TAKE ME (I’M YOURS) [6]

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Kim Jongin | Kwon Yuri | Kris Wu | Choi Jinri | Kim Joonmyeon

Romance, Action

PG-15

***

“Kau sanggup membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”

“Berikan aku alasan kenapa aku tidak sanggup membunuhnya dengan tanganku sendiri” Sehun melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau mencintainya. Perlu kutambahkan? Kau sangat mencintainya” Jongin tidak membuang waktunya hanya untuk sekedar berbasa-basi.

Sehun mendengus lalu tertawa kecil. “Apa semalam kau pergi minum bersama Yuri?”

“Jangan mengalihkan topik pembicaraan”

“Aku hanya bertanya, tidak bermaksud untuk mengalihkan topik pembicaraan. Cinta? Kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaanmu?”

Sehun menatap tajam iris Jongin. Jongin tidak merespon, hanya menatap balik Sehun intens.

“Orang seperti kita tidak pantas akan cinta” Kalimat itu meluncur dari mulut Sehun tanpa bisa ia hentikan. “Kau dan Yuri hanyalah sebuah keberuntungan. Selamat”

“Lalu, kenapa kau menyelamatkannya saat malam pernikahan temannya dan kau refleks menelpon dokter untuk mengetahui kondisinya? Kenapa kau menyembunyikannya di rumah lamamu di Busan dan tidak ingin Kris menemukannya? Kenapa kau panik saat melihatnya jatuh pingsan? Kenapa kau ketakutan setengah mati saat menemukannya tidak ada di rumah dan rela mengelilingi seantereo Korea Selatan hanya untuk membawanya pulang? Kenapa?”

Iris berbeda warna itu saling memandang tajam. Saling menusuk satu sama lain. Iris Sehun terlihat datar, tapi ada sebuah lapisan tipis yang dapat Jongin lihat―sebuah lapisan tipis kebohongan. Jongin mengenal Sehun dengan baik selama hidupnya.

“Ketahuilah, semua yang telah kulakukan padanya tidak akan merubah apa-apa”

Jongin terdiam, bibirnya masih mengatup, lalu ia menghela nafas. “Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu” Jongin melangkah melewati Sehun dan masuk kembali ke dalam rumah.

Sehun terdiam di depan pintu rumahnya sendiri. Di saat temannya tadi mengucapkan sepatah kata yang menjelaskan seluruh masa lalunya.

Flashback

            Keduanya terdiam cukup lama. Hingga si perempuan yang mengucapkannya pertama kali. “Jadi, kita sampai sini saja, oppa?”

            “Ya. Tidak ada setelahnya lagi”

            “Aku mencintai oppa”

            Laki-laki itu tidak menjawabnya. Oh, dia sedang mencoba untuk menjadi kuat tapi pertahanannya terlihat tipis sekali.

            “Saranghae. Jeongmal saranghae, opp―”

            “Jinri-ya,” Laki-laki itu menatap mata berair di depannya. “Kita sudah bukan siapa-siapa lagi”

            Seseorang yang ia inginkan di muka bumi―Choi Jinri―ia lebih memilih melepaskan perempuan itu ketimbang harus melepaskan senapannya.

 

Sehun melangkah masuk.

“Kau darimana saja?”

Ia berhenti melangkah saat seseorang bertanya kepadanya. Ia bahkan tidak menyadari sekumpulan orang itu ada di sana. Sejenak Sehun menatap Luhan yang baru saja bertanya kepadanya, tapi matanya tertarik melihat perempuan yang duduk di sebelah Luhan―Yoona. Sehun menghela nafas. “Berjalan-jalan”

“Dengan menggunakan pakaian formal seperti itu?”

Sehun tidak menjawabnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Perasaannya berubah semenjak Jongin membicarakan masa lalunya―masa yang ia inginkan kembali.

Choi Jinri―seorang perempuan yang lebih muda dari Sehun―berhasil memenangkan tempat pertama di hati laki-laki itu. Sudah cukup lama menjalin hubungan dan harus berakhir hanya karena Sehun lebih memilih pekerjaannya―sebagai seorang sniper, atau bahasa kasarnya katakan saja ia pembunuh berdarah dingin, tidak berperasaan dan tanpa belas kasih.

Sehun selalu beranggapan bahwa orang sepertinya tidak pantas akan cinta.

Sudah lama ia percaya pada istilah itu. Ya, mungkin benar, orang sepertinya tidak pantas akan cinta.

Sehun membuka sebuah tas hitam, memerhatikan senjata-senjatanya.

***

            Yoona terduduk di sebelah Luhan saat laki-laki itu berbalik. Yoona mengikuti gerak iris pure hazel itu, lalu tanpa direncanakan milik madunya bertemu dengan iris pure hazel itu. Bertatapan untuk beberapa detik hingga laki-laki itu berbalik lagi dan berjalan menuju kamar, tidak menjawab pertanyaan terakhir Luhan.

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Luhan, seakan bertanya pada dirinya sendiri.

“Tidak” Yoona refleks menjawabnya, matanya masih menatap pintu kamar Sehun yang tertutup rapat tidak bercelah.

“Bagaimana kau tahu?”

Yoona menoleh, tampangnya polos sekali. “Bagaimana aku tahu apa?”

“Bagaimana kau tahu Sehun tidak baik-baik saja?”

“Tidakkah kau lihat matanya? Terpancar sekali” Jawab Yoona datar. Sejenak, Yoona tidak mengerti tatapan Luhan beserta Jongin dan Yuri yang juga menatapinya. Oh, sedetik kemudian perempuan itu tersadar. “Aku pernah menjadi agen intel terbaik yang pernah negara miliki, aku bisa membaca mata dan gerak-gerik seseorang” Yoona membela dirinya dengan kikuk.

Hingga menjelang malam, Sehun tidak keluar dari kamarnya. Sepertinya laki-laki itu sedang betah tinggal di dalam kamarnya. Dia tidak makan dan minum dalam waktu setengah hari. Hingga pergantian hari, laki-laki itu benar-benar tidak keluar.

Yoona bergerak gusar di atas ranjangnya, keringatnya bercucuran deras. Ingatannya tiba-tiba membawanya saat malam pernikahan Chanyeol dan Sooyoung. Ledakan itu terjadi di depan matanya. Saat kedua temannya itu ditimbun di bawah bumi sana dan keluarga keduanya menjelaskan bagaimana kondisi jasad mereka―tidak berbentuk. Yoona merintih, tangannya bergetar lalu diikuti sekujur tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk matahari bangun kembali.

Ia tidak kuat.

Ia bangkit, memaksa kaki kecil rantingnya untuk menompang tubuhnya. Melangkah hingga di depan sebuah pintu lalu mengetuknya dengan pelan. Bibirnya sudah membiru―dia kedinginan, tapi tubuhnya hanya diselimuti oleh selapis pasang piyama.

“Ada apa?”

“Bisakah aku tidur denganmu? Kau mendesign kamarku terlalu luas” Elak Yoona.

Sehun menghela nafas. “Masuklah”

“Gomawo” Yoona melangkah, dan naik ke atas ranjang Sehun tanpa meminta izin kepada pemiliknya. “Apa yang kaulakukan sedari tadi? Kau tidak keluar” Yoona membungkus tubuh mungilnya dengan selimut tebal Sehun.

“Menyusun rencana”

“Rencana? Apa perusahaanmu akan mengeluarkan proyek baru lagi?” Tanya Yoona dengan mata tertutup dan mencoba menormalkan suhu tubuhnya.

Sehun terdiam sejenak, ia duduk di sofanya. “Ya”

“B-Bisakah kau mengambilkan jaketku? Dingin sekali” Pinta Yoona. Giginya mulai bergemelatuk. Apa yang terjadi dengan perempuan ini?

Sehun tidak meresponnya, tapi ia melangkah―mengambil mantelnya. Well, karena ia malas sekali untuk berjalan ke kamar Yoona. “Bangunlah” Yoona memposisikan dirinya duduk lalu membiarkan Sehun memakaikannya mantel lalu kembali berbaring. Yoona menghirup dalam-dalam aroma mantel hitam tersebut dan mulai kebingungan sendirian.

Ini bukan mantelnya.

Ini bukan aroma mantelnya.

Mantelnya akan beraroma salju mencari―bukan beraroma maskulin seperti ini.

Tapi Yoona mengenal aroma ini. Berasal dari parfum yang hanya ada satu di dunia ini dan hanya akan dijual pada seseorang yang baru saja memakaikannya mantel.

Yoona terlelap, terbawa arus aroma Sehun pada mantel hitam yang ia kenakan.

***

            “Apa yang kaulakukan sedari tadi? Kau tidak keluar” Tanya Yoona.

“Menyusun rencana” Jawab Sehun tanpa perlu berpikir panjang.

Yoona mulai memejamkan matanya. “Rencana? Apa perusahaanmu akan mengeluarkan proyek baru lagi?” Tanya Yoona tak hentinya.

Sehun terdiam.

 

Flashback

            Sehun berdiri di dekat jendela kamarnya yang besar. Matahari masuk leluasa menyinarinya. Tangannya memegang sebuah pulpen. Tidak, ia tidak menghiraukan perutnya yang mulai berbunyi itu. Sedetik kemudian, ia melangkah menuju meja kerjanya. Menggesekkan ujung pulpen yang kasar dengan halus putihnya kertas.

            Apa perlu ia menggunakan senapan otomatisnya? Pikir Sehun. Mengolah otaknya untuk membuat dan mendapatkan rencana yang tepat untuk membunuh Yoona.

Ia akan benar-benar membunuh perempuan itu.

 

“Ya” Jawab Sehun singkat.

“B-Bisakah kau mengambilkan jaketku? Dingin sekali” Pinta Yoona. Sehun dapat melihat bibir pink Yoona yang membiru. Sehun bangkit dari sofanya lalu meraih mantel hitamnya pada gantungan. “Bangunlah”

Sedetik kemudian, Yoona bangun dan memunggunginya―membiarkan Sehun memakaikannya mantel.

“Kau sanggup membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”

Ia teringat pertanyaan Jongin. Lalu lebih memilih untuk duduk kembali di sofanya. Ia tidak tertidur, hanya melihati Yoona yang tertidur dan bertanya pada dirinya sendiri sepanjang malam.

Apa dia sanggup membunuh Yoona dengan tangannya sendiri?

***

            Waktu yang ia miliki hanya tersisa 24 jam dan dimulai dari sekarang.

Sehun menatap Yoona yang masih tertidur di atas ranjangnya dengan tubuh yang dibalut selimut.

Ia bisa saja membunuh Yoona sekarang. Mengambil senjata dengan suppressor di ujungnya dan menodongkannya kepala Yoona lalu…boom! Tugasnya selesai. Tapi Sehun melangkah keluar kamar. Ruang tengah tampak ramai. Yuri, Jongin dan Luhan berada di sana.

“Kau mau kemana?” Tanya Luhan.

“Dapur” Jawab Sehun lalu melangkah dengan langkah lebar menuju dapur.

Membuat segelas susu hangat dan kembali dibawanya masuk ke dalam kamar.

“Hey”

“Yoona”

“Yoona-ya”

“Ireona”

Yoona mengerang pelan, matanya masih belum bisa beradaptasi dengan sinar matahari yang memenuhi ruangan. “Ireona” Ulang Sehun dengan pelan.

“Apa itu susuku?” Tanya Yoona yang langsung dapat menangkap segelas susu yang dibawa Sehun.

“Ya. Bangunlah”

Jangan tanyakan apa yang terjadi, bahkan Sehun sendiri tidak mengerti.

***

            Setelah membasuh wajahnya dan sudah merasa lebih segar, Yoona keluar dari kamar mandi dan melihat-lihat kamar tidur Sehun. Kamar Sehun terbagai menjadi dua dengan sebuah sekat―kamar tidur dan ruang kerja. Yoona terdiam sejenak saat tangannya menarik sebuah laci.

Ada foto di sana. Sehun ada di dalamnya.

Yoona meraihnya, menatapnya.

“Apa yang kaulakukan?”

Yoona mendongak saat suara tegas Sehun sampai pada indera pendengarannya. “Apa perempuan ini Jinri? Choi Jinri?”

Sehun terdiam, matanya tampak tidak bisa tenang. Yoona merasakan perubahan raut wajah Sehun. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Flashback

            “Spanyol. Untuk waktu yang cukup lama” Jawab Yuri dengan sebuah senyuman yang menggantung di wajah cantiknya. “Jongin, Sehun dan Jinri serin―”

            “Jinri?” Kening Yoona mengernyit saat mendengar nama perempuan yang begitu asing di telinganya.

            “Mantan kekasih Sehun” Jawab Yuri singkat.

            “Mantan kekasih?” Yoona seakan bertanya pada dirinya sendiri. “Kenapa mereka putus?”

            “Sehun lebih mementingkan pekerjaannya sebagai seorang pembunuh, padahal dia pernah mengatakan padaku bahwa hanya Jinri yang dia inginkan di dunia ini. Tidak ada selain dia”

 

“Aku pernah menjadi agen intel terbaik yang pernah ada, tidakkah kau ingat?” Tanya Yoona balik, suaranya terdengar tenang―mencoba tenang, lebih tepatnya. “Jadi, ini Jinri? Neomu yeppeo” Yoona tersenyum tipis memandangi foto tersebut. Tapi tidak lama Sehun lalu merebutnya dengan kasar.

“Kau tidak punya hak untuk menyentuhnya” Suara Sehun terdengar dingin sekali, lebih dingin dari sebongkah es di Kutub sana. “Keluar dari kamarku sekarang”

Yoona lebih memilih menggigit bibirnya, membiarkannya hingga berdarah di dalam mulutnya ketimbang harus meledakkan tangisannya dengan alasan yang tidak rasional. Yoona melangkah, memutar knop pintu, lalu berbalik sejenak. “Mianhae. Jeongmal mianheyo”

Sehun tidak meresponnya, melirik saja tidak. Yoona menghela nafasnya lalu keluar dari kamar Sehun.

“Yoona-ya? Mari makan” Ajak Luhan.

Yoona tersenyum kecil. “Aku sedang tidak lapar, oppa. Nanti saja”

Hingga Bulan keluar dari peradabannya, Yoona masih terdiam di kamar. Tidak keluar. Pintunya terkunci, membuat Luhan khawatir―well, perempuan berbadan dua itu belum makan.

“Yoona-ya? Bukalah. Aku bawakan makanan” Ucap Luhan seraya mengetuk pintu kamar Yoona. Tidak ada jawaban dan membuat Luhan memutar balik arahnya. Tapi, beberapa saat kemudian, Yoona keluar dari kamarnya. Rambutnya tertata rapih dan senyumannya masih menggantung. “Makanlah”

“Aku akan makan nan―”

“Kau belum makan dari siang tadi” Potong Luhan tanpa perlu mendengar bantahan Yoona lebih panjang.

“Aku akan makan, aku berjanji. Tapi tidak sekarang” Yoona tersenyum tipis.

“Kau mau kemana?”

“Aku mau menonton sebentar” Dan perempuan itu hilang di balik tangga dan melangkah menuju lantai tiga―home theater.

Tidak lama kemudian, Sehun keluar dari kamarnya. Hanya mengenakan kaus putih lengan panjang dan celana putih panjang, rambut tembaganya terlihat sedikit berantakan. Sehun tidak membuka mulutnya, matanya tidak melirik dan hanya melangkah menuju dapur―ingin mengambil segelas jus.

“Yoona tidak mau makan”

Tangan Sehun terhenti saat ingin mengambil botol di dalam kulkas setelah mendengar ucapan hyung-nya. “Belikan makanan kesukaannya” Gumam Sehun lalu menuangkan jus kesukaannya pada sebuah gelas kaca bening.

“Dia tetap tidak mau memakannya” Raut wajah Luhan berubah. “Jangankan makan dan minum, menyentuh piring dan gelasnya saja tidak. Kumohon,” Luhan menelan salivanya dengan susah payah. Kini dia terdengar seperti merintih pelan. “Ajak dia makan”

“Kenapa aku?”

“Karena kau suaminya”

Sehun terdiam. Matanya beradu pandang pada iris cokelat di hadapannya. “Baiklah”

“Yoona ada di home theater” Beritahu Luhan.

***

            Oh, sialan. Umpat Yoona dalam hatinya.

Ia bersusah payah untuk membuka sebuah lemari kecil di bawah layar proyektor, tapi apa daya―perut besarnya membuatnya sedikit kesusahan. Film yang akan ditontonnya sudah siap, tapi selimut yang akan menamaninya nanti tak kunjung ia dapatkan, dan itu sudah cukup untuk membuatnya kewalahan.

Yoona mendesah. Apa perlu ia menonton tanpa selimut? Itu sebenarnya bukan ide yang buruk, tapi―sungguh―dia merasakan dingin sekarang ini. Ditambah dengan air conditioner yang sudah ia nyalakan sedari tadi.

Tapi sosok itu tiba-tiba datang. Membungkuk dan mengambilkannya sebuah selimut merah lalu memberikannya. Iris di hadapannya itu tampak hangat. Terakhir kali ia melihatnya, tadi pagi. Membicarakan masa lalunya. “Sertifikat rumah ini atas namaku, dan kau tidak mengajakku menonton di rumahku sendiri?” Sehun menyodorkan selimut merah yang baru saja ia ambil.

Yoona menelan salivanya dengan susah payah lalu menerima selimut yang Sehun ulurkan padanya. “Aku tidak ingin mengganggumu. Gamsahamnida”

***

            Sehun menggeser pintu home theater-nya tanpa suara, tidak ingin mengagetkan seseorang di dalam sana. Di tangan kanannya ada sebuah gelas berisi susu berwarna putih. Oh, rupanya perempuan itu belum memulai filmnya―mata Sehun mendapati Yoona sedang berusaha dengan susah payah untuk membuka sebuah lemari kecil di bawah layar proyektor.

Apa perempuan ini bodoh?

Sehun menghela nafas lalu melangkah masuk, membungkuk dan membuka lemari kecil tersebut. Mengambilkan sebuah selimut merah.

Untuk sejenak, Sehun menatap iris madu di hadapannya. Dan sejenak juga, ia seperti menonton sebuah film di dalam sana. Tenggelam terlalu dalam dan membuatnya kesusahan bernafas.

Film hidupnya selama delapan bulan terakhir ini.

“Sertifikat rumah ini atas namaku, dan kau tidak mengajakku menonton di rumahku sendiri?” Sehun menyodorkan selimut merah tersebut.

“Aku tidak ingin mengganggumu. Gamsahamnida”

Perempuan ini berlagak formal di hadapannya dan tidak berani menatap kedua matanya―tidak seperti biasanya. “Maafkan aku karena telah bersikap kasar kepadamu pagi tadi” Ucap Sehun lalu menyodorkan gelas yang ia bawa sedari tadi. “Sebagai bentuk permintaan maafku dan berhentilah bersikap formal seperti itu padaku. Kau terlihat seperti orang bodoh”

“Mungkin aku memang bodoh. Gomawo” Yoona meraih gelas tersebut lalu berbalik, menaiki tiga anak tangga dan duduk di kursi kulit merah di deretan paling belakang.

“Luhan hyung menyuruhmu makan”

“Aku akan makan”

“Sekarang”

“Tidak bisa”

“Wae?”

“Aku sedang sibuk”

“Kau hanya menonton” Iris pure hazel Sehun terputar. Yoona tidak membalas ucapan Sehun, matanya tertuju sayu pada layar proyektor yang telah menampilkan sebuah film. Baru saja mulai. “Jadi, kau benar-benar tidak mengajakku menontonnya bersamamu?”

Yoona mengalihkan pandangannya. Sehun masih dapat melihat iris madu itu. Tidak terlalu jauh dari pengelihatannya, tapi tidak bisa ia raih. “Mau menontonnya bersamaku?”

***

            “Apa ini film ini bergenre romance?” Sehun duduk di sebelah Yoona.

“Peter Pan” Yoona membenarkan.

Sehun mengalihkan pandangannya, menatap Yoona. Matanya sedikit membulat. “Peter Pan? Kau yakin? Peter Pan?”

“Ini film yang bagus” Yoona menatap Sehun balik. Oh, polos sekali tatapannya. “Film ini memberitahuku bahwa mengucapkan selamat tinggal berarti melupakan”

Sehun mendesah. “Yang benar saja, kau percaya dengan anak bertopi hijau yang tidak akan bertumbuh dewasa”

“Sst. Jangan berisik” Yoona menempelkan jari telunjuknya di depan bibir pink-nya lalu kembali menatap layar proyektor.

***

            Sehun tidak bergerak. Bahkan hanya untuk mengambil nafas lalu menghembuskannya saja ia sangat berhati-hati―tidak ingin membangunkan Yoona yang tiba-tiba tertidur di tengah film dan bersandar pada bahunya.

Sehun menoleh, menatap paras cantik di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.

“Yoona-ya. Ireona” Sehun berucap pelan, halus sekali. “Kau belum makan. Makanlah sekarang”

“Jika aku makan, kau akan menghadiahkan aku apa?” Tanya Yoona tiba-tiba, masih bersandar pada bahu kokoh Sehun.

“Besok kita akan pergi makan malam jika kau makan sekarang” Jawab Sehun pelan.

“Apa itu kencan?” Tanya Yoona, sedikit membuat Sehun tersontak―kaget.

Tapi, laki-laki itu tertawa. Iris pure hazel-nya tersenyum. “Ya, kurasa seperti itu”

“Kau ingin aku mengenakan gaun berwarna apa?” Suara Yoona terdengar pelan sekali.

“Putih terlihat bagus untukmu” Jawab Sehun.

“Baiklah. Maka kau juga harus menggunakan tuksedo berwarna putih. Itu perintah”

Sehun melirik arlojinya―waktunya tersisa kurang dari 12 jam.

***

            Tengah malam sekali saat Sehun merakit senjatanya untuk besok. Menyiapkan magazennya penuh dengan peluru logam khas miliknya―peluru yang terdapat ukiran pada permukaannya―dan suppressor-nya―bagian dari pistol untuk merendam suara tembakan.

Ia menghela nafas.

“Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu”

Oh, entah sudah keberapa kalinya ucapan Jongin yang satu itu terputar jelas di otaknya dan tidak berhenti.

Saat ia kehilangan Jinri hanya demi pekerjaannya, ia seperti kehilangan dunia untuk dipijaknya. Tidak ada yang seimbang pada dirinya. Dan Sehun menyadarinya seberapa gilanya ia saat itu.

Ia kembali menghela nafas.

Tapi, masa lalunya itu tidak akan merubah apa-apa.

Tidak akan ada yang berubah.

***

            “Sehun-ah, bangunlah”

“Sehun-ah”

Yoona menggoncangkan bahu laki-laki itu.

“Bangunlah. Sarapanmu sudah siap”

“Hey, selamat pagi” Ucap Sehun setengah sadar.

“Selamat pagi. Ireona” Oh, dengar. Suaranya halus sekali.

Sehun terlihat belum benar-benar membuka matanya saat ia bangkit dan melangkah menuju ruang makan. Sudah ada Luhan duduk di sana.

“Tidak biasanya kau bangun terlambat” Celetuk Luhan.

“Ada urusan yang harus kukerjakan hingga pagi tadi” Sehun membela dirinya. “Hyung”

“Mwo?”

“Mari pergi jogging bersama”

***

            Yoona berdiri di depan cerminnya. Gaun putih satin itu menjulur indah hingga ujung kakinya. Bagiannya punggungnya terbuka, memamerkan kemulusan kulitnya. Bibir pink-nya merekah bergairah, dan make-up-nya terlihat alami.

Apa ia sudah cukup cantik? Tanyanya pada dirinya sendiri sembari melihat bayangannya di hadapan cerminnya.

Yoona menghela nafas lalu melangkah keluar. Ia duduk di sofa dan menunggu Sehun untuk selesai bersiap-siap.

Tiga puluh menit kemudian, Sehun tak kunjung keluar. Membuatnya sedikit kesal dan memutuskan untuk menghampiri laki-laki beriris pure hazel itu.

***

            Sehun berdiri di depan pintunya. Lengkap dengan rompi anti pelurunya dan pistol dengan suppressor-nya.

Perempuan itu akan membuka pintunya dan ia hanya perlu menarik pelatuk. Ya, hanya itu yang perlu ia lakukan. Rencananya selama ini.

“Sehun-ah? Kau di dalam sana?” Tanya Yoona dari luar, mengetuk pintunya.

“Ne. Wae?”

Semakin lama, hanya untuk menelan salivanya saja sudah membutuhkan energi yang lebih banyak.

“Apa kau sedang bersiap-siap? Aku akan masuk”

“Buatkan aku susu, Sehun-ah”

            “Jaga Yoona, Sehun-ah. Itu perintah”

            “Dokter, lakukanlah yang terbaik yang bisa kaulakukan. Kumohon”

            “Aku akan baik-baik saja. Ada Sehun yang akan menjagaku”

            “Kau mencintainya. Perlu kutambahkan? Kau sangat mencintainya”

            “Kenapa kau ketakutan setengah mati saat menemukannya tidak ada di rumah dan rela mengelilingi seantereo Korea Selatan hanya untuk membawanya pulang? Kenapa?”

            “Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu”

            “Apa itu kencan?”

            “Hanya aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawanya, bukan Kris. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, bukan dengan tangan siapapun”

***

            Yoona mengetuk pintu di depannya itu. “Sehun-ah? Kau di dalam sana?” Tanyanya.

“Ne. Wae?” Suara Sehun terdengar samar-samar.

“Apa kau sedang bersiap-siap? Aku akan masuk” Yoona memutar knop pintu lalu membukanya, tapi tiba-tiba Sehun mendorongnya. Membuat pintu kembali tertutup dan Sehun menguncinya dengan cepat. “Kau ingin mengintipku berganti celana?!” Sehun setengah berteriak dari dalam.

Yoona berdecak. “Jika kau berganti celana, kuncilah pintunya, babo!” Teriak Yoona tidak ingin kalah. Yoona melenggang dengan kesal, kembali terduduk di sofa. Mulutnya masih saja mengumpat Sehun saat laki-laki itu keluar dari kamarnya―siap dengan tuksedo serba putih kesukaan Yoona. “Kita akan makan dimana?”

“Kau sama sekali tidak tahu?” Tanya Sehun balik lalu mengulurkan tangannya.

Raut wajah Yoona sejenak terlihat bingung lalu ia menerima uluran tangan Sehun―menggenggamnya. “Apa aku tahu?”
“Kau sangat mengetahui tempat itu dengan baik” Jawab Sehun dengan sebuah senyuman kecil―menawan sekali―sembari melangkah bersama Yoona.

Yoona terlihat berpikir dalam. Tempat apa yang ia ketahui dengan baik? Well, pertama adalah rumah orang tuanya dan rumahnya ini. Oh, dan jangan lupakan gedung lembaga intelnya. Hanya itu saja yang ia ketahui dengan baik. “Beritahu aku” Pinta Yoona sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.

“Kau sama sekali tidak tahu?”

Iris madu Yoona terputar. “Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya kepadamu. Yang benar saja”

“Maka ini akan menjadi kejutan” Gumam Sehun.

“Beritahu aku terlebih dahulu”

“Masuk saja ke dalam mobil”

“Beritahu aku dan aku akan masuk ke dalam mobil”

“Masuk ke dalam mobil atau tidak ada makan malam” Oh, Sehun benar-benar tidak ingin mengalah kali ini. Ia sudah terlihat kesal.

Yoona berdecak. “Seharusnya aku membunuhmu dari dulu” Lalu masuk ke dalam mobil.

Hanya ada suara lagu yang mengalun di antara mereka, keduanya hanya terdiam. Sehun hanya fokus pada jalanan, dan Yoona yang masih menebak-nebak tempat makan malam mereka kali ini.

“Kau sangat mengetahui tempat itu dengan baik”

“Apa kita akan makan di rumah orang tuaku?” Tanya Yoona lagi, tapi setelah ia melihat jalanan―bahwa ia menuju Samsung-dong―sebuah tempat tiba-tiba tergambar di kepalanya. “Grand InterContinental Seoul Parnas. Yang benar saja”

Sehun tersenyum kecil lalu memutar setir mobilnya, memasuki parking areaGrand InterContinental Seoul Parnas―sebuah hotel besar yang menjadi saksi bisu pernikahannya bersama Yoona.

“Apa kita akan makan di Restauran Marco Polo atau Hakone?” Tanya Yoona lagi, tidak henti-hentinya sembari melangkah masuk bersama Sehun.

“Selamat malam, Tuan Sehun” Seorang laki-laki membungkuk dengan ramah.

“Selamat malam. Lakukanlah” Perintah Sehun, membuat kening Yoona mengerut. Lakukanlah?

“Baik, Tuan” Laki-laki tinggi berjas itu melangkah menuju belakang Yoona, menutup mata Yoona dengan sebuah kain biru tua. “Permisi, Nona”

“Oh, yang benar saja. Apa yang kaulakukan, Sehun-ssi?” Yoona terlihat jengkel sekali saat matanya tertutup oleh sekain biru tua.

“Bukankah sudah kukatakan ini adalah sebuah kejutan?” Tanya balik Sehun, meraih tangan Yoona―menyelipkan jemarinya di antara jemari Yoona.

“Apa menutup mata perempuan hamil seperti ini termasuk legal?” Oceh Yoona.

Sehun tidak menanggapinya, ia menarik tangan Yoona dan menjadi penunjuk arah jalannya. Sejenak, mereka berada di dalam elevator dan Yoona merasakannya, lalu kembali mengoceh. Sehun hanya tersenyum mendengar ocehan Yoona yang tidak henti. Setelah sampai di lantai lima dan kembali berjalan bersama, ketiganya―Yoona, Sehun dan seorang staff hotel yang menutup mata Yoona tadi―berhenti di depan dua buah pintu besar. Seorang staff lainnya juga sudah berada di sana.

“Kenapa berhenti? Apa sudah sampai?”

“Ya, kita sudah sampai” Jawab Sehun pelan dengan sebuah senyum tipis. Ia membiarkan seorang staff melepaskan kain penutup mata Yoona.

“Aku tidak suk―” Yoona otomatis menutup mulutnya saat melihat dua buah pintu besar di hadapannya. Lalu, senyumnya mengembang kecil.

“Selamat menikmati makan malam, Tuan Sehun dan Nona Yoona” Kedua staff itu bersamaan membuka kedua pintu besar tersebut, membiarkan Sehun menarik Yoona ke dalamnya.

“Yang benar saja” Yoona kehabisan kata-katanya kali ini. Bagaimana tidak, Sehun mengajaknya makan malam di tempat mereka menikah. Di Grand Ballroom gedung ini. Delapan bulan lalu, ruangan besar ini penuh dengan meja dan kursi―950 orang datang untuk memeriahkan acara pernikahan mereka―dan sekarang, hanya ada sebuah meja dengan dua kursi yang berhadapan di tengah ruangan dan sebuah panggung putih panjang seakan menuju altar―yang Yoona yakini sebagai panggung yang sama saat pernikahannya dulu.

“Kau menyukainya?” Tanya Sehun dengan sebuah senyuman kecil yang setia menggantung.

“Ini berlebihan” Jawab Yoona. “Tapi, aku menyukainya. Sangat” Sehun menarik sebuah kursi makan lalu membiarkan Yoona duduk terlebih dahulu. “Oh, yang benar saja” Yoona menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh―dia benar-benar tersentuh.

“Kau cengeng sekali” Sehun tertawa kecil lalu menyeka air mata Yoona saat terjatuh lagi.

Sesaat, mereka terdiam membiarkan seorang pelayan menghidangkan makan malam. Sebuah Sushi terhidang di hadapan mereka―makanan kesukaan Yoona. Yoona meraih sebuah gelas lalu mencium aroma minumannya. “Ini susu”

“Aku tidak akan membiarkanmu minum wine” Sehun menyesap minumannya―white wine yang akan selalu menjadi kesukaannya.

“Ini curang” Tukas Yoona, tidak terima bahwa malam ini ia tidak bisa mencicipi wine.

“Minumlah, susunya enak” Gurau Sehun enteng. “Itu buatanku”

“Kau membawa susu buatanmu ke sini? Jeongmal?” Mata Yoona setengah membulat.

“Aku membuatnya di dapur hotel ini” Sehun membenarkan.

“Gipeojin haru teum sai neoneun joyonghi dagawa. Eodumeul geodeonaego naui jameul kkaewo. Geurigon meoreojyeo yeollin changmun jeo neomeoro…”

Tiba-tiba ruangan luas itu dipenuhi dengan sebuah alunan lagu. Sehun bangkit dari kursinya lalu mengulurkan tangannya. “Mau berdansa?”

Jantung itu hampir tidak berdetak saat irisnya bertemu dengan iris pure hazel itu. Jika bisa lepas dari rangkanya, mungkin kini sudah lepas. Perempuan ini tidak bisa meredamnya dan ruam merah itu tiba-tiba muncul. Yoona tersenyum kecil, meraih tangan Sehun―dengan yakin. Sehun mengajaknya naik ke atas panggung putih tersebut, berjalan bersebelahan dengan tangan yang saling menggenggam seperti saat mereka menikah delapan bulan lalu. Berjalan bersama seperti menuju ke altar.

“Daheul suga eomneun angil sudo eomneun got. Sumyeon wie bichin geon geu sarami aniya. Irwojil su eomneun seulpeun neoui story…”

Keduanya saling berhadapan, berdansa seperti malam ini hanya milik mereka berdua.

“Apa?” Tanya Yoona saat Sehun menatap iris madunya sedari tadi.

“Kau sangat cantik malam ini” Jawab Sehun lalu tersenyum.

“Aku sangat cantik setiap harinya. Banggalah, banyak laki-laki di luar sana yang berlomba-lomba memperebutkan hatiku” Yoona tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri.

“Kau ingin mengatakan bahwa aku telah memenangkan hatimu?” Alis kiri Sehun terangkat, sebuah smirk-nya mengembang.

“Aku tidak mengatakan hal itu” Bantah Yoona pelan, mencoba sekuat tenaga untuk menahan ruam merah pada pipinya agar tidak keluar.

Tapi, manik madu hangat itu tidak bisa berbohong.

Ya, Sehun berhasil.

“Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah. Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah. Ireoke naega neol aetage bulleo. Dagagaji ma, babe, geu nalgaega jeojeuni…”

“Kau tidak pintar berbohong” Sehun tiba-tiba mencium bibir pink mungilnya. Lembut dan penuh gairah. Sedetik, Yoona membeku di tempatnya berdiri. Tidak dapat berpikir apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan―tapi ia lebih memilih untuk menutup matanya.

***

            Sehun membukakan pintu mobil dan membantu Yoona untuk turun. Keduanya melangkah bersama, masuk ke dalam rumah. Gelap, tidak ada satupun lampu yang dinyalakan dan itu membuat perasaan Sehun terasa aneh.

“Ah!” Erangan Yoona membuatnya berbalik, mendapati perempuan itu tiba-tiba terjatuh. Dan sedetik kemudian, sesuatu seakan menusuk lehernya, membuatnya juga ikut terjatuh―tertidur.

***

            BUK!

         BUK!

“Bangunlah!”

BUK!

“Bangun, br*ngs*k!”

Mata Sehun terlihat setengah terbuka. Hidung dan mulutnya tidak henti mengeluarkan darah, di sepanjang pelipisnya sudah terbentuk luka.

“Apa kabar, Oh Sehun-ssi?”

BUK!

         “Aku ingin memberikan rasa tinjuan yang sama seperti yang kau berikan padaku, tapi maafkan aku. Aku tidak bisa. Aku terlalu bersemangat kali ini”

BUK!

Tangan yang diselimuti tali rantai itu kembali mendarat dengan keras di wajah mulus Sehun.

“Masih ingat aku?” Laki-laki itu melebarkan kelopak mata Sehun dengan paksa.

“Pecundang Kim Minseok” Jawab Sehun parau. Iris pure hazel-nya seakan menantang Minseok.

“Kau benar-benar membuatku marah sekarang” Minseok melepaskan tali rantai pada baku tangannya lalu meraih sebuah pistol.

DOR!

         Sehun menahan teriakannya. Wajahnya berubah menjadi begitu pucat dengan cepat. Kaki kirinya berhasil ditembus oleh peluru yang baru ditembakan Minseok. “Aku masih mengingat rasanya. Apa perlu aku membuatmu membuka mulutmu?”

DOR!

         “AAAAAAAAAAHHH!!!” Teriakan Sehun benar-benar menggema dengan begitu keras. Tidak dapat di tahannya. Kaki kanannya kembali kena tembak.

DOR!

         Mulut Sehun terasa penuh dengan darah saat Minseok kembali menembak perutnya. Minseok melangkah, memasukkan ujung pistolnya ke dalam mulut Sehun. “Aku belajar dari dirimu bahwa menembak seseorang akan terasa jauh lebih nikmat jika melewati mulutnya ketimbang harus meledakkan kepala mereka”

“Tenanglah, Minseok-ah. Aku yang akan membunuhnya” Suara berat itu―oh, betapa Sehun mengenalinya.

Kris Wu.

Minseok menarik pistolnya, membiarkan Kris berbicara dengan Sehun.

“Selamat datang kembali, Sehun-ah. Senang melihatmu―”

Sehun meludah. Sudah tidak peduli lagi.

“Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk hidup tapi kau menyia-nyiakannya. Aku sangat kecewa kepadamu, Sehun-ah” Kris membuka percakapan di antara mereka. “Kau seharusnya membunuhnya, tapi kau biarkan dia bernafas hingga saat ini” Mata Kris tertuju pada sebuah brankar dorong yang biasa terdapat di rumah sakit. Tapi mata Sehun tidak tertarik pada brankar dorong tersebut, melainkan sosok yang berbaring di atasnya.

Masih bergaun putih dan sedang tertidur pulas.

Oh, sialan. Umpat Sehun dalam batinnya. Ia ingat bagaimana ia bisa terdampar di sini. Kris pasti menyuruh anak buahnya menyusup ke dalam rumahnya dan menembak dirinya dan Yoona menggunakan senapan bius. Itu pasti terjadi.

“Aku sedang berpikir, siapa yang harus kubunuh terlebih dahulu?” Tanya Kris lagi. Mata tajamnya tertuju pada Sehun―dia tidak main-main sekarang. “Kau atau,” Lalu iris pearl grey-nya menuju ke arah Yoona. “Dia”

“Sedikit saja kau sentuh dia, kupastikan kau akan menungguku di Neraka mulai hari ini juga” Gertak Sehun.

“Aku menyukai ancamanmu. Tapi,” Kris melangkah, mendekati Yoona. Di tangannya sudah ada sebuah pistol dan ditujukan ke kening Yoona. “Itu tidak berarti apa-apa untukku”

Rahang Sehun mengeras. Ia memberontak, mencoba melepaskan tangannya dari rantai yang membelitnya tapi tidak berarti apa-apa.

Dia tidak berdaya kini.

Boom” Kris seakan menyuarakan suara tembakannya. Iris pure hazel Sehun semakin menegang. Ia membayangkannya dengan nyata sekali di dalam otaknya dan mulai menyadari―bahwa ia ketakutan.

“Jangan terlalu tergesa-gesa, hyung” Seorang laki-laki datang, ikut memeriahkan ruangan yang notabene adalah ruangan Kris. Berjalan dari belakang Sehun lalu berdiri di depannya. Membungkuk dan berhadapan dengan Sehun begitu dekat. “Kita bertemu lagi, Sehun-ah”

Sehun tidak membuka mulutnya. Kedua iris berbeda warna itu masih saling bertatap dengan ganas, seakan berperang di dalamnya.

“Aku sangat prihatin dengan keadaanmu sekarang, Sehunnie”

“Jangan pernah kau ucapkan namaku,” Sehun meludah lagi, tepat mengenai wajah di hadapannya. “Ular”

“Akan kupastikan kau mati di tanganku” Suho―laki-laki yang baru diludahi Sehun tadi―segera membersihkan wajahnya.

“Harus kuakui, kau cukup berani meludahi adikku” Gumam Kris, menjauh dari Yoona tapi langkahnya semakin dekat dengan Sehun. “Jangan kaget seperti itu. Suho memang adikku. Perkenalkan identitas aslinya, Wu Joonmyeon”

“Annyeonghaseyo, Oh Sehun-ssi. Wu Joonmyeon imnida” Pria berjas rapih itu membungkuk formal.

“Selain menjadi adikku, dia menjadi agen intel terbaikku di dalam lembaga negara” Kris tersenyum kecil.

 

Flashback

            “Bagaimana keadaan internal lembaga intel?” Tanya Kris.

            “Pimpinan memutuskan untuk menangkap hyung sebagai tugas selanjutnya. Dia sudah mengeluarkan misinya” Jawab Joonmyeon as known as Suho yang duduk di hadapannya.

            “Siapa agen yang mendapatkan misi itu?”

            “Yoona. Im Yoon Ah” Jawab Suho singkat. “Dia adalah agen intel perempuan terbaik” Suho menyerahkan sebuah map berisi data seorang perempuan yang bernama Im Yoon Ah. “Apa yang hyung lakukan setelah ini?”

            Kris terlihat terdiam sejenak. Ia bersandar pada kursi kulitnya lalu menatap langit ruangannya. “Bukankah yang terbaik juga harus menghadapi yang terbaik? Bukankah begitu, Joonmyeonnie?”

            “Ne, hyung”

            “Maka aku juga akan membunuhnya. Aku akan memberikan misi ini kepada Sehun”

            “Oh Sehun? Sniper itu?”

            “Ya. Dia adalah satu-satunya sniperku yang paling hebat”

*

            “Ada apa?”

            “Aku ingin kau membunuh perempuan ini” Kris menyodorkan sebuah foto. “Kau bisa melakukannya untukku?”

            Setelah memerhatikan foto sejenak, Sehun mendongak. “Dengan senang hati”

*

            “Aku menyuruhmu membunuhnya, bukan menghamilinya!” Kris menggebrak mejanya.

            “Tenang saja, aku akan tetap membunuhnya setelah aku menikah dengannya”

            “Menikah? Kau akan menikah dengan Yoona?! Kau akan menikah dengan agen intel itu?! Kau bisa membahayakan pasar!”

            “Tidak akan ada bahaya. Percayalah padaku. Aku bisa menanganinya”

*

            “Apa Yoona menceritakan sesuatu kepadamu?” Tanya Kris kepada adik sematawayangnya.

            “Tidak ada. Tapi kurasa dia menceritakan semuanya langsung kepada Lee sajangnim. Yang kuragukan adalah jika Sehun telah membocorkan rahasia pasar kepada Yoona”

            “Lee sajangnim” Kris menggumamkan nama tersebut, bersandar lalu melihat langit ruangannya. “Kau harus merebut posisinya”

            “Sudah kulakukan delapan puluh persen. Hanya menunggu waktu” Jelas Suho.

            “Kita harus membunuh mereka” Gumam Kris.

            “Membunuh Yoona?” Suara Suho meninggi.

            “Dan Sehun” Tambah Kris.

            “Jika kita membunuh Yoona, sebagian agen intel akan ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematiannya. Aku yakin itu”

            “Kalau begitu, mari kita buat dengan dramatis”

            Pintu itu terketuk. Membuat Suho harus bersembunyi di dalam kamar mandi Kris. “Jongin?”

            “Aku sudah menyelesaikan tugasku” Jongin memberikan sebuah amplop cokelat.

            Kris mengeluarkannya secara tidak sabar, melihat beberapa hasil jepretan salah satu anak buahnya tersebut. Foto Sehun dan Yoona. “Siapa mereka?” Kris menunjuk seorang perempuan dan laki-laki yang bersam Sehun dan Yoona di sebuah taman.

            “Park Chanyeol dan Choi Sooyoung. Mereka adalah sepasang kekasih yang akan menikah minggu depan dan juga merupakan sahabat Yoona”

            “Sahabat?”

            “Ne”

            “Jika aku bertanya padamu, apa Sehun dan Yoona akan datang ke malam pernikahan mereka minggu depan?”

            “Aku jamin seratus persen mereka akan datang” Jawab Jongin mantap.

            “Great” Kris melepaskan foto tersebut lalu menatap Jongin. “Aku ingin kau menaruh bom di gedung pernikahan mereka. Apa kau bisa melakukannya untukku?”

            “Ne, aku bisa”

*

            “Aku melihatnya di pemakaman Sooyoung dan Chanyeol. Yoona dan Sehun” Beritahu Suho melalui ponselnya. “Aku sedang mengikuti mereka. Kurasa mereka menuju Busan”

            “Busan” Di ujung sana Kris menggumam. “Belikan Yoona makanan kesukaannya dan jangan lupa campurkan Sianida di dalamnya. Itu akan membuatnya semakin terasa lezat”

*

            “Yoona datang ke gedung tadi. Dia tahu bahwa Sushi yang kuberikan mengandung Sianida. Dia tidak memakannya sedikitpun”

            Kris menghela nafas. “Baiklah. Aku akan turun tangan untuk rencana kali ini”

*

            “Oh Sehun-ssi?” Kris menempelkan ponselnya di telinganya. “Bisakah aku berbicara denganmu?”

            “Ada apa?” Suara Sehun mendingin.

            “Datanglah ke basecamp. Aku memiliki penawaran yang berharga nyawa untukmu,” Kris tersenyum kecil. “Dan Yoona”

*

            “Dia menerima tawarannya, hyung?”

            “Ya, dia menerimanya. 50 jam lagi kau akan mendapatkan undangan pemakanan Yoona”

            “Bagaimana dengan Sehun? Hyung akan membiarkannya hidup?”

            “Ya, aku akan membiarkannya hidup”

 

“Dan setelah kupikir, akan lebih baik untukmu melihat istrimu mati lebih dulu. Bukankah begitu?”

Sehun kembali memberontak. Seakan sesuatu di dalam dirinya tidak bisa ia kendalikan, tapi rantai yang melilit tangannya menghalanginya.

“Kau terlalu bersemangat, Sehun-ah” Kris tersenyum kecil.

Sehun mencondongkan badannya. “Demi Tuhan, aku akan membunuhmu!”

“Bagaimana? Bagaimana kau membunuhku? Jelaskan padaku, Sehun-ah. Bagaimana kau membunuhku saat aku bisa membunuhmu dan Yoona saat ini juga?”

Mulut Sehun terkatup dengan erat. Ia sudah tidak sepenuhnya bertenaga. Kehilangan banyak darah membuatnya kesulitan kali ini.

“Aku akan membunuh Yoona dan Joonmyeon akan membunuhmu. Apa kita setuju?” Kris menyiapkan pistolnya. “Kurasa semuanya setuju”

Mata Sehun tidak bekedip saat Kris benar-benar melangkah mendekati Yoona. “Kris! KRIS!”

“Wae, Sehunnie?” Kris berbalik. “Kau tidak ingin aku membunuhnya?”

Sekujur tubuh Sehun membeku begitu cepat. Jantungnya tidak cukup kuat untuk berdetak. “Mau menemaniku berhitung? Kita mulai dari 3”

“Tiga” Kris memulai hitungannya.

“KRIS!”

“Dua”

“KRIS! TIDAK! KUMOHON!”

“Satu setengah”

“AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA YANG KAU MINTA! JANGAN BUNUH DIA!! SUNGGUH!”

“Satu”

“Bunuh aku, bukan dia” Sehun kehabisan nafasnya. Air mata setitik terjatuh. “Bunuh aku, bukan dia”

“Baiklah. Aku akan membunuhmu lalu membunuh Yoona” Kris mengarahkan pistolnya ke kepala Sehun.

***

            Yoona ada di sana. Dia sadar. Dia mendengarkan semuanya. Mengetahui semuanya. Hanya saja matanya berlagak tertutup.

Siapa Suho yang sebenarnya.

Apa rencana mereka selanjutnya.

Siapa yang akan membunuhnya dan siapa yang akan membunuh Sehun.

“Mau menemaniku berhitung? Kita mulai dari 3” Yoona merasakan ujung pistol itu menyentuh keningnya.

Hidupnya akan benar-benar berakhir kali ini. Pikir Yoona.

“Tiga” Kris memulai permainannya.

“KRIS!” Ia kembali mendengar suara Sehun. Bagaimana bisa laki-laki itu berteriak sekeras itu saat tiga peluru sudah bersarang di dalam tubuhnya? Ya, Yoona mendengar suara tembakan dan teriakan Sehun itu―cukup membuatnya juga ingin berdarah dan mati.

“Dua”

“KRIS! TIDAK! KUMOHON!”

“Satu setengah”

“AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA YANG KAU MINTA! JANGAN BUNUH DIA!! SUNGGUH!”

Ada apa denganmu, Oh Sehun?

            Bukankah kau juga menginginkanku mati?

            Dan sekarang kau berkata akan melakukan apa saja agar aku tetap hidup?

            Ada apa denganmu, Oh Sehun?

“Satu”

“Bunuh aku, bukan dia” Ucapan Sehun membuat Yoona tidak dapat berpikir apa-apa. Membuat nafas Yoona tidak lebih berharga daripada seorang Oh Sehun. “Bunuh aku, bukan dia”

“Baiklah. Aku akan membunuhmu lalu membunuh Yoona”

DOR!

Take Me (I’m Yours)

“We don’t deserve love”

written by

Clora P. Darlene

starring

Im Yoon Ah | Oh Sehun

Seo Joo Hyun as Im Seohyun | Kim Jongin | Kwon Yuri | Kris Wu | Choi Jinri | Kim Joonmyeon

Romance, Action

PG-15

***

“Kau sanggup membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”

“Berikan aku alasan kenapa aku tidak sanggup membunuhnya dengan tanganku sendiri” Sehun melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau mencintainya. Perlu kutambahkan? Kau sangat mencintainya” Jongin tidak membuang waktunya hanya untuk sekedar berbasa-basi.

Sehun mendengus lalu tertawa kecil. “Apa semalam kau pergi minum bersama Yuri?”

“Jangan mengalihkan topik pembicaraan”

“Aku hanya bertanya, tidak bermaksud untuk mengalihkan topik pembicaraan. Cinta? Kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaanmu?”

Sehun menatap tajam iris Jongin. Jongin tidak merespon, hanya menatap balik Sehun intens.

“Orang seperti kita tidak pantas akan cinta” Kalimat itu meluncur dari mulut Sehun tanpa bisa ia hentikan. “Kau dan Yuri hanyalah sebuah keberuntungan. Selamat”

“Lalu, kenapa kau menyelamatkannya saat malam pernikahan temannya dan kau refleks menelpon dokter untuk mengetahui kondisinya? Kenapa kau menyembunyikannya di rumah lamamu di Busan dan tidak ingin Kris menemukannya? Kenapa kau panik saat melihatnya jatuh pingsan? Kenapa kau ketakutan setengah mati saat menemukannya tidak ada di rumah dan rela mengelilingi seantereo Korea Selatan hanya untuk membawanya pulang? Kenapa?”

Iris berbeda warna itu saling memandang tajam. Saling menusuk satu sama lain. Iris Sehun terlihat datar, tapi ada sebuah lapisan tipis yang dapat Jongin lihat―sebuah lapisan tipis kebohongan. Jongin mengenal Sehun dengan baik selama hidupnya.

“Ketahuilah, semua yang telah kulakukan padanya tidak akan merubah apa-apa”

Jongin terdiam, bibirnya masih mengatup, lalu ia menghela nafas. “Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu” Jongin melangkah melewati Sehun dan masuk kembali ke dalam rumah.

Sehun terdiam di depan pintu rumahnya sendiri. Di saat temannya tadi mengucapkan sepatah kata yang menjelaskan seluruh masa lalunya.

Flashback

            Keduanya terdiam cukup lama. Hingga si perempuan yang mengucapkannya pertama kali. “Jadi, kita sampai sini saja, oppa?”

            “Ya. Tidak ada setelahnya lagi”

            “Aku mencintai oppa”

            Laki-laki itu tidak menjawabnya. Oh, dia sedang mencoba untuk menjadi kuat tapi pertahanannya terlihat tipis sekali.

            “Saranghae. Jeongmal saranghae, opp―”

            “Jinri-ya,” Laki-laki itu menatap mata berair di depannya. “Kita sudah bukan siapa-siapa lagi”

            Seseorang yang ia inginkan di muka bumi―Choi Jinri―ia lebih memilih melepaskan perempuan itu ketimbang harus melepaskan senapannya.

 

Sehun melangkah masuk.

“Kau darimana saja?”

Ia berhenti melangkah saat seseorang bertanya kepadanya. Ia bahkan tidak menyadari sekumpulan orang itu ada di sana. Sejenak Sehun menatap Luhan yang baru saja bertanya kepadanya, tapi matanya tertarik melihat perempuan yang duduk di sebelah Luhan―Yoona. Sehun menghela nafas. “Berjalan-jalan”

“Dengan menggunakan pakaian formal seperti itu?”

Sehun tidak menjawabnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Perasaannya berubah semenjak Jongin membicarakan masa lalunya―masa yang ia inginkan kembali.

Choi Jinri―seorang perempuan yang lebih muda dari Sehun―berhasil memenangkan tempat pertama di hati laki-laki itu. Sudah cukup lama menjalin hubungan dan harus berakhir hanya karena Sehun lebih memilih pekerjaannya―sebagai seorang sniper, atau bahasa kasarnya katakan saja ia pembunuh berdarah dingin, tidak berperasaan dan tanpa belas kasih.

Sehun selalu beranggapan bahwa orang sepertinya tidak pantas akan cinta.

Sudah lama ia percaya pada istilah itu. Ya, mungkin benar, orang sepertinya tidak pantas akan cinta.

Sehun membuka sebuah tas hitam, memerhatikan senjata-senjatanya.

***

            Yoona terduduk di sebelah Luhan saat laki-laki itu berbalik. Yoona mengikuti gerak iris pure hazel itu, lalu tanpa direncanakan milik madunya bertemu dengan iris pure hazel itu. Bertatapan untuk beberapa detik hingga laki-laki itu berbalik lagi dan berjalan menuju kamar, tidak menjawab pertanyaan terakhir Luhan.

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Luhan, seakan bertanya pada dirinya sendiri.

“Tidak” Yoona refleks menjawabnya, matanya masih menatap pintu kamar Sehun yang tertutup rapat tidak bercelah.

“Bagaimana kau tahu?”

Yoona menoleh, tampangnya polos sekali. “Bagaimana aku tahu apa?”

“Bagaimana kau tahu Sehun tidak baik-baik saja?”

“Tidakkah kau lihat matanya? Terpancar sekali” Jawab Yoona datar. Sejenak, Yoona tidak mengerti tatapan Luhan beserta Jongin dan Yuri yang juga menatapinya. Oh, sedetik kemudian perempuan itu tersadar. “Aku pernah menjadi agen intel terbaik yang pernah negara miliki, aku bisa membaca mata dan gerak-gerik seseorang” Yoona membela dirinya dengan kikuk.

Hingga menjelang malam, Sehun tidak keluar dari kamarnya. Sepertinya laki-laki itu sedang betah tinggal di dalam kamarnya. Dia tidak makan dan minum dalam waktu setengah hari. Hingga pergantian hari, laki-laki itu benar-benar tidak keluar.

Yoona bergerak gusar di atas ranjangnya, keringatnya bercucuran deras. Ingatannya tiba-tiba membawanya saat malam pernikahan Chanyeol dan Sooyoung. Ledakan itu terjadi di depan matanya. Saat kedua temannya itu ditimbun di bawah bumi sana dan keluarga keduanya menjelaskan bagaimana kondisi jasad mereka―tidak berbentuk. Yoona merintih, tangannya bergetar lalu diikuti sekujur tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk matahari bangun kembali.

Ia tidak kuat.

Ia bangkit, memaksa kaki kecil rantingnya untuk menompang tubuhnya. Melangkah hingga di depan sebuah pintu lalu mengetuknya dengan pelan. Bibirnya sudah membiru―dia kedinginan, tapi tubuhnya hanya diselimuti oleh selapis pasang piyama.

“Ada apa?”

“Bisakah aku tidur denganmu? Kau mendesign kamarku terlalu luas” Elak Yoona.

Sehun menghela nafas. “Masuklah”

“Gomawo” Yoona melangkah, dan naik ke atas ranjang Sehun tanpa meminta izin kepada pemiliknya. “Apa yang kaulakukan sedari tadi? Kau tidak keluar” Yoona membungkus tubuh mungilnya dengan selimut tebal Sehun.

“Menyusun rencana”

“Rencana? Apa perusahaanmu akan mengeluarkan proyek baru lagi?” Tanya Yoona dengan mata tertutup dan mencoba menormalkan suhu tubuhnya.

Sehun terdiam sejenak, ia duduk di sofanya. “Ya”

“B-Bisakah kau mengambilkan jaketku? Dingin sekali” Pinta Yoona. Giginya mulai bergemelatuk. Apa yang terjadi dengan perempuan ini?

Sehun tidak meresponnya, tapi ia melangkah―mengambil mantelnya. Well, karena ia malas sekali untuk berjalan ke kamar Yoona. “Bangunlah” Yoona memposisikan dirinya duduk lalu membiarkan Sehun memakaikannya mantel lalu kembali berbaring. Yoona menghirup dalam-dalam aroma mantel hitam tersebut dan mulai kebingungan sendirian.

Ini bukan mantelnya.

Ini bukan aroma mantelnya.

Mantelnya akan beraroma salju mencari―bukan beraroma maskulin seperti ini.

Tapi Yoona mengenal aroma ini. Berasal dari parfum yang hanya ada satu di dunia ini dan hanya akan dijual pada seseorang yang baru saja memakaikannya mantel.

Yoona terlelap, terbawa arus aroma Sehun pada mantel hitam yang ia kenakan.

***

            “Apa yang kaulakukan sedari tadi? Kau tidak keluar” Tanya Yoona.

“Menyusun rencana” Jawab Sehun tanpa perlu berpikir panjang.

Yoona mulai memejamkan matanya. “Rencana? Apa perusahaanmu akan mengeluarkan proyek baru lagi?” Tanya Yoona tak hentinya.

Sehun terdiam.

 

Flashback

            Sehun berdiri di dekat jendela kamarnya yang besar. Matahari masuk leluasa menyinarinya. Tangannya memegang sebuah pulpen. Tidak, ia tidak menghiraukan perutnya yang mulai berbunyi itu. Sedetik kemudian, ia melangkah menuju meja kerjanya. Menggesekkan ujung pulpen yang kasar dengan halus putihnya kertas.

            Apa perlu ia menggunakan senapan otomatisnya? Pikir Sehun. Mengolah otaknya untuk membuat dan mendapatkan rencana yang tepat untuk membunuh Yoona.

Ia akan benar-benar membunuh perempuan itu.

 

“Ya” Jawab Sehun singkat.

“B-Bisakah kau mengambilkan jaketku? Dingin sekali” Pinta Yoona. Sehun dapat melihat bibir pink Yoona yang membiru. Sehun bangkit dari sofanya lalu meraih mantel hitamnya pada gantungan. “Bangunlah”

Sedetik kemudian, Yoona bangun dan memunggunginya―membiarkan Sehun memakaikannya mantel.

“Kau sanggup membunuhnya dengan tanganmu sendiri?”

Ia teringat pertanyaan Jongin. Lalu lebih memilih untuk duduk kembali di sofanya. Ia tidak tertidur, hanya melihati Yoona yang tertidur dan bertanya pada dirinya sendiri sepanjang malam.

Apa dia sanggup membunuh Yoona dengan tangannya sendiri?

***

            Waktu yang ia miliki hanya tersisa 24 jam dan dimulai dari sekarang.

Sehun menatap Yoona yang masih tertidur di atas ranjangnya dengan tubuh yang dibalut selimut.

Ia bisa saja membunuh Yoona sekarang. Mengambil senjata dengan suppressor di ujungnya dan menodongkannya kepala Yoona lalu…boom! Tugasnya selesai. Tapi Sehun melangkah keluar kamar. Ruang tengah tampak ramai. Yuri, Jongin dan Luhan berada di sana.

“Kau mau kemana?” Tanya Luhan.

“Dapur” Jawab Sehun lalu melangkah dengan langkah lebar menuju dapur.

Membuat segelas susu hangat dan kembali dibawanya masuk ke dalam kamar.

“Hey”

“Yoona”

“Yoona-ya”

“Ireona”

Yoona mengerang pelan, matanya masih belum bisa beradaptasi dengan sinar matahari yang memenuhi ruangan. “Ireona” Ulang Sehun dengan pelan.

“Apa itu susuku?” Tanya Yoona yang langsung dapat menangkap segelas susu yang dibawa Sehun.

“Ya. Bangunlah”

Jangan tanyakan apa yang terjadi, bahkan Sehun sendiri tidak mengerti.

***

            Setelah membasuh wajahnya dan sudah merasa lebih segar, Yoona keluar dari kamar mandi dan melihat-lihat kamar tidur Sehun. Kamar Sehun terbagai menjadi dua dengan sebuah sekat―kamar tidur dan ruang kerja. Yoona terdiam sejenak saat tangannya menarik sebuah laci.

Ada foto di sana. Sehun ada di dalamnya.

Yoona meraihnya, menatapnya.

“Apa yang kaulakukan?”

Yoona mendongak saat suara tegas Sehun sampai pada indera pendengarannya. “Apa perempuan ini Jinri? Choi Jinri?”

Sehun terdiam, matanya tampak tidak bisa tenang. Yoona merasakan perubahan raut wajah Sehun. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Flashback

            “Spanyol. Untuk waktu yang cukup lama” Jawab Yuri dengan sebuah senyuman yang menggantung di wajah cantiknya. “Jongin, Sehun dan Jinri serin―”

            “Jinri?” Kening Yoona mengernyit saat mendengar nama perempuan yang begitu asing di telinganya.

            “Mantan kekasih Sehun” Jawab Yuri singkat.

            “Mantan kekasih?” Yoona seakan bertanya pada dirinya sendiri. “Kenapa mereka putus?”

            “Sehun lebih mementingkan pekerjaannya sebagai seorang pembunuh, padahal dia pernah mengatakan padaku bahwa hanya Jinri yang dia inginkan di dunia ini. Tidak ada selain dia”

 

“Aku pernah menjadi agen intel terbaik yang pernah ada, tidakkah kau ingat?” Tanya Yoona balik, suaranya terdengar tenang―mencoba tenang, lebih tepatnya. “Jadi, ini Jinri? Neomu yeppeo” Yoona tersenyum tipis memandangi foto tersebut. Tapi tidak lama Sehun lalu merebutnya dengan kasar.

“Kau tidak punya hak untuk menyentuhnya” Suara Sehun terdengar dingin sekali, lebih dingin dari sebongkah es di Kutub sana. “Keluar dari kamarku sekarang”

Yoona lebih memilih menggigit bibirnya, membiarkannya hingga berdarah di dalam mulutnya ketimbang harus meledakkan tangisannya dengan alasan yang tidak rasional. Yoona melangkah, memutar knop pintu, lalu berbalik sejenak. “Mianhae. Jeongmal mianheyo”

Sehun tidak meresponnya, melirik saja tidak. Yoona menghela nafasnya lalu keluar dari kamar Sehun.

“Yoona-ya? Mari makan” Ajak Luhan.

Yoona tersenyum kecil. “Aku sedang tidak lapar, oppa. Nanti saja”

Hingga Bulan keluar dari peradabannya, Yoona masih terdiam di kamar. Tidak keluar. Pintunya terkunci, membuat Luhan khawatir―well, perempuan berbadan dua itu belum makan.

“Yoona-ya? Bukalah. Aku bawakan makanan” Ucap Luhan seraya mengetuk pintu kamar Yoona. Tidak ada jawaban dan membuat Luhan memutar balik arahnya. Tapi, beberapa saat kemudian, Yoona keluar dari kamarnya. Rambutnya tertata rapih dan senyumannya masih menggantung. “Makanlah”

“Aku akan makan nan―”

“Kau belum makan dari siang tadi” Potong Luhan tanpa perlu mendengar bantahan Yoona lebih panjang.

“Aku akan makan, aku berjanji. Tapi tidak sekarang” Yoona tersenyum tipis.

“Kau mau kemana?”

“Aku mau menonton sebentar” Dan perempuan itu hilang di balik tangga dan melangkah menuju lantai tiga―home theater.

Tidak lama kemudian, Sehun keluar dari kamarnya. Hanya mengenakan kaus putih lengan panjang dan celana putih panjang, rambut tembaganya terlihat sedikit berantakan. Sehun tidak membuka mulutnya, matanya tidak melirik dan hanya melangkah menuju dapur―ingin mengambil segelas jus.

“Yoona tidak mau makan”

Tangan Sehun terhenti saat ingin mengambil botol di dalam kulkas setelah mendengar ucapan hyung-nya. “Belikan makanan kesukaannya” Gumam Sehun lalu menuangkan jus kesukaannya pada sebuah gelas kaca bening.

“Dia tetap tidak mau memakannya” Raut wajah Luhan berubah. “Jangankan makan dan minum, menyentuh piring dan gelasnya saja tidak. Kumohon,” Luhan menelan salivanya dengan susah payah. Kini dia terdengar seperti merintih pelan. “Ajak dia makan”

“Kenapa aku?”

“Karena kau suaminya”

Sehun terdiam. Matanya beradu pandang pada iris cokelat di hadapannya. “Baiklah”

“Yoona ada di home theater” Beritahu Luhan.

***

            Oh, sialan. Umpat Yoona dalam hatinya.

Ia bersusah payah untuk membuka sebuah lemari kecil di bawah layar proyektor, tapi apa daya―perut besarnya membuatnya sedikit kesusahan. Film yang akan ditontonnya sudah siap, tapi selimut yang akan menamaninya nanti tak kunjung ia dapatkan, dan itu sudah cukup untuk membuatnya kewalahan.

Yoona mendesah. Apa perlu ia menonton tanpa selimut? Itu sebenarnya bukan ide yang buruk, tapi―sungguh―dia merasakan dingin sekarang ini. Ditambah dengan air conditioner yang sudah ia nyalakan sedari tadi.

Tapi sosok itu tiba-tiba datang. Membungkuk dan mengambilkannya sebuah selimut merah lalu memberikannya. Iris di hadapannya itu tampak hangat. Terakhir kali ia melihatnya, tadi pagi. Membicarakan masa lalunya. “Sertifikat rumah ini atas namaku, dan kau tidak mengajakku menonton di rumahku sendiri?” Sehun menyodorkan selimut merah yang baru saja ia ambil.

Yoona menelan salivanya dengan susah payah lalu menerima selimut yang Sehun ulurkan padanya. “Aku tidak ingin mengganggumu. Gamsahamnida”

***

            Sehun menggeser pintu home theater-nya tanpa suara, tidak ingin mengagetkan seseorang di dalam sana. Di tangan kanannya ada sebuah gelas berisi susu berwarna putih. Oh, rupanya perempuan itu belum memulai filmnya―mata Sehun mendapati Yoona sedang berusaha dengan susah payah untuk membuka sebuah lemari kecil di bawah layar proyektor.

Apa perempuan ini bodoh?

Sehun menghela nafas lalu melangkah masuk, membungkuk dan membuka lemari kecil tersebut. Mengambilkan sebuah selimut merah.

Untuk sejenak, Sehun menatap iris madu di hadapannya. Dan sejenak juga, ia seperti menonton sebuah film di dalam sana. Tenggelam terlalu dalam dan membuatnya kesusahan bernafas.

Film hidupnya selama delapan bulan terakhir ini.

“Sertifikat rumah ini atas namaku, dan kau tidak mengajakku menonton di rumahku sendiri?” Sehun menyodorkan selimut merah tersebut.

“Aku tidak ingin mengganggumu. Gamsahamnida”

Perempuan ini berlagak formal di hadapannya dan tidak berani menatap kedua matanya―tidak seperti biasanya. “Maafkan aku karena telah bersikap kasar kepadamu pagi tadi” Ucap Sehun lalu menyodorkan gelas yang ia bawa sedari tadi. “Sebagai bentuk permintaan maafku dan berhentilah bersikap formal seperti itu padaku. Kau terlihat seperti orang bodoh”

“Mungkin aku memang bodoh. Gomawo” Yoona meraih gelas tersebut lalu berbalik, menaiki tiga anak tangga dan duduk di kursi kulit merah di deretan paling belakang.

“Luhan hyung menyuruhmu makan”

“Aku akan makan”

“Sekarang”

“Tidak bisa”

“Wae?”

“Aku sedang sibuk”

“Kau hanya menonton” Iris pure hazel Sehun terputar. Yoona tidak membalas ucapan Sehun, matanya tertuju sayu pada layar proyektor yang telah menampilkan sebuah film. Baru saja mulai. “Jadi, kau benar-benar tidak mengajakku menontonnya bersamamu?”

Yoona mengalihkan pandangannya. Sehun masih dapat melihat iris madu itu. Tidak terlalu jauh dari pengelihatannya, tapi tidak bisa ia raih. “Mau menontonnya bersamaku?”

***

            “Apa ini film ini bergenre romance?” Sehun duduk di sebelah Yoona.

“Peter Pan” Yoona membenarkan.

Sehun mengalihkan pandangannya, menatap Yoona. Matanya sedikit membulat. “Peter Pan? Kau yakin? Peter Pan?”

“Ini film yang bagus” Yoona menatap Sehun balik. Oh, polos sekali tatapannya. “Film ini memberitahuku bahwa mengucapkan selamat tinggal berarti melupakan”

Sehun mendesah. “Yang benar saja, kau percaya dengan anak bertopi hijau yang tidak akan bertumbuh dewasa”

“Sst. Jangan berisik” Yoona menempelkan jari telunjuknya di depan bibir pink-nya lalu kembali menatap layar proyektor.

***

            Sehun tidak bergerak. Bahkan hanya untuk mengambil nafas lalu menghembuskannya saja ia sangat berhati-hati―tidak ingin membangunkan Yoona yang tiba-tiba tertidur di tengah film dan bersandar pada bahunya.

Sehun menoleh, menatap paras cantik di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.

“Yoona-ya. Ireona” Sehun berucap pelan, halus sekali. “Kau belum makan. Makanlah sekarang”

“Jika aku makan, kau akan menghadiahkan aku apa?” Tanya Yoona tiba-tiba, masih bersandar pada bahu kokoh Sehun.

“Besok kita akan pergi makan malam jika kau makan sekarang” Jawab Sehun pelan.

“Apa itu kencan?” Tanya Yoona, sedikit membuat Sehun tersontak―kaget.

Tapi, laki-laki itu tertawa. Iris pure hazel-nya tersenyum. “Ya, kurasa seperti itu”

“Kau ingin aku mengenakan gaun berwarna apa?” Suara Yoona terdengar pelan sekali.

“Putih terlihat bagus untukmu” Jawab Sehun.

“Baiklah. Maka kau juga harus menggunakan tuksedo berwarna putih. Itu perintah”

Sehun melirik arlojinya―waktunya tersisa kurang dari 12 jam.

***

            Tengah malam sekali saat Sehun merakit senjatanya untuk besok. Menyiapkan magazennya penuh dengan peluru logam khas miliknya―peluru yang terdapat ukiran pada permukaannya―dan suppressor-nya―bagian dari pistol untuk merendam suara tembakan.

Ia menghela nafas.

“Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu”

Oh, entah sudah keberapa kalinya ucapan Jongin yang satu itu terputar jelas di otaknya dan tidak berhenti.

Saat ia kehilangan Jinri hanya demi pekerjaannya, ia seperti kehilangan dunia untuk dipijaknya. Tidak ada yang seimbang pada dirinya. Dan Sehun menyadarinya seberapa gilanya ia saat itu.

Ia kembali menghela nafas.

Tapi, masa lalunya itu tidak akan merubah apa-apa.

Tidak akan ada yang berubah.

***

            “Sehun-ah, bangunlah”

“Sehun-ah”

Yoona menggoncangkan bahu laki-laki itu.

“Bangunlah. Sarapanmu sudah siap”

“Hey, selamat pagi” Ucap Sehun setengah sadar.

“Selamat pagi. Ireona” Oh, dengar. Suaranya halus sekali.

Sehun terlihat belum benar-benar membuka matanya saat ia bangkit dan melangkah menuju ruang makan. Sudah ada Luhan duduk di sana.

“Tidak biasanya kau bangun terlambat” Celetuk Luhan.

“Ada urusan yang harus kukerjakan hingga pagi tadi” Sehun membela dirinya. “Hyung”

“Mwo?”

“Mari pergi jogging bersama”

***

            Yoona berdiri di depan cerminnya. Gaun putih satin itu menjulur indah hingga ujung kakinya. Bagiannya punggungnya terbuka, memamerkan kemulusan kulitnya. Bibir pink-nya merekah bergairah, dan make-up-nya terlihat alami.

Apa ia sudah cukup cantik? Tanyanya pada dirinya sendiri sembari melihat bayangannya di hadapan cerminnya.

Yoona menghela nafas lalu melangkah keluar. Ia duduk di sofa dan menunggu Sehun untuk selesai bersiap-siap.

Tiga puluh menit kemudian, Sehun tak kunjung keluar. Membuatnya sedikit kesal dan memutuskan untuk menghampiri laki-laki beriris pure hazel itu.

***

            Sehun berdiri di depan pintunya. Lengkap dengan rompi anti pelurunya dan pistol dengan suppressor-nya.

Perempuan itu akan membuka pintunya dan ia hanya perlu menarik pelatuk. Ya, hanya itu yang perlu ia lakukan. Rencananya selama ini.

“Sehun-ah? Kau di dalam sana?” Tanya Yoona dari luar, mengetuk pintunya.

“Ne. Wae?”

Semakin lama, hanya untuk menelan salivanya saja sudah membutuhkan energi yang lebih banyak.

“Apa kau sedang bersiap-siap? Aku akan masuk”

“Buatkan aku susu, Sehun-ah”

            “Jaga Yoona, Sehun-ah. Itu perintah”

            “Dokter, lakukanlah yang terbaik yang bisa kaulakukan. Kumohon”

            “Aku akan baik-baik saja. Ada Sehun yang akan menjagaku”

            “Kau mencintainya. Perlu kutambahkan? Kau sangat mencintainya”

            “Kenapa kau ketakutan setengah mati saat menemukannya tidak ada di rumah dan rela mengelilingi seantereo Korea Selatan hanya untuk membawanya pulang? Kenapa?”

            “Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal untuk kedua kalinya. Hal itu baru terjadi satu tahun lalu, hanya karena ego binatangmu”

            “Apa itu kencan?”

            “Hanya aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawanya, bukan Kris. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, bukan dengan tangan siapapun”

***

            Yoona mengetuk pintu di depannya itu. “Sehun-ah? Kau di dalam sana?” Tanyanya.

“Ne. Wae?” Suara Sehun terdengar samar-samar.

“Apa kau sedang bersiap-siap? Aku akan masuk” Yoona memutar knop pintu lalu membukanya, tapi tiba-tiba Sehun mendorongnya. Membuat pintu kembali tertutup dan Sehun menguncinya dengan cepat. “Kau ingin mengintipku berganti celana?!” Sehun setengah berteriak dari dalam.

Yoona berdecak. “Jika kau berganti celana, kuncilah pintunya, babo!” Teriak Yoona tidak ingin kalah. Yoona melenggang dengan kesal, kembali terduduk di sofa. Mulutnya masih saja mengumpat Sehun saat laki-laki itu keluar dari kamarnya―siap dengan tuksedo serba putih kesukaan Yoona. “Kita akan makan dimana?”

“Kau sama sekali tidak tahu?” Tanya Sehun balik lalu mengulurkan tangannya.

Raut wajah Yoona sejenak terlihat bingung lalu ia menerima uluran tangan Sehun―menggenggamnya. “Apa aku tahu?”
“Kau sangat mengetahui tempat itu dengan baik” Jawab Sehun dengan sebuah senyuman kecil―menawan sekali―sembari melangkah bersama Yoona.

Yoona terlihat berpikir dalam. Tempat apa yang ia ketahui dengan baik? Well, pertama adalah rumah orang tuanya dan rumahnya ini. Oh, dan jangan lupakan gedung lembaga intelnya. Hanya itu saja yang ia ketahui dengan baik. “Beritahu aku” Pinta Yoona sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.

“Kau sama sekali tidak tahu?”

Iris madu Yoona terputar. “Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya kepadamu. Yang benar saja”

“Maka ini akan menjadi kejutan” Gumam Sehun.

“Beritahu aku terlebih dahulu”

“Masuk saja ke dalam mobil”

“Beritahu aku dan aku akan masuk ke dalam mobil”

“Masuk ke dalam mobil atau tidak ada makan malam” Oh, Sehun benar-benar tidak ingin mengalah kali ini. Ia sudah terlihat kesal.

Yoona berdecak. “Seharusnya aku membunuhmu dari dulu” Lalu masuk ke dalam mobil.

Hanya ada suara lagu yang mengalun di antara mereka, keduanya hanya terdiam. Sehun hanya fokus pada jalanan, dan Yoona yang masih menebak-nebak tempat makan malam mereka kali ini.

“Kau sangat mengetahui tempat itu dengan baik”

“Apa kita akan makan di rumah orang tuaku?” Tanya Yoona lagi, tapi setelah ia melihat jalanan―bahwa ia menuju Samsung-dong―sebuah tempat tiba-tiba tergambar di kepalanya. “Grand InterContinental Seoul Parnas. Yang benar saja”

Sehun tersenyum kecil lalu memutar setir mobilnya, memasuki parking areaGrand InterContinental Seoul Parnas―sebuah hotel besar yang menjadi saksi bisu pernikahannya bersama Yoona.

“Apa kita akan makan di Restauran Marco Polo atau Hakone?” Tanya Yoona lagi, tidak henti-hentinya sembari melangkah masuk bersama Sehun.

“Selamat malam, Tuan Sehun” Seorang laki-laki membungkuk dengan ramah.

“Selamat malam. Lakukanlah” Perintah Sehun, membuat kening Yoona mengerut. Lakukanlah?

“Baik, Tuan” Laki-laki tinggi berjas itu melangkah menuju belakang Yoona, menutup mata Yoona dengan sebuah kain biru tua. “Permisi, Nona”

“Oh, yang benar saja. Apa yang kaulakukan, Sehun-ssi?” Yoona terlihat jengkel sekali saat matanya tertutup oleh sekain biru tua.

“Bukankah sudah kukatakan ini adalah sebuah kejutan?” Tanya balik Sehun, meraih tangan Yoona―menyelipkan jemarinya di antara jemari Yoona.

“Apa menutup mata perempuan hamil seperti ini termasuk legal?” Oceh Yoona.

Sehun tidak menanggapinya, ia menarik tangan Yoona dan menjadi penunjuk arah jalannya. Sejenak, mereka berada di dalam elevator dan Yoona merasakannya, lalu kembali mengoceh. Sehun hanya tersenyum mendengar ocehan Yoona yang tidak henti. Setelah sampai di lantai lima dan kembali berjalan bersama, ketiganya―Yoona, Sehun dan seorang staff hotel yang menutup mata Yoona tadi―berhenti di depan dua buah pintu besar. Seorang staff lainnya juga sudah berada di sana.

“Kenapa berhenti? Apa sudah sampai?”

“Ya, kita sudah sampai” Jawab Sehun pelan dengan sebuah senyum tipis. Ia membiarkan seorang staff melepaskan kain penutup mata Yoona.

“Aku tidak suk―” Yoona otomatis menutup mulutnya saat melihat dua buah pintu besar di hadapannya. Lalu, senyumnya mengembang kecil.

“Selamat menikmati makan malam, Tuan Sehun dan Nona Yoona” Kedua staff itu bersamaan membuka kedua pintu besar tersebut, membiarkan Sehun menarik Yoona ke dalamnya.

“Yang benar saja” Yoona kehabisan kata-katanya kali ini. Bagaimana tidak, Sehun mengajaknya makan malam di tempat mereka menikah. Di Grand Ballroom gedung ini. Delapan bulan lalu, ruangan besar ini penuh dengan meja dan kursi―950 orang datang untuk memeriahkan acara pernikahan mereka―dan sekarang, hanya ada sebuah meja dengan dua kursi yang berhadapan di tengah ruangan dan sebuah panggung putih panjang seakan menuju altar―yang Yoona yakini sebagai panggung yang sama saat pernikahannya dulu.

“Kau menyukainya?” Tanya Sehun dengan sebuah senyuman kecil yang setia menggantung.

“Ini berlebihan” Jawab Yoona. “Tapi, aku menyukainya. Sangat” Sehun menarik sebuah kursi makan lalu membiarkan Yoona duduk terlebih dahulu. “Oh, yang benar saja” Yoona menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh―dia benar-benar tersentuh.

“Kau cengeng sekali” Sehun tertawa kecil lalu menyeka air mata Yoona saat terjatuh lagi.

Sesaat, mereka terdiam membiarkan seorang pelayan menghidangkan makan malam. Sebuah Sushi terhidang di hadapan mereka―makanan kesukaan Yoona. Yoona meraih sebuah gelas lalu mencium aroma minumannya. “Ini susu”

“Aku tidak akan membiarkanmu minum wine” Sehun menyesap minumannya―white wine yang akan selalu menjadi kesukaannya.

“Ini curang” Tukas Yoona, tidak terima bahwa malam ini ia tidak bisa mencicipi wine.

“Minumlah, susunya enak” Gurau Sehun enteng. “Itu buatanku”

“Kau membawa susu buatanmu ke sini? Jeongmal?” Mata Yoona setengah membulat.

“Aku membuatnya di dapur hotel ini” Sehun membenarkan.

“Gipeojin haru teum sai neoneun joyonghi dagawa. Eodumeul geodeonaego naui jameul kkaewo. Geurigon meoreojyeo yeollin changmun jeo neomeoro…”

Tiba-tiba ruangan luas itu dipenuhi dengan sebuah alunan lagu. Sehun bangkit dari kursinya lalu mengulurkan tangannya. “Mau berdansa?”

Jantung itu hampir tidak berdetak saat irisnya bertemu dengan iris pure hazel itu. Jika bisa lepas dari rangkanya, mungkin kini sudah lepas. Perempuan ini tidak bisa meredamnya dan ruam merah itu tiba-tiba muncul. Yoona tersenyum kecil, meraih tangan Sehun―dengan yakin. Sehun mengajaknya naik ke atas panggung putih tersebut, berjalan bersebelahan dengan tangan yang saling menggenggam seperti saat mereka menikah delapan bulan lalu. Berjalan bersama seperti menuju ke altar.

“Daheul suga eomneun angil sudo eomneun got. Sumyeon wie bichin geon geu sarami aniya. Irwojil su eomneun seulpeun neoui story…”

Keduanya saling berhadapan, berdansa seperti malam ini hanya milik mereka berdua.

“Apa?” Tanya Yoona saat Sehun menatap iris madunya sedari tadi.

“Kau sangat cantik malam ini” Jawab Sehun lalu tersenyum.

“Aku sangat cantik setiap harinya. Banggalah, banyak laki-laki di luar sana yang berlomba-lomba memperebutkan hatiku” Yoona tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri.

“Kau ingin mengatakan bahwa aku telah memenangkan hatimu?” Alis kiri Sehun terangkat, sebuah smirk-nya mengembang.

“Aku tidak mengatakan hal itu” Bantah Yoona pelan, mencoba sekuat tenaga untuk menahan ruam merah pada pipinya agar tidak keluar.

Tapi, manik madu hangat itu tidak bisa berbohong.

Ya, Sehun berhasil.

“Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah. Geu sarangmaneun… Stop, stop, stop, stop, yeah. Ireoke naega neol aetage bulleo. Dagagaji ma, babe, geu nalgaega jeojeuni…”

“Kau tidak pintar berbohong” Sehun tiba-tiba mencium bibir pink mungilnya. Lembut dan penuh gairah. Sedetik, Yoona membeku di tempatnya berdiri. Tidak dapat berpikir apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan―tapi ia lebih memilih untuk menutup matanya.

***

            Sehun membukakan pintu mobil dan membantu Yoona untuk turun. Keduanya melangkah bersama, masuk ke dalam rumah. Gelap, tidak ada satupun lampu yang dinyalakan dan itu membuat perasaan Sehun terasa aneh.

“Ah!” Erangan Yoona membuatnya berbalik, mendapati perempuan itu tiba-tiba terjatuh. Dan sedetik kemudian, sesuatu seakan menusuk lehernya, membuatnya juga ikut terjatuh―tertidur.

***

            BUK!

         BUK!

“Bangunlah!”

BUK!

“Bangun, br*ngs*k!”

Mata Sehun terlihat setengah terbuka. Hidung dan mulutnya tidak henti mengeluarkan darah, di sepanjang pelipisnya sudah terbentuk luka.

“Apa kabar, Oh Sehun-ssi?”

BUK!

         “Aku ingin memberikan rasa tinjuan yang sama seperti yang kau berikan padaku, tapi maafkan aku. Aku tidak bisa. Aku terlalu bersemangat kali ini”

BUK!

Tangan yang diselimuti tali rantai itu kembali mendarat dengan keras di wajah mulus Sehun.

“Masih ingat aku?” Laki-laki itu melebarkan kelopak mata Sehun dengan paksa.

“Pecundang Kim Minseok” Jawab Sehun parau. Iris pure hazel-nya seakan menantang Minseok.

“Kau benar-benar membuatku marah sekarang” Minseok melepaskan tali rantai pada baku tangannya lalu meraih sebuah pistol.

DOR!

         Sehun menahan teriakannya. Wajahnya berubah menjadi begitu pucat dengan cepat. Kaki kirinya berhasil ditembus oleh peluru yang baru ditembakan Minseok. “Aku masih mengingat rasanya. Apa perlu aku membuatmu membuka mulutmu?”

DOR!

         “AAAAAAAAAAHHH!!!” Teriakan Sehun benar-benar menggema dengan begitu keras. Tidak dapat di tahannya. Kaki kanannya kembali kena tembak.

DOR!

         Mulut Sehun terasa penuh dengan darah saat Minseok kembali menembak perutnya. Minseok melangkah, memasukkan ujung pistolnya ke dalam mulut Sehun. “Aku belajar dari dirimu bahwa menembak seseorang akan terasa jauh lebih nikmat jika melewati mulutnya ketimbang harus meledakkan kepala mereka”

“Tenanglah, Minseok-ah. Aku yang akan membunuhnya” Suara berat itu―oh, betapa Sehun mengenalinya.

Kris Wu.

Minseok menarik pistolnya, membiarkan Kris berbicara dengan Sehun.

“Selamat datang kembali, Sehun-ah. Senang melihatmu―”

Sehun meludah. Sudah tidak peduli lagi.

“Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk hidup tapi kau menyia-nyiakannya. Aku sangat kecewa kepadamu, Sehun-ah” Kris membuka percakapan di antara mereka. “Kau seharusnya membunuhnya, tapi kau biarkan dia bernafas hingga saat ini” Mata Kris tertuju pada sebuah brankar dorong yang biasa terdapat di rumah sakit. Tapi mata Sehun tidak tertarik pada brankar dorong tersebut, melainkan sosok yang berbaring di atasnya.

Masih bergaun putih dan sedang tertidur pulas.

Oh, sialan. Umpat Sehun dalam batinnya. Ia ingat bagaimana ia bisa terdampar di sini. Kris pasti menyuruh anak buahnya menyusup ke dalam rumahnya dan menembak dirinya dan Yoona menggunakan senapan bius. Itu pasti terjadi.

“Aku sedang berpikir, siapa yang harus kubunuh terlebih dahulu?” Tanya Kris lagi. Mata tajamnya tertuju pada Sehun―dia tidak main-main sekarang. “Kau atau,” Lalu iris pearl grey-nya menuju ke arah Yoona. “Dia”

“Sedikit saja kau sentuh dia, kupastikan kau akan menungguku di Neraka mulai hari ini juga” Gertak Sehun.

“Aku menyukai ancamanmu. Tapi,” Kris melangkah, mendekati Yoona. Di tangannya sudah ada sebuah pistol dan ditujukan ke kening Yoona. “Itu tidak berarti apa-apa untukku”

Rahang Sehun mengeras. Ia memberontak, mencoba melepaskan tangannya dari rantai yang membelitnya tapi tidak berarti apa-apa.

Dia tidak berdaya kini.

Boom” Kris seakan menyuarakan suara tembakannya. Iris pure hazel Sehun semakin menegang. Ia membayangkannya dengan nyata sekali di dalam otaknya dan mulai menyadari―bahwa ia ketakutan.

“Jangan terlalu tergesa-gesa, hyung” Seorang laki-laki datang, ikut memeriahkan ruangan yang notabene adalah ruangan Kris. Berjalan dari belakang Sehun lalu berdiri di depannya. Membungkuk dan berhadapan dengan Sehun begitu dekat. “Kita bertemu lagi, Sehun-ah”

Sehun tidak membuka mulutnya. Kedua iris berbeda warna itu masih saling bertatap dengan ganas, seakan berperang di dalamnya.

“Aku sangat prihatin dengan keadaanmu sekarang, Sehunnie”

“Jangan pernah kau ucapkan namaku,” Sehun meludah lagi, tepat mengenai wajah di hadapannya. “Ular”

“Akan kupastikan kau mati di tanganku” Suho―laki-laki yang baru diludahi Sehun tadi―segera membersihkan wajahnya.

“Harus kuakui, kau cukup berani meludahi adikku” Gumam Kris, menjauh dari Yoona tapi langkahnya semakin dekat dengan Sehun. “Jangan kaget seperti itu. Suho memang adikku. Perkenalkan identitas aslinya, Wu Joonmyeon”

“Annyeonghaseyo, Oh Sehun-ssi. Wu Joonmyeon imnida” Pria berjas rapih itu membungkuk formal.

“Selain menjadi adikku, dia menjadi agen intel terbaikku di dalam lembaga negara” Kris tersenyum kecil.

 

Flashback

            “Bagaimana keadaan internal lembaga intel?” Tanya Kris.

            “Pimpinan memutuskan untuk menangkap hyung sebagai tugas selanjutnya. Dia sudah mengeluarkan misinya” Jawab Joonmyeon as known as Suho yang duduk di hadapannya.

            “Siapa agen yang mendapatkan misi itu?”

            “Yoona. Im Yoon Ah” Jawab Suho singkat. “Dia adalah agen intel perempuan terbaik” Suho menyerahkan sebuah map berisi data seorang perempuan yang bernama Im Yoon Ah. “Apa yang hyung lakukan setelah ini?”

            Kris terlihat terdiam sejenak. Ia bersandar pada kursi kulitnya lalu menatap langit ruangannya. “Bukankah yang terbaik juga harus menghadapi yang terbaik? Bukankah begitu, Joonmyeonnie?”

            “Ne, hyung”

            “Maka aku juga akan membunuhnya. Aku akan memberikan misi ini kepada Sehun”

            “Oh Sehun? Sniper itu?”

            “Ya. Dia adalah satu-satunya sniperku yang paling hebat”

*

            “Ada apa?”

            “Aku ingin kau membunuh perempuan ini” Kris menyodorkan sebuah foto. “Kau bisa melakukannya untukku?”

            Setelah memerhatikan foto sejenak, Sehun mendongak. “Dengan senang hati”

*

            “Aku menyuruhmu membunuhnya, bukan menghamilinya!” Kris menggebrak mejanya.

            “Tenang saja, aku akan tetap membunuhnya setelah aku menikah dengannya”

            “Menikah? Kau akan menikah dengan Yoona?! Kau akan menikah dengan agen intel itu?! Kau bisa membahayakan pasar!”

            “Tidak akan ada bahaya. Percayalah padaku. Aku bisa menanganinya”

*

            “Apa Yoona menceritakan sesuatu kepadamu?” Tanya Kris kepada adik sematawayangnya.

            “Tidak ada. Tapi kurasa dia menceritakan semuanya langsung kepada Lee sajangnim. Yang kuragukan adalah jika Sehun telah membocorkan rahasia pasar kepada Yoona”

            “Lee sajangnim” Kris menggumamkan nama tersebut, bersandar lalu melihat langit ruangannya. “Kau harus merebut posisinya”

            “Sudah kulakukan delapan puluh persen. Hanya menunggu waktu” Jelas Suho.

            “Kita harus membunuh mereka” Gumam Kris.

            “Membunuh Yoona?” Suara Suho meninggi.

            “Dan Sehun” Tambah Kris.

            “Jika kita membunuh Yoona, sebagian agen intel akan ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematiannya. Aku yakin itu”

            “Kalau begitu, mari kita buat dengan dramatis”

            Pintu itu terketuk. Membuat Suho harus bersembunyi di dalam kamar mandi Kris. “Jongin?”

            “Aku sudah menyelesaikan tugasku” Jongin memberikan sebuah amplop cokelat.

            Kris mengeluarkannya secara tidak sabar, melihat beberapa hasil jepretan salah satu anak buahnya tersebut. Foto Sehun dan Yoona. “Siapa mereka?” Kris menunjuk seorang perempuan dan laki-laki yang bersam Sehun dan Yoona di sebuah taman.

            “Park Chanyeol dan Choi Sooyoung. Mereka adalah sepasang kekasih yang akan menikah minggu depan dan juga merupakan sahabat Yoona”

            “Sahabat?”

            “Ne”

            “Jika aku bertanya padamu, apa Sehun dan Yoona akan datang ke malam pernikahan mereka minggu depan?”

            “Aku jamin seratus persen mereka akan datang” Jawab Jongin mantap.

            “Great” Kris melepaskan foto tersebut lalu menatap Jongin. “Aku ingin kau menaruh bom di gedung pernikahan mereka. Apa kau bisa melakukannya untukku?”

            “Ne, aku bisa”

*

            “Aku melihatnya di pemakaman Sooyoung dan Chanyeol. Yoona dan Sehun” Beritahu Suho melalui ponselnya. “Aku sedang mengikuti mereka. Kurasa mereka menuju Busan”

            “Busan” Di ujung sana Kris menggumam. “Belikan Yoona makanan kesukaannya dan jangan lupa campurkan Sianida di dalamnya. Itu akan membuatnya semakin terasa lezat”

*

            “Yoona datang ke gedung tadi. Dia tahu bahwa Sushi yang kuberikan mengandung Sianida. Dia tidak memakannya sedikitpun”

            Kris menghela nafas. “Baiklah. Aku akan turun tangan untuk rencana kali ini”

*

            “Oh Sehun-ssi?” Kris menempelkan ponselnya di telinganya. “Bisakah aku berbicara denganmu?”

            “Ada apa?” Suara Sehun mendingin.

            “Datanglah ke basecamp. Aku memiliki penawaran yang berharga nyawa untukmu,” Kris tersenyum kecil. “Dan Yoona”

*

            “Dia menerima tawarannya, hyung?”

            “Ya, dia menerimanya. 50 jam lagi kau akan mendapatkan undangan pemakanan Yoona”

            “Bagaimana dengan Sehun? Hyung akan membiarkannya hidup?”

            “Ya, aku akan membiarkannya hidup”

 

“Dan setelah kupikir, akan lebih baik untukmu melihat istrimu mati lebih dulu. Bukankah begitu?”

Sehun kembali memberontak. Seakan sesuatu di dalam dirinya tidak bisa ia kendalikan, tapi rantai yang melilit tangannya menghalanginya.

“Kau terlalu bersemangat, Sehun-ah” Kris tersenyum kecil.

Sehun mencondongkan badannya. “Demi Tuhan, aku akan membunuhmu!”

“Bagaimana? Bagaimana kau membunuhku? Jelaskan padaku, Sehun-ah. Bagaimana kau membunuhku saat aku bisa membunuhmu dan Yoona saat ini juga?”

Mulut Sehun terkatup dengan erat. Ia sudah tidak sepenuhnya bertenaga. Kehilangan banyak darah membuatnya kesulitan kali ini.

“Aku akan membunuh Yoona dan Joonmyeon akan membunuhmu. Apa kita setuju?” Kris menyiapkan pistolnya. “Kurasa semuanya setuju”

Mata Sehun tidak bekedip saat Kris benar-benar melangkah mendekati Yoona. “Kris! KRIS!”

“Wae, Sehunnie?” Kris berbalik. “Kau tidak ingin aku membunuhnya?”

Sekujur tubuh Sehun membeku begitu cepat. Jantungnya tidak cukup kuat untuk berdetak. “Mau menemaniku berhitung? Kita mulai dari 3”

“Tiga” Kris memulai hitungannya.

“KRIS!”

“Dua”

“KRIS! TIDAK! KUMOHON!”

“Satu setengah”

“AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA YANG KAU MINTA! JANGAN BUNUH DIA!! SUNGGUH!”

“Satu”

“Bunuh aku, bukan dia” Sehun kehabisan nafasnya. Air mata setitik terjatuh. “Bunuh aku, bukan dia”

“Baiklah. Aku akan membunuhmu lalu membunuh Yoona” Kris mengarahkan pistolnya ke kepala Sehun.

***

            Yoona ada di sana. Dia sadar. Dia mendengarkan semuanya. Mengetahui semuanya. Hanya saja matanya berlagak tertutup.

Siapa Suho yang sebenarnya.

Apa rencana mereka selanjutnya.

Siapa yang akan membunuhnya dan siapa yang akan membunuh Sehun.

“Mau menemaniku berhitung? Kita mulai dari 3” Yoona merasakan ujung pistol itu menyentuh keningnya.

Hidupnya akan benar-benar berakhir kali ini. Pikir Yoona.

“Tiga” Kris memulai permainannya.

“KRIS!” Ia kembali mendengar suara Sehun. Bagaimana bisa laki-laki itu berteriak sekeras itu saat tiga peluru sudah bersarang di dalam tubuhnya? Ya, Yoona mendengar suara tembakan dan teriakan Sehun itu―cukup membuatnya juga ingin berdarah dan mati.

“Dua”

“KRIS! TIDAK! KUMOHON!”

“Satu setengah”

“AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA YANG KAU MINTA! JANGAN BUNUH DIA!! SUNGGUH!”

Ada apa denganmu, Oh Sehun?

            Bukankah kau juga menginginkanku mati?

            Dan sekarang kau berkata akan melakukan apa saja agar aku tetap hidup?

            Ada apa denganmu, Oh Sehun?

“Satu”

“Bunuh aku, bukan dia” Ucapan Sehun membuat Yoona tidak dapat berpikir apa-apa. Membuat nafas Yoona tidak lebih berharga daripada seorang Oh Sehun. “Bunuh aku, bukan dia”

“Baiklah. Aku akan membunuhmu lalu membunuh Yoona”

         DOR!

         DOR!

         DOR!

TBC

Author’s Note: Terimakasih banyak untuk semua readers yang udah comment. I love you to the moon and back ❤ Dan selamat ulang tahun untuk inspirasi terbesar saya -Im Yoon Ah ❤

Advertisements

19 thoughts on “TAKE ME (I’M YOURS) [6]

  1. Hay aku komen di personal wp mu yah. Hehehe. Oh god, this ff is sooooo epic!!! Andaikan aku sutradara film dgn senang hati aku akan buat film based on this ff. As usuall, aku gak bisa nebak apa yg akan terjadi pada 2 manusia berbeda jenis yg juga jadi inspirasiku. I’m speechless to leave a comment for real.

    Like

  2. ohmigott
    aku nggak bisa baca ini, aku nggak kuat, ini terlalu menegangkan *sokdramatis -_-”
    keren… feelnya dapet banget, sampe deg-degan bacanya
    kritik:
    kurang panjang *seenaknya sendiri, terlalu bikin penasaran

    Like

  3. ahh, saeng buat pnasaran.. aishh.
    aku tidak bisa menebak, kamu slalu buat kjutan di smua ff kamu.
    cuma brharap happy ending^^

    Like

  4. OMG…
    Ituuuuuu…
    harus cepett2 ada kelanjutannya thor…
    gak sabar banget…
    Yoona km kenapa sakit hati banget sama jinri???
    sehun udah sayang sama kamu…
    tenang ajaaa…
    sehun so sweet bangetttt..
    dia bener2 mau minta maaf dan cinta mati sama yoona…
    suho??? adik kris?? whatttt???
    intel yg dikuasai mafia kelas kakap..
    miris bangetttt….
    andweeeee..
    kris jangan bunuh sehun yoona….
    andweee

    Like

  5. chingu jgn bwt sehun sm yoona mati! sungguh diakhir part ini bwt aq tegang jgn smpe kris jd nembak sehun dan yoona.
    chingu lanjut ceritanya jgn lama” d.publish ya? aq penasaran tingkat akut nih:P hehe

    Like

  6. Aduh Saeng.. Ini benar2 menegangkan kau tau.
    Aku berharap YoonHun Baik2 saja..
    Asli baru tau kalau Suho adiknya Kris.. Wow.. Ini kejutan??
    Semoga next partnya ngga lama..
    Fighting!

    Like

  7. OMG Helloooo…. Authorku tercinta apa yg terjadi sama sehun dan yoona…hiks..hiks…hiks
    oh my baca ini part berasa ga bisa nafas….huuuhhh tegaaanggg!!
    Semoga ada yg nyelametin yoona dan sehun…amiin!
    Ditunggu lanjutnya thor 😉

    Like

  8. estege author,
    dapet inspirasi darimana?? sering nonton film action yaa..
    sumpehh deh ini berasa nonton film lewat untaian kalimat/?/
    bisa banget author nyambunginnya, jadi pas baca rada gak nyangka :3

    aku kaget suho itu adiknya kris?
    jelas banget selama ini intel gak bisa jatuhin kris, adiknya aja kerja disana :3

    dan pas aku baca dari awal, itu sehun sebenarnya udah mau ngebunuh yoong ya? tapi gak bisa, ahh aku yakin seyoon udah ada rasa satu sama lain *semoga

    ihh bener-bener panas dingin tau gak sih author >.< keep.writing

    Like

  9. Sumpah cerita nya keren pake banget, Author memang hebat hehehe 🙂
    Masih penasaran Hubungan Yoona sama Sehun
    Jangan sampe kris bunuh Yoonhun. -,-
    Lanjutkan Thor, keren bingggiiittt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s