Out of My Grasp

by
Clora Darlene

Main Casts
Oh Sehun | Im Yoona

Supporting Casts
Byun Baekhyun | EXO Member | Kwon  Yuri

Length RatingGenre
One shoot (but it has 7,366 words) | PG-13 | Romance

Ini setelah bertahun-tahun boygroup asal Korea Selatan―EXO―menjadi boygroup terbesar. Popularitas mereka yang tak perlu diragukan lagi. Lagu dan album mereka akan selalu merajai berbagai charts nasional ataupun internasional. Wajah mereka akan menghiasi berbagai sampul majalah terkemuka dan terpampang di berbagai iklan sebagai brand ambassador. Mereka akan hadir di berbagai variety show. Tiket world tour mereka akan habis bahkan sebelum kau memiliki kesempatan untuk mengedipkan mata. Di kota manapun, di negara manapun.

EXO benar-benar bertumbuh menjadi sebuah boygroup yang memberikan pengaruh besar melalui musik maupun personality mereka.

“Sehun!”

“Sehun!”

“Sehun!”

“Kalian ingin melihat gwiyomi Sehun?” Tanya Baekhyun setelah ia menampilkan gwiyomi-nya dan bertanya kepada seluruh fans yang datang untuk menentukan siapa yang harus melakukannya selanjutnya.

“Ya!” Fans bersorak kompak.

“Jangan aku.” Sergah Sehun lalu mengambil langkah mundur dengan tangan yang melambai menandakan ia tidak mau.

“Sehun!”

“Sehun!”

Penonton terus menyoraki namanya, dan para member yang lain juga terus menyudutkannya. “Biaklah. Tapi kalian harus menyanyikan lagunya untukku.” Ucap Sehun akhirnya menyerah.

“Ya!” Fans kembali bersorak, siap menyanyikan lagu tersebut untuk sang idol pujaan mereka.

“1…2…3…” Suho mulai menghitung dan para fans langsung menyanyikan lagu gwiyomi bersama-sama dengan begitu keras menenuhi venue konser. Wajah Sehun ditampilkan di layar besar yang tergantung di antara stage konser kembali membuat riuh penonton. Sehun tampak bersemu merah―malu―tetapi tetap mencoba selucu mungkin melakukan gwiyomi hingga selesai. Fans berteriak tidak karuan, mungkin hampir melukai tenggorokan mereka sendiri demi menunjukkan kecintaan mereka terhadap Oh Sehun.

Setelah menghibur fans selama hampir tiga jam dengan musik dan dance mereka, akhirnya EXO menyelesaikan salah satu dari rentetan world tour mereka. Mereka langsung segera kembali ke backstage dan membungkukkan badan kepada kru yang bertugas.

“Selamat!”

“Terimakasih sudah bekerja keras.”

“Terimakasih.”

“Kalian telah melakukan yang terbaik.”

“Kalian adalah yang terbaik!”

“Besok adalah yang terakhir. Tetap semangat!”

Fighting!”

Para kru dan member EXO merayakan usainya pekerjaan mereka hari ini dan menyisakan hari esok sebagai hari terakhir dari perjalanan panjang world tour mereka. Satu per satu member EXO masuk ke dalam restroom dan sebagian dari mereka telah membaringkan badan mereka di atas sofa untuk mengistirahatkan raga sejenak.

Sehun adalah orang pertama yang langsung mengganti bajunya yang basah akan keringat dengan kemeja hitam yang masih baru. “Kau akan langsung kembali ke hotel, Sehun-ah?” Tanya Baekhyun menjadi orang pertama yang menyadari Sehun tengah membereskan barang-barangnya.

“Ya. Aku akan langsung kembali ke hotel, hyung.” Jawab Sehun lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam leather bag miliknya.

“Kau tidak ikut makan malam bersama kami?” Tanya Kyungsoo.

Sehun menggeleng pelan, melirik Kyungsoo dan menyeringai kecil. “Hyung tahu makan malamku sudah tersedia di hotel.”

Member EXO yang lain tampak terdiam sejenak setelah mendapatkan jawaban dari Sehun. “Hati-hatilah, jangan sampai ketahuan oleh fansmu.” Ucap Baekhyun.

Sehun melangkah menuju pintu lalu melambaikan tangannya tanpa berbalik badan. “Tidak akan, hyung.” Lalu Sehun hilang di balik pintu dan pintu restroom kembali tertutup.

Para member yang lain memandangi pintu tersebut setelah kepergian Sehun lalu menghela nafas pelan dan saling melemparkan pandangan ke satu sama lain. “Ini sudah satu tahun.” Ujar Baekhyun pelan. Pandangannya masih tertuju pada pintu restroom lalu akhirnya memalingkan wajahnya. Ada sirat kesedihan pada sorot matanya setiap kali melihat Sehun sekarang ini.

“Berikan dia waktu yang lebih banyak, Baekhyun-ah. Dia butuh waktu.” Sela Suho membela keadaan Sehun.

Baekhyun refleks berdiri dan memandang Suho intens yang tengah duduk di atas meja rias dengan handuk kecil di tangannya. “Waktu yang lebih lama? Hyung, tidakkah kau sadar Sehun telah berubah menjadi predator sekarang? Dia selalu haus akan mangsanya. Dia dulu penah menjadi seorang laki-laki dengan aroma bayi dan akan sangat senang jika kita membelikannya bubble. Ini salah, hyung.”

“Tapi, masalahnya adalah dia tumbuh dewasa. Dia adalah seorang pria saat ini. Dia sudah dua puluh delapan tahun. Kita tidak bisa berharap terus-menerus dia akan tetap menjadi seorang anak laki-laki dengan aroma bayi.” Yixing mengangkat suaranya.

“Aku setuju dengan Baekhyun,” Chanyeol ikut menyuarakan pikirannya. “Sehun tidak tiba-tiba berubah menjadi seperti ini karena dia tumbuh dewasa dan pikirannya berkembang. Kita tahu pasti apa yang membuatnya berubah menjadi seperti ini.”

Hyung, tahu, dia seperti memilki kepribadian ganda saat ini,” Ucap Kai sebagai member yang memiliki jarak umur terdekat dengan Sehun. “Dia sangat ceria, bersinar dan lucu di atas panggung. Tapi, setelah dia turun dari panggung…” Kai tidak melanjutkan ucapannya dan memandang para hyung-nya. Ia yakin hyunghyung-nya tersebut juga tahu pasti apa kalimat yang ingin diucapkan olehnya berdasarkan fakta yang ada saat ini mengenai seorang Oh Sehun.

“Kunci kamarmu.” Manager hyung menyodorkan sebuah smart card kepada Sehun yang berjalan di sebelahnya.

Sehun menerimanya lalu memain-mainkan kartu tersebut di tangannya. “Hyung tidak lupa pesananku, kan?”

“Bagaimana aku melupakannya jika kau selalu meminta hal yang sama setiap kali kita mengadakan konser, Sehun-ah.” Timpal manager hyung dengan santai.

Senyum Sehun berkembang lalu menjentikkan jarinya hingga menimbulkan suara yang cukup keras. “Hyung yang terbaik. Gomawo.” Sehun dan manager hyung-nya berpisah ketika Sehun harus menaiki elevator ke lantai yang lebih tinggi dan sang manager hyung harus kembali ke venue konser untuk bertemu dengan member yang lain.

Sehun menyusuri koridor hotel sendirian hingga ia berdiri di hadapan sebuah pintu yang terletak di paling ujung. Sehun mencocokkan nomor yang tertera di kartu kamarnya dengan nomor yang tergantung pada pintu di hadapannya. Setelah yakin bahwa ia tidak akan salah kamar, Sehun memasukkan kartu tersebut pada electronic door lock lalu mendorongnya. Lampu kamar hotel Sehun sudah menyala, bahkan sebelum laki-laki itu menaruh kartunya pada holder yang menempel pada dinding kamar hotel untuk mengakses listrik di dalam kamarnya.

Seorang perempuan yang mengenakan silky smooth robe berwarna hitam―yang Sehun yakin pasti perempuan itu tidak menggunakan underwear apapun di balik robe-nya―ternyata sudah berada lebih dulu di dalam kamarnya. Perempuan itu menoleh sembari ia menuangkan wine pada sebuah gelas kaca berkaki ketika mengetahui kedatangan Sehun. “Maafkan aku memulainya lebih dulu.”

Senyum Sehun berkembang. Ia lalu menaruh tasnya di atas ranjang dan duduk di pinggirnya. “Bukan masalah besar bagiku. Nona…”

“Nara.” Ucap perempuan itu melanjutkan ucapan Sehun.

Ah, Nara. Nama yang indah untuk menjadi santapan malam. Batin Sehun.

“Nara―Nara seperti yang ada di Jepang?” Tanya Sehun lagi.

Perempuan itu―Nara―mengangguk dan membawa gelas berisi wine sembari ia melangkah mendekati Sehun. “Nara seperti yang ada di Jepang,” Jawab Nara dan memberikan gelas yang berada di genggamannya kepada Sehun dan laki-laki itu menerimanya.

Nara membelai pelan helai rambut Sehun yang basah keringat lalu turun pada kening laki-laki itu. “Kau tampak kelelahan.”

“Tapi, aku kembali bersemangat melihatmu.” Ucap Sehun pelan.

I’d like to know if you want to take a shower so I can wait you inside the bathroom.” Nara menunduk lalu berbisik tepat di telinga Sehun sehingga keduanya dapat saling menghirup aroma tubuh partner mereka malam ini. Tangan Nara dengan cekatan mulai membuka satu per satu kancing kemeja hitam Sehun tanpa meminta izin laki-laki itu dan tanpa laki-laki itu mengizinkannya.

Nara menduduk terlalu rendah di depan Sehun, dan membuat laki-laki itu itu dapat melihat dengan jelas belahan dadanya dari balik robe hitam Nara yang licin. Sehun menyeringai kecil. “I want to.” Sehun memberikan jawabannya.

“Baiklah. Don’t make me waiting for you so long, Sehun-ssi.” Bibir Nara yang sexy itu menyusuri garis rahang Sehun dan tepat ketika laki-laki itu ingin mencium bibirnya, Nara langsung menjauh dan melirik Sehun dengan tatapan yang menggoda. Sehun memandangi perempuan itu melangkah menuju kamar mandi dan terhenti sejenak di depan pintu kamar mandi lalu melepaskan robe-nya. Ta-da. Tebakan Sehun benar. Perempuan itu tidak mengenakan apapun di balik robe-nya, memamerkan lekuk tubuhnya yang lebih indah dari kata ‘sempurna’ dan akhirnya Nara hilang di balik pintu.

Sehun menghabiskan wine-nya dengan sekali tegukan, melemparkan gelas kosongnya ke atas ranjang dan menyusul perempuan bernama Nara itu ke kamar mandi.

Jam digital yang berada di dekat lampu tidur kamar hotel Sehun baru saja menunjukkan pukul empat pagi. Sehun tidak sengaja terbangun―tentu saja dengan Nara yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya―dan kini ia berakhir dengan menuangkan wine pada gelas kosong dengan rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya dan hanya mengenakan robe yang telah disiapkan oleh pihak hotel. Kamarnya bercahaya remang-remang. Ia menarik tirai jendela dan menggesernya, berniat untuk melihat pemandangan di luar sana. Ia berdiri di dekat jendela lalu menyesap wine-nya pelan-pelan, dan sesekali ia menghisap rokoknya lalu membuat kepulan asap keluar dari mulut serta hidungnya.

Well, manager hyung-nya sebenarnya telah memperingati dirinya untuk tidak terlalu sering merokok karena itu akan berpengaruh pada suaranya nanti. Dan Sehun menurutinya. Tidak terlalu sering―bukan berarti tidak boleh, bukan?

Tidak banyak hal yang berlalu lalang di pikirannya saat ini. Sebagian besar adalah mengenai pekerjaannya. Konser malam hari nanti akan menjadi konser terakhir dari rentetan world tour EXO kali ini. Lelah? Tentu saja, ia lelah. Tetapi membayangkan mencicipi setiap perempuan yang berbeda setiap malamnya membuat Sehun kembali bersemangat―seperti apa yang ia katakan pada Nara sebelumnya. Sehun kembali tersenyum kecil lalu menegak wine-nya.

“Sehun? Kau tidak tidur?”

“Aku terbangun―” Sehun membalikkan badannya untuk memandang Nara, tapi mulutnya langsung terkatup ketika yang dilihat oleh iris pure hazel-nya itu bukanlah Nara.

“Tidak seharusnya kau seperti ini, Sehun.” Ucap perempuan itu lagi.

Prang!

Gelas kaca tersebut lepas dari genggaman Sehun dan berhasil membangunkan Nara.

“Ada apa, Sehun?” Tanya Nara panik.

“Sehun?”

“Sehun?”

“Sehun!”

Lutut kaki Sehun mendadak melemas. Ia terjatuh di detik selanjutnya dan tangannya dengan cepat menyangga tubuhnya pada pinggiran sofa. Iris pure hazel-nya memandang ke sekeliling kamar hotel, dan semuanya tampak berputar!

Matanya tidak dapat fokus memandang sebuah benda dan seakan-akan kepalanya terasa dihantam oleh sesuatu yang sangat berat dan cepat.

Seperti dihantam oleh sebuah mobil.

“Oh, astaga, Sehun!”

Teriakan Nara menjadi hal terakhir yang Sehun dengar sebelum akhirnya ia terjatuh tidak sadarkan diri.

Sehun berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa sungguh berat. Iris pure hazel-nya silau ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Masih ada rasa pusing dan sakit yang menjalar di dalam kepalanya. Begitu juga dengan tangannya yang terasa kaku. Sedetik kemudian, Sehun menyadari bahwa dirinya kini tengah terbaring di rumah sakit.

“Kau sudah sadar?” Tanya seseorang yang Sehun kenal baik suaranya―Byun Baekhyun.

“Mengapa hyung membawaku kemari?” Tanya Sehun balik dengan suara yang kecil, nyaris berbisik dan serak.

“Kau pingsan hanya dengan mengenakan robe di kamar hotelmu dan Nara yang hanya mengenakan selimut hotel untuk menutupi tubuh telanjangnya menghubungi semua kontak yang ada di ponselmu.” Jawab Baekhyun jengkel.

“Apa?” Mata Sehun mendadak terbuka lebar. “Semuanya?” Suaranya kembali meninggi.

“Maksudku, tidak seluruhnya. Hanya member EXO dan manager hyung.” Baekhyun membenarkan ucapannya.

Sehun menghela nafas lega. “Aku sudah membayangkan dia menelfon kedua orangtuaku.”

“Bodoh. Apa yang terjadi padamu?” Tanya Baekhyun. Ini adalah pertanyaan pokok yang Baekhyun harus mendapatkan jawabannya langsung dari seorang Oh Sehun.

Sehun memalingkan wajahnya, tidak ingin iris pure hazel-nya tertangkap oleh iris autumn Baekhyun. “Aku tidak tahu, hyung. Aku hanya…Aku hanya terbangun dan meminum wine…dan…” Sehun tidak mampu melanjutkan ucapannya seraya bayangan sebelum ia jatuh pingsan tadi kembali terputar di hadapan matanya.

“Dan?” Alis kiri Baekhyun terangkat, menunggu sambungan jawaban dari Sehun.

“Dan…” Sehun menelan salivanya dengan susah payah. “Aku melihatnya, hyung. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia…Dia…terlihat sangat nyata.”

“Melihat siapa?” Tanya Baekhyun lagi.

Sehun memandang mata Baekhyun dengan tajam. “Yoona. Aku melihatnya.” Setelah sekalian lama, Oh Sehun akhirnya memberanikan dirinya untuk menyebut nama yang telah ia kubur lama di dalam dirinya.

Bibir Baekhyun terkatup rapat. Mereka berdua saling membalas pandangan satu sama lain cukup lama. “Kau berhalusinasi, Sehun-ah.”

“Aku tahu,” Sehun mengangguk pelan, menganggap enteng apa yang telah terjadi padanya. “Aku pasti berhalusinasi. Tidak mungkin Yoona berada di sini lagi, bukan?”

Baekhyun tidak berani menjawab pertanyaan Sehun. Ia akhirnya berdeham pelan. “Aku akan berbicara kepada dokter mengenai kondisimu. Istirahatlah.” Baekhyun membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Tangannya sudah terayun untuk meraih knop pintu, tetapi terhenti ketika Sehun memanggilnya.

“Aku akan tetap hadir di konser malam ini. Apapun yang dokter katakan―aku akan tetap hadir. Hyung tidak perlu khawatir.” Ucap Sehun.

“Aku juga akan memastikan kau akan hadir malam ini.” Balas Baekhyun ringan dan keluar dari kamar inap Sehun.

Baekhyun dan beberapa orang perwakilan agensinya bersama-sama menuju ruang dokter yang menangani Sehun. Ia bersama manager hyung-nya duduk tepat di hadapan sang dokter. Ia tidak ingin melewatkan apapun yang diucapkan oleh dokter tersebut, bahkan satu kata pun. Dokter tersebut membolak-balikkan beberapa kertas yang berada di atas mejanya sebelum akhirnya ia mulai berbicara tentang kondisi Sehun.

“Kondisi organ tubuh Tuan Oh Sehun cukup baik. Tidak ada tanda-tanda komplikasi. Fisiknya sangat bagus karena ia juga tetap mengonsumsi vitamin, walaupun kadar alkohol di dalam darahnya cukup tinggi. Tapi, keseluruhan tidak ada masalah.” Beritahu dokter tersebut secara singkat.

Kening Baekhyun mengerut di saat beberapa orang dari agensinya―termasuk manager hyung-nya―dapat bernafas lega bahwa penyanyi mereka yang satu itu tidak divonis penyakit apapun. “Sehun memberitahuku bahwa dia berhalusinasi sebelum dia jatuh pingsan. Dia melihat bayangan seseorang yang sudah lama meninggalkannya.” Beritahu Baekhyun.

“Lebih baik untuk membawanya ke Department of Psychiatry rumah sakit kami. Aku tidak bisa menanganinya karena kejiwaan bukanlah spesialisasiku.” Sang dokter memberikan sarannya.

Department of Psychiatry.” Baekhyun mengulangi ucapan sang dokter.

“Saya bisa membantu memindahkannya ke sana, jika Tuan Oh Sehun bersedia untuk dipindahkan.”

“Kami akan berbicara kepadanya,” Baekhyun berdiri lalu menjabat tangan sang dokter. “Terimakasih, Dok.”

“Jadi, hyung ingin mengatakan aku gila?” Tanya Sehun setelah mendengar berbagai rayuan Baekhyun.

“Aku tidak mengatakanmu gila.” Iris autumn Baekhyun terputar kesal seraya mereka melangkah masuk ke dalam venue konser.

Department of Psychiatry? Itu hanya untuk orang gila, hyung.” Sehun langsung menolak keras ketika Baekhyun pertama kali mengajaknya untuk datang dan bertemu dengan dokter di sana.

“Dengarkan aku. Kesehatan fisikmu baik-baik saja. Tubuhmu sangat sehat. Tetapi, bagaimana dengan kejiwaanmu? Pagi ini kau melihat bayangan Yoona dan langsung jatuh pingsan―”

“Jangan sebut namanya, hyung.” Potong Sehun dengan tegas.

“Maafkan aku.”

Sehun kembali menggeleng. “Aku tidak akan pergi ke sana.”

“Sekali saja.” Rayu Baekhyun masih tidak gentar.

“Tidak akan.”

Kesembilan laki-laki itu serempak membungkukkan badan mereka kepada lautan fans yang telah memeuhi venue konser terakhir mereka. Fans masih terus berteriak bahkan setelah para idol mereka itu menghilang dari panggung dan menuju backstage. Para kru dan member EXO saling membungkuk dan menjabat tangan satu sama lain, mengucapkan selamat atas world tour yang telah diselesaikan dengan sukses.

“Selamat!”

“Selamat untuk semuanya!”

“Kalian semua sudah bekerja sangat keras!”

Sehun masuk ke dalam restroom lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan lelahnya, walaupun sedikit saja. Keringat masih menetes dari kening ke pipinya.

“Kau baik-baik saja?” Chanyeol menyikut Sehun dan ikut duduk di sebelah laki-laki itu.

“Akhirnya,” Gumam Sehun pelan tanpa membuka matanya. “Berakhir.”

“Kau ikut makan malam dengan kami, Sehun?” Suara Suho berhasil membuka mata Sehun.

“Ya, aku akan ikut, hyung.” Jawab Sehun setengah berteriak, memastikan hyung-nya itu mendengarnya.

“Tumben?” Chanyeol melirik Sehun.

Sehun membalas lirikan Chanyeol lalu berdiri. “Aku hanya penat.” Sehun kembali menjadi orang pertama yang mengganti bajunya lalu membereskan barang-barangnya ketika rekan-rekannya yang lain masih asik beristirahat dan mengobrol.

Perhatian mereka langsung teralihkan pada pintu restroom yang terbuka dan sosok seorang perempuan masuk ke dalam. Sehun yang awalnya hanya memandang melalui cermin rias, langsung membalikkan badannya dan memandang perempuan tersebut tanpa berkedip.

“Ingat aku, Sehun?”

Bibir Sehun kembali kelu seperti setiap saat ia ingin mencoba memanggil nama perempuan itu. “Yoona…”

“Aku masih ingat bagaimana rasanya menggenggam tanganmu. Rasanya baru seperti hari kemarin kita berada di satu mobil yang sama dan membicarakan tentang masa depan kita.” Sosok itu tersenyum kepadanya dengan senyuman yang selalu Sehun rindukan.

“Yoona,” Panggil Sehun semakin keras dan ia melangkah menuju pintu ketika sosok itu kembali keluar dari restroom. “Yoona! Yoona!”

Baekhyun menoleh ketika ia mendengar Sehun mendesiskan sebuah nama yang tidak asing baginya. Jiyeon―salah satu kru konser EXO―baru saja masuk ke dalam restroom, dan memberitahukan bahwa mobil-mobil van mereka telah siap untuk mengantar member EXO kembali ke hotel.

“Yoona.” Seluruh member EXO menoleh ketika suara Sehun semakin besar memanggil nama perempuan yang juga mereka kenal itu.

Gamsahamnida.” Jiyeon membungkuk, permisi untuk segera keluar dari restroom dan sedetik ia sempatkan untuk melirik Sehun ngeri lalu berlari pergi.

“Yoona! Yoona!” Kini Sehun berteriak dan mengejutkan seluruh member EXO. Laki-laki itu tampak berjalan cepat menuju pintu namun tiba-tiba terjatuh di atas lantai dengan tangan yang memegang kepalanya dan berteriak kesakitan

“Sehun!” Suho secepat kilat menghampiri Sehun dan menyentuh kepala Sehun. “Panggilkan manager hyung!”

Hal pertama yang Sehun ucapkan ketika ia membuka matanya dan mendapatkan dirinya tengah berbaring di atas ranjang di sebuah kamar inap rumah sakit yang sama seperti hari kemarin―sialan. Batinnya.

Matanya masih tampak sayu ketika terbangun di pagi hari. Ada Minseok, Suho, serta Baekhyun berada di ruangannya dan segera menghampirinya saat ia terbangun. “Aku baik-baik saja. Jawaban atas pertanyaan hyung. Dan, aku sudah sadar.” Ucap Sehun tanpa memberikan kesempatan untuk hyunghyung-nya bertanya mengenai keadaannya.

“Aku akan memanggil dokter.” Beritahu Suho.

“Kau berhalusinasi lagi?” Tanya Baekhyun.

“Kurasa begitu.” Jawab Sehun singkat.

“Kau mengejutkan kita semua ketika kau memanggil nama ‘Yoona’.” Gumam Minseok.

Sehun terkekeh hambar lalu mencoba menyandarkan dirinya pada tumpukan bantal yang juga dibantu oleh Baekhyun. “Aku sendiri juga terkejut, hyung.”

“Kau benar-benar membutuhkan istirahat.” Ucap Minseok lagi.

Sehun menggeleng pelan dan membalas tatapan Minseok. “Aku baik-baik saja, hyung. Percayalah padaku.”

“Sayangnya, aku tidak pernah berpikiran seperti itu,” Minseok menaikkan kedua bahunya lalu berjalan menuju sofa dan duduk. “Apa yang terjadi padamu membuktikan kau tidak baik-baik saja.”

“Oh, ayolah. Aku hanya menghalusinasikan mantan kekasihku yang meninggal satu tahun lalu karena kecelaakan. Maafkan aku, biar aku ralat―bukan karena kecelakaan. Tapi karena diriku.” Minseok dan Baekhyun saling memandang satu sama lain ketika suara Sehun mendadak meninggi dan merasakan emosi yang mendorong laki-laki itu untuk berbicara seperti itu.

“Apa yang terjadi pada Yoona―”

“’Bukan salahmu, Sehun-ah’.” Potong Sehun cepat menirukan apa yang akan Baekhyun ucapkan kepadanya agar ia dapat merasa lebih baik.

“Selamat pagi, Tuan Sehun,” Seorang dokter perempuan masuk ke dalam kamar inapnya. Minseok refleks berdiri dan ia bersama Baekhyun langsung membungkukkan badan, menyapa sang dokter. “Perkenalkan, aku Dokter Park dari Department of Psychiatry.” Perempuan itu―Dokter Park―tersenyum ramah.

Kening Sehun mengerut dalam. “Tunggu. Apa? Department of Psychiatry?”

“Ya. Kau kini akan ditangani di Department of Psychiatry.” Jawab Dokter Park sembari mengangguk.

Sehun langsung menjatuhkan tatapan tajamnya kepada Baekhyun dan ia terlihat marah. “Baekhyun hyung, apa yang telah kaulakukan?”

“Aku tidak memiliki pilihan lain selain membawamu kemari, Sehun-ah.” Baekhyun membela dirinya. Ia bahkan siap jika Sehun tiba-tiba melepaskan selang infusnya, melompat ke arahnya dan menikam dirinya seperti Macan menikam mangsanya. Baekhyun sudah sangat siap.

Sehun mendesah keras. “Aku tidak gila, sungguh.”

“Kami disini tidak hanya untuk orang gila, Oh Sehun-ssi,” Bantah Dokter Park dengan suara yang rendah, sangat berbanding terbalik dengan nada suara Sehun sebelumnya. “Kami disini untuk membantumu mengatasi halusinasi yang telah kau alami.”

“Aku tidak butuh bantuan siapapun, apapun.” Sehun membantah keras.

“Lalu, kau akan tetap berhalusinasi dan memanggil nama ‘Yoona’ dan terjatuh pingsan? Kejadian di hotel dan restroom masih menyelamatkanmu. Bagaimana jika hal itu terjadi di tengah-tengah fansign, konser, award, di depan para fansmu?” Tampaknya emosi Minseok sudah mencapi ubun-ubun. Ia menatap Sehun garang. Anak itu butuh disadarkan, menurut dari sisi pandang Minseok. Sehun tidak bisa terus mengikuti egonya yang super tinggi dan selalu mengelak dengan mengatakan ia baik-baik saja. “Kau ingin mengubur dalam-dalam hubunganmu dengan Yoona agar publik tidak mengetahuinya, maka pastikan itu tetap terkubur dalam-dalam.”

Sehun terdiam dan memalingkan wajahnya kesal. Ia memandang jendela. Semua orang yang berada di ruangan ini menyudutkannya. Baekhyun, Minseok, Suho, dan Sang Dokter Park sekalipun. “Baiklah. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan padaku.”

Dokter Park menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang inap Sehun. Ia membenarkan letak kacamatanya, sedangkan Sehun―pasiennya―masih terlihat kesal dengan ide rekan-rekan segrupnya yang membawanya ke Department of Psychiatry. Sehun yang duduk di atas ranjang dan bersandar tumpukan bantal masih enggan menatap Dokter Park yang membawa sebuah papan dengan beberapa lembar kertas yang dijepit di atasnya. Di kamar inap Sehun kini hanya ada dirinya dan Sehun. Sedangkan Baekhyun, Minseok dan Suho diminta untuk menunggu di luar ruangan karena Sehun meminta―sebenarnya, menuntut―privasinya.

“Bagaimana perasaanmu saat terbangun, Oh Sehun-ssi?” Tanya Dokter Park memulai percakapannya.

“Tidak ada yang istimewa.” Jawab Sehun seadanya.

“Apa yang kau mimpikan?” Tanya Dokter Park lagi.

“Aku tidak yakin,” Sehun menyipitkan matanya, mencoba mengingat mimpinya sebelum ia membuka mata. “Aku hanya mengingat aku ada di dalam sebuah ruangan gelap. Itu saja.”

“Kau merasakan ketenangan di dalamnya?”

Sehun menolehkan wajahnya, membalas tatapan Dokter Park dan tertawa hambar. Menganggap bahwa pertanyaan Dokter Park tersebut adalah sebuah lelucon masa kini. “Ketenangan? Dokter, aku tidak pernah merasakan perasaan itu selama satu tahun ini. Bahkan setelah aku telah menyelesaikan world tour yang dimana aku akan memiliki waktu yang cukup lama untuk beristirahat dari showbiz.”

“Apa itu ada hubungannya dengan perempuan bernama Yoona? Girls’ Generation Im Yoona?”

Selama satu tahun ini Sehun selalu berusaha untuk tidak menyebutkan atau mendengar atau membaca nama tersebut. Ia menjauhi hidupnya dari nama tersebut. Tetapi, tiba-tiba, kini nama tersebut kembali datang. Bertubi-tubi dan terus-menerus. “Kurasa.”

“Kau ingin membagi cerita tentang Yoona kepadaku?”

“Aku tidak memiliki alasan apapun untuk menceritakan tentangnya kepadamu.”

“Aku tidak bisa membantumu jika kau tidak membuka dirimu kepadaku, Oh Sehun-ssi,” Dokter Park melepaskan kacamatanya. “Biarkan aku membantumu berdamai dengan masa lalumu.”

Kedua tangan Sehun mengepal untuk meredam getaran pada ujung jemarinya. Matanya tidak berkedip untuk beberapa saat dan sebuah film pendek terputar di depan iris pure hazel-nya yang tampak nanar dan menyedihkan. “Itu terjadi satu tahun lalu. Aku menemukan seorang perempuan yang aku yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untukku. Im Yoona. Girls’ Generation Im Yoona. Kau pasti mengetahuinya. Mustahil di seantero Korea Selatan ini ada yang tidak mengetahui dirinya.” Sehun tersenyum kecil.

 

A year ago. Seoul, South Korea. 00:04 AM KST.

“Aku tidak bisa, Sehun-ah.”

“Benarkah?”

“Hmm.”

“Ayolah, Yoong. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu.”

“Kau merindukanku?”

“Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu?” Sehun dapat mendengar perempuan itu tertawa kecil di ujung sana. “Kumohon.”

“Baiklah, baiklah.”

Senyum Sehun berkembang lebar dan iris pure hazelnya bersinar saat itu juga. “Aku akan menjemputmu sekarang.”

“Maka, aku akan menunggumu.”

Sehun lalu memutuskan hubungan kontaknya tersebut dan segera meraih kunci mobilnya. “Kau mau kemana?” Baekhyun berhasil menghentikan langkah Sehun ketika ia keluar dari kamarnya berniat untuk mengambil segelas air mineral, tetapi malah menemukan Sehun yang mengenakan bomber jacket-nya dengan baseball cap tengah meraih kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu dorm.

“Kencan?” Tanya balik Sehun sambal menyeringai.

Kening Baekhyun mengerut dalam. “Tengah malam seperti ini?”

“Kenapa tidak?”

“Kau harus berhati-hati dengan hubunganmu bersama Yoona.” Baekhyun memperingati.

“Aku sudah melakukannya, hyung. Tenang saja. Aku pergi dulu.” Sehun mengedipkan sebelah matanya lalu bergegas menuju parkiran basement. Ia menurunkan topinya untuk menutupi setengah wajahnya dan segera masuk ke dalam mobilnya yang memiliki kaca super gelap. Tanpa menghabiskan waktu yang lebih banyak, Sehun langsung menginjak pedal gas menuju Apartemen Yoona. Well, para member SNSD sekarang sudah tidak lagi tinggal di dorm. Belasan tahun setelah debut, dan akhirnya mereka bisa kembali ke rumah mereka masing-masing atau membeli apartemen baru, seperti Yoona.

Suasana hati Sehun dengan mudahnya berubah. Ada perasaan bahagia menggebu di dalam dirinya dan ia tidak henti tersenyum, terutama setelah ia memakirkan mobilnya di parkiran basement gedung apartemen Yoona lalu menunggu perempuan itu setelah mengirimkannya sebuah pesan bahwa ia sudah sampai.

“Kau tidak memiliki jadwal besok?” Tanya Yoona langsung ketika ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Sehun lalu memasang seat belt.

“Hanya rekaman. Bagaimana denganmu?” Tanya Sehun balik lalu kembali menginjak pedal gas dan keluar dari basement gedung apartemen Yoona.

Yoona melepaskan topinya lalu bersandar dan menghela nafas. “Syuting drama.”

“Kau harus beristirahat, kau tahu itu.”

“Aku ingin beristirahat tetapi kau menelfonku meminta untuk bertemu.” Yoona melirik Sehun lalu tertawa kecil.

Raut wajah Sehun seketika berubah menjadi terlihat begitu bersalah. Tidak seharusnya ia memaksa Yoona, tidak seharusnya ia mengutamakan egonya. “Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin melihatmu.” Sehun membela dirinya dengan suara rendah.

Suara tawa Yoona terdengar begitu renyah di telinga Sehun lalu perempuan itu meraih salah satu tangannya yang tidak memegang stir mobil dan menggenggamnya erat walaupun tangan Sehun berukuran lebih besar dari tangannya. “Bukan masalah besar untukku.”

“Kau ingin memakan sesuatu?” Tanya Sehun.

“Aku ingin makan Ramen. Manager Oppa tidak membolehkanku makan Ramen akhir-akhir ini.” Sehun dapat melihat dari sudut matanya wajah Yoona berubah menjadi kesal dan ia mengerucutkan bibir pinknya.  Sangat lucu bagi Sehun.

“Haruskah kita beli sekarang?” Sehun menawarkan dengan senyum yang berkembang.

“Ya!” Jawab Yoona bersorak riang.

Sehun terkekeh mendengar nada suara Yoona yang langsung meninggi. “Baiklah.” Sehun memutar stir mobilnya dan menuju supermarket terdekat untuk memenuhi keinginan Yoona―perempuan yang amat sangat terangat berharga untuknya.

“Bagaimana produksi dramamu?” Tanya Sehun memecah keheningan.

“Lancar,” Yoona mengangguk pelan sembari memandangi Sehun yang tengah menyetir di sebelahnya. “Dan menyenangkan.”

“Menyenangkan karena kau beradu akting dengan Im Siwan?”

“Dia sangat baik. Perhatian. Humoris,” Yoona menimbang-nimbang lagi sifat seorang Im Siwan dan ia sepertinya masih tidak menyadari bahwa pertanyaan yang dilemparkan oleh Sehun barusan adalah sebuah pertanyaan sindiran mengenai kedekatannya dengan idol sekaligus aktor bernama Im Siwan. “Ya, dia sangat baik.”

“Sepertinya kau sangat dekat dengannya.”

Sedetik kemudian, Yoona akhirnya tersadar perubahan pada nada suara Sehun. Perempuan itu menahan senyumannya, sedangkan garis rahang Sehun sudah menegas selama mendengar cerita Yoona. “Tentu saja. Aku harus dekat dengan rekan kerjaku. Terutama sesama pemeran utama.”

“Okay, baiklah. Aku sudah cukup mendengar tentang Im Siwan ini.”

Yoona tertawa melihat reaksi Sehun, dan mengelus pelan buku jari tangan Sehun. “Kau tidak perlu khawatir.”

“Aku tidak khawatir,” Sehun menaikkan kedua bahunya kemudian melirik Yoona sekilas. “Aku jauh lebih tampan dan menawan ketimbang Im Siwan. Jadi, apa yang perlu kukhawatirkan?”

“Oh, astaga!” Yoona tertawa keras lalu memukul pundak Sehun. “Apa-apaan itu?!”

“Aku benar, bukan?”

“Tapi, bagaimana jika Siwan adalah jodohku?”

“Tidak akan terjadi,” Sehun menggeleng cepat. “Akan kupastikan kau berjodoh denganku. Aku telah memenangkan hati perempuan yang paling diincar dan diinginkan di negara ini, dan aku tidak akan semudah itu melepaskannya atau sesulit apapun keadaannya.”

Yoona tersenyum memandang Sehun. Ada semu merah di pipinya―yang syukurnya di dalam mobil gelap dan Sehun tidak dapat melihatnya―ketika laki-laki itu yakin tidak akan melepaskan dirinya bahkan di keadaan tersulit sekali pun. “Kau pasti menemukan kata-kata itu di internet.”

Sehun mendesah pelan. “Yang benar saja. Kau akan terkejut ketika aku melamarmu nanti dengan kata-kata yang bahkan tidak bisa kau bayangkan saat ini.”

“Kau ingin melamarku?”

“Tentu saja!”

“Konsep pernikahan seperti apa yang kauinginkan?”

“Konsep pernikahan yang kauinginkan adalah konsep pernikahan yang kuinginkan juga.”

“Aku ingin konsep pernikahan yang sederhana. Hanya akan ada keluarga dan kerabat, tanpa media.”

Sehun langsung menjentikkan jemarinya, pertanda setuju dengan ide Yoona. “Aku sangat suka itu. Kau sangat jenius, sayang.”

Yoona tertawa kecil lalu menyikut Sehun. “Kau berlebihan. Berapa banyak anak yang kauinginkan?”

“Sebelas. Jadi, aku bisa memiliki tim kesebelasanku sendiri.”  Sehun tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putih sempurnanya.

“Okay, itu sangat berlebihan. Aku hanya ingin dua.” Bantah Yoona.

“Hanya dua? Oh, ayolah.  Itu sangat sedikit.” Sehun menyuarakan protesnya, sangat tidak setuju dengan ucapan Yoona.

“Sudah sampai!” Teriak Yoona sambil menunjuk sebuah supermarket dan mengejutkan Sehun. Yoona bersiap-siap memasang maskernya, mengenakan baseball cap, dan mengenakan topi hoodie-nya. Dia adalah idol, ingat? Ia tidak bisa keluar semaunya tanpa menyembunyikan identitas aslinya. Begitu juga dengan Sehun. Laki-laki itu juga mengenakan masker dan baseball capnya.

Keduanya sama-sama turun dari mobil, masuk ke sebuah supermarket dan langsung menuju rak yang menyediakan Ramen Cup. Yoona mengambil dua cup, sedangkan Sehun memilih minuman apa yang enak untuk dinikmati pada dini hari seperti ini. Yoona menoleh ke belakang memerhatikan Sehun yang masih berada di depan lemari pendingin ketika ia sudah berdiri di kasir. Seorang pria yang berjaga kali ini.

“Kau…Kau Im Yoona, bukan? SNSD Im Yoona?” Pria itu menunjuk Yoona dengan kening yang mengerut.

“Bukan aku.” Jawab Yoona dengan suara yang ia samarkan.

“Aku yakin kau pasti Im Yoona.”

“Percayalah padaku. Aku bukan ‘Goddess Asia’ itu.” Bantah Yoona lagi.

“Tidak, tidak. Aku yakin kau pasti adalah Im Yoona!”

Seseorang langsung menarik tangan Yoona dan perempuan itu dihadapakan pada dada bidang yang terasa hangat setiap kali dipeluknya. “Kembalilah ke mobil. Aku akan mengurusnya.”  Bisik Sehun pelan. Yoona hanya mengangguk dan menerima uluran kunci mobil dari Sehun lalu segera berlari kecil menuju mobil hitam yang terparkir di depan supermarket tersebut. Yoona menunggu Sehun di dalam mobilnya.  Iris madunya terus mengamati gerak-gerik Sehun dari balik kaca hingga akhirnya laki-laki itu berjalan menuju mobil dan kembali duduk di sebelah Yoona dengan membawa dua cup Ramen yang sudah berisi air panas.

“Kita harus pindah sebelum kau menikmati Ramen kesayanganmu itu.” Beritahu Sehun lalu menaruh dua cup Ramen yang dibawanya di center cup holder mobilnya dan memberikan dua buah minuman yang ia beli kepada Yoona. Tidak membuang lebih banyak waktu, Sehun langsung menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas.

Yoona melepaskan maksernya kemudian bertanya, “Kenapa?”

“Pria kasir itu tidak berhenti menanyakan tentangmu,” Jawab Sehun akhirnya. “Dia terus bertanya apakah kau adalah SNSD Im Yoona.”

“Lalu, kau mengatakan apa?” Mata Yoona tak berkedip menunggu jawaban Sehun.

Sehun menaikkan kedua bahunya enteng. “Tentu saja aku mengatakan kau benar-benar SNSD Im Yoona.”

“Sehun!” Yoona langsung mengamuk di detik yang sama. “Bagaimana bisa kau berkata jujur seperti itu?!”

“Dia terus mendesakku.” Sehun membela dirinya.

“Apakah dia menyadari kau adalah EXO Sehun?”

“Tidak sama sekali. Kurasa popularitas EXO masih kalah jauh jika dibandingkan dengan SNSD,” Sehun terkekeh, mencoba mencairkan suasana setelah Yoona berteriak nyaring tepat di telinganya. “Aku mengatakan kepadanya aku adalah managermu.”

Yoona menghela nafas. “Aku takut jika mereka mengetahui hubungan kita.”

“Tiga tahun, dan publik tidak mengetahuinya, Yoona. Relaks.” Sehun mencoba menenangkan kekasihnya yang super paranoid jika mereka sudah membicarakan tentang hubungan mereka dan publik.

Sehun akhirnya meminggirkan mobilnya di jalanan dekat Jembatan Sungai Han. Ia meraih satu cup Ramen dan memberikan satunya lagi kepada Yoona. “Kau tidak bisa makan menggunakan ini.” Yoona melepaskan masker pada wajah Sehun sebelum ia menerima cup Ramen yang disodorkan oleh Sehun.

“Kau harus segera menghabiskannya sebelum dingin.” Beritahu Sehun.

“Aku akan menghabiskannya bahkan sebelum kau bisa menghabiskan milikmu.” Gurau Yoona.

Sehun hanya tersenyum melihat Yoona yang mulai menyantap Ramen miliknya. Aneh, menurut Sehun. Bagaimana bisa sebuah cup Ramen bisa terasa begitu lezat ketika ia menyantapnya bersama Yoona.  Bagaimana bisa kencan sederhana seperti ini bisa memberikan luapan rasa bahagia di dalam dirinya.

Sekali lagi―Aneh.

Sehun menyelipkan helaian rambut Yoona ke balik telinga perempuan itu agar tidak mengganggu. Dan, lebih tepatnya, agar iris pure hazel-nya bisa dengan jelas memandang wajah mungil Yoona.

“Kau harus segera menghabiskannya sebelum dingin.” Yoona mengutip ucapan Sehun, membangunkan laki-laki itu dari lamunannya.

“Ah, iya.” Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menghabiskan Ramen-nya secepat kilat. Iris pure hazel-nya tidak sengaja melirik Rear View Mirror yang menempel di kaca bagian atas mobilnya, dan melihat sebuah mobil sedan produksi lama terparkir tidak jauh di belakang mobil hitam Sehun. Keningnya mengerut, dan matanya semakin menyipit memandangi Rear View Mirror-nya.

“Sehun?” Panggil Yoona.

Sehun refleks menoleh memandang Yoona. “Ya?”

“Kau harus membuang cup-mu.” Yoona mengingatkan sambil menunjuk cup Ramen yang sudah kosong di tangan Sehun.

“Tentu saja,” Timpal Sehun lalu menaruhnya kembali di center car holder. “Kau ingin kembali sekarang?”

Yoona mengangguk pelan dan ia mengucek matanya. “Aku sudah mengantuk.”

Sehun tersenyum kecil lalu membelai pelan kepala Yoona. “Maafkan aku karena telah memaksamu berkencan denganku malam hari seperti ini.”

“Aku menyukainya.” Bisik Yoona.

“Baiklah. Kau harus segera kembali ke tempat tidurmu.” Sehun segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas. Selama perjalanan kembali ke apartemen Yoona, tidak banyak yang dibicarakan oleh keduanya. Yoona sudah sangat mengantuk, bahkan untuk mempertahankan kelopak matanya tetap terangkat rasanya membutuhkan usaha yang sangat keras. Dan Sehun tidak ingin mengganggu perempuan itu.

Sesampainya di parkiran basement gedung apartemen Yoona, Sehun menemukan perempuan itu telah tertidur nyenyak di kursi di sebelahnya. Sehun tidak langsung membangunkan perempuan itu dan memintanya untuk berhati-hati kembali ke apartemennya. Tapi, ia menikmati setiap detik yang berlalu dengan memandangi Yoona sejenak. Dibelainya pipi halus Yoona dengan jemarinya yang dingin, menyusuri garis sempurna yang menyusun karya terindah yang pernah Sehun pandang. Sebuah senyum kecil terukir di wajah tampan Sehun.

Iris pure hazel-nya masih ingin menatap Yoona lebih lama, tetapi ia harus segera membangunkannya. Sehun akhirnya mendaratkan sebuah kecupan di kening Yoona, lalu menepuk pelan pundak perempuan itu. “Hey. Bangunlah.”

“Hhmm…” Yoona mengerang pelan.

“Kita sudah sampai.” Suara Sehun begitu pelan dan lembut di waktu yang sama. Tepat seperti alunan lagu ballad terindah yang pernah kau dengar.

“Benarkah?” Yoona membuka matanya sedikit untuk memastikan.

“Ya.” Sehun mengangguk pelan.

“Baiklah,” Yoona memperbaiki posisi duduknya lalu merapihkan rambutnya. “Aku harus kembali.”

“Aku juga harus kembali.” Timpal Sehun.

“Gomawo,” Ucap Yoona meraih tangan Sehun dan menggenggamnya. “Kau akan mengajakku kencan lagi, bukan?”

“Sebanyak yang kau mau. Sesering yang kauinginkan.” Balas Sehun.

Yoona mengecup pipi Sehun dan berbisik di telinga laki-laki itu. “Aku mencintaimu. Kau selalu tahu itu.”

“Aku juga mencintaimu.”

 

Suara Sehun tiba-tiba terhenti.

Ia tercekat.

Dadanya terasa sesak ketika semua memori itu meluap di dalam kepalanya dan keluar dari mulutnya sebagai sebuah rangkaian cerita yang paling ia rindukan.

“Malam itu terakhir kali kau bertemu dengannya?” Tanya Dokter Park.

Iris pure hazel Sehun tidak dapat bertahan bahkan selama lima detik saja untuk fokus memandang suatu benda. “Y…a. Dia terlihat sangat mempesona malam itu, walaupun dengan kantung mata yang tidak bisa dia tutupi. Matanya bersinar dan wajahnya berseri-seri. Dia…Dia sangat cantik sekali malam itu.”

“Lalu, apa yang terjadi?”

 

Demi alam semesta, Sehun untuk pertama kalinya tidak percaya dengan matanya.

“Nona Im Yoona meninggal di tempat. Maafkan kami.” Sang Dokter menjelaskan sesingkat mungkin.

“Yoona!”

“Yoona!”

Sehun bisa mendengar member SNSD yang lainnya berteriak histeris memenuhi koridor rumah sakit dan sedetik kemudian telinganya tidak dapat mendengar apa yang tengah terjadi di keramaian. Tersumbat.

“Yoona!”

“Yoona, bangunlah! Kumohon!”

“Tidak!”

“Dia tidak mati!”

“Sehun?” Sehun mendongak dengan mata nanar dan setitik air mata langsung jatuh ke pipinya. “Aku turut berduka cita. Agensi telah mengirimkan orang-orangnya untuk mengurus ini semua dan Keluarga Yoona juga akan segera datang.” Beritahu manager hyung.

 

“Kecelakaan itu terjadi setelah Yoona pulang dari lokasi syuting. Sebuah mobil menabrak van-nya dengan sengaja dan membuat van Yoona keluar dari jalan raya dan menabrak tiang advertisement. Kau bisa mengatakan bahwa Yoona adalah korban dari misi bunuh diri.” Sehun melanjutkan ceritanya.

“Misi bunuh diri?”

“Kau ingat mobil sedan yang kulihat?” Sehun melirik Dokter Park. “Pengendaranya adalah seorang stalker. Fansku. Namanya adalah Jung Soo Rim. Malam itu dia mengikutiku dan Yoona. Dia tahu bahwa aku dan Yoona berpacaran. Aku menyadari mobil tersebut ketika pihak kepolisian memberikanku foto dari tempat kejadian perkara. Aku melihat mobil sedan yang sama. Tidak mungkin aku salah.”

 

“Ini adalah flat milik Jung Soo Rim.” Dua orang detektif dari pihak kepolisian Seoul menemani Sehun dan Baekhyun mengunjungi tempat tinggal Jung Soo Rim―perempuan yang digadang-gadang sebagai tersangka kematian Im Yoona.

Sehun dan Baekhyun segera mengenakan sarung tangan yang diberikan kepada mereka. Salah satu dari detektif tersebut memutar knop pintu lalu membukanya.

Baekhyun menghela nafas―speechless―tanpa mengedipkan matanya. “Sehun.” Panggilnya.

“Setelah mengetahui tempat tinggalnya dan menemukan ini semua, kami memutuskan untuk mengajak Tuan Sehun kemari karena kami memiliki dugaan kejadian ini memiliki korelasi dengan Tuan Sehun.” Jelas sang detektif.

Sehun memberanikan mengambil satu langkah, lalu dua langkah, dan tiga langkah hingga ia akhirnya menyusuri setiap sudut flat milik Jung Soo Rim yang telah ditutup untuk umum dan diberi Police Line. Flat yang tidak terlalu besar itu terlihat cukup berantakan dan seluruh dindingnya dipenuhi dengan poster EXO Oh Sehun.

Poster dirinya.

Jung Soo Rim dipastikan adalah seorang fans berat Oh Sehun.

Sehun mengepalkan tangannya untuk meredam getaran pada ujung jemarinya. Ada perasaan takut di dalam dirinya ketika melihat berbagai poster dirinya tertempel di flat tersebut. Nafasnya menjadi tidak karuan. Tidak sengaja iris pure hazel-nya menemukan sebuah amplop yang masih tertutup erat di atas sebuah meja. Ia meraihnya lalu menunjukkannya kepada dua orang detektif yang ikut bersamanya.

“Surat.” Beritahunya. Ia memberikan surat tersebut kepada detektif yang berdiri paling dekat dengannya.

Dengan cekatan, detektif tersebut merobek amplop putih tersebut dan menemukan sebuah kertas di dalamnya. Dibacanya sejenak, lalu detektif tersebut memandang Sehun. “Kau memiliki hubungan dengan Im Yoona selama ini?”

Mulut Sehun tertutup rapat. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, tetapi sepertinya ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk menutupi apapun saat ini. Sang detektif memberikannya surat tersebut lalu dibaca olehnya.

 

’Surat ini sebagai bukti bahwa Oh Sehun adalah seorang pembohong besar. Dia telah membohongi seluruh fansnya dengan tidak mengatakan dengan jujur tentang hubungannya dengan Im Yoona. Im Yoona adalah perempuan jalang yang tidak akan pernah pantas bersanding dengan Oh Sehun. Aku lebih baik mati ketimbang harus melihat Oh Sehun bersanding dengan perempuan lain manapun. Karena Oh Sehun adalah milikku.’,” Sehun mengutip sebuah paragraf dari surat yang telah ia baca satu tahun lalu. Lekukan kertas, goresan ujung pena yang terlalu ditekan keras, coretan pada kata-kata yang salah―masih sangat jelas diingatannya setiap detail isi surat tersebut.

“Aku sudah mendengar dan membuktikan cerita tentang fans yang akan melakukan hal nekat apapun demi idola mereka, tetapi tidak pernah sekali pun aku membayangkan bahwa fansku akan melakukan hal seperti itu―misi bunuh diri. Itu gila.” Tatapan Sehun terlihat nanar. Ada selaput tipis bening membungkuk iris pure hazel-nya.

“Lalu, bagaimana dengan Jung Soo Rim?”

“Dia juga meninggal dalam kecelakaan tersebut,” Sehun menolehkan wajahnya untuk memandang Dokter Park. “Jung Soo Rim tidak berniat mati seorang diri, tapi Im Yoona juga harus mati bersamanya. Aku tidak bisa mengenali Yoona saat aku pertama kali melihat jasadnya. Wajahnya…Wajahnya…” Sehun kehilangan kata-katanya. “Hancur. Rasanya seperti…jasad itu bukanlah Yoona. Bukan Im Yoona yang kukenal. Bukan Im Yoona visual SNSD yang negara ini kenal dengan paras cantik jelita.”

Dokter Park dan Sehun sama-sama terdiam. Dokter Park masih mencerna cerita yang dilontarkan laki-laki itu, sedangkan Sehun kembali merasakan perasaan yang ia rasakan satu tahun lalu. Tidak banyak kata yang bisa menggambarkan apa yang ia rasakan.

Sederhananya, Oh Sehun juga ikut kehilangan dirinya ketika ia kehilangan Yoona.

“Aku selalu percaya bahwa aku mencintai seseorang di waktu yang salah,” Sehun kembali melanjutkan. “Tidak seharusnya aku menelfonnya malam itu. Tidak seharusnya aku memaksanya untuk pergi denganku. Tidak seharusnya aku mengutamakan egoku. Yoona benar ketika dia mengatakan dia tidak ingin pergi, tapi aku salah telah mengubah pikirannya. Jika saja aku bersabar hanya untuk satu malam, Jung Soo Rim tidak akan menemukan keberadaan kami dan Yoona tidak perlu meregang nyawa karena egoku. Seberapapun banyak orang yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Yoona bukanlah salahku―perkataan mereka tidak akan pernah mengubah jalan cerita ini.”

 

“Kita tidak akan membiarkan kasus ini diketahui oleh publik begitu saja,” CEO SM Entertainment―Kim Young Min―turun tangan langsung untuk mengurus masalah yang kini tengah melanda label musik terbesar di negara ginseng tersebut. “Cukup katakan ke media bahwa Yoona mati di tangan sasaeng fans. Tidak lebih. Tidak ada Jung Soo Rim, tidak ada Oh Sehun.”

“Anda menutupi kebenaran, Kim Young Min-ssi.” Ucap sang detektif yang ikut duduk di ruangan Kim Young Min bersama Sehun setelah mereka kembali dari flat Jung Soo Rim.

“Aku tidak menutupi apapun. Aku menerima kebenaran bahwa dua artis dari agensiku menjalani sebuah hubungan dan salah satu di antara mereka kini telah tiada. Tidak ada kebenaran yang kututupi. Tapi, ada kalanya publik tidak harus tahu seluruh bagian cerita.”

 

“Agensiku menghabiskan uang dan waktu yang cukup banyak untuk menghapus namaku dari kasus tersebut. EXO sedang berada di puncak popularitas, dan aku tidak bisa menjadi alasan mereka terpuruk. Agensiku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan, hasilnya, bisa kau lihat sekarang. Negara ini digemparkan dengan berita tewasnya Im Yoona di tangan sasaeng fans tanpa ada sangkut-pautnya dengan diriku. Aku bersih,” Sehun terkekeh hambar. “Mungkin itu adalah salah satu kelebihan menjadi bagian dari agensi musik terbesar dan paling berpengaruh di negara ini.”

Dokter Park menghela nafas lalu menaruh papan yang ia bawa sedari tadi di atas nakas di sebelahnya. “Kau ingin tahu apa yang terjadi padamu? Mengapa kau terus menghalusinasikan Yoona, dan sebagainya,” Tanya Dokter Park. Sehun tidak menjawabnya tetapi sorot matanya dengan jelas meminta jawaban dari Dokter Park. “Kau berada di titik dimana kau amat sangat merindukannya.”

“Bukankah kita selalu merindukan orang-orang yang meninggalkan kita, Dokter?” Tanya balik Sehun.

“Tapi tidak semua orang melakukan hal yang tepat ketika mereka merindukan seseorang,” Balas Dokter Park. “Sebagian dari mereka mengabaikannya, tidak peduli, seakan-akan perasaan tidak pernah eksis. Sebagian lainnya melarikan dirinya. Sisanya mencoba dengan keras untuk menutupi kerinduan mereka dengan cara apapun. Jika kau merindukannya―datangilah dia. Temui dia. Kau bisa mengunjungi makam Yoona, dan mungkin itu akan menjadi langkah awal bagimu berdamai dengan apa yang telah terjadi.”

Sehun memakirkan mobilnya di sebuah pemakaman private. Ia turun dari mobilnya dengan mengenakan pakaian formal lengkap dengan dasi, kacamata hitam yang menutupi iris pure hazel-nya, dan sebuah buket bunga yang berada di genggaman tangan kirinya. Seorang petugas mencegatnya, menanyakan tentang identitasnya. “SM Entertainment. Aku di sini untuk memberikan pernghormatanku kepada Im Yoona.” Jawab Sehun.

Tidak perlu ada masker dan topi, tempat ini sebenarnya adalah tempat teraman untuk bersembunyi dari mata-mata media. Tidak sembarang orang bisa masuk dan tidak sembarang orang bisa berada di sini.

Pertugas tersebut akhirnya memberikannya izin masuk. Sehun langsung melangkahkan kaki jenjangnya dengan lebar. Pemakaman ini hanya menerima orang-orang tertentu untuk dimakamkan di sini. Jika kau bukanlah chaebol, jangan berharap untuk bisa dimakamkan di sini. Jika kau bukan petinggi negara, jangan berharap lagi. Tapi, ada satu cara yang akhirnya memperbolehkanmu untuk bisa beristirahat dengan tenang di sini.

Membayar dengan harga yang super tinggi.

Nominal yang ditawarkan tidak main-main.

Tetapi, Im Yoona bersedia membayarnya demi ketenangan beristirahat selamanya. Dan, akhirnya Sehun tahu bahwa kelak seluruh Keluarga Yoona juga akan diistirahatkan di sini.

Sehun melepaskan kacamata hitamnya, lalu menaruhnya di saku jas hitam yang ia kenakan. Ia berjongkok di depan sebuah makam yang berkonstruksi marmer hitam dan menaruh buket bunga dengan sepucuk surat di dalamnya di atas makam tersebut. Tangannya terulur untuk mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam tersebut, membersihkannya agar terlihat rapih.

Angin yang berhembus dengan tenang, suara gesekan dahan dan daun yang berterbangan menemani Sehun kali ini. Alam seakan-akan tahu bahwa yang Sehun cari adalah ketenangan, dan ia mendapatkannya di sini―di dekat Yoona. Angin juga menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang telah ia sisir rapih. Sehun lalu menutup matanya, memanjatkan doa untuk ketenangan Yoona di sisi-Nya.

“Kita bertemu lagi,” Sehun tersenyum kecil lalu menghela nafas, menahan air matanya yang siap terjatuh kapan saja. “Beberapa bulan terakhir aku disibukkan dengan jadwal world tour EXO. Hari-hariku dipenuhi dengan latihan, latihan, dan berpergian ke berbagai negara. Sangat melelahkan, kau pasti tahu itu,” Sehun terkekeh hembar lalu segera menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh. “Dan, aku juga menjadi pasien Departmen of Psychiatry―itu adalah ide Baekhyun hyung. Departemen itu ternyata tidak terlalu buruk. Aku akhirnya bisa kembali membuka buku cerita kita, walaupun itu sangat susah. Kau pasti sekarang menganggapku gila,” Sehun memaksakan senyumannya. “Ya, mungkin aku sudah gila.”

“Sehun?”

Sehun mendongak dan menemukan Kwon Yuri telah berdiri di sebelahnya dengan membawa sebuah buket bunga. “Nuna.”

“Sudah lama kita tidak bertemu.” Ucap Yuri.

“Sudah kama sekali.” Sehun membenarkan lalu segera berdiri.

“Kau sudah lama berada di sini?” Tanya Yuri.

“Baru saja datang.” Jawab Sehun singkat sembari Yuri menaruh buket bunga yang ia bawa di sebelah buket Sehun.

Sedetik kemudian, hanya ada kehingan di antara Sehun dan Yuri. Perempuan yang berdiri si sebelah Sehun itu tampak tengah memanjatkan doa dengan kedua tangannya yang saling bertautan. Lalu, beberapa saat kemudian, Yuri kembali membuka matanya. “Satu tahun berlalu dengan sangat cepat. Aku masih tidak percaya dia telah tiada.”

“Aku juga,” Suara Sehun tiba-tiba tercekat. Dadanya terasa begitu sesak kali ini. “Aku masih ingat bagaimana rasanya menggenggam tangannya. Rasanya baru seperti hari kemarin kami berada di satu mobil yang sama dan membicarakan tentang masa depan kami.” Sehun tersenyum kecil ketika ia kembali mengenang sosok Im Yoona.

“Yoona sering menceritakan tentangmu kepadaku,” Yuri menoleh untuk memandang wajah Sehun. “Dia selalu mengatakan bahwa dia beruntung bisa bersamamu. Dia bahagia bisa bersamamu. Sangat bahagia. Aku bisa melihat dari matanya yang bersinar setiap kali dia menyebut namamu.”

Sehun langsung memalingkan wajahnya dan kembali menghapus air matanya yang tiba-tiba terjatuh tanpa izinnya. “Maafkan aku, nuna.” Wajah Yoona yang tengah tersenyum langsung memenuhi pandangan Sehun. Suara tawa perempuan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Suara perempuan itu ketika memanggilnya masih terdengar di telinganya. Tarikan nafas Sehun semakin memberat seiring waktu berjalan.

“Tidak apa-apa.” Yuri tersenyum kecil mencoba menenangkan Sehun.

Sehun terkekeh hambar sembari ia menatap Yuri. “Aku akan pulang. Senang bertemu dengan, nuna. Gomawo.”

“’Gomawo’?” Kening Yuri mengerut.

“Terimakasih…karena telah memberitahuku bahwa Yoona bahagia. Itu membuatku merasa tenang.” Sehun tersenyum kecil sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya pergi.

My dearest, Yoona.

Aku menulis ini karena aku tidak yakin bisa mengatakan semuanya kepadamu dengan mata yang kering dan tidak tersedak.

Aku tidak tahu harus memulai dari mana, karena semuanya dimulai denganmu.

Hari-hariku berubah drastis semenjak kau tidak ada.

Semuanya berubah.

Dari aspek hidupku yang terkecil sekalipun.

Aku tidak tahu bahwa ditinggalkan seseorang yang amat sangat berarti untukmu akan memberikan dampak sedahsyat ini, dan kau membuatku mengerti. Sangat mengerti dengan baik. Ketika kau kembali datang dan kau memberikanku kesempatan terakhir untuk melihatmu lagi.

Masih sulit untukku melepaskan tanganmu dari genggamanku ketika aku bersumpah tidak akan semudah itu melepaskannya atau sesulit apapun keadaannya.

Di atas segalanya, aku mencintaimu. Kau pasti tahu itu.

 

 

Truly eternally yours,

Oh Sehun.

 

the end.

It’s been really a long long time since the last time I produced stories. I put much effort on it but I bet this one isn’t going to be good enough. I’ve lost sense of writing lately, and it makes me so hard to choose right diction and turn it into a total good story. But, I’m kinda happy. After struggling writing dozen of stories and drafting, and finally I could finish one of them (yet the rest was…I don’t know). Damn, I miss you guys. So here! Please, kindly give comment if you have something to say ❤

Advertisements

15 thoughts on “Out of My Grasp

  1. Akhirnyaaaa….
    setelah sekian lama nunggu karnyamu ternyata muncul juga..
    Sebenarnya aku blm baca ceritanya, tapi sengaja ninggalin jejak dulu.
    Sudah tak tahan mata ini ingin segera beristirahat..

    Like

  2. Bagus.. tapi sedih. Kenapa yoona harus meninggal. So sad.
    Thor kangen banget dg karya2 mu… lanjutin jg donk cerita yang lain.

    Like

  3. Nyesek pas tau yoonanya meninggal..
    Hhuuuu kásian sehun..
    Chingu tolong bikin ff yg endingnya happy donk, aku pengen mereka bahagia.. hhihihi
    Chingu terus berkaya ya, aku selalu nunggu ff mu yg selalu mengagumkan..
    Keep writing !!

    Like

  4. Heol…. Udah lama banget…
    Kangen sama karya2 mu eonni. 😘😘😘

    Mmmm comeback dg cerita sedih..
    Tapi gpp aku akan tunggu cerita yg lain… Yang happy romance

    Fighting eonni

    Like

  5. Setelah sekian lama akhirnya update jugaa 😢 I really miss your works unnie ❤️😘 Gonna wait for other works so fighting!! 💪🏼🤗

    Like

  6. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa baca cerita Clora lagi… pasti sibuk di dunia nyata ya author? 😊
    Seneng dan sedih, seneng karena kamu ada cerita baru author-nim. Sedihnya gara2 dicerita ini Yoona udah meninggal😢
    Ada rencana buat akun wattpad gk author? atau malah udah punya akunnya? Pengen juga gitu karya2mu di posting wattpad, kalo ada bagi uname ya author hehhehe.. kalo gk juga gk papa☺
    Ditunggu karya atau lanjutan dari cerita2 ya author😉

    Like

  7. damn! i miss you like crazyyyyyy (obviously im your fan haha). the last post was in August and i always wonder whether you would come back or not. your writing is always the sweetest. thank you for coming back xx

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s