Carelessness

Carelessness

by

Clora P. Darlene

starring

Jessica Jung | Kris Wu

Poster by elevenoliuArtFantasy

Jessica Jung―idol terkemuka seantereo Korea Selatan―menghela nafasnya.

Oh, sakit sekali rasanya.

Eonni?”

“Keluarlah, Soojung-ah. Aku ingin sendiri” Jessica yang berdiri di dekat jendelanya tidak berbalik atau hanya sekedar berpaling. Mencoba bersuara senormal mungkin, tidak ingin adiknya itu tahu bahwa ia sedang terisak parah sekali.

Were you okay, sis―”

“KELUARLAH, SOOJUNG! SUDAH KUKATAKAN PADAMU!” Bentak Jessica keras sekali, membuat Soojung―as known as Krystal dari girlband f(x)―membeku sejenak. Akhirnya perempuan yang berumur lebih muda itu menutup pintu kamar kakaknya tanpa suara.

Sudah tujuh minggu terakhir ini Jessica menjadi lebih sensitif dari biasanya. Ia sering menyindiri di kamarnya, atau tertawa dan tersenyum hambar di tengah kerumunan.

Dan untuk ke sekian kalinya, Jessica Jung kembali terjatuh. Kulit mulusnya mencium dinginnya lantai marmer kamarnya karena alasan yang sama―tidak bisa menerima kenyataan.

Apa kisah cinta selalu separah ini?

Atau Tuhan hanya menakdirkan kisah cinta seperti ini kepadanya?

Apa itu adil?

Jessica memegangi dadanya. Remuk sekali rasanya dan akan terus meremuk hingga batas waktu yang tidak pasti. Ia perlu bertahan. Ia harus bertahan. Entah bagaimana caranya, tapi Jessica Jung harus berdiri sendiri, tanpa seorang Kris Wu di sebelahnya.

Bulir-bulir air mata itu mulai berjatuhan membahasahi lantai, seiring dengan sakit yang terus menusuk.

 

“Kudengar Kris sedang berkencan dengan Xu Jinglei”

“Xu Jinglei?”

“Direktur dari film pertama Kris”

“Somewhere Only We Know, maksudmu?”

“Ya, begitulah”

 

Jessica mendengar percakapan dua staff SM itu dengan kedua telinganya sendiri. Dia tidak salah dengar dan saat ia ingin membuktikannya, ia masuk ke dalam dunia maya. Mengubek-ubeknya untuk mencari berita terbaru mengenai Kris.

Dan, ia benar-benar menemukannya. Membacanya dengan mata kepalanya sendiri.

Kris Wu sedang memanaskan khalayak dengan berita kencannya―itu sama saja mencoba untuk membunuh Jessica pelan namun pasti.

 

…Hubungan mereka adalah fakta…”

 

Jessica masih ingat betul setiap kalimat yang dicantumkan dalam berita tersebut. Terngiang-ngiang di kepalanya dan tidak bisa ia hentikan. Ia menutup kedua telinganya dengan tangannya, menekan dengan keras dengan harapan ia tidak dapat mendengarnya lagi.

“AAAAAAAAAHHHHH!!!”

Tangannya bergetar. Tubuhnya bergetar. Dirinya bergetar.

Jessica Jung sedang tidak baik-baik saja.

“Eonni!” Krystal dengan cepat berlari dan memeluk Jessica yang meringkuk di lantai. “Ada apa, eonni?”

Jessica terdiam lalu menegakkan tubuhnya. “Aku baik-baik saja. Hanya stress. Kau beristirahatlah, jadwalmu sudah mulai memadat semenjak Red Light rilis” Jessica tersenyum manis, menatap adik sematawayangnya.

Krystal menatap Jessica tidak percaya―kaget, sebenarnya. Perempuan ini baru saja berteriak seperti orang kesakitan dan kini mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja?

Atau mungkin, kakaknya ini memang baik-baik saja. Ia juga pernah merasakan stress berat akibat jadwalnya yang terlalu padat, seakan tidak memberikannya ruang untuk menghela nafas. Terlebih lagi, jadwal Girls’ Generation lebih padat dari jadwal grupnya. Kakaknya ini pasti sedang merasakan stress yang jauh lebih berat dari yang ia rasakan. Pikir Krystal.

“Maafkan aku karena membentakmu tadi. I’m so sorry, Soojung-ah. I really didn’t mean it

It’s okay. I’m fine with that” Krystal tersenyum tipis.

Jessica berbaring di atas ranjangnya. Tangannya sibuk menyentuh layar ponselnya dan matanya sibuk membaca pesan-pesan lamanya dengan Kris―yang belum ia hapus.

Semenjak Kris pergi ke China karena telah menggugat agensi, Jessica jarang sekali mengontak laki-laki itu. Oh, bukan. Itu penjelasan yang salah. Kris-lah yang tidak pernah mengontaknya. Mengangkat telpon Jessica atau hanya membalas pesan yang dikirimkan Jessica―Kris tidak pernah melakukan itu lagi.

Jessica telah mengirimkan 511 pesan selama tujuh pekan ini dan satupun tidak mendapatkan balasan dari Kris.

Oh, mungkin, laki-laki itu sedang sibuk dengan kencannya bersama Xi Jinglei. Tiba-tiba pikiran itu melesat lewat di otak Jessica dan membuat Jessica berhenti membaca pesan-pesan bodohnya yang mengatakan bahwa ia merindukan Kris.

Jessica turun dari ranjangnya, menaruh ponselnya di meja riasnya lalu duduk di depan kaca riasnya. Menatap lekuk wajahnya yang sempurna. Ia memerhatikan bayangan wajahnya lekat-lekat.

“Aku memiliki mata yang lebih bagus dari matanya” Jessica melirik ponselnya yang menampilkan foto Xu Jinglei. “Bibirku terlihat lebih sempurna dari miliknya” Ia melanjutkan lalu kembali melirik ponselnya. “Aku lebih cantik dari Xu Jinglei, dan mengapa Kris―” Mulut Jessica terkatup rapat seketika. Tangannya berhenti menelusuri garis rahangnya yang indah. Ujung jemarinya membeku.

Untuk apa mata yang lebih bagus, bibir yang terlihat lebih sempurna dan kecantikan yang melebihi Xu Jinglei jika yang Kris inginkan adalah Xu Jinglei, bukan dirinya?

Jessica meringis setelah menemukan fakta itu.

“Cuti?!”

“Hanya tiga hari, oppa” Jessica tersenyum lebar, memamerkan puppy eyes-nya. “Please

“Kau masih ada syuting, Sica-ya” Wajah manager oppa-nya memucat.

“Aku tahu. Maka dari itu, aku hanya meminta cuti selama tiga hari. Tidak lebih” Jelas Jessica.

“Apa yang akan kau lakukan selama tiga hari cuti?”

“Aku memiliki urusan yang harus segera kutangani” Jawab Jessica.

“Kau tidak bisa melakukannya”

“Wae?” Mata Jessica menyipit dan garis rahangnya menegas―ia menjadi lebih serius.

“Kau masih terikat dengan kontrak, itu mengapa kau tidak bisa melakukannya” Manager-nya menghela nafas. “Kau bisa terkena penalti”

“Kalau begitu,” Jessica menggantungkan ucapannya lalu berdiri. “Aku akan membayar penaltinya. Jangan khawatir. Gamsahamnida, oppa” Jessica membungkuk lalu pergi.

Prague Václav Havel Airport, Prague, Czech Republic.

4:31 PM.

Jessica Jung menurunkan topinya. Di balik kacamata hitamnya, matanya sedang sibuk mencari-cari sosok yang ia kenali di bandara yang amat terangat asing baginya. Ini adalah kali pertamanya ia datang ke Republik Ceko―Praha, lebih tepatnya―sendirian. Tanpa seseorang yang biasa mengurus segalanya untuknya―manager oppa-nya.

Jessica membenarkan letak masker-nya, berharap tidak ada satu orang pun yang mengenalinya sebagai sosok Jessica Girls’ Generation. Well, dia sudah mengecat ulang rambutnya menjadi warna Hitam dan menggerainya, tanpa mengcurlynya. Mengenakan topi, kacamata hitam, masker, dan mantel berkerah tinggi untuk menyembunyikan identitas aslinya―kecuali kepada petugas di bagian imigrasi itu.

“Jess!”

Jessica langsung menempelkan jemari telunjuknya pada masker-nya saat seseorang yang ia tunggu akhirnya muncul, mengisyaratkan untuk tidak memanggil namanya begitu saja dengan suara yang cukup lantang.

Mian” Ucap laki-lai berkacamata itu. “Kajja” Laki-laki itu membantu Jessica untuk menggeret kopernya dan masuk ke dalam sebuah mobil Hitam. “Kau benar-benar datang”

“Sudah kukatakan, aku akan datang, gege” Jessica akhirnya dapat bernafas lega. Ia melepaskan topi, kacamata dan masker-nya.

“Kau cukup berani” Timpal laki-laki itu lagi lalu mulai menjalankan mobilnya. “Apa kau tidak memikirkan bagaimana cara melarikan diri atau apa yang harus kau katakan saat konfrensi pers jika kau tertangkap kamera sedang melakukan perjalanan sendirian di Praha?”

“Aku tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Aku hanya memiliki waktu tiga hari dan aku telah membuang satu hariku hanya untuk perjalanan menuju Praha” Gumam Jessica.

“Kau membuang tiga harimu hanya untuk Kris” Laki-laki itu―Zhang Wei―merupakan manager Kris.

Jessica terdiam. Mengatup mulutnya rapat-rapat.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Jessica pelan lalu membuang mukanya. Tidak ingin manager Kris itu menyadari perubahan raut wajahnya.

“Dia baik-baik saja. Dia terlihat menikmati dunia seni peran”

Bahkan tanpaku?

Good” Timpal Jessica singkat. “Gege sudah mengurus hotelku?”

Hari keduanya di Praha dan inilah saatnya.

Jessica menaruh seluruh harapannya pada hari ini. Hanya hari ini yang ia miliki.

Jessica mengenakan kacamatanya saat manager Kris mengirimkan pesan bahwa ia sudah menunggu Jessica di lobby hotel. Ia melangkahkan kakinya, kepalanya ia tundukkan untuk menghindari orang-orang yang bisa saja mengenalinya dalam balutan mantel cokelat itu.

“Kita akan sampai saat break time” Jelas Zhang Wei singkat. “Jadi akan banyak kru dan pemeran yang berlalu-lalang. Jangan sampai terlihat, Jessie”

I got it, sir

“Apa yang akan kau lakukan?”

Jessica menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. “Aku tidak mengerti pertanyaan gege

“Apa kau akan menemuinya? Face-to-face? Berbicara dengannya? Aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya kau lakukan dan untuk apa kau melakukannya”

Jessica bungkam. Ia membuang mukanya, menatap jalanan dari balik jendela kaca mobil. Banyak hal yang ingin ia lakukan. Ia ingin menatap Kris, lalu menampar laki-laki itu, marah kepadanya dan mencacimakinya―karena tidak membalas satu pun pesan yang Jessica kirimkan kepadanya.

Woke up, Jess. Jessica berkata kepada dirinya sendiri.

“Aku hanya ingin melihatnya. Itu saja” Akhirnya Jessica menjawab diikuti dengan helaan nafasnya.

“Apa kau datang karena berita Kris dan Xi Jin―”

“Jangan menyebut namanya, please” Potong Jessica. Raut wajahnya kembali berbubah.

Jessica berdiri di atas heels-nya, matanya memandang lurus ke depan sana dari balik kacamata Hitam kesukaannya. Angin menerpa rambutnya, mengibaskan surai Hitam legam itu di udara. Bibir pink kemerahannya mengatup rapat. Sudah tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.

Laki-laki itu berdiri di jauh sana.

Mengenakan tuksedo Hitam dengan rambut spikey yang biasanya akan Jessica elus.

Berdiri tegap dengan mata yang memandang beberapa lawan mainnya.

Lalu, tersenyum.

Deg.

Untuk kesekian kalinya, seorang Jessica Jung kembali jatuh cinta pada orang yang sama.

“Hanya ini yang kau lakukan?”

Zhang Wei membangunkan Jessica dari mimpinya. “Hanya ini yang bisa kulakukan” Jawab Jessica lalu menarik nafas panjang dan menghelanya.

“Beritahu dia jika kau ada di Praha sekarang, Jess” Zhang Wei membuka sarannya. “Setidaknya kalian bisa berbicara”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, gege

“Mengenai hubungan kalian, maksudku” Zhang Wei membenarkan.

Jessica kini tidak menjawabnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, sebenarnya. Hubungannya dengan Kris? Bahkan Jessica tidak tahu lagi hubungan apa yang sedang ia jalani sekarang. Jessica tidak tahu lagi mengapa ia masih memperjuangkan Kris saat laki-laki itu bahkan sedang berkencan dengan direkturnya sendiri.

Jessica mendapatkan mata Kris mendapatkannya. Raut wajah laki-laki itu berubah dan membuat Jessica membalikkan badannya. “Kita harus pergi”

Kris masih bingung dengan pengelihatannya.

Apa perempuan itu Jessica?

Apa Jessica ada disini? Di Praha? Di lokasi syutingnya sekarang

Perempuan berambut Hitam itu segera membalikkan dirinya dan melangkah begitu saja. Meninggalkan tempatnya berdiri tadi.

Dan, lihat.

Kris mendapati sosok managernya sedang mengikuti si perempuan itu.

“Darimana saja?” Kris membuka suara beratnya saat managernya―Zhang Wei―baru muncul di hadapannya.

“Pergi membelikanmu kopi” Zhang Wei menyodorkan sebuah cup kopi pada Kris. “Kenapa?”

“Aku ingin meminjam ponsel. Ponselku mati. Aku ingin menelpon ibuku” Jelas Kris.

“Baiklah” Zhang Wei menyodorkan ponselnya lalu dengan gelagak normal, Kris menerimanya. Kris membuka logs-nya, melihat berbagai panggilan masuk ataupun keluar.

Lalu, tangan Kris terdiam. Berhenti menyentuh layar ponsel Zhang Wei.

JessJ.

Kris dengan cepat membuka kotak masuk pesan Zhang Wei―ingin memastikan. Dan nama itu lagi-lagi ada di antara banyak pesan masuk.

 

From: JeesJ

            Gege dimana? Aku sudah di bandara.

 

            From: JeesJ

            Aku segera turun.       

 

            From: JeesJ

            Gege tidak memberitahu Kris bahwa aku sedang di Praha, bukan?

 

“Ada apa?” Zhang Wei rupanya menyadari raut wajah Kris yang membeku.

Kris mendongak. Matanya menajam menatap mata managernya lalu memerlihatkan layar ponsel Hitam itu. “Jessica ada di Praha?”

Jessica melangkahkan kakinya menuju pintu kamar hotelnya. Seseorang datang dan  ia sudah menebaknya―Zhang Wei. Well, dia tidak memesan room service dan satu-satunya orang yang mengetahuinya ada disini adalah Zhang Wei.

Jessica masih berbalut mini black dress-nya dengan desain floral  menarik pintu tersebut. Baru saja mulutnya terbuka, kembali mengatup. Matanya membulat.

“Hai, Jessica Jung Sooyeon-ssi

Suara berat itu.

Tangan Jessica mulai bergetar pelan. Rahangnya mengeras dan ia tidak bisa mengendalikan matanya yang mulai berair.

Kris masuk begitu saja ke dalam kamar hotelnya tanpa seizinnya. Butuh beberapa detik untuk mengembalikan Jessica ke dunia dimana tempat ia berpijak. Jessica menutup pintu kamar hotelnya lalu berbalik.

Jessica meninggikan dagunya, mencoba terlihat setegas mungkin. “Ad―”

“MENGAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU BAHWA KAU ADA DI PRAHA?!!!” Bentak Kris secara tiba-tiba. Menatapnya dengan mata penuh amarah dan membuat Jessica terkejut.

Boom.

Pertahanan Jessica runtuh begitu saja. Bentakan Kris barusan keras sekali untuknya. Sangat keras, lebih tepatnya. Seakan Kris baru saja menatapnya lalu menamparnya, marah kepadanya seperti setan dan mencacimakinya.

Apa ini salahnya? Salah Jessica Jung?

Apa ia salah karena datang ke Praha hanya untuk melihat kekasihnya? Kris Wu?

Apa ia salah? Tolong siapa saja, jawab pertanyaan Jessica.

“Mengapa kau tidak memberitahuku?” Melihat Jessica yang masih terdiam seperti patung, Kris kembali membuka suaranya. Menyuarakan pertanyaan yang sama.

“Apa gunanya memberitahumu?” Bodoh. Umpat Jessica dalam hatinya. Tidak seharusnya nadanya sedingin itu dan bertanya pertanyaan sekasar itu.

Kini giliran Kris membungkam. Sorot matanya tampak terkejut menatap Jessica yang juga memandangnya.

“Mengapa kau datang ke sini?” Kris mengganti pertanyaannya.

“Berlibur” Jawab Jessica singkat, melangkah menuju sebuah meja lalu menuangkan wine pada sebuah gelas.

“Apa lokasi syutingku adalah tempat wisata?”

Oh, shit. Umpat Jessica lagi dalam hatinya. Laki-laki ini tahu bahwa Jessica datang ke lokasi syutingnya.

“Aku tidak mengerti maks―”

“‘Gege tidak memberitahu Kris bahwa aku sedang di Praha, bukan?’” Tangannya Jessica terhenti untuk meraih gelas berisi wine-nya saat Kris selesai memotong ucapannya. Ia tahu pasti apa maksud di balik kalimat yang baru saja diucapkan Kris―laki-laki ini telah membaca isi pesan yang ia kirimkan untuk Zhang Wei. “Kenapa aku tidak boleh tahu jika kau sedang berada di Praha, Miss Jung?”

Nafas Jessica tercekat. Jemarinya mulai membeku. Alasan mengapa ia tidak ingin memberitahu Kris adalah karena ia tidak siap jika harus bertemu Kris―seperti ini. Jessica tahu bahwa ia tidak akan kuat untuk berakting tegas dan berlagak tidak peduli. Jessica takut untuk menyadari seberapa jauh dirinya dengan Kris saat ini.

Ia berbalik, menatap Kris. “Karena keberadaanku di Praha akan membuat teman kencanmu itu ketakutan. Ia akan berpikir bahwa aku datang ke sini untuk mengkonfirmasi kebenaran berita klasik kalian dan membuatmu meninggalkannya hanya untukku” Jawab Jessica tajam.

Cukup lama Jessica dan Kris saling beradu pandang. Tapi, semakin lama, Jessica mengetahui betapa sakitnya dirinya. Setiap malam Jessica berpikir di atas ranjangnya, apa yang sedang dilakukan laki-laki ini, apa laki-laki ini makan dengan teratur, apa laki-laki ini merindukannya seperti ia merindukan laki-laki ini, apa laki-laki ini juga memikirkan dirinya seperti ia memikirkan laki-laki ini―Kris Wu.

“Berita klasik yang kaukatakan,” Kris menghela nafasnya. Matanya masih menatap mata Jessica. “Itu benar”

Tampar Jessica sekarang untuk membangunkannya dari mimpinya, siapa saja tolong tampar dia!

“Maka dari itu, mari kita akhiri hubungan ini, Sooyeonnie”

Jessica mematung. Ia baru saja kehilangan akal sehatnya. Kris pasti sedang bercanda, bukan?!

You were fucking kidding me, Kris Wu-ssi

Jessica mendengus, memalingkan matanya yang sudah siap menumpahkan air matanya.

“Aku sedang tidak bercanda” Timpal Kris pelan. “Yang kuinginkan sekarang hanyalah Xu Jinglei. Itu yang ingin kukatakan padamu”

Jessica berbalik, memegangi pinggiran meja untuk membantunya menompang tubuhnya. Energinya entah hilang kemana.

Oh, sakit sekali rasanya.

Jessica menahan isakannya, tidak ingin Kris mendengarnya walaupun ia tahu pasti bahwa Kris sudah tahu ia sedang menangis saat ini.

“A―”

Jessica langsung mengangkat tangannya, mengisyaratkan Kris untuk menutup mulutnya. “Keluarlah” Jessica tidak bisa bertahan lagi, ia terisak keras begitu saja. Dadanya seperti tertohok, sesak sekali. “Kumohon, keluarlah. Keluar dari sini. Ku…mohon padamu…Kris Wu-ssi

“Baiklah” Tanpa suara, Kris melangkah. Mengikuti permintaan Jessica―keluar.

Jessica meraih gelas kaca berisi wine itu lalu berbalik dan melemparnya. Hingga terbentur dengan dinding dan terpecah. “AAAAAAAAAHHHHHH!!!!!!!”

Rasanya seperti itu.

Berserakan di lantai.

Bahkan jika ingin mengambilnya kembali harus siap untuk berdarah.

Jessica merasakannya.

Untuk kesekian kalian, Jessica Jung terjatuh membentur lantai dan meringkuk dengan tangisan yang bahkan ia sendiri tidak bisa kendalikan.

“Sica-ya, kau kemana saja tiga hari ini?” Baru ia masuk ke dalam dorm-nya, Taeyeon sudah menghujaninya dengan berbagai pertanyaan dan memancing keingintahuan member yang lainnya.

“Aku sedang tidak ingin berbicara” Elak Jessica.

“Sic―”

“SUDAH KUKATAKAN AKU SEDANG TIDAK INGIN BERBICARA! DIAMLAH, TAEYEON!!” Bentak Jessica penuh amarah. Bahkan embel-embel kesopanannya―memanggil Taeyeon dengan ‘eonni’―tidak ia gunakan. Ia sudah kehilangan akal sehatnya. Jessica masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya, meninggalkan para member-nya yang masih mematung karena bentakannya.

Jessica terengah-engah. Entahlah, rasanya ia selalu tidak ingat untuk bernafas―semenjak Kris mengakui apa yang ia inginkan.

“Sica-ya, kau tidak mendengarkanku?”

Jessica terbangun dari lamunannya. “Ada apa?”

Taeyeon menghela nafas. “Kau tidak mendengarku”

Sorry” Ucap Jessica singkat.

“Kudengar Kris berkencan dengan direktur filmnya sendiri” Choi Sooyoung mulai membuka suaranya. “Apa itu benar?”

“Pihak Kris oppa membantahnya dan Xu Jinglei juga menulis bantahannya di akun Weibo miliknya. Itu yang kudengar” Seohyun ikut menyuarakan pendapatnya.

“Pembatahan itu hanya untuk mengecoh publik. Mereka ingin membuat publik berpikir bahwa mereka benar-benar tidak berkencan, padahal mereka melakukannya” Kata-kata itu meluncur saja dari mulut mungil Jessica, membuat kedelapan member SNSD memandangnya.

“Darimana eonni tahu?” Tanya Hyoyeon.

Jessica menatap dongsaeng berambut pirangnya itu. “Banyak idol yang melakukan hal seperti itu” Jessica tersenyum tipis lalu bangkit. “Aku akan pergi menemui Krystal”

“Yoona eonni?”

Yoona menatap Krystal yang berdiri di depannya kali ini. Di depan pintu dorm SNSD. “Ada apa, Soojung-ah?”

“Apa Sooyeon eonni ada di dalam?” Tanya Krystal polos.

Yoona mengerutkan keningnya. “Dia sudah pergi lima jam lalu untuk menemuimu”

Jessica berdiam sendirian di sebuah ruangan VIP sebuah restauran. Matanya menatap jendela besar yang menampilkan gelapnya langit Seoul dengan lampu berkilau di bawahnya.

Damai sekali rasanya―saat ia duduk di tempat yang biasa ia dan Kris datangi lalu makan bersama dan menghabiskan waktu terbatas yang mereka miliki.

“Yang kuinginkan sekarang hanyalah Xu Jinglei”

Jadi, selama ini, Jessica berarti apa untuk laki-laki itu?

Rasanya masih sama―sakit sekali. Dan bertambah buruk.

“Aku mencintaimu. Maafkan aku. Jangan melakukan hal ceroboh selama aku tidak ada di sebelahmu“

Hal ceroboh yang dilakukan Jessica adalah tidak menjaga miliknya. Ia menaruh kepercayaannya terlalu besar dan berpikir miliknya itu tidak akan menjadi milik orang lain.

Ia ceroboh.

Karena telah kehilangan Kris―orang yang membuatnya menjadi seperti mayat hidup sekarang.

Jessica berdiam diri di dekat jendela kamarnya.

Apa yang baru saja ia dengar?

 

Flashback.

Jessica melirik ponselnya yang berdering. Ada nama Zhang Wei tertera, membuatnya menjawab panggilan itu.

“Ada apa, gege?”

“Aku belum minta maaf kepadamu karena membiarkan Kris membaca pesan yang―”

“Lupakanlah, gege. Aku sudah melupakannya. Jangan membawa hal lama kembali lagi”

“Kris,” Zhang Wei terdiam sejenak. “Dia telah kehilangan berat badannya semenjak dia bertemu denganmu tiga minggu lalu. Dia tidak makan dengan teratur dan menjadi lebih pendiam. Dia hanya mengonsumsi berbagai vitamin dengan berpikir bahwa vitamin tersebut dapat membantunya”

Jessica menghela nafas berat. Menyedihkan untuknya mendengar itu semua, sebenarnya. “Tidak ada gunanya memberitahuku tentang kondisinya. Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan ap―”

“Dia tidak berkencan dengan Xu Jinglei. Dia berbohong kepadamu, Jessie”

 

Apa yang sebenarnya yang diinginkan Kris? Tanyanya pada dirinya sendiri.

END

Advertisements

8 thoughts on “Carelessness

  1. Apa yang sebenarnya yang diinginkan Kris? Tanyanya pada dirinya sendiri.
    Seharusnya diganti jadi, Tanya Clora buat sequel nya.
    YAAMPUN INI ABU ABU BANGET
    Buat prequel nya pls atau sequel nyaaaaa, hahaha keren ini clora!

    Like

  2. KYAAAAAA INI SEQUEL ON THE PHONE KEMARIN KAN EONNI?! IYA KAAAAN?! Aduh demi deh aku setuju sama komen diatas. Tanyalah pada Clora bukan pada dirinya sendiri.

    Mungkin Kris terdesak? Aku gak tau. Sakit banget elah kris kenapa gak bilang kalo itu palsu sih elah /gregetansendiri.

    Masih dari komen di atas, buat sequel prequel atau apalah itu eonni jebaaaaal ini masih gantung banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s