TAKE ME (I’M YOURS) [2]

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Park Chanyeol | Choi Sooyoung | Kim Jongin | Kris Wu

Romance, Action

PG-15

***

           Tapi mata itu. Mata yang mulai menakutinya semenjak Sehun masuk ke dalam lingkup hidup dan keluarganya.

Mata Seohyun.

Mata itu terlalu polos. Tidak bisa menutupi pancaran atau hanya sekedar mengendalikannya―saat melihat seorang Oh Sehun. Mata itu seakan tersenyum dengan cepat, seperti senang saat hal yang paling ditunggu akhirnya datang juga.

Mata yang selalu memancarkan keinginan untuk memiliki Sehun.

Kesimpulan terakhir Yoona―adiknya itu menginginkan suaminya. Menyukai suaminya.

Yoona menyadari hal itu beberapa minggu setelah pernikahannya, tapi ia terus saja mengelak dari apa yang ia lihat.

Dan kini ia melihatnya lagi.

“Oppa!” Perempuan itu lalu tertawa dan diikuti Sehun yang juga ikut tertawa. Rupanya laki-laki itu baru saja menjahili perempuan berambut panjang itu.

***

            Dia tidak berminat berbohong―sejak lima tahun silam.

           Sejak kejadian itu menimpanya.

           Flashback.

            Perempuan berambut panjang hitam itu memeluk dirinya sendiri. Ia baru saja pulang dari sekolah dan menunggu di halte bus selagi berlindung dari hujan.

            Kakaknya akan menjemputnya. Tetapi hingga saat ini, batang hidung kakaknya pun tidak terlihat secuil pun.

            Kepulan uap mulai keluar dari hidung dan mulutnya mengikuti hembusan nafasnya. Ia bangkit dari tempat duduk lalu berjalan menuju ujung halte bus, ingin melihat-lihat keadaan sekitarnya. Setelah meyakinkan dirinya bahwa kakaknya belum datang juga, ia kembali melangkah.

            Bruk!

            “Ah!” Erangnya saat jatuh terpeleset. Rok putih sekolahnya kotor.

            “Gwenchanayo? Biar kubantu berdiri” Laki-laki itu tiba-tiba datang, entah dari mana dan menyodorkan tangannya.

            Perempuan itu tampak enggan. “Tidak apa-apa” Laki-laki tersenyum kecil, mencoba meyakinkan gadis di hadapannya. Dengan ragu, perempuan itu meraih tangannya dan menggenggamnya. Tangannya dingin. “Kau baik-baik saja?” Tanya laki-laki itu lagi dan si perempuan hanya mengangguk.

            “Baguslah” Laki-laki itu tersenyum manis.

            “Sehun-ah! Cepatlah!” Seseorang berteriak. Rupanya memanggil si laki-laki yang baru saja menolongnya.

            “Aku harus pergi. Berhati-hatilah jika berjalan saat hujan. Arasseo?”

            “Ne…A-Aras..seo” Perempuan itu mengangguk dengan kikuk.

            “Baiklah” Laki-laki itu meninggalkan perempuan itu dengan sebuah senyuman yang masih menganggantung di wajahnya yang tampan. Cukup membuat si perempuan terpaku untuk beberapa detik dan terbangun dari lamunannya karena mengenali suara yang meneriaki namanya.

            “Seohyun-ah? Kau baik-baik saja? Oh, rokmu kotor. Apa kau terjatuh?” Perempuan beriris madu itu menghampiri adiknya dan membersihkan rok putih adiknya.

            “Ne”

            “Kau baik-baik saja, kan? Tidak terluka? Mianhae, karena telat menjemputmu”

            “Aniyo, Yoona eonnie, gwenchana. Tadi ada seorang namja yang menolongku”

            “Nugu?”

           “Mollayo”

            Bibir pink tipis itu tertarik ke atas. “Dia pasti orang baik. Kajja, kita pulang, kau pasti kedinginan”

           Lima tahun berlalu dan tidak ada yang berubah.

           Laki-laki itu―selalu menjadi hal yang paling ia inginkan. Menjadi hal yang selalu ditunggunya.

           Dan kini, ada di hadapannya.

           Iris pure hazel hangat itu masih sama seperti lima tahun lalu. Tidak berubah, dan rasa istimewa itu juga masih sama.

           Tapi matanya melirik sebuah foto besar yang tergantung di dinding.

           Dia tidak melihat cintaku. Tidak. Dia tidak merasakannya.

           “Apa yang kaulihat?” Sehun mengikuti arah tatapan Seohyun. Oh, rupanya perempuan itu sedang menatap foto pernikahannya dengan Yoona. “Jangan dilihat terlalu lama, kau bisa jatuh cinta kepadaku karena melihat foto itu terus-menerus” Sehun tertawa kecil.

           “Oppa!” Pipi itu meruam merah tomat.

***

            “Bagaimana dengan Seohyun?”

           Sehun terpaku saat Yoona masih belum tertidur. “Kau belum tidur?”

           “Aku tidak bisa tidur” Jawab Yoona pelan. “Bagaimana dengan Seohyun?”

           “Untungnya dia cepat mengerti” Jelas Sehun singkat lalu naik ke atas ranjangnya, menarik selimutnya.

           “Wow” Ucap Yoona. “Kau lebih cocok menjadi seorang arsitek. Well, ketimbang menjadi seorang pembunuh”

           “Ingatlah, kau juga seorang pembunuh” Timpal Sehun santai, tidak terlalu menganggap pembicaraan ini serius. “Kita sama”

           “Kita berbeda. Setidaknya aku pernah berpikir seperti itu. Tapi lama-kelamaan, aku berubah pikiran” Yoona menarik nafasnya lalu menghelanya. Entah mengapa ia mengatakan ini kepada Sehun, kepada seseorang yang seharusnya ia bunuh sejak lama. “Kukira dengan menerima pekerjaan ini akan membuatku merasa aku adalah seorang yang baik, karena aku berdiri untuk melawan kejahatan. Memusnahkan mereka yang seharusnya tidak ada. Tapi, semakin lama, aku terlihat sama saja seperti hal yang kumusnahkan”

           Sehun terdiam. Mulutnya terkatup. Mata yang awalnya tertutup itu kembali terbuka setelah mendengarkan pengakuan Yoona.

“Tenang saja. Setelah aku melahirkan nanti, kita akan bercerai dan mengejar nyawa satu sama lain. Seperti kesepakatan yang telah kita buat” Lanjut Yoona lalu menghela nafas dengan sebuah senyuman kecil. “Dimana kau menyimpan senjata-senjataku?”

“Di lemariku” Jawab Sehun singkat.

“Di lemari senjatamu?”

“Ya” Sehun kembali menjawabnya seadanya. “Wae? Kau ingin membunuhku sekarang?”

Yoona menghela nafasnya pelan, lalu berbalik. Memunggungi Sehun. “Kuharap aku bisa. Selamat malam”

“Selamat malam”

***

            Yoona baru saja duduk di kursi makannya setelah menghidangkan sarapan pagi miliknya, Sehun dan Seohyun.

“Aromanya harum sekali” Gumam Seohyun lalu memasukkan sepotong cheese omelletebuatan kakaknya ke mulutnya lalu mengunyahnya. “Sangat enak”

“Aku sudah terbiasa dengan pujian itu” Ucap Yoona lalu tertawa.

“Mungkin kau bisa menjadi chef” Kini Sehun mengeluarkan pendapatnya setelah menelan sepotong kecil cheese omellete-nya.

“Akan kupikirkan pekerjaan yang satu itu” Timpal Yoona lalu ikut bergabung, memakan hasil masakannya sendiri.

Sehun adalah orang pertama yang menyelesaikan sarapannya. Ia berdiri dengan cepat. “Aku harus pergi dulu. Selamat bertemu siang nanti” Laki-laki itu mengecup bibir pink Yoona sekilas dan berhasil membuat perempuan itu membeku sedetik.

“Ne. Hati-hatilah di jalan, yeobo” Yoona tersenyum―well, sebenarnya ia ingin tertawa terbahak-bahak melihat perubahan ekspresi Sehun.

“Aku akan pulang hari ini, eonnie” Seohyun menyeruput teh paginya.

“Wae? Kenapa cepat sekali? Apa dad dan mom telah kembali?” Kening Yoona mengerut.

“Ne. Mereka mendarat malam tadi. Aku tidak mengira mereka kembali secepat ini” Jelas Seohyun lalu bangkit.

“Seohyun-ah”

Seohyun mendongak, menatap iris madu kakaknya. “Bisakah kau buatkan aku susu?”

***

            Yoona sedang menonton acara TV saat Sehun kembali ke rumah. Kini Sehun bekerja pada sebuah perusahaan real estate and developer terbesar di Seoul―awalnya, Yoona mengira itu hanya bagian dari kamuflase sempurna Sehun, tapi ia salah.

Sehun benar-benar bekerja di sana.

Memegang jabatan tertinggi, atau katakan saja ia sebagai pendiri perusahaan itu. Bukan perusahaan turun-temurun milik keluarga. Dan lebih sialnya lagi, departemen negara tidak mengetahui jika perusahaan real estate and developer terbesar di Negara Ginseng itu seratus persen sahamnya dipegang oleh buronan yang mereka incar selama ini.

“Dimana Seohyun?”

“Mengapa kau mencarinya?” Tanya Yoona balik tanpa melirik.

“Aku hanya bertanya” Timpal Sehun santai lalu melonggarkan dasinya.

Yoona menatap Sehun dengan raut wajah bertanya-tanya yang dalam. Sebenarnya ia sudah lama ingin menanyakan hal ini, tetapi semakin lama, hal ini terus terjadi setiap minggunya. “Ada apa? Jangan melihatiku seperti itu”

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tetapi setiap Hari Kamis kau akan pulang jam 8, dan hari lainnya kau akan sampai rumah jam 6″

Sehun tersenyum kecil sembari melepaskan kancing kemeja pada pergelangannya dan melipatnya hingga batas siku. “Kau menghafal jadwalku dengan cepat”

“Jadi apa yang terjadi pada seluruh Hari Kamis-mu?” Kerutan di kening Yoona terlihat semakin dalam.

“Mau berjalan-jalan?” Sehun tersenyum kecil menatapnya, matanya mengkilat―entah kilatan macam apa.

“Baiklah” Jawab Yoona setelah menimbang-nimbang. “Awas saja jika kau menculikku”

“Kurasa akan begitu” Sehun terkekeh pelan, membiarkan Yoona berjalan terlebih dahulu. Yoona menarik langkahnya, langsung menuju pintu rumahnya. Tidak ingin berganti atau sekedar memakai mantel, padahal di luar sana udara sedang tidak bisa diajak bernegosiasi. Baru saja perempuan itu ingin menarik pintu rumah, ia merasakan sesuatu menggantung di antara bahunya.

Terasa lebih baik dan hangat.

***

            Setelah menggantungkan jas hitamnya pada tubuh mungil Yoona, Sehun menarik pintu rumah. Keluar tanpa menunggu Yoona dan langsung masuk ke dalam mobil. Keduanya hanya terdiam sepanjang perjalanan, membiarkan lagu Richard Marx – Now & Forever mengalun di antara mereka.

Hingga Yoona berdehem pelan, menandakan ia ingin membuka percakapan. “Kemana kita akan pergi?”

“Kau akan tahu”

“Apa ini seperti kejutan?”

Sehun terdiam. “Entahlah”

Mobil hitam itu mulai memasuki suatu kawasan perumahan. “Apa kau ingin memamerkan produk rumah baru dari perusahaanmu?”

***

            Sehun tidak menjawab pertanyaannya. Tapi kilatan di matanya itu masih menetap. Entahlah, sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh Yoona. Iris pure hazel-nya tampak redup, membuat jantung Yoona berdetak dengan sangat hati-hati.

Mobil hitam itu akhirnya terhenti di seberang sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi memiliki pekarangan yang tertata rapih. “Ada apa? Mengapa berhenti? Apa kita sudah sampai?”

“Ya” Jawab Sehun singkat. “Kita sudah sampai”

“Jadi, ada apa di sini? Apa hubungannya dengan seluruh Hari Kamis-mu?”

Bibir mungil Sehun masih terkatup sejenak. Kepalanya setengah tertunduk.

Tidak biasanya laki-laki ini seperti ini. Apa ada sesuatu yang salah?

“Wae?” Tanya Yoona lagi, lebih pelan.

“Ini adalah rumah keluargaku” Beritahu Sehun pelan, lalu mendongak.

Mata Yoona membulat. “Rumah keluargamu?! Keluarga aslimu?!”

“Ya” Jawab Sehun singkat”

“Bukankah kau telah membunuh seluruh anggota keluargamu?!” Suara Yoona terdengar lebih nyaring kali ini, tidak bisa ia kendalikan.

“Mana mungkin aku membunuh keluargaku sendiri” Sehun meringis hambar. Tawanya terasa asam.

Yoona bahkan lupa menghela nafasnya. Ia tersandar dengan perasaan shock. Lembaga negaranya telah dibohongi dengan bodoh. Pikir Yoona. “Seluruh data yang telah tersebar di negara ini mengenai dirimu menyatakan kau membunuh keluargamu sendiri”

“Aku menganggapnya sebagai pujian” Ujung kanan bibirnya terangkat setengah.

“Apa mereka mengetahui keberadaanmu? Bagaimana bisa mereka masih hidup? Bagaimana bisa kau menyembunyikan mereka dan membohongi seluruh orang di dunia ini dengan menyatakan kau telah membunuh keluargamu?! Oh, Tuhan!”

“Kejadian itu sudah terjadi sangat lama. Aku kabur dari rumah dan semenjak itu mereka tidak pernah melihatku lagi. Aku menyembunyikan diriku sendiri” Suara Sehun terdengar menciut lalu membuang mukanya, menatap ke luar jendela. Menatap rumah mungil yang terang di seberang sana. Bangunan yang pernah ia sebut sebagai ‘Rumahnya‘. “Tidak, mereka tidak mengetahui keberadaanku. Aku memalsukan kematianku dengan mengalami kecelakaan kereta api, dan aku juga memalsukan kematian mereka demi kehidupan mereka kelak nanti”

“Bagaimana dengan kakak laki-lakimu? Apa data yang satu itu benar bahwa kau memiliki kakak laki-laki?”

“Ya, benar. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Biar kutebak, nama saudaraku tidak ada di setiap data yang kau punya” Sehun tersenyum jahil menatap Yoona.

“Sialan, kau benar” Umpat Yoona lalu mengerang keras. Merutuki kebodohan dan kepercayaan dirinya yang menganggap telah memiliki seluruh data mengenai Oh Sehun.

Keduanya tiba-tiba menoleh saat pintu rumah di seberang sana terbuka dan seorang laki-laki keluar. Tidak jelas apa yang dilakukan laki-laki itu, tetapi yang dilakukan hanyalah menatapi langit sejenak.

“Xi Luhan?!” Yoona setengah berteriak saat mengenali wajah oriental itu.

“Kau mengenal kakakku?” Kening Sehun mengerut dalam sekali. Matanya bertanya-tanya menatap Yoona.

“Xi Luhan adalah kakak kandungmu?! Jeongmal?!” Yoona membalas tatapan Sehun. Sehun tidak menjawab ataupun mengangguk, tapi dengan membaca mata laki-laki itu dan Yoona mendapatkan jawabanya. Ya. “Oh, sialan”

“Ada apa?”

“Dia adalah cinta pertamaku” Jawab Yoona akhirnya lalu menghela nafasnya. Terkejut? Sangat.

Dunia macam apa ini? Mengapa begitu sempit dan sesak? Pikir Yoona. “Apa dia masih menyukai astronomi? Menatapi rasi bintang setiap malam?”

“Ya, dia masih menyukainya. Dia masih menatapi rasi bintang setiap malam” Jawab Sehun dengan senyuman kecil yang menggantung.

“Tunggu” Yoona kembali menatap Sehun tajam dan lurus. “Jangan katakan jika kau memalsukan identitasmu”

“Oh, lihat. Kecerdasanmu semakin meningkat” Senyuman Sehun melebar. Membiarkan rahasianya terbongkar satu per satu.

“Oh, sialan” Erang Yoona lagi. “Namamu pasti Xi Sehun, bukan Oh Sehun. Kalaupun departemen keamanan negara mengetahui bahwa keluargamu masih hidup, mereka tidak akan menemukannya. Tentu saja karena mereka adalah keluarga Xi, bukan Oh!” Yoona seakan berteriak kepada dirinya sendiri. Mengapa ia sebodoh itu selama ini?!

“Kau benar-benar cerdas sekarang” Sehun tertawa kecil.

“Sampai rumah nanti kau harus membuatkanku susu. Harus” Ucap Yoona penuh penekanan.

“Aku lelah”

“Aku tidak mau tahu”

“Kenapa kau tidak membuat sendiri?” Kini nada Sehun meninggi.

“Aku pernah membuatnya sendiri, dan rasanya berbeda dari buatanmu. Begitu juga dengan buatan Seohyun, berbeda dengan buatanmu. Aku lebih menyukai buatanmu” Jawab Yoona polos, menatap Sehun yang juga sedang menatapnya.

***

            Chanyeol and Sooyoung’s Wedding.

Yoona tampak anggun dengan gaun biru satin yang memamerkan punggung mulusnya dan Sehun tampak seperti biasa―menawan dengan balutan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu pilihan Yoona. Keduanya bersamaan melangkah memasuki gedung putih besar itu. Terlihat ramai dan megah.

“Im Yoon Ah?” Yoona berbalik saat seorang memanggilnya. “Masih mengingatku? Kita berada di kelas yang sama saat SMA”

Yoona memiringkan kepalanya sejenak, melakukan pengamatan wajah pada seorang perempuan di hadapannya kini. “Barbara Lim”

“Ah, Barbara. Ya, aku mengingatmu. Kita juga berada di kelas dance yang sama” Yoona tersenyum manis, berterimakasih kepada Tuhan bahwa ia menemukan memori yang hampir punah itu.

“Syukurlah kau masih mengingatku” Barbara tersenyum, lalu matanya turun melihat perut besar Yoona. “Berapa usia kandunganmu? Kau cepat sekali, Yoona-ya”

“Delapan bulan” Jawab Yoona disela tawanya.

Barbara menyadari sosok laki-laki tampan yang berdiri sedari tadi di sebelah Yoona. “Kau pasti suami Yoona”

“Ne” Jawab Sehun singkat dengan senyuman yang menawan.

“Barbara Lim imnida”

“Oh Sehun imnida” Senyuman menawan itu terus saja menggantung di bibirnya, tidak meninggalkan pemiliknya seketika.

“Kita harus bertemu lain kali, Yoona-ya” Setelah mengucapkan salam perpisahan, Barbara Lim menarik langkahnya menjauh. Meninggalkan Yoona dan Sehun berdua.

“Seharusnya dia memanggilmu dengan Oh Yoona” Bisik Sehun tepat di telinga Yoona dan membuat perempuan itu merasa geli sekaligus senyum merekah dan ruam tomat merah pada pipinya.

“Aku akan berkumpul bersama teman-temanku. Jangan berbuat yang aneh-aneh, aku sedang tidak membawa senjata” Yoona menatap tajam Sehun lalu kembali tertawa kecil dan melenggang menuju suatu keramaian di tengah ruangan. Sehun hanya tersenyum kecil melihati istrinya yang mulai tampak jauh dari jangkauan matanya.

Sehun meraih sebuah cangkir kecil berisi cocktail lalu menyesapnya dengan pelan. Membiarkan kedinginan dan kenikmatan itu sejenak membasahi kehausannya. Acara sepenuhnya belum mulai, well Chanyeol dan Sooyoung belum terlihat hingga saat ini.

Drrt…Drrtt…Drrt…

Sehun menatap layar ponselnya.

KJ menelponnya.

“Ada apa? Kau ingin melacak tempatku sekarang?” Tanya Sehun tanpa basa-basi.

Aniyo. Bahkan dari seminggu yang lalu aku sudah mengetahui dimana keberadaanmu pada malam ini

Sehun terdiam.

Oh, dia ingat kejadian itu.

Di taman.

Ia mendapati Kim Jongin berada di satu tempat yang sama dengannya dan Yoona, dan ada Sooyoung beserta Chanyeol di sana.

“Ada apa?” Nada Sehun terdengar lebih dalam, dingin dan serius.

Keluarlah dari gedung itu sekarang juga. Kau hanya punya waktu tujuh menit dan dimulai dari sekarang

“Apa maksudmu?”

Kris menaruh bom disana. Dia ingin kau dan Yoona mati. Keluarlah sekarang juga” Dan hubungan kontak itu terputus.

Kerja otak Sehun terhenti saat itu juga untuk dua detik, lalu ia melangkah dengan cepat.

Mencari Yoona di antara kerumunan yang mulai padat dan iris pure hazel itu tidak dapat menemukan Yoona dalam waktu empat menit.

TBC

Advertisements

14 thoughts on “TAKE ME (I’M YOURS) [2]

  1. wah, cepet juga publish nya, semoga chapt selanjutnya cepet juga hehe..
    sumpah aku suka bgt ffnya. pas bagian akhir bikin deg2an semoga sehun bisa nemuin yoona secepatnya.
    ditunggu chapt selanjutnya, bener2 ditunggu hehe^^
    keep writing. FIGHTING! 😉

    Like

  2. Aigoo. . .gak nyangka kl lulu bkal muncl malah jd kakak sehun 😀 . . .sehun ska gak ya mah yoona. . .ahh moga sehun cpt nemuin yoona

    Like

  3. Aigoo daebak banget ffnya…!!!!!
    lanjut thor lanjut!
    Ngomong2 ini ceritanya Sehun ama yoona jadi mata2 ya?? *sok tau
    trus seohyun suka ama kakak iparnya sendiri? oh noooo…. jangan sampe seohyun merebut sehun dari yoona. gak rela!!!! pokoknya endingnya mesti seyoon ya thor, gak mau tau! *maksa -,- kekekeke
    next chap jgn lama2… ditunggu loh
    fighting (^_^)9

    Like

  4. tadaaa!! anyeong thor^^
    adohh semangat banget aku baca ini FF thor,

    seo, carilah namja lain, SeYoon memang sudah ditakdirkan bersatu,
    serius dehh thor gak rela banget kalau SeYoon gak nyatu,
    intinya walaupun seyoon nikahnya terpaksa karna kebablasan,
    bikin mereka cinta beneran yaaa…

    ehh, buset, itu gimana nasib seyoon? nasib chansoo juga gimana?
    kris mainannya ngeri, ngebom pesta orang seenaknya,

    izin lanjut baca ya thor,
    keep.writing

    Like

  5. Woo wooo… Yang terakhir bikin tegang euyy…
    Kris, kenpa dia juga pengen bnuh Sehun juga??

    4 Menit..? Ah semoga saja Sehun bisa nyelametin Yoona..
    Q suka banget moment2 YonHun, biar sedikit cuek2an, tpai kalau Yoona udah ngeluarin jurus manjanya, sehun ngga bisa nolak. Wkwk.
    Yaa itulah pesona seorang Im YoonA.
    Lanjuuuutt.. K part 3. Go!!

    Like

  6. Oh my…
    Soehyon… udah itu abang lu sendiri..
    Gak usah dipandang kek gituuuu . . .
    sehun jangan tebar pesona apa sama adik ipar sendiri..
    Oh tidak, nasib Soyoong sama Chanyeol gimana??
    Mereka ikut ke bom??
    Sehun pasti nemuin Yoona,, cepet lari dari sana…

    Like

  7. ceritany seru
    klo bom nya meledak pernikahannya sooyoung dan chanyeol gagal dong,
    yang penting nanti hapy ending ya
    lanjut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s