Workmate

by
Clora Darlene

Main Cast
Im Yoona | Oh Sehun

Length Rating | Genre
1629 words PG-13 | Romance

[Yoona’s Point of View]

read also; Stranger

Yoona yang mengenakan lace dress berpotongan open back berwarna ivory itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung besar yang berada di pusat kota. Gedung tersebut tampak sudah ramai, sepertinya ia datang beberapa menit setelah acara charity itu dimulai. Kaki Yoona yang beralaskan stiletto milik Christian Louboutin itu berhenti melangkah sejenak. Sepasang iris madunya mengedarkan pandangan, menyapu ke seluruh ruangan yang dapat dijangkaunya. Ia mencari orang-orang yang mungkin ia kenali wajahnya atau malah―jika bernasib baik―adalah teman baiknya.

Yoona kembali melangkahkan kakinya, memerhatikan sekitar. Sesekali ia bertemu dengan beberapa kolega kerja ayahnya dan hanya menyapa sesaat dengan sebuah senyuman manis serta sopan lalu menghilang. Ia keluar dari kerumunan dan menepi menuju deretan meja yang menyajikan gelas champagne. Ia meraih salah satunya lalu menyesap pelan. Sepertinya, ia tidak bernasib baik malam ini. Ia tidak bertemu dengan orang yang ia kenal, seperti Donghae atau Siwon yang merupakan anak dari kolega kerja ayahnya yang Yoona juga kenal baik. Atau Yuri dan Sooyoung.

Yoona mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa notifikasi. Tetapi, gerakannya terhenti sejenak memandang screen lock ponselnya. Sial, dirinya seharusnya telah mengganti screenlock sialan itu dengan foto apapun selain foto sialan ini, pikirnya. Screenlock-nya masih di setting dengan foto dirinya dan Chanyeol. Ya, Chanyeol. Park Chanyeol. Laki-laki yang tidak bisa menemaninya malam ini karena ada meeting (yang sebenarnya bisa ia tunda kapan saja karena ia adalah bosnya).

“Yoona?”

Yoona menoleh ketika mendapati seorang pria sudah lanjut usia memanggilnya dengan suara berat khas orangtua. Yoona refleks menaruh kembali gelas champagne-nya dan bibirnya otomatis membuat Bulan Sabit. “Paman Kim. Selamat malam.” Yoona membungkukkan badannya, memberikan salam hormat kepada pamannya tersebut.

“Oh, astaga. Aku hampir tidak mengenalimu, Yoona. Kau sudah tumbuh besar sekarang. Kau telah menjadi perempuan yang sangat cantik.” Yoona memeluk singkat pria tua yang ia panggil dengan sebutan ‘Paman Kim’ tersebut―selaku tuan rumah acara charity malam ini. Kim Jin Young, nama lengkapnya jika kalian ingin tahu. Beliau merupakan seorang pemilik rumah sakit swasta di Seoul yang merupakan warisan turun-temurun Keluarga Kim, dan acara charity ini digelar dalam rangka membantu pasien kanker anak-anak di rumah sakitnya.

Yoona terkekeh pelan lalu melepaskan pelukannya. “Terimakasih, Paman Kim.”

“Aku masih ingat ketika kau masih di Sekolah Menengah Pertama. Badanmu masih sangat kecil bahkan ketika umurmu sudah beranjak empat belas tahun.”

Semburat merah merona mewarnai pipi Yoona. “Sepertinya aku telah tumbuh dengan baik,” Timpal Yoona dengan sopan.

“Bagaimana kabar ayahmu, dan pekerjaanmu?”

“Keduanya baik-baik saja, Paman. Aboji tidak dapat hadir malam ini, Paman.”

Kim Jin Young menggeleng, menandakan itu bukanlah masalah besar. “Tidak apa-apa, Yoona. Melihatmu malam ini saja aku sudah sangat senang.”

Sedetik kemudian, Yoona mengingat sesuatu dan langsung menanyakannya kepada Kim Jin Young tanpa ragu. “Apakah Jongin sudah kembali, Paman Kim?”

Pria itu mengangguk. “Jongin sudah kembali. Dia kembali dua bulan lalu, tetapi malam ini tidak dapat hadir karena harus mengurus beberapa hal mengenai kepindahannya ke Seoul.”

Yoona mengangguk pelan, mengerti. Laki-laki yang ditanyakannya itu merupakan sepupu terdekat Yoona. Mereka bersekolah di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang sama―itu mengapa Yoona mengenal baik Keluarga Jongin, temasuk ayahnya, Kim Jin Young―hingga laki-laki itu memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Dan, seperti kebanyakan orang lainnya, laki-laki itu merasa betah berada di sana dan hampir sangat jarang pulang ke Seoul. “Aku berharap bisa bertemu dengannya secepatnya.”

“Akan paman sampaikan kepadanya. Paman harus pergi, Yoona. Senang bertemu denganmu.” Pria itu tersenyum sebelumnya akhirnya menepuk pundak Yoona dengan bijak dan pergi. Yoona menghela nafas pelan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam clutch dan berbalik untuk meraih gelas champagne yang baru ia nikmati setengahnya.

Dengan sekali tegukan, gelas champagne Yoona sudah berubah hanya menjadi gelas kosong biasa. Ia membersihkan pinggiran bibirnya. Untung saja ia tidak membawa mobil sendiri, pikirnya. Sopirnya yang super baik itu rela menunggunya hingga acara selesai, tetapi Yoona menyuruhnya untuk pulang dan akan ditelfon kembali jika Yoona sudah selesai. Well, itu bisa dikategorikan sebagai sisi lembut Im Yoona kepada sang sopirnya yang telah melayaninya semenjak ia masih seorang bocah SMA ingusan.

“Yoona?”

Yoona kembali membalikkan dirinya. Raut wajahnya berubah seketika dan ia refleks memeluk laki-laki tinggu. “Kris!”

“Hey,” Sapa laki-laki berdarah campuran Tiongkok-Kanada itu ringan lalu membalas pelukan hangat Yoona. “Kau sendirian?”

Yoona mengangguk lalu melepaskan pelukannya dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya. “Kau bisa mengatakannya seperti itu.”

“Di mana Chanyeol? Dia tidak menemanimu?” Pertanyaan Kris Wu telak menutup mulut Yoona.

Yoona menggeleng kaku. “Dia sedang ada meeting yang tidak bisa ditunda.”

Tidak bisa ditunda, my ass. Batin Yoona kesal.

“Dia sepertinya sangat sibuk,” Timpal Kris. “Kau ingin bergabung dengan teman-temanku? Aku juga bertemu dengan Siwon hyung.” Kris menunjuk sekumpulan laki-laki yang berada di seberang mereka berdua.

“Baiklah.” Tanpa berpikir panjang Yoona mengiyakan. Berdiri sendiri dengan gelas champagne yang terus bergilir akan membuatnya terlihat menyedihkan, bukan? Jadi, tawaran Kris merupakan sesuatu yang menguntungkan untuknya.

“Kau sudah bertemu dengan Jongin?” Tanya Kris selagi mereka melangkah mendekati teman-teman Kris.

Yoona yang berjalan di sebelahnya menggeleng pelan. “Belum. Paman Kim mengatakan dia masih harus mengurus kepindahannya kemari. Kupikir, dia akan menetap di Los Angeles.”

“Kaupikir Jongin benar-benar ingin kembali ke Seoul?”

“Apa maksudmu?” Kening Yoona mengerut.

Kris tertawa kecil. “Paman Kim harus menyeret-nyeretnya untuk kembali ke sini. Tidak mudah untuk membawanya pulang, Yoong.

That jerk,” Desis Yoona membayangkan wajah Jongin yang kerah kemeja ditarik dan akhirnya diseret keluar dari kawasan elit Beverly Hills. “Dia pikir siapa yang akan menggantikan ayahnya jika bukan dia? Dia adalah anak-anak satu-satunya, dan rumah sakit keluarganya harus tetap dijalankan.” Yoona mengoceh pelan.

That makes him Kim Jongin.” Kris menaikkan keduanya bahunya, mengerti dengan baik tabiat-tabiat laki-laki bernama Kim Jongin.

“Siwon oppa!” Yoona sudah berteriak memanggil seseorang yang ia kenal dengan baik sebelum Kris membuka suaranya untuk memperkenalkan Yoona ke beberapa teman-teman dan koleganya.

“Halo, princess.” Siwon membuka lengannya lebar untuk menyambut Yoona dan perempuan itu―tentu saja―langsung berlari dan memeluk Siwon.

“Oh, astaga. Sudah lama aku tidak bertemu dengan oppa.”

“Kau merindukanku?”

“Tentu saja!” Sorak Yoona menjawab pertanyaan Siwon lalu melepaskan pelukan laki-laki berbadan atletis tersebut.

“Yoona, perkenalkan teman-temanku.” Kris mengalihkan perhatian Yoona yang sepertinya lupa apa tujuannya ia bergabung dengan teman-teman Kris―well, tentu saja berkenalan―karena terlalu terpaku dengan kehadiran Choi Siwon di tengah-tengah mereka.

“Oh, ya,” Senyuman Yoona otomatis menghiasi wajahnya. “Im Yoona imnida. Senang bertemu dengan kalian semua, teman-teman Kris.” Lihatlah. Betapa manisnya perempuan bernama Im Yoona ini. Wajahnya begitu rupawan dilengkapi dengan suara merdu dan senyuman meneduhkan.

“Yoona, kenalkan Jongdae, Taeyong, Joonmyeon, Jungsoo hyung, Yunho hyung, dan Sehun.” Kris menunjuk masing-masing teman-temannya yang seluruhnya memegang gelas champagne di tangan mereka.

“Aku pernah bertemu denganmu.” Yoona tidak bisa menahan mulutnya ketika Kris memperkenalkan teman terakhirnya. Bahkan beberapa teman Kris yang ingin bersalaman dengan Yoona juga refleks mengurungkan niat mereka. Laki-laki yang dimaksud Yoona itu hanya berdiam diri dengan wajah datar.

“Dia adalah cardiac surgeon nomor satu di rumah sakit tempatmu bekerja, Yoong.” Jelas Siwon.

“Apa?” Tanya Yoona dengan cepat. “Cardiac surgeon di rumah sakit tempatku bekerja?” Pertanyaan Yoona benar-benar terdengar seperti ‘excuse me, did I misheard?’.

“Ya.” Siwon kembali menjawab dan mengagguk.

“Kau juga dokter, Im Yoona-ssi?” Tanya salah satu dari mereka. Park Jungsoo.

Yoona tersenyum kecil. “Ne. Aku dokter spesialis obstetri dan ginekologi.”

“Kalau begitu, kau pasti sudah mengenal Sehun. Kalian bekerja di rumah sakit yang sama.” Timpal Kris.

“Tapi, kukira dia adalah delivery―” Ucapan Yoona terhenti ketika ponsel di dalam clutch-nya bergetar dan berbunyi nyaring. Dengan penuh harapan, Yoona membayangkan akan ada nama ‘Park Chanyeol’ yang tertuliskan di atas layar dan laki-laki itu akan berkata kepadanya bahwa ia sedang dalam perjalanan menyusul Yoona. Ia lebih memilih untuk meraih ponselnya, dan menghela nafas ketika mendapatkan pihak rumah sakit menelfonnya.

“Ada apa?”

Pasien bernama Ahn Soo Ra harus segera dioperasi, Dokter. Pasien mengalami pendaharan saat ini.Staff rumah sakit tersebut memberitahu kondisi terkini salah satu pasien yang ditangani Yoona.

Ahn Soo Ra? Ahn Soo Ra…Ahn Soo Ra. Yoona mencoba mengingat pasiennya yang bernama Ahn Soo Ra tersebut. “Pasien dengan janin kembar siam, Dokter.” Staff tersebut seakan-akan bisa membaca pikiran Yoona.

Yoona langsung teringat ketika staff-nya tersebut memberitahunya. “Dia mengalami pendarahan? Aku akan segera ke sana.” Tanpa menunggu respon, tangan Yoona dengan cepat mencari-cari kontak sopirnya. “Maafkan aku, tetapi aku harus pergi. Pasienku dalam keadaan darurat.” Tanpa menunggu respon lagi, Yoona langsung membalikkan dirinya dan melangkah dengan tangan yang masih lincah menari di atas layar ponsel.

“Jemput aku sekarang. Aku harus segera ke rumah sakit.” Perintah Yoona tanpa basa-basi dan diiyakan oleh sang sopirnya. Yoona berdiri sendiri di depan pintu gedung besar tersebut, menunggu-nunggu mobilnya masuk ke dalam halaman parkir. Tangan kirinya memegang clutch, dan tangan kanannya memegang ponsel, berjaga-jaga siapa tahu staff rumah sakit akan kembali menghubunginya untuk memberitahunya perkembangan sang pasien di rumah sakit.

Stiletto Yoona mengetuk-ngetuk lantai marmer, tidak sabar menunggu kehadiran sopirnya yang sudah berlalu tujuh menit setelah ia menelfon.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Maafkan saya, nona. Saya terjebak macet.” Beritahu sang sopir terdengar ikut terdesak.

Yoona hanya bisa menghela nafas pasrah. “Aku akan pergi sendiri.” Ucapnya. Yoona sudah membayangkan dirinya harus keluar dari kawasan gedung tersebut untuk memanggil taksi dengan mengorbankan stiletto Christian Louboutin kesayangannya ini. Tidak, ia tidak akan kembali masuk ke dalam dan meminta Kris atau Siwon mengantarnya. Ia tidak suka menjadi beban. Dan, tentu saja, ia bisa melakukan ini semua sendirian. Itu adalah jawaban dari pertanyaan kalian semua tentang mengapa ia tidak masuk saja dan meminta sedikit bantuan.

“Kau akan pergi ke rumah sakit?”

“Oh, astaga!” Yoona terkejut ketika Sehun sudah berdiri di sebelahnya dengan kedua tangannya ia sembunyikan di saku celana kainnya. “Kau mengejutkanku.”

“Aku juga akan pergi ke rumah sakit, mengambil beberapa barangku yang tertinggal. Kau ingin ikut?”

Apa laki-laki ini benar-benar menawarkan bantuan dengan wajah datar seperti itu? Pikir Yoona.

“Sedikit lebih lama saja, kita berdua tahu ada seseorang yang akan gagal menjadi ibu,” Sehun melanjutkan ucapannya yang berhasil mengubah pikiran Yoona yang awalnya berniat untuk menolak. “Let’s go.” Membaca mimik wajah Yoona, tanpa berpikir panjang Sehun langsung melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Yoona.

End.

Advertisements

One thought on “Workmate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s