One Night

005GC4E1gw1f04myutxn6g30hs09q4qs

by
Clora Darlene

starring
Im Yoona | Oh Sehun

Length | Genre | Rating
2165 WordsRomance | R

Yoona mengerang pelan dalam tidurnya. Matanya lama-kelamaan terbuka, dan ia mendapati kepalanya menindih dada bidang seorang laki-laki yang tengah mengelus pucuk rambutnya halus. Kamar hotel itu gelap, hanya lampu tidur di atas meja di sebelah laki-laki itu yang menyala―membuat Yoona berhasil menangkap sepasang bolamata pure hazel itu tengah memerhatikannya. “Kau terbangun?” Tanya Yoona dengan suara serak, enggan menggeser kepalanya dari dada bidang tersebut ke bantal super empuk di sebelahnya. Dada bidang dengan bahu yang lebar itu terlihat lebih menggiurkan ketimbang bantal hotel bintang lima manapun.

“Hm,” Gumam laki-laki itu tidak jelas. “Aku membangunkanmu?”

Yoona menggeleng sembari mengucek matanya. “Tidak. Jam berapa sekarang?”

“Tiga pagi,” Jawab laki-laki itu yakin tanpa perlu melirik jam digital di sebelahnya. “Aku akan pulang pukul empat.”

“Kalau begitu aku pukul lima.” Timpal Yoona lalu kembali menutup matanya dan mencoba tidur. Yoona menaruh telapak tangannya di atas perut laki-laki itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari sana ke sekujur tubuhnya. Kulit laki-laki itu halus seperti kulit bayi, dan juga aromanya yang menyegarkan. Entah parfum apa yang digunakan, tetapi parfum tersebut berhasil bertahan semalaman dan tentu saja Im Yoona menyukainya.

Yoona bertemu dengan laki-laki tersebut di sebuah club malam. Yoona yang tengah menikmati minumannya di meja bar tinggi lalu laki-laki itu datang dan duduk di sebelahnya.   Keduanya berkenalan, saling bertukar nama dan cerita hingga berakhir di sebuah kamar hotel sebagai one-night stand partner. Jangan berprasangka buruk bahwa Yoona adalah perempuan gampangan yang akan menerima ajakan one-night stand siapapun. Ia cukup selektif dalam memilih partner-nya. Dan laki-laki yang dipilihnya kali ini tidak mengecewakan.

Ujung jemari Yoona mengelus pelan permukaan kulit perut laki-laki itu dengan mata yang mencoba terlelap. Tetapi, gerakannya terhenti ketika tangan laki-laki itu menarik jemarinya, dan Yoona langsung menautkan jemarinya di sela-sela jari laki-laki itu. Bahkan dengan mata tertutup, Yoona tahu bahwa tangan laki-laki itu jauh lebih besar dari ukuran tangannya. Rasanya seperti tangan laki-laki itu bisa membungkus kepalan tangan Yoona. Dengan satu tangan yang saling bertautan, laki-laki itu masih mengelus pelan kepala Yoona dan memainkan surai cokelat itu dengan tangannya yang lainnya, membantu perempuan itu untuk kembali istirahat. Tetapi, Yoona malah mengangkat kepalanya lalu memandang iris pure hazel yang juga memandangnya balik.

“Kau tidak kembali tidur?” Tanya Yoona.

Laki-laki itu―Oh Sehun―menggeleng pelan. “Aku sebentar lagi akan pergi.”

“Kau masih memiliki waktu untuk tidur.” Yoona melirik jam digital di atas nakas.

Lagi, lelaki itu menggeleng. “Lebih baik kau yang tidur saja.”

Yoona kembali menaruh kepalanya di dada Sehun dan laki-laki itu kembali menyisir rambut Yoona dengan jemari dinginnya. Tangan mereka masih bertautan dan sepertinya enggan untuk dilepaskan. “Kalau begitu aku juga tidak akan tidur.” Ucap Yoona dengan sedikit aegyo yang membuat laki-laki itu terkekeh pelan.

Wae? Kau takut aku akan melakukan sesuatu kepadamu selagi kau tidur?” Tanya Sehun.

“Bukannya kau telah melakukan sesuatu kepadaku?” Tanya Yoona balik.

Laki-laki itu mendengus pelan, mengerti kemana Yoona membawa percakapan mereka. “Sesuatu yang kau sukai.”

Kini, giliran Yoona yang mendengus. “Jangan berpura-pura kau tidak menyukainya.”

I did that to please you.”

Yoona kembali mengangkat kepalanya dan pandangannya seketika berubah. Iris madunya menatap sepasang iris pure hazel milik Sehun dengan seduktif. Yoona menggeser tubuhnya, mendekatnya wajahnya ke wajah Sehun dan hanya menyisakan seperkian sentimeter di antara bibir mereka. “Then, please me, again, Sehun-ssi.” Bisik Yoona pelan.

The pleasure is all mine.” Timpal Sehun dan mencoba mencium bibir Yoona. Mata laki-laki itu tertutup, tetapi Yoona menahan tawanya selagi ia menghindar dari ciuman Sehun dan memandangi wajah laki-laki itu hingga akhirnya ia loncat dari ranjang lalu tertawa kecil. Sehun membuka matanya dan sadar bahwa Yoona hanya sedang bermain-main dengannya. Well, bukankah malam yang telah mereka lewati bersama jugalah main-main?

Got you!” Celetuk Yoona dengan nada penuh kemenangan. Ia hanya mengenakan thong panty dengan demi-cup bra dan asik memamerkan bentuk tubuhnya yang sempurna di hadapan Sehun.

“Kau akan menyesalinya, Yoona-ssi.” Sehun memeringati dengan sebuah seringaian.

Yoona melangkah menuju sebuah meja di dalam kamar hotel yang di atasnya terdapat beberapa macam minuman dan mengabaikan peringatan Sehun. “Teh?” Yoona menawarkan.

At this hour?” Tanya Sehun ragu.

Yoona menolehkan kepalanya dan memasang tampang innocent. “Apa kau tidak boleh minum teh di jam segini?”

“Kau memiliki sebotol Cabernet Sauvignon di atas meja, dan kau memilih teh?”

“Apa seleraku sangat buruk?” Tanya Yoona balik.

Sehun menggeleng. “Fantastis.” Timpal Sehun.

“Jadi, kau mau?” Yoona kembali ke pertanyaan inti.

“Tidak.” Jawab Sehun singkat.

Yoona menaikkan kedua bahunya lalu fokus menuangkan tehnya. “Baiklah jika kau tidak mau,” Yoona mengaduk pelan tehnya lalu duduk di sofa yang menghadap ranjang. Yoona dapat melihat Sehun yang setengah berbaring dengan selimut yang menutupi setengah badannya, dan Sehun dapat memandangi Yoona dengan leluasa yang hanya mengenakan two pieces berwarna hitam transparan. Yoona menghela nafas puas setelah ia menyisip tehnya. “This is taste good.”

You taste better.” Sehun menimpali.

“Apa kau mengatakan hal itu ke semua partner-mu?” Tanya Yoona.

“Tidak semua partner-ku memiliki skill yang bagus,” Jawab Sehun. “Beberapa dari mereka membosankan, banyak menuntut dan terkadang terlalu berisik.”

Yoona tertawa mendengar kata ‘berisik’ keluar dari mulut Sehun. “Apa kekasihmu tidak tahu jika kau penggila one-night stand?”

“Aku tidak memiliki kekasih.”

Yoona berdecak pelan, lalu kembali menyisip tehnya. “Semua laki-laki berkata hal yang sama.”

“Tidak semuanya kali ini.” Bantah Sehun pelan ingin membela dirinya.

“Bagaimana dengan kekasihmu yang terakhir?” Kini Yoona terdengar seakan-akan ia sangat ingin tahu kehidupan pribadi partner-nya kali ini.

“Kami berpisah tiga tahun lalu.” Jawab Sehun dengan cepat dan penuh keyakinan.

“Karena kau ketahuan melakukan one-night stand dengan perempuan lain?” Lagi, Yoona menyisip tehnya tetapi matanya tertuju fokus pada wajah Sehun yang hanya diterangi oleh penerangan seadanya.

“Aku melakukan one-night stand setelah berpisah dengannya,” Jawab Sehun mengimplikasikan ia tidak bermain di belakang―mantan―kekasihnya. “Bagaimana denganmu?”

“’Bagaimana denganku’ apa?”

“Kekasihmu tahu bahwa kau sekarang sedang berada di hotel bersama laki-laki lain?”

“Aku tidak memiliki kekasih.”

“Semua partner-ku selalu menjawab dengan jawaban yang sama.” Sehun berdecak pelan, membalas pernyataan Yoona sebelumnya.

“Jadi, kau menanyakan kehidupan pribadi partner-mu setelah kau meniduri mereka, tanpa memastikannya terlebih dahulu?” Lagi, Yoona melontarkan pertanyaannya.

“Bukan kewajibanku untuk bertanya lebih dulu. Mereka seharusnya memberitahuku dari awal, dan bahkan seharusnya menolak ajakkanku,” Yoona dapat melihat kedua ujung bahu Sehun naik, menandakan laki-laki itu menganggap ringan apa yang telah ia lakukan.

Dengan wajah tampan dan postur tubuh yang sempurna, Yoona akui, Sehun is hard to resist. Sekalipun untuk perempuan-perempuan di luar sana yang telah memiliki pasangan. Bahkan Yoona yang baru bertemu sekali dengan Sehun, dan pada pertemuan pertama itu Yoona menilai Sehun terlalu lihai memikat hati para perempuan. Entah dengan ketampanannya, cara ia memperlakukan perempuan, pembawaan dirinya atau bahkan hanya dari sekedar obrolan-obrolan ringan―Sehun sangat tahu kelebihannya. Seperti hal-hal tersebut sudah menjadi bakat dan mengalir murni di darahnya.

“Melihat sebagian besar partner-ku berbohong kepadaku, aku tidak bisa memastikan apa kau menjawab dengan jujur atau tidak.” Gumam Sehun.

I can ensure I’m telling you the truth,” Iris madu Yoona melirik jam digital di atas nakas. “Sepertinya kau harus bersiap-siap.”

Mendengar ucapan Yoona, iris pure hazel Sehun ikut melirik jam digital. Sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit. Perempuan itu memang benar, Sehun harus segera bersiap-siap untuk pergi. Ia bahkan belum mengenakan bajunya, dan hanya menyisakan underwear untuk menutupi kebanggaannya. “This night has been one hell of a night.” Sehun menyikap selimutnya lalu berjalan menuju sebuah single sofa di sebelah sofa yang tengah diduduki Yoona untuk mengambil pakaiannya yang tergeletak berantakan dan mengenakannya.

“Kau seorang boss, bukan?” Tebak Yoona, memandangi Sehun yang tengah mengenakan pakaiannya satu per satu.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Sehun balik sembari ia memasang satu per satu kancing kemejanya.

“Seorang karyawan biasa tidak akan mengenakan suit milik Tom Ford, sepatu dari Church’s, bahkan dasi dan kemeja dari Turnbull & Asser,” Yoona menaruh cangkir tehnya di atas meja. “James Bond’s style.”

You’re quite an observant.”

“Mana yang kau pilih―pegawai perempuanmu mengenakan pakaian sexy atau sopan?”

“Sopan. Walaupun aku suka perempuan berpenampilan sexy, tapi untuk pegawaiku―mereka harus berpakaian sopan. Mereka akan bekerja, bukan clubbing.”

Strict boss,” Yoona mendengus pelan lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju Sehun. Perempuan itu meraih dasi dari tangan Sehun dan melingkarkannya di leher laki-laki itu. “Aku selalu ingin melakukan hal ini.” Yoona dengan lincah membentuk sampul dan mengikat dasi Sehun.

“Kau harus lebih sering melakukannya denganku. Aku sangat buruk mengikat dasi.” Sehun bahkan harus menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Yoona yang hanya setinggi dadanya.

“Kau bertemu orang yang tepat malam ini.” Yoona mendongakkan kepalanya setelah ia mengikat dasi Sehun dan pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, mereka hanya diam. Saling memandangi dan tenggelam dalam iris beda warna milik pasangan mereka. Yoona menarik dasi Sehun lalu berjinjit dan mencium bibir lak-laki itu. Ia melingkarkan tangannya pada leher Sehun sedangkan laki-laki itu menyambut baik ciuman Yoona. Sehun melingkarkan tangannya pada pinggang Yoona dan sedikit mengangkat tubuh kecil perempuan itu agar semakin kencang ia dekap.

Keduanya sejenak melupakan dunia dan terhanyut dalam permainan lidah di dalam mulut mereka yang tengah bertemu. Yoona dan Sehun masing-masing terengah-engah, kehabisan nafas, tetapi masih tidak ingin terlepas dari satu sama lain.

“Yoona…kau mengusutkan bajuku…” Ucap Sehun di sela-sela ciuman mereka.

“Aku bisa merapihkannya kembali untukmu, Sehun.” Balas Yoona menciumi garis rahang Sehun.

Sehun kembali mencium bibir Yoona dengan dalam lalu melepaskannya. “Aku harus pergi.”

“Kau tidak harus pergi.”

Sehun tersenyum kecil. “Aku harus benar-benar pergi.”

“Sayang sekali.”

Good bye, Yoona. Thank you for the night.”

The pleasure is all mine.” Yoona tersenyum lalu hanya menatapi kepergian Sehun hingga akhirnya punggung laki-laki itu hilang di balik pintu. Keduanya tidak bertukaran nomor ponsel atau kontak apapun. Hanya bertukar nama dan cerita-cerita biasa, tanpa informasi pribadi. Well, itu sebenarnya adalah Yoona’s one-night-stand rule―tidak bertukar informasi pribadi. Selama ini Yoona tidak pernah menjalin komunikasi dengan partner-nya. Hubungan mereka hanya berlangsung selama semalam. Walaupun beberapa partner-nya tetap ingin―bahkan terkadang memaksa―meminta nomor ponselnya, Yoona selalu menolak dengan tegas. Dan laki-laki yang baru saja keluar tersebut, Oh Sehun, juga memiliki prinsip yang sama. Ini adalah kali pertama Yoona bertemu dengan seseorang yang sama sepertinya.

Yoona akhirnya ikut bergegas, merapihkan pakaiannya dan pulang. Ia juga harus kembali ke kehidupannya yang normal di pagi hari.

A year later.

Yoona mengeratkan rangkulannya pada lengan laki-laki itu. Sepasang kekasih itu tengah menembus hujan salju dan tengah menuju sebuah rumah setelah membeli makanan ringan di dekat sana. “Kau yakin dia akan menyukai ini?”

Laki-laki itu mengangguk yakin. “Dia mungkin baru saja kembali dari Amerika, tetapi lidahnya tetap lidah orang Korea.”

Yoona tersenyum kecil. “Apa dia sangat galak?” Tanya Yoona memastikan.

“Terkadang,” Laki-laki itu menghela nafas pelan lalu semburan uap muncul seiring irama deru nafasnya. “Strict dan perfeksionis.”

Deadly combination.” Timpal Yoona.

“Setidaknya dia tidak menggigit.” Jongin mengacak-acak rambut Yoona, bermain-main dengan perempuan itu selalu menyenangkan bagi Jongin.

“Berapa lama dia akan menetap di apartemenmu?” Tanya Yoona lagi.

Jongin menggeleng. “Dia tidak akan menetap di apartemenku, hanya sekedar bertamu. Dia akan kembali ke apartemennya setelah bertemu dengan kita nanti,” Yoona mengangguk mengerti seraya keduanya memasuki sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi dan segera masuk ke dalam elevator. “Kau kedinginan?”

“Sedikit.” Jawab Yoona semakin mengeratkan mantelnya.

Jongin langsung menarik perempuan itu dan mengeratkan pelukannya, tidak ingin perempuannya itu merasa lebih dingin lagi.

Ting!

Pintu besi itu otomatis terbuka ketika sampai di lantai yang dituju oleh Jongin dan Yoona. Keduanya segera keluar lalu melangkah menuju sebuah pintu hitam dengan password lock. Yoona membiarkan Jongin memasukkan password lock-nya lau pintu terbuka.

Hyung!” Teriak Jongin ketika ia baru saja masuk satu langkah ke dalam apartemennya. “Hyung, aku sudah kembali!”

Yoona hanya dapat mengikuti Jongin dari balik punggung yang lebar itu setelah ia melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan slipper. Di tangannya masih ia genggamn plastik berisikan makanan ringan khas Korea Selatan.

“Lihat dirimu.” Jongin kembali membuka suaranya ketika keduanya akhirnya bertemu dengan seseorang yang sedari tadi sudah menunggu lama di apartemennya. Jongin melebarkan tangannya lalu memeluk laki-laki jangkung itu.

Yoona yang berdiri di belakang Jongin tidak mampu mengedipkan matanya ketika melihat wajah laki-laki yang menjadi tamu mereka saat ini. Ia tahu wajah itu. Ia masih mengingat wajah itu. Yoona bahkan tidak sadar ketika Jongin telah melepaskan pelukannya dan memperkenalkan laki-laki itu kepadanya. “Yoona, ini hyung-ku―Oh Sehun. Sehun hyung, ini Yoona―kekasihku.”

Laki-laki bernama Oh Sehun itu menjulurkan tangannya. “Oh Sehun imnida.”

Yoona menelan salivanya dengan susah payah. Dipandanginya tangan yang terulurkan kepadanya tersebut lalu diraihnya dengan kikuk. “Im Yoona imnida. Senang bertemu denganmu…Sehun-ssi.”

“Senang bertemu denganmu juga, Im Yoona-ssi,” Ucap Sehun. “Kurasa plastik itu untukku, benarkah?”

Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali lalu segera menyodorkan plastik putih tersebut. “Ah, ya. Tentu saja untukmu, Sehun-ssi.”

“Kau tidak perlu seformal itu denganku,” Sehun tersenyum kecil lalu meraih plastik yang disodorkan oleh Yoona. “Kalau begitu aku akan kembali ke apartemenku. Sepertinya aku mengganggu waktu kalian.” Iris pure hazel Sehun bergantian menatap Jongin dan Yoona.

“Tidak sama―” Ucapan Jongin terputus ketika ponselnya berdering nyaring di saku mantelnya. Jongin segera merogoh sakunya lalu melihat layar ponselnya dan ia menghela nafas. “Hyung, bisakah kau mengantar Yoona pulang? Aku harus pergi.” Jongin memperlihatkan layar ponselnya.

“Aku bisa pulang sendiri,” Sergah Yoona dengan cepat. “Aku bisa menggunakan bis.”

Jongin menggeleng dengan cepat. “Tidak, tidak. Ini sudah malam, Yoong,” Jongin menolehkan kepalanya dan kini giliran memandang Sehun. “Hyung bisa, kan?”

“Ya, tentu saja. I have to treat my little brother’s girlfriend very well.” Sehun tersenyum kecil.

End.

Advertisements

3 thoughts on “One Night

  1. Deg deg seeer nie tiap baca ff adegan romantis sehun yoona dari chingu.
    Cz feel nya dapet, jadi kita yg bacanya juga kebawa perasaan.

    Aku seneng bgt pas dpt notif dari wp kalo ff chingu update, seolah dapet angin surga #lebaymodeon
    Soalnya beberapa minggu ini chingu update terus dan aku seneng bangeeeeedh.
    Mudah2n untuk selamanya terus kaya gini, jadi aku bisa baca terus.
    Semangat ya chingu !!

    Like

  2. Sequel juseyoo thor end ny gantung banget duh, itu gimana perasann yoonhun udh sekian lama ngga ketemu eh pas ketemu ternyata yoona pacaran sama sepupu nya sehun. Please author bikin sequelnya yaya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s