TAKE ME (I’M YOURS) [1/?]

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Park Chanyeol | Choi Sooyoung | Kim Jongin

Romance, Action

PG-15

***

Perempuan itu terduduk di atas kursi. Membiarkan seorang laki-laki memakaikannya sepatu kets ungu kesukaannya.

Laki-laki itu bangkit kembali setelah membuat simpul terakhir. “Kajja”

“Bantu aku berdiri” Gumam perempuan itu dengan bibir pink yang ia kerucutkan.

Laki-laki itu menyodorkan tangannya dan disambut oleh si perempuan. Setelah membukakan pintu mobil untuk perempuannya dan memakaikan sabuk pengaman, laki-laki itu menyodorkan sekotak susu ibu hamil. “Aku tidak ingin kau merengek menginginkan susu di taman nanti”

Perempuan dengan perut yang sudah membesar itu tersenyum lebar. “Kau mengetahui diriku dengan baik”

Keduanya menuju sebuah taman yang letaknya―sebenarnya―tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Well, ini hanya dikarenakan si perempuan sedang hamil dan usia kandungan delapan bulan.

“Minggu depan Chanyeol dan Sooyoung akan menikah” Kini si perempuan yang membuka percakapan. Si laki-laki hanya mengangguk dan bergumam tidak jelas. “Maka dari itu,” Tampaknya si perempuan sedang susah payah untuk menelan salivanya. “Aku ingin menggunakan heels

“Tidak” Laki-laki itu menukas dengan singkat tetapi cukup untuk mempupuskan harapan perempuan yang duduk di sebelahnya.

“Wae?!” Perempuan itu setengah berteriak, tidak terima bahwa dirinya tidak bisa mengenakan deretan heels yang dicintainya.

“Aku ragu jika kau masih punya telinga”

Perempuan itu mendengus kesal. “Lihat, kau merendahkanku sekarang”

“Tidakkah kau dengar apa yang diucapkan dokter? Tidak ada heels. Kau ingin terjatuh lagi?”

“Itu,” Perempuan itu―Im Yoon Ah―membuang mukanya. Bergumam tidak jelas, sibuk mencari alasan yang rasional. “Aku tidak sengaja jatuh. Ada orang bodoh yang menumpahkan minumannya dan membuatku terpeleset”

“Dan kau lebih bodoh lagi karena tidak melihat air tumpahan itu”

Yoona kembali mendengus, melirik laki-laki yang tengah memutar setir mobilnya dari sudut matanya. “Kau benar-benar terdengar seperti suamiku ketimbang laki-laki yang akan membunuhku”

Laki-laki itu terdiam. Mulutnya terkatup, lalu menghela nafas dengan tenang. “Tenang saja, aku pintar merangkap pekerjaan. Aku akan menjadi suamimu yang akan membunuhmu”

“Dalam mimpimu” Tukas Yoona.

“Jangan takut, terkadang mimpi menjadi nyata. Dream comes true?” Laki-laki itu menginjak pedal rem. Berhenti di parking area dan membantu Yoona melepaskan sabuk pengamannya.

Tapi dia tidak keluar dari mobilnya.

Ada yang aneh.

Kening Yoona mengerut diikuti dengan erangan pelan.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya” Jawab Yoona pelan, mencoba mengatur deru nafasnya yang sepertinya mulai memburu.

Oh Sehun―laki-laki itu―membantu Yoona keluar dari mobilnya. Merangkulkan tangannya pada pinggang Yoona. “Kau ingin pulang?”

“Tidak. Aku baik-baik saja” Jawab Yoona. Matanya mengedar ke seluruh taman. Pagi hari dan taman―hal terbaik untuk Yoona. “Sehun-ah”

“Apa?”

Yoona menunjuk seorang penjual gula kapas. “Belikan aku itu”

“Berapa kau akan membayarku?”

Yoona menoleh, memandang Sehun dengan kepolosannya. “Aku akan memberikan sebagian gula kapasnya kepadamu. Jangan lupa, yang berwarna biru”

“Aku seharusnya membunuhmu dari awal” Oceh Sehun lalu melangkah menjauh, meninggalkan Yoona yang tengah terduduk sendirian di bawah pohon. Menatapi orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.

Anak kecil, perempuan dan laki-laki, remaja, orang dewasa hingga mereka yang tengah berlanjut usia, berlalu lalang dengan senyuman melewati Yoona. Hidup begitu indah, bukan?

Oh, tidak.

Hidup Yoona tidak indah. Well, setidaknya untuk sembilan bulan terakhir ini.

Ia melirik sosok Sehun dari sudut matanya. Laki-laki itu sedang mengantri dengan kesal untuk membelikannya sebuah gula kapas.

Apa yang dipikirkannya untuk menikahi seorang pembunuh seperti Oh Sehun dengan rambut berwarna tembaganya?

Oh, ya. Kau benar sekali.

Insiden itu.

Kini pandangan Yoona menuju perutnya yang membuncit.

Jika saja malam itu dia tidak mabuk―dan Oh Sehun yang juga yang tidak mabuk―ia tidak akan berakhir seperti ini. Dengan test-pack yang menunjukkan dua garis merah dan harus menikahi Oh Sehun karena tidak ingin menyandang ‘perempuan kotor’. Seharusnya Oh Sehun sudah di Neraka sejak delapan bulan lalu.

Kau masih membingungkannya?

Siapa Oh Sehun? Dan siapa Im Yoon Ah?

Yoona mendapati Sehun tengah menatapnya selagi menunggu pesanannya. Yoona dapat melihat iris pure hazel itu dari kejauhan.

Oh Sehun tidak lebih dari seorang sniper handal. Apa perlu dikatakan Sniper Pro? Ya, mungkin perlu. Bekerja pada pasar gelap terbesar di Korea Selatan yang mengancam keruntuhan ekonomi negara.

Dan di sinilah Yoona berperan. Seorang agen intel negara yang diturunkan untuk menangani kasus ini. Targetnya sepenuhnya bukanlah Oh Sehun.

Tapi seorang Kris Wu.

Pimpinan pasar gelap.

Tampak Sehun sudah berjalan kembali ke arahnya. Membawa sebuah gula kapas biru dan Yoona menyambutnya dengan senyuman lebar.

Tapi, Sehun selalu berada di depan Kris. Menjadi orang terpercaya Kris. Oh Sehun―tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Kris tanpa seizinnya. Dan, well, Yoona tentu saja tidak mendapatkan izin. Maka dari itu, dia akan menyentuh Sehun terlebih dahulu.

Apalagi jika bukan rencana membunuh laki-laki ini?

***

            Sehun masih mengantri untuk membelikan Yoona sebuah gula kapas biru. Ia mengedarkan pandangannya, bosan. Tapi iris pure hazel-nya menemukan seorang laki-laki berpakaian hitam.

Laki-laki itu juga menatapnya. Kemudian memakai topi hitamnya dan berlalu.

Sehun mengenal laki-laki itu. Mengenalnya dengan sangat baik.

Kim Jongin.

Laki-laki yang bisa disebut sebagai sahabatnya.

***

            “Kurasa aku belum memberitahumu” Gumam Yoona, sembari melakangkah bersama Sehun.

“Apa?”

“Seohyun akan menginap di rumah kita. Kurasa sekitar tiga hari” Beritahu Yoona. “Dad danmom akan pergi ke London dan tidak mengizinkan Seohyun ikut karena dia akan menghadapi ujian akhir”

Sehun tahu arti di balik penjelasan Yoona.

Skenario roman.

Hal ini pernah terjadi. Pertama kalinya, saat Yoona dan Sehun baru menikah―secara sah―dan keluarga Yoona menginap di rumah mereka. Sehun yang tidak pintar berbaur dan Yoona yang tidak mudah merasa nyaman bersama orang baru, harus memainkan peran sebagai suami dan istri yang romantis. Well, atau setidaknya berperan sebagai suami dan istri yang normal. Bukan menjadi dua orang pembunuh handal yang sedang merancakan untuk membunuh satu sama lain.

“Baiklah, aku mengerti” Ucap Sehun.

“Yoona? Sehun?”

Keduanya menoleh saat seorang perempuan dan seorang laki-laki ternyata mengenali mereka berdua.

“Soo!” Yoona bersorak saat menemukan sahabat baiknya itu sedang bersama calon suaminya―Park Chanyeol. “Annyeonghaseyo, Chanyeol-ssi” Yoona membungkuk dengan bibir yang melengkuh indah.

“Annyeonghaseyo, Yoona-ssi” Dengan suara beratnya, Chanyeol tersenyum. “Annyeonghaseyo, Sehun-ssi

Sehun hanya tersenyum manis.

“Apa yang kaulakukan di sini? Bukankah kau harus banyak beristirahat dan tidak melakukan banyak aktivitas?” Sooyoung menjejalkan pertanyaannya pada Yoona.

“Aku bosan di rumah. Aku hanya berjalan-jalan, tidak lebih dari itu” Yoona tersenyum kecil. “Dan kau juga. Mengapa kau masih santai di saat minggu depan adalah hari pernikahanmu?”

“Aku ingin bersantai sejenak sebelum hari pernikahanku. Banyak sekali yang harus kuurus dan itu terkadang membuat perutku mulas” Sooyoung tertawa kecil.

Setelah bercakap-cakap mengenai pernikahan Sooyoung dan Chanyeol, Sooyoung menoleh menatap Sehun. “Jaga Yoona, Sehun-ah. Itu perintah”

Sehun tersenyum kecil. “Arasseo”

Butuh sekitar tiga puluh menit untuk keduanya kembali ke rumah. Di saat keduanya ingin membuka pintu, tetapi pintu itu sudah terbuka. Tidak terkunci. Kening Sehun dan Yoona mengerut bersamaan.

Seseorang masuk ke rumah mereka tanpa izin pemiliknya.

Ada dua hal yang dipikirkan oleh Sehun dan Yoona kini. Jika di dalam bukanlah orang dari pihak Yoona―intel negara―berarti adalah orang dari pihak Sehun―para kriminal.

“Eonnie? Oppa? Apakah itu kalian?” Suara itu sampai di telinga keduanya, membuat mereka bernafas lega.

“Seohyun-ah?” Yoona adalah orang pertama yang masuk, menemukan Seohyun―adiknya―sedang berjalan ke arahnya. “Bagaimana kau bisa masuk?”

“Seharusnya aku yang bertanya kepada eonnie. Mengapa eonnie tidak mengunci pintu ketika eonnie mau pergi?” Manik mata Seohyun mendapati Sehun yang sedang melangkah masuk. “Annyeonghaseyo, oppa”

“Annyeonghaseyo, Seohyun-ah” Sehun membalas sapaan Seohyun lalu beralih ke dapur, mengambil segelas air untuk menghilangkan rasa haus dahaganya.

“Bagaimana keadaan, eonnie?” Tanya Seohyun lalu melangkah bersama Yoona, memasuki rumah lebih dalam.

“Tidak buruk. Nafsu makanku semakin besar” Gumam Yoona. “Aku akan menjadi perempuan gendut dengan kulit yang tidak kencang lagi. Oh, Tuhan” Erang Yoona tidak rela. “Aku akan mandi dulu”

“Eonnie”

Tangan Yoona telah siap untuk memutar knop pintu kamar, tetapi ia berbalik. “Ada apa?”

“Itu kamar tamu” Ucap Seohyun.

Yoona menatap pintu cokelat di hadapannya lalu tersenyum kikuk. “Kurasa aku linglung” Yoona melakangkah dengan hati-hati memasuki kamar Sehun, yang seharusnya menjadi kamar mereka. Well, selama ini Sehun dan Yoona memang tertidur di kamar yang berbeda. Tidak ada niat pada keduanya untuk tidur di atas satu ranjang yang sama―kecuali saat awal pernikahan mereka. Yoona menutup pintu kamar Sehun dengan pelan lalu bersandar.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?!

Oh, Tuhan. Seluruh perlengkapan dan bajunya ada di kamar sebelah!

***

            Sehun meletakkan gelas airnya. Iris pure hazel-nya masih mendapati Seohyun sedang menonton TV di ruang tengah. “Aku akan beristirahat dulu “

“Oh, ne, oppa. Selamat beristirahat” Seohyun tersenyum lalu membiarkan kakak iparnya itu masuk ke dalam kamar yang dimasuki oleh Yoona tadi. Sehun memutar knop pintu dan menemukan Yoona yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. “Wae? Kenapa kau melihatiku seperti itu?” Tatapan Sehun datar menatap Yoona.

“Baju-bajuku!” Suara Yoona meninggi satu oktaf, kedua tangannya refleks memegangi kepalanya. “Bagaimana aku berganti baju? Mascara-ku?! Parfum-ku?! Eye―”

Sehun membekap mulut Yoona dengan tangannya. “Mandilah. Kau terdengar berisik sekali”

“HEY!”

Sehun lebih mengencangkan bekapannya pada mulut Yoona. “Ingatlah bahwa kau sedang hamil” Sehun melepaskan bekapannya pada mulut Yoona dan membiarkan perempuan itu mengambil langkahnya menuju kamar mandi.

Sehun terduduk di pinggir ranjangnya, wajahnya ia usap dengan kedua tangannya.

Seohyun yang tiba-tiba datang membuat rencananya gagal total. Sebenarnya bukan sebuah rencana besar. Hanya saja kedatangan adik iparnya yang seharusnya ia jemput sore nanti membuat dirinya dan Yoona ‘tidak bersiap-siap’. “Kau, jangan melamun. Berikan aku baju” Ucap Yoona garang membangunkannya dari lamunan. Sehun membuka lemarinya lalu memberikannya sepasang piyama berwarna abu.

“Piyama? Di pagi hari seperti ini?” Kening Yoona mengerut dan alis kirinya terangkat. “Kau gila?”

“Pakai atau telanjang” Wajah Sehun tampak datar.

Yoona merampas piyama abu tersebut dan mendengus. Dia tidak menyukai penawaran itu. Pakai atau telanjang? Yang benar saja.

***

            Seohyun menatapi Sehun―kakak iparnya―masuk ke dalam kamar. Ia menghela nafas panjangnya.

Oh, ini gila.

Dan semakin menjadi-jadi.

Flashback.

            Rumah dengan pekarangan yang luas dan tampak megah itu terlihat ramai. Para pendatang bergaun dan bertuksedo menyelamati si perempuan yang akan segera menikah beberapa hari lagi. Tangannya merangkul seorang laki-laki yang beruntung dapat menyandang gelar sebagai suaminya.

            Mereka berdua mengambil langkah bersama menuju seorang perempuan bergaun putih. Tengah menikmati segelas cocktail.

            “Sudah berapa kukatakan untuk tidak meminum minuman seperti ini?” Im Yoon Ah merampas gelas kecil itu dari tangan adik sematawayangnya―Im Seohyun.

            “Aku sudah boleh meminumnya, eonnie. Aku sudah di atas delapan belas tahun”

            “Selama kau menjadi adikku, kau tidak boleh meminumnya” Yoona tersenyum kecil. “Perkenalkan, ini Seohyun, adikku. Seohyun-ah, ini Sehun”

            Seohyun membungkuk dengan tersenyum manis. “Annyeonghaseyo, oppa”

            “Annyeonghaseyo, Seohyun-ah” Laki-laki itu ikut tersenyum―Oh Sehun.

            “Tunggulah di sini sebentar, aku akan menemui Sooyoung dan Chanyeol” Tidak butuh waktu lama untuk perempuan bergaun hitam yang memamerkan lekuk tubuh sexy-nya itu lenyap dimakan keramaian.

            Sehun meraih sebuah gelas cocktail, lalu melirik Seohyun yang tiba-tiba membuka percakapan di antara mereka. “Kita pernah bertemu sebelumnya”

            Sehun tampak terkejut dan bingung dalam waktu yang bersamaan. “Benarkah?”

            “Oppa ingat perempuan yang yang oppa tolong di halte bus saat hujan? Sekitar lima tahun lalu”

            Laki-laki beriris pure hazel itu terlihat membongkar ulang memorinya. “Ya”

            “Perempuan itu adalah aku”

            Sehun tersenyum kecil. “Jinjjayo?” Seohyun mengangguk kecil. “Senang bisa menolong calon adik iparku”

Seohyun terbangun dari lamunannya saat pintu kamar di ujung sana terbuka dan menimbulkan suara. Ada sosok Sehun dan kakak perempuannya sedang keluar dari satu kamar yang sama. Dengan Sehun yang membantu Yoona berjalan dan Yoona yang mengenakan piyama abu.

Aku lebih dulu mencintainya. Tapi dia lebih dulu mencintai orang lain.

“Piyama?” Seohyun menahan tawa ejekannya.

“Percayalah padaku, baju ini adalah baju paling nyaman yang pernah ada pada abad ini” Elak Yoona lalu duduk di sebelah adiknya.

“Seohyun-ah? Bisa kau antarkan Yoona ke dokter kandungannya?” Sehun melirik arloji yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kanannya. “Hari ini dia harus check-up

“Tentu saja. Sekarang?” Seohyun melirik kakak perempuannya.

“Baiklah. Kajja”

***

            Setelah mengantar istri dan adik iparnya hingga depan rumahnya, Sehun kembali bergegas masuk dan memindahkan barang-barang Yoona dari kamar tamu. Perlengkapan make-up hingga novel-novel kesukaan Yoona. Laki-laki itu membuka pintu lemari besar Yoona, ia memasukkan baju-baju Yoona dalam dua buah koper besar berwarna hitam metalik dan silver.

Hingga laki-laki itu membuka sebuah laci di dalamnya.

Oh, sialan. Umpat Sehun dalam hatinya.

Underwear Yoona. Ya, mungkin, dia memang harus memindahkan yang satu itu juga. Sehun menghela nafasnya, memindahkan barang keramat itu satu per satu dengan hati-hati. Setelah membereskannya, ia menuju bawah kasur Yoona.

Agen intel negara bodoh. Gumam Sehun dalam hatinya, lalu meraih beberapa pistol dan amunisi milik Yoona di bawah kolong ranjangnya dan juga dipindahkannya ke kamarnya. Agen intel mana yang bodoh menaruh senjatanya di bawah kolong? Oh, ya. Agen itu pasti Im Yoon Ah. Sehun lalu mendengus dan membawa dua koper beserta sebuah tas hitam masuk ke dalam kamarnya.

***

            Mata Yoona berbinar menatap foto itu sembari berbaring di atas ranjangnya―well, atau bisa dibilang ranjang Sehun.

“Lihat” Yoona memamerkan foto USG 4 Dimensinya. “Kata dokter dia perempuan” Yoona tersenyum lebar. “Padahal aku lebih ingin anak laki-laki”

“Perempuan dan laki-laki sama saja” Sehun ikut berbaring di sebelah Yoona. “Jangan ganggu aku, aku ingin tidur” Sehun berbalik, memunggungi Yoona dan menutup matanya.

Yoona mendecak lalu mematikan lampu tidur di sebelah ranjangnya. Ia juga membalikkan badannya, memunggungi Sehun. Ia ingin memejamkan matanya, tapi ia kembali terbuka. Tertutup, kemudian terbuka, kembali tertutup dan dua detik kemudian terbuka lagi. Ia menghela nafas.

“Kau memindahkan semua barang-barangku?” Tanya Yoona.

Sehun tidak merespon. Bergerak, mengangguk atau bergumam tidak jelas pun tidak.

Yoona kembali berdecak. “Gomawo. Aku tahu kau sengaja menyuruh Seohyun mengantarku ke dokter agar kau bisa memindahkan seluruh barang-barangku” Yoona menelan salivanya dengan susah payah. “Gomawo”

***

            “Gomawo. Aku tahu kau sengaja menyuruh Seohyun mengantarku ke dokter agar kau bisa memindahkan sleuruh barang-barangku” Tidak terdengar suara Yoona sejenak. “Gomawo”

Iris pure hazel itu tidak benar-benar tertutup dari tadi.

Agen intel negara ini tidak terlalu bodoh, rupanya. Sehun tersenyum kecil.

“Sehun-ah? Kau masih terbangun?” Kini Sehun dapat menangkap nada ragu dalam suara Yoona.

“Eoh” Sehun akhirnya menjawab.

“Buatkan aku susu, Sehun-ah” Kini suara Yoona berada di antara memanja dan memelas kepada Sehun, membuat laki-laki itu memutar iris pure hazel-nya. “Jebal”

Sehun menghela nafas kasarnya. “Baiklah” Sehun bangkit lalu keluar dari kamarnya, menemukan adik iparnya sedang sibuk dengan berbagai buku di atas meja dan sofa. Ada secangkir kopi yang juga menemaninya.

“Oppa? Oppa belum tidur?” Tanya Seohyun saat sudut matanya berhasil menangkap Sehun yang baru keluar dari kamarnya.

“Yoona ingin minum susu dan aku harus membuatkannya. Kau tahu jika keinginannya tidak dituruti, dia akan mengamuk” Sehun tertawa kecil.

“Eonnie tidak berubah. Kukira setelah dia berumah tangga, sifatnya yang satu itu akan hilang. Ternyata tidak” Timpal Seohyun.

“Omong-omong, apa yang kau kerjakan? Kudengar kau akan menghadapi ujian akhir” Gumam Sehun lalu mulai meracik minuman yang menjadi kesukaan Yoona delapan bulan terakhir ini hingga satu bulan ke depan nanti.

“Ne, aku akan menghadapi ujian akhir” Seohyun mengerucutkan bibirnya dan sekilas tampak kilatan putus asa dan takut pada matanya.

“Bukankah kau mengambil program studi arsitektur?” Tanya Sehun lagi.

“Ne, oppa. Wae?”

Sehun melangkah dengan membawa segelas susu lalu menghampiri Seohyun. “Arsitek adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kau hanya perlu menghasilkan dirimu sendiri dalam bentuk yang berbeda. Setiap karya yang kau hasilkan akan menjadi cerminan dirimu. Maka dari itu, hanya dengan melihat karyamu semua orang dapat mengetahui dirimu”

Seohyun baru mengedipkan matanya saat kakak iparnya itu berhenti berbicara lalu menghela nafasnya dan tersenyum kecil. “Jika kau merasa kesulitan, mungkin aku bisa membantumu”

“Itu yang ingin kutanyak kepada oppa. Apa oppa bisa membantuku untuk menghadapi ujian akhir nanti?”

***

            Sehun menyodorkan gelas berisi susu putih itu kepada Yoona yang telah siap duduk di pinggir ranjang sejak tadi. Senyum Yoona merekah, manis seperti biasanya. “Kau mau kemana?”

Sehun yang baru ingin menyentuh knop pintu, berbalik. “Membantu adikmu untuk menghadapi ujian akhirnya”

Kening Yoona mengerut sejenak. Lalu terdengar suara pintu tertutup―Oh, rupanya laki-laki itu telah keluar.

Membantu Seohyun?

Yoona menyelesaikan tegukan terakhirnya lalu kembali berbaring di tempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tiga puluh menit menuju pergantian hari.

Sebelas menit kemudian, mata itu masih enggan terpejam. Terasa berat tapi tidak bisa ditutupnya. Ia penasaran. Yoona kembali turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya sedikit, ingin mengintip Sehun dan Seohyun. Keduanya dekat dengan cepat. Sehun tampak sedang mengajari sesuatu pada Seohyun.

Oh, tentu saja. Adiknya itu berada di program studi arsitektur dan pembunuh macam Sehun entah bagaimana bisa pintar dalam hal arsitek.

Buktinya? Lihatlah rumah tingkat tiga ini. Rumah yang Sehun beli yang dulunya hanya bertingkat dua, dijadikannya rumah bertingkat tiga. Hanya menambahkan satu lantai khusus untuk home theater.

Yoona menghela nafasnya saat mencoba menyingkirkan suatu pikiran yang mengusiknya sejak lama. Sejak pernikahannya dan Sehun berlangsung lebih tepatnya. Percayalah, dia adalah seorang agen handal, terbaik yang pernah dimiliki oleh kelembagaan intel negaranya. Ia pintar membaca target-targetnya. Langkah, gerak-gerik, hingga mata.

Tapi mata itu. Mata yang mulai menakutinya semenjak Sehun masuk ke dalam lingkup hidup dan keluarganya.

Mata Seohyun.

TBC

Author’s Note: Setelah perjuangan dua bulan buat selesein ini FF (dan sebenernya di MsWord aja belum kelar, tapi nekat publish), maaf kalau kurang greget. Mungkin saya tidak berbakat dalam menulis FF panjang-panjang :’)

Advertisements

14 thoughts on “TAKE ME (I’M YOURS) [1/?]

  1. berkeinginan membunuh satu sama lain? Menarik.
    sehun sama yoona saling mencintai ga sih?? ._. Kayaknya iya ya? /Mulai dah sotaknya-,- /
    Bingung mau komentar apa lagi ._. ff eon selalu mencapai target jalan cerita yang aku pengen #eaa /gila lebay amat gua, maapin ._. /
    ditunggu kelanjutannyaa^^

    Like

  2. Ff.a keren thor.

    Aku gak bosan bc.a 😀 .gak nyangka dh klo yoona intel sedang sehun sniper widiih suka dh krn ini msk dlm genre action jg kan thor 😀

    di tngg next ff.a n keep writing .

    Like

  3. Oh man/? =,= kenapa ga suka kalo si seo deket ama sehun?*pasti* rasanya ada batu yang mengganjal/? Di hatiku/? *plak ..

    Like

  4. anyeong thor,
    hehe mian ya telat banget komennya

    berhubung telat, jadi aku komennya langsung ke blog author dehh,
    kagak di yoongexo, malu, habisnya banyak banget peminat FF buatan author,
    malah aku baca udah ada sampe chap 3 lagi,

    oke balik ke FFnya,
    jujur aku sureprise banget pas tau ini FF ada actionnya,
    soalnya pas baca teasernya dulu, aku tuhh gak ada nebak action sama sekali,
    di chap 1 juga masih samar samar,
    tapi aku berharap banget sama SeYoon di FF ini, hehe
    seo, no komen dah, dia pair/? yang lain aja dehh thor

    izin baca chap selanjutnya yaaa^^
    keep.writing

    Like

  5. Ini cerita menarik..
    Tp sedikit lucu juga sih?
    Berkeinginan membunuh satu sama lain tp tinggal serumah dan pasangan suami istri.
    Heum.. Jadi inget film Angelina Jolie n Bratt pitt Mr. N Mrs. Smith..
    Seo suka ya sama Sehun? Oh No! Jd khawatir.. Semoga YoonHun tetep bersatu.. Amin

    Like

  6. Gilaaa ini ff…
    Masa awalnya romantis banget,…
    Ujung2nya mereka berdua hubugannya kek gitu…
    Ohhh….
    Perjalanan cinta yg rumit antara kakak beradik..
    Suka sama bahasa author yg WOW banget..
    Susah ngejelasinnya kalau autornya pandai nulis..
    Salam kenla thor,, reader baru..
    Tetap buat Yoonhun thor,,
    Lagi akut sama mereka berdua..
    Tidaaakkk..
    Ternyata udah nyampe 5 episode..
    Aku ketinggalan banget nihh

    Like

  7. kyaa, baru tau ada ff ini. kurang update. 😦

    Ff mu bagus. aku berasa kya baca sekaligus bayang Mr. Ms Smith versi YoonHun.
    Keep Write cantik xoxo :*

    Like

  8. Waah ffnyaa yang ini bagussss semuanyaa bagusss hehehe^^ aku kaget pas sehun bilang bunuh bunuh lohh. Jadi ternyata mereka tuh harus saling membunuh yaa tapi malah ada kejadian gini wkwkwkk. Tapi lucuu moment yoonhunnyaa yoonanya manjaa bgt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s