TAKE ME (I’M YOURS) [5]

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Kim Jongin | Kwon Yuri | Kris Wu

Romance, Action

PG-15

***

“Aku tidak percaya kau ingin memusnahkanku” Yoona mendesah, mencoba kuat tapi matanya seperti tidak bisa berbohong begitu handal.

“Maafkan aku, tapi aku harus melakukannya”

“Untuk apa?! Mengapa keberadaanku sangat membahayakan dirimu?!” Suara Yoona meningkat, matanya berkaca-kaca tipis―jadi, seperti ini rasanya dikhianati?

“Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang telah membocorkan rahasia kenegaraan ke seorang kriminal tetap hidup. Membunuhmu hanya sebagai tindakan mencegah kebocoran rahasia negara, Yoona-ya” Suho masih tersenyum kecil, wajahnya terlihat tenang sekali.

“Membocorkan rahasia negara? Maksudmu? Kau berkata bahwa aku telah membocorkan rahasia negara ke Sehun?!”

Suho memang tidak menjawabnya, tapi dengan membaca matanya―Yoona tahu.

“Aku tidak pernah memberitahu Sehun apapun. Tidak sedikitpun” Air matanya menitik.

“Untuk saat ini dan seterusnya, aku tidak bisa mempercayaimu”

Seperti seseorang baru saja menamparnya begitu keras. Pengkhianatan macam apa ini?! Batinnya berteriak.

“Seharusnya kau mengikuti rencanaku dari awal, Yoona-ya. Kau seharusnya menikah dengan salah satu agen intel di gedung ini, siapapun itu, bukan malah menikah dengan seorang kriminal. Pernikahanmu tidak akan pernah diterima di sini”

Yoona mendesah. “Aku lebih baik menikah dengan seorang kriminal daripada harus mempercayaimu lagi”

“Aku anggap itu sebagai pujian” Suho tersenyum. “Aku meragukan jika kau bisa keluar dari sini dengan selamat”

“Aku juga meragukan jika kau bisa keluar dari sini dengan selamat, Joonmyeon-ah” Yoona menarik nafas panjangnya lalu mengeluarkan sebuah pistol. Ia menodongkan ujungnya ke Suho, dan reaksi laki-laki itu cukup tersontak.

“Kau tidak bisa membunuhku. Kau masih salah satu anggota dari lembaga ini dan kau akan dikenai hukuman berat karena telah membunuh pimpinan” Senyumannya kembali mengembang.

“Oh, peraturan itu” Yoona tertawa kecil lalu melemparkan kartu identitasnya. “Aku keluar”

Iris Suho tampak terkejut, mengikuti arah lemparan kartu identitas Yoona.

“Aku bisa membunuhmu sekarang” Yoona tersenyum.

BRAK!

“Turunkan senjata Anda!” Sekumpulan orang bersenjata itu berteriak, mengepung menyuruh Yoona untuk menurunkan senjatanya.

Suho kembali tersenyum. “Kau tidak perlu kaget seperti itu, Yoona-ya”

“Aku tidak kaget seperti di bayanganmu itu. Aku sudah mengetahui gedung ini dengan baik. Tiga belas CCTV di ruangan ini, bukan?” Yoona tersenyum manis, bahkan matanya juga ikut tersenyum. Magasin pistolnya terjatuh―dan ternyata kosong. Tidak ada isi peluru di dalamnya. “Kau tidak bisa membunuhku. Kau adalah petinggi negara dan membunuh wanita hamil akan melanggar peraturan negara. Hukumannya akan lebih berat daripada hanya membunuhmu. Jadi,” Yoona tersenyum. “Semoga harimu menyenangkan, Kim Joonmyeon-ssi”

Yoona menarik langkahnya. Melangkah bak model ketimbang seorang mantan agen intel.

***

            Sehun adalah orang pertama yang terbangun. Luhan dan Jongin masih tertidur pulas. Sehun melirik arlojinya, sudah pertengah hari―jam 12 siang. Ia berdiri lalu melangkah, membuka pintu kamar Yoona.

Dan tidak menemukan apa-apa di kamar itu.

Kosong. Tidak berpenghuni. Berhasil membuat jantung Sehun berhenti bedetak sedetik.

“Yoona!”

“Yoona!”

“YOONA!”

“Ada apa?” Oh, sialan. Jongin yang menjawabnya, bukan Yoona.

“Yoona menghilang” Jawab Sehun singkat lalu membuka pintu rumah. “Mobilku menghilang juga” Beritahunya saat tidak mendapati mobilnya berada di pekarangan rumah.

“Yoona pasti pergi. Tenang saja, dia akan kembali”

“Bagaimana bisa aku tenang?! Kris sedang memburunya dan lembaga intel sendiri bahkan berniat meracuninya!” Sehun tidak benar-benar tersadar, pengelihatannya masih berbayang tapi amarahnya sudah di puncak ubun-ubunnya. “Berikan kunci mobilmu”

“Kau mau kemana?” Suara Jongin meninggi.

“Mencari Yoona, tentu saja”

“Kau ingin mengelilingi seantereo Korea Selatan?”

“Apa perlu kulakukan hal itu hanya untuk membawanya pulang?”

***

            Yoona mengetuk pintu dengan membawa beberapa kantung plastik.

“Yoona, kau darimana saja?! Tidakkah kau tahu―”

“Sst. Meneriaki wanita hamil adalah perbuatan kasar” Yoona memotong ucapan Luhan dengan sebuah senyuman lalu melangkah masuk dan menaruh barang belanjaannya ke dapur.

“Kau darimana saja, Yoona-ssi?” Tanya Jongin.

Yoona mendongak. “Aku hanya pergi membeli beberapa makanan, Jongin-ssi” Ini adalah percakapan pertama Yoona dengan Jongin. “Apa kau lapar?”

“Apa kau akan memasukkan obat tidur ke dalam masakanmu lagi?”

Yoona ingin meminta maaf, tapi sebuah pikiran melintasinya. “Dimana Sehun? Apa dia pergi?”

“Ya, dia pergi” Jawab Jongin.

Keningnya mengerut. “Eodisseo?”

“Mengelilingi Korea Selatan” Jawab Jongin lagi.

Tunggu, Yoona tidak mengerti. Sungguh. Mengelilingi Korea Selatan? Apa laki-laki dengan kulit tan itu sedang mengajaknya bercanda? Apa ini sebuah lelucon baru masa kini? Atau sebuah jawaban sarkastik?

“Mungkin kau bisa menelponnya dan memberitahunya bahwa aku sudah pulang. Aku akan beristirahat” Yoona tersenyum hambar lalu permisi untuk masuk ke dalam kamarnya.

***

            Dua jam kemudian, Sehun kembali. Sebagian bajunya telah basah akibat keringat dingin. Kepulan uap itu seperti tidak sabar untuk keluar terus-menerus mengikuti deru nafasnya. Sehun melangkah cepat, memutar knop pintu dan membukanya.

Yoona sedang tertidur di atas ranjang.

Dengan tenang.

Dan baik-baik saja.

Itu semua membuatnya lega.

***

            Yoona tidak benar-benar tertidur. Hanya membaringkan tubuhnya dengan mata yang tertutup. Telinganya mendengar pintu kamarnya terbuka dan nafas yang terengah-engah.

“Dia baru saja kembali dari berbelanja” Jelas seseorang―Jongin. Rupanya perempuan ini sudah mulai menghafal suara laki-laki Kim itu. “Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Istirahatlah, kau terlihat kacau dan pucat”

Sedetik kemudian, pintu itu tertutup. Mata Yoona terbuka.

Sehun kembali dengan kacau dan pucat?

***

            02:03 AM.

Yoona terbangun karena perasaan yang menginginkannya rumahnya.

Ia merindukan rumahnya. Ia ingin beristirahat di dalam rumahnya. Yoona melangkah pelan, mimik wajahnya tidak seperti biasanya. Dibuka pintu cokelat itu dan ia membeku sejenak.

Sejenak saja, biarkan ia merasakan ‘perasaan aneh‘ itu. Perasaan yang hingga kini belum mampu ia gambarkan dan ia jelaskan secara jelas.

Seorang perempuan sedang memeluk Sehun dan laki-laki itu tampak tersenyum senang. Lalu ia menoleh saat mendapati Yoona membuka pintu kamarnya.

“Ada apa, Yoona-ya?” Luhan adalah orang pertama yang menghampiri Yoona.

“Aku ingin pulang. Sekarang” Suaranya terdengar pelan―hampir seperti merintih.

***

            Yoona lebih memilih kursi penumpang di mobil Sehun kali ini. Ia duduk di sebelah laki-laki yang sedari tadi masih tidak bergeming. Yoona akhirnya menghela nafas. “Aku sudah bukan agen intel negara lagi”

“Aku tidak mengerti leluconmu yang satu itu” Bantah Sehun tanpa melirik.

“Aku keluar” Jelas Yoona lebih singkat. “Tadi aku pergi ke gedung kelembagaan. Pimpinan lembaga sekarang adalah Suho. Dia yang mencampur Sianida itu dengan Sushi yang dia berikan”

“Sudah kukatakan padamu untuk tidak memercayainya” Timpal Sehun.

Yoona terkekeh hambar. “Kau benar, seharusnya aku tidak memercayainya. Tapi yang ingin kukatakan padamu, kesepakatan kita akan tetap berjalan. Kau bisa membunuhku sesuka hatimu, tapi biarkan bayi ini lahir terlebih dahulu. Dia tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang kulakukan. Biarkan dia hidup”

***

            Akui saja, Sehun kaget.

Laki-laki ini kaget saat perempuan di sebelahnya mengaku bahwa ia telah keluar dari lembaga intel negara―atau katakan saja, perempuan ini sudah bukan agen intel yang akan membunuhnya.

“Pimpinan lembaga sekarang adalah Suho. Dia yang mencampur Sianida itu dengan Sushi yang dia berikan”

Tebakan Sehun tidak melesat. Tepat sasaran. Jika saja seorang Suho ada di depannya kali ini, ia bersumpah―dia akan melakukan apa saja untuk memberikan hukuman yang setimpal seperti apa yang telah ia lakukan pada Yoona.

“Sudah kukatakan padamu untuk tidak memercayainya”

 

 Flashback.

            Kejadian itu terjadi saat mereka mendatangi sebuah acara. Yoona berada di kamar mandi dan seseorang menumpahkan air dengan sengaja di depan pintu kamar mandi―berhasil membuat Yoona jatuh terpeleset dan mengalami pendarahan.

            Darimana Sehun tahu?

            CCTV selalu berguna.

            Beberapa hari kemudian―Hari Kamis, lebih tepatnya―Sehun berhasil menemukan dalangnya―setelah bergelut dengan seluruh data yang ia punya―orang yang menumpahkan air itu dengan sengaja.

            Kedua tangannya terikat di belakang, wajahnya sudah babak belur. Luka lebam sudah hampir memenuhi wajahnya.

            “Aku akan bertanya sekali lagi dan jangan membuatku mengulanginya. Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang membayarmu?” Suara Sehun kini merendah, ia mengencangkan tali rantai yang menutupi buku jarinya.

            Cuih!

            Laki-laki itu meludah. Hidung dan bibirnya sudah berdarah hebat tapi tetap saja, ia masih bisa tersenyum. “Kau terlalu percaya diri bahwa aku akan memberitahumu”

            BUK!

            Tinjuan itu―entah yang keberapa kalinya―kembali mendarat di wajah laki-laki yang mengaku bernama Kim Minseok.

            “Jawab pertanyaanku dan aku akan melepaskanmu hidup-hidup” Sehun mencoba setenang mungkin, tidak terpancing emosi.

            Lagi, laki-laki itu tertawa kecil. “Aku tidak takut jika kau akan melepaskanku dengan keadaan tidak bernyawa”

            “Rupanya kau mempunyai adrenalin yang tinggi. Aku menyukainya. Baiklah” Sehun melepaskan rantai pada buku tangannya lalu meraih pistolnya yang berada di atas meja.

            DOR!

            “AAAAAAAHHH!!!” Tanpa berpikir panjang, Sehun menembakkan pelurunya pada kaki kiri Minseok. Membuat kakinya berdarah tidak terkendali.

            “Kau masih belum ingin menjawabnya? Haruskah aku membuatmu membuka mulutmu lagi?”

            DOR!

            “AAAAAAAAHHHHH!!!” Lagi, laki-laki itu mengerang dengan keras saat Sehun menembak kaki kanannya.

            “Masih belum cukup?”

            DOR!

            “AAAAAAAAAAHHHH!!!!” Minseok merintih saat perutnya tertembus oleh peluru milik Sehun.

            Sehun memasukkan ujung pistolnya ke dalam mulut Minseok. “Aku selalu suka menembak seseorang melewati mulutnya ketimbang harus meledakkan kepalanya” Iris pure hazel Sehun tampak datar

            “A-Akhu…akan…menja..whabnya..”

            “Aku menyukai keputusanmu yang itu. Siapa?”

            “Khim…Joon..mhyeonh…”

            Minggu, 7:01 AM South Korea Standard Time.

            “Minggu depan Chanyeol dan Sooyoung akan menikah” Yoona membuka percakapan di antara mereka. “Maka dari itu,” Yoona terdiam sejenak, sepertinya ragu. “Aku ingin menggunakan heels”

            “Tidak” Sehun menukasnya tanpa perlu berpikir panjang.

            “Wae?!”

            “Aku ragu jika kau masih punya telinga”

            Yoona mendesis. “Lihat, kau merendahkanku sekarang”

            “Tidakkah kau dengar apa yang diucapkan dokter? Tidak ada heels. Kau ingin terjatuh lagi?”

            “Itu,” Yoona bergumam tidak jelas. “Aku tidak sengaja jatuh. Ada orang bodoh yang menumpahkan minumannya dan membuatku terpeleset”

            “Dan kau lebih bodoh lagi karena tidak melihat air tumpahan itu”

 

Dari sudut matanya, Sehun dapat menangkap lengkungan bibir Yoona. “Kau benar, seharusnya aku tidak memercayainya. Tapi yang ingin kukatakan padamu, kesepakatan kita akan tetap berjalan. Kau bisa membunuhku sesuka hatimu, tapi biarkan bayi ini lahir terlebih dahulu. Dia tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang kulakukan. Biarkan dia hidup”

Sehun tidak memberikan komentaran apapun. Tidak ada respon dari dirinya.

“Kau masih menyimpan surat perceraian kita?”

“Ya” Jawab Sehun, dingin dan menusuk―well,sebenarnya Sehun tidak perlu menjawabnya dengan nada sedingin itu, tapi hanya saja ia tidak bisa mengendalikannya.

“Kau hanya perlu menandatanganinya saja” Setelah ucapan terakhir Yoona, tidak ada lagi ucapan setelahnya. Perempuan itu jatuh tertidur―cukup kelelahan.

Sehun memakirkan mobilnya di dalam garasi, lalu mencoba membangunkan Yoona―sungguh, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membopong Yoona ke dalam kamarnya.

“Yoona? Ireona

“Yoona”

“Yoona-ya”

“Im Yoon Ah-ssi

Perempuan itu mengerang lalu membuka matanya setengah. “Wae?”

Sehun menatap perempuan itu sejenak lalu menghela nafas. “Kau harus tidur di kamar” Sehun membantu Yoona turun dari mobil, tapi sepertinya perempuan itu masih enggan untuk menerima bantuannya. Ia melangkah sendirian menuju kamarnya lalu menutup pintu kamar, tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya.

***

            Pagi sekali saat Sehun meninggalkan rumahnya. Ia membiarkan Luhan untuk tinggal sementara ia pergi. Mobil sport-nya melaju ke sebuah tempat yang tidak dikenal oleh orang awam. Percayalah, bahkan hampir seluruh negeri tidak tahu bahwa tempat seperti ada di negara mereka.

Sehun memakirkan mobilnya di tempat dimana biasa ia parkirkan.

“Berhenti, Sehun-ah” Seorang yang ia kenal―Zhang Yixing as known as Lay―mengarahkan pistol kepadanya.

“Ada apa ini?” Sehun mengangkat kedua tangannya dengan sebuah senyuman ringan. “Kau benar-benar ingin menembakku?”

Bibir Lay mengatup. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang ia lakukan pada teman baiknya ini. Tapi kebijakan tidak bisa ia langgar. “Kris menyuruh semuanya untuk melakukan hal ini jika kau datang”

Sehun berdecak. “Kris semakin lama semakin berhati-hati”

“Apa yang kauinginkan?”

“Aku hanya ingin bertemu Kris. Aku tidak membawa senjata, kau bisa memeriksaku” Tangan Sehun masih terangkat ke atas dan membiarkan Lay memeriksanya.

Dan, nihil. Dia memang tidak membawa senjata.

Lay mengawal Sehun hingga masuk ke dalam ruangan Kris. Laki-laki berambut pirang itu tampak tenang, tidak terkejut dengan kehadiran Sehun yang tiba-tiba.

“Suatu prestasi yang membanggakan kau masih hidup hingga saat ini dan tiba-tiba menghilang, Sehun-ah” Kris tersenyum. “Kau juga cukup berani untuk kembali ke sini”

“Aku menganggapnya sebagai pujian. Gamsahamnida” Timpal Sehun tak kalah santai.

“Jadi, apa yang kauinginkan?”

“Aku hanya menginginkan penjelasan menganai bom yang kau buang sembarangan pada malam itu” Sehun tersenyum kecil. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan tetap berdiri tegap.

“Oh, mengenai bom itu” Kris tertawa kecil. “Aku hanya ingin membantumu untuk menyelesaikan tugasmu. Bukankah aku sangat baik?”

Sehun tersenyum kecut. “Omong-omong, dimana sniper barumu? Aku ingin minum teh bersamanya”

“Dia sedang berada di tempat yang biasa menjadi tempat kerjamu” Senyuman Kris yang penuh dengan makna masih tergantung. “Dia sedang mengarahkan senapannya tepat ke kepalamu dan akan meledakkan kepalamu dalam waktu satu detik jika kau tidak menerima penawaranku”

Kini, raut wajah Sehun berubah. Terlihat serius dan matanya menajam. Iris pure hazel-nya terlihat lebih gelap. “Penawaran apa?”

“Oh, itu pertanyaan yang aku tunggu sedari tadi” Kris tertawa kecil. “Aku akan memberikanmu kesempatan untuk membunuh Yoona dalam waktu 48 jam. Jika kau tidak memanfaatkannya dengan baik, maka aku sendiri yang akan membunuhnya dan juga akan membunuhmu. Jika kau memanfaatkannya dengan baik, kau bisa kembali ke pasar ini. Bagaimana? Apa kita sepakat?

“Tentu saja” Sehun tidak butuh pikir panjang lagi.

***

            Yoona keluar dari kamarnya, berniat untuk mengambil segelas air untuk menghilangkan haus dahaga yang menggerogoti tenggorokannya. Tapi matanya teralih saat menemukan Jongin, Luhan dan seorang perempuan berambut hitam.

Oh, tunggu.

Yoona mengetahui perempuan ini.

  Flashback

            Yoona ingin pulang. Ya, ia menginginkan hal itu. Itu mengapa ia melangkah, menarik pintu dan mengatakan ia ingin kembali ke tempat dimana ia berasal―tapi mulutnya malah terkatup sejenak saat melihat Sehun memeluk seorang perempuan.

            Di depan iris madunya.

 

“Yoona-ya?”

Luhan membangunkannya dari lamunannya.

“Ne, oppa? Wae?”

“Apa yang kaulakukan?”

Yoona tersenyum tipis. “Aku hanya ingin mengambil segelas air”

“Biar kubantu, Yoona-ssi” Perempuan itu tiba-tiba menyela ucapannya dan tersenyum padanya. Mengambilkan Yoona segelas air. “Akan kuantarkan kau sampai kamarmu” Lagi, perempuan itu tersenyum manis. Cantik sekali.

Oh, Yoona mengerti kali ini. Laki-laki mana yang tidak akan jatuh saat melihat senyuman itu? Bahkan Yoona yang perempuan saja merasa ia sudah jatuh cinta pada senyuman perempuan yang berada di hadapannya kini.

“Gamsahamnida,” Yoona menaikkan alisnya, keningnya mengerut. Well, dia tidak tahu siapa perempuan ini.

“Yuri. Kwon Yuri” Perempuan itu―Kwon Yuri―memperkenalkan namanya.

“Ah, ne. Yuri-ssi, gomawo” Yoona tersenyum lalu melangkah dibantu dengan Yuri. “Sebelumnya, maaf jika aku lancang. Tapi, nuguseyo?” Yoona berbaring di atas ranjangnya.

“Aku kekasih Jongin” Yuri duduk di pinggir ranjang Yoona.

Oh, Jongin. Yoona masih mengingat laki-laki itu. Bukankah laki-laki itu satu pekerjaan dengan Sehun? Iris madunya kembali beradu pandang dengan Yuri. “Maafkan aku jika aku lancang lagi. Apa kau juga seorang…pembunuh?”

“Aniyo. Aku hanya orang biasa, walaupun kekasihku melakukan hal yang tidak biasa dilakukan oleh banyak orang” Yuri terkekeh pelan. “Kudengar, kau seorang agen intel”

Yoona mendesah. “Tidak lagi. Aku sudah keluar”

“Jeongmal? Wae?” Kening Yuri mengerut.

“Pengkhianatan” Jawab Yoona singkat, mewakili seluruh perasaannya.

“Seperti yang dilakukan Kris pada Sehun” Yuri menganalogikan.

“Kau mengenal Kris dengan baik juga?” Tanya Yoona, ingin berbicara lebih dalam bersama Yuri―perempuan yang awalnya ia kira adalah perempuan penggoda karena telah berani memeluk Sehun di depan matanya. Oh, Demi Tuhan, Yoona merasa terbodohi karena insiden itu. Betapa malunya ia sekarang jika Yuri mengetahui isi pikirannya.

Yuri kembali menggeleng. “Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya, sekalipun tidak. Jongin melarangku”

“Jongin melarangmu bertemu dengan Kris? Wae?”

“Itu cerita yang panjang”

“Aku akan mencoba untuk mengerti” Yoona terkekeh kecil.

“Kris adalah pimpinan pasar. Dia adalah orang yang sensitif jika mengenai kerahasiaan pasar. Dia tidak ingin pasarnya runtuh atau goyah sedikitpun. Saat aku memulai hubunganku dengan Jongin, Kris tiba-tiba mengetahuinya dan berniat membunuhku” Yuri menelan salivanya. Mengingat kembali kehidupannya yang hampir berakhir. “Kris menyuruh Sehun untuk membunuhku”

“Sehun? Oh Sehun?” Suara Yoona kini meninggi saat nama suaminya terbawa di dalam alur cerita.

“Ya. Sehun, Oh Sehun. Suamimu”

“Jika Kris benar menyuruh Sehun untuk membunuhmu, lalu mengapa kau sampai sekarang masih bisa hidup?”

“Sehun menyelamatkanku. Dia memalsukan kematianku dan menyuruh Jongin untuk menyembunyikanku” Jawab Yuri mencoba sesingkat mungkin agar memudahkan Yoona untuk mencernanya. “Kris percaya bahwa aku telah mati hingga saat ini dengan luka tembak di kepala”

Bibir Yoona terasa kelu. Oh, lihat kenyataan sekarang ini. Senjata pembunuh itu ternyata masih memiliki sifat manusiawi, pikir Yoona.

“Jika Tuhan tidak menciptakan seorang Oh Sehun, hidupku tidak berarti apa-apa” Yuri tersenyum kecil.

“Jadi, dimana Jongin menyembunyikanmu?”

“Spanyol. Untuk waktu yang cukup lama”

***

            “Apa yang Kris katakan?” Sehun baru melangkah tetapi pertanyaan Kai sudah menghadangnya untuk melangkah lebih dalam.

“Dimana Luhan hyung?”

“Di kamarnya. Kuperkirakan dia sedang membaca. Apa yang Kris katakan?” Jongin mengulang pertanyaannya.

“Ikut aku” Sehun membawa Jongin ke depan rumah. Tidak ingin siapapun mendengar ucapan mereka. “Kris memberikanku penawaran”

“Penawaran apa?”

“Jika aku membunuh Yoona dalam waktu 48 jam, dia tidak akan meledakkan kepalaku saat itu juga” Kening Jongin terlihat mengerut. Well, dia tidak mengerti. “Sniper baru itu berada di tempat dimana biasa kita bekerja dan jika aku tidak menerima tawaran Kris, sekarang kau sudah menemukan otakku di ruangannya”

Jongin baru mengerti. Tempat dimana biasa mereka bekerja―sebuah tempat yang berada di gedung sebelah, tempatnya tinggi dan sempurna untuk menjadi tempat bekerja sniper pelindung Kris. Biasanya mereka akan berada di sana jika ada tamu baru yang mendatangi Kris dan akan meledakkan kepala mereka tanpa belas kasihan jika para tamu menodong Kris dengan senjata. Singkatnya, pertahanan jarak jauh Kris.

“Dan, kau menerimanya?”

“Tentu saja” Jawab Sehun ringan.

“Kau sungguh akan membunuh Yoona?”

“Ya”

“Wae?”

“Karena dia adalah targetku dari awal. Dia harus mati”

“Bukan karena kau takut sniper baru itu akan meledakkan kepalamu saat itu juga?”

“Tidak. Hidupku tidak akan berakhir hanya karena sniper baru itu akan meledakkan kepalaku”

“Kau sanggup membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”

TBC

Author’s Note: Maaf banget kalau FF ini tidak seperti apa yang diharapkan :’)

Advertisements

12 thoughts on “TAKE ME (I’M YOURS) [5]

  1. dan kuharap sehun tdak benar2 melakukannya..
    ohh ayolah, bkannkah kau mulai menyukai yoona??
    apah kau teg membunuhnya..
    haduh saeng, eon gk bisa nebak jlan crtanya,eum!!

    Like

  2. Semoga Sehun tidak benar2 membunuh Yoona??
    Bisa aja kn.. Lain di mulut lain di Hati.. Cerita makin tidak bisa di tebak. Semoga Happy Ending aj lah..
    Dituggu part selanjutnya.
    Hwaiting!

    Like

  3. sehun oppa jgan bunuh yoona eonni,please .. mdh2an tuh cma tencana swhun oppa buat ngancurin kris oppa.. dtggu ya chap slnjutnya 🙂

    Like

  4. Suho beneran???
    Gak nyangka,, kata jongin kan suho mantan yoona.. tapi tega banget…
    Apaaa… yg nyoba nyelakain yoona waktu jatuh karena kepleset itu juga suho???
    tp sehun melakukan sesuatu yg gk yoona ketahuin dan itu buat yoona seorang?? kyaaaa..
    kau romantis sehun… tp kenapa dengan menembak kaki orang… itu ngeri, sumpah…
    Yoona bukalah hatimu buat maafin sehun…
    Pegang tangannya lagi…
    Sehun pasti melindungi yoona apapun yg terjadi

    Like

  5. heuh, campur aduk ya baca part ini..
    suho bener-bener penuh misteri, tanda tanya banget sama dia..

    dan aku rada seneng, dipart ini kelihatan banget perhatian sehun ke yoona, ya walaupun yoona gak tahu, tapi itu justru bikin jadi sweet/?/

    semoga aja sehun punya rencana senidiri, plis sehunnya jangan ikutin kris ya~
    izin lanjut baca~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s