Stranger

by
Clora Darlene

Main Cast
Oh Sehun | Im Yoona

Supporting Cast
Park Chanyeol

Length RatingGenre
973 words | PG-13 | Romance

[Sehun’s Point of View]

Sehun memacu mobilnya di jalan raya Seoul dengan kecepatan penuh. Tangannya erat sekali menggenggam setir mobil hingga buku-buku tangannya memutih. Mulutnya tertutup rapat dan garis rahangnya menegas. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak meluapkan emosinya sembari menyetir atau bisa-bisa esok pagi ia diberitakan terlibat dalam sebuah kecelakaan tunggal. Tapi, sedetik kemudian ia berteriak dan memukul setir mobilnya.

“Sialan!” Umpatnya keras. “Sialan.”

Ia berpikir bahwa malam ini akan menjadi malam sempurna baginya, tetapi ia salah besar. Sangat salah. Ia telah menyiapkan berbagai rencana untuk menjadikan malam ini istimewa―candle light dinner di sebuah hotel berbintang lima di pusat kota, buket bunga, dan sebuah cincin dengan berlian besar di atasnya―tetapi tidak satu pun ia menyiapkan rencana bagaimana jika malam ini berubah menjadi malam terburuk yang pernah terjadi di hidupnya.

Sehun membelokkan mobilnya ke sebuah cocktail bar dan memakirkan mobilnya. Ia sekilas melirik buket bunga indah yang berada di sebelahnya. Sedetik kemudian, ia meraihnya, turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Tidak terlalu ramai, seperti biasanya. Cocktail bar eksklusif yang ia sambangi secara berkesinambungan. Sehun sejenak berdiri beberapa langkah dari pintu setelah ia masuk. Ia terdiam ketika melihat sebuah keranjang sampah.

Ia berdiri cukup lama memandang keranjang tersebut, tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang memandangnya aneh dan mulai berbisik-bisik mengapa laki-laki tampan seperti dirinya hanya tertarik menatap keranjang sampah. Akhirnya dengan salah satu tangannya yang tidak menggenggam buket bunga, Sehun mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dari saku jas berwarna khaki yang ia kenakan. Ia membuka kotak tersebut dengan satu tangannya dan memandang sendu cincin yang berada di dalamnya.

“Aku tidak bisa, Sehun. Maafkanku. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku datang kemari untuk mengatakan bahwa aku ingin hubungan kita ini berakhir.”

Masih begitu lekat dan jelas ucapan perempuan itu di telinganya. Berputar nyaring dan keras di kepalanya. Ia sudah mencintai perempuan itu selama bertahun-tahun, dan dengan semalam semuanya tidak berarti apa-apa. Hancur tanpa sisa. Jangan tanyakan betapa menyedihkannya ia saat ini, karena Sehun sendiri juga tengah membenci dirinya sendiri.

Ia kembali menutup kotak tersebut lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Dengan ini, dia juga telah membuang semua yang ia miliki untuk perempuan itu. Walaupun membuang seluruh kenangan tersebut tidak akan semudah ia melemparkan cincin ribuan dollar tersebut ke keranjang sampah tanpa berpikir dua kali.

Sehun mendongakkan kepalanya, memalingkan wajahnya dari keranjang sampah dan menyapu ruangan cocktail bar dengan pandangannya. Ia mencari-cari tempat yang nyaman untuknya duduk. Lalu, iris pure hazel-nya menangkap seorang perempuan tengah duduk di salah satu kursi tinggi yang berhadapan langsung dengan sang bartender. Perempuan itu seorang diri, hanya menyangga dagunya dan tatapannya hanya tertuju pada arloji dan ponselnya.

Sehun kembali menoleh melihat buket bunganya kemudian mengambil langkah menuju perempuan tersebut dan menaruh buket bunga yang ia genggam di atas meja, di sebelah perempuan itu. Perempuan yang notabene tidak Sehun kenal. “Untukmu.”

Sehun langsung duduk di sebelahnya dan mengangkat tangannya memanggil sang bartender. Tidak terlalu memperhatikan reaksi perempuan tersebut setelah mendapatkan bunga dari sosok yang tidak ia kenal.

“Chanyeol mengirimmu ke sini untuk memberikanku ini?” Akhirnya perempuan itu membuka suaranya.

Sehun baru saja menyebutkan pesanannya kepada sang bartender lalu memalingkan wajahnya menatap perempuan tersebut dengan tatapan bertanya-tanya. “Siapa Chanyeol? Dan apa―mengirim bunga untukmu? Apa kau pikir aku adalah florist yang juga melayani jasa antar buket bunga?”

“Kau bukan delivery man?”

Okay. Untuk pertanyaan yang satu itu Sehun tidak menyangkanya. Apakah wajah menawannya ini bisa disamakan dengan para delivery men? Tuhan, tentu saja tidak. Sehun mendesah pelan lalu ia tertawa hambar sembari menyeka keringat di keningnya. Oh, astaga, perempuan ini memiliki selera humor yang fantastis, pikir Sehun. “Apa kau pikir delivery man akan mengenakan suit dari Tom Ford dengan harga belasan ribuan dollar, Rolex Submariner watch, dan sepasang sepatu dari House of Testoni?” Ia menaikkan ujung jasnya untuk memperlihatkan arloji Rolex edisi terbaru yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menepukkan kedua kakinya untuk memperlihatkan sepasang sepatu pantofel mengkilap milik House of Testoni.

Perempuan itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil dan meraih buket bunga yang ditaruh Sehun di atas meja bar. “Terimakasih,” Tepat saat itu sang bartender menyodorkannya segelas cocktail yang ia pesan. Ia segera meraihnya lalu menyesapnya pelan. “Maafkan aku karena telah mengiramu sebagai delivery man. Aku sungguh-sungguh tidak tahu,” Sehun mendengar perempuan itu kembali melanjutkan ucapannya, tetapi ia tidak terlalu menaruh banyak perhatian. “Mengapa kau tiba-tiba memberikanku buket bunga ini?”

Sehun menaruh gelasnya. Pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh perempuan itu menarik minatnya untuk menjawab. Pertanyaan yang juga memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan mengapa ia datang kemari saat ini, menikmati segelas cocktail dan duduk di sebelah perempuan itu. “Karena kau terlihat kesepian.”

Sehun dapat melihat perubahan raut wajah pada perempuan itu ketika iris pure hazel-nya beradu pandangan dengan sepasang iris madu yang duduk di sebelahnya. Ia menyadari bahwa jawaban yang diberikannya terlalu kasar untuk dilontarkan kepada seorang perempuan. Ia ingin membuka mulutnya untuk meminta maaf, tetapi perempuan itu lebih dulu membuka suaranya. “Lalu, bagaimana denganmu? Tidakkah kau merasa kesepian seperti diriku juga karena kau telah menyiapkan buket bunga ini, tetapi orang yang kauberikan malah menolaknya?”

Kini, Sehun menutup mulutnya. Pertanyaan perempuan itu menamparnya. One shot, one kill. Ia kembali mengingat dua jam lalu ia tengah berada di sebuah hotel berbintang lima di pusat kota, candle light dinner bersama satu-satunya perempuan yang berhasil merebut seluruh hatinya, perempuan yang membuat Sehun merancang masa depannya sebaik mungkin dan menempatkan perempuan itu di tempat terbaik di sana. Tetapi, yang dilakukan perempuan itu malah mengenyahkannya untuk selama-lamanya. Hanya dengan empat kalimat dan semuanya sirna. What a twisted love story. Melihatnya tak memberikan jawaban apapun, perempuan yang duduk di sebelahnya itu akhirnya turun dari kursi tinggi dan tersenyum lebar―serta manis, jika Sehun boleh menambahkan―lalu mengangkat buket bunga yang berada di genggamannya. “Thank you. Your flower made my whole day.” Perempuan itu tidak lagi menunggu Sehun meresponnya, ia langsung membalikkan badannya dan pergi.

Iris pure hazel Sehun masih memandang punggung yang tertutupi coat berwarna burgundy itu hingga hilang di balik pintu.

end.

Advertisements

3 thoughts on “Stranger

  1. Oooh…jadi benar pria itu Sehun…!!dan ia ditolak oleh seseorang dan memberikan bunganya untuk Yoona.Waaah…jawaban Yoona sangat mengena untuk Sehun..😅👏👏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s