TAKE ME (I’M YOURS) [4]

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Park Chanyeol | Choi Sooyoung | Kim Jongin | Kris Wu

Romance, Action

PG-15

***

Saat dia berbalik dan tidak mengucapkan sepatah kata katapun, ada bagian yang terasa aneh. Bagian yang paling sensitif dan membuatnya kehilangan akal untuk menarik nafas. Di sisi lain dari dirinya juga mengatakan bahwa ia merasa lega. Tidak terjadi hal buruk yang menimpa orang yang baru saja keluar dari kamarnya tadi. Sepertinya jantungnya sedang tidak bisa diajak kompromi kali ini.

“Kau baik-baik saja, Yoong?”

“Ne, oppa” Yoona tersenyum tipis.

***

            Luhan sedang berada di luar kamarnya dan Yoona lebih memilih untuk menyalakan TV di kamarnya. Tidak ada niatannya sedikitpun untuk keluar. Berpapasan dengan iris pure hazel itu? Oh, dia tidak memilih option itu.

Ia tidak henti mengganti channel TV, tidak menemukan yang tepat. Tapi tangannya terhenti menekan tombol pada remote control.

“Hasil otopsi sudah dikeluarkan oleh pihak kepolisian. Jasad sepasang kekasih yang akan menikah, Park Chanyeol dan Choi Sooyoung sudah diidentifikasi. M―”

Yoona mematikannya sekejap seperti ia mengejapkan mata. Ia terduduk di pinggir ranjang. Dadanya kembali terasa sakit. Sosok yang sudah ada lebih dari setengah umurnya itu benar-benar pergi. Dengan cara mengenaskan dan tidak manusiawi.

Pintu kamar terbuka.

“Makan malam sudah siap, Yoong” Beritahu Luhan.

“Aku akan makan di kamar. Aku tidak sudi makan di satu meja yang sama dengan pembunuh yang membunuh orang-orang di sekitarku” Tukas Yoona.

***

            Sehun berdiri di dekat pintu kamar yang terbuka itu.

“Aku akan makan di kamar. Aku tidak sudi makan di satu meja yang sama dengan pembunuh yang membunuh orang-orang di sekitarku”

Sedetik, nafasnya terhenti.

***

            Sehari kemudian, Yoona tidak keluar dari kamarnya. Ia berdiam diri di dalam sana. Bahkan saat tengah malam, Sehun dan Jongin dan mendengar erangan Yoona―mengerang nama Sooyoung. Sedangkan Luhan yang berjaga di dalam kamar, kebingungan―apa yang harus ia lakukan?

“Aku tidak mengerti tindakan anarkismu yang menyelamatkan Yoona saat di gedung” Jongin membuka pembicaraan. “Bukankah dia targetmu?”

“Ya, dia targetku”

“Lalu, mengapa kau menyelamatkannya? Bukankah jika kau tidak menyelamatkannya, tugasmu akan selesai? Dia akan mati di gedung itu juga. Jadi, kau tidak perlu repot untuk meledakkan kepalanya dengan peluru istimewamu itu”

“Hanya aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawanya, bukan Kris. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, bukan dengan tangan siapapun”

***

            “Yoona-ya?”

“Ne, oppa? Wae?” Matanya sembab terlihat sedikit membengkak.

Luhan menelan salivanya dengan susah payah. Melihat kondisi Yoona yang seperti ini membuat kondisinya juga tidak enak. “Pemakaman Chanyeol dan Sooyoung akan dilakukan besok”

***

            Sehun sudah berada di balik kemudinya sedari tadi. Ia telah siap dengan jas hitam, kemeja hitam dan kacamata hitamnya. Ia menunggu seseorang yang biasa duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Hatinya terasa kelu tanpa alasan yang jelas.

Apa karena ia lelah? Well, akhir-akhir ini dia memang jarang tertidur. Ia terus terjaga sepanjang hari hanya untuk mengamankan keadaan.

Apa karena ia kekurangan nutrisi? Mungkin benar. Ia tidak makan teratur pula akhir-akhir ini.

Apa karena pe―

Pintu mobilnya terbuka. Suara pertama yang ia dengar adalah suara hyung-nya. “Hati-hatilah”

“Ne, oppa”

Dia pasti sedang tersenyum kecil.

Sehun tidak membiarkan iris pure hazel-nya beralih ke sudut matanya hanya untuk mencuri pandang.

“Sehun-ah, hati-hatilah”

Mimik wajah Yoona berubah.

“Ya” Jawab Sehun singkat dan memacu mobilnya. Ia dan Yoona berencana mendatangi pemakaman Sooyoung dan Chanyeol hari ini.

Keduanya terdiam di sepanjang perjalanan. Bahkan deru nafas keduanya tidak terdengar. Hanya kepulan uap yang menandakan keduanya masih bernafas dengan normal. Yoona yang berambut panjang hanya menatap keluar jendela. Berangan bahwa ia ingin menjadi angin―bebas. Sedangkan Sehun, matanya masih terpaku lurus ke depan, melihat jalanan dengan kacamata yang bertengger di wajahnya.

“Aku tidak mengerti kenapa kau menyelamatkanku tapi membunuh teman-temanku” Yoona membuka suaranya, parau sekali.

“Aku tidak membunuh mereka” Bantah Sehun.

“Lalu, kenapa? Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa kau tidak membiarkanku mati saat itu juga?”

Bibirnya terkatup. Tidak tahu harus menjawab apa dan tidak bisa menjawabnya. Dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Yoona.

“Aku sudah mengatakan hal ini dari awal pertemuan pertama kita. Aku tidak meminta cintamu dan juga belas kasihanmu. Jika kau menyelamatkanku hanya karena kasihan, mati di gedung itu terlihat lebih baik daripada mendapatkan belas kasihan darimu” Dingin dan tajam. Cukup menusuk dan mencabik. Jemarinya terasa kaku menggenggam setir mobil. Kakinya terasa tidak kuat hanya untuk menginjak pedal dan lebih parahnya terdapat pada dadanya. Di balik lensa hitam itu, matanya berselaput bening tipis.

***

            “Jangan terlalu percaya diri bahwa aku mengasihanimu. Aku tidak akan membuang rasa kasihanku hanya untuk orang yang tidak kuketahui. Dan masalah nyawamu. Aku menyelamatkanmu karena hanya aku satu-satunya orang yang berwenang mengambil nyawamu”

Suaranya terdengar dalam, telinga itu mengenalinya dengan baik.

Cukup menyakitkan.

Iris madunya sedikit bergetar sembari melihat kosong jalanan di luar sana. Untuk dua detik sejenak, ia berhenti bernafas. Untuk waktu yang cepat, sesuatu di dalam dirinya kembali terasa aneh. Gravitasi seperti tidak bisa menahannya untuk kali ini.

Rupanya, laki-laki ini masih belum mengetahuinya. Atau, tidak akan pernah mengetahuinya.

Sehun adalah orang pertama yang keluar dari mobil saat mereka sampai di sebuah pemakaman. Ia membukakan Yoona pintu dan menyodorkan tangannya. Wajahnya masih tampak datar. Yoona mencoba menjadi setegar mungkin, ia meraih tangan Sehun lalu merangkul lengan laki-laki itu. Tapi tangannya bergetar.

“Jangan bergetar” Ucap Sehun. “Itu menggangguku”

Tangan Yoona tak kunjung berhenti bergetar hingga mereka hampir sampai di tempat dimana Sooyoung dan Chanyeol akan dimakamkan.

Kaki jenjang Sehun berhenti sejenak. Ia menatap Yoona dan meletakkan telapak tangannya di atas tangan Yoona yang merangkul lengannya. “Jangan bergetar. Sungguh, itu sangat menggangguku. Aku membencinya” Sehun meraih tangan Yoona lalu menggenggamnya dengan erat dan kembali berjalan.

***

            “Yoona, darimana saja kau? Mom dan dad mencarimu. Ponselmu tidak bisa dihubungi”

“Eonnie, gwenchana? Rumah eonnie kosong saat aku datang ke sana”

“Mianhae” Yoona tersenyum tipis. “Aku hanya ingin menenangkan diriku sebentar setelah kejadian ini”

“Pulanglah. Beristirahatlah di rumah, Yoona” Nada bicara ibunya terdengar khawatir dan memelas sekali.

Yoona melirik Sehun. “Aku hanya sedang ingin menjauh dari keramaian. Sebentar saja dan aku akan pulang mom” Yoona masih tersenyum tipis. Mencoba menenangkan keluarganya. “Aku akan baik-baik saja. Ada Sehun yang akan menjagaku”

“Aku akan menjaganya” Sehun tersenyum kecil, melanjutkan ucapan Yoona.

“Baiklah. Hati-hati” Ibunya memeluknya erat lalu membiarkan anak pertamanya itu pergi.

Seohyun juga ikut menatapi kepergian kakaknya beserta suaminya. Mereka sudah terlihat jauh tapi Seohyun masih dapat menangkap sosok Sehun terhenti sejenak untuk melepaskan jasnya dan menggantungkannya di pundak Yoona.

***

            Yoona sedikit kaget saat Sehun memakaikannya jas miliknya pada tubuh mungilnya. Ia tetap berjalan, tidak ingin menengok satu derajat pun.

Oh, drama yang bagus, Oh Sehun. Kamuflase yang sempurna.

***

            Yoona langsung melepaskan jas Sehun dan menaruhnya di atas sofa lalu melenggang ke dalam kamarnya. Sehun berjalan di belakangnya dan ia memilih untuk duduk. Ia meraih jasnya lalu mencium aromanya.

Oh, yang benar saja.

Berapa banyak perempuan itu menggunakan parfum? Sangat menyengat sekali.

Ia mengingat bahwa parfum yang digunakan Yoona adalah satu-satunya parfum yang ada di dunia―percayalah.

            Perempuan itu berani membayar mahal sebuah brand terkenal kelas dunia untuk membuatkannya parfum yang hanya akan dijual kepadanya dengan aroma yang tidak pernah kau cium sebelumnya.

Aroma bunga dengan salju pada musim semi.

Harum dan dingin di waktu yang sama.

“Bagaimana pemakamannya?” Jongin tiba-tiba datang entah dari mana.

“Berjalan lancar. Aku tidak melihat adanya pihak kepolisian” Jawab Sehun lalu bangkit saat bel rumah berbunyi.

“Annyeonghaseyo, Oh Sehun-ssi”

Untuk sekejap, rahang Sehun mengeras. “Ada apa kau ke sini? Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?”

“Kami mengikutimu dari pemakaman. Aku ingin bertemu dengan Yoona dan memberikan ini” Kim Joonmyeon as known as Suho―teman Yoona di lembaga intelnya―menyodorkan sebuah kotak. “Ini dari pimpinan kami, makanan kesukaan Yoona”

“Dia sedang tidur”

Raut wajah Suho ketika berubah―kecewa. “Jeongmal? Baiklah. Aku akan menitipkannya padamu. Katakan padanya bahwa aku sangat cemas karena dia tidak memberiku kabar”

Sehun mendesah tidak percaya lalu menerima kotak yang disodorkan Suho. “Doakan saja aku ingat untuk memberitahunya” Sehun menutup pintu rumah, tidak ingin menatap lama seorang Suho.

“Siapa?”

            “Suho”

“Kekasih Yoona itu?”

Sehun mendecak. “Mereka hanya teman dekat”

“Apa yang kau bawa?” Luhan seketika ikut bergabung bersama Jongin dan Sehun, memfokuskan perhatiannya pada kotak yang berada di tangan Sehun.

“Makanan kesukaan Yoona. Berikan padanya” Sehun menyodorkan kotak itu pada Luhan acuh tak acuh. Tapi laki-laki itu hanya merespon dengan menaikkan alis kirinya. “Apa?”

Luhan memiringkan kepalanya. Matanya seakan berbicara pada Sehun. Kening Sehun mengerut. Tidak mengerti apa maksud Luhan. Tapi ingatannya itu membawanya menyusuri waktu dan ia mengerti. Sehun menghela nafasnya, raut wajahnya menghangat. “Jebal, hyung”

Luhan tersenyum. “Baiklah” Luhan meraih kotak itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar Yoona.

Sehun dan Jongin kembali berbicara hangat―sebenarnya, Jongin sedang menggoda Sehun dengan mengatakan Suho adalah kekasih lama Yoona sebelum mereka menikah.

Dan entah dengan alasan apa, raut wajah Sehun mendingin.

Keduanya menoleh saat pintu kamar terbuka. Raut wajah Luhan tidak bisa ditebak, tapi itu menandakan ada sesuatu yang salah. “Ada apa? Apa Yoona tidak mau makan?” Tebak Sehun.

Luhan menaruh kotak berisi Sushi itu di atas meja di antara Jongin dan Sehun lalu mengambil salah satu gulungan Sushi menggunakan sumpit. “Cium aromanya” Pertama ia menyodorkan pada Sehun lalu kepada Jongin.

“Aromanya berbeda. Tidak seperti Sushi kebanyakan” Beritahu Luhan, penuh dengan kecurigaan.

“Aromanya baik-baik saja untukku” Gumam Jongin, tidak merasa aneh.

“Aku juga” Lanjut Sehun.

Luhan menatapi kedua laki-laki di hadapannya bergantian. “Kupikir kalian adalah pembunuh yang pintar”

“Kita adalah pembunuh, bukan pengamat makanan” Bantah Sehun.

“Jadi, ada apa dengan makanannya?” Jongin mengembalikan topik utama.

“Kurasa makanan ini dicampur dengan Sianida” Beritahu Luhan.

“Sianida?” Alis Jongin terangkat.

“Itu adalah racun” Jawab Luhan sesingkat mungkin.

“Bagaimana hyung bisa tahu Sianida?” Sehun tampak lebih tertarik dengan pengetahuan kakak laki-lakinya ketimbang makanan yang hampir membunuh istrinya.

“Kau juga akan belajar Kimia saat kau belajar Astronomi” Luhan memutar bola matanya.

“Hyung mengatakan makanan ini telah diracuni?” Sehun langsung mengambil kesimpulannya.

“Tentu saja” Jawab Luhan yakin.

“Suho memberikan ini kepadaku dan mengatakan ini dari pimpinannya, yang berarti juga pimpinan Yoona” Iris pure hazel-nya terlihat menajam.

“Jika benar Sushi ini mengandung Sianida, salah satu di antara mereka atau keduanya berniat membunuh Yoona” Tidak butuh waktu lama untuk Jongin mengambil kesimpulannya juga.

“Ini pasti Suho” Sehun berdecak, tanpa alasan yang jelas ia menyalahi Suho atas insiden ini. Luhan dan Jongin menatapnya, dengan mata bertanya-tanya. “Apa?”

***

            Yoona tidak suka saat Luhan membawa kotak itu keluar―lebih tepatnya, Yoona tidak suka saat Luhan menarik kembali makanan kesukaannya itu saat ia baru saja mau memakannya. Yoona mendesah―kesal―lalu melangkah. Tangannya yang baru mau membuka pintu terhenti saat mendengar pembicaraan para lelaki di luar sana dengan serius.

Ia tidak terlalu mendengar dengan jelas, tapi ada satu hal yang ia tangkap sebagai kesimpulan akhir―seseorang berniat meracuninya.

Yoona membuka pintunya, wajahnya terlihat datar. Ketiga lelaki itu menoleh dan mendapatinya sedang berdiri di ambang pintu. “Aku ingin berbicara dengan Sehun” Tanpa basa-basi, ia menutup pintu lalu duduk di pinggir ranjang. Sedetik kemudian, Sehun dengan kemeja hitamnya masuk.

“Ada apa?” Nadanya terdengar datar―seperti biasa. Oh, sehafal itukah Yoona bahkan nada bicara laki-laki ini saja ia hafal?

“Aku ingin susu” Jawab Yoona dengan mata madu yang menatap lurus Sehun yang berdiri dengan tegak.

Sehun menatapnya tidak percaya lalu mendesah. “Baiklah. Tunggu sebentar”

Tidak butuh waktu lama, laki-laki itu kembali dengan membawa segelas susu lalu memberikannya pada Yoona. “Kau tidak memasukkan obat tidur di dalamnya, kan?”

“Tidak” Jawab Sehun singkat. “Ada yang kauperlukan lagi?”

Yoona menahan gelasnya digenggamannya. Garis wajahnya terlihat menegas. “Apa benar Suho yang memberikan Sushi itu?”

“Ya, dia datang ke sini tadi. Dia mengatakan, Sushi itu untukmu dan diberikan oleh pimpinanmu”

“Dan dicampur dengan Sianida?”

Kini Sehun tidak menjawabnya―belum menjawabnya. Rahangnya mengeras sejenak, lalu ia mencoba rileks. “Luhan hyung berpikiran seperti itu”

Yoona mendecak. “Cinta pertama biasanya tidak pernah salah. Apa di dapur ada makanan?”

***

            Yoona terlihat sedang sibuk di dapur, membuat makanan yang sesederhana mungkin untuk malam ini. Tanpa sepengetahuan yang lainnya, ia memasukkan bubuk putih itu.

 Maafkan aku.

“Selamat makan” Yoona tersenyum.

“Kau tidak makan, Yoona-ya?” Tanya Luhan.

“Aku sudah minum susu tadi” Senyum itu masih menggantung.

***

            Pagi sekali Yoona bangun. Luhan, Sehun dan Jongin masih tertidur pulas di ruang tengah. Bahkan saat Yoona menjatuhkan beberapa lembar majalah, ketiganya tidak terbangun―bergerakpun tidak.

Obat tidurnya bekerja dengan baik.

 

Flashback.

            “Apa di dapur ada makanan?”

            “Luhan hyung berencana memasak ramen”

            “Biarkan aku yang memasak” Yoona langsung menyela ucapan Sehun. “Aku ingin memasak. Aku tidak bisa hidup jika tidak memasak”

            “Kau terlalu berlebihan” Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Sehun lalu laki-laki itu keluar. Yoona segera meraih sebuah kantung plastik obat.

            Obat tidur yang diberikan dokternya.

            “Oppa, biarkan aku yang memasak” Yoona menghampiri Luhan dengan sebuah senyuman yang sumeringah.

            “Aniyo, kau duduk saja. Aku tidak ingin kau kelelahan”

            “Aniyo, oppa saja yang duduk dan aku yang memasak. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasihku karena akhir-akhir ini oppa merawatku” Yoona tersenyum lebar lalu segera merebut posisi Luhan. “Oppa, duduk saja. Gwenchana”

            “Baiklah” Luhan akhirnya menjauh dari dapur.

            Tidak butuh waktu banyak untuk Yoona membuka kapsul itu lalu menumpahkan bubuk putihnya.

            Maafkan aku

 

Yoona menggeledah isi kantung celana Sehun dan berusaha menemukan kunci mobilnya―dan ta-da! Ketemu. Yoona bergegas keluar rumah, menekan unlock pada kunci lalu masuk ke dalam. Sebelum ia menyalakan mesin, ia mencari sesuatu yang akan menjadi pertahan hidupnya hari ini.

Pistol dan amunisi milik Sehun.

Laki-laki itu pasti menaruh salah satu dari pistolnya di mobilnya―well, karena Yoona pernah melihatnya.

Yoona meraba-raba kolong di bawah kursi kemudi. Tidak salah jika ia dinobatkan sebagai agen intel terbaik―perempuan itu lalu meraih pistol di bawah kursinya.

***

            Perasaannya bergejolak.

Yang benar saja.

Yoona memakirkan mobilnya―mobil Sehun, lebih tepatnya―di depan sebuah gedung besar―Gedung Intel yang menaungi dirinya saat ini.

Seharusnya ia merasa pulang―tapi, nyatanya, perasaan itu tidak ia rasakan.

“Yoona?!”

“Dimana Suho?” Tanya Yoona pada seorang staff―Lee Sunkyu as known as Sunny.

“Ada apa?”

“Yoona?”

Perempuan itu berbalik saat seseorang memanggil namanya.

Oh, rupanya seseorang yang ia cari.

“Kau kembali?” Suara Suho meninggi dan langsung menghampiri perempuan berbadan dua itu. “Kau baik-baik saja? Kau sudah memakan Sushi-nya? Apa Sehun memberikannya padamu?”

“Ya, Sushi-nya sangat enak sekali. Kudengar sajangnim yang memberikannya” Yoona mencoba sepolos mungkin.

“Ya, dia menyuruhku untuk memberikannya padamu” Jawab Suho sembari melangkah bersama Yoona menuju bagian gedung yang lebih dalam.

“Dimana sajangnim? Apa dia ada di ruangannya? Aku merindukannya” Yoona mengerucutkan bibir pink-nya. “Dan juga, ada yang ingin kutanyakan padanya”

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku hanya ingin bertanya,” Yoona menelan salivanya. “Mengapa dia mencampurkan Sianida pada Sushi-ku. Aku tidak suka Sushi dengan Sianida. Sushi lebih baik dengan nasi cokelat”

Suho menghela nafasnya. “Baiklah. Tunggu sebentar, akan kuperiksa sajangnim di ruangannya. Kau bisa ke ruangan sajangnim bersama Sunny” Suho lalu pamit untuk pergi dari hadapan Yoona.

Yoona duduk di salah satu sofa.

Oh, dia hampir melupakan bagaimana rasanya berada di dalam gedung ini. Ia seakan melihat bayangannya dulu―sering berlalu-lalang di sini karena pekerjaan yang ia cintai. Waktu berlalu begitu cepat dan Yoona hampir tidak menyadarinya. Aroma gedung ini masih sama seperti terakhir kalinya ia mendatanginya.

“Yoona, kau bisa ke ruangan sajangnim sekarang bersamaku” Sunnya menyodorkan tangannya dengan sebuah senyuman.

“Baiklah, eonnie” Yoona tertawa kecil lalu menerima uluran tangan Sunny.

Keduanya bercakap-cakap selagi melangkah menuju ruangan yang mereka tuju―terutama Sunny yang terus-menerus bertanya tentang Sehun.

Yoona memutar knop pintu, mendorongnya lalu pintu ruangan itu terbuka.

Iris madunya menajam.

“Annyeonghaseyo, Yoona-ya” Suho tersenyum. Laki-laki itu terduduk di kursi kulit yang biasa diduduki sajangnim terdahulu―Lee sajangnim. “Sudah lama tidak bertemu”

Yoona mendecak. “Sudah kuduga. Jadi kau yang ingin meracuniku dan kau juga sebagai pimpinan”

Tebakan Yoona tidak melesat.

 

      Flashback.

            Yoona yang berdiri menempel pada pintu itu memang tidak dapat menangkap seluruh isi percakapan tiga lelaki di luar sana. Tapi yang berhasil ia tangkap adalah dua point penting.

            Pertama, yang membawa Sushi itu adalah Suho―dan mengatakan Sushi itu diberikan oleh pimpinannya.

            Kedua, Sushi itu tercampur dengan Sianida.

            Alis Yoona mengerut. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

            Atasannya ingin membunuhnya?

            Tapi, ingatannya dengan cepat membawanya ke masa lalu. Saat laki-laki itu―Kim Joonmyeon―menceritakan bahwa dirinya dicalonkan sebagai pimpinan baru, karena pimpinan yang lama berniat untuk mengundurkan diri karena sudah penat dengan pekerjaannya.

 

“Aku tidak percaya kau ingin memusnahkanku” Yoona mendesah, mencoba kuat tapi matanya seperti tidak bisa berbohong begitu handal.

TBC

Author’s Note: Ini sebenernya ceritanya makin ngawur……

Advertisements

12 thoughts on “TAKE ME (I’M YOURS) [4]

  1. Suka suka! Lanjut teruss.. Sangking penasaran sama kelanjutannya (chapter 4) sampe ngubek” blog kamu haha. Abisnya di yoongexo blm di post, update lagi yaaa 😀 semangat!!

    Like

  2. haduhh, crtanya makin rumit.
    knpa suho ingin membunuh yoong?! apah krna yoong bersama sehun?? uhh.
    dan yoonhun,kpan mrka mnyadari prsaan mrka ‘? eum

    Like

  3. Kenapa Suho pengen ngeracuni Yoona?? Padahalkan Yoona Agen Intelnya?
    Oh ini semakin membuatku pusing..
    SemogaYoona baik2 sj.
    N Say Goodbye for SooYeol couple.. Hueeee T.T.

    Soal part sebelumnya, di jelaskan oleh Kai, kalau ada Sniper baru Kris yg berumur 17 tahun?
    Eum.. Kenapa tiba2 kepikiran nama ‘Seohyun’ ya? Wkwkw
    next ditunggu saeng.. Pengen cepet lihat YoonHun bersatu.. N kapan Nih Baby nyalahir…
    Cewe kn? Ah pasti cantik.. Heheh

    Like

  4. Pasti Yoona terpukul banget sahabatnya meninggal dan karena kebom????
    Ohhhh.. nggak kebayang..
    sabar Yoonaya,, ada sehun yg siap menjagamu…
    Sehun sabar yaaa..
    Istrimu memang lagi sensitif, tp jgn menyerah buat melindungi dia..
    Whatttt??? Yoona juga mau dibunuh sama pihak intel??
    kenapa sehun sama yoona nasibnya sama banget???
    bener2 jodohlah..

    Like

  5. astaga mian y thor, aku benar-benar telat TT_TT
    langsung ciz ini ngebaca

    dichap 4 ada misteri lagi >_<
    knp? knp suho begitu?
    kok aku jadi rada was was sama suho yaa :3

    berhubung penasaran,
    izin lanjut baca yaa author~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s