A Secret of Love

A Secret of Love

presented by Clora P. Darlene

Starred by

EXO-K’s Oh Sehun & GG’s Im Yoon Ah

Romance

PG-15

P.S: Based on “Brad Pitt’s Love Letter to Angelina Jolie” (The letter was not written by Brad Pitt)

***

            “Berat badanmu turun lagi?” Laki-laki bertanya di sela-sela sesapannya pada kopi kesukaannya.

“Ya” Jawab perempuan itu singkat, terlihat lebih frustasi. “Aku akan pulang tengah malam hari ini”

“Baiklah” Timpal sang laki-laki santai.

Dad, mom!”

“Hey, anak mom paling tampan” Perempuan itu melebarkan lengannya, membiarkan laki-laki kecil itu datang ke pelukannya.

Mom dan dad akan datang ke acara besok, kan?” Ryan Oh, menatap orang tuanya bergantian―Oh Sehun dan Oh Yoona.

Yoona dibuat anaknya bingung sejenak. Acara apa? Yoona tidak tahu apa-apa mengenai acara yang dibicarakan Ryan. Sehun toh juga tidak pernah memberitahu apa-apa.

“Tentu saja, dad dan mom akan datang” Sehun menjawabnya kilat. Tidak menunggu reaksi Yoona. “Kajja, kau bisa terlambat nanti” Ryan kini berpindah dari pelukan Yoona ke pelukan Sehun. Setelah mengucapkan salam, keduanya pergi. Meninggalkan rumah dan menuju tujuan masing-masing―Sehun ke kantornya dan Ryan ke sekolahnya.

Setelah ditinggalkan sendirian di rumah, Yoona segera membereskan barang-barangnya. Bergegas ke lokasi syuting hari ini dan harus menyiapkan berpuluh-puluh tenaganya. Menjadi seorang aktris sudah sepeti hobinya, tetapi sudah sering kali hobinya itu menguras tenaganya tanpa belas kasihan.

Dan Sehun―laki-laki yang menikahinya empat tahun lalu―jugalah seorang aktor dan model. Tetapi setelah berumah tangga, Sehun lebih fokus pada pekerjaannya di perusahaan keluarga. Walaupun terkadang ia juga masih sering menjadi orang yang berjalan di atas catwalk itu.

***

Sehun baru saja meniduri Ryan. Jam telah menunjukan pukul sembilan malam. Ia mengambil secangkir lemon tea hangat di ruang makannya lalu menyesapnya sembari melangkah menuju ruang tengah. Ada sebuah MacBook Pro yang telah menunggunya di sana. Seakan-akan terus mendesak Sehun untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sejenak Sehun menghela nafas dan berniat untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat terus duduk di depan layar laptop seharian.

Sehun memainkan laptop silver-nya itu dengan membuka beberapa folder lama. Folder yang hampir tidak pernah Sehun sentuh selama―mungkin―setahun terakhir ini. Oh, lihat. Folder foto pernikahannya bersama Yoona. Pernikahannya digelar secara besar-besaran dan mewah, tentu saja. Pernikahan yang digelar di outdoor itu dan kuenya yang menakjubkan, Yoona yang cantik dan Sehun yang tampan.

Sehun beralih ke folder lahirnya. Ada di sana rupanya folder kesukaan Sehun. Folder yang berisikan foto-foto Ryan saat baru lahir. Sangat mungil dan menggemaskan, tampan seperti ayahnya dan menawan seperti ibunya. Tidak terasa perjalanan ke masa lalu itu membuat Sehun terbawa arus mimpi.

***

Benar. Yoona pulang larut malam sekali. Ia membuka pintu rumahnya dan menemukan Sehun tertidur di ruang tengah dengan laptopnya yang masih menyala.

Yoona kesal.

Tentu saja.

Ia pulang larut malam dengan berton-ton kelelahan yang harus ia tompang sendiri tetapi suaminya malah tertidur di sofa seperti ini. Dengan laptop yang terbuka, mungkin dengan pekerjaan yang belum selesai. Yoona tiba-tiba merasakan pusing yang sudah biasa melandanya. Akhir-akhir ini―dua bulan terakhir ini, lebih tepatnya―sering sekali perempuan ini dilanda pusing yang diakibatkan oleh rasa lelahnya.

“Hey” Yoona menggoncangkan bahu suaminya pelan. “Bangunlah. Aku sudah pulang”

“Sehun-ah”

“Oh Sehun-ssi”

Sehun membuka matanya pelan, terasa terusik karena seseorang menganggu tidurnya. “Kau sudah pulang?”

Jika belum, Yoona tidak akan muncul membangunkanya kini. Kesal Yoona lalu diikuti iris madunya yang berputar. “Ya” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Tidak, Yoona sedang tidak ingin memancing perang mulut itu. “Kita ke kamar. Tidak baik untukmu tidur di sofa” Yoona menyodorkan tangannya lalu disambut oleh tangan Sehun.

Kedua berjalan bersama ke kamar. Sehun bertanya-tanya―berbasa-basi sebenarnya―menganai hari Yoona. Bagaimana syutingnya, atau apakah ada kontrak lain yang ditawarkan untuk Yoona. Yoona memutuskan untuk membersihkan dirinya sejenak sebelum bergelut dengan ranjang nyamannya. Tetapi saat ia mandi, dadanya terasa sakit. Dada kirinya, tepatnya. Seperti ditekan sangat kuat dan menyesakkan untuknya. Hal ini juga sudah sering terjadi padanya.

Yoona segera kembali ke kamarnya, berbaring di sebelah Sehun yang rupanya sudah tertidur lebih dulu.

2:03 AM.

Yoona masih sibuk membalikan badannya di atas ranjang. Tidak menemukan posisi yang nyaman untuk tubuhnya yang haus akan istirahat. Sehun sudah mendengkur pelan di sebelahnya. Rupanya suaminya lebih beruntung karena dapat tertidur dengan nyenyak.

4:01 AM.

Yoona terisak pelan. Air matanya tidak henti meluncur. Tidak, dia sedang tidak menonton sebuah film roman yang dimana salah satunya mati dan meninggalkan pasanganya yang lainnya. Tapi ini lebih buruk. Ia ingin terlelap tetapi tidak bisa. Matanya terasa berat tapi terasa enggan untuk diistirahatkan. Dadanya kembali terasa sakit, pusing di kepalanya memuncak dan punggungnya juga terasa ikut sakit.

7:02 AM.

Yoona baru tertidur lelap, di saat Sehun dan anaknya telah kembali beraktifitas.

8:07 AM.

Yoona terbangun dengan sebuah kantung mata hitam di bawah matanya. Ia bersiap-siap untuk pergi ke lokasi syuting dan telah menyadari Sehun beserta Ryan telah meninggalkan rumah. Yoona bergegas secepat mungkin atau taruhannya dia akan datang terlambat. Ia menyempatkan untuk meminum beberapa pil penghilang pusing pada kepalanya. Dan tebak, tiga buah pil itu tidak cukup.

***

10:42 PM.

Sehun terduduk di ruang keluarga. Tidak lagi dengan laptopnya, tapi dengan tujuan lain. ―menunggu Yoona. Dan voila, perempuan itu pulang dengan wajah lesu. Kantung matanya menghitam dan Sehun baru mengetahuinya.

“Aku pulang” Gumam Yoona. Sehun terdiam. Tidak membalas ucapan Yoona itu. “Apa Ryan sudah tertidur?” Yoona berbasa-basi sejenak. Kini rumah tangganya terdengar seperti sebuah omong kosong.

“Ya” Jawab Sehun singkat. “Di rumah ibumu”

Yoona mengalihkan pandanganya, matanya menyipit. “Dia tidur di rumah umma?! Sehun, besok bukanlah hari libur!” Suara Yoona meningkat.

“Ya, besok memang bukan hari libur” Timpal Sehun. Sinis.

“Lalu mengapa kau membiarkannya tidur di rumah umma?!!”

“Dia menangis kepadaku sejak acaranya selesai karena kau tidak datang. Aku telah menelponmu tapi ponselmu mati. Dia marah padamu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa” Jelas Sehun datar.

“Kau ayahnya!”

“Kau ibunya. Kau yang melahirkannya. Dia datang dari rahimmu, dan tidakah kau menyisihkan waktumu sedikit saja untuk menontonnya tadi?!” Kini Sehun bangkit, menatap Yoona lurus dengan tatapan dingin nan tajam. “Minta maaflah padanya” Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Yoona sendiri di ruang tengah.

***

5:02 AM.

Yoona baru menutup matanya. Mungkin pusing yang ia rasakan tidak hilang, tetapi ia sudah cukup bersyukur karena dapat mengistirahatkan tubuhnya yang semakin mengurus.

6:28 AM.

Tebaklah apa yang membuat Yoona terbangun jam segini di saat ia baru saja terlelap?

Hanya untuk berbicara pada Sehun, sebelum laki-laki itu meniggalkannya untuk pergi ke kantor.

“Katakan pada Ryan aku akan menjemputnya pulang sekolah nanti” Ucap Yoona, suaranya lebih kecil dari biasanya.

“Baiklah. Aku pergi dulu”

Tidak ada kecupan perpisahan atau…apapun? Yoona menatapi kepergian Sehun. Menghilang di balik dinding pemisah ruang keluarga dan ruang makan. Yoona melirik jam lalu bergegas menuju lokasi syuting.

0:12 AM.

Yoona kembali ke rumahnya dan menemukan Sehun masih terjaga dengan segelas teh hangat kesukaannya. Ia memeriksa kamar Ryan dan menemukan anak tampannya itu tengah tertidur lelap. Yoona bernafas lega. Anaknya kembali.

“Kau tidak menjemput Ryan tadi?”

Yoona menghentikan langkahnya lalu berbalik. Keningnya mengerut dalam. “Apa?”

“Kau tidak menjemput Ryan tadi?”

Yoona terdiam. Mencoba mencerna pertanyaan Sehun. Oh, sialan. Pekiknya dalam hati. “Aku…lupa”

“Ryan menangis karena mengira dia tidak akan dijemput, itu mengapa gurunya mengantarnya pulang ke kantorku” Sehun tersenyum kecil. “Jangan membual kepada Ryan”

Yoona menganga. “Apa? Aku tidak membual kepada Ryan!”

“Atau setidaknya berhentilah berjanji padanya” Tukas Sehun.

“Aku lupa! Sungguh! A―”

“Kau melupakan Ryan? Kau melupakan anakmu sendiri?!”

“AKU TIDAK MELUPAKAN ANAKKU SENDIRI!”

“LALU APA?!!!” Amarah Sehun sudah sampai pada ubun-ubunnya. “Jika kau sudah tidak berniat mengasuhnya lagi, aku bisa mengasuhnya seorang diri”

Cklek. Sepasang orang tua itu menoleh. Oh, ada si kecil Ryan di ambang pintu sana. Baru terbangun dari mimpinya. “Ryan, kau terbangun? Kajja, kita kembali tidur” Sehun adalah orang pertama yang melangkah mendekati Ryan.

“Aku tidak ingin tidur” Ungakp Ryan. Perkataan si mungil itu berhasil menghancurkan Yoona. Memberikan bayangan seberapa gagalnya ia menjadi seorang ibu.

Dad akan membelikanmu eskrim besok jika Ryan tidur sekarang. Bagaimana?” Sehun tersenyum kecil lalu menggendong Ryan. Dan Yoona hanya bisa berdiri membeku di tempatnya. Melirik saja tidak berani.

Ryan mengangguk lalu sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Sehun. “Baiklah. Kajja”

Pintu itu kembali tertutup.

Yoona kembali sendiri. Ia memutuskan untuk melangkah ke kamar. Mencoba menenangkan dirinya dengan memanjakan tubuhnya dengan air hangat―tetapi nihil. Ia tidak bisa tenang. Serangkaian kesakitan yang biasa ia rasakan kembali melanda. Jauh lebih sakit dan pahit saat kenyataan kembali menamparnya.

Sehun ingin bercerai dengannya.

“Jika kau sudah tidak berniat mengasuhnya lagi, aku bisa mengasuhnya seorang diri”

            Terasa sangat sakit untuk Yoona.

Yoona membalut tubuh kecilnya dengan selimut tebal di atas ranjangnya―sendirian. Tidak ada Sehun yang biasa menemaninya tidur. Tidak ada Sehun yang biasa mencium keningnya sebagai ucapan selamat malam atau belaian halus Sehun pada rambutnya yang sudah terlihat kusam.

Dan Yoona mulai takut jika semua itu tidak akan pernah terjadi lagi.

7:09 AM.

Yoona baru saja terlelap saat sebuah ponselnya bersuara menandakan seseorang menelponya. Manager yang sekaligus saudara sepupunya―Yuri Kwon―mengomel di ujung sana mengatakan bahwa Yoona telat datang ke lokasi syuting dan banyak penawar membawa kontrak untuk ditujukan kepada Yoona.

Percayalah, bahkan belum sepuluh menit Yoona menutup matanya, ia sudah kembali bergegas. Pergi ke lokasi syuting dengan make-up tebal untuk menutupi wajah lelahnya, terutama kantung hitam yang membuatnya sudah seperti panda kurang gizi.

“Marie Claire, Vogue, Cosmopolitan, tawaran menjadi ambassador Guess untuk Seoul atau ambassador Chanel. Dan ada juga Coca-Cola dan Victoria’s Secret. Kau mau yang mana?”

Yoona yang menompang dagunya―yang hampir tertidur―selama mendengar pernyataan Yuri dengan berwajah datar. Tidak tertarik. Sedikitpun, tidak. “Tolak semuanya” Yoona meraih tasnya lalu bangkit.

“Apa?! Menolaknya? Semua?! Kau yakin? Yoona, dengarkan aku. Kau adalah aktris yang beruntung. Banyak orang yang ingin menjadi sepertimu. Kau tinggal pilih kontrak mana yang ingin kau tandatangani” Yuri menjentikan jarinya di depan wajah Yoona, seperti membangunkan perempuan itu. “Ingatlah Yoona, betapa beruntungnya dirimu”

Beruntung? Bantin Yoona. Beruntung karena setelah ini suaminya akan menceraikannya dan anaknya sedang marah kepadanya? Perempuan dengan rumah tangga yang sedang di ujung jurang itu disebut sebagai ‘beruntung’?

“Sampaikan salam maafku kepada semua perusahaan. Aku menolak. Semuanya. Aku pergi dulu, eonnie” Yoona permisi untuk pergi di saat Yuri berteriak memangilnya untuk kembali. Tetapi Yoona telah menutup telinganya.

Ia lelah.

Dan yang ia hanya dapatkan adalah kata ‘lebih’. Ia lebih lelah.

***

Sehun terduduk di kursi makannya dengan laptop yang menyala saat Yoona baru sampai rumah. Pukul tujuh malam dan perempuan ini sudah berada di rumah. Wow. Pikir Sehun. Tidak seperti biasanya.

Yoona tidak berkata apa-apa. Berjalan tidak menghiraukan Sehun.

Hubungan mereka sudah berada pada waktu-waktu terakhir.

Tidak ada lagi Sehun yang tidur di sebelah Yoona.

Sehun beralih pada ponselnya yang berdering. Ada nama Yuri di layarnya. “Yoboseyo, nuna?”

Sehunnie? Apa Yoona sudah sampai rumah?

“Ya, baru saja, nuna. Ada apa? Apa ada masalah yang terjadi di lokasi syuting?”

Ada sedikit kesalahpahaman saja kurasa. Aku ingin kau mengatakan pada Yoona untuk memikirkan kembali kontrak-kontrak yang ditawarkan untuknya” Jelas Yuri yang masih belum berputus asa untuk merayu sang aktrisnya.

“Ada berapa kontrak, nuna?” Tanya Sehun berbasa-basi.

Tujuh. Itu hanya sebagian iklan. Baru saja ada dua produser yang berbeda mendatangiku untuk meminta Yoona main di film mereka

“Dan Yoona baru mentandatangani berapa kontrak?”

Dia menolak semuanya. Semuanya” Yuri menekankan kata terakhirnya.

Sehun terdiam. Kaget, sebenarnya. “Baiklah. Akan kucoba berbicara padanya nuna” Setelah mengucapkan salam, Sehun menaruh ponsel hitam metaliknya itu di atas meja makan. Lalu beralih sejenak pada laptopnya untuk menutup semua dokumennya.

Dan, oh. Lihat.

Wallpaper laptop itu.

Sehun. Yoona. Dan si kecil Ryan saat mereka berlibur di Bali, Indonesia.

Sehun menatap foto itu cukup lama. Betapa bahagianya mereka bersama. Betapa mereka merasa hidup mereka sudah sempurna. Dulu. Percayalah, itu dulu. Sehun memutuskan untuk menyusul Yoona ke kamar. Duduk di pinggir ranjang sembari perempuan itu mandi.

Yoona tampak kaget saat Sehun ada di kamarnya―kamar mereka, lebih tepatnya.

“Kudengar kau menolak tujuh kontrak iklan” Sehun membuka ucapannya kali ini.

“Ya” Jawab Yoona singkat. Bukan, dia tidak berniat besikap sinis kepada Sehun. Tetapi lebih karena dia takut. Bagaimana jika ia berteriak kepada Sehun seperti malam sebelumnya?

“Bukankah jika kau menerimanya akan membesarkan karirmu?” Kini Sehun menekan nadanya untuk tidak terdengar seperti sebuah sindiran. Sehun menyadari ada kantung hitam di bawah mata Yoona. Wajah perempuan itu memucat, tidak segar seperti biasanya.

Kecantikannya sudah hilang entah kemana.

“Mungkin akan kupikirkan lagi” Gumam Yoona lalu berbaring di atas ranjangnya, memunggungi Sehun.

“Baiklah. Selamat malam” Sehun melangkah keluar, membiarkan istrinya beristirahat. Sendirian. Tanpa dirinya.

Sehun dan Yoona biasa berbicara berjam-jam. Mengobrol hingga tengah malam dan tertidur di pundak pasangan masing-masing. Tetapi kini dapat berbicara beberapa menit dengan Sehun saja sudah membuat Yoona bersyukur.

4:09AM.

Yoona merasa sedikit beruntung karena bisa tertidur lebih awal dari biasanya. Dan seperti biasa, ia harus menyelesaikan filmnya kali ini.

***

Sehun masuk ke dalam kamarnya untuk mencari dasi yang cocok dengan kemeja biru tuanya. Hitam? Oh, tidak. Warnanya akan menjadi sangat gelap, dan Sehun tidak terlalu menyukai pallet warna seperti itu. Merah? Yang benar saja. Hingga Sehun meraih sebuah dasi silver yang sudah dipastikan tepat untuk kemejanya.

Ia berdiri di depan cermin, memastikan dasi yang ia kenakan terlihat rapih dan cocok untuk dirinya. Jas hitam, kemeja biru tua dan dasi silverfashion Sehun yang Yoona sukai. Sehun masih ingat saat perempuan itu memberikannya dasi ini. Masih ingat. Masih melekat pada dirinya.

Sudah tidak ada lagi waktu untuk bernostalgia, Sehun. Beritahu Sehun pada dirinya sendiri.

***

Sehun mendengar sebuah mobil memasuki garasi. Sudah pasti itu Yoona. Tetapi hingga lima belas menit tidak ada siapapun masuk ke dalam rumah. Hingga Sehun memutuskan untuk memeriksa. Benar, itu adalah mobil Yoona. Sehun melangkah, lalu membuka pintu mobil.

Ia menghela nafas saat menemukan Yoona tengah tertidur di belakang kursi mengemudi. Apa perempuan ini sebegitu lelahnya? Hingga untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah membutuhkan energy banyak?

Setelah mematikan mesin mobil, Sehun melepaskan safety belt Yoona lalu membopong perempuan itu ke dalam kamar. Tubuh Yoona lebih ringan dari sebelumnya. Terasa jauh lebih ringan. Pipinya terlihat lebih tirus dan kantung mata hitam itu tidak segera hilang. Ini adalah pertama kalinya Sehun melihat Yoona sedekat ini setelah pertengkarangan melanda mereka. Sehun membaringkan perempuan itu di atas ranjang dengan pelan, tidak ingin istirahat istrinya terganggu.

Sehun terdiam sejenak. Tidak terasa olehnya tetapi wajahnya juga ikut tampak sayu melihati keadaan istrinya seperti ini. Yoona tidak lagi mengurus dirinya seperti biasa.

Sehun adalah satu-satunya orang yang beruntung mendapatkan perempuan yang didambakan hampir oleh setengah populasi dunia. Satu-satunya orang yang diizinkan untuk tertidur di sebelahnya dan memeluknya.

Ia mungkin terbuai oleh emosi dan amarah.

Berteriak keras dan mengambil keputusan secepat kilat untuk merencakan perceraian.

Tapi, di akhir nanti, ia akan dan tetap peduli pada Yoona. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi.

Jadi, Sehun lebih memilih ikut terbaring di sebelah Yoona setelah memikirkan sesuatu yang―mungkin, sebisanya―dapat merubah kondisi rumah tangganya. Laki-laki ini memutuskan untuk berakting.

Sehun berbaring menghadap Yoona yang memunggunginya. Laki-laki itu tahu bahwa perempuan yang tidur di sebelahnya terbangun dan belum melanjutkan tidurnya. Entah bagaimana ia tahu, Sehun mengetahuinya dengan baik. Yoona resah. Dan Sehun tahu itu juga. Terlihat dari gerakan-gerakan Yoona yang tidak nyaman. Terkadang Yoona juga memegangi kepalanya dan mencoba meraih punggungnya. Perempuan ini sedang kesakitan, Sehun kembali mengetahui itu. Sehun menarik selimut tebal mereka lalu menyelimuti Yoona. Yoona tampak kaget, tapi Sehun tidak bersuara menanggapi.

***

Yoona terbangun dengan kesakitan tiada tara pada kepalanya. Terasa berat dan pening. Sinar matahari sudah menyerangnya sejak tadi, membuatnya harus menyipitkan mata menghalau sinar kesukaannya itu. Yoona mengerang pelan, suaranya sudah terdengar parau.Ia mengalihkan pandangannya dan tidak sengaja menangkap sesuatu berwarna merah di atas meja. ‘Sesuatu’ yang menjadi kesukaannya.

Ada setangkai Bunga Mawar merah dan segelas susu putih hangat yang mulai mendingin. Yoona mencoba bangkit lalu duduk di pinggir ranjang. Oh, lihat ada suratnya juga. Yoona meraih kertas putih itu lalu menarik pita pastel rose-nya.

“Selamat pagi. Bayangkan saja sekarang aku sedang menciummu sebagai jatah morning kiss-mu. Semoga harimu menyenangkan.

                                                                                                                                                Sehun”

Surat cinta macam apa ini?! Yoona tersenyum kecil. Dan sial, Yoona benar-benar membayangkannya! Sehun berambut hitam menciumnya, di pagi hari dan membelai rambutnya.

Seperti sudah lama sekali semenjak terakhir kali Sehun melakukannya.

***

Yoona duduk di belakang kemudi sedangkan Yuri mengomel di sebelahnya mengenai kontrak-kontrak yang mendatanginya. “Bau apa ini?” Yuri merubah topic ocehannya. Wajahnya terlihat mengerut pertanda tidak suka. Yuri menemukan setangkai Bunga Mawar merah yang melayu dan menghitam di dekat hand rem mobil Yoona. “Kenapa kau menyimpan ini? Ini sudah tidak layak lagi disimpan” Yuri meraih Bunga Mawar itu sembari membuka jendela mobil.

“Jangan sentuh bunga itu” Yoona terdengar serius dan dingin sekali.

“Sangat menjijikan” Dan dengan hitungan detik, bunga itu sudah hilang terbawa angin di luar sana. Membuat buku jari Yoona memutih dan geram.

“SUDAH KUKATAKAN PADAMU JANGAN SENTUH BUNGA ITU!!” Yoona mengindak pedal remnya. Iris madunya tampak membara.

“Bunga it-”

“Turun dari mobilku”

“Apa?”

“Turun dari mobilku! Sekarang!”

“Aku ti-”

Dengan sekali hentakan, pintu mobil Yoona terbuka dan perempuan beriris madu itu membanting dengan keras. Berjalan menjauh dan menghiraukan Yuri yang berteriak memanggilnya. Di saat Yuri membuang itu, sebagian diri Yoona juga ikut terbuang. Ikut merasakan sakit tertimpa aspal.

Itu memang hanya setangkai Bunga Mawar.

Hanya setangkai bunga kesukaan Yoona.

Tapi di kondisi rumah tangganya yang sudah berada di ujung tanduk dan Sehun yang memberikannya―itu berarti segalanya.

Matanya berair akibat amarah dan sakit yang menjadi satu tidak terkendali.

***

Yoona berakhir di lobby kantor suaminya. Ada Sooyoung yang menghampirinya. “Ingin bertemu dengan Sehun?”

“Ya, sebentar saja” Jawab Yoona sekenanya. Melirik Sooyoung pun tidak.

“Akan kuberitahu di-”

“Tidak perlu. Hanya sebentar saja. Beri aku dua menit” Yoona tersenyum hambar lalu masuk ke dalam elevator. Ia menuju lantai delapan, tempat di mana ruang kantor suaminya berada. Ia keluar dari elevator lalu berbelok, tetapi langkahnya terhenti. Entahlah, apa dia terlalu kekanak-kanakan jika ia bereaksi seperti ini, tapi hatinya terasa tertohok.

Ada Sehun dan Ryan di sana. Tampak tampan keduanya. Dan tidak ketinggalan juga Kim Taeyeon―asisten yang juga merangkap sebagai sekretaris Sehun. Taeyeon menggendong Ryan dan anak tampan itu tampak senang dan nyaman sekali. Yoona memutuskan untuk memutar balik haluannya.

Menjelang senja, Yoona sudah terduduk di pinggir ranjangnya. Baru selesai membersihkan diri dan meminum beberapa obat pil―lebih dari saran dokter. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya tetapi Sehun terlalu cepat datang dan terus menjejalinya dengan pertanyaan yang tidak ingin Yoona jawab satupun.

“Kau datang ke kantorku siang tadi? Sooyoung memberitahuku”

“Yoona. Kau datang ke kantorku siang tadi? Jawablah” Sehun menekan ucapannya, masih mencoba menekan emosinya.

Yoona menghela nafas, tetapi tidak membalikan badan. “Ya”

“Mengapa kau tidak menemuiku?”

“Aku terburu-buru. Sutradara menelponku dan menyuruhku untuk segera kembali ke lokasi syuting” Elak Yoona.

Yoona berbalik saat Sehun melemparkan sesuatu ke atas ranjang.

“Bagaimana sutradara menelponmu jika kau saja meninggalkan ponselmu” Ucap Sehun. “Yuri ada di luar, meminta untuk berbicara padamu. Temuilah dia”

“Katakan aku sedang tertidur” Yoona tidak berani menatap iris pure hazel yang selalu menjadi kesukaannya itu. “Kumohon” Lirih Yoona.

Sehun terdiam, menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan setelah ini. “Baiklah. Istirahatlah”

***

4:04 AM.

Sehun ikut tidak terlelap karena Yoona yang berbaring di sebelahnya belum terlelap juga. Hari sudah menjelang fajar dan Yoona belum dapat menutup matanya. Hal ini sudah sering terjadi dan Yoona terlihat sudah bisa mengerti kondisi tubuhnya.

Sehun mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Yoona lalu memeluk perempuan yang memunggunginya itu. “Tidurlah. Ini sudah pagi” Sehun meraih tangan Yoona lalu menyisipkan jarinya pada sela jari Yoona dan menggenggam tangan perempuan itu hingga keduanya tertidur.

Di saat fajar datang dan Yoona menemukan tidak adanya Sehun di sebelahnya.

Bukankah itu semua mimpi yang indah? Pikir Yoona lalu berbalik.

Tapi pikirannya berubah saat menemukan sebuket Bunga Mawar merah besar di sebelahnya di serta surat putih dengan pita pastel rose.

“Selamat pagi. Tenang saja, aku sudah memberikan jatah morning kiss-mu. Semoga harimu menyenangkan.

                                                                                                                                                Sehun”

Yoona mengerutkan kening.

“…aku sudah memberikan jatah morning kiss-mu”

Oh, sialan. Laki-laki itu menciumnya saat masih tertidur.

***

“Aku ingin mengajukan cuti”

“Cuti?” Kim Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Ya”

“Tapi sebentar lagi proyek―”

“Aku akan kembali sebelum proyek itu dimulai”

Setelah mendapatkan cuti dengan tenggangan waktu yang ia minta dan telah berbicara dengan ayahnya, Sehun meraih ponselnya lalu menelpon nomor yang ia dapatkan dari ponsel Yoona.

Yoboseyo?

“Maafkan aku karena mengganggu jadwal, PD-nim”

Sehun? Oh Sehun?

“Ya, ini aku” Jawab Sehun ramah sekali.

Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Bagaimana keadaanmu saat ini? Yoona berakting bagus sekali

“Aku baik-baik saja, PD-nim. Senang mendengar istriku bekerja dengan baik. Tapi, apa aku bisa mengajukan permintaan?”

Tentu saja. Katakan apa yang kau inginkan. Kau telah mesukseskan tiga filmku karena kau membintanginya. Jadi apa yang kau inginkan?

Setelah mengajukan permintaannya, dan voila, Sehun mendapatkan apa yang inginkan, ia segera pulang. Yoona masih membereskan barangnya saat Sehun sampai.

“Kau sudah pulang? Dan…terimakasih atas Bunga Mawarnya”

“Itu bukan apa-apa. Aku mengambil cuti” Beritahu Sehun santai lalu melepaskan jas beserta dasinya.

Sehun mengambil cuti dan Yoona seakan juga menginginkannya. Tidak bekerja untuk beberapa waktu agar dapat memulihkan energinya terdengar bagus sekali.

Yoona melirik jam tangannya. “Aku harus pergi”

Sehun mengalihkan pandangannya menatap Yoona. “Pergi? Kemana?”

“Lokasi syuting” Iris madu itu terputar.

“Kau tidak perlu pergi. Kau sedang cuti sekarang” Beritahu Sehun lagi lalu melangkah ke dapur.

“Itu sebuah lelucon yang bagus” Yoona menganggukkan kepalanya. Berharap itu terjadi tetapi rupanya tidak akan bisa.

“Aku sedang tidak melucu” Bantah Sehun. “Vogue mengadakan pesta malam ini. Aku lupa memberikan undangannya padamu”

Oh, sebuah pesta. Tidak, Yoona tidak berminat datang. Ranjangnya tampak lebih menarik. “Kita akan datang”

“Oh, tidak. Aku tidak akan datang” Erang Yoona.

“Kenapa?” Sehun melangkah mendekati Yoona setelah meneguk segelas air putih.

“Aku akan pulang tengah malam dari lokasi syuting” Jawab Yoona.

“Sudah kukatakan padamu kau sekarang sedang cuti. Kau tidak percaya?” Alis kiri Sehun terangkat. “Aku telah berbicara pada produsermu. Jika kau tidak percaya, kau bisa menelpon produsermu”

Sehun melangkah ingin memasuki kamarnya, tapi di setengah jalannya ia terhenti lalu berbalik. Yoona masih berdiri dengan ketidakpercayaannya. “Aku masih mengantuk. Mau menemaniku tidur?”

***

Sehun telah selesai bersiap-siap―tampan dengan tuksedo hitamnya―dan menunggu Yoona yang sedang sibuk berdandan. Sudah cukup lama dan akhirnya laki-laki itu menyusul Yoona ke kamar mereka.

“Sebentar saja. Berikan aku waktu sedikit lagi” Sehun belum mengucapkan sepatah katapun tetapi Yoona sudah mencuri start. “Sialan. Mascara-ku habis”

Sehun menghampiri Yoona yang panik mencari mascara cadangannya meraih lengan Yoona. “Kau cantik tanpa mascara itu. Dan tanpa semua make-up ini” Lalu mencium bibir perempuannya itu. Manis dan lembut sekali.

“Kuanggap itu sebagai ‘kau sudah lelah menungguku yang berdadan’” Ucap Yoona setelah menyelesaikan ciumannya.

“Kau mengetahuiku dengan baik” Timpal Sehun. “Kajja”

***

“Yoona adalah perempuan yang tepat untukku. Dia cantik dan semua orang mengetahuinya, tetapi jika kau memasuki hidupnya lebih dalam, dia adalah perempuan tercantik yang pernah kau kenal seumur hidupmu. Aku beruntung memilikinya sebagai istriku dan Ryan beruntung memilikinya sebagai ibunya”

            “Aku adalah orang terberuntung yang pernah Tuhan ciptakan semenjak kedatangannya ke dalam kehidupanku”

            “Yoona dan Ryan adalah hal terpenting dalam hidupku hingga kapanpun”

            “Dia merangkap segalanya bagiku”

            “Jika kau melihat Yoona, berarti kau juga melihatku. Karena Yoona adalah refleksi dari diriku, dan aku adalah refleksi dari dirinya”

            Sudah cukup banyak pertanyaan yang diajukan kepada Sehun mengenai keluarganya. Pertanyaan dari media atau hanya sekedar dari teman-teman terdekatnya. Yoona memendam kesenangannya, tetapi senyuman itu tidak bisa ia sembunyikan. Ruam merah di pipinya dan iris madunya tidak bisa berbohong.

Sehun masih setia di sebelahnya, melingkarkan tangannya di pinggulnya yang kecil.

***

“Aku akan mengantar Ryan” Beritahu Sehun lalu memakai jaket biru kesayangannya.

“Aku ikut!” Sorak Yoona lalu bergegas mengambil jaketnya lalu memakainya. Sehun menggendong Ryan dan bersama berjalan menuju mobil. Saling berbincang di sepanjang jalan seperti tidak ada sederetan kesalahan sebelumnya.

Mom akan menjemputmu nanti” Yoona tersenyum manis kepada Ryan, kepulan uap tidak henti keluar dari mulutnya.

Ryan tampak ragu. “Mom akan benar-benar menjemputku nanti?”

“Tentu saja. Kita akan berjalan-jalan bersama nanti. Bagaimana?” Yoona tertawa kecil.

Ryan mengangguk senang. Senyumnya merekah, membuat Yoona juga ikut tersenyum. “Okay”

Setelah mencium kening anaknya itu, Yoona dan Sehun kembali berada di jalanan pulang. Keduanya berbicara, lalu tertawa atau hanya sekedar terkekeh. Tapi lengkungan di wajah Sehun itu menghilang saat mendengar erangan pelan Yoona. Perempuan itu memegangi kepalanya.

“Kita kemana?” Tanya Yoona yang menyadari arah jalan yang dilalui mereka saat ini berbeda dengan jalur pulang kembali ke rumah.

“Dokter. Kau harus mendatangi dokter. Aku tidak bisa membiarkan pusing itu terus bertengger di kepalamu” Jawab Sehun. Kini Sehun tidak berniat berakting atau sengaja menunjukkan perhatiannya―tetapi dia asli khawatir.

“Aku baik-baik saja. Aku masih memiliki obat penghilang pusing yang diberikan dokter” Bantah Yoona. Tidak, dia tidak ingin merusak pagi cerahnya karena harus datang dan bertatap mata dengan dokternya.

Sehun menghela nafas. “Kita akan tetap ke dokter”

“Oh, Tuhan” Erang Yoona. Iris madunya terputar.

Keduanya keluar dari mobil bersamaan setelah sampai di depan sebuah rumah sakit. Sehun menyadari langkah Yoona yang memelan dan itu yang membuatnya menarik tangan perempuan itu―mengganggamnya seakan tidak ada yang bisa memisahkan jari-jemari yang saling bertautan itu.

“Selamat pagi, dokter” Sehun adalah orang pertama yang menyapa lalu dipersilakan duduk oleh sang dokter―Dokter Zhang.

Setelah membicarakan keluhan Yoona, sang dokter kembali memberikan resep. “Ini resep yang sama seperti sebelumnya” Gumam Yoona saat keduanya keluar dari ruang praktek sang dokter.

“Kau meminum obatnya dengan teratur?”

“Ya. Maksudku, terkadang” Yoona cepat-cepat membenarkan ucapannya tetapi terdengar mengecil.

Sangat mengenaskan melihat istrinya seperti ini. Pusing itu bisa kapan saja menyerang Yoona, tidak melihat waktu dan tempat. Semena-menanya. Sehun melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona, menarik perempuan itu dekapannya dan berjalan bersama. Sehun dapat mendengar deru nafas Yoona yang terengah-engah dan tubuh mungil itu berkeringat dingin.

Saat sesampainya mereka di rumah, Yoona langsung meminum pilnya―well, karena dipaksa Sehun―dan tertidur pulang. Sehun masih terjaga karena harus menjemput Ryan nanti di sekolahan.

“Kau sudah terbangun?” Sehun mengerutkan keningnya.

“Sepuluh menit lagi Ryan akan pulang dan aku harus menjemputnya” Yoona tergopoh-gopoh mengenakan jaketnya kembali.

“Aku akan menjemputnya. Kau, istirahatlah”

“Tidak bisa. Aku harus menjemputnya. Aku sudah mengatakannya pada Ryan dan setelah ini kita akan berjalan-jalan” Yoona tersenyum kecil. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kajja”

***

Keluarga kecil itu sedang berada di Sky Rose Garden―menikmati senja dan makanan mereka. Ada dua alasan mengapa Sehun memilih tempat ini―pertama, karena senja yang disuguhkan, dan kedua adalah karena Yoona mencintai mawar. Yoona sedang memangku Ryan lalu menyuapinya. Keduanya tampak senang.

Sehun yang duduk di hadapan Yoona tidak bisa berhenti tersenyum. Senyumannya yang terus menggantung di wajah tampannya itu tidak bisa menghilang.

Yoona dan Ryan. Kehidupan apa lagi yang lebih sempurna dari ini? Pikirnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Yoona saat Sehun bangkit dari duduknya.

“Sebentar saja” Jawab Sehun yang tidak memberikan clue sama sekali. Yoona mengerutkan keningnya tetapi perhatiannya kembali terpusat pada Ryan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Sehun yang datang dari belakang Yoona meletakkan flower crown yang terbuat dari Mawar merah di atas kepala Yoona, lalu berbisik tepat di telinga perempuan itu. “Aku meminta pelayan di sini untuk membuatkannya, dan dia mengatakan padaku untuk meletakkan flower crown ini di atas kepala perempuan tercantik yang pernah ada di hidupku” Sehun tersenyum kecil.

“Jika kau tidak meletakkan flower crown ini di atas kepalaku, kau ingin meletakkannya di atas kepala siapa? Asistenmu?” Celetuk Yoona.

“Oh, Tuhan. Aku sedang berusaha untuk bersikap seromantis mungkin” Erang Sehun. “Tapi aku tetap mencintaimu” Sehun mencium pipi perempuan itu lalu kembali duduk di tempat duduknya. Menyantap makannya lagi dan menikmati senja.

Jika setiap harinya bisa seperti ini, Yoona akan mempertaruhkan apapun untuk mewujudkannya.

***

“Netizen menangkap momen mesra Oh Sehun dan istrinya, Im Yoon Ah”

            Itu adalah artikel terpanas kini. Setelah munculnya foto-foto Sehun dan Yoona di Sky Rose Garden beberapa waktu lalu. Yoona membaca seluruh artikel yang ada di internet tidak terkecuali. Ada foto Yoona beserta Ryan, fotonya yang mengenakan flower crown yang Sehun berikan dan foto saat Sehun mencium pipinya.

“Apa yang kau lakukan? Oh, aku sudah tahu berita itu” Sehun tiba-tiba datang menghampiri Yoona.

“Aku tidak tahu jika ada netizen yang mengikuti kita” Gumam Yoona.

“Mereka selalu seperti itu. Tidak terlihat. Kajja, hari akan senja” Ucap Sehun memberitahu Yoona. Keduanya bersiap-siap lalu berjalan bersama, menikmati senja kesukaan Yoona.

Hal ini sudah seperti kegiatan rutin mereka. Berjalan bersama untuk menikmati senja. Ada Sehun yang mendekap Yoona dan Yoona yang bersandar pada bahu Sehun. Ada Sehun yang tersenyum menawan dan Yoona yang tertawa. Ada Yoona yang mencintai Sehun dan ada Sehun yang lebih mencintai Yoona dari siapapun yang pernah atau sedang jatuh cinta kepada perempuannya itu.

Keduanya berbagi kebahagiaan.

Ini mungkin terdengar tidak masuk akal, irasional. Di saat hubungan pernikahan kami sudah berada beberapa langkah dari pintu perpisahan, aku memutuskan untuk berakting. Memberinya bunga, melakukan apapun yang ia sukai, mencintainya seperti tidak ada satu orang pun yang dapat mencintainya sebesar aku mencintainya dan hidup hanya untuknya.

            Dan keadaan membaik.

            Hubungan kami dan kondisi tubuhnya membaik. Berat badannya naik, tidak lagi tegang, atau tertidur di pagi hari dan kelelahan begitu cepat.

            Lalu aku menyadari satu hal: perempuan adalah refleksi dari laki-lakinya.

END

            Author’s Note: Maaf karena terlalu garing :’)

Advertisements

12 thoughts on “A Secret of Love

  1. Hueeee..ffnya keren bgt…daebbak buat author..
    Tp gda prckapan pnjang ryan sm Sehun/Yoona ya..
    Trus kok bsa Sehun nkh sm Yoona
    #plakk
    #banyaktanya
    dtggu ff YoonHun kryamu yg lain thor ^^

    Like

  2. aku udah baca dan komen ff kamu yang ini di yoongexo. tapi rasanya lebih afdol kalo aku juga komen ff kamu di blog pribadi kamu. aku mau tanya, boleh gak?
    kamu penulis profesional ya? soalnya ff kamu bagus-bagus banget sumpah.
    jujur aku lebih suka kalo kamu bikin oneshoot, apalagi main castnya yoonhun.
    soalnya kalo kamu bikin oneshoot, kamu membuat ff kamu terasa hidup*menurut aku
    dan juga kalo kamu bikin oneshoot, ff kamu jadi terasa sederhana tapi dapet banget feelnya.
    dan sorry banget aku gak baca ff kamu yang ‘her darkest’ soalnya bukan paring kesukaan aku.
    oh ya, aku fans kamu loh. merunut aku kamu author yang paling hebat*selama ini.
    terus aku mau nanya, kamu nulis novel juga gak? kalo kamu nulis aku mau deh beli novel kamu.
    ok, aku akan terus nunggu ff kamu yang selanjutnya

    Like

    1. Halo, Sora-ssi 🙂
      Aku bukan penulis profesional, baru masuk dunia per-ff-an maret tahun lalu, tapi uda nulis FF dari akhir 2010 (pas lagi masa nyoba-nyoba nulis). Aku gak pernah nerbitin novel-_- kalau novel itukan kisahnya mesti kompleks banget, aku kurang bisa bikin cerita yang kompleks. Lebih bisa bikin yang sederhana aja, makanya kenapa FF aku terkesan semua intisarinya sama. Kalau gak akhirnya mati, pasti ada yang ditinggalin walaupun dengan cara yang berbeda-_-
      Bagi cerita dikit ya, gak apa-apa kan? 😀
      Pas aku bikin Her Darkest Vision (Yoona-Suho) itu aku bener-bener kahabisan kata-kata, kalau ditelaah lagi banyak kata yang aku ulang-ulang dalam 1-3 paragraf. Di beberapa kali pengetikan, aku sempat ragu sama ide cerita. Habis ini Yoona sama Suho mesti ngapain? Ko bingung sendiri jadinya? Jadi takut kalau ide ke depannya nanti malah melenceng dari cerita dan sebabaginya. Padahal di bayangan aku Yoona-Suho uda cocok-_-
      Tapi pas kemarin aku bikin A Secret of Love (Yoona-Sehun) walaupun ada kendala di ide, tapi di pengetikan dan diksi aku sama sekali lancar. Malah aku pake kata-kata yang belum pernah aku pakai sebelumnya.
      Jadinya kalau aku ngambil kesimpulannya bikin cerita itu juga perlu pakai hati 😀
      Mau buat FF YoonHun terus, tapi di YoongEXO sekarang masih pakai sistem penjadwalan. Dan aku juga ngerti banget staff yang lainnya (di YoongEXO) masih mewanti-wanti tentang kesenjagangan tagline.
      Terimakasih ya atas komentarnya 🙂

      Like

  3. Aaiihh selalu suka sama penggalan kata2nya.
    Aku kira YoonHun bakal berpisah. Tapi Sehun merubah segalanya.
    Heum.. FF YoonHun bergenre marriage life yg keren banget..
    Jarang2 nih Clora bikin ff beginian.. Hehehe

    tadi ada sedikit typo ya.. Kata Meniduri seharusnya kata Menidurkan akan lebih baik. Masa Sehun ‘meniduri’ Ryan? Kan ngga lucu? Hahaha

    btw, eonni seneng banget karna clora udah bikin ff YoonHun, yaa kalau bisa sih sering2 aja ffnya yg d publish YoonHun. Wkwkw /ngarep.

    Like

  4. Aku mau tanya thor, sehun tulus cinta sama yoong atau cuma akting aja semuanya?
    Ceritanya bagus, tapi aku bakal sedih bgt klo sehun cuma akting
    Keep writing !!

    Like

    1. Tulus ko 🙂
      Dia aktingnya itu karna dia sadar kalau rumah tangganya itu uda di ujung jurang banget. Jadinya dia mencoba memperbaiki rumah tangganya. Kalau mau lebih jelasnya, coba deh cari di google “Brad Pitt’s Love Letter to Angelina Jolie”. Tapi surat itu gak ditulis sama Brad Pitt asli, jadi itu cuma fake, tapi bagus ❤
      Terimakasih komentarnya 🙂

      Like

  5. Halo… Kak Clora 🙂
    Ada temenku yang nyaranin buat buka YoongExo . Katanya FF nya keren-keren. Dan disitu aku baca FF nya kakak, dan disitu juga aku nemu alamat wordpress kakak :D. Aku buka dan FF ini salah satunya pengin aku baca. Alurnya bagus,idenya bagus. Pokoknya dua jempol buat kakak (y) (y). Ditunggu FF yang keren berikutnya :). Hwaiting 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s