Her Darkest Vision [3/4]

Her Darkest Vision [3/4]

presented by Clora P. Darlene

Starred by

EXO-K’s Kim Joonmyeon & GG’s Im Yoon Ah

Romance

PG-15

***

Suho tidak bisa berpikir jernih. Ia bahkan menjambak rambutnya sendiri, berharap semua yang ia dengar tadi hanya halusinasi atau sekedar déjà vu semata.

Tapi, tidak.

Semuanya benar-benar nyata senyatanya.

***

            Yoona sedang duduk di atas ranjangnya. Meluruskan kakinya sembari membaca sebuah majalah fashion. Mengurung dirinya akibat pukulan keras dari kematiannya membuatnya shock dan stress berat. Sudut matanya dapat melihat Suho yang membawa sebuah mangkuk putih masuk ke dalam kamarnya lalu menaruhnya di dekat meja sebelah ranjangnya.

Yoona tahu aroma hangat ini.

“Aku meminta Sushi, bukan Sup Asparagus” Gumam Yoona. “Aku sudah tidak memakan Sup Asparagus lagi” Lanjut Yoona.

“Ini sebagai permohonan maafku karena telah…” Suho tidak dapat melanjutkan kata-katanya. “Maafkan aku atas semua yang telah kulakukan padamu. Maafkan aku”

Untuk kesekian kalinya, Yoona tidak berani menatap iris di hadapannya. Tidak ingin terhanyut dalam masa lalunya. Tidak ingin membuka buku kusam yang telah ia tutup itu. Tidak ingin lagi hidup di kenangan yang ia rindukan. Rasa sakit yang menjalari hatinya tujuh tahun silam itu kembali menjalarinya dengan tidak berperasaan.

Suho menghela nafasnya lalu bengakit. Ia tidak mendapatkan respon apapun dari Yoona. “Jika kau butuh sesuatu, aku ada di ruang tengah” Ucap Suho lalu beranjak. Setengah jalan menuju pintu, ia kembali berhenti. Kembali menatap Yoona. “Aku juga ingin kau tahu, bahwa aku tidak akan pernah menabrakmu. Selamat beristirahat” Suho tersenyum getir lalu kembali melangkah.

Yoona masih terdiam setelah Suho pergi.

Sangat susah menjadi orang yang terlahir dengan bakat terkutuk seperti ini. Pikir Yoona. Ia bisa saja melihat masa depan, tetapi kematian. Bukan kebahagian, atau sekedar melihat kelahiran ke dunia ini―tidak, ia tidak bisa.

Sangat mengenaskan, bukan?

Yoona melirik mangkuk putih di sebelahnya. Terlihat menggiurkan dan lezat. Oh, Yoona akan mengutuk perbuatannya ini. Yoona meraih mangkuk putih itu beserta sebuah sendok lalu mulai mencicipi Sup Asparagus hangat yang akan selalu menjadi kesukaannya.

Rasanya selalu lezat dan nikmat. Ya, Sup Asparagus buatan Suho akan dan selalu terasa seperti itu untuk Yoona.

Alasannya berhenti memakan makanan ini sangat sederhana―ia tidak ingin mengingat Suho kembali setelah semua yang mereka rangkai telah berakhir dan hanya meninggalkan luka yang tidak tersembuhkan.

***

            12 April.

PRANG!!

Suho dan Hyoyeon yang tengah asik menonton acara TV dikagetkan dengan suara pecahan benda kaca dari lantai dua. Mereka berdua segera berlari menuju kamar Yoona, membuka pintu itu dan menemukan kamar Yoona yang berantakan tidak tertolong.

“Yoon―”

“Menjauhlah dariku. Menjauhlah!” Yoona menodongkan sebuah pecahan kaca guci kepada Suho dan Hyoyeon.

“Yoona-ya, tenanglah”

“KUKATAKAN MENJAUHLAH!! APA KAU TIDAK DENGAR?! MENJAUHLAH!!!” Teriak Yoona kencang.

“Okay, kami menjauh. Tapi kau harus menaruh pecahan guci itu” Suho berusaha setenang mungkin menghadapi Yoona.

“Mengapa aku harus mati lima hari lagi saat aku bisa mati sekarang” Gumam Yoona lirih lalu melempar pecahan guci itu ke lantai. Yoona tampak putus asa.

Ia dikejar kematiannya.

Ia dikejar malaikat pencabut nyawanya.

Awalnya, ia mengira, ia akan tertabrak dan mati. Sesederhana itu. Tidak akan terlalu sakit, ataupun jika sakit, tidak akan terasa lama. Tetapi semakin cepat hari berlalu dan mendekatkannya dengan tanggal 17, ia tidak bisa tenang.

Ia ketakutan.

***

            13 April. 3:49 AM.

Suho mendobrak pintu putih itu untuk kesekian kalinya saat mendengar Yoona berteriak keras.

“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!!!!!”

“Yoo―”

“AAAHHHHHH!!!”

“Yoona, tenanglah. Tenang!” Suho mencoba menyadarkan perempuan yang terduduk di atas ranjangnya.

Wajah Yoona telah basah dengan air matanya. Deru nafasnya tidak bisa memelan, dan terus meronta menangis. Badannya bergetar hebat dan tidak dapat ia kendalikan dengan sisa tenaganya yang ada.

Suho memeluk Yoona. Mendekapnya dengan hangat dan mencoba menenangkannya. Mengusap pelan rambut panjang hitam itu dengan pelan.

“Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu mati”

***

            14 April. 3:44 AM.

Suho masih terjaga dari tidurnya. Kantung matanya sudah terlihat sejak beberapa hari lalu dan mulai menghitam.

Bruk!

Bruk!

Bruk!

“Oh, astaga. Yoona!”

Suho melesat saat melihat Yoona terguling di tangga. Ia menangkap tubuh Yoona sebelum mencapai anak tangga terakhir dan menahannya.

“Apa yan..g terjadi?” Yoona membuka matanya lalu berbisik pelan dan serak.

Bibir Suho terasa kelu. Kaku dan dingin di waktu yang bersamaan. Tidak tahu harus menjawab apa. “Tidak ada, kau sedang bermimpi saat ini” Suho tersenyum kecut lalu membopong tubuh Yoona.

Yoona sepertinya telah kembali ke alam bawah sadarnya saat Suho membaringkannya di ranjang. Laki-laki itu memutuskan untuk tidak beranjak dari kamar Yoona. Terduduk di sofa di dekat jendela untuk menemani Yoona.

Suho berdiri di depan jendela kamar Yoona selama tiga puluh menit dengan kedua lengan yang ia lipat di depan dada bidangnya. Ia menatapi langit yang akan segera fajar lalu menoleh memandangi Yoona yang tengah tidur.

Ia tidak bisa melihat Yoona seperti ini.

Tidak bisa dan tidak tahan.

Bagaimanapun juga, Yoona yang notabene adalah mantan kekasihnya―oh, persetan dengan segalanya.

Laki-laki itu masih mencintai Yoona. Seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Sedikitpun, tidak ada.

***

            Yoona terbangun bersamaan dengan matahari. Kepalanya terasa pusing dan beberapa bagian tubuh termasuk wajahnya terasa sakit. Terasa seperti luka lebam. Dan lebih sialnya lagi, ia tidak tahu apa yang mengakibatkannya merasakan hal-hal seperti itu.

Sudut matanya mendapatkan sosok Suho yang sedang tertidur di sofa pojok kamarnya. Tertidur dengan posisi duduk dan terlihat tidak nyaman. Yoona bangkit dari ranjangnya lalu melangkah mendekati Suho. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Suho.

Tidak ada yang berbeda.

Wajah laki-laki ini masih sama seperti dulu jika sedang tertidur. Tetapi kini ditambahkan dengan kantung mata yang lebih hitam dan raut wajah kelelahan. Mata yang sama, hidung, bibir, pelipis―masih tergambar sama seperti di ingatan terakhir Yoona akan Suho.

Yoona memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah Suho―membelainya dengan pelan dan halus. Mata, lalu turun ke pipi untuk mengelusnya sejenak lalu turun ke bibir laki-laki itu. Yoona menutup matanya saat rangkaian masa lalu indahnya itu kembali menghampirinya.

Mengingatkannya bagaimana bahagianya ia dulu bersama laki-laki ini.

Mengingatkannya bahwa ia tidak bisa lagi mengulang semuanya. Semua masa indahnya itu berubah menjadi kepahitan selamanya saat perempuan ini menginginkannya kembali.

Air mata itu jatuh, tidak bisa Yoona tahan lagi. Perasaannya meluap, lalu terisak pelan. Iris madu itu tampak sayu. Yoona lalu mengecup kening Suho pelan, tidak berniat untuk membangunkan laki-laki yang akan selalu menjadi sosok ia dambakan.

Yoona menarik nafas panjang lalu berbalik, berniat untuk melangkah ke kamar mandi, Tetapi tidak hingga ada Hyoyeon berdiri tidak jauh dari dirinya. Menjadi saksi mata akan kejadian yang baru saja berlalu.

“A-Aku hanya merindukannya saja. Apa aku salah?” Yoona tersenyum getir dan kembali sebuah tetesan air matanya jatuh.

***

            “Ky, bukan seperti itu cara mainnya” Gerutu Yoona saat anjing kesayangannya itu tidak bisa diajak bermain Uno. Hyoyeon masih sibuk menghandle perusahaan dan Suho entah melakukan apa di bawah sana. Bahkan Malca saja sedang sibuk berada di salon khusus hewan untuk memotong kukunya dan melakukan perawatan seperti biasanya. Jadi, hanya ada Kyna yang menemaninya.

Yoona menaruh sebuah kartu di ranjangnya. “Keluarkan kartumu”

“Guk!”

“Yang benar saja” Yoona mendesah lalu melepas seluruh kartunya.

“Kau harus bersabar untuk mengajari Kyna” Suara itu tiba-tiba terdengar dan membuat Yoona melirik. Suho membawa sebuah mangkuk putih dengan handuk kecil di tangannya, lalu duduk di pinggir ranjang Yoona. “Luka lebammu harus dikompres”

“Aku masih tidak tahu mengapa aku bisa memiliki luka lebam sebanyak ini” Gumam Yoona, membiarkan Suho mulai mengompres beberapa bagian wajahnya. “Apa aku terjatuh dari tangga?”

“Ya. Sleepwalking” Jawab Suho yang sebenarnya tidak ingin memberitahu perempuan ini. “Apa itu kebiasaan barumu?” Suho tertawa kecil.

“Kurasa. Aku akan menjadi sleepwalker jika stress berat. Sangat menyusahkan” Gumam Yoona lalu mendengus. “Dan kurasa stress-ku akan meningkat hingga tanggal 17 nanti”

Rahang Suho tampak mengeras. “Tidak akan ada yang terjadi tanggal 17 nanti”

“Aku hanya memiliki waktu tiga hari lagi”

“Tidak. Kau salah. Kau masih memiliki waktu lebih dari tiga hari” Bantah Suho.

“Aku juga berharap seperti itu” Yoona tersenyum hambar. “Mau bermain Uno?”

***

            “Tidak akan ada yang keluar besok. Semua akan tetap berada di rumah. Kau, kau, kau dan aku. Tidak boleh ada yang meninggalkan rumah. Yoona akan tetap berada di kamarnya dengan pengawasanku dan Hyoyeon. Dan kau, Kim. Kau berjaga di lantai satu. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah. Mengerti?” Suho berbicara tanpa henti pada tiga orang di hadapannya―Hyoyeon, Yoona beserta Kim.

“Jadi aku sebagai seorang tahanan” Celetuk Yoona lalu mengangguk.

“Kau bisa mengatakan apa saja selama kau tidak keluar dari kamarmu besok” Ucap Suho.

“Aku menghargai rencana dan usahamu untuk menyelamatkanku dari kematianku sendiri. Tapi, percayalah padaku. Itu tidak akan mengubah apapun. Aku telah mencobanya lebih dulu”

“Jika itu tidak merubah apapun, berarti kau akan menjadi tahanan di rumah ini selamanya. Tidak akan ada aku yang menabrakmu atau apapun kecelakaan yang akan merenggut nyawamu. Dan kembalilah ke kamarmu. Kim, bawakan makan siang Yoona ke kamarnya. Hyo, temani dia. Jangan biarkan dia memecahkan guci lagi” Perintah Suho dengan cepat lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.

***

            16 April. 11:57 PM.

Tiga menit menuju tanggal 17. Batin Suho. Ia terduduk di sofa kamar Yoona, seperti biasa. Tidak tertidur hanya untuk mengawasi perempuan ini.

Yoona tampak tertidur tenang.

Tidak ada gejolak pada diri Yoona sementara hari yang mereka tunggu sudah berada di depan langkah. Suho masih memikirkan ucapan Yoona. Bahwa apapun rencana mereka nanti, itu semua tidak akan mengubah apapun. Yoona―tidak jauh dari hari ini―akan bertemu dengan malaikat pencabut nyawanya. Dan tidak akan ada siapapun yang bisa mengelak dari itu semua.

Tidak akan ada.

***

            Yoona tahu hari ini adalah harinya. Ia terbangun dengan perasaan…tidak akan ada seorangpun yang akan mengerti perasaannya. Kurang dari tujuh belas jam lagi ia akan benar-benar pergi. Entah bagaimana caranya―well, karena ia kini dijadikan tahanan. Entah karena jatuh dari tangga, terluka oleh pisau atau hanya terpeleset yang akan meretakkan tulang ekornya dan merenggut nyawa.

Yoona menyadari Suho yang menatapnya di pojok kamarnya, duduk di sofa dengan posisi yang sama setiap kali ia membuka matanya. “Kau tidak tidur lagi?”

“Ya” Jawab Suho pelan, hampir terdengar serak basah.

“Kekurangan waktu tidur dapat mengacaukan kesehatanmu” Gumam Yoona seraya melangkah membuka lemarinya.

“Tidak apa-apa”

Yoona tersenyum kecil. “Kau bercanda”

“Kuharap juga seperti itu” Timpal Suho serius.

Yoona berusaha sekuat tenaganya untuk membuat laki-laki ini berhenti berlagak serius di hadapannya, tapi ternyata tidak bisa. Yoona tidak bisa menghentikan ketegangan yang Suho rasakan.

“Jadi,” Yoona menggantungkan ucapannya. Duduk di pinggir ranjangnya, menghadap laki-laki Kim itu. “Berapa gelas kopi kau habiskan semalaman tadi?”

“Sembilan” Jawab Suho singkat. “Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Aku tidak pernah merasa seenak ini. Entahlah, aku tidak tahu apa itu faktor aku akan mati nanti ma―”

“Kau tidak akan mati nanti malam” Potong Suho dingin lalu beranjak dari sofa dan melangkah keluar. Oh, tidak. Dia tidak tahan untuk membahas tentang topik yang satu itu.

Hari itu berjalan seperti hari biasa. Tetapi penjagaan rumah semakin diperketat dari waktu ke waktu. Di kamarnya, Yoona dan Hyoyeon beserta Malca dan Kyna sedang temu bahagia. Kim berjaga-jaga di lantai satu, mondar-mandir membawa sebuah tongkat keamanannya. Dan Suho, berdiam diri di ruang tengah. Terfokus pada layar TV yang tidak menyala.

17 April. 8:08PM.

Hyoyeon dan Suho sedang menyantap makan malamnya. Sedangkan Yoona menyantap makan malamnya di kamar, ditemani oleh supir setianya―Kim. Well, beserta Kyna dan Malca. Tidak ada pembicaraan penting di antara Hyoyeon dan Suho. Hanya berputar pada topik keadaan Yoona, dan Hyoyeon yang tidak bisa menurunkan tingkat kestressannya.

…Deo dangdanghage neon Mr. Mr. (nal bwa) Mr. Mr. (geurae baro neo neo neo) Nal gaseum ttwige han Mr. M―”

            “Yoboseyo?” Hyoyeon menempelkan ponsel emasnya pada telinga kirinya setelah ponsel itu ribut bersuara nada dering.

Nona Hyoyeon?

“Ya. Ini aku”

Aku juru bicara Korea Mr. Smith ingin menyampaikan bahwa Mr. Smith ingin bertemu dengan Nona Yoona sekarang untuk membahas tentang kelanjutan pembangunan di Maladewa dan Bora-Bora

“Sekarang?”

Ne

“Kau yakin?” Hyoyeon melirik Suho yang sudah tidak melanjutkan makannya, malah perhatiannya telah terpusat pada pembicaraan Hyoyeon dengan seseorang di ujung sana.

Tentu saja, Nona. Mr. Smith ingin menemui Nona Yoona sekarang dan tidak dapat ditunda lagi. Jika Nona Yoona tidak menemui Mr. Smith sekarang, maka dengan berat hati, pembangunan di Maladewa beserta Bora-Bora akan dibatalkan

“Oh, tidak. Tidak, tidak bisa. Pembangunan itu tidak bisa dibatalkan”

Kami membutuhkan Nona Yoona untuk segera menemui Mr. Smith

“Maafkan aku, tetapi Yoona sedang berkondisi tidak baik. Jadi, aku akan mewakilinya. Dimana?” Tanya Hyoyeon, mengetukkan jarinya di meja makan kaca.

Maaf Nona, tetapi Mr. Smith ingin bertemu dengan Nona Yoona. Bukan perwakilannya atau perwakilan perusahaan

“Oh, apa kau tidak dengar bahwa dia sedang tida―” Gertakan Hyoyeon yang dihiasi dengan luapan emosi itu terpotong saat Suho merebut ponselnya.

“Selamat malam, tuan. Maaf karena memotong pembicaraan anda dengan teman saya. Dia tiba-tiba permisi untuk pergi ke toilet Jadi, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Suho pelan. Sangat ramah.

Mr. Smith ingin bertemu dengan Nona Yoona sekarang. Jika tidak, dengan terpaksa, pembangunan di Maladewa dan Bora-Bora akan dihentikan” Laki-laki di ujung sana itu kembali mengulang alasannya mengapa ia menelpon.

“Nona Yoona sedang tidak enak badan dan tidak bisa meninggalkan rumah. Apa bisa diwakili? Aku pemegang perusahaannya untuk sementara ini dan sebagai mitra terdekatnya yang berada di London. Dan mungkin, perusahaanku juga bisa mempermudah pengerjaan di Maladewa dan Bora-Bora nanti. Kuajukan penawaran emas ini hanya untuk malam ini saja, Jadi, bagaimana?” Saran Suho.

Laki-laki di ujung sana itu terdengar sedang berdiskusi dengan seorang laki-laki dengan suara berat―Mr. Smith, rupanya. Lalu kembali berbicara kepada Suho. “Baiklah. Anda bisa mewakili Nona Yoona dan perusahannya. Mr. Smith ingin bertemu dengan anda di gedung perusahaan Nona Yoona

Oh, berterimakasihlah kepada Tuhan bahwa Suho terlahir dengan bakat ‘mengubah kesepakatan’ itu.

“Baiklah. Kita akan bertemu dua puluh menit lagi. Gamsahamnida” Setelah saling mengucapkan salam, Suho memutuskan hubungan kontak itu dan memberikan kembali ponsel itu kepada Hyoyeon.

“Kau berbakat merayu” Gumam Hyoyeon polos.

“Katakan saja jika kau ingin kurayu” Timpal Suho, meraih mantel hitamnya.

Iris hitam Hyoyeon terputar. “Yang benar saja”

“Aku akan pergi sebentar saja”

“Tidak bersama Kim?”

“Aku akan membawa mobil sendiri” Jawab Suho lalu memakai mantelnya.

“Tidak memberitahu Yoona?” Suho terdiam. “Beritahu dia”

“Kemungkinan terbesar―”

“Beritahu dia” Potong Hyoyeon, terdengar serius.

“Oh, baiklah. Hey, Kim” Sapa Suho saat Kim baru saja turun dari lantai dua membawa penampan yang berisi mangkuk makan malam Yoona. Suho melangkah menaiki anak tangga, mengumpulkan segala alasannya jika Yoona melarangnya untuk pergi kali ini.

“Hey” Sapa Suho saat baru mencapai ambang pintu kamar Yoona yang terbuka.

“Apa di bawah sana dingin sekali hingga kau harus mengenakan mantelmu?” Tanya Yoona yang masih terduduk menyilangkan kakinya di atas ranjang.

“Hm,” Suho bergurau tidak jelas denga menelan salivanya susah payah. “Aku harus pergi”

Kini wajah santai Yoona tampak berubah. Ada kerutan di keningnya. “Kemana?”

“Gedung perusahaanmu” Jawab Suho singkat, tidak berani membalas tatapan Yoona.

“Ada apa?”

“Mr. Smith ingin bertemu denganmu, tapi akan kuwakili. Jika tidak, pembangunan di Maladewa dan Bora-Bora akan dihentikan secara paksa” Jelas Suho lalu memijat keningnya. Oh, Demi Tuhan, seperti ada sengatan listrik pada tatapan Yoona.

Yoona terdiam. Begitu juga dengan Suho. Bahkan suara deru nafas saja tidak terdengar di antara kesunyian itu.

“Kau tidak akan pergi menemuinya” Akhirnya Yoona membuat keputusannya. Keputusan yang tidak siapapun memintanya.

Suho mendongak, menatap Yoona. “Aku harus pergi”

“Kau tidak akan pergi. Jangan membuatku mengulang untuk ketiga kalinya” Tukas Yoona dingin dan serius. Tajam dan menusuk.

“Aku akan tetap pergi” Suho kini terdengar lebih tegas. Egois.

“Beritahu aku dimana gedung perusahaanku berada”

“Gangnam” Jawab Suho singkat.

TBC

Advertisements

3 thoughts on “Her Darkest Vision [3/4]

  1. Maaf Saeng.. Baru comment di part ini.. Soalnya di part2 sebelumnya terlanjur baca d blog Yoongexo jadi commentnya disana.. Ngga apa2 yaah?? *kedipkedip*.

    Heumm… Part ini bikin tegang..
    Jadi was-was sendiri,, bagaimana kalau Yoona meninggal.. ?? Huaaah.. Ffnya bikin galau niih.. Kkk.
    Tapi salut banget buat kerja keras Suho dkk. Buat melindungi Yoona, semoga usaha keras mereka ngga sia2, tapi bagaimna kalau yg celaka Suho.?
    Aah nan molla.. Semoga endingnya ngga sad, dan tidak ada yg meninggal..
    Pleasee.. Saeng, kalau ff ini udah kelar, bikin ff YoonHun yaa? #pasangpuppyeyes hehehehe
    ditunggu part selanjutnya Fighting!!

    Like

  2. ya ampun aku bacanya jadi deg” kan gara” masalah kematian… gimana nanti yoona sama suho ya…uuhh
    ditunggu lanjutnya thor ^-^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s