taman pada Minggu pagi”

Hyoyeon melirik. “Kau masih mengenalnya dengan baik”

Yoona mengerti maksud dari ucapan Hyoyeon. “Kau juga mengetahuinya”

“Bukankah ki―”

PRANG!

Gelas kaca itu berdenting melawan dinginnya marmer. Yoona tampak terlihat tegang. Matanya membulat dan tidak butuh waktu lama untuk berair. Rahangnya ikut mengeras. Tangannya bergetar dan dingin.

Yoona kembali mencium bau kegelapan. Lebih menyengat dan menyayat. Ia ikut terbawa dalam pusaran waktu yang menuju masa depan. Mendapatkan tanda bahwa akan ada jiwa yang akan direnggut kali ini. Tidak akan lama lagi.

Yoona seakan tersentak. Tubuhnya goyah, kakinya lemas tidak terasa.

“Yoona?! Gwenchanayo?!” Hyoyeon tampak cemas. Wajahnya juga ikut memucat.

“AAAAAH!!”

Yoona kembali pada masanya kini. Berada di rumah dengan badan lemas, wajah pucat dan ketakutan yang meluap.

“Yoona!”

Yoona membalikkan badannya, tidak merespon panggilan Hyoyeon. Ia melangkah menaiki anak tangga satu per satu, mengunci kamarnya dan tidak membiarkan siapapun masuk. Tidak menghiraukan suara pintu yang terus digedor.

***

Hyoyeon bangkit dari duduknya, menuju pintu rumah lalu membukanya. Ada Suho dan Kyna yang baru saja pulang menikmati kencan.

“Aku ingin mengembalikan Kyna” Ucap Suho, membuka percakapan.

Hyoyeon menghela nafas. “Masuklah sebentar”

“Baiklah” Timpal Suho santai lalu menarik tali anjing Kyna. Mereka duduk di ruang keluarga. TV dibiarkan menyala mengisi kesunyian.

“Mana dia?” Tanya Suho.

“Itu yang ingin kubicarakan padamu” Suara Hyoyeon tampak menciut. “Kurasa dia mendapatkan pengelihatan lagi”

“Kapan?”

“Dua jam lalu”

“Dimana dia?”

“Kamar. Dia mengurung dirinya sejak dua jam lalu” Gumam Hyoyeon lalu menghapus air matanya.

Suho menghela nafas. “Cepat atau lambat dia akan keluar dari kamarnya. Dia masih butuh makan” Suho tersenyum kecil.

***

“Yoona-ya, bukalah. Aku tahu kau menyuruh Kim membelikanmu makanan, tapi hanya sekali setiap harinya. Kau tidak bisa menyiksa tubuhmu dengan secara seperti ini”

Tidak ada respon. Seperti biasa.

Untuk hari ini, Hyoyeon kembali menyerah. Ia turun, menemui Suho yang menunggu di ruang keluarga. “Berbicara padaku saja dia tidak mau”

Suho terdiam sejenak. “Ini adalah hari kelima. Sudah cukup lama”

“Oh, ayolah. Ini sudah ‘sangat lama’, sudah bukan ‘cukup lama’” Erang Hyoyeon. “Yoona masih harus bertemu dengan Mr. Smith untuk memastikan kontrak. Oh, Tuhan, apa yang Yoona lihat!” Teriak Hyoyeon.

“Tenanglah. Dia pasti akan keluar dari kamarnya”

“Bagaimana jika dia tidak tidur di dalam kamarnya?! Bagaimana jika dia sedang pingsan di dalam sana kekurangan asupan makanan dan kita tid―”

“Hyo, tena―”

“Aku tahu kau marah kepadanya atas kematian Miyoung, tetapi aku tidak bisa membiarkannya seperti ini, Suho!!” Teriakan yang meluapkan perasaan yang tersayat itu membelah keheningan. Air mata telah tampak, mengucur tanpa hambatan di wajah mulus. Mata menyayu dan hanya meninggalkan kekacauan.

Suho tidak bergeming setelah mendengar serentetan kata yang telah diucapkan Hyoyeon.

“Aku juga tidak bisa membiarkannya seperti, kau tahu itu” Gumam Suho pelan, hampir seperti sebuah bisikan belaka. “Kita tunggu hingga lusa. Jika dia tidak keluar, aku akan mendobrak pintunya”

***

Keadaan rumah Yoona yang sepi memaksa Hyoyeon dan Suho menetap di dalamnya. Tidak membiarkan Yoona sendirian selama ayahnya sedang berada di Kanada dan hanya tersisa Kim. Hyoyeon telah kembali ke kamar tidurnya, dan Suho masih menetap setia di depan TV. Mengganti channel TV atau terkadang hanya sekedar mendengar berita malam ini. Jam telah memberitahu bahwa hari telah berganti.

Suho menghela nafas saat mengingat sebuah adegan kecil di rumah ini. Adegan kecil yang merubah segalanya. Hingga saat ini.

“Maafkan aku…”

“Maafmu tidak dapat menghidupkan Miyoung kembali”

            “Joonmyeon-ah, tenanglah”

            “BAGAIMANA BISA KAU TENANG SAAT TEMANMU MATI TERKUBUR DI DALAM SANA, HYO?! YANG BENAR SAJA, KAU BERCANDA!!”

            “Ak…Sungguh…Aku…Minta maaf. Aku tidak bermaksud membiarkan Miyoung mat―”

            “Kau membiarkannya mati”

Suho tersadar saat ada sebuah suara yang tidak asing sampai di telinganya. Seperti sebuah pintu yang terketuk, tapi kini terdengar sedikit lebih keras. Suho melirik langit rumah Yoona. Berasal dari lantai dua. Suho langsung berlari dengan cepat menaiki anak tangga dan menuju pintu kamar Yoona.

Duk!

Duk!

Duk!

“Yoona-ya!”

“YOONA-YA!!”

“YA!! IM YOON AH!!” Suho menggedor pintu putih itu dengan keras. Tetapi suara itu masih terus terdengar.

Bruk!

Suho menendang pintua kamar Yoona. Mencoba mendobrak pintu putih itu dengan paksa.

“Apa yang terjadi?!” Sosok Hyoyeon tiba-tiba datang, dibalut dengan piyama navy blue-nya.

“Aku tidak tahu pasti”

BRUK!!

Kaki Suho terasa lemas saat tendangannya berhasil membuka pintu putih itu secara paksa. Tapi semua fokusnya beralih pada Yoona yang telah tergeletak tidak berdaya di atas lantai kamarnya. Wajahnya tampak pucat dan rambutnya berantakan.

“Oh, astaga” Hyoyeon setengah berteriak, menghampiri sahabat karibnya itu dengan wajah yang juga ikut pucat. “Yoo…na? Yoona, kau baik-baik saja? Yoona, bangunlah, jawab aku, kumohon” Terdengar isakan kecil Hyoyeon yang sedang menepuk pipi Yoona.

Tanpa mendengar ucapan apapun lagi, Suho segera membopong Yoona. Membaringkannya di atas ranjang dan menyingkap rambut hitam kelam Yoona.

“Kembalilah tidur. Sekarang sudah pukul 2 malam. Aku akan menjaganya” Gumam Suho.

Hyoyeon menatap Suho. Seakan-akan tidak percaya.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa. Sungguh” Lanjut Suho, mencoba meyakinakn Hyoyeon. “Kembalilah tidur. Besok kau harus menggantikan posisi Yoona untuk rapat bersama”

“Jaga dia” Itu adalah dua kata terakhir yang Hyoyeon ucapkan sebelum meninggalkan kamar Yoona.

Suho menghela nafas lalu duduk di single sofa di pojok ruangan Yoona, dekat di jendela besar kamar Yoona yang tidak tertutupi tirai. Matanya masih menatapi Yoona yang tengah tidak sadar.

Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Bahkan saat Yoona mendapatkan pengelihatan tentang kematian Miyoung―sahabat mereka.

Perempuan, dua puluh lima tahun, 17 April

Tatapan Suho teralihkan saat mendengar suara Yoona yang serak.

Gangnam, Kim Joonmyeon, 11:54, tabrakan

***

Kelopak mata Yoona terbuka membuka perlahan. Ia mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang secara tiba-tiba menyerang matanya dan membuat pengelihatannya menjadi sedikit silau serta buram.

Tapi ia dapat menangkap. Melihat. Setelah memposisikan dirinya duduk, ia tahu, ada seseorang yang duduk di sofa kamarnya sekarang. Tepat di depannya, berjarak kurang lebih tiga meter dari dirinya. Dia tidak sendirian di kamar ini.

Seseorang yang sedang menatapinya tanpa berkedip.

Yoona melirik pintu kamarnya. Oh, lihat. Pengunci pintu itu rusak. Pasti pintu itu dibuka secara paksa. Pikir Yoona.

“Kenapa?”

Pandangan Yoona kembali beralih.

“Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Aku tidak mengerti” Tukas Yoona.

“Jangan berlagak kau tidak tahu apa yang kumaksud”

“Aku memang tidak tahu”

“Kau menyebut namaku saat mendapatkan pengelihatan tentang kematian. Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?” Suara Suho kini membesar.

Oh, Yoona mengerti. Pasti laki-laki ini mendengar ucapannya saat ia mendapatkan pengelihatan kematian entah kapan. “Aku tidak melihat pengelihatan tentang kematianmu”

“Jangan berbohong”

“Aku memang tidak berbohong”

“Kau menyebut namaku, Yoona!” Suho berdiri, lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yoona.

“Kurasa kau bukan perempuan berusia dua puluh lima tahun” Gumam Yoona pelan. “Keluarlah dari kamarku. Aku ingin mandi”

“Kau berhutang penjelasan kepadaku setelah kau mandi nanti, atau kau sengaja akan membiarkanku mati seperti kau membiarkan Miyoung mati” Ucap Suho penuh penekanan lalu keluar dari kamar Yoona.

Yoona menatapi kepergian Suho. Laki-laki itu hilang saat berbelok. Yoona menghela nafasnya lalu memijat keningnya sejenak.

“…atau kau sengaja akan membiarkanku mati seperti kau membiarkan Miyoung mati”

Oh, Demi Tuhan! Seorang Im Yoon Ah tidak membiarkan sahabat hidupnya yang bernama Hwang Miyoung itu mati begitu saja!

Hanya saja…Yoona telah putus asa untuk menyelamatkan orang-orang yang ada di pengelihatan kematiannya.

***

Yoona melangkah menuruni anak tangga rumahnya dengan pelan. Rambutnya tampak basah sebab baru ia keramasi. Badannya sudah terasa dan tampak lebih segar dari sebelumnya. Tetapi wajahnya masih terlihat pucat pasi karena kurangnya asupan makanan pada tubuhnya.

Suho telah menunggunya di atas sofa ruang tengah rumahnya. Tanpak tidak bergeming dan rahangnya mengeras sedari tadi. Ingin menagih sederet informasi tentang pengelihatan yang Yoona dapatkan sejak beberapa hari lalu. Pengelihatan yang membuatnya collapse.

Yoona duduk di hadapan Suho dengan santai, sedangkan Suho masih terlihat tegang menunggu ucapan Yoona.

“Tenang saja, kau tidak akan mati dalam waktu dekat ini” Yoona membuka ucapannya dengan gurauan.

“Kau menyebut namaku. ‘Kim Joonmyeon, Gangnam, 11:54, tabrakan’

“Percayalah, kau tidak akan mati saat itu. Kau hanya perlu tahu itu saja” Tatapan Yoona tampak sayu. “Dan aku tidak membiarkanmu mati”

“Ya, karena kau telah membiarkan Miyoung mati” Tidakperlu berpikir panjang bagi Suho untuk mengungkapkan kata-kata itu.

“Aku tidak mengerti mengapa kau terus berkata seperti itu” Yoona mendengus hambar. “Karena aku tidak memberitahu yang lain jika Miyoung akan mati saat itu? Karena operasinya gagal? Karena―”

Suho langsung memotong ucapan Yoona dengan nada sadisnya. Mampu mencabuk Yoona hingga tulang rusuknya. “Karena kau tidak menyelamatkannya saat kau tahu dia akan mati saat itu juga”

“Apakah kau masih ingat saat aku mengatakan padamu bahwa aku pernah mendapatkan pengelihatan tentang kematian ibuku?” Yoona tersenyum hambar. “Aku tahu dia akan mati dan aku mencoba menyelamatkannya. Aku telah memintanya untuk menunda penerbangannya hingga pekan depan, dan dia menundanya. Apa kau masih ingat apa yang terjadi? Pesawatnya tetap jatuh di Pasifik dan bahkan hingga kini aku tidak pernah melihat jasadnya”

“Dan tebak. Ibuku mati sebelum Miyoung. Bukan karena aku membiarkan Miyoung mati atau tidak mau menyelamatkannya. Tapi karena aku tidak bisa” Suara Yoona menciut. Mengecil hampir berbisik. Matanya berselaput air mata tipis tidak terkendali.

Suho membungkam mulutnya lama.

Ya, Yoona pernah menceritakan tentang pengelihatan akan kematian ibunya.

Dan sialnya, Suho lupa akan itu. Selama ini―selama bertahun-tahun ia marah kepada Yoona―ia lupa.

“Jadi kematian siapa yang kau lihat? Aku harus tahu, karena aku akan berada di dalamnya” Ucap Suho akhirnya. “Kau harus memberitahuku”

            “Aku”

TBC

Kenapa bisa ada Raja Ampat? Oke selain kita tau Raja Ampat itu menakjubkan, di sekolahan lagi ada Project Pecinta Alam “INDONESIA ADALAH KITA” hihi. Jadinya mau ngajakin semua readers di sini buat yuk cinta Indonesia. Karna Indonesia adalah kita! ❤

Advertisements

5 thoughts on “Her Darkest Vision [1/4]

  1. aaaaa ff nya keren bgt thor jempol buat author,lanjut ke part selanjutnya ya thor udah penasaran nih hehe fighting^^9

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s