Bed Time

by
Clora Darlene

Main Cast
Oh Sehun | Im Yoona

Length RatingGenre
681 words | PG-13 | Romance

Yoona membuka matanya pelan.

Ia menatap space kosong di sebelahnya, dan membalikkan badannya melihat jam digital di atas nakas di sebelah ranjang tidurnya.

Hampir menunjukkan pukul 2 malam kurang tiga menit, dan laki-laki itu belum kembali ke kamarnya.

Yoona dengan malas―terpaksa, jika bisa dibenarkan―menarik tubuhnya bangkit dan turun dari ranjang. Ia merapihkan rambutnya yang berantakan sembari melangkah keluar dari kamar. Ia melintasi ruang tengah, dan mendapatkan ruangan tersebut kosong dengan TV tidak dinyalakan. Ruang makan pun juga begitu. Hanya gelap, tidak ada siapa-siapa di sana. Yoona melangkahkan kakinya menuju ruangan yang berkemungkinan paling besar―setelah ruang tengah dan ruang makan―ditempati laki-laki itu saat ini dengan laptopnya yang terbuka dan layarnya yang menyala menyilaukan mata.

Yoona memutar knop pintu, lalu mendorong dan membukanya tanpa suara.

There he is. Batin Yoona.

Ia kembali melangkahkan kakinya masuk, lalu berdiri di belakang laki-laki yang tengah fokus mengetik sesuatu panjang lebar di laptopnya dengan kacamata bertengger di hidung. Iris pure hazel-nya menyorot tajam layar laptop, sesekali pindah melirik ke arah keypad-nya dan memastikan ia mengetik tanpa cacat.

Yoona melingkarkan kedua tangannya pada leher laki-laki tersebut lalu mengusap dada bidangnya halus dan menaruh dagunya pada bahu lebar laki-laki itu, dan ia dapat merasakan laki-laki itu terkejut. “Sebentar lagi, hon.” Laki-laki itu berucap seakan-akan tahu apa yang akan dikatakan oleh Yoona.

“Ini sudah pukul 2 malam. Kau harus istirahat. Works can wait.” Bisik Yoona tepat di telinga laki-laki itu lalu mengecup pipinya.

“Sebentar lagi.” Laki-laki itu bahkan tidak melirik Yoona. Oh, astaga. Apakah laptop itu jauh lebih sempurna ketimbang dirinya? Pikir Yoona kesal.

Three minutes.”

Five minutes.” Laki-laki itu―Oh Sehun―menawar.

Four.” Yoona melepaskan tangannya lalu melangkah menuju sofa panjang yang berada di ruang kerja tersebut. Ia membaringkan dirinya di atas sofa yang menghadap langsung pada meja kerja Sehun tanpa ada yang menghalangi. Yoona bisa melihat jelas bagaimana laki-laki itu bekerja. Yoona bisa melihat jelas passion besar laki-laki itu pada pekerjaannya hanya dari sorotan matanya yang hangat tetapi tegas. Well, terkadang itulah yang membuat Yoona kesusahan untuk menghentikan Sehun dari aktivitas gilanya jika ia sudah bersikap perfeksionis dalam menjalankan pekerjaannya. Tidak akan terkekang oleh waktu. Tidak merasa butuh istirahat. Tidak menyentuh makanannya. Laki-laki itu bisa lupa diri dan bisa duduk selama dua hari non-stop di hadapan laptop kesayangannya―barang paling berharga di rumah ini.

Mata Yoona masih belum mengerjap seraya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri dan iris madunya dihadapkan oleh ciptaan Tuhan―yang menurutnya―paling sempurna yang pernah ia lihat.

Masih ada satu menit lagi sebelum jam digital menunjukkan menit keempat sebagai deadline Sehun, tetapi Yoona sudah membuka suaranya lagi. “Mengapa kau tidak pulang ke rumahmu?”

“Ini juga rumahku.” Jawab Sehun singkat.

“Maksudku, rumahmu yang sebenarnya.”

“Ini juga rumahku yang sebenarnya, Yoona.” Kini suara Sehun terdengar lebih halus dan pelan, walaupun ada penekanan di setiap kalimatnya.

“Maksudku―”

“Maksudmu, pulang ke istriku?” Pandangan Sehun akhirnya terlepas dari layar laptopnya dan mendongak untuk menatap Yoona yang tengah berbaring di sofa berwarna putih gading di ruang kerjanya.

Yoona segera bangkit dari sofa. “Aku akan tidur. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu jika kau ingin mengerjakannya. Selamat malam, Sehun.” Iris madu Yoona menghindari tatapan tajam Sehun yang menghujamnya, dan dengan balutan lingerie putih ia segera keluar dari ruangan Sehun dan kembali ke kamarnya.

Sialan. Batinnya. Mengapa ia tiba-tiba kembali terpikirkan hal tersebut, dan lebih parahnya lagi, menyuarakannya? Ia tahu pasti Sehun tidak suka―benci―jika Yoona mulai mengangkat topik tentang rumah tangga laki-laki tersebut.

Yoona langsung mematikan lampu tidur di atas nakas dekat jam digital, dan membungkus dirinya dengan selimut tebal. Ia belum benar-benar memejamkan matanya dan kembari tenggelam terbawa arus pikirannya.

Sehun bisa jadi tidak menyukai topik tersebut, tetapi topik tersebut adalah sebuah fakta aktual dan nyata. Fakta bahwa ia adalah seorang―

Yoona terperanjat ketika ia merasakan seseorang naik ke atas ranjangnya, ikut masuk ke dalam selimutnya lalu memeluknya hangat dari belakang dan mengelus pelan lengannya. Yoona dapat merasakan punggungnya menempel dengan dada bidang Sehun yang terasa hangat. Ia juga dapat mendengar deru nafas laki-laki itu di telinganya, merasakan terpaan hembusan udara menyentuh daun telinganya. Laki-laki itu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pelipisnya, lalu berkata, “Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku hanya ingin tidur sekarang. Selamat malam, sayang.”

End.

Advertisements

3 thoughts on “Bed Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s